Eternally Regressing Knight

Bab 637: Igniculus

2696 Kata

Bab 637: Igniculus

Ketika seorang anak menemukan sesuatu yang memikat, mereka dengan mudah tertarik padanya—terutama jika hal itu berkaitan dengan sesuatu yang telah mereka cintai sejak usia muda.

Sejak usia dini, Sinar sangat suka mengamati besi murni. Lebih tepatnya, ia menikmati proses perubahan bentuk besi selama masa pemurnian. Interaksi antara api dan logam memikat hatinya, setiap tahapan prosesnya memicu rasa ingin tahunya yang mendalam.

Di masa kecilnya, Sinar benar-benar terpesona oleh api, seolah-olah mabuk oleh keberadaan kobaran tersebut.

"Apa hebatnya melihat hal semacam ini? Ayo, lebih baik kita melihat bunga atau berkunjung ke tempat Bran," tegur kakaknya.

Sebaliknya, kakaknya jauh lebih biasa. Kakaknya, seperti anak-anak pada umumnya, akan mengamati bunga, berbaring di rumput sampai aromanya melekat di pakaian, dan menyerap keindahan alam.

Bagi para Fairy, berbaring meresapi wewangian rumput adalah aspek penting dalam kehidupan. Mereka akan berbaring di tengah kehijauan, menikmati aroma bunga, dan memperhatikan lebah serta kupu-kupu yang melintas lincah.

Di antara momen-momen ini, mereka akan bermain dengan kawan yang bertindak sekaligus sebagai mentor, menyerap kearifan dari mereka. Begitulah cara bangsa Fairy tumbuh dewasa.

Masyarakat mereka lebih menyukai proses penemuan diri secara alami dan perlahan ketimbang ajaran yang kaku dan terstruktur. Di dalam kehidupan yang penuh permainan dan kesenangan, mereka mempelajari peran dan tugas mereka.

Dengan rentang hidup yang jauh berbeda dibanding manusia biasa, pendekatan bertahap ini berkembang secara alami. Pada akhirnya, mereka akan mempelajari penguasaan emosi sebagai bagian dari proses menjadi dewasa.

"Apa yang menyenangkan dari melihat besi?" tanya kakaknya sembari cemberut. Sebagai seorang Fairy muda, emosinya belum terkendali, memancarkan kepolosan masa muda.

"Jika kau mengamatinya lekat-lekat, rasanya besi ini sanggup berubah menjadi bentuk apa pun," jawab Sinar tepat saat palu mulai diayunkan.

TING!

Palu menghantam logam panas. Di kota Fairy, ada keluarga-keluarga yang khusus mendedikasikan hidup mereka untuk mengolah besi. Salah satu keluarga tersebut adalah keluarga Naidil, yang tersohor dalam menempa Leaf Blade.

Sebelum diakui sebagai seorang master, para magang akan menempa senjata dan alat-alat sederhana sebagai bagian dari latihan mereka. Apa yang diamati Sinar adalah karya dari salah seorang magang semacam itu.

"Jangan berdiri terlalu dekat, nanti percikan apinya menyambar tubuhmu," tegur salah seorang magang bernama Aden.

Aden adalah cinta pertama Sinar.

Mengingat kembali masa lalu, Sinar tak yakin apakah yang disukainya adalah Aden atau api yang diolah oleh pria itu.

Namun sebagai seorang anak kecil, Sinar percaya ia mencintai Aden. Pada usia itu, ia belum tahu cara menyembunyikan emosinya.

"Kalau begitu pastikan saja percikan apinya tak menyambar ke mana-mana," sahut Sinar.

"Api tak bergerak sesuai kehendakku."

"Karena itulah kau masih seorang magang."

"Kata-katamu lumayan berani untuk ukuran anak kecil."

Aden berusia seumuran dengan Sinar, walau Sinar lahir sedikit lebih awal. Namun tak seperti manusia, para Fairy tak mengukur hubungan berdasarkan perbedaan usia yang tipis.

