Eternally Regressing Knight

Bab 464: Ia Berbicara, Menghalangi Gerbang Benteng

2576 Kata

Bab 464: Ia Berbicara, Menghalangi Gerbang Benteng

Ksatria Magang berambut pirang pendek secara perlahan menurunkan lengan bajunya atas keberadaan yang dirasakannya di dekat pintu.

Segera, mata pisau tipis yang tersembunyi di dalam pergelangan tangannya berada di dalam genggamannya.

Bukan karena ia merasakan sebuah ancaman.

Itu adalah sebuah kebiasaan.

Dengan sekelumit rasa kewaspadaan, Ksatria Magang tersebut bertanya.

"Apakah kau punya sesuatu untuk dikatakan?"

Sang barbarian dari Barat, rekan Encrid, Rem, sedang bersandar di ambang pintu.

Ia mengarahkan pandangannya ke seberang.

Matanya tidak mengkhianati emosi khusus apa pun.

Rem membuka mulutnya dengan nada suara yang tenang.

"Di mana kau mempelajari seni racun itu?"

Itu adalah pertanyaan yang mendadak, tapi Ksatria Magang tersebut paham secara instan.

Pikirannya mencapai Barat, sang barbarian, dan seseorang yang pernah diselamatkannya.

Ia juga tahu bahwa seni racun yang digunakannya tidak biasa.

Racun tidak terdiri dari satu jenis tunggal.

Jaxon, sebagai contoh, menggunakan racun-racun yang diekstrak dari tumbuhan, hewan, dan mineral.

Ia menggunakan racun sintesis yang diciptakan dengan mengombinasikan arsenik, belladonna, jamur beracun, dan racun-racun tak terhitung jumlahnya.

Apa yang digunakan Ksatria Magang berambut pirang pendek tidak seperti itu.

Itu adalah racun yang dibuat menggunakan ilmu sihir.

Proses penyulingannya mirip, dan cara pengunaannya juga mirip.

Rem bergumam di dalam hati.

*'Metode pembuatannya sepenuhnya berbeda.'*

Bakal jadi hal yang mustahil untuk menggunakannya tanpa pernah mempelajarinya dari seseorang.

Terlebih lagi, itu adalah metode yang diketahuinya.

Ksatria Magang berambut pirang berpikir bahwa pria di depannya tak punya niat jahat, dan ia juga mengingat pencapaian-pencapaian yang diperlihatkannya di medan perang.

Itu bukan untuk Oara, tidak pula untuk kota, tapi sangat jelas ia telah membawa bantuan.

Terlebih lagi, racun terkutuk yang digunakannya bahkan bukan keahlian utamanya.

Dengan kata lain, ia berpikir apa yang ditanyakan orang lain bukanlah sebuah rahasia khusus.

"Aku kebetulan menyelamatkan seseorang yang terluka, dan aku mempelajarinya saat itu," jawab Ksatria Magang berambut pirang secara tenang.

"Apakah kau menyelamatkan nyawanya?"

"Mungkin saja? Kurasa dia orang yang agak aneh. Sangat adil untuk bilang bahwa sikap percaya dirinya, meski baru saja nyaris tak selamat, sangat berkesan."

Pria pirang itu berbicara, meretas kembali ingatan-ingatannya di masa itu.

Rem mengingat seseorang dari ingatan-ingatannya sendiri.

Jika itu teman yang satu itu, ia pasti sudah menyemburkan omong kosong aneh gara-gara rasa malu bahkan setelah diselamatkan.

"Begitu ya. Aku mengerti."

Selama hal itu tidak menyebar melalui cara-cara yang tidak pantas, maka tak apa-apa.

Ia tahu hal itu kecil kemungkinan terjadi bagaimanapun juga.

Itu sekadar perasaan ingin mengonfirmasi.

Sekarang setelah ia datang ke sini dan bertanya, Rem merasa ia secara jelas memahami kenapa ia telah datang.

