Eternally Regressing Knight

Chapter 31: Set it on Fire.

2545 Kata

31. Bakar Saja.

'Sepertinya membakar tenda mulai menjadi keahlianku.'

Encrid membatin saat ia menggunakan sebatang pohon sebagai pelindung dan menjelaskan rencananya secara singkat.

Tak satu pun anggota regu menyela; mereka hanya mendengarkan.

Saat ini, mereka tidak ada bedanya dengan anak panah yang telah melesat dari busurnya.

Setelah itu, Encrid bergerak.

“Aku pergi duluan.”

Ia melangkah maju dengan begitu senyap hingga tak bersuara sama sekali.

Ia lalu merendahkan posturnya, hingga akhirnya merayap tengkurap di tanah.

Seluruh anggota regu memperhatikan Encrid yang merayap di tanah.

Rencana yang disampaikannya cukup sederhana.

Itu adalah taktik sederhana: memicu keributan di timur dan menyerang dari barat.

Mereka yang memicu keributan adalah Mac dan seluruh anggota regu yang tersisa.

Hanya tiga orang yang dikecualikan dari tugas memicu keributan tersebut.

Encrid, Andrew, dan prajurit mantan berandalan.

“Biar aku saja.”

Mac mengambil inisiatif dan mengajukan diri untuk memancing perhatian para prajurit.

Ia berbicara dengan sigap, tanpa mengeluh.

Meskipun sikap Mac berubah tiba-tiba, Encrid tidak terlalu memikirkannya.

Jika ia menurut dengan baik, itu bagus.

Dalam kegelapan, Mac diam-diam melemaskan tubuhnya, memungut sebongkah batu, lalu melemparkannya sekuat tenaga.

Batu yang melayang itu menghantam kepala seorang prajurit.

Clang!

Batu itu memantul dari helm pelindung, dan prajurit yang terkena lemparan berteriak kesakitan.

“... Apa-apaan ini.”

“Suara apa itu!”

Keempat prajurit yang berjaga itu menoleh ke satu arah.

Encrid menahan napas dan mengawasi mereka.

Kata-kata tidak lagi diperlukan.

“Penyusup!”

Seorang prajurit berteriak.

Kegaduhan pun pecah.

Dan pada saat itu, Encrid mencoba merapatkan tubuhnya ke tenda, namun...

“Tikus kecil.”

Ia ketahuan.

Tidak perlu panik.

Ia telah mempelajari hal ini melalui beberapa 'hari ini'.

‘Aku tidak bisa melakukannya sendirian.’

Di samping tenda, seorang prajurit yang memegang tombak menatapnya dengan tajam.

Encrid bangkit berdiri sebelum lawannya sempat menerjang.

Tanah yang menempel di dadanya teribas jatuh ke tanah.

Tanpa teriakan perang sekalipun, prajurit yang memunggungi tiang obor itu langsung menusukkan tombaknya.

Melihat tombak yang melesat dengan suara desingan, Encrid memutar tubuhnya untuk menghindar.

Tidak, itu tidak berakhir hanya dengan menghindar.

Ia bertaruh, mempertaruhkan sekitar separuh nyawanya.

Itu adalah tindakan gila, tindakan yang hanya berani ia coba karena Heart of the Beast memberinya keberanian besar.

Ia merangsek maju sambil menghindar.

Ujung tombak menyerempet pundaknya.

Itu adalah hindaran yang sangat tipis.

Ia merasakan panas yang membakar di bahunya.

Sebagai imbalannya, Encrid berhasil merapat tepat di depan wajah musuh.

Begitu ia memangkas jarak, ia mengayunkan pedangnya ke atas.

Prajurit musuh, yang melihat bilah pedang itu datang, mencoba menurunkan gagang tombaknya untuk digunakan sebagai tameng.

Dan Encrid, dengan pisau tersembunyi yang sudah digenggamnya di tangan kiri sejak awal terjangan, menusuk ke arah tulang selangka lawan.

Shunk!

Bilah pisau itu menancap dalam, membelah tulang dan daging secara bersamaan.

“Guh!”

Prajurit musuh melenguh kesakitan.

Encrid lalu menghantamkan dahinya ke batang hidung pria itu.

Thwack!

Prajurit yang terkena hantaman itu bahkan tidak sempat mengerang saat roboh ke belakang.

Itu adalah ilmu pedang tentara bayaran Gaya Vallen, Gaya Tiga Pedang.

Pedang pertama hanyalah tipuan; serangan yang sebenarnya adalah pisau di tangan kirinya dan tandukan kepala.