Namun nada bicara Aden jauh lebih dewasa dibanding Sinar. Apakah kedewasaan itu hasil dari mengolah api, ataukah memang bawaan lahir? Sinar tak terlalu penasaran untuk tahu.

Sinar terlahir dari keluarga kerajaan. Namun dalam masyarakat Fairy, seorang raja atau ratu lebih bertindak sebagai perwakilan atau pelindung bagi seluruh Fairy ketimbang seseorang yang memegang kekuasaan mutlak.

Posisi itu membawa tugas dan tanggung jawab berat, tetapi memberikan sedikit keuntungan pribadi. Tak ada hierarki kekuasaan atau struktur atasan-bawahan. Meski demikian, semua Fairy tahu ia membawa garis keturunan kerajaan.

"Lady Kirhais, kenapa Anda tak meminta izin pada bunga-bunga untuk membuat mahkota dari kelopak mereka dan menikmati aroma rumput saja?" gurau Aden.

Sinar hanya mendengus mendengar komentarnya.

Bagi seorang Fairy muda, berguling-guling di antara bunga dan rumput serupa dengan manusia biasa yang bermain air hangat—hanya saja para Fairy jauh lebih menikmatinya.

Dalam hal ini, Sinar adalah seorang Fairy yang unik. Bahkan Aden, yang bekerja dengan api sebagai mata pencahariannya, akan menghabiskan waktu istirahatnya di antara bunga dan rumput, mengamati lebah yang berdengung. Namun Sinar lebih memilih mengamati api ketimbang berbaring di atas rumput.

"Apa yang menyenangkan dari hal itu?" sungut kakaknya.

Itu adalah masa-masa yang polos. Kakaknya pada akhirnya pergi mengejar minatnya sendiri, tanpa memaksakan kehendaknya pada Sinar. Dalam masyarakat Fairy, sangat umum untuk percaya bahwa setiap individu pada akhirnya akan menemukan tujuan hidup mereka sendiri.

Setelah melambaikan tangan melepas pergi kakaknya, Sinar berpaling pada Aden lalu bertanya,

"Apakah kau tahu apa arti Igniculus?"

TING! TING!

Baru setelah beberapa benturan palu menyusul, Aden, yang berkeringat di dekat tungku tempa, menjawab.

"Apakah ada Fairy yang tak mengetahui artinya?"

Para Fairy, meski memiliki kedekatan dengan sinar bulan, tak bisa memurnikan logam tanpa tungku tempa dan api. Mereka membutuhkan bahan bakar untuk membakar, yang disediakan oleh para Woodguard.

Getah dan batang kayu dari Fairy pohon sanggup menjaga api tetap membara selama berbulan-bulan, sebuah misteri yang menyerupai alkimia.

Adapun Igniculus, itu adalah kata yang terikat dengan tungku tempa dan keluarga-keluarga penempa. Dalam bahasa umum, kata itu berarti percikan api atau kilatan kobaran.

Para Fairy, yang menjalani kehidupan panjang dan tenang, sering kali tak mengalami gejolak emosi yang drastis. Namun Igniculus merujuk pada fase membara, masa-masa di mana kobaran gairah menyala hebat.

Bagi beberapa Fairy, itu adalah cinta. Bagi yang lain, itu adalah pengejaran terhadap suatu impian.

Meski para Fairy biasanya menjalani hidup dengan santai, selama masa ini, mereka membara dengan sangat terang. Mereka tumbuh dan bertransformasi, persis seperti besi yang ditempa oleh api dan palu.

Beberapa Fairy menyebutnya sebagai masa transformasi sebelum menguasai pengendalian emosi secara mutlak. Sinar sangat menyukai istilah Igniculus—percikan api.

Saking sukanya, ia kemudian memilih Naidil, yang berarti mata pedang percikan api, sebagai nama bagi pedangnya, ketimbang menggunakan nama Leaf Blade.

Ya, begitulah masa lalu itu berlangsung.

Lalu pada suatu hari, seorang tamu yang tak terduga mendekati anak kecil yang terpesona oleh api tersebut, mengklaim dirinya sebagai kawan rahasianya.

