Bab 431: Dua Hari Seharusnya Cukup
Audin mengamati rongga batin dirinya lalu memeriksa deretan sumpah taboo yang bertengger di fisiknya.
Tak lama kemudian, gambaran rantai-rantai emas yang mengikat erat sekujur fisiknya muncul kasat mata di rongga pikiran.
Lantaran ia telah mengerahkan sedikit keajaiban divine power, kain-kain tipis yang menutupi rantai-rantai tersebut berkesan kusam dan sirna, namun rantai-rantai itu sendiri murni tetap bertahan.
Rantai-rantai itu adalah sumpah taboo yang ditancapkannya pada dirinya sendiri, sementara kain-kain yang menutupinya adalah sumpah taboo yang ditancapkan oleh orang lain.
Sewaktu ia memeriksa sumpah taboo tersebut untuk kali pertama usai sekian lama, memori-memori masa lalu membanjir meluap.
Itu adalah momen-momen yang sengaja diabaikannya di masa lalu:
“Membela seorang heretic, kamu membatin bahwa hal itu adalah tugas dari seorang Inkuisitor?!”
Pertama adalah seorang uskup terkorup yang berteriak murka penuh kemarahan:
“Aku menganugerahkan posisi krusial padamu murni lantaran kamu memercayai Sang Dewa Perang! Hah!”
Deretan kata dari pendeta lain pun melintas di benak:
“apa yang akan kamu lakukan?”
Terdapat pula sosok manusia yang mengajarinya dan membimbingnya hingga melangkah ke titik ini.
Sosok itu adalah mantan Paus—pria yang tak sanggup melihat namun dikisahkan sanggup mengintip masa depan umat manusia.
Ia telah menanggalkan tahtanya tepat sepuluh hari usai bertahta menjadi Paus.
“Lokasi ini bukanlah tempat berteduh bagiku, wahai para saudara dan saudariku.”
Usai mendepak kewenangannya ke samping, ia secara terselubung membisikkan kata padanya:
“Aku melakukannya lantaran aku merasakan bahwa aku tak akan hidup lama jika menetap di takhta tersebut.”
Itu adalah pemicu yang teramat tidak masuk di akal, namun ia menambahkan bahwa itu adalah konklusi yang dipetik usai meramal masa depannya sendiri.
Memori-memori tersebut tersimpul dan saling menjalin, namun bagaimanapun Audin tak bisa secara gampang membuka mulutnya untuk menyahuti pertanyaan dari pria yang mempertontonkan kasih sayang ke-bapa-an padanya—lantaran ia tak mengantongi sanak saudara sedarah.
Insiden itu berlangsung tepat usai ia menjadi seorang pendosa lantaran gagal mengemban tugas kewajiban seorang Inkuisitor:
“Apakah kamu tak mengetahui apa hal yang wajib kamu eksekusi?”
“Ya, saya telah kehilangan jalan saya,” tutur Audin seraya berlutut.
“Murni terdapat satu lokasi bagi seorang gembala yang telah kehilangan jalannya.”
Mantan Paus—pria yang bertindak menyerupai seorang ayah baginya—berkata kata menggunakan intonasi tegas:
“Saya mutlak wajib meluncur menuju ke tempat di jurang maut abyss, yang dipeluk oleh kegelapan pekat,” sahut Audin ulang.
Eksistensi yang mengadili dosa adalah sang dewa timbangan yang memimpin atas sang surya dan sang rembulan.
Jika seseorang melakukan dosa, mereka bakal meluncur ke sisi Sang Dewa Perang lalu diadili olehnya.
Karena itulah, mereka yang dihukum oleh Sang Dewa Perang mutlak dikurung di penjara jurang maut abyss.
Itu adalah bagian dari dogmatika doktrin.
Itu pun merupakan bagian ayat yang tertulis di dalam Kitab Suci.
Audin mengabdi pada Sang Dewa Perang, dan sang mantan Paus mengabdi pada dewa yang mengusung dua paras wajah.
