Eternally Regressing Knight

Bab 470: Wanita bernama Rem

2335 Kata

Bab 470: Wanita bernama Rem

Rambut kepangnya terayun, independen dari angin.

Itu karena lawannya telah bergerak.

Di dunia kelabu, ia adalah seorang wanita yang bersinar dengan cahaya cokelat gelap.

Sebuah kehidupan yang berdenyut penuh vitalitas bisa dirasakan darinya.

Untuk mengutarakannya dengan cara lain, gerakan menarik kapak dari pinggangnya kelihatan seanggun sebuah tarian.

Itu disusul oleh sebuah tebasan menukik ke bawah secara vertikal dari kapaknya.

Pandangan Encrid mengikuti pergerakan kapak tersebut.

*'Tanpa keraguan.'*

Itu bukan niat membunuh yang pekat, tapi tekadnya untuk membelah sesuatu terbuka jelas untuk dilihat.

Di seberang kapak, yang jatuh seolah-olah untuk membelah kayu bakar, kilatan di matanya menggambar sebuah garis panjang.

Kapak memotong menembus udara, melangkah maju menuju tujuannya.

Artinya, untuk membelah tengkorak Rem.

Itu terjadi pada saat yang sama kata-kata seperti, "Suami, kau bajingan," terdengar.

Bahkan tak ada separuh hela napas tersisa untuk diluangkan, tapi Rem secara alami bereaksi.

Kapak di tangannya melesat keluar untuk bertemu kapak pasangannya.

*Clang, scrrraape!*

Mata Rua Garne dan Dunbakel melesat ke depan dan ke belakang.

Itu gara-gara perubahan yang diciptakan saat mata-mata kapak bertemu.

Pandangan-pandangan mereka secara alami mengikuti pertukaran di antara kedua kapak.

Encrid menonton dengan sebuah pandangan yang relatif tenang.

Matanya melihat setiap detail tunggal.

Kedua kapak bertemu lalu memantul menjauh.

Itu berkat Rem dengan cerdik memuntir pergelangan tangannya.

"Hmph!"

Istri Rem menyengus.

Ia menarik kembali kapak yang memantul dengan kekuatan lengannya.

Bagian tengah lengan bawahnya terbelit kencang dengan tali kulit, dan saat otot-ototnya menegang, tali tersebut kelihatan menggali ke dalam dagingnya.

Persis seperti itu, kapak menjadi sejajar dengan tanah dan membidik rahang Rem.

"Ayul," ujar Rem sembari secara ringan memuntir tubuhnya untuk menghindar.

Wanita bernama Ayul menjawab dengan kapaknya.

Ia menusukkan mata kapak ke depan, mendorongnya lurus ke luar.

Rem menangkapnya dengan telapak tangan telanjangnya lalu mendorongnya ke sisi samping.

Yang satu itu milik Audin.

Encrid mengenalinya dalam sekali lirik.

Teknik yang baru saja diperlihatkan Rem adalah sebuah variasi dari *body glide*.

Dan ia melakkukannya dengan tangan telanjangnya.

Encrid bisa mengalahkan Rem, tapi ia tak bisa secara instan meniru sebuah teknik yang baru saja dilihatnya seperti itu.

Itu adalah sebuah perbedaan dalam bakat.

Itu adalah sesuatu yang hanya dimungkinkan jika seseorang punya sebuah tubuh yang sanggup mempelajari kiatnya dan mengimplementasikannya di tempat.

Tentu saja Encrid saat ini bisa juga mengalihkan sebuah bilah pedang dengan tangan telanjangnya, tapi bisakah ia menggunakannya secara mendadak seperti baru saja?

Itu bakal sulit.

Itu bukan sebuah pergerakan yang dikalkulasi, melainkan sebuah tindakan di ranah insting.

Gestur tangan Rem memang persis seperti itu.

Bukan berarti Encrid merasakan emosi khusus apa pun tentang hal tersebut.

Ia tak punya impresi megah tentangnya pula.

Ia hanya mencatat gestur tersebut karena kiat yang terkandung di dalamnya tidak biasa.

Itu kelihatan seperti sesuatu yang bagus untuk dilatih kelak.

Itu adalah sebuah gestur mengalihkan, seolah-olah menghantam, seolah-olah menepis menjauh.

