Bab 468: Ia Telah Berbicara, dan Rem Telah Mengikuti
Perjalanan, yang tadinya terasa seperti sebuah jalan-jalan santai menonton awan-awan melayang, telah selesai.
Kemunculan sang raksasa mengubah suasana.
Encrid menggeser arah bilah pedangnya dari sisi ke sisi, mengukur reaksi sang raksasa.
Lawannya tak terganggu.
Ia berpura-pura polos, mengedipkan matanya menyerupai seekor sapi.
"Apa yang kau lakukan, bermain dengan pedangmu?"
Sang raksasa memiringkan kepalanya seolah-olah ia adalah seorang bodoh.
Cara bicaranya juga menyeret.
Encrid tidak tertipu oleh miringnya kepala raksasa tersebut.
Lihatlah bajingan ini.
Bahkan saat berbicara, Encrid bisa melihatnya secara halus menggerakkan tangannya untuk meletakkannya di pinggulnya.
Itu adalah posisi yang bagus untuk memblokir pedangnya.
Kemudian, sang raksasa mulai mengayunkan pemukul di tangan kanannya menembus udara kosong.
Suara mendesing mengiringi angin dari pemukul saat menghantam wajahnya.
Angin pemicu atau bukan, tekanan dari pemukul membuat mata-matanya menyengat.
Encrid menyempitkan matanya untuk melindungi bola matanya dan memiliki dua pemikiran secara bersamaan.
*Jika benda itu menghantamku, itu takkan berakhir hanya dengan sebuah tulang yang patah.*
*Aku penasaran apakah itu bakal membantu bagi latihan Striking milikku?*
Pemikiran tersebut seketika muncul.
Ia menata ulang genggamannya pada pedang, mengarahkan ujungnya ke arah perut sang raksasa, lalu mengubah posisi kaki-kakinya.
"Mau bantuan?" tanya Dunbakel.
Kelihatannya kurang seperti ia secara murni ingin membantu dan lebih seperti ia ingin melampiaskan frustrasi dari dipukuli oleh Rem selama beberapa hari terakhir.
"Tak perlu," Encrid menolak.
Aura sang raksasa tidak biasa.
Itu juga aneh.
Dengan kata lain, ini adalah seorang lawan yang tidak ingin dilewatkannya.
Saat kemampuan Encrid meningkat, sebuah hasrat tertentu bakal membumbung pula.
Memang ada sebuah keriangan yang ditemukan di dalam pertarungan itu sendiri.
Tapi jika ia kehilangan dirinya di dalamnya, ia bakal menjadi sebuah mesin pembantaian.
Tentu saja hal itu takkan pernah terjadi pada Encrid.
Sebab ia punya sebuah impian.
Namun apakah ia perlu hidup dengan seluruh keriangan ini direnggut darinya?
Tak perlu dipertanyakan lagi.
Karena itulah ia takkan mengalah atau melepaskan lawannya.
Sepotong dari ekstasi yang dirasakannya saat bertarung melawan para ghoul tumbuh di dalam hatinya, membawakannya sesuatu yang mirip dengan keriangan.
Apakah sang lawan berbahaya?
Kemampuan disampingkan, dengan sebuah pemukul seperti itu, seorang ksatria magang atau siapa pun bakal mendapati sesuatu hancur remuk di momen mereka dihantam.
*'Jika aku tak sanggup mengalihkannya, aku mungkin tewas.'*
Bahaya selalu hadir dalam sebuah duel nyata, dan itulah apa yang membuatnya menyenangkan.
***
Rua Garne meletupkan cambuk yang dipegangnya secara santai.
Pandangan sang raksasa tidak bergerak.
Tapi Encrid tahu bajingan itu sudah melihat segalanya.
Sebuah peringatan dari intuisinya.
Ia berpura-pura bodoh, tapi ia tidak bodoh.
Berpura-pura tumpul sekadar sebuah taktik.
"Apa yang sedang kau tatap?" tanya Encrid, bertemu mata dengan sang raksasa.
Pandangan bertemu pandangan.
Mata-mata biru itu teguh dan jujur.
Mata-mata itu menyerupai permata dan bersinar seperti cahaya bintang.
Itu adalah mata-mata Encrid.
Mata-mata sang raksasa menyerupai pasir yang tumpul.
Menyerupai tumpukan tanah gersang.
Warna cokelat yang dalam.
Meskipun itu adalah mata-mata yang berpura-pura polos dan bodoh secara terus-menerus, mereka tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan kecerdasan yang dipegang di dalam.