Salah satu dari dua paras itu adalah sipir penjara yang dirancang oleh Dewa sekaligus dewa cinta kasih, sementara paras lainnya adalah dewa penghakiman—yang menyimbolkan pendar keagungan dan cahaya suci.
Tertulis di dalam Kitab Suci bahwa meski kedua sifat keilahian itu terkesan bertolak belakang secara mutlak, mereka pada dasarnya adalah satu dan serupa.
Terdapat sesosok dewa yang turun meluncur ke dalam penjara bawah tanah jurang maut abyss yang amat dalam demi menganugerahkan cinta kasih murni.
Ia berusaha menerangi permukaan bumi dengan meninggalkan binar cahaya yang terkandung di dalam fisiknya di atas tanah.
Dengan demikian, satu paras dewa menjadi sipir penjara bawah tanah—menyimbolkan kegelapan pekat dan cinta kasih—merangkul para pendosa.
Paras lainnya menjadi eksistensi yang menghukum para pendosa menggunakan pendar keagungan dan cahaya suci.
“Kamu adalah seorang manusia yang ditakdirkan untuk mengayunkan binar cahaya keagungan.”
Dibimbing oleh deretan kata tersebut, Audin menjadi seorang manusia yang menghukum para heretic.
Lantaran Sang Dewa Perang telah menganugerahinya raga fisik yang amat luar biasa hebat!
Sewaktu masa pengabdiannya sebagai seorang biarawan, Audin seketika berpindah menjadi seorang pendeta beladiri.
Secara alami Audin memang amat luar biasa bahkan sewaktu ia berstatus sebagai pendeta beladiri.
“Kamu bakal menjadi eksistensi pertama yang sanggup menyelami ilmu tempur gaya Balaph sedalam ini dan mendapat pencerahan!”
Bakat alaminya yang amat luar biasa seketika menuntunnya meraih keajaiban divine power.
binar cahaya keagungan dan cahaya suci turun menyapu fisiknya melalui dewa pertarungan dan peperangan.
“Ini adalah sebuah keajaiban!”
Tak seorang pun yang menahan kata-kata pujian semacam itu.
Semua orang memberkatinya!
Sewaktu berlatih mengusung target menjadi seorang Holy Knight, Audin diangkat menjadi seorang Inkuisitor.
“Berdoalah di sana, dan tempalah fisik serta benak pikiranmu di sana!”
Demikianlah deretan kata yang meluncur tak lain dari seorang uskup agung.
Sang uskup agung—yang mengusung sepasang mata miring tidak biasa dan penampilan yang amat kusam vulgar—menitahkan Audin untuk menjadi seorang hakim yang bakal menghukum para heretic.
Audin melakukannya.
Sebagai seorang Inkuisitor, ia memutuskan untuk menghukum orang-orang menggunakan binar cahaya keagungan dan cahaya suci.
Kemudian di dalam alur pelaksanaan tugasnya, ia menghukum putra terselubung dari seorang uskup pendosa lalu mengakhiri nyawanya!
Ia sedang berada di tengah-tengah mengurus beberapa urusan pekerjaan lainnya setelah insiden tersebut.
Di sebuah kota kecil yang dikunjunginya di bawah instruksi uskup, Audin menyimpan rasa ketidakpercayaan mendalam.
Seseorang yang dituduh sebagai heretic nekat membakar raga tubuhnya sendiri demi membuktikan ketidakbersalahannya!
Menyaksikan pria itu membakar fisiknya sendiri, Audin secara naluriah merasakan bahwa insiden ini sama sekali tidak benar.
Lantas apa hal yang keliru?! Diriku—yang memercayai Dewa?!
Ataukah biara yang sudah membusuk?! Sang uskup agung yang mabuk oleh takhta kekuasaan?! Sosok yang mendepak posisi takhta Paus seraya mengklaim telah mengintip masa depan?!
