Eternally Regressing Knight

Bab 479: Hari bagi Burung Fajar untuk Menangis

2313 Kata

Bab 479: Hari bagi Burung Fajar untuk Menangis

Dua raksasa masuk ke dalam pandangan.

Encrid melangkah ke depan.

Jiba, Geomnarae, wanita yang meletupkan gurauan-gurauan, Hira, Rem, Ayul, hal-hal yang diperlihatkan oleh orang-orang Barat padanya, gurauan-gurauan yang diutarakan mereka.

Hal-hal semacam itu melintas di benak saat ia melangkah.

Apakah mereka layak untuk dilindungi?

Ia mempercayai demikian.

"Aku bakal mengunyah kalian semua lalu menelan kalian!"

Sebuah teriakan seperti sambaran petir meletup dari mulut seorang raksasa.

Encrid tidak menghentikan fisiknya melangkah, tidak pula ia memalingkan mata-matanya dari kedua raksasa.

Bisakah ia secara sempurna mengukur kekuatan mereka hanya dengan menatap?

Tidak.

Lantas apakah ia merasa seperti ia bakal kalah?

Tidak. Itu mutlak bukan kasusnya.

Encrid tidak merasa seperti ia bakal kalah.

Ia tak merasa dengan cara seperti itu di dalam hal terkecil sekali pun.

***

Orang-orang suku menjuluki dua petarung terbaik di antara para raksasa sebagai monster-monster.

Di antara orang-orang Barat yang berbicara soal para raksasa, beberapa memperlihatkan rasa takut, dan yang lainnya memaksakan diri mereka untuk mengerahkan keberanian.

Encrid merasakan pandangan-pandangan di tubuhnya.

Ia merasakan mata-mata mereka, pandangan-pandangan mereka, kecemasan-kecemasan mereka di punggungnya.

Para raksasa masih berada di dalam pandangannya.

Merek memenuhi pandangannya.

Gara-gara mereka, ia tak bisa secara benar melihat bagian-bagian lain dari Barat.

"Berbahaya untuk pergi sendiri!" berteriak orang Barat dari belakang, sosok yang memegang rasa suka bagi ibu Jiba.

*Apakah begitu.*

*Apakah itu berbahaya.*

Ia tidak tahu.

Tapi ia merasa ia bisa melakukannya, dan ia ingin melakkukannya.

"Satu orang tidak cukup!" ujar sang raksasa, menatap Encrid.

Itu memperlakukannya seperti mangsa.

Apakah ia kelihatan seperti mangsa, berjalan ke sini dengan sebuah pedang di sisinya?

Merek tak punya mata bagi hal-hal semacam itu.

Encrid mengangkat kepalanya lalu menatap mata sang binatang buas.

Ia tak melihat apa pun selain selera makan dan keserakahan.

Tak berbeda dari seekor hewan.

Takkan salah untuk menjuluki mereka monster-monster.

*Ting.*

Ia melepaskan kait sarung pedang dengan ibu jarinya lalu menarik Aker.

Bilah pedang memperlihatkan dirinya di dalam cahaya matahari yang tenang.

"Jangan mencampuri."

Encrid membuka mulutnya.

Ia sedang berbicara pada Rem, yang mengikuti di belakangnya.

Rem mengerutkan dahi lalu bertanya sebagai balasan, "Apakah kau harus?"

*Kenapa kau melangkah maju sendiri,* adalah apa yang dimaksudkannya.

"Aku berpikir adalah benar bagi petarung yang lebih kuat dan lebih baik untuk melangkah ke depan."

Alih-alih membalas pertanyaan 'apakah kau harus', Encrid memberikan sebuah jawaban berbeda.

Sebuah deklarasi tegas dari tekad Will miliknya.

"...Omong kosong apa. Sungguh."

Rem bergumam.

Itu benar bahwa, untuk saat ini, Encrid berada di depan Rem.

***

Dua raksasa, kulit mereka kemerahan.

Encrid penasaran soal warna darah mereka.

Saat ia melangkah secara teguh ke depan, ia berhenti di titik tertentu.

Itu adalah tempat sempurna untuk dihantam remuk hingga tewas oleh ayunan pemukul raksasa.

Encrid belum bermalas-malasan di dalam latihannya, bahkan setelah pertarungan di Oara.