Pada awalnya, keberadaannya hadir sebagai rasa hangat—sesuatu yang tak bisa diprediksi atau dipersiapkan oleh siapa pun.

FUSSS.

"Mau bermain denganku?"

Sebuah kobaran api angkat bicara.

Api berwarna oranye bergetar melayang di udara, tak diragukan lagi menyerupai seekor fire spirit.

Meski beberapa Fairy sanggup berkomunikasi dengan spirit, kedekatan Sinar dengan api membuat pertemuan semacam itu terasa biasa saja.

"Sangat menakjubkan," komentar kakaknya kemudian, setelah Sinar membeberkan keberadaan kobaran api tersebut.

Kehangatan itu berubah menjadi kawannya. Namun suatu hari, kawan itu mendadak berubah menjadi malapetaka kobaran api yang mengerikan—sebuah bencana mutlak.

Kobaran itu membakar segalanya: rakyatnya, kawan-kawannya, dan bahkan kota tempat ia tumbuh besar.

GRAAAAR!

Bau asam menyengat dari Woodguard yang terbakar memenuhi udara, aroma yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh Sinar.

Bagi para Fairy, bau ini tak ada bedanya dengan aroma daging manusia yang terbakar. Saat klan Druier terbakar, aroma rumput hangus menyebar ke mana-mana.

Neraka telah membuka pintu gerbangnya di kota Fairy.

"Aden!"

"Aku akan menghentikannya!"

Kala itu, Aden telah menjadi seorang pengrajin yang mahir. Ia menerjang maju membawa mata pedangnya, hanya untuk dilahap oleh sang demon yang berselimutkan api.

Sebelum lepuh sempat terbentuk di kulitnya, kobaran api telah merubah tubuhnya menjadi abu.

Kematian para Fairy membawa campuran wewangian bunga dan kayu dari vegetasi yang terbakar.

"Mantra Custos Akitos Responso!"

Para Fairy yang mahir dalam sihir spirit mencoba memadamkan kobaran api, tetapi usaha mereka sia-sia. Bahkan dengan air yang tercurah deras bagai hujan, api tetap bertahan membara. Keputusasaan dan tragedi menyelimuti seluruh kota.

Sinar menyaksikan saat kobaran api melahap segalanya—lima Woodguard, bahkan Bran, yang tubuhnya terbakar separuh, walau ia nyaris tak selamat.

Seekor raksasa berapi mengangkat kepalanya, menjulang tinggi melampaui siapa pun, ukurannya lima kali lipat Fairy normal. Makhluk itu mengamati mereka yang berani berdiri menentangnya.

"Aku akan mundur karena kau telah bermain denganku. Aku akan membangun rumahku di sini. Anak-anak kayu dan bunga, mari kita hidup bersama. Aku adalah apa yang kalian sebut sebagai demon."

Demon itu berbicara dengan topeng keramahan dan kehangatan. Makhluk itu membuat sarangnya di kota ini, mengklaimnya sebagai miliknya sendiri.

Sangat jelas siapa yang telah menjadi kawan sang demon.

"Kutukan."

Bahkan para Fairy yang telah mempelajari pengendalian emosi sekalipun tidak memiliki hati yang secara alami tangguh. Beberapa di antara mereka, dengan jiwa yang hancur, mulai menyalahkan Sinar.

Para Fairy yang telah kehilangan anak-anak, kawan-kawan, dan kekasih mereka tak sanggup memaafkan wanita itu.

Sinar tak bisa menyalahkan mereka. Kala itu, ia bahkan tak sanggup berpikir untuk melakukan hal itu. Ia tak bisa memahami separuh dari apa yang sedang terjadi.

Kenapa? Kenapa hal ini bisa terjadi?

"Ini bukan salahmu," sahut ayahnya menepis anggapan itu secara tegas.

"Ini hanyalah tanggung jawab kita," tambah ibunya.

Tidak. Semua ini terjadi karena ia terlalu terpesona oleh api.