Haruskah kujuluki mata-mata yang menyengat oleh kelicikan?
Bola mata sang raksasa bergulir beberapa kali.
Encrid mencoba mengintip ke dalam pikiran sang raksasa tapi gagal.
Ia tak bisa mengetahuinya.
Itu sangat alami.
Encrid tak punya kemampuan khusus untuk membaca pikiran orang lain.
Namun satu hal yang pasti.
Dia tidak bakal sekadar mundur.
Pemikiran tersebut terjadi secara bersamaan.
Sang raksasa menghentikan pemukul yang tadinya diayunkannya ke mana-mana.
"Apakah kau tidak takut?"
Suara sang raksasa menjadi beberapa kali lebih lembut dibanding sebelumnya.
Itu menyengat oleh sebuah usaha untuk membujuknya.
Bahkan kelihatan seolah-olah ia secara halus mengekspresikan rasa suka.
Ia adalah seorang raksasa yang benar-benar cerdik.
Untuk berpikir ia bakal mengubah nada suaranya untuk memicu kecerobohan pada lawannya.
"Tinggalkan satu dari kalian di belakang, dan aku bakal mengampuni sisanya," sang raksasa berkata lagi.
Tanpa sekadar menjilat bibirnya.
Sepanjang waktu sang raksasa berbicara, Encrid hanya menatap ke dalam matanya.
Dengan melakukan hal tersebut, ia merasa agak kasihan pada Krais.
*'Mirip, tapi berbeda.'*
Apa perbedaan terbesarnya?
Kehadiran atau ketiadaan kebohongan-kebohongan.
Mata-mata bajingan raksasa kelihatan menikmati mempermainkan dan menipu orang lain dengan kebohongan-kebohongan tak terhitung jumlahnya.
Sebuah aroma yang keji, kumuh, dan hina terpancar darinya.
Apakah itu kenikmatan sadis?
Rasanya seolah-olah ia bisa mencium sesuatu yang amis.
Pada kenyataannya, aroma yang menyengat memang datang dari sang raksasa, yang telah memakan daging manusia.
"Kau bakal melakukannya?" tanya Encrid balik, matanya yang menyempit kembali ke ukuran normal.
"Aku bakal melakukannya. Aku bersumpah atas namaku, Bannatur," ujar sang raksasa dari posisi berdiri yang terpaku.
Tak satu pun ujung jari bergerak.
"Aku mengerti," jawab Encrid serupa, posisinya tak tergoyahkan.
Keduanya seolah-olah mulut dan tubuh mereka bertindak secara terpisah.
Bahkan saat berbicara demikian, tak seorang pun dari mereka menurunkan kewaspadaan mereka.
Raksasa Bannatur tahu lawannya tidak tertipu.
"Apakah kau sedang mengejekku?"
Sang raksasa secara mendadak meraung dalam amarah lalu menyondongkan tubuh ke depan.
Ia sedang berpura-pura menerjang.
Menatap sang raksasa, Encrid teringat pada ilmu pedang tentara bayaran gaya Vallen.
Apa yang dilakukan sang raksasa persis seperti itu.
Metode penghinaan dan penipuan berbeda, tapi itu adalah sebuah taktik yang mengejar arah yang sama.
Itu sama seperti sekarang.
Ia berpura-pura menerjang, menendang lepas tanah diiringi ledakan, tapi kemudian berhenti di tengah jalan lalu secara tenang mengayunkan pemukulnya menukik ke bawah.
*Kwwaaaaang!*
Sebuah suara menyerupai ledakan merobek telinganya.
Meskipun itu adalah ayunan mencolok yang dipenuhi oleh kewaspadaan dan bukan kekuatan penuhnya, itu mengandung sebuah kekuatan monster yang merobek menembus udara.
Seekor raksasa tidak dijuluki raksasa tanpa alasan.
Bagaimanapun, sang monster tenang.
Encrid juga tenang.
Tak peduli apa yang dikatakan—soal memakannya, mengampuninya, atau apa pun lainnya—ia tenang.
Heart of the Beast.
Ketenangan yang diasah olehnya membawakannya ketenangan dan membiarkannya tidak melupakan kerapian posisinya.
Aker, yang tadinya terbidik ke depan, melesat ke atas secara diagonal.
Itu adalah momen pemukul dan pedang bertemu.
Bilah Aker bertemu pemukul, menciptakan sebuah sudut miring.
