Bab 409: Di Dalam Gelombang Hitam
Konon, seorang Knight mampu menandingi seribu prajurit.
Namun, bagaimana jika musuh yang dihadapi berjumlah sepuluh ribu?
Sang Count bergeming. Ia bertekad menghabisi lawannya seolah-olah lawannya adalah sesosok Knight sejati.
Maka, sepuluh ribu roh pun dipanggilnya menghampar ke medan laga.
‘Matilah.’
Menjadilah pupuk.
Menjadilah nutrisi.
Menjadilah mangsa.
Dan dengan begitu, menyatulah sebagai bagian dariku.
Dampak dari lingkaran sihir milik sang Count sungguh mengerikan.
Sihir itu mewujudkan dunia sorcery miliknya ke alam nyata.
Alhasil, roh-roh itu memperoleh wujud fisik, menjelma menjadi prajurit roh.
Sebuah gelombang legam merangsek maju dengan tubuh yang terbuat dari jelaga hitam.
Roh-roh yang memadat menjadi gelombang hitam itu terus bangkit meski sempat tumbang, menyeruak hebat tanpa henti.
Gwoooo.
Bentuk masif itu sesekali melontarkan jeritan mengerikan.
Mereka adalah makhluk-makhluk yang merangsek sembarangan bagai kawanan liar, sama sekali tanpa formasi bertarung.
Lantaran tak beraturan, pergerakan mereka tidak bisa dibilang cepat.
Bukan marsekal barisan tentara yang rapi, melainkan bongkahan kacau yang bergulir menerjang.
Menyaksikan pemandangan itu, Encrid merasa kawanan tersebut mirip seperti kawanan semut.
Tentu saja, tiap semut itu berukuran sebesar manusia dewasa—tertelan oleh gelombang itu sama saja dengan menjemput maut.
Apakah hanya Encrid yang bakal tewas?
Prajurit di belakangnya, yang menggaruk lengan bawahnya dengan liar dan histeris, juga akan tewas.
“Ibu! Ibu! Ibu mau pergi ke mana?!”
Prajurit yang terjangkit ilusi dan mendadak berteriak ke arah udara kosong itu pun bakal tewas.
“Majenda, aku akan menyusulmu.”
Prajurit yang mendadak tenggelam dalam depresi hebat hingga berpura-pura mencekik lehernya sendiri juga akan tewas.
Kondisinya benar-benar kacau-balau.
Entah sihir atau sorcery jenis apa, trik yang dilepaskan Count Molsen terbukti amat ampuh melumpuhkan mental.
Meski begitu, tak semua orang kehilangan akal sehat.
Masih ada prajurit yang sama sekali tak terpengaruh.
“Hey! Mau ke mana kamu, bodoh! Majenda itu adikku! Dia tidak ada hubungan apa-apa dengannya, dan dia masih hidup segar bugar!” seru seorang prajurit yang masih waras sembari menepis keras tangan kawannya yang sedang mencekik diri sendiri.
“Apa-apaan ini... apa yang sedang terjadi?” racau prajurit lain seraya menoleh ke sekeliling dengan cemas.
Raut wajahnya menyuarakan kebingungan mendalam.
Ia pasti heran kenapa rekan-rekannya mendadak bertingkah aneh padahal dirinya baik-baik saja.
Encrid sendiri tak paham betul hakikat mantra yang dirapalkan sang Count, tetapi secara garis besar ia mampu membaca situasinya.
Meski satu mantra melingkupi seluruh medan perang, siapa pun yang keluar dari jangkauan area tertentu tak lagi terpengaruh oleh jelaga tersebut.
Makin lama menetap di tempat ini, makin parah pula dampak mental yang menggerogoti.
Mantra berskala sedahsyat ini... bukankah bakal lenyap jika aku menebas si perapal sihirnya langsung?
Intuisi Encrid bergerak cepat.
Tak ada cara lain selain menembus gelombang ini dan menghabisi si perapal sihir.
Karena itulah, mereka harus terus menerjang ke depan.
Saat mendengar perintah Encrid dan menyaksikan kawanan roh yang merangsek, Rem sempat menyuruh mereka membentuk formasi bertarung.
“Aku menolak,” sahut Ragna tanpa ragu.
Saat berucap, langkah kakinya sempat goyah hingga ia terpeleset sejenak.
Kondisi Ragna pun tidak sedang baik-baik saja.
Memaksa penggunaan Will secara berlebihan jelas menguras tenaga serta pikirannya.
