Bab 435: Danau Pengalaman
Usai mengarungi insiden terhenti di kebuntuan berulang kali di dalam alur hidupnya, Encrid sudah lama melupakan apa rasanya didera tidak sabar.
Ia murni sekadar mengeksekusinya.
Ia berlari, ia melompat, ia memanjat pegunungan!
Rua Garne menggunakan tiap-tiap sarana yang berada dalam jangkauannya.
Hal itu bermakna ia menggunakan apa pun dan siapa pun tanpa ada diskriminasi sedikit pun!
Encrid adalah salah satu dari mereka.
Tepat kemarin, Encrid berduel tanding melawan Dunbakel, Teresa, dan Ropode secara bersamaan!
Ia tadinya membatin bahwa mereka bertiga tak bakal menerima pertarungan tiga-lawan-satu demi mempertahankan kebanggaan mereka, namun ketiga pendekar tersebut menyanggupinya tanpa ada sekejap pun keraguan.
Rua Garne mengajari mereka sebutir formasi demi bertarung bersama tanpa saling menghambat alur pergerakan masing-masing!
Murni menggunakan hal itu saja, Encrid merasakan kesulitan demi meraih posisi unggul melawan ketiganya.
Taktik pertarungan mereka teramat licik dan penuh tipu daya!
Dunbakel menggunakan sepasang kaki lincah dan pergerakannya yang khas demi mengitarinya—melepaskan tusukan murni sewaktu menyaksikan celah—sementara Teresa secara gigih mendorong perisainya dari depan.
Teresa sudah merupakan musuh yang licik, namun tekniknya demi mengaburkan pandangan mata Encrid telah berubah kian presisi, dan tingkatan ketangkasannya secara keseluruhan telah melesat naik.
Di samping kedua pendekar tersebut, Ropode mengayunkan pedangnya mengusung kejujuran yang kokoh.
Itu bukanlah teknik Aliran Heavy Sword.
Itu adalah metode mengayunkan pedang berlandaskan pada kalkulasi berbagai pergerakan taktis!
Sebagai contoh, Ropode terkkadang mengayunkan pedangnya bukan ke arah depan Encrid, melainkan meluncur ke udara hampa!
Sewaktu tak ada lokasi lain bagi Encrid demi mengelak, ia terkadang harus secara sengaja menepis pedang tersebut hingga terlempar.
Hal itu secara alami bakal merancang sebutir celah, dan pedang scimitar milik Dunbakel bakal terbang meluncur masuk!
Encrid kembali menangkap cuplikan potensi bakat alami Ropode:
‘Pria itu mengkalkulasi pergerakannya seraya bertarung bersama dua orang lainnya?!’
Sebuah potensi bakat alami semacam ini bakal bersinar terang sewaktu mengomandoi kuantitas pasukan kecil.
Ropode pada kenyataannya memang sedang berada di tengah-tengah proses membangkitkan bakat alaminya:
Itu adalah kepekaan membaca alur pertempuran seolah-olah mengawasi dari atas angkasa!
Benda itu tak sekadar efektif di dalam taktik skala kecil semacam ini, melainkan sanggup digunakan pula di taktik pribadi.
hal tersebut sanggup disapa sebagai cara ortodoks dari Pedang Kebenaran.
Rua Garne sempat mengatakan tentang gertakan dan hambatan, namun Ropode secara setia mengayunkan pedangnya demi menyudutkan musuhnya.
‘Amat luar biasa hebat...’
Encrid mengakui potensi bakat alami Ropode.
Rua Garne telah mengakuinya sejak lama dan telah membangkitkannya murni menggunakan beberapa deretan kata nasihat!
Seseorang mungkin merasakan perbedaan drastis dari potensi bakat alami, namun Encrid tak menyematkan perhatian padanya.
Ia terlampau sibuk mengatur deru napas dari sesi latihannya di tiap hari hingga tak mengantongi waktu untuk hal lain!
Dunbakel pun telah melesatkan ketangkasannya secara signifikan, apa pun hal yang sedang dilancarkannya.
Gadis itu memperagakan teknik membantai yang mengerahkan sekujur fisiknya, menggunakan dua pedang scimitar, kuku tangannya, dan bahkan kuku kakinya!
Tebasan-tebasan yang meluncur melesat dari alam naluri murni.
Cakar-cakar yang memanjang selaras dengan pemikiran!
hal itu terbilang amat kacau, namun sama sulitnya untuk ditangkis.