Ataukah jika bukan hal itu... ‘Apakah aku wajib memandangnya sebagai kesalahan Dewa yang menganugerahkan daya kekuatan pada sosok yang amat miskin seperti diriku?’
hal itu tak mungkin benar.
Murni sekadar lantaran ia telah gagal memahami kehendak Sang Bapa.
Ia mulai melanglang buana.
Iman kepercayaannya goyah hebat!
Fondasi yang merancang eksistensi Audin retak dan hancur berkeping-keping dari batu penjurunya.
Impian miliknya untuk menjadi seorang Holy Knight—demi berdiri di barisan terdepan dan menumpas habis kejahatan, mengirim para demon pada Sang Bapa dan meremukkan kebusukan—telah hancur berantakan.
Menara yang dibangun dari pilar iman kepercayaan runtuh persis seperti itu!
“Jika kamu enggan menghukum menggunakan pendar keagungan, meluncurlah ke dalam kegelapan pekat lalu sembunyikan dirimu!”
Mengikut deretan kata dari pria yang dipandangnya sebagai seorang ayah—jujur saja, murni dilandasi oleh desakan kehendak untuk tidak melakukan apa pun—Audin menancapkan sumpah taboo pada dirinya sendiri.
Seolah-olah hal itu masih belum cukup, beberapa sosok lainnya yang menggunakan keajaiban divine power menyematkan beberapa sumpah taboo tambahan di fisik raga Audin.
“Saya memohon maaf, Kawan,” tutur seorang saudara di tempat itu yang tadinya bakal sudi mencurahkan nyawa baginya.
“Kenapa kamu melakukannya?!” desik seorang saudari yang hingga kemarin masih tertawa bersamanya namun kini menatapnya dipenuhi kebencian.
Audin menerima sumpah taboo tersebut tanpa ada sebutir pun kata pembelaan diri lalu melangkah meninggalkan biara, menanggalkan posisinya.
Dalam jalannya keluar, deretan kata Sang Bapa Uskup murni masih segar bersarang di memorinya:
“Di hari sewaktu jalanmu berubah jernih, kamu bakal melangkah maju atas kehendak dirimu sendiri.”
“Apakah itu adalah sebuah ramalan nubuat?” tanya Audin.
“Ramalan nubuat? Mari kujawab sejujurnya: aku tak sanggup melakukan hal-hal sejenis ramalan. Itu adalah tebakan, sebuah prediksi. Jika aku menjadi Paus dari sebuah biara tempat lebih banyak orang yang membenciku ketimbang mengikutiku, teramat kasat mata bahwa seseorang bakal nekat membantaiku!”
Itu adalah pengakuan sejujurnya dari Sang Bapa Uskup.
“Aku tak sanggup mengetahui seisi benak hati seseorang, namun aku telah mengawasimu hingga saat ini, jadi aku mengetahui cuplikan dari dirimu. Jika jauh lebih nyaman bagimu untuk memandangnya sebagai ramalan, itu pun tidak masalah. Aku murni berkata hal yang kuketahui: Di hari kamu melangkah maju atas kehendak dirimu sendiri, Dewa bakal memetik perisai Paling kokoh demi melindungi anak-anak-Nya!”
Disertai deretan kata tersebut, Sang Bapa Uskup memalingkan badannya.
Setengah tahun kemudian, ia dituduh sebagai heretic lalu dirajam batu hingga tewas!
Satu-satunya keajaiban divine power yang dimilikinya murni sihir penyembuhan sepele.
Audin mendengarkan kabar ini setengah tahun kemudian.
Tepat usai mendengarkan berita tersebut, Audin tak sanggup meredam gejolak amarahnya yang mendidih!
Ia berkehendak berlari ke biara seketika itu juga lalu membantai mereka semua!
Namun ia tak bisa melancarkannya.
Tindakan itu bakal menyerupai mencabut akar terakhir yang tersisa, membakarnya, lalu menyiramnya menggunakan air demi memusnahkan abunya sekalipun!
