Eternally Regressing Knight

Bab 392: Memahami Apa yang Kumiiki

2686 Kata

Bab 392: Memahami Apa yang Kumiiki

"Aku adalah seorang pendosa."

Aisha harus mengakui kesalahannya. Bahkan jika Encrid melindunginya dan tidak menyuarakan apa pun, apa yang telah dilakukannya tak akan sirna. Ia tak mengira dosanya bakal lenyap murni karena saudaranya telah dijadikan sandera. Segala hal adalah alasan, sebuah pembenaran. Setidaknya itulah yang dipercayai Aisha, yang menjadi alasan ia adalah seorang pendosa.

Saat ia menyuarakannya, Krang membalas.

"Bagaimana kalau menutupi kesalahannmu dengan jasa? Seperti yang kukatakan, kita begitu kekurangan tenaga hingga kita bisa memanfaatkan cakar kucing sekalipun."

Nada suaranya serba santai. Apakah karena situasinya serba mendesak? Meskipun demikian, sikap Krang terasa terlalu tidak peduli. Apakah ia tidak peduli siapa orangnya, selama mereka dibutuhkan? Tidak, bukan itu masalahnya. Ia dapat merasakan sesuatu menyerupai rasa percaya yang diarahkan padanya.

Bagaimana bisa pria itu mempercayainya, padahal ia berdiri di sisi yang mengkhianatinya baru setengah hari yang lalu? Ia bahkan tak sanggup merasakan pandangan kedua marquis yang mengamatinya.

Mulut Aisha terbuka.

"Bagaimana bisa Anda mempercayaiku?"

Ia tak sanggup memahami sikap Krang. Apakah karena ia adalah salah satu dari Red Cloak Knights? Apakah benar-benar karena pria itu kekurangan tenaga? Karena mereka membutuhkan kekuatan militer kecil yang tersisa di istana kerajaan? Karena ia adalah seorang Apprentice Knight?

Aisha menatap Krang, dan Krang tersenyum cerah kembali padanya.

"Aku percaya pada mata pria ini. Aku pikir itu sudah cukup." ujar Krang seraya mengacungkan jari ke arah satu orang.

Dan hanya itu. Orang yang ditunjuknya, sosok yang dipanggil 'pria ini', adalah Encrid.

"Ada tumpukan hal yang harus dirapikan saat ini. Sampai jumpa nanti." Krang murni menyuarakan hal itu lalu melangkah pergi.

Di tempat pria itu berdiri sebelumnya, Encrid bertanya.

"Apakah kau ingin aku membenarkan tulang hidungmu?"

Pria itu tampaknya tidak peduli tentang pengkhianatannya.

"Itu sudah dibenarkan." pikirnya, menatap lurus Encrid seraya membalas.

*'Apakah dia mengenalku dengan baik?'*

Mereka sempat menghabiskan waktu bersama, tetapi itu tidak lama. Ia tak mengira Encrid tahu alasan ia berdiri di sini. Ia tidak ingin memohon bahwa ia menghalangi jalannya secara terpaksa demi melindungi saudaranya.

"Sampai jumpa nanti."

Lantas ia kehilangan kata-kata.

Setelahnya, ia harus pergi, cemas akan keselamatan saudaranya. Syukurlah saudaranya tak terluka.

Meskipun ia telah bergerak dengan cepat, paras Aisha masih berantakan. Area di sekitar tulang hidungnya membengkak, dan parasnya berselimutkan lebam ungu. Di atas segalanya, rasa sakit berdenyut di dadanya membuatnya mencengkeram pinggangnya di setiap langkah.

Dalam kondisi itu, Aisha menjelaskan situasi kepada saudaranya.

"Aku telah menerima kebaikan yang sangat besar."

Ini adalah kesimpulan yang dicapainya setelah menyelamatkan saudaranya dan datang ke sini. Apa pun alasan di baliknya, pria itu telah melindunginya dan mempercayainya. Tidak semua hal berakhir baik, tetapi bagi Aisha sendiri, ini berakhir dengan cara terbaik yang memungkinkan.