Seolah-olah mengetam kayu dengan alat ketam, ia mendorong pemukul dengan bilah Aker.
Duri-duri di permukaan pemukul cokelat gelap patah lepas diiringi serangkaian suara retakan.
Dalam kondisi tersebut, sang raksasa menggeser bobotnya ke kaki kanannya lalu menendang dengan kaki kirinya.
Tekanan angin dari tendangan mengubah duri-duri yang lepas terhantam bilah Aker menjadi proyektil-proyektil yang melayang ke arahnya.
Encrid secara halus memutar tubuhnya ke sisi samping, menghindar dari duri-duri.
Saat menghindar, ia mengoper Aker, yang tadinya mengetam pemukul, ke tangan kirinya lalu mengayunkannya menukik ke bawah ke arah tulang kering sang raksasa.
*Thwack!*
Bilah pedang menghantam sesuatu menyerupai balutan pelindung yang terbelit di sekitar tulang kering sang raksasa, tapi ia tidak merasakan sensasi daging yang terobek.
Meski begitu, sensasi memotong menembus sesuatu yang keras terasa jelas.
"Agh!" sang raksasa meletupkan jeritan.
Bahkan saat itu, Encrid hanya menatap mata sang raksasa, dan mata itu tetap tak berubah.
Tenang.
Menjerit, sang raksasa menusukkan tangannya ke depan.
Sebuah serangan saat berpura-pura dalam kesakitan.
Cara jari-jarinya terbentang, kelihatan ia percaya ia bisa meremukkan apa pun yang didapatkannya di tangannya.
Dan itu kemungkinan benar.
Kekuatan monster sang raksasa adalah sebuah senjata di dalam dirinya sendiri.
Raksasa adalah sebuah ras yang bisa meremukkan batu-batu dengan tangan mereka.
Ia telah melindungi tulang keringnya dengan meletakkan sesuatu di dalam balutan pelindung terbelit kain.
Kelihatan seperti balutan pelindung bulu di bagian luar, tapi itu bukan hal semacam itu sama sekali.
Dengan kata lain, sebuah trik.
Jeritan itu juga bukan dari kesakitan.
Ia berpura-pura terluka.
Trik lainnya.
Ia merentangkan tangannya yang kosong, bukan tangan yang memegang pemukul.
Niatnya untuk menyambar dan meremukkan sangat terasa.
*Biarkan aku menyambarmu, aku kehilangan akal sehat mencoba menangkapmu, dan sekali aku menangkapmu, aku bakal meremukkanmu!*
Niat ini jelas, tapi ini pun sebuah trik.
Encrid mempersepsikan seluruh situasi di momen-momen yang terputus lalu bereaksi secara instan.
Sang raksasa terkena hantaman di tulang kering, menjerit, lalu merentangkan tangan.
Di antara pergerakan-pergerakan tersebut, pemukul tanpa duri jatuh dari atas kepalanya diiringi suara mendesing.
Tak ada suara *Kwwaaaaang* seperti sebelumnya.
Itu ringkas dan cepat.
Jika sebelumnya ia secara sengaja mengayunkan pemukul untuk menangkap lebih banyak hambatan udara, kali ini ia telah memiringkan sudutnya.
*'Hoo.'*
Encrid meletupkan napas pendek dan secara sesaat menahannya.
*'Single Point Focus.'*
Sebuah waktu saat segala hal melambat.
Indra-indranya mempersepsikan segalanya di sekitarnya dan menginformasikannya soal situasi.
Dengan vitalitas mendidih di sekujur tubuhnya, berdasarkan Will miliknya, Encrid bergerak.
Tangan kanannya diluruskan, menyambar keluar menyerupai sebuah bilah pisau, sementara Aker di tangan kirinya merentang ke atas.
Pada saat yang sama, ia melangkah ke depan lalu menghentak punggung kaki sang raksasa.
*Thwack, krak, crunch!*
Tangan-bilahnya menghantam dan mematahkan pergelangan tangan sang raksasa, dan kakinya meremukkan tulang-tulang di punggung kaki sang raksasa.
Aker menembus menembus bagian tengah pemukul, membelahnya.
Serpihan-serpihan kayu dari pemukul yang retak jatuh di atas kepalanya.
"Kuaaaaaah!"
Baru pada saat itulah sang raksasa meletupkan jeritan nyata.
Ini adalah hal yang nyata.
Encrid menarik Aker yang menusuk lalu melangkah mundur.
