Bab 396: Persiapan Menyambut Perang
Aroma minyak terbakar dari lentera memberi Edin Molsen sakit kepala berdenyut. Jika ia bertahan di sini lebih lama lagi, ia merasa bakal tewas akibat kekurangan udara segar sebelum hal lainnya. Bahkan tanpa disiksa atau dipukuli.
*'Sialan.'*
Setelah mengutuk secara internal, kecemasan mendadak untuk adik perempuannya menembus pemikirannya. Saat ia mengangkat kepalanya, ia melihat seorang pria duduk di hadapannya dengan kaki tersilang. Pria itu memiliki mata besar dan cukup tampan untuk membuat pria lain memutar kepalanya.
Ia adalah seorang pria dari Mad Company bernama Krais, paras yang dikenal baik oleh Edin. Ia tak pernah bermimpi pria ini bakal menempatkan pengawasan pada dirinya dan adiknya.
Karena meratapinya sekarang tak akan mengubah situasi, ia mengajukan pertanyaan praktis dan realistis.
"Adikku?"
"Dia sangat baik-baik saja. Porsi makannya kecil, tetapi sepertinya itu rahasianya mempertahankan bentuk tubuhnya."
Nada suaranya yang fasih sungguh menyebalkan.
"Jika kau melarikan diri tepat sebelum perang saudara meletup, tak ada dari hal ini yang bakal terjadi."
Atas kata-kata Krais, Edin baru saja hendak menyuarakan ia memang ingin melakukan hal itu, tetapi menahan dirinya. Bagaimana bisa ia melarikan diri jika ia tidak tahu? Bahwa ayahnya, yang disebut Sang Raja Perbatasan, merencanakan dan mengeksekusi perang saudara? Ia tahu, tetapi ia tak bisa membicarakannya secara ceroboh.
Tak peduli apa pun yang disuarakan orang lain, pria itu adalah ayah Edin. Hukuman untuk pengkhianatan dipastikan eksekusi mati bagi seluruh keluarga. Lantas, haruskah ia memihak melawan ayahnya? Itu di luar pertanyaan. Edin tahu kekuatan yang dimiliki ayahnya. Ayahnya bukanlah pria yang bertarung dalam pertempuran yang tak sanggup dimenanginya.
Edin Molsen murni ingin bersembunyi di suatu tempat yang tenang bersama adiknya. Tidak masalah apakah itu wilayah timur atau utara. Sebab itulah ia bertahan, bahkan saat dipukuli oleh pria itu, Encrid. Ia bahkan sempat mencoba membujuk ayahnya, menyuarakan adiknya bisa saja menggoda pria Encrid itu.
Mengingatnya kembali sekarang, sepertinya ia tidak menjadi perhatian ayahnya.
*'Bukan berarti ia bakal membiarkanku melarikan diri pula.'*
"Bunuh aku," ujar Edin. Ini adalah musuh-musuh ayahnya; mereka tak akan membiarkannya hidup. Nilai sebagai sandera? Konyol. Ayahnya itu?
Dean Molsen, ayahnya, telah tampak kurang menyerupai manusia selama beberapa waktu sekarang. Kedinginannya menyerupai tanah yang membeku selamanya. Itu tidak terlihat di permukaan, tetapi saat diamati dari dekat, ada sensasi dingin tidak manusiawi pada dirinya.
*'Sejak kapan ia menjadi seperti itu?'* Ia tidak tahu. Itu di luar pemahamannya. Pada beberapa titik, ayahnya telah berubah.
"Membunuhmu?" Krais menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi, lantas menepuk pahanya diiringi tepukan tangan dan berucap.
"Baiklah, mari lakukan ini."
Krais tahu cara menangani orang-orang. Ia cepat tanggap dan menilai situasi dengan baik. Ia telah mengetahui sejak lama bahwa Edin Molsen tak memiliki nilai sebagai sandera. Count Molsen tidak peduli sedikit pun pada putra di hadapannya. Tidak pula pada putri yang dibawanya, yang menyamar sebagai pria.