"Menghancurkan wajahmu seperti itu adalah sebuah kebaikan?" saudaranya bertanya.

Ia telah diculik, bingung, dan bahkan merasakan keputusasaan, tetapi ia baik-baik saja sekarang. Setidaknya ia tampak demikian di luar. Itu adalah ketenangan yang ditujukan agar wanita itu tidak cemas. Aisha bersyukur atas hal tersebut.

"Ya."

"Jika dia memukulmu dua kali, dia mungkin bakal memintamu menikah dengannya."

"Aku harus mempertimbangkannya."

Itu adalah gurauan konyol. Saudaranya tidak membencinya, meskipun nyawanya telah terancam akibat dirinya. Pria itu tumbuh besar dengan baik. Aisha bakal bersedia mematahkan pedangnya demi saudaranya. Sebab itulah ia tidak menyesali pilihannya.

Jika situasi serupa muncul kembali, ia bakal memilih saudaranya saat itu pula. Entah mengapa, ia ingin bertanya pada Encrid. Apa yang bakal dilakukannya jika ia melakukannya lagi?

Rasanya jawaban bakal datang dengan mudah. Meskipun ia tidak mengenalnya dengan baik dan hanya menerima hal-hal darinya secara sepihak, ia merasa seakan-akan sudah mendengar jawabannya.

"Kalau begitu aku hanya harus memastikan situasi seperti itu tidak terjadi."

Itu adalah jawaban yang benar. Encrid pada kenyataannya sudah berpikir dan bertindak dengan cara seperti itu.

Hari berganti setelah ia menyelamatkan saudaranya, berbalik, matahari telah terbenam, dan ia pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan merawat lukanya.

"Bersyukurlah atas kemurahan hati itu. Kesempatan untuk bertarung di pihak yang benar dan membuktikan diri tak akan datang lagi." Marquis of the Fertile Plains mengutus seseorang untuk menyampaikan hal ini padanya.

Bahkan tanpa diberi tahu, ia sudah berencana melakukannya. Ia meneliti para penyokong dari keparat yang menyandera saudaranya. Baronet Mernes adalah sosok di barisan depan, tetapi siapa yang menyuruh sang Baronet melakukannya?

*Grit.*

Giginya terasa longgar, tetapi ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Lukanya sebagian besar bakal sembuh dalam waktu sekitar lima belas hari. Ia hanya perlu beristirahat tanpa bergerak selama dua minggu. Setelahnya, ia bakal memohon untuk diutus ke medan perang.

Dan lantas, ia bakal memperlihatkan kepada mereka siapa dirinya, dan harga dari menyentuh saudaranya.

Menantikan momen tersebut, Aisha mengelus kepala saudaranya.

* * *

*'Aku akan membalaskan dendammu, Laikanos.'*

Laikanos adalah rekan dan adik yang berbagi impian serupa, yang berada di sana pada awal berdirinya Bandit Black Blade. Mereka tidak terikat hubungan darah, tetapi pria itu tidak ada bedanya dari keluarga.

Saat itu adalah fajar sebelum matahari terbit. Sekeliling tampak berwarna biru pucat. Pria itu meninggalkan benteng dan melangkah menuju gerbang utara.

Keluar dari benteng sangatlah sulit, tetapi dari sini dan seterusnya bakal mudah. Tak ada orang yang bakal mencurigainya. Sang penagih pajak sudah tewas sebagai pemimpin Black Blade.

*'Alat yang dimanfaatkan dengan sangat baik hingga akhir.'*

Pria itu melangkah cepat, merenungkan balas dendamnya. Ia juga memiliki sebuah rencana.

*'Ruang rahasia.'*

Itu adalah tempat di mana ia telah menghimpun kekayaan selama lebih dari sepuluh tahun. Pria itu semula adalah pelayan penagih pajak, sekaligus pemimpin sejati dari Black Blade. Seorang pria yang dahulu mengangkat pedang demi mereka yang tertindas dan dihina, bersama Laikanos.