“Kakak, apa ada hal buruk yang bersarang di kepalamu? Mau kubantu mengeluarkannya?” celetuk Audin penuh perhatian.
Ia mengira Rem terpengaruh trik penyihir di depan, jadi ia menawarkan bantuan dengan niat baik.
Audin, yang baru saja menyambungkan kembali tulang jari-jarinya yang patah, juga memiliki banyak luka di sekujur tubuh.
Maklum, lawan yang dihadapinya sebelumnya teramat tangguh.
Apakah nasib Jaxon jauh lebih baik?
Sama sekali tidak. Ia harus membayar mahal kegagalan serangan kejutannya saat berniat menghabisi sang Count.
Sebuah lubang kecil menganga di bagian perutnya.
Meski sudah diolesi salep darurat dan dibalut perban khusus, kondisinya jelas tak memungkinkan untuk bertarung dalam jangka panjang.
Luka itu bersarang di titik yang amat berbahaya.
Bukan hanya itu, hawa dingin yang menusuk terus menjalar naik dari rongga perutnya.
Rem pun tidak jauh berbeda.
Rasa mual hebat terus mengocok perutnya sebagai efek samping meminjam sorcery milik orang lain.
Namun di antara mereka semua, Encrid-lah yang kondisinya paling parah.
Ia tidak menderita kerusakan akibat Will, tetapi fisik tubuhnya telah diperah melebihi batas kemampuan.
Hal itu sangat wajar.
Demi menjadi seorang Knight, Lierbart sempat bertarung sengit menggunakan serabut otot monster yang menempel di tubuhnya.
Untuk meredam gempuran dahsyat itu, Encrid terpaksa memeras seluruh sisa tenaganya hingga titik darah penghabisan.
Aku juga terbilang beruntung, batin Encrid.
Seandainya ia gagal mewujudkan skill yang berlandaskan pada Will bernama ‘The Eye that Sees One Inch Ahead’, mungkin saat ini ia sudah kembali mengulang hari dan menyapa mentari pagi.
Bahkan ketika mereka berbincang sepintas, gelombang hitam itu terus merayap maju.
Bagaikan luapan minyak mentah legam yang kian mendekat merayapi tanah.
Pemandangan itu begitu menjijikkan hingga membuat siapa pun ingin muntah.
Beberapa prajurit roh yang menjadi bagian dari gelombang itu roboh terjerembel, bahkan tak sanggup berguling di tanah. Namun, mereka tetap merayap maju seraya mencengkeram tanah dengan jemari mereka yang menghitam.
Bunuh.
Akan kubunuh.
Mereka tak lebih dari jiwa-jiwa liar yang hanya memancarkan niat membunuh.
Di atas mereka, gumpalan roh dengan anggota tubuh yang saling membelit tampak bergeliat.
Sebuah pemandangan yang melampaui batas rasa jijik dan memicu mual hebat.
Meski rekan-rekannya sempat menolak formasi, situasi saat ini tak memberi mereka kemewahan untuk memilih.
“Mari ambil jalan pintas,” cetus Encrid singkat.
Tanpa membuang kata-kata ekstra, Rem menyambung dengan ekspresi tenang.
“Kapten di posisi pertama, aku kedua, dan si pemalas di posisi ketiga. Si kucing liar dan si pengkhotbah mundur ke belakang, ikuti dari dekat dan jaga garis belakang kita.”
Nada bicaranya terdengar begitu lugas dan praktis.
Penjelasan Rem memang tidak ramah, tetapi Encrid paham betul maksudnya.
Hari-hari yang dihabiskannya untuk menimba ilmu dari Rem tidak sia-sia.
“Gelombang serangan tiga lapis?” tanya Encrid memastikan.
Rem mengangguk.
Itu adalah nama formasi taktis yang pernah dihadapi Encrid di masa lalu.
Taktik yang diperagakan oleh pasukan gabungan dari Centaur Colony dan makhluk berkuda.
Gelombang pertama menarik perhatian lawan, gelombang kedua menghantam, dan gelombang ketiga meluluhlantakkan.
Tiap gelombang menerjang kian dahsyat.
Rencana Rem saat ini adalah meminta mereka bertiga mengeksekusi serangan tiga lapis ini secara bergantian sembari terus berganti posisi.
“Bergerak!” tegas Encrid tanpa ragu.
Bahkan jika dijelaskan seratus kali dan dipahami dengan sempurna, tak ada waktu untuk berlatih.