Ia tidak peduli tentang urusan keluarga orang lain, tetapi satu hal yang pasti.
*'Edin Molsen itu ingin melarikan diri.'* Hasratnya sangat jelas. Menyiksa sangatlah tidak perlu.
"Beri tahu kami segalanya yang kau ketahui, lalu pergilah ke Martaï. Kami bakal mengatur identitas baru dan sebuah rumah untukmu. Kau kemungkinan berencana menjual permata dan aksesori yang kau bawa untuk memulai awal yang baru, tetapi apakah kau mengira bisa membuang barang-barang semacam itu dengan mudah? Kau bakal beruntung jika tidak ditusuk oleh perampok di tengah malam."
Krais telah menyembunyikan orang-orang dan menghasilkan krona sebelumnya. Ia begitu ahli dalam hal itu hingga pernah mempertimbangkan menjadikannya karier. Ia menyerah karena kesempatan untuk ditusuk, bersama dengan probabilitas dilempar ke penjara, terlalu tinggi, tetapi keahlian lamanya tidak sirna. Itu adalah pekerjaan yang dapat dilakukan menerobos Gilfin Guild, lantas itu tidak terlalu sulit.
"... Kau bakal membiarkanku hidup?" Mata Edin penuh dengan kecurigaan.
*'Benar, aku juga tak akan mempercayainya dengan mudah.'* Krais menyuarakan kata-kata yang, demi penampilan, bakal membuat orang lain mengangguk.
"Aku bersumpah atas kehormatan Kapten."
Sang Kapten adalah Encrid. Di Border Guard, nama Encrid membawa bobot yang tak dapat dibandingkan dengan apa pun. Bahkan jika kau tidak tahu nama sang lord, setiap anak yang lewat mengetahui nama Encrid.
"Dan jika ini sebuah kebohongan?"
"Apakah kau memiliki pilihan lain?"
Edin tidak memiliki pilihan lain. Apakah mempercayainya dan berbicara, atau sekadar mati.
"Hah, sialan. Aku benar-benar telah tertangkap." Edin Molsen memberi tahu mereka apa yang diketahuinya.
Pada kenyataannya, hal itu tidak penting baginya bagaimanapun. Ia tidak mengetahui detailnya terlepas dari hal itu.
"Ada lima senjata di county."
"Senjata? Bukan pria?" Sepertinya unit penghitungan salah.
"Itu adalah apa yang mereka panggil sebagai lima prajurit yang mengayunkan senjata berbeda." Penjelasannya tidak panjang.
Pasukan sang Count terbagi menjadi empat cabang, dan mereka semua dipimpin oleh empat komandan yang dipanggil jenderal. Organisasi sisanya serupa dengan kerajaan. Empat jenderal dan prajurit yang mengawal sang Count—itulah lima senjata yang dibesarkan Molsen.
Hal itu juga terdengar seperti lima monster yang telah membuktikan diri mereka menerobos kekuatan murni. Prajurit bisu yang mengayunkan palu, Malten. Sang raksasa yang memanfaatkan tubuhnya sebagai senjata, Benukt. Zalban, yang menangani dua tombak dengan keahlian akrobatik. Sang elf dari Leaf Sword, Banat. Dan prajurit pengawal dari keluarga bangsawan yang runtuh, Lierbart.
"Setiap dari mereka sanggup bergabung dengan Knights. Mereka juga semuanya sepenuhnya setia pada sang Count."
Mengingat mereka saja membuat mulut Edin menjadi kering. Setiap dari mereka hampir tidak menyerupai manusia. Count Molsen adalah pria yang gigih dan licik. Sebab itulah tak ada orang yang tahu kekuatan yang disembunyikannya.
"Apakah ia mungkin bersekongkol dengan para pengikut sekte?" Krais berada di perahu yang sama. Sebab itulah pertanyaan itu keluar. Ia bertanya-tanya apakah sang Count mungkin membawa Azpen dan kelompok lain.