Jika Laikanos telah membuktikan diri lewat kekuatan, ia telah memimpin Bandit Black Blade sejauh ini lewat keyakinan dan pikirannya. Tentu saja manusia mana pun bakal berubah saat ternoda oleh kekuasaan dan kekayaan. Karena ia telah berubah, ia telah melangkah sejauh ini. Karena ia telah berubah, Laikanos telah tewas. Karena ia telah berubah, seluruh yang tersisa dalam genggamannya adalah kekayaan, tetapi menyadari hal itu adalah urusan yang jauh.

*'Aku harus.'*

Meskipun ia terus-menerus mengunyah balas dendam secara internal, ia tahu di dalam hatinya. Hal itu secara realistis sangat mustahil. Bagaimana bisa ia, yang baru saja meloloskan diri bersama nyawanya, menuntaskan apa yang gagal dilakukannya menggunakan fondasi bangsawan dan kekuatan yang dihimpunnya selama bertahun-tahun?

Ia mengetahui segalanya, tetapi saat ia melarikan diri demi menyelamatkan kulitnya sendiri, ikrar balas dendam adalah pembenaran yang sangat pas. Pada kenyataannya, ia merasakan sensasi krisis atas kematian Laikanos, tetapi bukan duka. Untuk hal itu, pria dirinya di masa lalu dan pria dirinya saat ini terlalu jauh berbeda.

*'Begitu aku keluar dari sini.'*

Ia kemungkinan bakal mengabaikan ikrar balas dendamnya pula. Ia justru bakal memanfaatkan kekayaan yang tersimpan di ruang rahasia untuk membelot ke negara lain dan tinggal di sana. Lantas ia bahkan bisa berpura-pura menjadi seorang bangsawan sendiri. Atau mungkin mendirikan sebuah guild bakal menyenangkan. Jika segalanya gagal, memperagakan peran pria kaya di kota yang lumayan bakal sangat baik pula.

Bobot di bahunya tanpa disadari melukiskan masa depan lain. Pria itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

*'Tidak, aku dipastikan membalaskan dendamku.'*

Ia terus melangkah, membohongi dirinya sendiri pada akhirnya.

Langit mulai terang. Udara biru di sekelilingnya menyimpan sensasi ketenangan. Kehangatan merembes masuk.

Ia melangkah dengan sinar matahari berada di punggungnya. Ia tidak lagi berpakaian menyerupai seorang pelayan. Ia mengenakan jubah berpenutup kepala yang kotor dan celana ketat. Ia menyamar sebagai seorang pemburu.

*'Keparat-keparat bodoh.'*

Mereka tak akan pernah menemukannya. Saat pria bernama Jaxon mengejarnya sebelumnya, ia merasa seolah-olah kehabisan napas. Rasanya seolah-olah sebilah pedang menempel di tenggorokannya.

Dan sekarang?

*'Aku telah selamat.'*

Tentu saja ia tidak berniat sekadar melarikan diri. Ia telah memicu kekacauan hingga akhir. Ia telah memerintahkan seluruh anggota tersisa dari Bandit Black Blade untuk membakar istana kerajaan. Seharusnya sudah waktunya kobaran api membumbung naik.

Mengingat hal itu, ia memutar kepalanya ke belakang.

Suasananya tenang.

Saat itu adalah waktu di mana mereka yang tekun baru saja terbangun, tetapi ia melihat orang-orang di sekeliling yang terjaga sepanjang malam setelah kekacauan malam sebelumnya. Tidak ada pertempuran atau pertikaian di dalam ibu kota, tetapi area di depan gerbang benteng sempat kacau, dan gangguan di istana kerajaan telah menanamkan kecemasan di hati semua orang.

Namun, kobaran api yang seharusnya menjadi penutup megah tak terlihat di mana pun.

