Bab 604 — Hati Nurani sang Knight
Esther menatap mata biru yang persis seperti miliknya.
Jika orang lain yang melakukan ini, dia tidak sekadar mencongkel mata mereka—tetapi mengambil lebih banyak lagi. Namun bagi pria ini, hal itu tidak masalah.
Hanya dengan sekali tatap ke matanya, dia memahami semuanya. Seperti yang diucapkan Encrid, tak ada niat terselubung selain mengembalikan suhu tubuhnya.
Matanya tidak memancarkan apa pun selain kejujuran tulus.
Terlebih lagi, dia ingat sempat memintanya untuk mendekapnya sebelum dia kehilangan kesadaran.
"Baiklah."
Esther berbicara sembari memeriksa kondisinya. Aliran sihir? Tak ada masalah.
Bagaimana dengan kutukan es yang membekukannya hingga ke tulang? Penggunaan sihir pinjaman secara berlebihan, yang mengalirkan hawa dingin glasial milik Del Grecher, kini telah sembuh secara ajaib. Kehangatan mengalir di sekujur tubuhnya.
"Aku tak apa-apa sekarang."
Esther bangkit dari tempat tidur, meraih jubah yang tersampir di kursi terdekat lalu mengenakannya.
Dari tempat Encrid duduk, dia melihat cahaya biru fajar menerobos jendela dan menerangi punggung wanita itu. Saat dia mengenakan jubah, beberapa bagian kulitnya yang terbuka sempat terlihat sekilas.
Kulit pucatnya seolah menyerap cahaya, dan suara lembut kain yang menggesek tubuhnya diiringi oleh aroma tipis—aroma khas wanita itu—yang tertinggal di ingatan Encrid setelah mendekapnya selama berhari-hari.
Aromanya bagaikan wangi malam yang sejuk di bawah hamparan bintang, dingin dan menenangkan. Jika dijadikan parfum, nama yang paling pas adalah 'Night Sky'.
Esther sedikit menggigil. Meski mengaku baik-baik saja, meninggalkan kehangatan pelukan Encrid membawa hawa dingin yang nyata.
Encrid, tanpa mengenakan baju, duduk di atas tempat tidur. Wanita itu harus mengakui bahwa kehangatan pria itu sangat menenangkan.
Dalam mimpinya, dia dikelilingi oleh kehangatan yang menyenangkan, berbaring di padang bunga.
Kehangatan, aroma, semuanya sangat menyenangkan.
'Cahaya matahari.'
Batinnya.
Aromanya mengingatkannya pada sprei yang baru dijemur dan tersiram sinar matahari, wangi yang masih tertinggal samar di hidungnya.
Saat Esther menatap Encrid yang memperhatikan dari tempat tidur, dia berbicara.
"Jaga matamu baik-baik."
"Tentu saja."
Kalimatnya dipadukan dengan lelucon ringan. Mengingat mimpinya memicu pemikiran yang tak perlu, jadi Esther berubah wujud menjadi seekor macan tutul.
Jubah itu melekat di tubuhnya, berubah menjadi bulu saat wujudnya menyusut menjadi binatang berkaki empat, meski mata birunya tetap tak berubah.
"Kenapa?"
Tanya Encrid. Macan tutul itu memberi isyarat dengan kepalanya, menandakan dia akan pergi lebih dulu, lalu melangkah ke luar.
Encrid memperhatikannya pergi sembari mengangkat bahu, ketika Luagarne, yang berbaring di tempat tidur terdekat, menggembungkan pipinya.
Itu adalah ekspresi yang mirip dengan senyuman bagi spesies Frog seperti dirinya, dan sekarang, Encrid sudah belajar membedakan ekspresi halus semacam itu.
"Dia malu."
Luagarne berbicara, pipinya masih menggelembung.
"Siapa?"
"Esther."
Penyihir Esther, Black Flower, yang terkenal dengan kebiasaan anehnya mencongkel mata siapa pun yang berani melihat tubuhnya.