Demi melakukan inilah ia mempertaruhkan separuh nyawanya untuk menerjang tombak tersebut.

Prajurit musuh telah tumbang.

Namun karena ia sudah ketahuan, rencana membakar barak menjadi tujuan yang kian menjauh.

Sebab di belakang prajurit yang tumbang itu, sosok lain telah muncul, memegang obor dan pedang.

Pria dengan bekas luka di dekat matanya itu tampak sangat tangguh.

Seseorang bisa mengetahuinya hanya dari cara berjalan dan sikapnya.

Dia bukan amatir.

“Menyedihkan.”

Ucapnya sambil mendecakkan lidah.

Langkah kakinya yang mendekat tampak santai.

Ia menatap penyerang yang tiba-tiba melompat keluar dari kegelapan, namun tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

“Hoo, lama sekali kau baru muncul,” gumam Encrid.

Pria itu mengernyit mendengar kata-kata tersebut.

Fwoosh.

Suara itu datang dari belakang pria tersebut.

Api membubung tinggi.

Di tengah-tengah kekacauan, tenda itu rupanya telah terbakar.

“... Padamkan!”

Pria itu berteriak.

Sambil memperhatikannya, Encrid melompat maju dan menusukkan pedangnya.

Ia menjejak tanah dengan kaki kanan dan menghentakkan kaki kirinya.

“Segala hal dimulai dari kaki.”

Itulah dasar ilmu pedang yang pernah dikatakan oleh dua anggota regunya, Rem dan Ragna, secara bersamaan.

Encrid melakukan hal itu.

Kaki terlebih dahulu.

Ia menjejak tanah dan merangsek maju.

Dalam sekejap, sosok prajurit yang memegang pedang dan obor itu tampak membesar di hadapannya.

Pungguhnya terbuka.

Ada begitu banyak celah pertahanan.

Encrid menusukkan pedangnya.

Itu adalah tusukan yang dipenuhi dengan kelenturan seluruh tubuhnya, tusukan yang sama dari prajurit yang telah membunuh Encrid berkali-kali di awal dahulu.

Whoosh.

Bilah pedang memotong udara dan mencapai sasarannya.

Itu benar-benar berakhir dalam sekejap.

Di antara tusukan tak terhitung yang telah ia lakukan hingga sekarang, tusukan ini adalah yang terbaik.

Bahkan di sepanjang 'hari ini' yang terus berulang.

Encrid mengira ia telah membunuh lawannya.

Di mata Encrid yang terfokus, benda-benda di sekitarnya tampak bergerak dalam gerak lambat.

Segalanya melambat.

Pedangnya sendiri, tangan pria itu.

Dalam dunia yang melambat itu, tangan prajurit musuh berkedut.

Tak lama kemudian, pedang prajurit itu melesat ke atas dari bawah.

Clang! Shing!

Encrid meluncur melewati pria itu seolah terhempas, memegangi perutnya saat ia terhenti.

Prajurit musuh, yang sebelumnya menoleh ke belakang, kini menghadap ke depan lagi.

Ia memandang Encrid dan mengangkat sebelah alisnya.

“Bajingan tidak tahu sopan santun.”

Lawannya tampak sangat marah.

Tentu saja, amarahnya bukanlah masalah utama.

Masalahnya adalah ilmu pedangnya yang menakjubkan.

‘Dalam sekejap seperti itu?’

Tusukan tadi sudah sempurna.

Lebih dari memuaskan.

Itu adalah tusukan yang bahkan Rem pun tidak akan berani menangkisnya tanpa kapak seperti cambuk miliknya itu.

Namun pria itu berhasil menghindarinya.

Serangan itu meninggalkan luka gores tipis di lehernya, tapi itu jauh dari kata fatal; hanya luka lecet kecil yang bisa diabaikan.

Di sisi lain, pedang yang diangkat secara refleks oleh musuh telah menyayat pinggang Encrid dengan tepat.

Itu bukan luka yang dalam.

Tidak ada tulang yang cedera.

Luka itu tidak cukup untuk membunuhnya, namun tetap saja.

‘Aku lengah.’

Dan inilah akibatnya.

Dan seberapa akrabkah 'hari ini' bagi Encrid?

Namun tetap saja.

Rasanya seolah ada sungai besar yang membentang di antara dirinya dan prajurit musuh itu.

Lawannya bisa menyeberangi sungai itu kapan saja untuk menusuk dan menyayatnya.

Sementara ia merasa seolah tidak bisa berbuat lebih selain sekadar mencelupkan kakinya di air.

Perbedaan keahlian yang nyata membentang di antara mereka.

Lalu kenapa jika begitu?