Bagaimanapun, hari kemarin dihabiskannya murni untuk bertahan menahan gempuran ketiga pendekar tersebut.
Dan pada hari ini, jenis tantangan yang bertolak belakang meluncur menyapanya.
“Apakah kamu pernah bertarung melawan seorang penyihir?”
Sebelum ia sanggup menyahuti pertanyaan Rua Garne, seorang wanita mengusung rambut lurus memanjang—berpakaian murni jubah tipis—muncul dari belakang sang Frokk.
Eksistensi itu tentu saja adalah Esther!
“Apakah hal tersebut krusial demi melesatkan seni olah pedang milikku?” tanya Encrid balik.
Encrid merenung sejenak lalu mengatakan: “Mungkin saja.”
Jujur saja ia tak mengantongi gambaran presisi, namun ia yakin bakal ada hal yang sanggup dipetiknya.
Jadikan semua hal di dunia—segalanya yang sanggup disaksikannya—sebagai seorang guru adalah keahlian khusus Paling luar biasa milik Encrid!
Esther pun tak melayangkan penolakan.
Gadis itu mengedipkan sepasang matanya yang raksasa beberapa kali, menyisir rambutnya menggunakan sebelah tangan, lalu mengangkat tangan lainnya seraya mengatakan: “Kalau begitu, mari kita eksekusi. Scythe of Dmulere!”
Disertai katat-katanya, ia merenggangkan ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengahnya dalam gestur tangan yang terkesan tak bermakna apa pun.
Di detik yang sama persis, Encrid menghunus pedang Aker lalu mengayunkannya!
Trang!
Sebilah mata pedang udara terkompresi yang terbang di udara hampa hancur berkeping-keping sewaktu berbenturan melawan tebasan pedang Encrid.
Encrid merasakan tolak balik samar di kedua lengannya.
Itu menyerupai menangkis tebasan penuh tenaga dari seorang prajurit mengusung lengan bawah tebal!
Ia bisa saja didera kebingungan, namun Encrid seketika membalikkan pergerakannya lalu menerjang maju begitu ia menangkis gempuran tersebut.
Ia menghentakkan kakinya ke tanah, fisiknya menyisakan bayangan sisa.
Itu adalah kecepatan yang bakal amat sulit ditangkap oleh sepasang mata siapa pun di luar seorang ksatria di jajaran Knights!
“Waspadailah ular itu,” tegur vokal suara Esther memotong celah lalu menusuk masuk ke telinganya.
Tidak, itu adalah vokal suara yang bergema di seisi rongga kepalanya!
Rasanya seolah-olah ia tak mengantongi pilihan di luar mendengarkannya.
Itu adalah sebuah hal aneh:
Bagaimana mungkin vokal suara seseorang sanggup mengiang secara se-jelas itu di telinganya sewaktu ia terfokus murni untuk menerjang maju?!
Bersamaan dengan hal tersebut, Encrid menyaksikan ilusi pedang Aker di tangannya menjadi seekor ular lalu melilit lengannya, namun ilusi tersebut sirna dalam sekejap mata.
Hal itu berkat keajaiban Will of rejection miliknya yang aktif atas kehendaknya sendiri!
Trang!
Pedang Encrid tertahan membendung di atas telapak tangan Esther yang terulur.
Itu adalah benteng pelindung barrier milik seorang penyihir.
Bagaimana cara meremukkannya?!
Ia sudah pernah mengarunginya sekali:
Sewaktu ia memenggal kepala sang count!
Ia harus mengangkat pedangnya secara vertikal lalu menyambarkannya jatuh ke bawah menggunakan sabetan Aliran Heavy Sword.
Ia menyematkan tekad kehendak untuk menebas di dalamnya.
Benda itu tidak sepenuhnya menyerupai Sambaran Halilintar Hitam milik Ragna, namun merupakan sabetan gempuran yang serupa dengan halilintar!
“Gempuran ini bakal tertahan,” tutur Esther seraya tanpa henti menggerakkan kedua tangannya, merombak wujud-wujudnya.
Sewaktu gadis itu merancang beberapa wujud di udara hampa menggunakan kedua tangannya, benteng-benteng pelindung barrier saling bertumpuk di atas kepalanya, menyambar pedang Encrid!
“Loita’s Sticky Spiderweb!”