Sang raksasa, tidak menyerah, menjatuhkan pemukul lalu mengayunkan kepalan tinjunya.
*Wuuussh!*
Pukulan, yang bakal jadi sebuah hantaman mematikan jika mendarat, memotong menembus udara kosong.
"Sialan."
Sang raksasa menjadi murka.
Ini juga nyata.
Encrid menatap air mata yang membendung di sudut mata sang raksasa.
Itu pun nyata.
Ia merasa puas.
***
Sementara Encrid mempermainkan satu raksasa, Rem membunuh dua lainnya.
Pertarungannya bukan pertarungan yang panjang.
Pada awalnya, mereka menguji kemampuan senjata satu sama lain dari jarak menengah, lalu Rem menutup jarak pada para raksasa.
Kedua raksasa, setelah kehilangan jarak mereka, melempar tangan dan kaki mereka, tapi Rem mengibaskannya menjauh, mendesak mereka mundur saat ia menciptakan mulut-mulut baru di perut mereka dengan kapaknya.
Salah satu dari mereka tewas, memuntahkan organ dalamnya dari luka robek, sementara yang lain bertahan dengan sebuah kapak tangan terbenam di kepalanya sebelum akhirnya tewas.
Darah keunguan menyembur berhamburan di atas tanah.
Melihat sang raksasa terus bertarung untuk waktu yang lumayan bahkan dengan sebuah kapak di kepalanya, vitalitas mereka benar-benar berada di tingkatan lain.
Tapi meski begitu, seseorang tak bisa hidup setelah memuntahkan seluruh organ dalamnya dan kepalanya terbelah sepenuhnya.
Ketiga raksasa tidak beruntung.
Untuk berpikir mereka bakal berpapasan dengan monster-monster seperti orang-orang ini.
"Kau ini sebenarnya apa?" tanya Rem, mendekat setelah pertarungan sengit.
Karena hanya raksasa yang pergelangan tangannya dipatahkan Encrid dan punggung kakinya diremukkan yang masih hidup, pertanyaan itu secara alami diarahkan padanya.
Sang monster mengedipkan mata.
Ia kelihatan sedang merenungkan pertanyaan Rem.
"Kenapa makhluk-makhluk seperti kau berada di sini? Kalian tidak tinggal di sini," Rem bertanya lagi.
Raksasa Bannatur mengedipkan matanya.
"Ugh, sakit. Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?"
Berpura-pura bodoh kembali.
Encrid bukan satu-satunya orang yang melihat menembusnya.
Rem tidak merepotkan diri dengan kata-kata.
Ia mengeluarkan sebuah pisau belati lalu memegangnya di bawah mata sang raksasa.
Rua Garne menggunakan cambuknya sebagai tali untuk mengikat kedua lengan sang raksasa.
Meski begitu, mendekat sedekat yang dilakukan Rem adalah sebuah tindakan berbahaya.
Tapi kembali, karena itu adalah Rem, itu tak apa-apa.
Ia bukan seseorang yang bakal jatuh pada omong kosong semacam itu.
Memang, bahkan saat berlutut, Rem membidik mata sang raksasa, yang masih sedikit lebih tinggi dibanding matanya, sembari menekan telapak kakinya ke paha sang raksasa.
Jika hal-hal memburuk, kaki itu bakal mematahkan tulang paha sang monster.
"Aku bakal mulai dengan bola mata, tapi apakah ada bagian lain yang kau lebih sukai? Aku bisa mulai dengan memotong buah zakarmu di tengah, tapi yah, itu adalah sesuatu yang akhirnya bakal kugapai bagaimanapun juga. Ah, aku bisa membiarkanmu hidup setidaknya untuk dua hari."
Jaxon kemungkinan adalah seorang maestro penyiksaan.
Ia telah memberikan impresi tersebut beberapa kali.
Lantas bagaimana dengan Rem?
Ia bakal melakukannya jika diperlukan.
Bahkan jika ia bukan seorang maestro, pengalamannya mengiris dan membunuh orang-orang tak terhitung jumlahnya bakal meningkatkan pemahamannya akan tubuh manusia.
Seekor raksasa bukan monster dengan empat jantung.
Mereka pun, pada akhirnya, berbentuk humanoid.
"Tunggu, jika aku berbicara, akankah kau membiarkanku hidup?"
Entah bagaimana Encrid menilai situasi ini tidak familiar.