Sinar jatuh ke dalam pusaran rasa bersalah yang mendalam. Selama bertahun-tahun, ia tak mengucapkan sepatah kata pun.

Kirhais.

Namanya, yang berarti melindungi, terasa seperti ironi yang sangat kejam.

Orang tuanya memikul beban untuk mengusir sang demon. Ayahnya, yang memegang busur panah, dan ibunya, yang baru saja menguasai elemental sihir dan menjadi seorang Fairy Knight, berangkat bertarung.

"Putriku, ini bukan salahmu."

Ibunya mengulang perkataan ini setiap hari sebelum menghunus pedangnya.

Dari mana demon yang membakar segalanya ini berasal? Tak ada yang tahu. Namun tampaknya demon itu datang gara-gara Sinar. Semua orang mengatakan demikian, dan ia mempercayainya. Hal itu terasa sangat benar.

"Fairy terkutuk."

"Pergilah!"

Begitu jiwa seorang Fairy hancur, mereka tak akan berhenti menyalahkannya.

Dan orang tuanya, yang pergi untuk membunuh sang demon, tak pernah kembali lagi.

"Sinar, kau tak perlu hidup seperti ini, kau paham? Tak ada dari kejadian ini yang merupakan salahmu."

Kakaknya pun menyuruhnya melepaskan beban tersebut. Kemudian kakaknya mengangkat pedangnya dan berlatih sihir elemental.

Di antara momen ketenangan dan kedamaian, sebuah percikan menyala—sebuah kilatan kehebatan.

Dalam Igniculus yang singkat itu, kakaknya, Naira Kirhais, membangkitkan bakatnya.

Sebagai seorang Fairy Knight, kakaknya berangkat untuk membunuh sang demon tetapi berakhir dengan kegagalan.

Sinar, yang tak memiliki ikatan dengan spirit, hanya memiliki kekuatan fisiknya untuk diandalkan. Kala itu, penguasaannya atas sihir elemental sangat tidak berarti.

"Ini salahmu. Semuanya adalah salahmu!"

Tudingan dari para Fairy yang rapuh menembus kulitnya dan membakar organ dalamnya, mematris jiwanya.

Demon itu telah menciptakan sebuah labirin, dan di pintu masuknya, pedang kakaknya tertancap di tanah.

Naidil.

Itu adalah Sword of Spring, yang pernah dibawa oleh Naira. Kakaknya adalah seorang Fairy yang mendemonstrasikan musim semi itu sendiri—sebuah keberadaan bunga dan aroma rumput.

Sinar mengambil kembali pedang milik Naira.

"Kau tak punya kewajiban apa pun. Pergilah dan jalani hidupmu."

"Jika kau pergi, semuanya akan berakhir."

"Jangan lakukan hal bodoh, Sinar."

"Mari kita belenggu diri kita dengan tugas."

"Menyalahkan tak mengubah apa pun. Merencanakan masa depan adalah hal yang penting."

"Demon itu telah menuntut seorang pengantin wanita."

"Sinar?"

"Demon itu meminta Fairy lainnya."

"Sama sekali tidak boleh!"

Kata-kata tak terhitung jumlahnya dipertukarkan. Sinar tak punya jawaban untuk diberikan. Ia hanya menegaskan kembali tugasnya.

Dalam momen-momen semacam itu, impian, harapan, dan hasrat pribadi tak memiliki tempat.

"Kalahkan sang demon!"

Fairy berikutnya yang menjadi seorang Knight adalah Arzhila. Ia memimpin pasukan kota yang tersisa ke dalam labirin untuk membunuh sang demon.

Sinar berada di antara mereka. Mereka memasuki labirin dan berhadapan dengan sang demon.

"Jadi, itu kau."

Kata-kata demon itu saat melihatnya.

Baru saat itulah Sinar benar-benar menyadari betapa mengerikannya seekor monster yang memiliki kecerdasan.