Rem berada di sana di sisinya sebagai seorang pasangan bertarung tanding, dan Rua Garne telah membantu pula.

Terkadang, Dunbakel juga bakal melangkah maju untuk bertarung tanding dengannya.

Encrid sama seperti biasanya.

Ia mengulang tindakan-tindakan yang sama.

Latihan dan kedisiplinan.

Saat semua hal tersebut tercampur bersama di dalam waktu, sebuah kuncup bunga kecil terbentuk di dalam diri Encrid.

Ia mengombinasikan apa yang telah dipelajarinya dari Ksatria Oara, apa yang telah ditinggalkannya di belakang, dan hasil-hasil dari pengulangan tanpa bahagiannya.

Kelopak-kelopak dari kuncup mulai merentang, satu demi satu.

"Apakah hanya ada kalian berdua?" tanya Encrid saat ia mengangkat pedangnya.

Ada mereka yang menemukan keriangan di dalam ketenangan.

Dan ada mereka yang meremukkan ketenangan tersebut.

Sosok-sosok di depan mata Encrid adalah mereka.

Mereka yang meremukkan ketenangan, mereka yang mengancam Barat, orang-orang, dan kehidupan-kehidupan mereka.

***

Rua Garne tanpa sadar mencengkeram gagang dari Loop Sword miliknya.

*'Apa ini?'*

Encrid sama seperti sebelumnya.

Tidak, ia tidak sama.

Ia mengayunkan pedangnya.

Sebuah tebasan menukik yang panjang.

Menuju ke udara kosong.

Tidak. Punggung kaki sang raksasa muncul di titik di mana pedang menggapai.

Itu karena sang raksasa telah secara mendadak menggerakkan kakinya untuk mencoba dan menendang Encrid.

Dengan kata lain, ia telah mengayunkan pedangnya terlebih dahulu menuju ke tempat di mana kaki bakal bergerak.

Itu adalah sebuah pencapaian yang dimungkinkan hanya karena ia telah mencengkeram pergerakan dengan menonton gerakan dan otot-ototnya.

*Hwoong, jiiik!*

Bilah Aker secara halus mengiris punggung kaki sang raksasa.

Itu memotong dan mengetam saat melintas.

Sang raksasa membawa kepalan tinjunya menukik ke arah Encrid yang menghindar.

Encrid memperlihatkan **Frog's Step** lalu bergerak ke sisi samping.

Ia kelihatan menggeser pusat gravitasinya ke kiri, lalu melempar tubuhnya ke kanan.

*Boom!*

Kepalan tinju menghantam tanah polos yang tak bersalah.

Bumi berguncang, debu membumbung, dan tanah serta batu-batu melayang ke segala arah.

"Bajingan ini."

Perbedaan dalam tingkatan terasa jelas.

Sang raksasa tidak mengetahui latihan, kedisiplinan, atau usaha.

Itu karena apa yang terlahir bersama mereka berbeda.

Bagi seorang raksasa untuk telah selamat hingga saat ini dan membual secara begitu keras berarti itu murni sejauh itu kuat.

Saat kepalan tinju yang berat menghantam tanah, medan berubah.

Di balik lubang melesak, sebuah garis tipis tergambar menembus debu yang membumbung.

Rua Garne menyempitkan mata-matanya.

*Garisnya membengkok?*

Sebuah garis membengkok tergambar seperti seutas benang.

Mata sang Frokk menebak identitas dari garis tersebut.

Itu adalah Aker.

Itu adalah Encrid.

Itu adalah pedang yang dipegangnya.

Itu juga merupakan sesuatu yang mengandungi ilmu pedang Oara.

Garis yang tergambar oleh napas panjang yang tak terputus dari pedang memotong melintasi lengan bawah sang raksasa, tulang kering, dan pinggang.

*Fwoosh!*

Pinggang sang raksasa terpotong secara dalam, dan darah menyembur keluar.

Itu mengenakan kulit bulu, tapi itu tak berguna.

Aker tajam, dan sosok yang memegangnya mengendalikan tekad Will.

Awan debu tersisa, tapi itu mudah untuk menemukan keberadaan Encrid di dalamnya.

Dua cahaya biru kasat mata.

