Bab 693

Keesokan paginya.

Encrid sengaja bangun agak lambat, meluangkan waktu santai untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Seluruh sisa kelelahan dari perjalanan maraton kemarin telah menguap lenyap.

Bekas lebam akibat pukulan Ragna di pemandian tadi malam pun pasti sudah sirna tanpa bekas—ia bahkan tidak perlu bercermin untuk memastikannya.

Daya pemulihan fisik seorang Knight terlatih jauh melampaui kecepatan metabolisme manusia biasa.

*'Legenda.'*

Sebuah gelar agung yang selalu mendahului setiap kali nama Zaun disebut di penjuru benua.

Itu adalah nama klan yang jarang sekali terdengar dalam lagu-lagu penyair keliling—hanya mereka yang telah melampaui batas tertentu yang sanggup memahami bobot maknanya. Bagi para ksatria Zaun, kata legenda adalah padanan yang paling sempurna untuk menggambarkan eksistensi mereka.

*'Dan di puncak klan itu, berdiri sang kepala keluarga.'*

Sensasi kesemutan yang menggelitik merayap naik dari ujung jari kakinya, melesat melintasi seluruh tubuhnya hingga ke ubun-ubun kepala, membuat bulu-bulu halusnya meremang kaku.

*'Menyenangkan sekali.'*

Gairah antisipasinya seketika membubung tinggi.

"Cuacanya bagus sekali ya," celetuk Encrid sembari menatap langit pagi.

Ann yang baru melangkah keluar kamar sembari mengucek matanya yang masih mengantuk ikut mendongak menatap langit.

"
Bagus katamu?" gumam Ann melongo.

Langit di atas mereka tertutup mendung tebal dengan gumpalan awan abu-abu yang menggelantung rendah. Standar macam apa yang digunakan pria ini untuk mendefinisikan cuaca bagus?

"Iya, sangat bagus," angguk Encrid yakin.

Dari belakang Ann, Ragna menimpali santai,

"Kau tidak bakal bisa mendengar alasan logis darinya. Dia memang suka bertingkah gila seperti itu sesekali."

Ann belum pernah melihat sisi kegilaan Encrid yang satu ini sebelumnya. Bukan berarti ia terkejut; ia hanya memasukkannya ke dalam kategori tabiat ksatria gila.

*'Hari ini aku juga bakal sangat sibuk.'*

Ann datang ke sini demi memburu sumber penyakit kutukan, bukan untuk berleha-leha santai di rumah keluarga Ragna.

Tak lama kemudian seorang Squire datang mendekat dengan pedang tersampir di pinggang, mengabarkan bahwa sang kepala keluarga telah menanti mereka di lapangan latihan.

Meskipun matahari baru saja menampakkan semburat cahayanya di ufuk timur, Encrid telah siap sepenuhnya. Maka ia lekas mengikuti panggilan tersebut.

Di tengah lapangan latihan tanah luas di depan kediaman utama, sang kepala keluarga dan istrinya telah berdiri menunggu.

Tidak perlu ada basa-basi sapaan seperti: *"Apa tidurmu nyenyak semalam?"*

Pada detik Encrid melangkah maju dan berhenti dalam jarak sepuluh langkah, ia sudah tahu siapa lawan pertamanya hari ini.

*'Sang kepala keluarga.'*

Sosok yang mewakili nama besar Zaun. Ayah angkat Ragna.

Ini adalah pancaran intimidasi yang sama sekali berbeda dari siapa pun yang pernah ia jumpai sebelumnya.

Itu bukan sekadar tekanan gravitasi tak kasat mata yang menindih sekujur tubuhnya, melainkan memiliki wujud manifestasi yang nyata.

Sebilah pedang raksasa yang mahabesar tampak berdiri menjulang di hadapannya. Sebuah ilusi batin, namun bukan sekadar ilusi semu. Tekanannya terasa teramat nyata karena aura keberadaan di depannya benar-benar hidup dan bernapas.

*'Rasanya seolah pedang raksasa itu benar-benar eksis di alam nyata.'*

Itulah esensi dari sebuah wibawa kehadiran.

Sebuah aura mutlak yang memadat membentuk siluet sebilah pedang raksasa—begitu masif hingga membuat tubuh manusia biasa tampak seperti sebutir debu kecil.

Ukuran bilah bayangan itu setidaknya tiga kali lebih besar daripada tubuh sang kepala keluarga sendiri. Namun anehnya, pedang itu hampa dari niat membunuh.

Kenapa?

Jawabannya terkuak sangat cepat berkat intuisi dan jam terbang pertempurannya.

*'Intimidasi ini tidak ditujukan untuk membunuhku.'*

Ini murni sebuah deklarasi perang bahwa duel akan segera dimulai.

Kemungkinan besar syarat paling mendasar untuk memenuhi kualifikasi bertarung melawan kepala keluarga Zaun adalah sanggup bertahan menahan bobot intimidasi ini.

Itu adalah kesimpulan instingtif yang tak terbantahkan. Dan dugaan itu seratus persen tepat.

Ragna sudah sangat lama tidak melihat manifestasi aura ayahnya meledak sebesar ini.

*'Ukurannya jadi jauh lebih besar daripada dulu.'*

Di luar keahlian mengayunkan pedang, keahlian khusus sang ayah adalah meremukkan mental lawannya bahkan sebelum bilah pedang saling beradu di udara.

Di hadapan sang patriark, Encrid tampak bagaikan sebatang alang-alang yang terombang-ambing ditiup angin badai atau sebatang ranting rapuh yang siap patah kapan saja.