Dan sekarang dia merasa malu? Encrid tak merasakan hal semacam itu sedikit pun.
"Pria tampan tak pernah menyadari dampak dari tindakan mereka. Ckck. Kau bersalah soal ini."
Luagarne menggembungkan pipinya lagi, sangat menikmati momen itu seolah menemukan hal yang amat menghibur.
"Kau bicara apa sih?"
"Bukan apa-apa. Cuma bilang rasanya menarik melihat bagaimana hal ini berkembang nantinya. Jangan khawatirkan aku. Kaum Frog tidak terlalu menghargai kasih sayang fisik. Jika aku menginginkan keturunan, aku bakal mencari Frog jantan yang cocok."
"Apa hubungannya dengan urusan ini?"
"Bukan apa-apa. Cuma bilang saja."
Luagarne mengulang kalimatnya. Encrid bertahan di kota selama satu hari lagi.
Kumpulan anggota sekte tampaknya telah lenyap sepenuhnya. Hal itu kemungkinan karena Frog seperti Luagarne selalu membuat kekacauan besar setiap kali mereka muncul.
Dengan dibubarkannya gilde kejahatan, beberapa preman muncul mencoba memungut uang keamanan, tetapi sang lord dengan cepat menangkap dan memecut mereka.
"Argh! Ampun, ampun! Aku bakal bekerja yang benar!"
Jeritan preman yang dihukum bergema di seluruh kota bagaikan musik latar untuk sementara waktu.
Pendekatan Lord Louis sangat tegas.
Setelah merapikan pasukannya, dia menyatakan bahwa mulai sekarang, setiap pembangkangan bakal dibalas dengan pukulan.
Itu bukan hal yang perlu Encrid campuri.
'Mereka bakal mengurusnya sendiri.'
Hal itu bukan lagi tanggung jawabnya.
Di dalam kediaman lord, ada beberapa perhiasan yang dikumpulkan dari para vampir dan administrator. Sang lord mengumpulkan semuanya jadi satu.
Encrid melihat kotak berisi perhiasan itu saat bersiap meninggalkan kota.
"Tolong terimalah ini."
Memang sudah sepantasnya dia menerima imbalan atas pekerjaannya. Karena dia menjalankan ini sebagai tugas, dia harus menerima komisinya.
Namun tak ada aturan yang menyatakan bahwa imbalan harus berupa perhiasan atau Krona.
Encrid paham bahwa sang lord bakal menghadapi rintangan yang tak terhitung jumlahnya di masa depan.
Untuk mengatasi rintangan itu, banyak sumber daya yang dibutuhkan.
Apa yang baginya sekadar imbalan mungkin mewakili sekali makan bagi sang lord dan kotanya.
Melihat hal ini, Encrid tak bisa menerimanya. Lagipula, dia percaya dia sudah mendapatkan imbalannya.
"Aku sudah menerima bayaranku."
"Aku takkan merasa tenang kecuali Anda menerimanya."
"Bukankah lebih baik ini digunakan untuk membangun kembali kota?"
Usaha sang lord sangat terlihat. Dia memaksakan diri untuk mengumpulkan kotak itu, yang bahkan tidak tertata rapi melainkan dipenuhi barang-barang berharga yang dilempar asal-asalan.
"Aku sudah menerima bayaranku."
Encrid mengulang perkataannya. Baru tadi malam, Delma mendatangi dirinya dan berkata:
"Terima kasih banyak."
Kata-kata itu memiliki nilai yang jauh lebih berharga baginya dibanding kotak berisi perhiasan itu.
Delma bukan satu-satunya. Setiap orang yang tahu apa yang telah dilakukannya datang kepadanya dan menyampaikan rasa terima kasih mereka.
"Terima kasih telah menyelamatkan anak saya."
Bahkan pemilik penginapan, yang membesarkan anak yang bukan darah dagingnya sendiri, mengucapkannya.
