Eternally Regressing Knight

Bab 613 — Tebasan sang Jenius

2136 Kata

Bab 613 — Tebasan sang Jenius

Lawford memiliki bakat untuk mengamati pertempuran dengan perspektif yang luas, seolah menatap ke bawah dari atas, sebuah keterampilan yang telah dia asah melalui gaya bertarung terperincinya.

Sejak awal pertempuran, dia telah menganalisis musuh melalui sudut pandang yang luas ini.

Dia sudah menyadari adanya celah dalam formasi para crusader, tetapi dia kekurangan kekuatan murni untuk memanfaatkannya.

Namun kini, dia memiliki bilah pedang yang sanggup mengisi kekurangannya.

Lawford mulai mengalkulasi beberapa faktor.

Tebasan eksplosif milik Pel, elemen yang dibutuhkan untuk memanfaatkan celah-celah itu, kekuatan dan kecepatan, serta waktu yang tersedia untuk setiap gerakan.

Setelah memperhitungkan segalanya, dia mendadak melesat ke samping, berteriak menyuarakan sesuatu yang tampak impulsif dan nekat.

"Bakal kubunuh kau pasti!"

Tampak seolah dia sedang menerjang ke arah crusader berjanggut kambing, didorong murni oleh impulsivitas.

Keneokatan yang tampak ini menciptakan celah dalam pertahanan Lawford, dan musuh pun melancarkan serangan.

Brak! Klang! Cras!

Lawford membendung bilah melengkung yang datang dengan bagian pipih pedangnya dan memutar tubuhnya untuk mengelak dari gada berduri.

Meski mengelak secara tipis, duri-duri pada gada merobek sebagian kecil dari jubahnya.

Inilah momen yang telah ditunggunya.

Lawford melemparkan potongan jubah yang terobek ke arah mata seorang crusader.

Crusader berjanggut kambing bukanlah target sebenarnya.

Targetnya adalah seorang crusader tingkat Junior-Knight yang telah mencari celah untuk mendaratkan tusukan mematikan.

"Kau!"

Saat dia berteriak pada crusader berjanggut kambing, Lawford mengumpulkan Will miliknya lalu melepaskan seruan mirip jeritan perang.

Itu adalah unjuk kekuatan, tetapi tujuannya lebih bersifat psikologis daripada praktis.

Kombinasi dari lemparan potongan jubah dan teriakan mendadak membuat niatnya tampak begitu jelas.

Tampak seolah dia benar-benar berniat menyerang crusader berjanggut kambing.

Semua ini terjadi dalam rentang satu hembusan napas.

Para Junior-Knight secara alami memiliki indera yang makin tajam di luar penglihatan, jadi benteng visual sesaat tidaklah melumpuhkan.

Namun perbedaan antara melihat dan tidak melihat tetaplah sangat signifikan.

Sang Junior-Knight merasakan momentum yang membumbung dari Lawford dan secara refleks berfokus padanya, menyiapkan senjatanya sebagai respons.

Secara eksternal, tampak seolah dia hanya sedikit menyesuaikan sudut lengan dan kakinya, tetapi secara internal, dia sudah mulai menyiapkan langkah berikutnya.

Gangguan sesaat itu menciptakan celah kesempatan yang sangat tipis.

Tepat sebelum Lawford berteriak dan berpura-pura menyerang crusader berjanggut kambing, dia bergumam dalam hati, 'Sekarang.'

Seolah Pel bisa membaca pemikiran Lawford, dia bergerak tepat pada momen tersebut.

Pel menangkap kesempatan singkat yang diciptakan Lawford dengan nalurinya yang tajam.

Dalam pertempuran, keputusan dan tindakan terjadi dalam sekejap mata.

Pel berfokus sepenuhnya pada momen krusial ini.

"Kau punya posisi yang bagus untuk menemukan celah, tapi apa yang bakal kau lakukan jika tak ada celah yang ada? Kau perlu belajar bagaimana mengalkulasi pertarunganmu dengan lebih baik."