***

"Aku telah memilih pasanganku. Dan aku bersumpah di atas kapakku bahwa aku tidak menanamkan kasih sayangku di tempat lain," ujar Rem.

Nadanya tenang.

Saat kapaknya meleset, wanita bernama Ayul secara sangat amat lambat meletakkan kapaknya kembali di pinggangnya lalu berbicara.

"Baiklah, mari kita melangkah maju untuk saat ini."

"Seorang beastman berbau busuk, seorang Frokk, dan di atas hal tersebut, salah satu dari mereka adalah seorang pria," Rem berkata kembali.

Itu adalah jawabannya atas pertanyaan apakah ia telah berselingkuh dengan wanita lain.

Itu adalah percakapan yang bisa dipahami seseorang dengan menyimpulkan konteksnya.

Kata-kata Rem terdengar sangat menyerupai sebuah alasan, tapi itu adalah kebenaran.

"Jika kau butuh seorang saksi, aku bakal melakkukannya," Encrid menyela.

Itu adalah kekuatan dari persahabatan.

Itu adalah harga karena telah bertarung dengan nyawanya dipertaruhkan sepanjang waktu ini.

Itu adalah sebuah ucapan tunggal yang ditawarkan dengan mengerahkan tekadnya.

"Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi tetaplah di luar hal ini, ya? Kecuali kau mau dekorasi lain di kepalamu?"

Encrid memutuskan untuk menghormati pendapat pihak lawan.

Dunbakel baru saja hendak bilang bahwa Rem bukan tipenya tapi membungkam mulutnya.

Wanita di depannya tidak kelihatan seperti seseorang yang membuat ancaman-ancaman kosong.

Rua Garne melemparkan sebuah lirik ketarikan.

*'Seorang Rem versi wanita.'*

Begitulah ia melihatnya.

Dunbakel punya impresi serupa.

*'Dua kapak buas.'*

Encrid pun sama.

*'Ini adalah seorang Rem versi wanita.'*

Rem versi wanita, Ayul, menatap Rem dengan tangannya di atas kapaknya.

Sebuah niat membunuh yang tebal dan tenang terbentuk di matanya.

"Kau dan aku bakal berbicara kelak."

Raut wajah Rem menjadi agak muram.

"Baiklah."

Ada hal-hal yang tak terhindarkan dalam kehidupan.

Sebagai contoh, seorang suami yang kabur dari rumah punya kewajiban untuk menjelaskan pada istrinya yang menunggu kenapa ia telah pergi.

***

Begitu ayunan kapak murka Ayul selesai, beberapa orang Barat lainnya yang tadinya menonton mendekat.

Mereka tidak kelihatan merasakan sensasi krisis apa pun.

Kemungkinan besar karena mereka juga mengenal Rem.

Di antara mereka, seorang pria dengan pola-pola terlukis di wajahnya dengan sesuatu seperti pewarna datang lebih dekat.

Kelihatan seperti ia telah menggambar hal-hal menyerupai duri tajam di pipi-pipinya.

"Yah, yah. Ini adalah sesuatu yang bakal membuat Geurime menangis."

Ia kelihatan sangat amat terkejut.

Geurime adalah seekor binatang suci yang tinggal dalam wujud sebuah bayangan.

Itu adalah sesuatu dari suatu tempat di dalam mitologi Barat.

Encrid menatap polos pada pria tersebut.

Itu adalah sebuah observasi yang dilakukannya dari kebiasaan.

*'Selalu cerna dan cengkeram segalanya dengan mata-matamu.'*

Itu adalah sebuah kebiasaan yang dibentuknya saat pertama kali mulai mempelajari pedang.

Pandangan Encrid menyapu melintasi pria tersebut.

Kulitnya gelap, tapi itu kelihatan dari cahaya matahari; warna kulit aslinya kemungkinan lebih dekat ke warna merah.

Sedikit kulit merah kasat mata di perbatasan antara bagian belakang tangannya dan lengan bajunya.

Wajahnya punya tulang pipi tinggi dan mata-matanya sempit, tapi ia tidak kelihatan jahat.

Sebaliknya, ia punya nuansa lembut padanya.