*'Mengapa?'*

Pertanyaan itu berlangsung singkat. Tidak, terlepas dari pertanyaan itu, kakinya sibuk bergerak.

Hal itu terjadi saat ia telah melintasi sebuah gang dan melangkah cepat menuju gerbang utara.

"Tahan langkahmu di sana."

Seorang prajurit, menyandar pada sisi gerbang dengan helm terpasang miring, memanggilnya. Suaranya tipis dan nyaring. Terdengar menyerupai suara wanita.

"Ada apa?" balasan pria itu.

Prajurit itu melepaskan helm yang terpasang miring. Rambut pirang panjang terurai turun. Itu adalah seorang prajurit wanita.

"Mengapa kau terus melirik ke belakang saat melangkah?"

Apakah ini sesuatu untuk mengajak bertengkar? Namun dalam situasi seperti ini, di mana kapten penjaga gerbang utara, dan mengapa hanya ada satu prajurit?

Pemimpin Bandit Black Blade merasakan firasat buruk. Udara terasa aneh. Hatinya berdegup kencang membawa sensasi krisis.

Itu adalah momen saat ia melihat melampaui prajurit wanita tersebut. Beberapa prajurit duduk damai, tertidur ayam.

*'Tertidur ayam?'*

Sang pemimpin dengan cepat memahami alasan dari kejanggalan tersebut. Setelah seluruh kekacauan semalam, apakah masuk akal bagi para penjaga untuk duduk dan tertidur ayam?

"Maaf, tetapi tak akan ada kobaran api." ujar prajurit wanita tersebut.

"... Siapa kau?"

"Georg's Dagger." wanita itu membalas, tangannya terlipat di dada. Posturnya penuh dengan rasa percaya diri. Hal itu justru makin terasa sebagai firasat buruk. Keringat dingin menetes di punggungnya.

"Kau terlambat." wanita itu melanjutkan, melirik ke belakang pria itu seraya berbicara.

Sang pemimpin berjengit dan memutar tubuhnya. Di sana, ia melihat seorang pria dengan penampilan tidak biasa, mata merah-cokelatnya yang mengesankan tidak memperlihatkan kemunculan emosi sedikit pun.

"Senang bertatap muka denganmu." ujarnya.

Sang pemimpin berpikir situasinya menyerupai kemaluan ghoul, dan pada saat yang sama, ia menyadari ia telah menjadi kemaluan tersebut. Ia juga mengutuk kecerobohannya sendiri karena tidak memiliki gulungan sihir pelarian tunggal padanya.

Namun jika ia memilikinya, ia tak akan sanggup melangkah sejauh ini. Untuk menghindari sihir pendeteksi yang tersebar di seluruh istana kerajaan, ia tak bisa menyembunyikan benda semacam itu. Seluruh yang memilikinya saat ini murni sebilah pedang.

Ia sudah tahu lawannya bukanlah tipe yang sudi diajak bicara. Ia telah menyaksikan bagaimana penagih pajak yang ditempatkannya telah tewas. Tangannya gemetaran oleh rasa takut.

"Kau pasti bersenang-senang sampai sekarang, kan? Aku pikir ini giliranku untuk bersenang-senang."

Jaxon telah merasakan sensasi canggung saat ia membunuh sang penagih pajak. Seorang pria yang secara teliti menyembunyikan identitasnya sampai sekarang, bisa sebisanya ini?

Tepat saat itu, Encrid telah memerintahkan pembersihan internal. Perang saudara sudah di depan mata. Apa hal pertama yang harus diprioritaskan untuk bertarung? Merapikan sekeliling seseorang. Jika sebilah pedang datang dari belakang, mereka bakal kalah sebelum sempat memulai.

Ini adalah sesuatu yang disetujui Krang dan kedua marquis berkedudukan tinggi. Marcus bahkan bergabung di tengah jalan, mempercepat prosesnya. Jaxon juga melakukan apa yang harus dilakukannya. Menemukan dan menghancurkan sisa-sisa yang tersisa.