Lagipula, hal itu tak akan pernah menjadi hal yang dihasratkan oleh Sang Bapa Uskup.
‘Sang Bapa... Apakah saya mutlak wajib tewas secara damai semacam ini?!’
Ia menyadari bahwa ia berada di tempat ini lantaran ia telah membantai putra terselubung milik sang uskup.
Ia menyadari ia berada di tempat ini lantaran meski ia menjadi seorang Inkuisitor, ia enggan menghukum para heretic yang ditunjuk oleh biara.
Audin menyadari segalanya!
Namun ia tak melancarkan tindakan.
Ia tak mampu.
Sepasang tangannya murni sekadar tangan demi menghantam dan meremukkan!
Lokasi tempat ia berlabuh usai melanglang buana semacam itu adalah kompi peleton perusuh.
Di masa sewaktu ia telah menyerah atas segala hal, ia menyaksikan sosok manusia yang tak pernah menyerah atas apa pun!
Pria itu bertarung melawan para ksatria di jajaran Knights dan selamat bertahan hidup, meraih kemenangan perang, memimpin perang saudara menuju kemenangan, dan tak pernah terhenti bahkan sewaktu berhadapan melawan sesosok demon!
Ia memicu Sang Raja dari Timur mendatangi dirinya secara langsung!
Audin merenung.
Apakah ia tak sanggup untuk 'tidak menyerah' tanpa harus melepaskan sumpah taboo?
Audin mencoba mengarungi impian yang sama persis sekali lagi:
menjadi perisai dan pedang pendar keagungan yang menumpas habis kejahatan—sebilah tinju yang bertindak menggantikan Dewa!
Ia berkehendak menuntaskan tugas kewajiban yang dianugerahkan padanya sekali lagi dan melangkah di jalan yang membentang di hadapannya, namun masih terdapat masalah yang belum tuntas.
Ia telah bersumpah untuk mempertahankan sumpah taboo dan tak bisa merusak sumpah tersebut secara asal-asalan.
Lagipula tak ada seorang pun saat ini di biara yang bakal menyetujui dirinya melepaskan sumpah taboo.
Masa lalu—yang tersimpul dan menjalin—pada akhirnya tiba pada pertanyaan yang terus-menerus dilayangkan pada batin dirinya sendiri.
Legion: sebuah biara di sudut kota suci.
Ia tak mengantongi kedua orang tua sedari lahir.
“apa yang menjadi pemicu aku terlahir ke dunia?”
Audin melayangkan pertanyaan tersebut secara tak terhitung kali.
Untuk apa raga fisik yang berukuran raksasa tanpa guna ini?!
hal serupa berlaku sewaktu ia meraih keajaiban divine power:
Demi membantai musuh-musuh biara yang disapa sebagai heretic?!
hal itu tak mungkin benar!
‘Aku bakal menjadi sebilah tinju yang menumpas habis kejahatan!’
Ia telah menjadikan hal itu sebagai target impian utamanya, namun terdapat kurun waktu sewaktu ia tak mampu menjadi sosok tersebut.
Ia melemparkan kurun waktu itu ke belakang tubuhnya.
Ia melupakan masa lalu sejenak lalu menatap menuju sang surya baru—menuju hari esok yang menyapa alih-alih hari ini yang telah berlalu:
“apa yang Anda suarakan bakal Anda eksekusi usai menjadi seorang ksatria di jajaran Knights?”
Audin melayangkan pertanyaan, dan Encrid menjawab:
“Sebuah medan tempur tempat anak-anak tak perlu bertaruh nyawa bertarung, para ksatria yang menancapkan jiwa ksatria, sebuah dunia yang mengagungkan kebenaran sejati... Aku berkehendak merancang hal-hal seperti itu!”
Ah... Audin menangis di hari sewaktu ia mendengarkan jawaban tersebut!
Ia menangis sewaktu berdoa di sudut terisolasi di belakang barak agar tak ada orang yang menyaksikannya.
Beberapa orang—termasuk Jaxon—menyaksikannya namun mengacuhkannya.