Memangnya ia hanya pernah melawan musuh yang lebih lemah dari dirinya sendiri?

Encrid menenangkan napasnya dan menggenggam erat pedangnya.

Jika ini adalah titik balik hari ini, ia hanya perlu melakukan yang terbaik.

Kesenjangan keahlian itu terasa mustahil untuk dilalui.

Namun hal itu tidak mengubah apa pun.

Jika orang lain merasakan kemustahilan itu sebagai keputusasaan, sebagai tebing curam.

Encrid merasakannya sebagai anak tangga.

Anak tangga yang kelak bisa ia injak dan daki.

Kepuasan yang mendebarkan memenuhi dirinya dari ujung kaki hingga dadanya.

Lihatlah.

Bagaimana bisa mengulangi hari ini dianggap sebagai kutukan?

Setelah mengatasi 'hari ini' yang tak terhitung jumlahnya, ia pada akhirnya akan mampu mengalahkan pria yang sangat terampil itu.

Ia pasti bisa, tanpa diragukan lagi.

Ia tidak akan pernah puas dengan hari ini saja.

Karena itu, kegembiraan yang meluap-luap membuncah di dalam dirinya.

Perasaan Encrid terpancar di wajahnya.

“Kau tersenyum?”

Wajah prajurit musuh yang memegang pedang itu berkerut masam.

Jika Encrid merasakan kegembiraan, pria ini hanya menunjukkan kemurkaan.

“Akan kucabik-cabik tubuhmu dan kulemparkan pada anjing-anjing.”

Encrid mendapat firasat kematian.

Karena saat ini, apa pun yang ia lakukan, ini adalah lawan yang tidak bisa ia kalahkan.

Namun itu bukan berarti ia berencana untuk menyerah begitu saja tanpa perlawanan.

Ia bersiap menghadapi rasa sakit.

Ia tidak akan mundur.

Tepat ketika ia menggenggam pedangnya dan memantapkan hatinya.

Fwoosh.

Di belakang pria itu, kobaran api membubung tinggi.

Seolah-olah kobaran api sebelumnya hanyalah mainan belaka, kini api itu tampak seakan naga yang sedang mengembuskan napas api.

Kobaran api telah merembet ke seluruh tenda.

Crackle, crackle, bara api berhamburan ke segala arah.

Di balik kobaran api yang membubung dari tenda, terdengar beberapa suara yang panik.

“Bajingan-bajingan ini! Padamkan apinya!”

“Ada yang menyiramkan minyak, Komandan Peleton!”

“Tiang obornya tumbang!”

Rupanya mereka bekerja dengan sangat baik.

Encrid telah memancing perhatian mereka dua kali untuk membakar tenda ini.

Sekali bersama Mac dan para anggota regu.

Sekali lagi oleh dirinya sendiri.

Kebakaran itu dipicu oleh Andrew dan prajurit berandalan itu.

Prajurit berandalan itu memanfaatkan keahlian membuat onar yang dipelajarinya di kota dengan sangat baik di sini.

“Tiang benderanya terbakar!”

Seorang pria berteriak saat melihat kobaran api membubung tepat di samping tenda.

Ia adalah pria dengan tato aneh di wajahnya.

“Komandan Peleton! Apa Anda tidak tahu mana yang lebih penting sekarang!”

Ia menegur pria yang berdiri di hadapan Encrid.

Melihat hal itu, Encrid diam-diam melangkah mundur.

Tidak peduli seberapa jauh kemampuannya tertinggal dari lawannya, ia tidak akan mati hanya dalam satu atau dua tebasan pedang.

Lawannya pun tahu itu.

Ia tahu bahwa jika Encrid bertekad untuk bertahan, Encrid bisa bertahan sampai kobaran api itu menghanguskan tenda dan tiang bendera di dalamnya.

Seujung pun Encrid tidak habis pikir mengapa mereka mempertaruhkan nyawa demi beberapa tiang bendera.

Ia hanya tahu satu hal.

Bahwa musuh sangat menghargainya.

Jauh lebih berharga daripada nyawa beberapa prajurit mereka sendiri.

“Kau, tunggu saja pembalasanku.”

Lawannya, Komandan Peleton dari unit Azpen, menatap tajam ke arah Encrid sebelum akhirnya berbalik cepat.

Ia menilai bahwa menangani para bajingan yang menyalakan api di belakangnya jauh lebih mendesak daripada meladeni Encrid di sini.

Encrid menghela napas lega dalam hati.

Rasanya ia benar-benar baru saja lolos dari maut.

Kematian adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia biasakan, tidak peduli seberapa sering ia mengalaminya saat mengulangi hari ini.