Terlebih lagi, bukankah kawanan roh itu sudah berada tepat di depan hidung mereka?
Guuoooo!
Suaranya mirip gerungan ghoul yang melengking dari dasar sumur tua.
‘Pertempuran sungguhan adalah latihan terbaik.’
Encrid teringat ucapan Rem di masa lalu lalu mengayunkan pedang peraknya ke bawah.
Dengan memutar tumpuan kaki kirinya, ia mengeksekusi tebasan mahkota khas teknik Northern Heavy Sword.
Huk!
Mata pedang itu membelah udara dan menusuk ke bawah.
“Rilekskan tubuhmu!” teriak Rem dari belakang, tetapi pedang Encrid sudah terlanjur terayun.
Jleb! Kepala roh pertama yang merangsek maju tersambar mata pedang dan terbelah dua.
Wujudnya berupa monster hitam menggumpal dengan tangan dan kaki, namun tanpa mata, hidung, maupun mulut.
Begitu pedang Encrid membelah kepalanya, kabut hitam menyembur deras dari dalam.
Makhluk itu tewas.
Encrid bisa merasakannya dengan jelas.
Lalu, roh di belakangnya kembali menyerang.
Mereka tidak berhenti.
Peduli setan dengan kematian kawannya di barisan depan; mereka terus merangsek tanpa henti.
“Ke kiri!” seru Rem.
Tepat di depan Encrid, seekor roh telah membentuk tangannya menyerupai pedang dan mengayunkannya.
Sudut tebasannya membuat Encrid tak bisa menghindar hanya dengan menggeser badan ke samping.
Meski begitu, Encrid tetap melangkah ke samping secara mantap.
Keputusan yang mustahil diambil tanpa rasa percaya yang amat dalam pada rekannya.
Tepat pada saat itu, sebuah bayangan menghantam dari kanan bagaikan kilatan cahaya.
Duarr! Brakk!
Suara palu yang diayunkan Rem menghancurkan kepala roh tersebut hingga berkeping-keping.
Menyusul setelahnya, Rem menyapu kapak di tangan kanannya dengan kecepatan stabil, sejajar dengan permukaan tanah.
Bunyi koyakan udara menggelegar sewaktu deretan roh tumbang beruntun.
Bukan sekadar tebasan kasar, melainkan teknik mendorong dan menarik yang terukur hingga tiap roh yang tersambar mata kapak langsung terbelah.
Sekali pandang saja sudah cukup untuk menyadari bahwa ini bukan jurus biasa.
Rem memanfaatkan keseimbangan dan kekuatan lengan, membagi tumpuan beban pada otot intinya, bahkan memanfaatkan dorongan kakinya yang menghentak tanah.
Alhasil, mata kapak itu meluncur tanpa hambatan sedikit pun.
Usai melepaskan dua serangan beruntun, Rem ikut bergeser ke kanan.
Kawanan prajurit roh lain segera mengisi celah yang ditinggalkan Rem.
Geooooh!
Di atas pekikan sarat niat membunuh itu, sebilah pedang yang penuh gerigi dan sumbing menghantam turun.
Siapa lagi kalau bukan pedang milik Ragna.
Huk!
Pedang yang membelah ruang secara vertikal itu menebas tiga roh yang saling membelit sekaligus.
Salah satu roh berusaha mengulurkan tangan, berjuang menggapai kerah baju Ragna.
Namun jemari itu tak sempat menyentuh, dan Ragna yang sudah merampungkan ayunan pedangnya langsung melangkah mundur.
“Sekali lagi!”
Bahkan sebelum Rem sempat berteriak, Encrid sudah mengenali dan memahami polanya.
Sudah berapa kali ia bertarung tanding bersama mereka?
Jelas sudah ratusan kali.
Mereka bertugas menutup ruang kosong dan membendung serangan dari depan.
Perintah untuk 'rileks' bermakna agar ia menyerap dan mengalihkan gempuran musuh, bukan melawannya mentah-mentah.
Dengan kata lain, melepaskan benturan jauh lebih krusial dibanding membalas tebasan.
Paham akan intinya, Encrid bergerak cepat.
Ia menggenggam hulu pedang secara luwes, memfungsikan teknik Flowing Sword untuk menebas, menangkis, serta menepis kepala roh-roh di depannya.
Seekor roh mendadak melompat tinggi, tetapi sebatang kayu panjang mendadak melayang dari arah tak terduga.
Syuut, jleb!