"Jika kau melarikan diri, aku akan memburu setiap orang dari mereka, menyiksa mereka hingga tewas, dan mengirimkan jasad mereka yang terpotong-potong padamu sebagai hadiah. Aku akan mencabut mata mereka, menarik kuku-kuku mereka, menguliti kulit mereka, dan membunuh mereka—semuanya demi hiburanmu. Jadi marilah lari. Pemikiran untuk memberimu hadiah itu memenuhiku dengan kegembiraan yang luar biasa. Jika kau tak menginginkan hal itu, carilah cara lain—walau aku tak bisa membayangkan cara apa itu."

Bisikan sang demon sangat kejam, tanpa ampun, dan mengerikan.

"Yang kuinginkan adalah kau menjadi pengantin wanitaku."

Bahkan jika bisikan itu dipenuhi kebohongan, Sinar tak punya pilihan lain.

Kemudian, demon itu berubah menjadi kobaran api, berbisik seperti seorang kawan lama.

"Aku telah memikirkan cara untuk menyelamatkanmu. Bawa padaku seorang pasangan untuk mengambil tempatmu."

Itu adalah sebuah penawaran—sebuah cara untuk menunda hal yang tak terelakkan, untuk membeli waktu. Sinar perlu menemukan seorang pasangan baru untuk dipersembahkan pada sang demon.

Jika ia tak sanggup menyediakannya, ia hanya bisa mempersembahkan jiwanya yang tangguh untuk memberi para Fairy yang tersisa sebuah kelonggaran singkat.

Sinar bukannya bodoh.

Ia tahu bahwa mematuhi sang demon tak akan membuat para Fairy lainnya selamat.

Satu-satunya hal yang bisa dipersembahkannya adalah waktu. Namun meski demikian, tak ada pilihan lain.

Keputusasaan hinggap di atas bahunya, membelitnya bagai rantai yang amat berat.

Dalam jalinan benang keputusasaan yang kusut, Sinar mencari jalan keluar. Ia meninggalkan kota dan memulai perjalanannya untuk menemukan seorang pasangan bagi sang demon.

Jujur saja, ia tak sepenuhnya berkomitmen untuk menemukan seseorang. Jika ia membeberkan perasaannya yang sebenarnya, ini mungkin hanyalah sebuah kelonggaran singkat, sebuah kesempatan untuk menikmati waktu singkat yang tersisa baginya.

Mungkin ia sedang mencoba menciptakan kenangan sebelum tarian terakhirnya bersama sang demon.

Bahkan jika ia menemukan seorang pasangan, demon itu akan menikmati keputusasaannya. Dan jika ia gagal, demon itu akan bersenang-senang atas kegagalannya.

Bagaimanapun juga, keputusasaannya adalah hiburan utama bagi sang demon.

Perjalanan yang diizinkan oleh demon itu adalah permainan yang kejam, sebuah jeda yang singkat.

Namun, selama masa itu, berkat keberuntungan murni, ia berhasil menciptakan kenangan.

"Siapa pemimpin dari Squad 444?"

Ia mengingat momen pertama saat melihat pria itu.

Namanya adalah Encrid.

Pada awalnya, ia hanyalah seorang manusia yang aneh. Seorang pria yang tampak menyenangkan untuk diamati. Seorang pria yang nekat memimpikan impian yang tak mungkin terjadi.

Mengamati pria itu melangkah maju adalah sebuah kebahagiaan.

"Hati-hatilah dengan api."

"Api membakar segalanya."

Saat ia mengucapkan hal ini, Encrid memiringkan kepalanya lalu melontarkan lelucon, terlihat sedikit panik.

Waktu berlalu. Kelonggaran dari sang demon kian mendekati akhir, meninggalkan Sinar tanpa opsi tersisa.

"Apakah kau benar-benar mempertimbangkan untuk menikah denganku?"

Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya: sebuah penolakan.

Bahkan jika pria itu setuju sekalipun, Sinar sendiri yang akan menolaknya.

*'Aku tak bisa membiarkan pria ini tewas.'*

Tanpa ada cara untuk melindunginya dari tatapan sang demon, satu-satunya opsinya adalah menerima penawaran sang demon.