"Terima kasih banyak! Aku bakal mengajakmu naik perahuku lebih dulu begitu perahunya selesai!"
Seorang pria sederhana namun bijak pun menyampaikan terima kasihnya.
"Te-terima kasih."
Seorang ibu dari seorang anak menyampaikan kalimat serupa. Dan kini, sang lord membungkuk dalam-dalam lalu berkata:
"Terima kasih yang setulus-tulusnya, Sir Knight. Jika tiba harinya Anda membutuhkan bantuan saya, saya bakal memberikannya, bahkan jika harus mengorbankan nyawa saya."
Ketulusan sejati tak membutuhkan kata-kata untuk bisa dirasakan.
Bahkan jika waktu memudarkan warna ketulusan mereka, hal itu tak masalah.
Sebaliknya, waktu justru bisa memperdalam keinginan sang lord untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.
Semua ini baru bakal diketahui saat mereka terus menjalani hari esok mereka.
Setelah mendengar ucapan mereka, Encrid melangkah keluar dari kota. Meski harus berhadapan dengan tatapan waspada dan dingin, dia meninggalkan Cross Guard di belakangnya.
Tak semua mata menatap dengan ramah, tetapi Encrid merasa puas.
Kota ini masih bakal menyambut matahari besok.
Hal itu saja sudah cukup memuaskan.
* * *
Belakangan, Esther mengungkapkan bahwa dia telah membunuh seorang Apostle.
Tindakan ini memicu pergolakan di kalangan sekte di seluruh benua.
Mereka mulai menyusun rencana dengan cara-cara yang sangat berani.
Ini adalah sesuatu yang tak bisa diprediksi baik oleh Encrid maupun Krais.
* * *
"Wahyu telah datang. Inilah tugas yang diberikan para dewa kepadaku."
Overdeer akhirnya berhadapan dengan sang Archbishop yang telah mengkhianati dan memanfaatkan keagungan ilahi.
Di antara para Crusader yang melindunginya, dua Knight yang tercuci otak secara membabi buta baru saja dikalahkan.
"Sir Overdeer."
Archbishop itu adalah seorang wanita berusia lima puluhan. Ekspresinya penuh penyesalan saat dia berbicara dengan mata terkulai, berpura-pura sangat berduka.
"Mengapa Anda melakukan ini? Apa yang bakal Anda dapatkan dengan menentang Temple? Apakah ini sepadan dengan membuang seluruh kehormatan yang telah Anda bangun sebagai seorang Holy Knight?"
Dia berbicara tentang kehormatan Overdeer, tetapi kata-katanya mengisyaratkan sesuatu yang lebih dalam.
"Apakah benar-benar tak ada hal yang Anda sayangi? Tak ada sama sekali?"
Tanyanya lagi.
Di permukaan, kata-katanya mempertanyakan apakah hal ini sepadan dengan mengorbankan kehormatan seumur hidup. Tidakkah dia bisa membiarkan kebusukan itu menggeliat? Tidakkah dia bisa menonton dari tempat kekuasaan?
'Ah.'
Namun tidak, dia tak bisa melakukannya. Bahkan jika ini adalah kebebalan seorang pria tua.
Dia tak sanggup lagi menyaksikan apa yang telah dia bangun membusuk begitu saja.
"Wahyu, katamu."
Jadi dia menjawab.
Dengan kedua tangan meremas lehernya, Archbishop itu memejamkan mata.
"Terkutuklah siapa pun yang mengkhianatiku."
Bahkan saat tewas, sang Archbishop tersenyum tipis. Wanita yang benar-benar kejam.
Lehernya patah dengan patahan keras, lidahnya terjulur keluar, dan Overdeer tak memberinya waktu untuk melempar mantra—eksekusi instan.
"Fuh."
Overdeer menghela napas lega, setelah mengatasi rintangan besar.
Kediaman tua yang rapuh, lebih mirip reruntuhan, telah menjadi tempat sang Archbishop menggunakan sihir mirip kutukan untuk menyiksa banyak orang.