Tombak kayu yang meluncur deras itu menembus dada sang roh dan menghempaskannya jauh ke belakang.
Sepintas mirip seperti lemparan lembing jitu.
Faktanya, itu adalah tombak bekas yang dipungut Audin dari tanah lalu dilemparkan.
“Maju, Kakak!” seru Audin.
Itu adalah buah karya Audin.
Di sisi kiri belakangnya, tangan Jaxon bergerak tanpa henti.
Menggenggam sebilah longsword, ia menusuk dan menebas roh-roh yang mengepung mereka satu per satu.
Pembagian peran mereka sangat jelas.
Encrid dan Rem membendung barisan depan, sementara Ragna di tengah membantai mereka.
Audin bertindak sebagai fondasi yang menopang seluruh pergerakan.
Jaxon bergerak sigap menutup tiap celah yang terbuka.
Dengan Audin dan Jaxon yang mengawal garis belakang, tiga orang di depan hanya perlu fokus menerjang ke depan.
Kawanan roh mengepung dan menerjang Encrid beserta kelompoknya.
Dunia di sekeliling berubah legam.
Langit melenyap dan tersisa kegelapan pekat, namun indra mereka yang terasah tajam membuat mereka mampu meraba posisi rekan bertarung dengan sangat presisi.
Encrid sepenuhnya mengandalkan indranya.
Empat orang lainnya pun melakukan hal serupa.
Tak akan ada ceceran serangan yang salah sasaran hingga menebas punggung kawan.
Kecuali jika ada yang sengaja melakukannya.
Cakar roh mengayun turun.
Makhluk itu juga menjulurkan lidahnya yang panjang di antara jemarinya yang meruncing.
Ujung lidah itu tajam bagaikan mata tombak.
Bentuk roh yang cukup unik.
Kapak Rem melesat dan menebasnya hingga putus.
Mata kapak yang menyapu secara diagonal membelah kepala makhluk itu hingga miring.
Melihat kepala yang terpisah itu, Encrid mencabut gladius miliknya lalu menepis tangan roh lainnya.
Buk!
Sensasinya mirip menghantam lumpur pekat, bukan logam tebal.
Sebagian daging tangan yang tersambar gladius terkoyak parah.
Tak ada gunanya melepaskan serangan susulan.
Saat Encrid berputar ke samping, pedang Ragna sudah bergerak membantai.
Encrid melupakan alasan untuk berpikir.
Ia hanya terus memacu langkah ke depan.
Kelima orang itu menyatu menjadi satu entitas, membelah gelombang roh yang menghadang.
Di antara mereka, Rem dan Audin-lah yang paling kelelahan.
Satu orang menjadi fondasi penopang, sementara satu lagi menjaga keseimbangan di tengah.
Kelima orang ini—seberapa pun mereka saling membenci—telah bertarung bagaikan orang-orang gila.
Frekuensi pertukaran jurus di antara mereka sudah tak terhitung banyaknya.
Ujung dari tiap perselisihan mereka selalu berakhir dengan duel dan bentrokan fisik, yang justru membuat mereka hafal luar kepala ritme serta kebiasaan masing-masing.
Ini adalah pertempuran yang pasti menelan kekalahan jika mereka tak mampu menangkap ritme bertarung kawan—makanya bukankah mereka semua sudah mengerahkan kemampuan terbaik demi menyesuaikan diri?
Koordinasi kelima orang ini berlangsung luar biasa alami.
Meski baru pertama kali memperagakan formasi ini, penyatuan pergerakan mereka tak ubahnya ordo ksatria yang telah berlatih bersama selama puluhan tahun.
* * *
Krang melihatnya, begitu pula Marcus.
Pell dan Aisha juga dicengkeram oleh perasaan buruk yang mendalam.
Siapa pun akan dihinggapi keder hebat saat menyaksikan kawanan roh hitam, jelaga maut, dan awan kelam yang menutupi seisi langit.
Terlebih lagi, mereka menyaksikan sendiri bagaimana gelombang roh menelan Encrid dan kelompoknya.
Encrid dan Peleton Madmen miliknya bakal tewas.
Setidaknya, begitulah kelihatannya dari luar.
“Itu sihir! Efeknya tak bakal bertahan lama!” teriak Aisha keras-keras, mencoba menjaga ketenangannya.
Ucapan itu sekaligus ditujukan untuk menenangkan hatinya sendiri.
Bagaimanapun, ia adalah seorang Apprentice Knight dari Knights.
Meski tak menguasai mantra, ia punya pengalaman panjang bertarung melawan penyihir.