Melihat jejak tempat ia pernah tinggal bahkan di sini, terasa seperti sebuah pertanda bahwa ini benar-benar saatnya untuk kembali.

Ia juga telah menyelesaikan apa yang dijuluki sebagai pembersihan, sebuah tindakan untuk menepis kesialan sebelum sebuah usaha besar.

Pertarungan ini adalah hal tersebut.

Ia harus bertarung dengan separuh nyawanya dipertaruhkan.

*'Jujur saja, itu lebih dari separuh.'*

Tulang rusuknya masih terasa sakit.

Memar di bagian samping tubuhnya belum memudar, membuat berjalan terasa tidak nyaman.

Tak punya tujuan lain, Rem memutar tubuhnya, dan saat ia berbalik pergi, pria pirang itu berbicara.

"Terima kasih."

Kesungguhan di dalam kata-kata tersebut membuat Rem membuka mulutnya.

"Pria yang satu itu. Dia tersenyum cerah bahkan saat dia pergi."

Atas kata-kata tersebut, pria pirang itu juga tersenyum.

Bakal ada hari-hari di mana air mata mengalir, tapi mulai sekarang, ia bakal hidup tersenyum sebanyak mungkin.

Sebab hal itu bakal jadi tekad Oara.

***

Setelah meninggalkan rumah pria pirang tersebut, Rem mendongak menatap langit.

Cahaya matahari menimpa secara terik.

Itu bukan cahaya yang hangat, melainkan cahaya yang berat tidak menyenangkan.

Udara, yang tadinya kelihatan meringan untuk sekejap, telah menjadi berat kembali.

Itu adalah jenis cahaya matahari yang berbeda dari Barat.

Lembap dan basah meski kemarin telah turun hujan.

Di hari seperti ini, seseorang bakal merasa tidak menyenangkan bahkan tanpa bergerak, tapi ia melihat semua orang bergerak tanpa keluhan.

Rem berjalan menembus kota, menjadi seorang penonton, dan melihat sekelilingnya sekali.

Semua orang sangat amat tekun.

Saat ia mencapai penginapannya dengan pemikiran tersebut, ia melihat bajingan paling tekun di sekujur kota.

Mulut Rem terbuka dengan sendirinya.

"Astaga, apa yang kau lakukan dengan tanganmu gemetar hebat seperti itu?"

Encrid bisa terlihat memegang pedangnya, mengayunkannya dengan sangat amat lambat.

Usaha untuk mengendalikan setiap serat otot kasat mata terlihat.

Itu adalah metode latihan yang utamanya digunakan saat mengunyah dan menggali ke dalam setiap pergerakan.

Rem pernah mencobanya beberapa kali, tapi itu tidak sangat menarik.

Ia tidak merasakan kebutuhan untuk melakkukannya pula.

Sebagai contoh, bahkan setelah menonton pertarungan Oara, Rem tidak merasakan kebutuhan untuk mempelajari apa pun darinya.

Apa yang ada untuk dipelajari dari sebuah pertarungan yang sudah jelas?

Tapi hal itu takkan sama bagi Encrid.

Ia harus secara menyeluruh mengunyah dan menelan segalanya yang dipelajarinya dan didapatnya darinya.

Rem mengetahui hal ini, tapi hasrat untuk menegurnya menyerupai sebuah insting.

"Merenungkan."

Tentu saja Encrid tidak berubah hanya karena mendengar ucapan teguran.

Ia sekadar membalas secara acuh tak acuh dan mengulang apa yang sedang dilakukannya.

Di depannya, sang Frokk bisa terlihat berdiri dengan tangan bersilang.

"Kau harus menawarkan rasa terima kasih pada orang yang membuat tubuh itu," ujar Rua Garne.

Setelah mengamatinya sepanjang waktu ini, Rua Garne melihat bahwa salah satu pondasi yang menyusun Encrid saat ini adalah tubuhnya.