Ini bukanlah kali pertama Audin menangis sewaktu merapalkan doa.
Sewaktu ia sedang berdoa, Teresa melangkah mendekat.
Gadis itu menanti secara sabar hingga doa Audin merampung tuntas lalu berkata kata:
“Saya membatin fisik dan bakat alami milik saya terbilang tidak bermakna. Saya mencoba mempelajari lagu-lagu demi menenangkan benak hati saya, namun hal itu tidaklah gampang.”
“Kenapa Anda berusaha melangkah kian jauh?” tanya Audin.
“Sebab saya berkehendak mencoba melangkah di jalan yang saya yakini benar. Saya meyakini jalan tersebut berada di sisi pria itu. Di atas segalanya, saya dipenuhi oleh kehausan desakan demi melindungi posisi ini!”
“begitukah?”
“Ya, benar demikian. Saya berkehendak bersaing dengannya demi membuktikan diri saya sendiri dan menjadi bantuan di jalan yang diarungi pria tersebut!”
Menancapkan tekad kehendak seseorang lalu melakukannya: hal itu adalah binar cahaya paling agung yang dikantongi oleh seorang manusia!
Benda itu mungkin tidak bersifat suci, namun merupakan binar cahaya yang tak akan pernah pudar!
Audin—merapalkan ayat-ayat dari Kitab Suci—mengangguk paham:
“Saya mendengar Anda telah memilih beberapa anggota peleton. Kita bakal memulai latihan yang sesungguhnya secara bersama-sama!” tutur Audin.
Usai membagikan kecemasan benaknya, Teresa menyesalinya secara sekejap!
Sekadar dari mendengarkan kata 'latihan yang sesungguhnya', ia mengantongi firasat buruk:
Itu bakal menjadi jenis latihan yang sanggup memicu dikurung di penjara jurang maut abyss terkesan jauh lebih menyenangkan!
Insiden ini berlangsung sewaktu Audin mengikuti instruksi untuk memilih anggota peleton yang berfisik raksasa, tangguh, dan taat beragama demi membentuk satu unit.
Dan Audin menyadari bahwa salah satu sumpah taboo yang membelenggu benak pikirannya baru saja retak hancur:
‘Deretan kata dari biara bersifat mutlak, jadi jangan pernah membantahnya!’
Kalau begitu ia harus meluncur menuju ke biara lalu merombak kebenaran tersebut sedikit!
Lantaran ia terpaksa harus melepaskan sumpah taboo jika memang diperlukan.
Namun ia tak akan melepas sumpah taboo secara asal-asalan hingga ia menerima izin resmi.
hal itu dilandasi oleh iman kepercayaan yang digenggam erat oleh Audin!
Bahkan jika ia terancam tewas sekalipun, ia tetap tak akan melepas seisi sumpah taboo.
Ia murni bakal melepaskan sumpah taboo usai berkata pada biara mengenai apa hal yang benar!
Bahkan jika hal itu teramat menyiksa hingga ia bisa saja tewas, ia bakal melakukannya lewat cara tersebut.
Berkat impian yang diperlihatkan secara murni oleh satu orang manusia, alur hidup manusia lainnya telah berubah sepenuhnya!
* * *
Ragna tertidur lelap dan, begitu terbangun, seketika menyadari sebuah perombakan.
‘Hawa udara dingin...’
Hembusan napas yang ditarik dan dihembuskannya.
Dedaunan yang gugur melayang.
Debu yang berhamburan.
Segalanya berlipat-lipat kali jauh lebih jernih, seolah-olah ia sanggup menggapainya di telapak tangannya!
Jika ia mengulurkan tangannya saat ini, rasanya ia bahkan sanggup menyambar kapak milik pria barbar dungu yang duduk di lokasi amat jauh.
Pria itu berjarak hampir 20 langkah jauhnya, namun terasa amat dimungkinkan.
Ragna mengerahkan kehendaknya lalu mengepalkan tangannya di udara hampa.