Di tengah hal ini, seorang anggota Georg's Dagger yang mengikuti Jaxon bergabung. Jaxon menyuarakan wanita itu tak perlu terlibat, tetapi ia tak mendengarkan.

"Master." ujar wanita tersebut.

Ia adalah kekasih Jaxon dan anggota Georg's Dagger. Julukan itu terlepas dari lidahnya secara alami. Itu adalah hal yang sudah diperkirakan. Jaxon adalah master dari Georg's Dagger, guild assassin terbesar di benua.

"Apakah kau bakal kembali setelah hal ini tuntas?" wanita itu melanjutkan. Pekerjaannya di sini telah tuntas. Itu adalah penilaiannya.

"Kita bicara belakangan." Jaxon membalas. Untuk saat ini, urusan yang ada jauh lebih penting.

* * *

Count Molsen tidak mengobral gertakan. Tidak pula ia menyuarakan kebohongan.

Ia mengutus pasukan ke Border Guard. Di antara mereka terdapat lebih dari lima puluh lycanthrope. Monster yang bertransformasi dari manusia menjadi serigala.

Sosok yang memimpin serbuan adalah seorang pria yang telah membunuh orang-orang dan mengunyah daging mereka bahkan saat ia masih menjadi manusia. Ia sudah berada pada tingkatan Apprentice Knight saat itu, tetapi kini ia juga meraih kekuatan seekor monster.

"Mari pergi mengunyah daging yang empuk." ia tertawa terkekeh dan mengambil barisan terdepan.

*'Tak ada yang sanggup menghentikan kita.'*

Ia yakin akan kemenangan. Tidak, ia melangkah lebih jauh. Di masa depan, unit lycanthrope yang dipimpinnya bakal menjadi nama teror yang mendominasi area ini.

Seorang pria yang semula adalah anak anjing keparat saat menjadi manusia kini memiliki kepala anjing sejati, dan mengangkat moncongnya, ia Melepaskan lolongan nyaring.

*Awoooo!*

Mengikutinya, lima puluh lycanthrope melolong.

*Awoooooooooo!*

Lolongan seekor monster menanamkan rasa takut pada manusia. Itu adalah rasa takut yang terukir dalam naluri mereka.

Namun pasukan yang berjejer di depan gerbang benteng Border Guard tidak terpengaruh.

Apa pun, saat diulang berulang kali, bakal menjadi tumpul. Pasukan tetap Border Guard telah bertarung tanpa ampun. Azpen, monster, pengikut sekte, pasukan wilayah, dan lain sebagainya. Kelompok keparat yang sangat beragam telah menargetkan Border Guard dengan keganasan tanpa henti. Tak ada istirahat, di dalam maupun di luar.

Jika pengikut sekte datang menerobos gerbang di sisi kerajaan pada suatu hari, Azpen bakal menyerang dari sisi berlawanan di hari berikutnya. Ini adalah pasukan tetap yang bertahan setelah pengalaman-pengalaman semacam itu.

Hati yang kapalan dari pasukan tetap sangatlah keras, dan kota itu sendiri telah menjadi lebih tenang. Di masa lalu, hanya berita pertempuran saja bakal memotong alur guild, dukungan bakal berkurang, dan sensasi tidak tenang bakal tercipta, tetapi sekarang...

"Apakah mereka tidak mempercayai kita? Atau apakah mereka mendambakan kematian kita?"

Lockfreed Guild kini berada di pusat logistik di dalam Border Guard. Begitu mereka mengenali invasi musuh, para pedagang guild mengamankan rute untuk mendistribusikan makanan dan berbagai pasokan lainnya.

Ada banyak orang di sekeliling untuk membantu. Tentu saja Count Molsen telah berusaha mengisolasi Border Guard, menekan para bangsawan dan kota-kota di sekeliling. Itu adalah peringatan bahwa jika mereka membantu, mereka bakal menjadi sasaran berikutnya.