Ini adalah nasihat yang pernah diterimanya dari Encrid.

Itu adalah pelajaran paling berharga bagi Pel, bahkan jika bagian berikutnya dari komentar Encrid lebih menempel di benaknya.

"Tapi lakukan apa pun yang kau mau. Tak ada yang menghentikanmu, kan?"

Jujur saja, Pel jauh lebih menyukai bagian kedua dibanding yang pertama.

Bagian pertama sangat lugas dan lebih mudah diikuti, tetapi Pel tak punya keinginan untuk menapaki jalan yang umum.

Pel tidak berjuang kesulitan menemukan celah.

"Tak ada celah? Kalau begitu aku bakal menciptakannya sendiri."

Setiap orang punya jalan mereka sendiri, dan Pel tidak berbeda.

Encrid telah menghormati hal itu.

Dan kini, Pel menampilkan apa yang telah didapatkannya di sepanjang jalan itu.

Dia merendahkan badannya lalu menerjang ke depan dengan kaki kirinya, menjaga posisinya tetap rendah dekat ke tanah.

Dalam posisi ini, Pel menebas ke atas dengan pedangnya.

Dia memutar dan memampatkan seluruh otot di tubuhnya, menghasilkan kekuatan eksplosif, yang makin diperkuat dengan willpower miliknya.

"Kau tak bakal bisa mengelak dari ini."

Pel mengunci lawannya di dalam benaknya, mengarahkan willpower miliknya untuk menguatkan kecepatannya.

Fokus yang teguh diterjemahkan menjadi kekuatan di dalam tebasannya.

Willpower adalah kekuatan tak kasatmata, dibangun di atas fondasi tekad seseorang.

Tebasan Pel dari bawah menciptakan tirai perak yang seolah membumbung bagai letupan air dari sumber mata air bawah tanah.

Cras! Brak!

Pedang Pel memotong menembus sang crusader dari selangkangan hingga ke rahang.

Rahang yang terputus memperlihatkan lidah yang terbelah dua secara vertikal.

Kecepatan tebasan menyisakan luka yang terlihat pada sang crusader sebelum darah bahkan sempat tumpah.

Jika sang crusader tidak teralih perhatiannya oleh serbuan tipuan Lawford, dia mungkin bakal membendung atau setidaknya selamat dari tebasan mematikan itu.

Namun semua itu hanyalah kilas balik sekarang.

Begitu tewas, tak masalah bagaimana hal itu terjadi.

Pel, energinya terkuras, mundur dengan kecepatan kurang dari seperempat dari kecepatan menerjangnya.

Cras!

Barulah darah menyembur deras dari tubuh crusader yang terbelah.

Beberapa crusader lainnya secara refleks mengayunkan senjata mereka ke arah Pel.

Sebuah gada dengan bola besi berduri meluncur turun ke arah kepala Pel.

Klang!

Lawford membendungnya.

Pedang, gada, palu, dan tombak yang datang semuanya dibuang atau dielakkan oleh Lawford.

Pelindung bahu kulitnya robek, dan bagian-bagian dari zirah rantainya rusak.

Dia menderita luka-luka ringan dan sedikit berdarah di bagian lengannya, tetapi tak ada luka yang mengancam nyawa.

Lawford telah membeli waktu sebanyak empat setengah hembusan napas.

Selama rentang waktu ini, Pel mengatur napasnya dan pulih kembali.

"Aku bakal masuk lagi."

Lawford berkata tanpa menoleh ke belakang, tubuhnya masih panas oleh sensasi pertempuran.

Pel merasakan hal yang sama. Alih-alih membalas, dia menepuk punggung Lawford.

Meski mereka saling membenci, keduanya membagi ikatan kawan bertarung di bawah bimbingan Encrid.