Jika ada seorang penyihir melintas yang menyaksikannya, mereka pasti bakal terperanjat horor:
Beberapa detik lalu, Esther telah memanifestasikan sihir terlebih dahulu baru kemudian merapalkan mantra incantation!
Ini adalah sebuah teknik yang disapa sebagai post-chanting—sesuatu yang sebagian besar penyihir bahkan tak akan berani coba menirunya!
Pada konklusinya, Encrid terdesak terdorong mundur tanpa daya oleh Esther.
Pepatah bahwa seorang penyihir yang bersiap siaga jauh lebih mengerikan dibanding seorang ksatria tidaklah diucapkan tanpa alasan pemicu:
Gadis itu membuktikannya!
Keajaiban sihir yang diperagakan oleh sang count berukuran raksasa dalam skala dan amat mengintimidasi.
Usai menerobos sepuluh ribu spirit ghaib, Encrid tadinya menilai bahwa ia bakal mengantongi keunggulan di dalam pertarungan melawan seorang penyihir.
Namun ia keliru.
Tentu saja Encrid sama sekali tak mengantongi gambaran betapa agungnya sosok penyihir bernama Esther tersebut!
Terutama sewaktu tiba pada pertarungan satu-lawan-satu, Esther adalah seorang genius yang tak bisa ditiru secara gampang oleh penyihir lain mana pun.
Bahkan penyihir bernama Galaph—yang mencengkeram alur sungai, yang pernah mereka temui di medan pertempuran yang disiapkan oleh Kerajaan Azpen—bakal mengapit ekornya lalu melarikan diri jika menyaksikan Esther di masa jayanya!
Esther sempat merasakan ancaman bahaya sebanyak tiga kali sewaktu bertarung melawan Encrid.
Bagi Encrid untuk sanggup mendesak seorang penyihir seperti dirinya hingga ke tingkatan tersebut terbilang amat mengagumkan, namun Encrid sama sekali tidak menyadarinya.
“Sekali lagi?” tanya Encrid.
Encrid murni bertindak persis seperti yang selalu dieksekusinya.
“Sebanyak apa pun yang kamu kehendaki,” sahut Esther mengangguk menyanggupi.
Jika musuhnya menginginkannya, ia bakal menganugerahkannya.
Gadis itu tak melangkah mundur, dan pada hari itu, lengan kiri Encrid patah retak, dan rambutnya hangus terbakar, memaksanya demi memotongnya menjadi pendek kencang.
“Gaya rambut itu pun berkesan amat tampan,” tutur Rua Garne yang mengantongi sepasang mata peka estetika, amat menyukai gaya rambut pendek Encrid.
Encrid tidak mengukir kemajuan dramatis melalui seisi proses ini.
Meski begitu, ia telah memetik teramat banyak hal murni dengan merombak sudut pandang pandangan matanya:
“Sewaktu berhadapan melawan seorang penyihir, tindakan berbicara itu sendiri sudah menyerahkan pergerakan pertama pada musuhmu!”
Esther melayangkan nasihat padanya mengenai cara berhadapan melawan para penyihir.
Encrid mencamkan tiap-tiap kata ke dalam benak hatinya.
Menerima pengajaran dari seseorang, merenungkannya berulang kali, lalu mencernanya adalah hal yang dilancarkannya jauh lebih baik dibanding hal lainnya.
Dan demikianlah ia mengeksekusinya.
Esther mempertontonkan sebutir ukiran senyum.
Menyaksikannya, Encrid mengatakan: “Kamu tak boleh mengulas senyum secara asal-asalan pada orang lain.”
Sewaktu memikirkannya kembali, gadis itu adalah seorang wanita yang ukiran senyumnya sama langkanya seperti Shinar!
“Kenapa?” tanya Esther balik.
“Aku membatin kamu bakal menyadarinya jika kamu menatap ke dalam cermin. Bukankah kamu pernah mengatakan bakal mencungkil sepasang mata siapa pun yang mengintip dari balik jubah tipis milikmu?”
“Tidak, aku menyadarinya. Benda ini pun adalah sebilah senjata! Mereka yang terpesona oleh raut wajahku secara alami bakal melupakan sejenak bahwa aku adalah seorang penyihir.”
Di manakah awal mula dari taktik pertarungan bermula?!