Secara keseluruhan, penampilannya bisa dideskripsikan sebagai tampan.

Ia punya wajah yang cukup tampan.

Begitu pula Ayul.

Gadis itu punya penampilan seorang wanita cantik.

Dari belakang, suara Rua Garne membusungkan pipinya bisa terdengar dari waktu ke waktu.

Frokk menyukai penampilan menarik dari manusia.

Itu kemungkinan merupakan sebuah ekspresi rasa puas.

Itu kelihatan sebagai sebuah karakteristik dari suku ini.

Dalam kontras, penampilan Rem lebih dekat ke orang Benua.

Kenapa begitu?

Sebab kelahirannya berbeda.

Hanya dengan melihat beberapa orang Barat, Encrid telah memikirkan salah satu rahasia dari kelahiran Rem.

Itu adalah sebuah tebakan, tapi kemungkinan benar.

Melihat bahwa hanya Rem yang kelihatan berbeda di antara sekelompok orang dengan penampilan-penampilan yang umumnya serupa.

***

"Hei, sudah lama tidak bertemu, kan?"

Rem menyarungkan kapaknya di pinggangnya lalu mengangkat satu tangan.

"Aku sudah akan lupa cara menghitung berapa banyak badai es yang telah melintas."

"Enam kali."

Dari belakang, Ayul mengutarakan angkanya.

Pria itu menganggukkan kepalanya.

"Benar, sudah waktu yang lama. Apa sebenarnya yang telah kau lakukan?"

"Pada awalnya, bepergian. Kelak, dinas militer. Baru-baru ini, bertarung. Saat ini, aku kembali untuk mengambil sesuatu."

Ada banyak kata di antaranya yang tak bisa dipahaminya, tapi Encrid secara kasar paham melalui konteks.

"Apa yang sedang mereka katakan?"

Dunbakel tak bisa paham lalu memiringkan kepalanya.

Rua Garne, yang mengetahui dialek Barat, kelihatannya paham.

"Yah, hanya ada satu hal untuk dikatakan di saat seperti ini. Selamat datang kembali, Rem," ujar salah satu pria.

"Aku berpikir kau tewas di suatu tempat, tapi kau berhasil kembali dalam kondisi hidup," Ayul memberkati Rem yang kembali.

Baru pada saat itulah pria dengan pola duri memutar pandangannya ke arah rombongan Encrid.

"Apakah kalian bersama Rem?" tanyanya, berdiri tiga langkah di depan Encrid.

Sebuah sensasi kewaspadaan yang halus bisa terlihat.

"Aku sedang bertanya-tanya apakah lebih baik mengakui kami adalah rombongannya atau berpura-pura kami tidak mengenalnya. Bisakah aku menunda jawabanku sedikit?"

Saat Encrid membalas, pria itu tertawa.

Itu kelihatan sebagai sebuah gurauan yang sesuai seleranya.

"Seorang teman yang menarik. Aku Juol."

"Encrid, dari Border Guard."

"Encrid? Sulit diucapkan dan sebuah nama yang panjang."

Meskipun seluruh Benua menggunakan bahasa yang sama yang disebarkan oleh Kekaisaran, sangat umum bagi adanya perbedaan-perbedaan halus dalam aksen.

Cara pria bernama Juol berbicara adalah seperti itu.

Komentarnya soal nama yang panjang dan sulit diucapkan berada di dalam alur tersebut, dan kemunculan dialek-dialek adalah untuk alasan-alasan serupa.

"Apakah begitu?"

Encrid melangkah maju, tak terganggu.

Rem memotong masuk lalu bertanya, "Ada apa dengan desa di pinggiran yang diserang? Kami bertemu seekor raksasa di perjalanan ke sini pula."

Bukan karena ia baru saja ingat.

Ia bertanya sekarang setelah reuni mereka selesai.

"Itu adalah kisah yang panjang. Untuk saat ini, mari pergi ke Keun Narae. Ayul?"

Juol berbicara, tapi Ayul hanya menatap Rem dengan ekspresi datar, dan orang-orang Barat yang tersisa hanya menatap polos.

Encrid menatap mereka lalu secara kasar menyimpulkan hubungan-hubungan mereka.