Dia memiliki kemampuan untuk mengendalikan siapa pun yang menghabiskan cukup waktu di dekatnya, bahkan dari kejauhan.
Dia menyebut kemampuan ini "Penance", tetapi Overdeer menyebunya "Siksaan".
Kemampuan itu memaksa korban untuk mencambuk diri sendiri, mencegah tidur, dan menolak makanan.
Itu adalah kekuatan yang mengubah praktik pertapaan sukarela menjadi penderitaan yang dipaksakan.
Mungkinkah hal semacam itu ada dalam sihir suci? Sama sekali tidak.
Itu adalah bentuk sihir hitam Barat yang dipadukan dengan kutukan.
Masalahnya adalah di antara mereka yang berada di bawah kendalinya ada Rona, istri Overdeer.
Saat Archbishop berbicara tentang kehormatan, dia secara halus mengancamnya dengan kenyataan ini.
Momen saat dia memutuskan untuk membongkar korupsi Temple, dia tahu istrinya Rona berada dalam bahaya.
Hal itu sangat menghancurkan hatinya.
Karena itu, dia membutuhkan seseorang baru—seseorang yang bisa bertindak menggantikannya.
Seseorang untuk menjalankan tugas sembari mengalihkan perhatian sang Archbishop.
"Apakah sudah selesai sekarang?"
Orang itu bertanya. Seorang pria yang sangat pas dijuluki Bear Beast karena tubuhnya yang raksasa. Kehadiran ilahinya jauh lebih besar dibanding milik Overdeer, dan tak ada seorang pun di Temple yang bisa menandingi bakatnya.
"Belum, ini baru permulaan."
"Tapi bagianku sudah selesai, kan?"
"Ya. Sekarang waktunya untuk tugas yang berbeda."
"Kau tak punya keraguan?"
Audin bertanya mendadak. Meski penampilannya gahar, dia adalah pemikir yang tajam. Overdeer paham maksud pertanyaan itu lalu bertanya balik.
"Maksudmu kemudahan tugas ini memicu kecurigaan?"
Dia merasakan hal yang sama. Semuanya berjalan terlalu lancar.
Sang Archbishop menampakkan diri dengan mudah, dan pertahanan para Crusader sangat lemah. Tak peduli seberapa ahli Audin, hal itu terasa terlalu mudah.
"Ya, benar sekali. Kakak tertuaku yang suka memamerkan istrinya."
Julukan Audin untuk Overdeer lahir dari kebiasaannya yang suka memamerkan istrinya.
Overdeer menganggapnya sebagai pujian. Dia hanya menjawab pertanyaan apakah dia memiliki keraguan tentang tugas yang terlalu mudah ini.
"Ini adalah tugas yang diperlukan. Bahkan jika ada seseorang yang mengaturnya dari belakang, hal ini tak bisa dihindari."
Jika dibiarkan, identitasnya bakal terbongkar, dan istrinya akan tewas setelah menderita penderitaan tanpa akhir. Dia tak bisa berhenti.
Bahkan jika dia harus kehilangan istrinya, dia harus bertindak.
Ini adalah soal melindungi apa yang telah dia bangun.
Bukan berarti kehilangan istrinya adalah hal yang sanggup dia tanggung. Kehadiran Audin yang tak terduga adalah berkah yang sangat dia syukuri.
'Semoga Tuhan membimbingku.'
Sembari Overdeer berdoa dalam hati, Audin mengangguk.
Ada bantuan dari balik bayangan selama misi mereka. Meski kelihatannya tidak sepenuhnya beritikad baik, tak ada yang bisa dia lakukan soal itu.
"Aku akan pamit sekarang."
"Jangan pergi terlalu jauh."
Demikianlah kemitraan singkat mereka berakhir. Audin pergi, dan nalurinya terbukti benar. Masalah muncul tepat sebelum dia mencapai Border Guard.