Ia memaksa pikirannya tetap dingin dan kembali menganalisis.
Berapa lama mantra berskala masif seperti ini bisa dipertahankan?
Tak mungkin bisa bertahan lama.
Dugaannya memang tepat.
Namun, meski mantra itu hanya bertahan selama sebatang lilin menyala, kedua belah pihak bakal menderita kehancuran total, dan prajurit yang dirasuki roh kemungkinan besar akan berubah menjadi wujud yang tak lagi menyerupai manusia.
Aisha belum menyadari sejauh itu.
“Kita harus menerobos dan meloloskan diri!” serunya.
Krang masih menatap nanar ke titik tempat Encrid melenyap ditelan kegelapan.
Apakah dia benar-benar tewas?
“Sialan, Yang Mulia!” umpat Marcus keras.
Medan perang sudah benar-benar gila.
Sang Count pasti sudah dirasuki iblis atau semacamnya.
Bahkan bagi seorang penyihir sekalipun, apakah hal edan seperti ini masuk akal?
Apakah seharusnya ia memanggil Knights sejak awal?
Pell menggenggam erat hulu pedang Idol Slayer miliknya.
‘Haruskah aku menerjang ke dalam?’ batinnya seraya mengamati gelombang roh.
Rasanya mungkin saja.
Tidak. Untuk saat ini, bertahan adalah jawaban terbaik.
Kawanan roh ini sudah lebih dari cukup untuk menggulung kelompok Encrid hingga tak bersisa.
Pell sempat menebas satu atau dua ekor, namun roh-roh yang merangsek ini ternyata kebal terhadap efek khusus Idol Slayer.
Jika begitu, ia harus menebas mereka satu demi satu untuk memukul mundur barisan musuh.
Aisha juga memerintahkan para pengawalnya membentuk barisan melingkar.
Lalu, ia melangkah maju ke garis depan.
Ia menyapu pedang ke kiri, memutar tubuhnya, lalu menusuk tajam ke kanan.
Hanya dengan dua gerakan, dua ekor roh tewas seketika.
Tanpa sempat melirik wujud yang menyemburkan kabut hitam itu, Aisha melakukan salto ke belakang.
Itu bukan manuver yang biasa dilakukan seseorang dengan zirah besi utuh, tetapi karena ia hanya mengenakan zirah parsial pelindung dada, Aisha sanggup mengeksekusi salto akrobatik tersebut.
Usai menghindar dengan lincah...
Brak!
Seekor roh melompat dan menghantam telak posisi yang baru saja ditinggalkan Aisha.
Tanpa sempat menarik napas lega, Aisha menghantamkan sikunya ke samping, menyasar prajurit roh yang merayap mendekat tanpa terdeteksi.
Buk!
Sensasinya mirip menghantam bongkahan batu tebal.
Tubuh roh itu ternyata tidak selunak yang dibayangkan.
Begitu benturan terjadi, Aisha memanfaatkan momentumnya untuk menghantamkan pedangnya ke bawah ke arah berlawanan.
Tebasan vertikal yang terisi tenaga itu membelah roh lainnya.
Sensasi pening mendadak menyerang kepala Aisha.
‘Sampai kapan aku sanggup bertahan seperti ini?’
Jika ini pertarungan mengulur waktu, apakah bertahan adalah pilihan tepat?
Jika kelompok Krang masih sanggup bertahan...
Prajurit biasa tidak seberuntung itu.
“Tolong aku!”
“Uwaaaah!”
Prajurit roh yang berwujud fisik merangsek membantai prajurit biasa yang tak terpengaruh sihir.
Jika dilihat dari ketangkasan murni, pergerakan roh-roh itu tak terlalu mengesankan, namun masalah utamanya terletak pada jumlah mereka yang tak terbatas.
Jumlah mereka seolah tak ada habisnya.
Mereka terus menerjang tanpa henti.
Prajurit roh tak kenal rasa takut maupun gentar.
Namun, krisis kerap melahirkan kesempatan.
Di tengah kekacauan medan perang, sosok-sosok yang layak disebut pahlawan mulai bermunculan.
Mereka adalah orang-orang yang menunjukkan ketangguhan nyata di tengah bahaya.
Komandan veteran yang berpengalaman ada di antara mereka.
Prajurit muda berdarah panas yang berani pun ikut ambil bagian.
Mereka mengumpulkan rekan-rekan terdekat lalu membendung gempuran musuh bersama-sama.