*'Rem versi wanita adalah pembuat keputusan, dan Juol adalah sesuatu seperti Pemimpin Peleton?'*

Ia kurang lebih benar.

Mereka adalah sekelompok yang telah melepaskan sapi-sapi dan domba-domba mereka di padang rumput dan telah pergi keluar untuk menjaga sekeliling, dan di antara mereka, Ayul adalah petarung terbaik.

***

"Dipahami."

Rem telah kembali.

Ayul bahagia sekaligus murka.

Bagaimanapun, sangat jelas bahwa kembalinya Rem saat ini adalah sebuah kejadian yang disambut baik.

Sebuah kejadian yang tentu merupakan tangan bantuan Dewa Langit.

"Kita pergi ke tempat di mana ketua Keun Narae berada."

Segera, dua orang Barat yang tersisa bersiul lalu menggiring domba-domba dan sapi-sapi.

Menonton mereka membariskan hewan-hewan ternak dan membuat mereka berjalan dengan menepuk tanah dengan galah-galah panjang, kelihatan bahkan para Shepherd of the Wasteland punya satu dua hal untuk dipelajari.

Saat ia secara santai menyebutkan sentimen ini, Rua Garne membusungkan pipinya lalu tertawa.

"Gurgle. Para Shepherd of the Wasteland tidak menggiring domba seperti itu. Kau bakal tahu saat kau melihat mereka. Kembalilah lalu tanyakan pada Pell."

"Aku harus melakukan hal tersebut jika aku masih hidup," Encrid mengangguk.

Premis 'jika aku masih hidup' mungkin terdengar canggung, tapi Rua Garne dan Dunbakel membiarkannya berlalu seolah-olah itu bukan apa-apa.

Sebaliknya, salah satu orang Barat yang mendengarkan dari sebelah kiri memiringkan kepalanya.

Ia bertanya-tanya apakah ia telah mendengar secara benar.

*Jika aku masih hidup?*

*Siapa?*

*Sebuah gurauan Benua?*

*Sebuah dialek?*

Tentu saja itu bukan keduanya.

***

Saat mereka berjalan, Rem datang di sampingnya lalu berbisik dalam suara yang tidak didengar oleh wanita bernama Ayul yang berjalan di depan.

"Agh, aku nyaris tewas."

"Bukankah bakal lebih baik untuk sekadar menerima satu hantaman?" Encrid berbisik pula.

Kelihatan seperti bakal lebih baik untuk sekadar terkena hantaman.

"Kau hanya bisa membiarkan mereka memukulmu jika mereka mengayun secara moderat."

Encrid menyetujui sentimen tersebut pula.

Wanita itu mengayunkan kapaknya dengan kekuatan yang cukup untuk memotong putus sebuah lengan.

"Rem? Apakah itu kau? Rem yang meninggalkan rumah waktu yang lama lalu?" seorang pria Barat yang telah menontonnya secara cermat bertanya dari sisi samping.

"Ya, itu aku."

"Apakah itu karena kau menerima kutukan sang pengembara?"

"Siapa yang memberitahumu hal tersebut?"

"Ayul yang memberitahukanku."

"Dan siapa kau?"

"Aku Ire."

Pipi-pipinya melesak masuk, tapi mata-matanya tajam, dan tubuhnya menyerupai batu keras dari diet terkontrol dan kerja berulang.

Cara ia berjalan, menepuk tanah dengan galah panjang, memperlihatkan ia adalah seorang pria yang tahu satu dua hal soal bertarung.

Semangat bertarungnya tidak kasat mata, tapi pertanda-pertanda dari latihannya terlihat jelas.

Mata Encrid telah berkembang secara lumayan, jadi ia bisa mengukur kemampuan lawannya hanya dengan sekali lirik.

Ini adalah sebuah area di mana ia lebih unggul dibanding Rem atau Ragna.

Apakah itu perbedaan antara seseorang yang mendaki gunung dengan memeriksa setiap hal kecil dari awal dan seseorang yang melompat ke puncak dalam satu lompatan tunggal?

Karena alasan tersebut, Encrid melihat kemampuan pria bernama Ire secara paling akurat.

*'Jika aku membawanya ke Border Guard, ia bakal diperlakukan sebagai prajurit tingkatan atas.'*

Ia tidak tahu bagaimana pria itu dalam pertarungan nyata, tapi kemampuannya setidaknya berada di tingkatan tersebut.