Pemilik mata indigo melangkah di atas punggung kaki sang raksasa, menendang lututnya, lalu melesat ke atas.

"Kuaa!"

Sang raksasa mengibaskan tangan-tangannya di depan dirinya sendiri dengan raungan seperti teriakan.

Itu bahkan telah menjatuhkan pemukul di tangannya.

"Aku bakal membantu!"

Raksasa yang satunya menerjang masuk lalu mengayunkan telapak tangannya yang terbuka.

Raksasa dengan pinggang teriris membidik Encrid, yang sedang memanjat dadanya, lalu meletupkan tepukan pada telapak-telapak tangannya.

*Clap!*

Tentu saja itu adalah sebuah ayunan dan meleset.

Kedua telapak tangan, terayun seolah-olah untuk menangkap seekor serangga melayang, meletupkan suara tepukan, dan raksasa lainnya yang telah menerjang masuk untuk membantu menampar dada kawannya, meletupkan suara dentuman keras.

"Ack!" sang raksasa menjerit.

Encrid telah melangkah di atas bahu sang raksasa lalu bergerak ke belakangnya.

Ia tidak murni bergerak melintas.

Saat ia memanjat melintasi sang raksasa, ia menarik gladius miliknya lalu menggaruknya melintasi punggung sang raksasa seolah-olah menggambar di atas sebuah dinding.

*Drrrrrrrrr.*

"Aaaargh!"

Teriakan-teriakan sang raksasa meletup satu demi satu.

Darah keunguan mengalir menuruni pinggangnya, kaki, lengan bawah, dan punggungnya.

Sang raksasa berlutut di atas satu lutut lalu mengibaskan tangan-tangannya bolak-balik.

Sosok yang bermaksud membantu menyambar pemukulnya dengan kedua tangan lalu menghantam menukik secara diagonal pada punggung kawannya.

*Hwoooosh!*

Sebuah hembusan angin yang menerbangkan debu membumbung.

Encrid telah lenyap dari tempat tersebut.

Pemukul sekali lagi mengayun menembus udara kosong, dan dengan sebuah letupan, sang raksasa yang berlutut mendapatkan sebuah hidung baru, tajam dan tumbuh secara segar di bagian tengah tulang hidungnya.

Nama dari hidung tersebut adalah Aker.

Encrid menarik keluar pedang yang telah menusuk menembus wajah, dimulai dari dagu.

*Pwwak,* darah mengalir bersama dengan pedang saat itu keluar, mematahkan tulang.

Darah keunguan memancur dari wajahnya, dan tubuh sang raksasa miring ke depan.

*Thud.*

Salah satu dari mereka ambruk, menanamkan kepalanya di atas tanah.

Sang raksasa telah jatuh dari dahinya menukik ke bawah.

Itu adalah posisi yang sama seperti ibu Jiba, tapi satu orang adalah untuk mengekspresikan rasa terima kasih, sementara yang satunya murni sebuah jasad.

***

"Apa kau ini!"

Raksasa yang tersisa berteriak.

Apakah ini seorang lawan yang membutuhkan percakapan?

Tidak.

Encrid terus mengayunkan pedangnya.

Rua Garne tidak berkeringat, karena ia adalah seorang Frokk.

Sebaliknya, lidahnya menjulur dan bola-bola matanya berguling tanpa henti.

*'Seorang ksatria?'*

Bukan itu.

Tapi mencari menembus segalanya yang pernah dilihat dan didengarnya, ini adalah pertama kalinya.

*'Bukan seorang ksatria.'*

Jika ia harus mengklasifikasikannya, itu bakal berada di suatu tempat di antara seorang ksatria dan seorang ksatria magang.

Dengan kata lain, haruskah ia dijuluki sebagai ksatria magang terkuat di Benua?

Ia bukan seorang ksatria magang, tapi ia bukan seorang ksatria pula.

Ia tak bisa menggunakan tekad Will sesuai kehendak, tapi di momen-momen yang dibutuhkan, sebuah tebasan pedang yang ditempa dari kekuatan tekad bakal meletup keluar tanpa gagal.

Itu telah sama beberapa saat lalu.

Kecepatan dari langkah-langkahnya saat ia menghindar dari pemukul sang raksasa berbeda.

Dan kecepatan dari tusukan yang diberikannya setelah hal tersebut berbeda.