Meskipun demikian, kota yang diselamatkan Encrid dari koloni Gnoll dan Martaï menawarkan bantuan mereka. Di atas hal itu, reputasi yang dibangun Lockfreed Guild tidaklah sedikit. Hasilnya, atmosfer di kota itu sendiri tidak begitu suram.

Dengan kata lain, banyak hal yang berbeda dari sebelumnya.

Mengamati lima puluh lycanthrope yang menerjang dari atas tembok benteng, Krais merasakan desakan untuk buang air kecil.

*'Oh, sangat menakutkan.'*

Meskipun demikian, ia harus melakukan apa yang harus dilakukannya. Jika mereka kalah dalam pertarungan pertama, dukungan kecil yang mereka miliki bakal terputus. Hal itu tak akan baik.

*'Siapa yang mengambil inisiatif bakal menang.'*

Musuhnya adalah seorang bangsawan agung yang bertanggung jawab atas seluruh wilayah ini. Count Molsen, Sang Raja Perbatasan.

"Jika terdesak, aku bakal mengambil sandera." gumam Krais dengan suara kecil yang hanya bisa didengar dirinya sendiri.

Ia juga memantau dua anak Count Molsen kalau-kalau ia harus melakukan hal itu. Tepatnya, ia telah mengawasi mereka selama beberapa waktu. Kau tak pernah tahu, mereka mungkin berguna suatu hari nanti, dengan cara tertentu.

Meskipun demikian, ia tak memiliki ekspektasi bahwa sandera bakal bekerja. Sandera melawan Count Molsen itu? Tidak ada kesempatan.

Namun, itu tidak berarti ia bisa membiarkan mereka berdua begitu saja. Ia sudah memiliki tiga puluh enam cara untuk melarikan diri jika situasi memburuk. Dan sebelum tiga puluh enam rute pelarian itu, Krais telah memikirkan seratus tujuh puluh cara untuk menang dan bertahan.

Di antara mereka, langkah pertama paling berguna, rasional, dan efisien adalah ini.

"Apakah ini bakal baik-baik saja?" Benzens, yang menjadi komandan pemanah di tembok benteng, bertanya dari samping.

Krais menatap sosok masif yang berdiri di depan pasukan yang berjejer, sosok yang dua kepala lebih tinggi dari prajurit lainnya, dan berucap.

"Menurutmu apa hal paling pertama yang harus dipertimbangkan di antara segalanya, termasuk strategi, taktik, dan seni perang?"

Benzens berpikir sejenak sebelum menjawab.

"... Um, moral bertarung?"

Moral bertarung, semangat pasukan, memang penting. Namun ada sesuatu yang harus dipertimbangkan sebelum hal itu.

"Memahami apa yang kumiliki."

Hal itu mungkin terdengar seperti pernyataan yang samar, tetapi sebenarnya sederhana. Maksudnya adalah memanfaatkan apa yang kau miliki secara tepat menjadi yang utama. Bagaimana seseorang sanggup bertarung tanpa mengetahui apa yang dimilikinya?

Krais mengenal Audin. Ia tidak mengetahui segalanya tentang pria itu, tetapi ia tahu Audin bukanlah tipe pria yang mundur berhadapan dengan sekadar lima puluh lycanthrope.

Di atas hal itu, Teresa, salah satu dari apa yang disebut Bear Siblings, berada bersamanya. Sebab itulah ia memerintahkan mereka untuk tidak menembakkan anak panah tunggal sekalipun.

Harus dengan cara seperti ini. Mereka harus menghancurkan semangat musuh dalam pertarungan pertama. Baru setelahnya Count Molsen bakal menyerah atas tempat ini.

Pikiran Krais telah menuntaskan kalkulasinya. Dan Audin, hasil dari kalkulasi tersebut, baru saja mengangkat tinjunya menuju lycanthrope yang air liurnya menetes yang menerjang lurus padanya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.