Encrid memetik sebuah pencerahan kecil:
Bagaimana jika seseorang sanggup mengasah penampilannya demi menggoyahkan sepasang mata lawannya?! Itu adalah sebuah pernyataan yang selaras pula bersama prinsip-prinsip Ilmu Pedang Tentara Bayaran Gaya Vallen!
“Amat luar biasa hebat,” tutur Encrid.
“Raut wajahku memang selalu amat luar biasa hebat,” sahut Esther.
Esther menyambut deretan kata Encrid seraya ukiran senyumnya meluntur sirna.
Encrid tadinya sedang membicarakan mengenai taktik pertarungannya, bukan raut wajahnya, namun Encrid tak repot-repot memperjelasnya.
Jika seseorang melintas mendengarkan percakapan mereka, mereka pasti menilai perbincangan itu teramat kaku dingin, namun mereka berdua membatin bahwa mereka baru saja menggelar percakapan yang teramat ramah!
Esther mengakui bahwa dirinya—di suatu titik—telah menyatu bersatu ke dalam peleton ini.
“Bagaimana dengan prajurit tersebut?” tanya Encrid di akhir duel tanding mereka.
Ia sedang mempertanyakan mengenai prajurit yang diboyong Esther—yang disuarakan bakal diajarinya—yang sesekali dipanggilnya demi mengeksekusi sesuatu.
“Prajurit itu mengantongi bakat alami,” sahut Esther secara singkat.
Murni sekadar itu.
Encrid tak mempertanyakan lebih jauh.
Esther bukannya sedang berusaha membesarkan seorang murid:
Alasan pertama adalah demi menancapkan kembali ketangkasan miliknya sendiri seraya mencurahkan pengajaran;
Alasan kedua adalah lantaran teramat kasat mata jika dibiarkan terbengkalai, prajurit itu bakal mempelajari keajaiban sihir setengah matang lalu memicu masalah!
Bukankah terbilang jauh lebih baik mengarahkannya ke jalan yang jauh lebih membantu?! Itu adalah pemikiran berpikiran terbuka yang menyeruak dari secara konstan mengamati apa yang dieksekusi oleh pria bernama Encrid tersebut.
Apakah seorang penyihir mutlak harus berpikiran sempit?!
‘Tidak lagi...’
Esther mengakuinya.
Kehidupannya dulunya adalah kurungan, riset, dan perjuangan, namun ia telah mempelajari teramat banyak hal murni dengan menempatkan orang-orang di sekelilingnya dan mengawasi mereka!
Tidak, bagi dirinya secara pribadi, hal itu menjadi bantuan yang jauh lebih raksasa.
“Benar, murni jangan membantaimu,” tutur Encrid lantaran desas-desus tanpa fondasi sempat berhembus bahwa Esther menggunakan prajurit sebagai bahan tumbal ritual.
“Jika ia tewas lantaran nasib buruk di tengah prosesnya, hal itu tak bisa dihindari,” sahut Esther yang mengetahui betapa mengerikannya jalan keajaiban sihir.
Encrid membaca bahwa tak ada niat jahat di dalam deretan kata Esther lalu mengangguk paham.
Gadis itu kemungkinan besar memang tidak secara nyata berencana menggunakannya sebagai tumbal ritual.
Tentu saja beberapa prajurit yang menyaksikan karakter-karakter terukir di fisik raga teman mereka usai diseret oleh Esther memang merancang ketakutan di dalam pikiran mereka sendiri.
Namun jika benak pikiran mereka sedemikian lemah hingga hancur murni akibat hal sepele semacam itu, mereka bakal hancur secara sama hampanya di medan tempur.
Encrid berkehendak membesarkan prajurit-prajurit yang perkasa!
Jika demikian, mereka harus sanggup melompati desas-desus sepele semacam itu.
Dengan demikian, berduel tanding melawan seorang penyihir ditambahkan ke dalam rutinitas harian Encrid!
“apa yang akan kamu lakukan jika musuhmu menggunakan gertakan dan hambatan?”
Rua Garne mulai membagikan pengalamannya dari seisi proses ini:
Itu adalah pengalaman seorang Frokk—yang telah mengeksplorasi pertarungan dan pertempuran selama lebih dari seratus tahun—memburu the unknown di dalamnya!
“Gertakan dan hambatan tidaklah mencakup segalanya, namun jika kamu sanggup mengeksekusinya, tak ada teknik Illusion Sword yang jauh lebih unggul!”
“hal itu sanggup dihancurkan secara gampang menggunakan pedang lurus ke depan,” sahut Encrid.