Itu adalah sebuah tusukan serupa dengan yang telah membunuh sang ghoul, jadi sang raksasa bahkan tak bisa berani berpikir untuk menghindarnya lalu tewas.

***

Satu raksasa yang tersisa dicengkeram oleh rasa takut.

Mata-matanya berguling saat ia berkata, "Aku sebenarnya menilai manusia-manusia menjijikkan!"

Tiga raksasa yang dilihatnya sebelumnya mengetahui cara menggunakan kepala mereka, tapi yang satu ini tidak.

Itu murni meludahkan omong kosong.

"Aku takkan memakanmu. Aku pergi! Aku pergi sekarang juga!"

Ada rumor-rumor sesekali di Benua bahwa raksasa-raksasa itu dungu, tapi jika mereka benar-benar setumpul itu, mereka takkan selamat sepanjang ini.

Bukan karena ras raksasa itu dungu, melainkan bahwa yang satu ini secara luar biasa punya inteligensi rendah.

Encrid menatap sang raksasa dengan pergelangan tangan terputus separuh lalu membiarkan lengannya menggantung longgar.

Di mata Rua Garne, itu kelihatan seperti ia sedang bersiap bagi sebuah hantaman akhir, tapi bagi sang raksasa, itu murni kelihatan seperti ia telah menurunkan kewaspadaannya.

"Kau mempercayaiku? Terima kasih. Aku punya banyak harta. Aku bakal memberimu harta."

Binatang buas tersebut berkata, merayap dua langkah lebih dekat.

Dua langkah seorang raksasa seharusnya dijuluki langkah-langkah lebar, tapi cara ia berjalan, meletakkan kaki-kakinya di atas tanah dan menonton secara waspada, membuatnya kelihatan seperti sedang menyelinap.

Binatang buas menonton bagi sebuah celah, lalu secara mendadak mengayunkan pemukul yang dipegangnya.

Secara simultan, Encrid juga mengayunkan pedangnya.

Sebuah tebasan pedang kontinyu, dengan gaya **Northern Heavy Sword** tercampur di dalamnya.

Saat kaki-kakinya meninggalkan tanah, tubuh Encrid meluncur ke depan.

Tentu saja, satu-satunya yang mengenali seluruh pergerakan adalah Rem.

Tebasan pedangnya berada di tingkatan tersebut.

Tubuh yang melangkah maju menjadi sebuah garis, dan lengkungan yang digambar oleh pedang menjadi sebuah bilah pedang yang bisa memotong apa pun.

*Crunch.*

Pedang melangkah maju, memotong menembus otot, tulang, dan saraf-saraf.

Pemukul sekali lagi menghantam sebuah titik kosong dengan sebuah dentuman.

"Gurgle."

Dengan sebagian besar organ-organnya teriris dari dadanya hingga ke perutnya, oleh sebuah kedalaman lebih dari sejangkauan telapak tangan, itu alami baginya untuk meletupkan busa dari mulutnya alih-alih berbicara.

Meskipun demikian, kekuatan hidup sang raksasa begitu besar hingga itu menendang ke belakang dengan hela napas terakhirnya.

Encrid bertemu dengannya dengan kepalan tinju yang memegang pedangnya.

*Clang!*

*Crack.*

Tulang menusuk menembus kulit punggung kakinya.

Darah menyembur kembali.

Dan sang raksasa tewas.

***

Keheningan, sebuah ketenangan yang bisu, turun.

Encrid secara santai menyapu bersih bilah pedangnya di atas pakaian-pakaian bulu sang raksasa yang tewas.

Area terisi oleh darah keunguan.

Meskipun itu adalah sebuah hari dengan awan-awan pemblokir matahari, hari semacam itu tidak memblokir seluruh cahaya matahari.

Seolah-olah itu telah diputuskan, awan-awan terbelah tepat pada waktunya.

Cahaya mencurah menukik.

Cahaya matahari lebih cemerlang dibanding sebelumnya.

Ketua suku, yang telah menonton, separuh menangis.

Dalam kenyataan, suku terbesar di Barat berada di ambang kehancuran.

Keputusasaan telah datang dalam berbagai nama.

Seorang penyihir luar, sebuah kutukan, raksasa-raksasa.