Paling lama, dua puluh tahun. Paling singkat, lima tahun.

Ia akan menjadi pengantin sang demon.

Dan ketika demon itu bosan padanya, makhluk itu akan melahapnya sepenuhnya—tulang dan segalanya.

Ia akan menunggu hari itu tiba. Tekadnya mirip dengan mata pedang Will—tak tergoyahkan. Pertarungan ini hanya untuk bertahan sampai hari di mana mata pedang itu sanggup menyabet.

Rasa penyesalan dan bisikan keputusasaan menyelinap masuk, tetapi pengendalian emosi membuatnya tetap tegar.

Namun, momen ia berhadapan dengan Encrid, hatinya berguncang bagai perahu kecil yang terperangkap badai.

Suara Encrid menembus pemikirannya.

"Bahkan jika kau menjalani hidup yang panjang, hari ini tak ada bedanya dari hari-hari lainnya."

Kau benar.

Sinar mengakui hal ini. Pengejaran para Fairy akan kehidupan yang tenang tidaklah salah.

Namun ketika bahaya membayang, bukankah mereka seharusnya bertindak?

Ketika anak panah meluncur melayang ke arahmu, apakah benar untuk sekadar berdiri di sana dan menerima hantamannya?

Tidak, itu tidak benar.

Seharusnya mereka bertarung saat pertama kali menyadari keberadaan sang demon.

"Kami menjadi terlalu berpuas diri."

Para Fairy telah menjalani kehidupan yang tenang, tak terikat oleh Demon Realm. Gaya hidup mereka menumpulkan kepekaan akan krisis.

Seharusnya kita bertarung seperti api, seperti percikan kobaran.

Igniculus.

Kejelasan dari perenungan ini baru datang setelah bertemu dengan Encrid.

Kini, ia telah memutuskan untuk bertarung sebagai sebuah percikan api.

"Apakah membosankan berada bersamaku?" tanya Encrid lagi.

Pria yang sangat keras kepala.

Tanpa diminta, senyuman terbentuk di bibir Sinar saat kenangan meluap memenuhi pikirannya.

Kawan-kawan yang terbakar hidup-hidup, kotanya yang hancur menjadi abu, orang tuanya, dan kakaknya yang telah tewas demi dirinya.

Di tengah kegelapan itu, ada Encrid.

Rem yang mengoceh hal konyol. Ragna yang kehilangan arah. Audin yang berdoa. Krais yang mengeluh. Teresa yang bernyanyi.

Di satu sisi, Lawford dan Pel berdebat sementara Luagarne berdiri di dekat Encrid, mata membelalak khas Frog berputar ke sana kemari.

Ini adalah kenangan yang melindunginya bagai atap rumah dari hujan keputusasaan tiada henti.

Ya, menyaksikanmu menjadi seorang Knight memberiku kebahagiaan. Bercanda, minum teh, makan, berlatih, berduel—semuanya sangat menyenangkan.

"Kau adalah musim semi," ucapnya dalam hati secara hening.

"Satu-satunya musim semi dalam hidupku yang selalu diterpa musim dingin."

Dan musim semi itu kini bertanya,

"Apa yang ingin kaulakukan?"

Itu adalah sebuah tuntutan, sebuah desakan untuk menyuarakan sesuatu.

Pada momen itu, Sinar menyaksikan apa yang telah disiapkan oleh sang demon. Wujud itu tak lagi sanggup bicara, tereduksi menjadi jasad yang bisa menempa monster dan memegang senjata.

Ia tahu mereka tak bisa menang.

Ia tahu hal yang benar untuk dilakukan adalah menyuruh pria ini pergi.

"Duel," ucap Sinar.

Terkadang tubuh berbicara sebelum pikiran sanggup menghentikannya. Keputusasaan membuka bibir, memburaikan hasrat terdalam dari hati.

"Aku ingin duduk di dekat api unggun dan bertukar lelucon konyol."

Apa yang dirindukan hatinya lolos begitu saja melalui bibirnya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.