Ia belum melihat banyak raksasa, tapi mereka tidak dijuluki *red-blood beast* tanpa alasan.
Sebuah ras yang terlahir demi pertempuran.
Sebuah insting bertarung gila yang tidak mundur bahkan saat mereka tahu mereka bakal kalah.
Itulah apa yang dimaksud seekor raksasa.
Itulah apa yang diketahuinya hingga saat ini.
Raksasa-raksasa yang sebenarnya dilihatnya di medan perang sewaktu hari-hari tentara bayarannya seperti tank-tank penyerang yang tak terhentikan.
Gambaran dari satu raksasa menerjang ke arah sebuah peleton bersenjata panah otomatis, bahkan saat berdarah di sekujur tubuhnya, masih segar di benaknya.
"Hahaha, lihat, kau hanya harus menerobos masuk!"
Raksasa gila telah mengejek orang lain saat secara sukses mengeksekusi taktik yang hanya sanggup dilakukannya.
Tentu saja persis seperti tidak semua manusia sama dan tidak semua Frokk sama, tidak semua raksasa bakal sama.
Tapi bukankah ini melintasi sebuah batas?
Menyerah hanya gara-gara satu tangan dan satu kaki patah?
Seekor raksasa?
Meskipun pergelangan tangannya terikat oleh cambuk, ia masih bisa melawan jika ia mau.
Tapi begitulah caranya bertindak.
Rem mendorong pisau belati lebih jauh di bawah mata sang raksasa.
Darah keunguan menetes keluar diiringi suara *pssh*.
Dalam kondisi tersebut, Rem berbicara.
"Aku bakal memberimu sebuah kematian yang bersih."
Ia tidak berbohong.
Itu sangat mirip seperti Rem.
"Kalian adalah manusia-manusia buruk," jawab sang raksasa.
Apakah mereka sejenis monster yang pikirannya bekerja tapi kemampuan bahasanya telah mengalami degenerasi?
Cara bicaranya masih menyeret.
Suaranya, yang bergema secara dalam seolah-olah berbicara dari sebuah gua, sulit dipahami jika ia bergumam sedikit saja.
Mendengarkan sekarang, itu benar.
"Sialan, mematahkan janji-janji, tanah bagus apa? Omong kosong."
Yah, ia mengutarakan sesuatu seperti itu.
Bahkan ini disimpulkan dari kata-kata sebelum dan sesudahnya; separuhnya sulit dipahami.
"Segala hal adalah sesuai dengan tekad Will Dewa."
Sang raksasa, yang secara mendadak mengutarakan hal tersebut, mencoba menundukkan kepalanya ke pisau belati Rem.
Tentu saja ia tak punya kesempatan.
Rem menarik pisau belati kembali lalu menghantam tulang pipi sang monster dengan kepalan tinju yang memegang gagang.
*Thwack!*
Kepala sang monster tersentak ke belakang.
Rua Garne menegangkan lengan-lengannya.
Urat-urat menonjol di lengan bawah sang Frokk yang mulus.
"Sakit!" sang raksasa berteriak.
"Kau pikir aku memukulmu demi kenikmatan?" ujar Rem, meletupkan pisau belati di tangannya untuk mengarahkan bilah ke depan kembali, lalu menusuk mata sang raksasa.
Itu adalah sebuah pergerakan bilah pedang tanpa sekelumit pun keraguan.
*Pluck!*
"Kuaaaah!"
Jeritan lainnya.
Dan juga, sebuah jeritan yang jujur.
Dengan hal tersebut, sang raksasa menyerah.
"Ini sekarang tanah kami. Dia memberitahu kami untuk melakukan demikian."
"Siapa?"
"Sang Nabi Agung."
Hampir tak ada apa pun yang bisa dipahaminya dari apa yang didengarnya.
Ia bertanya beberapa kali lagi, dan saat ia menilai tak ada lagi yang perlu ditanyakan...
*Pluck!*
Rem menggorok leher sang raksasa dengan pisau belatinya.
Darah menyembur keluar.
Itu adalah warna keunguan, dekat dengan warna nila.
"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi kurasa kita harus pergi lebih jauh untuk mengetahuinya," ujar Rem.
"Bakal jadi yang terbaik jika kau tidak mengikuti," Rem berkata lagi, dan Encrid mengingat Rem sewaktu ia memberitahu mereka untuk pergi ke dalam tanah iblis tanpa sebuah rencana.
Ia telah berbicara, dan Rem telah mengikuti.