"Tak ada keperluan untuk hal itu. Ia memiliki pasukan wilayah." Edin berbicara, dan ekspresi santai di paras Krais sirna.
Tak ada penjelasan panjang yang diperlukan.
"Dia telah membangun pasukan monster."
Sementara Border Guard menahan Azpen. Sementara kerajaan menahan tanah iblis dan selatan. Count Molsen telah tenang. Ia tidak memicu masalah besar apa pun. Bahkan saat dipanggil Sang Raja Perbatasan, ia tidak memicu insiden besar apa pun. Ini adalah kekuatan yang menghimpunnya.
Lebih dari itu, bisakah hanya itu? Pria licik itu? Ia pasti memiliki kartu tersembunyi lainnya. Itu adalah keyakinan yang dimulai dengan kecurigaan.
*Thud!*
Saat Krais melesat naik dari kursinya, kursi itu jatuh ke belakang diiringi benturan. Mengamati hal ini, Edin menutup matanya. Dadu telah dilemparkan, dan Edin merasa ia tahu angka berapa yang bakal diperlihatkan.
Ia mendengar Krais, yang telah bergegas ke luar, berteriak dengan seluruh kekuatannya.
"Audin! Kapten Sinar! Komandan Batalyon Graham! Kita perlu membentuk pasukan bantuan seketika!"
* * *
"Memukuli kepala keamanan seperti itu adalah sebuah kesalahan." ujar pria itu, seorang guild master, yang menempel dekat dengan Encrid.
Jujur saja, ia sangat mengganggu, tetapi Encrid membiarkannya. Pria itu mendekatinya membawa sesuatu yang mirip dengan rasa kagum. Ia adalah seseorang yang menyediakan berbagai senjata dan perlengkapan dan telah mengikuti mereka sepanjang jalan menuju Dataran Naurilia. Ia juga menyebutkan bahwa ia sendiri telah mengayunkan pedang sedikit di masa mudanya. Dengan kata lain, itu adalah deklarasi dari kehendaknya untuk bertarung di pasukan sang raja.
"Sebuah kesalahan?" Andrew, yang mengikuti di belakang, bereaksi seolah-olah kata tersebut mengganggunya.
"Aku tahu kau sangat ahli, tetapi kau tahu, bukan? Tak ada hal yang sepenting reputasi seseorang." Sang guild master berbicara seakan membuat pembenaran, dan Andrew mencibir.
Melihat hal itu, sang guild master mengernyit sebelum dengan cepat merapikan ekspresinya. Lawannya adalah kepala keluarga Gardner, bangsawan baru yang sedang naik daun. Ia juga telah mendengar bahwa lima Apprentice Knights di belakangnya semuanya sangat ahli.
Encrid tidak memedulikan apa pun yang disuarakan sang guild master yang mengikutinya. Alasan untuk pembicaraan semacam itu? Ia sanggup mengetahuinya dengan mudah tanpa banyak berpikir. Itu karena tak ada orang yang secara layak menyaksikan apa yang dilakukan Encrid yang membocorkannya ke mana-mana.
Aisha, yang mengetahui situasi umum, bukanlah tipe orang yang melangkah berbicara ke mana-mana. Apakah Rem bakal berbicara? Bergosip adalah spesialisasi Rem, tetapi tak ada orang untuk diajak bicara di sini. Tak perlu disuarakan lagi, hal serupa berlaku untuk Ragna dan Jaxon.
Dan apakah Esther bakal melangkah maju dan menyuarakan, "Ini adalah pria yang menyelamatkan rajamu." Tidak ada kesempatan hal itu terjadi.
Tentu saja ada mereka yang menyaksikan Encrid. Mereka yang dihadapinya saat menyelamatkan Krang. Mereka telah menyaksikan ilmu pedangnya yang menebas seorang Squire dalam sekejap, tetapi mereka telah melarikan diri seketika. Secara alami, mereka tak memiliki kesempatan untuk berbicara.