Ia pun telah melihat Encrid meragakan ulang tebasan ksatria.

Otot-ototnya bisa saja meletup, dan ia bisa saja ambruk, menyerahkan tubuhnya pada kekosongan akibat penggunaan Will yang berlebihan.

Namun tubuh Encrid telah bertahan.

Itulah apa yang sangat aneh.

Lantas bagaimana dengan konsumsi Will?

Kekosongan yang datang setelah mengosongkan tekad seseorang?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu juga melintas di benaknya.

*'Kutukan kekosongan tidak bekerja.'*

Kutukan kekosongan merujuk pada kondisi kehilangan motivasi akibat menggunakan tekad secara berlebihan.

Meski menggunakan kekuatan yang melebihi wadahnya, Encrid tidak jatuh ke dalam kutukan kekosongan apa pun.

Itu adalah kondisi tak punya apa-apa lagi yang tersisa untuk dibakar, yang juga dijuluki kelelahan atau *burnout*.

*'Normalnya, ambruk bakal jadi standar.'*

Bukankah bahkan Roman, yang terbiasa meragakan ulang tebasan tersebut, terengah-engah dan ambruk di tanah?

Setelah meremukkan monster laba-laba berkaki dua dengan pemukul greatsword-nya yang buas, ia telah berhenti, sepenuhnya tanpa pertahanan.

Jika Aisha tidak mengerahkan keberanian besarnya untuk memblokir jalan di depannya, Roman pun bakal menempati satu tempat di pemakaman yang diadakan siang ini.

Namun Encrid baik-baik saja.

Ia cukup baik-baik saja untuk bangun dan mengayunkan pedangnya segera setelah beban di tubuhnya lenyap.

Bagaimana bisa hal itu tidak aneh?

Rua Garne berpikir bahwa tak ada hal yang bisa memantik ketarikannya lebih dibanding hal ini.

***

Waktu Encrid separuh dihabiskan mengayunkan pedangnya, separuh dalam meditasi.

Saat ini, ia membutuhkan meditasi, jadi ia duduk di atas tanah di depan penginapannya.

Bagi orang yang melintas, kelihatan seolah-olah ia sekadar menatap langit tanpa ada hal yang dilakukan.

Pandangan Encrid memang mengikuti awan-awan.

Awan-awan kumulus, menggumpal bersama, lebih tebal dari biasanya hari ini.

Di satu sisi, ada awan-awan kelabu rendah dan tebal yang kelihatan menyentuh tanah, membuatnya kelihatan seolah-olah bakal turun hujan di waktu siang.

Dengan pandangannya yang linglung di langit, pikiran Encrid melesat tanpa henti.

*'Bagaimana wanita itu menangkisnya?'*

Fragmen balrog merendahkan posisinya dan menerjang.

Sebuah pergerakan tak terduga, membidik di bawah lutut.

Jika itu dirinya, menghindar bakal jadi prioritas, tapi Oara memotong pergerakan lawan dengan melanjutkan ayunan pedangnya dari mahkota kepala balrog menukik ke bawah.

Bilah pedang jatuh lurus ke bawah, membidik untuk membelah kepala balrog, dan sang balrog, merasakan hal ini, kembali ke posisi awalnya.

Secepat ia menerjang.

Apa yang diperlihatkan oleh fragmen balrog sangat mengejutkan, tapi tebasan pedang Oara bahkan jauh lebih mengejutkan.

Bagaimana ia membuat tebasan itu?

Normalnya, ia takkan sanggup memahaminya, tapi kini ia samar-samar bisa melihatnya.

Pengalaman meniru tebasan ksatria berdasarkan tekad.

Pengalaman tersebut membawakan Encrid sebuah perspektif baru.

Dengan memecah pergerakan Oara, ia bisa memahami.

*'Sama seperti sebelumnya.'*

Menghubungkan titik ke titik melalui kaki adalah tebasan pedang.

Sebuah pedang yang bereaksi secara instan di momen apa pun.