Jika ini juga bagian dari kutukan, maka itu memang benar-benar sebuah kutukan.

Harus mengalami momen mengerikan itu berulang-ulang kali.

Tentu saja, penderitaan yang datang karena menghadapi semua rasa sakit dan kematian itu bukan masalah besar bagi Encrid.

Asalkan ia bisa melangkah maju melalui semua ini.

Asalkan keahliannya bisa meningkat lewat proses ini.

Mengapa ia tidak akan sanggup menahannya?

“Kita harus pergi.”

Saat sedang mengawasi sekelilingnya dengan waspada, ia mendengar suara Andrew dari belakang.

Ia menoleh ke belakang dan melihat wajah Andrew telah berlumuran jelaga.

“Kita mundur,” kata Encrid lalu bergerak pergi.

Prajurit berandalan itu mengikutinya dari belakang.

Sambil berlari, Andrew mengeluarkan sebuah seruling dari balik bajunya dan meniupnya.

Piiik, piiik!

Setelah ia meniupkan dua nada panjang, Mac berlari datang dari kejauhan memimpin sisa anggota regu yang tersisa.

Ia melihat lengan Enri berdarah, dan tidak ada lagi prajurit musuh yang mengejar Mac.

Regu yang awalnya berjumlah sepuluh orang kini berkurang setengahnya.

Dan rute pelarian yang diinginkan Encrid kini telah terbuka.

“Musuh sedang sibuk sekarang. Tidak akan ada tim pengejar dalam jumlah besar, kan?”

Mac tampak bertanya-tanya apakah ini memang yang ia incar sejak awal.

Seakan membuktikan bahwa pihaknya juga mengalami masa-masa sulit, dahinya sendiri terluka robek.

Darah mengalir dari luka itu.

“Kemungkinan besar begitu,” jawab Encrid seraya mempercepat langkah kakinya.

Darah juga terus mengalir dari pinggangnya sendiri.

Ia mengira itu bukan luka yang dalam, tetapi karena ia terus berlari tanpa menyumbat pendarahannya, darah tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Untuk saat ini, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menekan luka itu dengan tangannya dan terus berlari.

Mulai dari titik ini, ini adalah hari 'hari ini' yang belum pernah dialami sebelumnya, jadi Encrid terus mengawasi bagian belakangnya.

Ada pengejaran.

Lima orang sedang mengejar mereka.

“Bajingan-bajingan gila ini!”

Keadaan mereka relatif masih bugar.

Wajah mereka berlumuran jelaga, tetapi tidak ada yang terluka.

Bagi kelima orang itu, Encrid, Andrew, dan Mac saja sudah cukup untuk menghadapinya.

Perut Enri terluka robek dan ia berjalan sempoyongan, mungkin akibat kehilangan banyak darah.

Prajurit berandalan yang memapahnya tidak bisa bertarung dengan leluasa.

“Sialan, kita semua bisa mati kalau begini terus, kuatkan dirimu!”

Prajurit berandalan itu memarahi Enri, tetapi ia tidak meninggalkannya.

Karena ia harus bertarung melawan tim pengejar, luka di pinggang Encrid semakin menganga lebar.

Meski begitu, luka itu tidak membahayakan nyawanya.

Paha Mac tergores saat membunuh dua prajurit pengejar.

Tetapi ia mengeluarkan perban linen, mengikatkannya ke luka tersebut, dan terus mengikuti tanpa tertinggal di belakang.

Andrew tampaknya telah meningkat pesat hanya setelah beberapa pertempuran.

‘Bukan, bukan itu.’

Encrid menyadari bahwa keahliannya tidak meningkat secara tiba-tiba.

Lebih tepat dikatakan bahwa kemampuan aslinya mulai keluar setelah merasakan langsung ketegangan di medan perang.

Jika pedang Andrew tidak berayun liar dan membunuh dua pengejar dalam sekejap, pelarian mereka kemungkinan besar akan gagal.

Orau akan jauh lebih sulit lagi.

Darah merembes keluar lagi dari luka di pipi Andrew.

Semua orang dalam kondisi babak belur, tetapi tidak ada yang mati.

Selagi mereka berlari sepanjang malam demi menemukan arah jalan pulang, Enri berbicara dengan suara yang terdengar hampir mati.

“Jika kita pergi ke barat dari sini, kita akan sampai di habitat ular dan rubah dataran. Mereka tidak akan bisa mengejar kita dengan mudah jika kita pergi ke sana.”

Dataran ini, yang dinamai Green Pearl, adalah rumah bagi berbagai jenis hewan.