* * *
"Siapa yang mengikuti firman Tuhan? Siapa yang benar? Jika kalian tidak tahu siapa yang benar, jangan ikut campur. Aku sendiri yang akan menghukum mereka dan memulihkan kehendak Tuhan!"
Beberapa pendeta dari God of Abundance, beberapa dari God of War, beberapa dari God of Angels, dan bahkan sebagian dari para Crusader menyatakan perang suci.
"Biara yang mengkhianati Temple dan memanfaatkan sang saint demi keuntungan pribadi bakal menjadi target pertama."
Pasukan berkumpul di bawah panji perang suci, dengan konspirasi sekte yang tercampur di dalamnya.
Mereka dengan lancang menyerang tempat para Holy Knight berdiam.
Beberapa apostle dari sekte mulai bertarung dengan para Knight. Hal ini mencegah para Holy Knight untuk berpartisipasi dalam perang suci.
Ini bukan waktunya untuk memilih pihak. Mereka harus melindungi tanah tempat mereka berdiri.
Setiap tindakan memiliki tujuan, tetapi tujuan sekte masih belum jelas.
Namun jika direnungkan, memicu perang suci sangat menguntungkan mereka.
Holy Kingdom saling mencabik dari dalam, menggerogoti dagingnya sendiri.
"Aku bakal menyapu bersih para anggota sekte terutuk ini dari muka bumi."
Kemunculan para apostle memicu para pemuda yang taat dan Cult Extermination Order untuk bertindak.
Di tengah hal ini, rumor menyebar bahwa seorang Holy Knight telah tewas.
Rumor mengklaim bahwa apostle dari Demon Realm Cult adalah pelakunya.
Hal ini mencegah dua faksi keimaman untuk mengintervensi perang suci secara efektif.
Holy Kingdom, yang diperintah oleh Temple, terdiri dari tiga kota besar, yang semuanya jatuh ke dalam kekacauan.
Di tengah kekacauan ini, Muel, salah satu dari Seven Apostles of Abundance, yang menyatakan dirinya sebagai calon Pope berikutnya, bergerak menuju biara yang telah dia targetkan.
Pasukan suci baru ini mengeluarkan surat pengampunan dosa, menyatakan secara terbuka bahwa mereka mencakup dua Holy Knight di dalam jajaran mereka.
Jika terus begini, sebuah Temple baru yang dipimpin oleh Muel berada di ambang pembentukan.
"Kami mengabdi pada Gray God."
Mereka dengan berani menyatakan cahaya yang telah hilang sebagai hal yang suci. Mereka benar-benar sudah gila.
Mereka telah menciptakan Tuhan dan agama baru dari ketiadaan.
Bahkan di dalam Temple, mereka yang memancarkan cahaya ilahi abu-abu samar terkadang berkumpul, dan kini hal itu menjadi kenyataan.
Namun, karena beberapa dari individu ini adalah bagian dari elite Temple, situasinya makin memuncak.
"Orang-orang ini benar-benar sudah kehilangan akal sehat."
Tak sanggup mengabaikannya lagi, Overdeer mengorganisir pasukan lalu bergerak.
Noah, yang memimpin biara, memilih untuk mengurung diri di dalam struktur mirip benteng milik biara. Pasrah dan tewas konyol bukanlah sebuah pilihan.
Muel mengumpulkan pasukannya lalu berbaris menuju biara Noah. Jumlahnya bertambah setiap hari, dan dia menghiasi pasukannya dengan julukan 'Gray Holy Army'.
"Aku bakal membakar daging kalian dan mempersembahkannya sebagai kurban bagi Gray God."
Dia menyatakan bahwa dia takkan meminta pengampunan dari biara.
Pada titik ini, iman mereka telah sangat menyimpang dari God of Abundance hingga menjadi agama yang sepenuhnya berbeda.
Namun, seperti kereta yang meluncur deras di jalan menurun, tak ada cara untuk menghentikannya.
Tak ada seorang pun yang sanggup mengintervensi.