Dalam momen-momen seperti ini, sangat alami bagi mereka untuk bertarung bersama.

Dalam satu tebasan tunggal, mereka membungkam para crusader yang mengejek.

"Kalian bajingan-bajingan gila."

Hanya satu orang, yang tampaknya menjadi pemimpim mereka, sanggup bergumam melontarkan hinaan.

Dari perspektifnya, jika pertukaran mereka sebelumnya berjalan sedikit berbeda, penyerang pertama pasti sudah tewas.

Tentu, itu adalah tebasan yang sangat mengagumkan, tetapi juga sangat nekat hingga berisiko langsung tewas jika gagal.

Bagi seseorang yang terbiasa dengan taktik kelompok, tingkah laku semacam itu tidak bisa dipahami.

Biasanya, para petarung menyisakan sebagian kekuatan untuk pertahanan jika ada hal yang tak terduga.

Siapa yang bertarung seperti ini? Ini adalah kegilaan di luar batas kelancangan.

Sang pemimpin hanya bisa merasakan ketidakpercayaan.

"Bentuk formasi roda!"

Perintahnya.

Pel berfokus mendapatkan kembali napasnya. Lawford mulai mengalkulasi lagi.

Keduanya menyelaraskan kekuatan mereka untuk sebuah momen singkat.

Kemenangan tidak terjadi secara seketika, tetapi arus pertempuran mulai berbelok.

Sementara itu, Gray Holy Army berhadapan dengan Encrid.

Angin dingin bertiup di antara kedua kelompok, memotong melintasi medan perang.

Jika angin memiliki kesadaran, angin itu bakal terpana, menyaksikan mereka secara intens.

Tepat sebelum Lawford, Pel, dan Teresa masing-masing mempertahankan posisi mereka, Encrid telah bertukar kata-kata dengan musuh, meninggalkan salah satu lawan, Muel, tampak sangat terpukul.

* * *

"Tampaknya kelimpahan telah bermukim di perut dan dagumu."

Kata-kata pertama Encrid saat menuruni lereng sangat tajam.

"...Apa?"

Muel, sosok sentral dari kekuasaan biara dan salah satu dari Seven Apostles of Prosperity, tak pernah mendengar hinaan semacam itu sebelumnya.

Tidak dalam satu dekade terakhir.

Bahkan saat para pendeta dan crusader di bawah komandonya makin kasar dalam berbicara, Muel sendiri menahan diri dari tingkah laku semacam itu.

Siapa yang berani berbicara padanya dengan cara ini?

"Kau sedikit gemuk."

Encrid mengulang perkataannya.

Hinaan yang lugas itu sebenarnya bisa diabaikan, tetapi nada suara sang pembicara membuatnya sangat mengganggu.

Mungkin alami bagi Muel untuk merasa seperti ini karena kata-kata itu datang dari seseorang yang telah mengganggunya sejak tadi.

Makin memperburuk keadaan, orang-orang di dekatnya yang mengenakan mantel bulu dan bersenjatakan pedang raksasa ikut terkekeh.

"Hati yang buruk melahirkan lemak yang buruk."

Frog menambahkan, makin memprovokasi Muel.

"Mungkin bakal lebih baik jika hatimu tumbuh melimpah lebih dulu, Saudara."

Sosok raksasa bagai beruang lainnya ikut menimpali, menambahkan rasa kekesalan Muel yang makin membesar.

Muel tak pernah dikenal atas kesabarannya.

Pada momen itu, dia tak menginginkan apa pun selain menghancurkan kepala mereka dengan gadanya.

Dan dia tak melihat alasan untuk menahan kelancangan semacam itu.

"Kalau begitu, tak ada gunanya berbicara. Mereka yang dikuasai roh-roh jahat hanya perlu dihancurkan dengan gada."

Muel mendeklarasikan, mencap mereka sebagai demonic dan korup.

Namun tak satu pun dari mereka yang tampak peduli.