Seperti meraihkkan tangan untuk memegang cangkir, lalu mengubah pikiran di tengah jalan dan menarik tangan kembali.

Itu adalah sebuah akselerasi dari jenis kecepatan reaksi semacam itu.

*'Seseorang hanya perlu bereaksi di momen tersebut tanpa menetapkan tujuan saat merentangkan tangan.'*

Ia melakukan tebasan menukik seperti yang dilakukannya dalam latihan, lalu memodifikasinya sesuai dengan pergerakan lawan.

Bisakah seseorang mengayunkan pedang dengan segenap kemampuannya saat bersiap seperti itu?

Oara telah melakkukannya.

Apakah hal itu memungkinkan atau tidak bukanlah hal yang penting.

Bukankah ia sudah melihat seseorang yang telah melakkukannya tepat di depannya?

Encrid sendiri tidak tahu, tapi itulah esensi sesungguhnya dari teknik yang dimiliki Oara.

Pedangnya tidak bergerak di sepanjang garis yang telah ditentukan sebelumnya.

Sebagai gantinya, pedang itu sekadar menandai titik paling efisien di momen tersebut lalu menggambar sebuah garis.

Itu adalah ilmu pedang yang membuat pertarungan-pertarungan taktis dari seorang maestro Righteous Sword menjadi tak bermakna.

menarik keluar yang mana pun dari Righteous, Heavy, Illusion, Swift, dan Flowing Swords yang dibutuhkan di momen yang diperlukan, itulah kuncinya.

Itu adalah ilmu pedang yang dimungkinkan oleh kemampuan fisik seorang Ksatria dan refleks tak masuk akal berdasarkan Will.

Dengan kata lain, itu adalah ilmu pedang yang hanya bisa digunakan oleh seorang Ksatria.

Ia telah menciptakannya setelah menjadi seorang Ksatria.

Hingga saat itu, Oara pasti telah mengalahkan lawan-lawannya murni menggunakan teknik-teknik dasar.

Dalam beberapa cara, itu mirip dengan teknik Rem.

Ia bisa agak memahami kenapa Rem bilang tak ada yang perlu dipelajari.

Pria itu sekadar menarik keluar hal-hal yang terpatri di tubuhnya di tingkatan insting.

***

Awan-awan memuntir dan bertautan, bergerak seperti pedang Oara.

Di depan mereka, Encrid mengayunkan pedangnya sendiri.

Awan-awan berubah kembali.

Awan-awan kelabu bertransformasi menjadi fragmen balrog, mengayunkan tongkat merah dengan lintasan dan sudut yang tidak bisa diprediksi.

Panas dari tongkat, yang hampir tak bisa dijuluki sebagai pedang, menggerus kulitnya.

Awan-awan berubah tanpa henti.

Pada titik tertentu, mereka menjadi pedang Ragna.

Kemudian kembali, mereka menjadi tombak yang menusuk dari Mercenary King dari Timur.

*'Pengalaman.'*

Mercenary King pernah berkata.

Itu adalah nasihat yang benar-benar luar biasa.

Encrid tahu apa yang harus dilakukannya.

"Untuk secara sempurna menguasai segalanya yang kumiliki."

Kata-kata itu keluar dari mulutnya seperti sebuah monolog.

"Apakah kau mengalami mimpi buruk?"

Ia pasti telah memejamkan matanya pada titik tertentu.

Saat ia membukanya kembali, ia melihat barbarian berambut kelabu dari Barat.

Itu adalah Rem, berdiri tiga langkah jauhknya.

Ia adalah seorang teman yang mandi dengan baik untuk ukuran seorang barbarian, dan juga seorang anggota peleton yang membelah kepala bangsawan yang tidak patuh dengan sebuah kapak.

Dan ia adalah orang yang telah berbicara soal Velopter, langit gelap, tempat meteor hitam jatuh, suku yang mengagungkan kekuatan melalui kanibalisme, sungai tanpa jalan kembali, asal-usul sihir, dan sebagainya, tapi dengan mudah meninggalkan ceritanya sendiri.