Kutukan telah diangkat, tapi mereka tak bisa merasa lega.

Sebab para raksasa tersisa.

Tapi sekarang, para raksasa tersebut tewas.

Itu adalah batu yang telah membunuh, memakan, dan menindas sukunya.

Pemahat batu yang telah mematahkan batu tersebut berbalik, terbasuh dalam cahaya.

Tidak, ia berbalik dan kemudian berbalik kembali untuk memperlihatkan punggungnya.

Pandangannya berbalik menuju ke tanah-tanah Barat.

"Sekarang aku bisa melihatnya," ujarnya, menatap cakrawala.

Di balik padang-padang yang indah, garis yang terhubung secara luar biasa indah.

Ketua suku menangis.

Sebab menahan air mata bukanlah cara seorang Barat.

"Sambutlah sang petarung teragung," ujar ketua suku.

Itu adalah sebuah kata yang meletup keluar, terendam dalam emosi.

Itu adalah pujian tertinggi bagi sosok yang telah menyelamatkan sukunya.

"Sambutlah sang petarung!" seseorang mengulang teriakan ketua suku.

Hira, yang telah bangun dari sebuah tidur siang untuk menonton, melongo.

Gadis itu telah terkejut melihatnya bertarung melawan kedua anak kembar, tapi apa ini?

Ia telah melintasi sebuah batas.

Ia adalah seorang monster.

Kemampuan dan kapasitasnya murni sejauh itu.

Pria yang dibawa Rem telah menebas menumbangkan ancaman bagi sukunya.

Fakta sederhana tersebut mengirimkan sebuah getaran menembus Hira.

"Aaaah."

Hira meletupkan sebuah erangan hangat.

Itu karena gadis itu merasakan sebuah getaran serupa seperti saat ia menerima keturunan suci.

Beberapa dari penyihir-penyihir merasakan getaran tersebut.

Para petarung yang melindungi Barat mengepalkan kepalan-kepalan tinju mereka.

Geomnarae mengetahui kemampuan Rem, jadi ia juga mengetahui bahwa Rem sendiri takkan pernah bisa menangani dua raksasa.

Karena itulah ia telah mengenakan zirah dan mengumpulkan totem-totemnya, bahkan dengan tubuhnya yang belum sembuh.

Tapi di sana, di depannya, ada seorang pria yang tidak murni bertarung di samping Rem, melainkan mengiris dan menebas menumbangkan dua raksasa oleh dirinya sendiri.

"Ia tidak murni sedikit lebih baik dibanding bajingan Rem tersebut," Geomnarae bergumam.

Itu bukan sedikit; celahnya jelas.

Tentu saja ia mengatakan demikian karena ia tidak mengetahui Rem saat ini.

Tapi Rem punya sebuah pemikiran serupa.

*'Ini membuatku agak tidak sabaran.'*

Kalah pada Encrid tidak masalah.

Tapi ini terlalu banyak.

Ia membutuhkan sihir.

Encrid sedang melangkah ke dalam wilayah yang tak diketahui, menggunakan pedangnya sebagai sebuah tongkat untuk melangkah maju.

Rem tak punya niat untuk murni menonton.

***

Pahlawan yang telah mengakhiri ancaman suku dengan bilah pedangnya menatap cakrawala, berbalik kembali, lalu membuat sebuah permintaan.

"Beberapa air untuk mandi."

Darah sang raksasa terasa secara tidak menyenangkan lengket.

"Penyelamat!" seseorang berteriak.

Antusiasme, gelora, hal semacam itu menyelimuti seluruh suku.

Itu panas.

"Yah, amboi. Ini adalah sebuah hari bagi burung fajar untuk menangis," Geomnarae menambahkan, menonton hal ini.

Burung fajar tidak menangis.

Itu adalah seekor burung yang memimpin dan menggerakkan matahari.

Bagi burung fajar tersebut untuk menangis berarti bahwa sesuatu yang luar biasa mengejutkan telah terjadi, dalam cara yang bagus.

Geomnarae duduk.

Untuk bertindak jujur, ia tak punya kekuatan untuk berdiri.

Kemudian, ia mulai cemas sedikit.

*'Aku memintanya untuk bertarung tanding.'*

Ia merasa seperti mungkin ia tak seharusnya melakukan demikian.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.