“Anda murni harus memasukkan pedang lurus dan berat milik musuh ke dalam kalkulasi Anda! Wahai Saudara, bakal jauh lebih luar biasa jika Anda sanggup meluncur melintasinya, mencengkeramnya, lalu meremukkannya!” tambah Audin.
-Gertakan dan hambatan pun sanggup dilancarkan menggunakan sepasang mata Anda. Jika musuh bersifat peka, Anda sanggup melancarkannya murni menggunakan tekad kehendak Will Anda!
Opini Ragna segera menyatu ke dalam pengajaran Rua Garne, Audin pun mencurahkan masukan, dan bahkan Jaxon—yang mengklaim teramat sibuk—bakal meninggalkan catatan tertulis!
Rem—secara mengejutkan—tidak sering melangkah maju.
Dari Rua Garne, Encrid mempelajari pengalaman;
Dari deretan kata pendekar lainnya, ia mempelajari cara demi melompati pengalaman tersebut;
Lebih jauh lagi menggunakan fisiknya, ia mengeksekusinya secara berulang kali!
“Dulu halnya terbilang membosankan, namun saat ini menjadi sedikit lebih baik,” tutur Ragna.
Di antara seisi proses ini, terdapat pula pujian dari Ragna yang tidak sepenuhnya terdengar menyerupai pujian!
Encrid di masa lalu—sosok yang tak sanggup mengeksekusi hal secara presisi bahkan sewaktu diajari—sudah tidak ada lagi.
Seolah-olah membuktikan bahwa ia tidak menempa fisiknya menggunakan Technique of Isolation tanpa ada hasil pemicu, fisiknya berubah kian kokoh padat dibanding kapan pun!
Murni dari menyaksikan bagaimana ia berdiri tegap diluruskan dari sepasang kakinya, membagikan bobot beratnya secara merata di kedua kaki, seseorang sanggup menyaksikan kepekaan keseimbangannya yang melesat naik.
Pada konklusinya, ia telah menjadi seorang Apprentice Knight yang sanggup bertahan menahan Sambaran Halilintar Hitam sekalipun!
Rua Garne tidak berniat memicu seluruh hal ini berlangsung, namun kurun waktu, pengalaman, dan latihan yang disajikannya menjadi bantuan yang amat raksasa bagi Encrid.
Ketangkasannya tidak melesat secara dramatis seketika itu juga, namun sudut pandang pandangan matanya melebar seiring proses belajar.
Jangkauan pemikirannya pun berubah.
Hal ini tentu saja memberikan pengaruh pula pada orang-orang lainnya:
Ropode secara khusus melompati tembok rintangan tertentu sewaktu menerima pengajaran Rua Garne!
Ia adalah seorang pria yang terlahir mengusung potensi bakat alami semacam itu sejak awal:
Ia tak bisa menyaksikan satu langkah di depan, namun mempertontonkan bakat alami demi menyudutkan musuhnya ke dalam jebakan menggunakan pedangnya!
Terdapat pepatah tua di seantero benua:
Apakah paling baik memproyeksikan satu pergerakan di depan?!
Ataukah paling baik memicu satu pergerakan itu pun berlangsung di dalam batas niatan seseorang?!
Itu adalah pepatah mengenai dua alur arah dalam menggunakan Pedang Kebenaran.
Ropode mengantongi potensi bakat alami untuk mengikuti alur kedua secara setia.
“Tidak buruk,” tutur Encrid di tengah duel tanding mereka, dan Ropode mengangguk mengusung raut wajah puas.
Itu adalah pengakuan dari sosok yang memang dikehendakinya demi memberikan pengakuan!
Bagaimana mungkin ia tidak merasa bahagia?!
Meski begitu Ropode mempertontonkan kepuasan sebelum kegembiraan dan kebahagiaan ekstrem.
Lantaran bangsa Frokk menikmati mengamati manusia, ia menyukai manusia tampan jelita, dan menyukai manusia karismatik bermakna ia amat gemilang dalam membaca ekspresi raut wajah mereka:
Rua Garne menyaksikan kepuasan di raut wajah Ropode.
Sebuah kepuasan yang teramat mutlak utuh!
Ia menyadari secara segar kembali bahwa perbedaan Paling raksasa antara pria bernama Encrid tersebut dan orang-orang lainnya adalah hal seperti itu:
Encrid tak pernah mengenal kata puas di tiap-tiap momen!