Tentu saja, lantaran hal itu bukanlah kemampuan khusus ataupun sihir, tak ada cara bagi kapak yang jauh untuk mendadak mendarat di cengkeramannya.
Meski begitu, di saat yang sama persis sewaktu ia melancarkan gerakan mengulurkan tangan dan mengepal, Rem menggenggam gagang kapaknya secara amat erat!
Hal itu berlangsung hampir secara bersamaan!
Rem—yang melakukan pergerakan sebagai respons atas gestur Ragna—menatap pria gila pemalas tersebut lalu memaki:
“Wahai keparat gila, apakah kamu tak berniat enyah dari hadapanku?!”
Seolah-olah ia telah membaca hal yang didambakan oleh Ragna di rongga pikirannya!
Namun hal itu pun merupakan hal yang belum terwujud.
‘Ini tidak bekerja...’
Rasanya ia sanggup melakukan apa pun, namun terdapat begitu banyak hal yang tak bisa dilancarkannya.
Ia telah mendapat pencerahan dan melompati tembok rintangan, namun ada terlampau banyak hal yang wajib diurainya satu per satu.
Ragna mengingat kembali duel tanding antara Sang Raja dari Timur dan Encrid:
Pemandangan Encrid yang bertahan menahan kehebatan seorang ksatria di jajaran Knights tanpa ada langkah mundur walau se-langkah tunggal!
Sang raja telah menahan diri teramat banyak.
Itu tidak sepenuhnya merupakan duel tanding pengajaran, namun seolah-olah sang raja membantu musuhnya mencurahkan seisi daya kekuatannya!
Ragna sanggup menyaksikan seluruh hal tersebut.
Ia pun menyaksikan daya kekuatan yang mengalir dari senjata yang digenggam sang raja menumpuk di atas pedang Encrid.
Tidak, ia merasakannya!
‘Apakah aku sanggup mengumpulkan tekad kehendakku lalu memanifestasikannya di alam realita?’
Sebagai contoh, apakah ia sanggup membawa kapak Rem padanya, mengacuhkan jarak fisik?
‘Aku bisa!’
Meski begitu demi melakukannya, ia wajib mengayunkan sebutir langkah lalu memangkas jarak.
Ia murni gagal lantaran mencoba melakukannya murni dengan mengulurkan tangan, tanpa menggerakkan sepasang kakinya.
Ragna secara alami pun memahami prinsip dasar dari tekanan intimidasi pressure.
Itu bukanlah sesuatu yang sanggup dilancarkan murni dengan menatap tajam pada musuh menggunakan semangat bertarung dan niat membunuh.
Itu adalah memanifestasikan kehendak Will seseorang menjadi sebuah fenomena nyata!
Dengan kata lain: berbicara pada musuh melalui keajaiban Will!
Pedang di pinggangnya, tombak di punggungnya, garpu yang digunakannya untuk menyantap bistik...
Yakni demi memicu musuh menyadari bahwa ia sanggup membantai mereka menggunakan apa pun yang berada di tangannya!
‘Tidak, bahkan sekadar pinggiran telapak tanganku pun sanggup melakukannya...’
Kamu membayangkan sebuah pergerakan lalu menyampaikannya secara terselubung pada musuh.
Dengan melancarkan hal itu, naluri bertahan hidup mereka bakal mencengkeram sepasang tangan, kaki, dan jantung orang tersebut!
Demikianlah tekanan intimidasi pressure.
Ragna mendapati dirinya terduduk di ruang makan, bereksperimen menggunakan sebilah garpu.
pertama pada sosok Rem:
“Apakah keparat ini sudah gila?!” maki Rem menatap tajam dipenuhi amarah khas pria barbar.
“Kawan, tolong kendalikan diri Anda!” tegur Audin menggunakan ukiran senyum, namun urat darah kecil muncul di jidatnya.
Dunbakel melepaskan pekikan kaget lalu melangkah mundur ke belakang.