Ia telah secara sengaja tidak berbicara soal dirinya sendiri.

"Kau bilang kau mau pergi ke Barat? Kapan kau berangkat?" tanya Encrid.

"Jika aku pergi dalam kondisi seperti ini, aku mungkin tewas. Tidak, aku pasti tewas."

"Apakah kau membelah kepala seseorang di sana pula?"

"Bukan itu, yah, ada beberapa situasi."

Mendengar kata-kata Rem, Encrid mengangkat pandangannya.

Normalnya, ia takkan penasaran.

Tapi seperti yang dilihat Encrid sekarang, kelihatan seolah-olah Rem, si pembunuh kapak gila, telah memperlihatkan sesuatu yang mirip dengan rasa takut.

Rem yang itu?

Hal itu memantik rasa penasarannya.

Begitu besar hingga bahkan Rua Garne, yang tadinya mengunyah serangga di satu sisi, sedikit mengangkat kepalanya.

"Gurgle."

Ia menggerakkan pipinya.

Dalam istilah manusia, itu bakal jadi sesuatu seperti 'Oho'.

"Bisakah aku ikut?"

Bahkan Dunbakel memperlihatkan ketarikannya.

Itu adalah kata-kata dari sang beastman yang tadinya tenggelam dalam melatih tubuhnya dari belakang.

Itu adalah sebuah gambaran yang diciptakan oleh Rem, orang yang tak takut pada apa pun di dunia, memperlihatkan keraguan.

"Kalian semua kelihatan setengah gila. Aku tak paham kenapa kalian mau mengikutiku."

Rem memperlihatkan ekspresi ketidakpuasan.

"Mari kita lihat saja. Aku tak pernah ke Barat."

Encrid menancapkan paku penegas.

"Bukankah kau sibuk?"

Tak ada hal yang perlu disibukkan.

Selama Azpen tidak melakukan apa pun, Border Guard bakal aman.

Melihat Krang tak memberikan pemberitahuan apa pun, takkan ada masalah untuk saat ini.

Terlebih lagi, jika itu mendesak, akankah Krais diam saja?

Ia pasti sudah menangkap burung elang lalu mengutusnya.

Atau ia pasti sudah mengutus seseorang.

Tak ada kabar semacam itu.

Artinya mereka makan dengan baik dan hidup dengan baik.

Jika ada hal yang perlu dikhawatirkan, itu bakal jadi sesuatu seperti apa yang dikatakan teman itu, Squire Lug, sebelumnya, 'Aku penasaran apakah Lopode dipukuli hingga tewas oleh Ragna?'

Atau mungkin Pell, sang Shepherd of the Wasteland, dipukuli gara-gara berulah?

Tak ada kekhawatiran lainnya.

Ragna kini memiliki kekuatan bertarung seorang Ksatria.

*'Bukankah tak apa-apa baginya untuk tersesat sedikit sekarang?'*

Bahkan jika ia tersesat dan menyeberangi perbatasan Azpen saat ini juga, orang yang perlu khawatir adalah Azpen, bukan Ragna.

"Aku tidak sibuk."

Setelah mencapai kesimpulan tersebut dan berkata demikian...

"Apakah aku pernah bilang bakal kembali setelah pergi ke Barat? Kurasa tidak."

Suaranya terdengar hampir seperti sebuah ancaman.

Sebuah pesan untuk mundur secara tenang jika mereka ingin ia kembali.

Kata-kata tersebut memancing semangat bertarung Encrid.

"Aku cuma bakal mampir."

*Aku perlu melihat apa yang disembunyikannya.*

Ia berbicara, menyembunyikan pikiran batinnya.

"Tuan, apakah kau benar-benar bakal mengikutiku?"

Rem, yang kelihatan mulai murka, segera menggelengkan kepalanya.