Krang tidak banyak berbicara pula, dan begitu pula Matthew. Hal serupa berlaku untuk penjaga dengan trisula. Namun jika seseorang menyuarakan hal tak masuk akal, baik Matthew maupun penjaga trisula memang menjadi marah.
Tentu saja bukannya tak ada rumor yang menyebar sama sekali. Ada Squire Lopode dan para wanita istana kerajaan. Berkat mereka, rumor memang beredar. Rumor bahwa Encrid, sang pahlawan dari Border Guard, adalah sosok sejati. Pembicaraan sebelumnya tentang dirinya yang pemual atau bukan siapa-siapa secara perlahan mulai memudar. Namun tidak semua bangsawan mengakuinya.
Lantas bagaimana? Untuk mengulangnya, Encrid sama sekali tidak peduli. Dan di antara mereka yang berkumpul di sekeliling Encrid, tak seorang pun dari mereka secara khusus peduli tentang hal semacam itu pula. Kecuali jika ada pria yang mendatangi untuk mengejek mereka. Jika tidak, mengapa harus repot-repot?
Encrid jauh lebih tertarik pada hal-hal lain. Ia memiliki banyak hal untuk dipikirkan dan banyak hal untuk dilakukan. Sepanjang perjalanan menuju Dataran Naurilia, Encrid merenungkan apa yang telah berlalu.
"Aku Ingis dari Red Cloak Knights. Aku merasa kita bakal bertemu lagi." Dari Ingis, sang ksatria, yang mencari Encrid secara terpisah sebelum pergi.
"Aku berharap kita dapat mengadakan latihan tanding di lain waktu." Meskipun Encrid tidak melakukan apa pun secara khusus, ketertarikan Ingis terarah padanya.
"Namun mengapa kau ingin bertarung melawan Kapten?" Rem, mendapatinya aneh, bertanya dari samping. Biasanya Encrid yang memrakarsai pertarungan, bukan sebaliknya.
"Aku memiliki naluri yang baik, lantas aku dapat menyuarakan kau adalah orang yang menarik." Ingis berucap serius seraya menyapu rambutnya ke belakang.
Di mata Encrid, pria itu tampak menyerupai individu yang sangat aneh.
"Kalau begitu, selamat tinggal." Ia menyuarakan ia memiliki banyak urusan merepotkan di selatan dan melangkah pergi murni seperti itu. Ia memang mengulang beberapa kali lagi bahwa ia berharap bisa menyaksikannya lagi di masa depan.
"Kau menjadi lebih dari seorang pria untuk disukai di setiap hari yang berlalu." Setelahnya, Rua Garne datang menemuinya, dan setelah membenturkan pedang beberapa kali, ia berucap.
"Keahlianku tak lagi menjadi tandingan bagimu." Pergelangan kakinya masih belum sembuh secara penuh. Bahkan untuk seorang Frokk, pergelangan kaki tidak sekadar tumbuh kembali dalam sehari. Meskipun demikian, perbedaan dalam kehalusan keahlian sangat jelas terlihat.
"Masih saja, sepertinya aku memiliki hal-hal yang tersisa untuk diajarkan padamu." Selama lima hari, Rua Garne membantunya menghaluskan teknik-teknik Righteous Sword. Encrid, tentu saja, belajar dengan tekun.
*'Apakah aku melakukannya seperti ini saat itu?'* Encrid menggerakkan tangan-bilahnya ke sana kemari selama march, meninjau ulang ilmu pedang. Itu adalah rutinitas harian.
Semua orang menyaksikannya tetapi tidak memikirkan apa-apa tentang hal itu. Pada kenyataannya, ia tak memiliki prajurit di bawah komando langsungnya, lantas orang-orang yang mengamati adalah beberapa orang yang biasa. Ragna, Jaxon, Dunbakel, Rem, dan Andrew. Kecuali Andrew, yang lainnya semula milik pasukan tetap Border Guard, lantas sangat alami mereka tak memiliki prajurit di bawah mereka.