Teresa mengerutkan keningnya lalu secara hening merapalkan bagian dari Kitab Suci.
Di saat yang sama, ia secara terselubung menarik nampan makannya kian dekat, seolah berniat menggunakannya sebagai perisai!
Kawan bernama Ropode bertahan seraya gemetar hebat tepat di sampingnya.
Keringat dingin menetes di atas nampan makannya.
“Kamu bakal membantai bocah itu,” tegur kawan yang disapa sebagai Shepherds of the Wasteland.
Kawan tersebut secara terselubung menghunus pedangnya sedikit.
Mata pedang hitam terpapar kasat mata.
Itu adalah pedang yang disapa sebagai Idol Slayer.
Ragna pun sanggup menyaksikan sesuatu yang terukir di atas pedang tersebut:
Orang-orang berkata bahwa itu adalah pedang yang menggerogoti jiwa—sebilah pedang yang memotong kehendak Will yang dikantongi oleh sebuah eksistensi!
Ia sanggup merasakan kehadiran tertentu, namun ia tak bisa menilai secara presisi apa yang terkandung di dalamnya.
Demi mengetahuinya, ia wajib menggenggam dan mengayunkannya!
Setelahnya adalah sang pria bermata raksasa.
Krais—tanpa mengetahui apa pun—melayangkan pertanyaan apakah hawa udara hari ini terbilang sedikit dingin.
‘Jika ada mereka yang melepaskan reaksi secara peka...’
Maka terdapat pula mereka yang tidak demikian!
Apakah ia sanggup menggunakan hal ini demi mengukur ketangkasan atau potensi bakat alami?! Hal itu terkesan amat dimungkinkan!
Di luar sewaktu ia menyantap makanan dan tertidur lelap, Ragna mencurahkan seisi waktunya demi mengayunkan pedang!
Sang Raja dari Timur memang benar atas kata-kata yang diucapkannya sebelum pergi:
Ia harus menapak di jalan yang presisi saat ini juga.
Ia merasakan sensasi ke-Mahakuasa-an, seolah-olah ia sanggup melakukan apa pun, namun pada kenyataannya melakukan apa pun menuntut sebuah proses!
Apakah ia sanggup membelah pegunungan menggunakan sebilah pedang?
Tak ada sabetan pedang tunggal yang sanggup membelah pegunungan!
‘Namun aku sanggup membantai seorang penyihir yang berusaha menggunakan sihir demi membelah pegunungan tersebut!’
Ia membagi dan mengenali hal apa yang sanggup dan tidak sanggup dilancarkannya.
Demi tujuan tersebut, ia mengulang sesi latihan teknik dasarnya di tiap-tiap hari.
Ia menggerakkan fisiknya tanpa ada istirahat hingga basah kuyup oleh peluh keringat, yang berujung pada dirinya yang mendengkur di dalam tidur di malam hari.
Usai ia mengulang rutinitas yang sama persis selama beberapa hari, Encrid membuka lilitan perban yang membungkus erat sepasang tangannya lalu melayangkan pertanyaan:
“Kapan kamu bakal bersiap?”
Encrid sedang mengajak bertarung tempur!
Ragna mengamati dirinya sendiri selama sekejap lalu berkata kata:
“Dua hari seharusnya cukup.”
Tampaknya kurun waktu itu bakal mencukupi.
Saat ini mengendalikan daya kekuatannya sendiri pun terbilang sulit, namun dua hari bakal mencukupi!
Itu adalah sebutir bakat alami yang gila luar biasa.
Normalnya, bahkan usai melompati tembok rintangan dan menginjakkan kaki di tingkatan seorang ksatria di jajaran Knights, seseorang bakal membutuhkan waktu setidaknya tiga bulan—paling lambat enam bulan—demi menyelaraskan kembali fisiknya, namun tidak demikian bagi Ragna!
Bagi dirinya, kurun waktu dua minggu sekalipun terlampau lama!