"Lakukan sesukamu."

Ia tidak menolak, melainkan menganggukkan kepalanya.

Dan begitu saja, Dunbakel dan Rua Garne juga berakhir pergi ke Barat.

Rombongan beristirahat selama tiga hari lagi, dan kini tubuh mereka baik-baik saja.

Hujan turun dua kali lagi selama waktu itu, tapi mungkin gara-gara pengaruh Oara membunuh inti tanah iblis, cuaca menjadi lebih cerah dibanding sebelumnya.

Langit tinggi dan harinya cerah tanpa awan.

Cahaya matahari setajam biasanya.

Ksatria Oara tenang, tapi cahaya matahari Kota Oara terasa kasar dan ganas.

Encrid mengemas barang-barangnya lalu keluar.

Rem, Rua Garne, dan Dunbakel mengikuti di belakangnya.

Di perjalanan, Aisha bergabung dengan mereka.

"Kau berangkat?"

"Aku harus."

"Apakah kau sudah mengucapkan selamat tinggal?"

"Secara kasar, kemarin."

Ia telah mengunjungi Roman sewaktu malam dan memberitahunya bahwa ia akan pergi.

Tidak, sebenarnya ia berniat pergi dua hari lalu, tapi Roman secara gigih menghentikannya.

"Bertahanlah satu hari lagi lalu pergilah."

Tak ada alasan untuk menolak.

Masih tak ada keterburuan.

Itu juga bukan hari yang bagus untuk pergi, karena gerimis tipis sedang turun.

"Baiklah."

Setelah membalas demikian dan menghabiskan satu hari lagi, sekarang adalah pagi ini.

Setelah pemanasan dengan Technique of Isolation dan memeriksa perlengkapannya, ia mendapati ia tak punya Whistle Dagger.

Ia telah melemparkan semuanya selama pertarungan.

Ia telah mencoba mengumpulkannya kembali, tapi bilah-bilahnya rusak, membuatnya sulit digunakan kembali.

Bukankah bakal bagus untuk mendapatkan beberapa pisau belati yang lumayan dari suatu tempat?

Ia telah berpikir demikian, tapi untuk saat ini tak ada tempat untuk mendapatkannya.

Ia telah mengunjungi para pengrajin besi, tapi mereka semua telah menutup pintu mereka secara kompak.

"Ah, sudah kubilang aku tak punya apa pun untuk dijual. Aku tak punya apa pun untuk dijual padamu."

Kata-kata pengrajin yang keras kepala tersisa di pikirannya.

Kelihatan kurang seperti ia tak punya apa pun untuk dijual dan lebih seperti ia bilang ia tidak boleh menjual.

***

Di perjalanan keluar, Aisha secara mendadak berbicara.

"Aku sebenarnya sempat menyerah separuh."

"Soal apa?"

Oara menyamakan langkahnya dengan langkah cepat Encrid.

"Aku berpikir bakal cukup bagi saudaraku dan aku untuk hidup hanya dengan satu kali makan sehari. Tapi aku tak berpikir begitu lagi."

Apa yang dilepaskannya adalah tekad untuk melangkah ke depan.

Kini, Aisha bilang ia telah menemukan tekad dan semangat itu kembali.

Saat ia bertanya alasannya...

"Sebab aku melihat punggung Ksatria Oara," ujar Aisha.

Meninggalkan kota Ksatria Oara, Encrid berpikir secara baru.

Kematian wanita itu telah memengaruhi semua orang di medan perang.

Saat mereka mencapai gerbang benteng.

Roman berdiri menghalangi jalan mereka, greatsword-nya bersandar di bahunya.

"Aku masih tak bisa mengerti," ujarnyanya.

Tekadnya sangat jelas.

Tekad bahwa untuk saat ini, mereka takkan sanggup melintas melewati gerbang benteng di belakangnya.

Di belakangnya ada unit Milio dan Ksatria Magang berambut pirang pendek.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.