Adapun pertarungan nyata, kau tak pernah tahu hingga kau benar-benar bertarung.

Pemikiran tersebut tetap sama sekarang seperti saat ia masih jadi prajurit tingkatan rendah.

Apa pun bisa terjadi dalam pertarungan menuju kematian.

Dari perspektif ini, kemampuan Rem versi wanita jauh lebih unggul.

Melihat dari penampilannya, ia kelihatan setidaknya berada di sekitar tingkatan Squire.

Rem menjawab pertanyaan pria muda, tidak, pria muda tersebut, "Bukan seperti itu."

Menjelaskan apa yang terjadi saat itu bakal panjang, dan itu bukan sesuatu untuk dikatakan pada seorang anak yang tidak tahu apa-apa.

"Hmph!"

Dari depan, Ayul menyengus.

Gadis itu kemungkinan tidak mendengar bisikan tersebut, tapi ia pasti mendengar percakapan saat ini.

Rem versi wanita punya telinga-telinga yang tajam.

***

Saat mereka terus berjalan, mereka melihat petak-petak padang rumput di sana-sini, dan kelompok-kelompok orang Barat mengurusi hewan-hewan ternak mereka.

Padang-padang semuanya mengangkat kepala mereka saat melihat rombongan.

Dengan orang-orang luar yang jelas berjalan-jalan, tak mungkin untuk tidak terperhatikan.

Di antara mereka, ada pula beberapa yang mengenali Rem.

Saat mereka berjalan seperti itu, sebuah aroma menyengat datang dari suatu tempat.

Itu bukan aroma yang menyenangkan.

Encrid berbalik ke sisinya dan melihat Dunbakel mengedutkan hidungnya.

Jika itu adalah aroma yang ditangkap hidungnya, Dunbakel pasti sudah menangkapnya terlebih dahulu.

"Aroma apa ini?"

"Kelihatan seperti mereka membakar beberapa jenis rumput bersama."

Rem pasti mencium hal yang sama, saat ia mengangkat kepalanya.

Di kejauhan, asap kelabu bisa terlihat membumbung.

"Sesuatu memang telah terjadi," ujar Rem.

"Kita bakal mengetahuinya saat kita pergi ke dalam," Ayul membalas dengan nada tumpul.

Gadis itu masih kelihatan murka.

Akankah amarah tersebut pernah mereda?

Encrid berjalan terus dengan pemikiran-pemikiran semacam itu.

Sebuah gunung yang lembut memblokir jalan mereka, dan setelah menyeberanginya, sebuah ruang terbuka yang lebar muncul.

"Sudah lama sejak kita kedatangan orang-orang luar. Selamat datang, orang-orang asing yang telah menyeberangi perbatasan," ujar Juol.

Ruang terbuka dipenuhi oleh tenda-tenda.

Bentuk-bentuk bulat, bentuk-bentuk bersudut, dan sebagainya.

Ada begitu banyak hingga bakal membutuhkan waktu lama hanya untuk menghitung mereka.

Ada sama banyaknya orang.

Itu adalah sebuah komunitas berskala besar dengan lebih dari beberapa ratus orang berkumpul.

Dengan kata lain, sebuah kota di Barat.

"Dalam gaya Benua, nama kota ini bakal jadi sesuatu seperti **Elder Bear**? Kami semua adalah keturunan dari dewi beruang yang menjadi manusia. Ada mitos seperti itu."

Ini adalah sebuah cerita yang pernah diutarakan Rem padanya sebelum mereka datang.

Ada sebuah mitos soal seekor beruang membunuh seekor ular yang lebih besar dibanding sebuah kota, dan sebuah mitos soal sekelompok hewan berkumpul di dalam sebuah gua lalu berubah menjadi manusia.

Ia juga bilang bahwa manusia pertama yang dikandung oleh seekor beruang adalah leluhur dari suku-suku Barat.

Ini diiringi oleh pernyataan bahwa mitos-mitos yang diteruskan berbeda dari suku ke suku.

Pemandangan dari kota Barat yang pernah diutarakan Rem masuk ke dalam pandangan Encrid.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.