Tetapi berapa lama mereka harus bertahan?
Berapa lama lagi mereka harus bertahan hidup untuk lolos dari maut?
Tirai keputusasaan kian pekat melingkupi.
Awan hitam yang menutupi mentari seolah meramalkan nasib esok hari:
Bahwa mereka bakal ditangkap dan dibantai oleh roh-roh maut, atau dicabik-cabik dan ditusuk hingga tewas oleh prajurit roh.
* * *
Di dalam kegelapan pekat, Encrid melupakan dirinya, melupakan situasi di sekelilingnya, dan hanya terus mengayunkan pedangnya lagi dan lagi.
‘Ini sungguh berat.’
Kondisinya cukup menyiksa hingga membuat Encrid merapalkan keluhan itu dalam hati.
Namun, ini bukan sesuatu yang tak sanggup ia tanggung.
Seiring waktu berjalan, ia mulai menemukan ritme dan celahnya.
Alih-alih menguras tenaga dengan tebasan kasar, ia menghemat tenaganya lalu menepis serangan musuh dengan puntiran pedang yang lincah.
Rem dengan sigap menutup setiap kekurangan.
Jika itu pun masih belum cukup, Ragna melangkah maju mengisi celah.
Selama pertempuran berlangsung, mereka sesekali terdesak mundur dua atau tiga langkah, namun pada akhirnya mereka tetap merangsek maju.
Jika terdesak mundur dua langkah, mereka membalas dengan melangkah tiga langkah ke depan.
Jika mundur tiga langkah, mereka menerjang empat langkah ke depan.
Kontribusi Rem dalam mengomandoi formasi di posisi tengah adalah yang paling krusial.
Alih-alih menghindar saat cakar roh menyambar turun, Encrid menyambut benturan itu dengan bilah pedangnya lalu membiarkannya tergelincir miring.
Ia menebas beruntun saat menangkis.
Secara normal, roh tidak bisa ditebas oleh logam biasa, namun keberadaan wujud fisik ini justru membawa kelemahan fatal:
Mereka bisa dibunuh menggunakan pedang biasa.
Encrid mengulang pergerakan menusuk dan menebas, bertahan dan terus bertahan.
Sekelilingnya hanya dipenuhi wujud serhitam jelaga.
Jelaga legam, gelombang prajurit roh, kegelapan pekat, bentukan hitam yang menyergap dari segala penjuru, serta cakar-cakar yang sarat niat membunuh.
Dunia di sekelilingnya dipenuhi hal-hal mengerikan semacam itu.
Namun...
“Ah...”
Sebuah desah kepuasan justru terlepas dari celah bibirnya.
Ia merasa begitu puas karena bisa terus mengayunkan pedangnya tanpa henti.
“Kamu sudah gila?!”
Suara Rem menggelegar menembus kebisingan pertempuran.
Rupanya ia sempat melirik raut wajah Encrid.
Tertawa di tengah situasi gila seperti ini?!
Lantaran mereka terus bertarung tanpa pernah berhenti menerjang ke depan, kegelapan yang mengepung perlahan-lahan mulai menyibak.
Encrid menyapu pedangnya sekali lagi ke udara kosong lalu menghentikan pergerakannya.
Tak ada lagi roh di depannya.
Bukan berarti mereka melenyap total.
Di belakang mereka, jasad prajurit roh yang tak terhitung jumlahnya bergelimpangan memenuhi tanah, menyemburkan kabut hitam bagaikan darah.
Barulah saat itu Encrid menyadari bahwa mereka telah menembus jantung dari sepuluh ribu pasukan roh. Ia mendongakkan kepalanya.
Di sana, duduk di atas kursi keabuan yang legam, tampak sosok sang Count.
Sang Count menatap Encrid dengan mata terbelalak lebar.
Sesosok pria yang baru saja melewati pertempuran maha dahsyat itu kini menatapnya dengan pandangan tenang dan teduh.
Encrid hanya mengawasinya sembari mengatur napasnya yang terengah.
Sebaliknya, tatapan sang Count yang tadinya menanti penuh percaya diri kini diwarnai kebingungan mendalam.
Saat menyaksikan kejadian yang melampaui nalar, reaksi manusia pada umumnya akan selalu sama.
“Bagaimana... bisa?”
Sang Count pun tak berbeda.
Sebab, sebuah keajaiban yang tak sanggup dicerna oleh akal sehatnya baru saja terjadi di depan matanya sendiri.