"Siapa yang mau menahan mereka sepenuhnya di luar?"

Encrid bertanya.

Tanpa berbicara, Ragna melangkah ke depan, berjalan lima langkah ke sisi kiri kelompok.

"Itu sisi kiri, bukan depan."

Rem menunjuk.

"...Apa?"

Ragna berhenti lalu berbalik, mempertanyakan Rem dengan ekspresi bingung.

"Kau tak bisa membedakan antara kiri dan depan, dasar barbarian?"

Rem, gemas oleh ketidakpedulian Ragna, mengamuk.

"Bolehkah aku memukulinya sebelum kita mulai?"

Rem bertanya serius.

"Tidak, tidak boleh."

Encrid menggelengkan kepala.

Ketiadaan ketegangan dalam pertukaran mereka makin membuat Muel jengkel.

"Apakah kalian cuma bakal berdiri di sana dan menonton?"

Suara Muel, meneteskan amarah, berseru pada anak buahnya.

Beberapa individu melangkah ke depan dari Gray Holy Army.

Langkah kaki mereka yang percaya diri, tatapan mengalkulasi, dan posisi mengancam secara halus membuat mereka langsung menonjol.

Audin berkomentar saat mengamati mereka.

"Tidak heran Sir Overdeer meratap."

Kata-katanya memicu Encrid untuk secara diam-diam bertanya apa maksudnya.

"Di tengah perang yang menuntut persatuan, keputusan untuk memecah belah pasukan dengan cara ini pasti sangat membakar emosinya."

"Hati-hati, beruang besar!"

Rem menggeram, menarik kapaknya.

Ada empat Knight yang diduga sebagai crusader, dan kehadiran murni mereka menekan semua orang.

Namun saat Rem menarik kapaknya, aura menekan itu hancur berkeping-keping.

Dalam kontes kekuatan tak kasatmata, sihir sering kali unggul atas willpower, dan momen ini seakan memvalidasi gagasan tersebut.

Rem tampak siap menghadapi mereka semua sendirian, memancarkan rasa pembangkangan yang luar biasa.

"Simpan ceramahmu untuk belakangan, Saudara. Jangan belagu cuma dengan sebuah kapak."

Komentar Audin.

"Ceramah gundulmu."

Rem membalas dengan cibiran.

Audin telah berjanji untuk mendidiknya begitu kembali, dan komentar Rem adalah sindiran sarkastik pada janji itu.

"Kalian semua tampak cukup santai, para crusader."

Salah satu Knight, yang dijuluki 'Bone-Breaking Serpent' dari Libra God, berkomentar sembari membungkus pergelangan tangannya dengan kain.

"Apakah kalian sudah mempertaruhkan kemenangan kalian?"

Knight yang sama, Azratic, bertanya lagi, nada suaranya berat oleh ejekan.

Encrid sudah pernah mendengar pertanyaan ini sebelum mereka datang kemari.

Dia tak perlu menjawabnya lagi, tidak untuk mereka.

Encrid telah memantapkan posisinya, baik dalam kata-kata maupun di dalam hatinya.

Di hadapan mereka, aura mengancam dari para crusader dan kehadiran Gray Holy Army yang membayang tidak membuatnya gentar.

"Yang ini milikku."

Audin melangkah ke depan, menghadapi Azratic dengan tangan yang terbungkus sarung tangan besi perak yang baru dikenakan.

Yang lainnya sudah bersiap untuk bertindak, tak peduli apa yang dikatakan.

"Tak ada yang boleh melewati titik ini."

Ragna mendeklarasikan.

Kata-katanya mengusung bobot dan kejelasan sedemikian rupa hingga semua orang, termasuk Encrid, berbalik menatapnya.

Saat Audin dan Azratic saling mengunci mata dalam adu pandang diam, dan Encrid menghadapi seorang Knight yang mengayunkan polearm, Ragna secara tenang melangkah ke samping, menjaga rusuk kiri.