Di antaranya adalah rubah dan ular.

Namun, meskipun rubah bukanlah masalah besar, sebagian besar ular di sana berbisa, jadi tempat itu sangat berbahaya.

“Kalau kita ke sana, kita akan digigit ular beludak dan mati sebelum sempat meloloskan diri dari prajurit musuh,” kata Mac.

Kemudian Enri membuka mulutnya dengan senyuman tipis.

“Ada tempat di mana habitat rubah dan ular saling tumpang tindih. Aku mengetahuinya. Itu adalah perbatasan di antara kedua habitat mereka, jadi akan aman. Itu adalah jalur pemburu.”

Encrid menatap Enri dan berpikir betapa hebatnya dia masih bisa tersenyum di saat wajahnya sudah sepucat itu.

Memandu mereka dalam kondisi seperti itu.

Keteguhan mentalnya benar-benar luar biasa.

Semua orang menatap Encrid.

Keputusan ada di tangannya.

“Lewat sana.”

Encrid berkata lalu bergerak pergi.

Tidak ada keraguan sedikit pun.

Sambil berjalan, ia mulai tenggelam dalam pikiran lain.

‘Ini pertama kalinya aku melihatnya.’

Sosok Komandan Peleton musuh itu tertanam kuat di kepalanya.

Jika Komandan Peleton itu selalu muncul setiap waktu, ia pasti sudah sibuk mati berulang kali.

Tapi ini adalah pertama kalinya.

Pria itu kemungkinan muncul karena mereka telah mendesak situasi sejauh ini.

‘Atau mungkin juga tidak.’

Kalau dipikir-pikir, ia merasa seperti pernah mendengar suara itu sebelumnya.

Itu berasal dari masa ketika ia menyelinap ke barak yang terbakar setelah mengulangi hari 'hari ini' beberapa kali sebelumnya.

Ketika ia nyaris tidak berhasil memasuki barak yang dijaga oleh prajurit musuh, pemandangan aneh menyambut matanya.

Sebuah tiang bendera dan selembar bendera.

Sebuah mangkuk yang mengepulkan asap aneh, dan seorang pria dengan wajah yang dipenuhi tato.

Ia sempat bertanya-tanya apakah mereka sedang melakukan semacam ramalan ritual.

Tetapi reaksi lawannya sangat sengit.

“Tangkap dia!”

Bukankah pria itu langsung panik saat Encrid menendang tiang bendera? Di saat itulah ia menyadari sesuatu.

Bahwa tiang bendera ini adalah sesuatu yang penting bagi mereka.

Dan kemudian, ada orang yang menyayat lehernya dari belakang.

“Bajingan apa ini?”

Kalau dipikir-pikir, ia sepertinya pria yang sama dengan pemilik suara itu.

Sambil tenggelam dalam lamunan, ia berjalan di bawah panduan Enri, dan sekelilingnya mulai berubah warna menjadi kebiruan.

Cahaya biru menyelimuti area tersebut dari atas, menandakan dimulainya hari yang baru.

Fajar telah tiba.

Matahari mulai menampakkan dirinya.

Encrid menyadari bahwa ia telah berhasil melewati hari 'hari ini' sekali lagi.

Saat matahari terbit dan suasana sekitar menjadi terang, tim pengintai Encrid yang sedang menuju unit utama bertemu dengan pasukan pengintai utama.

“Apa yang terjadi pada kalian semua?” tanya Komandan Peleton Pengintai begitu ia melihat mereka.

Encrid memiliki hal-hal yang lebih mendesak untuk dilakukan ketimbang memberi penjelasan.

Lebih dari satu atau dua orang di antara mereka terluka.

Laporan bisa menunggu sampai mereka dalam perjalanan kembali.

Untuk sekarang, kenyataan bahwa mereka masih hidup sudah lebih dari cukup.

“Hoo, aku mau pingsan saja sekarang,” kata Enri dari belakang.

Encrid tidak membalas.

Kata apa pun yang ia ucapkan akan sia-sia bagi seseorang yang sudah telanjur pingsan.

Encrid

Encrid

Karakter Utama
Ragna Zaun

Ragna Zaun

Pendukung
Rem

Rem

Pendukung
Audin Pumrei

Audin Pumrei

Pendukung
Sachsen Benzino

Sachsen Benzino

Pendukung
Kreise Allman

Kreise Allman

Pendukung
Shinar Kirhais

Shinar Kirhais

Pendukung
Esther

Esther

Heroine
Dunbachel

Dunbachel

Pendukung
Finn

Finn

Pendukung
Luagarne

Luagarne

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar