Eternally Regressing Knight

Bab 633: Tangga menuju lantai bawah

2167 Kata

Bab 633: Tangga menuju lantai bawah

Di tangan kanannya tergenggam Silver Sword, dan di tangan kirinya, Ember.

SIING!

Silver Sword yang ditarik dari pinggang kirinya memancarkan binar halus saat menyabet miring.

Di saat bersamaan, Ember yang dihunus dari pinggang kanannya melesat menusuk ke depan.

Satu sabetan dan satu tusukan—gerakan sederhana, tetapi dengan kecepatan tinggi, keduanya berubah menjadi sabit pencabut nyawa.

Encrid mengulang kombinasi sabetan dan tusukan yang sama sekali lagi.

Tebasannya sangat sempurna, menusuk dan menebas leher musuh dengan presisi mutlak.

Di dalam kegelapan, empat pelayan lancang yang datang menyambut tamu mereka kehilangan kepala atau mendapati tubuh mereka terlubangi telak.

Sementara itu, Will miliknya menyapu matanya secara halus, membantu penglihatan malamnya.

Perbedaan antara seorang Junior-Knight dan Knight terletak pada penggunaan Will—entah itu dilakukan secara sadar atau tidak sadar.

Encrid, pada momen ini, secara tidak sadar memanfaatkan Will miliknya, menggunakannya demi keuntungannya sendiri.

Meski ia tak sanggup melihat musuhnya secara sempurna seperti beberapa Fairy yang memiliki penglihatan pendeteksi panas, ia bisa samar-samar menangkap wujud mereka.

Empat mayat tenggelam. Tubuh mereka yang membengkak roboh beruntun.

CRASH!

Suara jasad yang ambruk, sensasi lendir basah di bawah sol boot-nya, dan aroma busuk yang lembab makin mempertajam indranya.

*'Air?'*

Labirin ini terasa sangat lembab.

Namun tak berhenti di situ.

Sensasi pengap dan menekan yang amat berat menyusul kemudian.

*'Tempat ini menekkanku.'*

Sesuatu mencoba menekan Will milik Encrid.

Udaranya sendiri seolah beracun, dan tekanan berat di bahunya seolah mendesaknya untuk segera angkat kaki.

Singkatnya, tempat ini dipenuhi dengan ketidaknyamanan dan niat jahat—bahkan ada sesuatu yang secara aktif menekan Will pengunjungnya.

Namun hal itu hampir tak berdampak pada Encrid.

Ia adalah seorang Knight yang secara naluriah menguasai Will of Rejection.

Meski bukan bentuk penangkal sempurna, itu sudah lebih dari cukup untuk menahan pengaruh negatif tersebut.

Yang tersisa hanyalah udara lembab, aroma busuk menyengat, dan atmosfer yang suram.

Tak lama setelah Encrid memberikan ketenangan abadi pada empat pelayan mayat tenggelam itu, Pel, Luagarne, dan para Fairy menyusul masuk.

"...Bau busuknya sungguh tak tertahankan," gumam Pel.

Domba-domba yang digembalakannya di Wilderness memang berbau kotoran, tetapi bau busuk di sini jauh lebih mengerikan.

Ia juga merasakan energi jahat serupa yang dirasakan Encrid.

Tangannya secara naluriah menjangkau gagang Idol Slayer.

"Suasananya menekan dan suram," tambah Luagarne sembari mengamati sekeliling.

Meski kegelapan di sini jauh lebih pekat dibanding malam tanpa bulan, mereka masih bisa menangkap wujud samar area sekitar.

Indra mereka yang lain tetap sangat tajam, walau tanpa adanya cahaya.

Salah seorang Fairy mengeluarkan sebuah batu kecil, dan binar halus mendadak menerangi area sekitar.

Cahayanya memang tak terlalu terang, tetapi sudah lebih dari cukup.

Para Fairy, berdasarkan kodratnya, terlahir dengan penglihatan malam yang luar biasa, dan beberapa bahkan sanggup mendeteksi suhu panas.

Beberapa orang dalam kelompok ini memiliki kemampuan tersebut.

Meski begitu, keberadaan cahaya sangat membantu meningkatkan jarak pandang.

Batu berbinar itu bukanlah sesuatu yang disiapkan khusus untuk kelompok Encrid, melainkan sudah menjadi bagian dari perlengkapan standar mereka.

"Kau langsung bertarung begitu sampai di sini?" tanya Bran mendekat sembari menyalakan rokoknya yang lain.

Ia memetik batu pemantik, dan dedaunan rokoknya mendesis saat menyala, memercikkan api halus ke udara.

Aroma tembakau hangat yang mengepul sedikit mendesak mundur bau busuk labirin.

"Apakah kau pernah ke sini sebelumnya?" tanya Encrid.

"Pernah sekali."

"Ah."

"Aku di sini bertindak sebagai pemandu."

Labirin ini jauh lebih luas dari kelihatannya, cukup lapang untuk menampung postur raksasa milik Bran.

Meski Encrid tak menyangka akan menjelajahi gua seperti ini, hal itu tak akan mengubah apa pun walau ia sudah mengetahuinya sejak awal.

Pintu masuk labirin berupa terowongan lembab tak beraturan yang dikelilingi dinding batu kapur yang kasar.

"Lady Sinar pasti ingin kau berbalik arah bahkan hingga saat ini," ucap salah seorang Fairy wanita.

Ia membawa pedang yang mirip Ember di pinggangnya.

Tak jelas apakah ia berbicara atas nama Sinar, menguji tekad Encrid, atau sekadar menyuarakan kekhawatirannya sendiri.

Fairy wanita ini sangat mahir menekan emosinya.

"Wanita itu memang keras kepala dan tak pernah mau mendengarkan orang lain," jawab Pel mewakili Encrid.

Perkataannya tidak salah.

"Ayo jalan," ajak Encrid melangkah maju.

Udara yang menekan, bau busuk menyengat, dan atmosfer suram hanyalah rintangan kecil, sangat jauh untuk bisa disebut sebagai dinding pembatas.

Fairy yang memegang batu berbinar mengangkat bahunya lebih tinggi.

Jika mayat-mayat tenggelam dan manticore tadi bisa menjadi petunjuk, monster-monster di sini tak akan berhenti berdatangan.

Dan perkataan itu terbukti benar.

"GRAAAAR!"

Raungan mengerikan yang diiringi aroma daging membusuk bergema menembus terowongan.

Sesosok monster melompat dari kegelapan di balik jangkauan cahaya.

Padahal mereka belum melangkah jauh, baru saja memutari satu sudut terowongan, sebelum makhluk lain mendadak muncul.

"Mayat tenggelam bercampur dengan human-faced hound," amati Luagarne dengan persepsi khas miliknya.

Meski tak butuh usaha keras untuk mengidentifikasinya, wujud mereka memang persis seperti yang digambarkan.

Kulit terkelupas akibat terendam air mengucurkan cairan saat puluhan binatang berkaki empat itu menggeram dan memutar manik mata hitam mereka.

Mereka membentuk benteng di hadapan rombongan Encrid.

Apakah itu sebuah ancaman? Tidak juga.

"Kami yang akan membereskannya," ucap Bran melangkah maju.

Tentu saja kelompok ini tidak bodoh.

Mereka telah bersiap untuk menghadapi labirin ini.

Para Fairy swordsmen yang telah menempa tubuh mereka sebagai senjata adalah buktinya.

Encrid bersedekap, mengamati keterampilan mereka dari belakang.

Sudah waktunya untuk menilai kekuatan para sekutunya.

Gaya bertarung bangsa Fairy adalah simbol dari efisiensi murni.

Bran sang Woodguard, dan tiga Fairy lainnya—Brisa, Arcoiris, dan Zero. Zero adalah Fairy berbadan tegap yang pernah mengajak Encrid berduel saat pertama kali tiba di kota.

Selain Bran, keterampilan Zero terasa paling menonjol.

"Lumayan juga," komentar Luagarne.

Encrid mengangguk setuju.

Zero melompat maju, menghunus Nai—mata pedang khas milik klan Fairy.

Saat menerjang maju, ia menyalurkan tenaga dari pergelangan kaki, lutut, pinggang, bahu, hingga ke pergelangan tangannya ke dalam satu sabetan.

Mata pedangnya seolah melengkung saat membelah udara.

Di bawah binar batu bersinar, tebasannya membelah human-faced hound menjadi dua bagian telak.

CRASH!

Meski ada cahaya, darah hitam monster itu tetap membasahi lantai.

Lantai yang tadinya sudah lembab kini makin basah oleh cairan.

"Dia bertarung sembari memikirkan gaya bertarungmu," amati Luagarne.

Sabetan Zero memang menyerupai tebasan Encrid saat menghabisi manticore sebelumnya—tidak identik, tetapi mirip secara bentuk.

*'Apakah dia berbakat secara alami?'*

Para Fairy menyerap kekuatan mereka dari energy. Namun meski tak sanggup menggunakannya di sini, sabetan pedang Zero tak menunjukkan keraguan sedikit pun.

Dua Fairy lainnya tak kalah mahir.

Encrid merasa seolah sedang memakai belenggu berat di pergelangan kakinya.

Meski Will of Rejection mendesak mundur aura yang menekan, udara labirin tetap terasa memberatinya.

*'Mereka sangat cepat.'*

Langkah kaki mereka ringan, dan sabetan pedang mereka sangat tajam.

Zero berfokus pada tebasan kuat yang mematikan, sementara dua Fairy lainnya mendaratkan luka-luka kecil tanpa memaksakan diri secara berlebihan.

Tanpa kata-kata, gestur, atau sinyal khusus, mereka bergerak lincah bagai saudara kembar.

Satu orang sengaja membiarkan punggungnya terbuka memancing serangan, sementara yang lain dengan cepat menebas musuh yang terpancing mendekat.

*'Mereka sengaja meninggalkan celah untuk memancing serangan, lalu memanfaatkan naluri monster untuk menebas titik lemah mereka.'*

Itulah taktik mereka.

Menyerang ke depan selalu meninggalkan area belakang terbuka, dan mereka memaksa para monster untuk bergerak dalam pola tersebut.

Sederhana secara teori, tetapi sangat sulit dalam eksekusinya.

Bran sedikit lebih khusus dibanding para Fairy lainnya.

Gaya bertarungnya sangat sederhana jika dibandingkan dengan yang lain.

GRRRR!

Seekor human-faced hound menerjang Bran, menancapkan taringnya ke lengan raksasa pohon tersebut.

Namun giginya tak sanggup menembus pelindung menyerupai kulit kayu milik Bran.

Saat monster itu mengginggit, kepalan tangan kayu raksasa milik Bran menghantam kepalanya.

BUMM!

Pukulan itu tidak cepat atau megah, tetapi tenaga yang dibawanya sebanding dengan kekuatan seorang Giant.

Kepala sang monster hancur berantakan hanya dalam satu kali hantaman.

Metode Bran sangat lugas—

*'Tahan hantaman lalu balik menghantam.'*

Tubuh Woodguard menyerupai kulit kayu tebal, jauh lebih tangguh dibanding zirah pelat besi dan mengover hingga ke organ dalam.

Terlahir sebagai kayu hidup, para Woodguard secara alami dibentuk untuk ketahanan fisik yang luar biasa.

Apakah mereka bahkan memiliki organ dalam?

Jika bagian luar tak sanggup dihancurkan, maka menyerang bagian dalam adalah jawabannya.

Pemikiran itu muncul secara refleks dalam benak Encrid, bahkan tanpa adanya kebutuhan mendesak untuk bertarung melawannya saat ini.

Kemudian, Zero bergabung bersama para Fairy lainnya.

Meski lebih dari dua puluh ekor mayat terendam serangan datang meluncur, Encrid tak pernah perlu turun tangan.

Ia hanya mengamati pertarungan mereka, dan tanpa diduga, pemahaman baru mendadak menyapa pikirannya.

*'Zero.'*

Fairy ini mengayunkan pedangnya berlandaskan insting, bukan akal sehat.

Ia mematikan emosi dan menutup pikirannya, menyisakan pemikiran bertarung murni saat bertarung.

Namun di saat yang sama, ia masih tetap berpikir.

Pemikiran bertarung naluriah dan penilaian rasional tak bisa berdampingan secara bersamaan, tetapi Zero tampaknya sanggup mengelola keduanya.

*'Bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan?'*

Dalam hal pengalaman bertarung, tak ada seorang pun di benua ini yang bisa menandingi Encrid.

Pikirannya terpacu pesat saat menganalisis teknik yang digunakan oleh para Fairy tersebut.

Tidak, ini lebih dekat pada rasa takjub: ia benar-benar terserap, secara tidak sadar mempelajari metode mereka.

Hal ini mirip dengan cara Ragna bertindak.

Perbedaannya adalah Ragna bisa langsung memahami teknik secara instan, sementara Encrid harus mengurai alasan dan proses di baliknya.

Dan itulah yang tepat dilakukannya saat ini.

Proses itu tak memakan waktu lama. Meski pikirannya terpacu pesat, hanya sedikit waktu fisik yang berlalu.

Encrid memahami pola taktis di balik gaya bertarung para Fairy.

*'Aku menggunakan pemikiran terpacu.'*

Dari sudut pandang orang luar, ia tampaknya sedang memikirkan puluhan hal secara bersamaan.

Namun secara internal, prosesnya bersifat linier: ia hanya berpikir dengan kecepatan yang amat tidak wajar.

Namun apa yang diperlihatkan oleh para Fairy justru berbeda.

*'Silver Sword di tangan kanan, Ember di tangan kiri.'*

Itu seperti mengendalikan dua pedang secara independen.

Para Fairy membelah fokus pikiran mereka, bergerak dengan dua titik fokus bersamaan.

Kini setelah menyaksikannya langsung, Encrid merasa ia bakal sanggup menirunya setelah melalui beberapa latihan.

Tidak secara langsung tentu saja, karena Encrid bukan tipe orang yang sanggup menguasai sesuatu secara instan.

Ia tidak terlahir dengan bakat semacam itu.

Dulu ada masa di mana ia mendambakan bakat luar biasa, tetapi sekarang ia tak lagi mengharapkannya.

Karena meski ia tak bisa melakukannya secara instan, benih pemahaman telah tertanam dalam dirinya.

*'Jika aku menguasainya lewat latihan bertepi bertahun-tahun, aku tak akan mudah melupakannya. Aku bisa mengulas dan merapikan kembali setiap tahapan prosesnya.'*

Sederhananya, ia secara teori sanggup memahami apa yang orang lain pahami secara intuitif belaka.

Encrid tak keberatan dengan pendekatan semacam ini.

Dan itulah alasannya ia tak lagi mendambakan bakat instan.

"Kita perlu menemukan tangga menuju ke lantai bawah," ucap Bran setelah menghabisi monster-monster tersebut.

Lebih banyak makhluk terus bermunculan—sangat wajar jika mayat-mayat tenggelam terus merayap keluar.

Dua kali manticore sempat muncul pula.

Tak ada waktu untuk beristirahat, tetapi ancamannya tidak sampai melumpuhkan.

Paling-paling, mereka hanya bisa disebut sebagai pengganggu.

Monster-monster ini tidak seperti manticore yang mereka temui di luar labirin tadi.

Mereka juga bukan ancaman tingkat koloni.

Para Fairy sanggup menangani mereka walau tanpa bantuan Encrid.

Tentu saja daya tahan fisik akan menjadi masalah pada akhirnya: jumlah musuh yang sangat banyak membuat pertarungan menjadi amat melelahkan.

Pekerjaan sederhana sekalipun akan menguras tenaga jika dilakukan tiada henti.

Pel dan Luagarne bergantian turun tangan, dan Encrid pun tidak berdiam diri.

Mereka melangkah maju melintasi tanah lembab tak beraturan yang kini dipenuhi jasad monster.

Mereka juga berhadapan dengan makhluk-makhluk mengganggu seperti lalat penghisap darah dan lintah raksasa yang bersembunyi di bawah pijakan, siap menempel di kaki mereka.

Lalat penghisap darah sangat merepotkan, memicu pendarahan terus-menerus jika sampai mengigit.

Menghindari gigitan mereka adalah hal yang sangat krusial.

Para Fairy menanggapinya dengan menyabetkan mata pedang ke udara secara presisi, tetapi jumlah mereka seolah tak ada habisnya.

"Pengganggu ini juga menjadi masalah waktu itu," ucap Bran.

Karena kulit kayunya kebal dari gigitan, ia tak repot-repot memburu mereka secara aktif.

Ia hanya menepis beberapa ekor dengan tangannya.

CRASH!

Bran menangkap seekor lalu meremukkannya ke dinding batu, meninggalkan gumpalan darah hitam dan bangkai hancur di permukaan dinding.

Pemandangan yang tidak begitu menyenangkan.

Sementara itu, Encrid menepis mereka menggunakan kepalan tangan telanjang, bahkan tak repot-repot menghunus pedangnya.

"Mereka sangat mengganggu," gumam Luagarne lalu membakar cambuknya dengan api.

Area sekitar seketika benderang terang.

Ia mengayunkan cambuk membara itu, menciptakan pusaran angin berapi.

Hawa panas membakar lalat-lalat itu di udara, merubah mereka menjadi abu.

Pusaran api yang meliuk lebih mirip mantra sihir ketimbang senjata biasa.

Menyadari tatapan penasaran Encrid, Luagarne berkomentar.

"Efektivitas senjata bersihir bergantung pada bagaimana kau menggunakannya."

Bahkan setelah membereskan lalat-lalat itu, mereka tetap melangkah maju untuk kurun waktu yang cukup lama.

"Tempat ini terlalu luas," komentar Pel.

Bran mengangguk lalu menjawab.

"Jika kita beruntung, butuh dua hari. Jika tidak, tiga hari."

Labirin ini benar-benar sesuai dengan namanya.

Menemukan rute yang tepat saja sudah menjadi tantangan tersendiri.

Tanpa Bran, mereka kemungkinan besar akan berputar-putar tanpa arah.

Hingga akhirnya, setelah apa yang terasa seperti setengah hari berlalu—

"Aku menemukannya," ucap Bran.

Ia bukannya menghafal denah lokasi, melainkan mengidentifikasi posisi berdasarkan keberadaan para monster.

"Makhluk-makhluk itu menjaga area tangga."

Menatap ke depan, Encrid melihat beberapa mayat tenggelam.

Mereka tidak biasa, bukan monster biasa.

Dan jumlah mereka lumayan banyak.

"Mereka tak mudah mati," tambah Bran.

Ketegangan para Fairy terasa sangat jelas.

Encrid pun bisa menilai bahwa musuh-musuh ini tidak sederhana.

Di atas bahu mayat-mayat tenggelam itu, sesuatu bergetar miring—sosok-sosok bayangan tanpa wujud murni.

Ini bukan monster biasa—mereka adalah mayat tenggelam yang dirasuki oleh para spirit.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.