Jalan menuju Dataran Naurilia sangat mulus. Tidak ada penyergapan, tidak ada serangan. Tim pengintai terus bergerak, menyampaikan pergerakan musuh. Hingga saat itu, Encrid sekadar terus meninjau ulang apa yang telah dihaluskannya selama sebulan.
Sebulan, yang biasanya dianggap sebagai waktu yang singkat, tetapi bulan ini berbeda.
"Kau telah berkembang sangat banyak." Ia melihat pandangan di mata Ragna berubah.
"Hah, bawalah ke sini. Aku bakal bertarung bertarung setengah serius darimu." Ia memancing keseriusan Rem.
"Ini murni tidak dapat dipercaya." Aisha, yang datang menemuinya setelah pulih hingga batas tertentu, murni menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa keahliannya berkembang begitu banyak hanya dalam beberapa hari, ia bertanya-tanya.
"Makin sulit menyaksikan dirimu yang lama." Jaxon menyuarakan sesuatu seperti itu. Itu adalah pujian tinggi.
Encrid mengangguk. Selama sebulan, Encrid hampir tidak berbicara. Ia murni melangkah maju, mengayunkan pedangnya. Apakah karena stimulasi yang diberikan sang Penyeberang padanya? Itu bukan segalanya.
Di dalam pikiran Encrid, Apprentice Knight yang memotong alurnya secara terus-menerus muncul. Encrid secara berulang bertanya pada dirinya sendiri, jauh di dalam.
*'Bagaimana jika aku telah bertarung hingga akhir?'* Apa yang bakal terjadi saat itu? Ia meraih jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berulang. Tidak, ia sudah mengetahui jawabannya. Itu adalah pengalaman yang diraih menerobos hari ini yang diulang.
Sebuah perspektif yang terbuka hanya sekarang, setelah melangkah dan melangkah ke titik ini. Maksimal tiga kali, hal itu sudah akan memadai. Lantas ia bisa melampauinya. Oleh karena itu, pria itu bukanlah sebuah dinding.
Itu adalah pengalaman segar. Seseorang dapat menyuarakan itu hanya sebulan. Dibandingkan dengan hari ini yang diulang, itu adalah waktu yang sangat singkat. Meskipun demikian hal itu menjadi waktu dengan konsentrasi dan densitas berbeda. Encrid memperlihatkan perbedaan di setiap hari.
Itu adalah momen mencerna pengalaman yang diraih dari hari ini yang terhimpun, tetapi bagi orang lain, itu murni kejadian aneh.
"Yah, kau kemungkinan tak akan mati begitu mudah sekarang." Itulah kesimpulan Rem.
Dan lantas mereka tiba di Dataran Naurilia. Saat musim panas tiba, tunas-tunas hijau tumbuh tinggi, dan melampaui ladang, pasukan musuh terlihat. Pasukan yang berjejer dalam barisan begitu banyak hingga pusing murni mengamatinya.
"Itu sangat banyak dari mereka." Rem berbicara terlebih dahulu.
Ragna mengangguk, dan Jaxon murni melipat tangannya dan memiringkan kepalanya sedikit.
Dunbakel memindai dari kiri ke kanan dan lantas berucap.
"Tampak menyerupai tiga kali lebih banyak." Ia benar. Jumlahnya berbeda sejak awal.
Pada kenyataannya, para komandan di pasukan Krang mengira sang Count mungkin membawa para pengikut sekte atau menarik trik lain. Itu adalah salah penilaian. Jumlah murni dari pasukan sangat berbeda. Pasukan wilayah yang terlatih baik berjumlah mendekati sepuluh ribu. Murni berdiri di sana dalam formasi, mereka sudah kalah dalam hal momentum.
Jumlah pasukan sekutu yang disiapkan untuk perang saudara berada di sekitar tiga ribu. Kalah jauh dalam pelatihan dan jumlah. Ini adalah pertarungan yang kalah.
Di depan mereka, lima senjata mengambil posisi mereka. Dua ajudan berdiri di samping masing-masing dari mereka, dan kehadiran mereka juga dahsyat. Cuacanya cerah, tetapi terasa seakan awan badai sedang bergulir masuk. Awan hitam yang menutupi hanya kepala pasukan sekutu.
Dan lantas.
"Aku murni bakal melangkah menyapa." Ada seorang pria yang telah melangkah sejauh ini, murni berfokus pada meninjau ulang pedangnya.
Ia ingin menguji pedangnya. Secara naluriah, ia juga berniat membalikkan atmosfer saat ini. itu adalah sensasi membaca suasana, satu yang memotong menerobos strategi dan taktik, yang diraih dari pertempuran melawan Azpen.
"Odd-eye." Encrid memanggil Odd-eye, yang kini dengan senang hati membiarkannya naik, dan menungganginya.
*Bwoooooooh*, terompet tanduk bergema.
*Dung-dung-dung-dung-dung!*
Di tengah suara genderang yang menyebar, seorang penunggang kuda tunggal memacu maju.
"Siapa pun, keluarlah," teriaknya.
Sementara semua orang terperanjat, salah satu dari lima senjata, ajudan Zalban, melangkah maju.
"Aku bakal membawa kembali kepalanya." Karena sang lawan menginginkan duel, adalah hal tepat untuk mengabulkannya. Sang ajudan memacu keluar, tombak panjangnya terulur di depannya.
Lawannya turun dari kuda. Mengapa orang bodoh itu turun dari kudanya?
*Hee-hee-hee-hing!* Kuda sang ajudan Melepaskan jeritan.
"Ha!" Dengan sebaris teriakan, ia meningkatkan kecepatannya, dan tanah mulai bergemuruh.
Kuda masif, seorang prajurit dengan tombak di atasnya. Tampak seolah-olah satu orang yang berjalan kaki bakal dirobek menjadi potongan-potongan atau ditusuk seperti kebab.
"Uh, uh, uh." Seseorang di pasukan kerajaan menunjuk ke depan, mulutnya menganga. Bukankah ia seharusnya menghindarinya? Itulah pertanyaannya. Namun sebagian besar murni mengamati kaku. Bukan berarti seluruh proses terjadi dalam sekejap, tetapi apa yang sanggup mereka lakukan? Saat situasi terurai, mereka hanya bisa menyaksikan.
Siapa pun dengan mata yang sanggup menyaksikan situasi menilai bahwa pria itu bakal tertusuk pada tombak dan tewas. Mereka yang tidak mengenal Encrid berpikir demikian. Hanya beberapa orang yang santai. Mereka yang tahu siapa yang melangkah maju.
*Dudududududu!* Kuda memangkas jarak dalam sekejap. Bobot beratnya terlihat bahkan dari jauh. Awan debu membumbung. Rumput hancur di bawah teracak kudanya dan melayang ke belakang. Dibandingkan dengan betapa mulusnya sekutu mereka melangkah maju, seakan berlari di atas awan, ini adalah serbuan keras.
*Hwoong!* Tombak memotong udara.
Sang ajudan yang telah menusukkan tombak dan kudanya melewati tepat di samping sang lawan.
*Fwoosh!* Darah menyembur ke udara seperti cat yang tumpah di atas kanvas.
Kuda berlalu, tetapi sang penunggang meninggalkan separuh tubuhnya di belakang. Tubuh bagian atas dari sang pemegang tombak terangkat ke udara seakan ditarik oleh tali, lantas jatuh terhempas ke tanah.
Darah dan organ dalam menodai rumput dan tanah. Itu adalah korban jiwa pertama.
Encrid, berpikir tidak masalah jika ia didengar atau tidak, menggumam.
"Berikutnya."