‘Sekali lagi...’
Bukankah itu adalah kalimat yang paling sering diucapkannya selama latihan?! Ia mungkin menikmati momen dan basah kuyup oleh kebahagiaan ekstrem, namun ia tak akan pernah merasa puas!
‘Apakah ia bakal merasa puas lalu terhenti sewaktu menjadi seorang ksatria di jajaran Knights?’
Sama sekali tak ada peluang!
Rua Garne mengenal dunia para ksatria di jajaran Knights.
Bahkan di internal dunia tersebut terdapat berbagai variasi bertingkat.
Lihat saja sosok Ragna:
‘Di antara para ksatria, ia murni masih berada pada tingkatan awal mula...’
Tentu saja ia jauh lebih unggul dibanding seorang ksatria yang rusak hancur.
Keunggulan potensi bakat alami?! Sewaktu seseorang menginjakkan kaki menjadi seorang ksatria di jajaran Knights, potensi bakat alami bahkan tak lagi layak untuk didiskusikan!
Teramat menggelikan untuk bahkan membandingkan potensi bakat alami di antara mereka yang telah menggapai tingkatan ksatria!
Mereka seluruhnya adalah eksistensi individu yang bagi mereka kata 'genius' bahkan tidaklah mencukupkan.
Mulai dari titik tersebut, hal-hal seperti kerja keras, alur arah tujuan, pencerahan, dan kualitas keajaiban Will tingkat tinggi bakal jauh lebih krusial dibanding potensi bakat alami!
Dunia para ksatria pun terbilang teramat luas.
Rua Garne mengetahuinya:
Sekadar para ksatria di Kerajaan Naurilia saja sudah menjadi buktinya!
‘Dan bagaimana dengan ksatria di negara wilayah barat?!’
Dan bagaimana pula dengan Sang Raja Tentara Bayaran, Anu?!
Tiap-tiap dari mereka adalah sebuah malapetaka bencana raksasa!
Ragna telah melesat membumbung ke tingkatan yang serupa, dan sang gadis Elf pun terkesan berada di sana, namun mereka tetap mengantongi kekurangan-kekurangan mereka.
menjadi seorang ksatria di jajaran Knights bukanlah ujung akhir, melainkan awal mula!
Mayoritas Apprentice Knight yang gagal melompati tembok rintangan demi menjadi ksatria mengalami hal tersebut lantaran mereka tidak menyadari hal ini.
Setidaknya demikianlah penilaian Rua Garne—sang pencari kebenaran sejati.
Daya kekuatan seorang ksatria di jajaran Knights adalah sebutir fatamorgana yang tak akan sanggup digapai jika seseorang berlari menuju ke arahnya seraya memandangnya sebagai destinasi pamungkas.
Dalam aspek tersebut, ia tidak merasa cemas atas Encrid:
Pria itu—sebongkah kehausan dan kerakusan—terkesan sama sekali tak mengantongi niat untuk pernah terhenti!
‘Betapa memprihatinkannya potensi bakat alaminya...’
hal itu muncul hingga ke titik tempat pemikiran semacam itu melintas secara alami:
Bagaimana jika pria itu dikaruniai potensi bakat alami yang amat luar biasa?! Bagaimana jika ia mengantongi setidaknya tingkatan bakat alami yang melampaui batas normal?! Ia tak harus disapa sebagai seorang genius:
Murni sebatas itu saja?!
‘Jika bukan hal itu... bagaimana jika ia dianugerahi kurun waktu yang jauh lebih panjang dibanding orang lain?!’
Sebagai contoh, bagaimana jika satu hari tunggal bagi orang lain adalah satu minggu utuh bagi dirinya?!
Itu adalah sebuah khayalan gila yang tidak berguna.
Teramat dungu untuk bertahan pada hal-hal yang tak akan pernah berlangsung, dan pada hal-hal yang tak mungkin terjadi!
Jauh lebih dungu lagi untuk mengeksekusinya seraya menatap pada sosok Encrid:
Disertai seorang pria yang membentang tepat di hadapan matanya yang bakal mengayunkan pedangnya walau sekali di dalam kurun waktu yang dihabiskan demi merasa cemas!
Rua Garne meyakini pria tersebut bakal menjadi seorang ksatria di jajaran Knights!
Itu adalah sebuah keyakinan tanpa ada alasan pemicu apa pun.