Ragna tertarik oleh apa yang diistilahkan Encrid sebagai 'Iron Wall'.

Encrid telah menciptakannya dengan berfokus pada willpower miliknya untuk memproyeksikan Intimidation yang luar biasa.

Bisakah Ragna mereplikasinya?

Apa yang bisa dia lakukan?

Haruskah dia mencoba teknik yang sama seperti Encrid?

Hal itu membutuhkan pencurahan willpower kasar secara terus-menerus untuk mempertahankan kehadiran yang tak mau menyerah.

Itu bukanlah pendekatan yang disukai Ragna.

Bukan hanya hal itu berada di luar kemampuannya dengan willpower miliknya saat ini, tetapi hal itu juga kekurangan keanggunan.

Pernyataan tunggal Ragna telah menarik perhatian semua orang, termasuk musuh.

Beberapa komandan mengepalkan rahang mereka, otot-otot yang terlihat makin mengencang, saat salah satu dari mereka memberikan perintah.

"Tembak!"

Brak, brak, brak!

Puluhan anak panah busur meluncur ke arah Ragna dalam jarak dekat.

Wush.

Ragna mengayunkan pedangnya.

Tak ada gerakan persiapan yang terlihat.

Bagi mata biasa, tampak seolah pedangnya muncul begitu saja dalam gerakan.

Pada kenyataannya, dia telah menyesuaikan genggamannya, membuka posisinya, dan memiringkan tubuhnya sebelum mengayun.

Bilah pedangnya menyapu udara, menciptakan benteng angin sebelum anak panah bisa mencapainya.

Bum!

Suara angin yang diciptakan oleh pedangnya sangat memekakkan telinga, hampir meletup.

Letupan angin itu mengalihkan lintasan anak-anak panah yang datang.

Seolah-olah angin pedangnya telah menjadi sebuah perisai.

Itu adalah pencapaian luar biasa, jauh dari kata sederhana untuk dieksekusi.

Azratic, yang menonton, mengakui pada dirinya sendiri bahwa keterampilan semacam itu berada di luar kemampuannya.

"Tetap di bawah. Jika kalian bangkit, kalian bakal tewas."

Setelah membuang anak-anak panah dengan apa yang tampak seperti sihir, Ragna mengucapkan kata-kata ini.

Dia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan lalu memutar bahu dan pinggulnya ke kiri.

Posisi yang ditampilkannya tak diragukan lagi adalah untuk tebasan horizontal.

"Aku sudah memperingatkan kalian."

Dengan itu, dia menerjang ke depan, mengayunkan pedangnya.

Itu bukanlah tebasan biasa.

Ragna, seorang pesilat pedang jenius, menerapkan segala hal yang telah diamati dan dipelajarinya.

Petarung kasar namun brilian ini menggunakan teknik-teknik yang telah disaksikannya lalu mengadaptasinya ke dalam gayanya.

Dia menerjang dari kiri ke kanan, kecepatannya menandingi kuda yang sedang melesat.

Pedangnya bagaikan gilotin, sanggup memotong menembus apa pun.

Gerakan menyapu dari tebasannya mengukir lengkungan panjang, sebuah teknik yang dipelajarinya dari Oara.

Itu adalah sesuatu yang telah dikuasai Encrid, yang kemudian diamati dan diintegrasikan secara mulus oleh Ragna.

Cras! Brak! Krak! Splinter! Dum!

Kakofoni suara menyatu menjadi raungan yang memekakkan telinga.

Serangan bertubi-tubi dari teknik Oara, dipadukan dengan getaran yang dipelajari dari Varna of Aspen, membuat serangan itu tak bisa dihentikan.

Masalahnya adalah ini barulah tebasan pertama.

Saat Ragna mencapai rusuk kanan, dia berbalik lalu menerjang ke kiri lagi, mengulang tebasan mematikan yang sama.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.