Kesenjangan aura keberadaan di antara mereka teramat masif.

Di hadapan lawan dengan wibawa mutlak semacam itu, sebagian besar manusia akan merasa diri mereka menciut kerdil tanpa batas.

Dan jika sosok sang lawan terus membesar di dalam benak mereka, wibawa itu akan mencekik leher mereka hingga kehabisan napas. Sebuah kekalahan mental mutlak sebelum pertarungan fisik dimulai.

Pada detik pedang raksasa itu berayun turun, tekanan mental yang meremukkan itu sudah lebih dari cukup untuk mengguncang fondasi jiwa lawan hingga hancur berkeping-keping.

Itulah daya hancur sejati dari intimidasi sang patriark.

Akan tetapi—

Sesuatu mendadak berubah pada kuda-kuda Encrid. Ragna yang berdiri di belakang punggungnya tidak bisa melihat wajah sang kapten. Namun ia tidak perlu melihatnya.

*'Dia pasti sedang menyeringai lebar sekarang, kan?'*

Karena memang begitulah sosok pria bernama Encrid. Dan persis seperti dugaan Ragna, Encrid merasakan gairah dan sengatan ekstasi mengalir deras di sekujur pembuluh darahnya. Ujung bibirnya berkedut tak terkendali.

Aura intimidasi ini sama sekali berbeda dari apa pun yang pernah ia hadapi seumur hidupnya. Dan hal itu membuatnya merasa sangat gembira.

Sebuah nama mendadak melintas di benaknya: King of the East, Anu.

Sang Raja Tentara Bayaran kemungkinan besar memiliki kaliber kekuatan yang serupa.

*'Dulu waktu kami bertarung di benteng perbatasan, pria tua itu cuma sedang bermain-main denganku.'*

Kala itu Encrid belum cukup kuat untuk memancing keluar kekuatan sejati sang Raja Tentara Bayaran.

Namun bagaimana dengan sekarang?

Bibir Encrid tertarik menyamping, menyingkap taringnya. Sebuah seringai lebar tanpa beban yang teramat lepas. Alis kanan Alexandra seketika terangkat tinggi.

*'Dia tersenyum?'*

Ekspresi wajah sang nyonya seolah menyuarakan pertanyaan syok tersebut.

Namun Encrid tidak menyadarinya. Sepasang matanya telah terkunci mati menatap sosok sang kepala keluarga Zaun.

* * *

Di tengah sesi latihan keras di benteng perbatasan, Teresa mendadak melontarkan sebuah pertanyaan.

"Kak Audin, Kak Shinar."

Keduanya serempak menoleh menatap sang ksatria raksasa wanita.

Shinar menarik kembali belati-belati kecil yang sedari tadi melayang di udara berkat kendali energinya. Audin melepas sarung tangan baja tempa yang retak akibat benturan latihan.

"Menurut kalian apa hal yang paling merepotkan saat bertarung melawan Kapten Encrid?"

Itu bukan pertanyaan filosofis yang dirancang matang, melainkan murni hal yang tiba-tiba melintas di kepala Teresa. Sebuah topik obrolan yang bagus di sela jeda istirahat mereka.

Audin dan Shinar serempak menjawab pada detik yang sama:

"Keras kepala."

"Penolakan mutlak."

Jawaban mereka menggunakan kosakata yang berbeda, tetapi maknanya serupa.

Shinar menyebutnya keras kepala, sementara Audin menamainya penolakan mutlak.

Audin menjelaskan lebih lanjut:

"Dia menerima segalanya dengan rendah hati saat mempelajari ilmu baru. Namun begitu pertarungan dimulai, tidak ada tekanan mental apa pun di dunia ini yang sanggup memengaruhinya. Aku pernah mendengar istilah Will of Refusal. Kurasa itulah esensi sejati dari kepribadiannya. Tidak peduli apa kata dunia dan betapa mustahil jalannya, dia akan terus menerobos maju."

Shinar menimpali dengan dengusan geli,

"Dia tidak pernah berhenti saat orang normal seharusnya berhenti. Keras kepalanya yang mutlak membuatnya menjadi sosok yang sangat mustahil diprediksi."

Andai Encrid hadir di sana, celotehan Shinar pasti akan jauh lebih pedas.

Jika Encrid berdiri di hadapannya, peri itu pasti akan menambahkan:

*'Sebuah kebodohan dan keras kepala yang bahkan peri sekelas diriku pun tak sanggup menggoyahkannya.'*

Kata-kata mereka berbeda, tetapi kesimpulannya mengerucut pada satu titik.

"Aku juga berpikir begitu. Jadi sekarang giliranku untuk menunjukkan kegigihan yang kuserap dari sang kapten!" seru Teresa sembari bangkit berdiri dengan langkah pincang.

Salah satu tulang kakinya baru saja retak dalam latihan brutal tadi. Namun itu bukan alasan baginya untuk berhenti mengayunkan pedang.

Encrid telah menyulut kobaran api di dalam jiwa mereka semua, itulah alasan mengapa mereka memilih bertahan di benteng Border Guard—kecuali Ragna.

Mereka ingin menyerap dan mewujudkan percikan api yang telah dinyalakan sang kapten di dalam dada mereka.

"Ayo kita mulai!" teriak Teresa lantang.

Ia tengah berada dalam proses mendobrak dinding batas kemampuannya sendiri.

* * *

*Dia tersenyum?*

Alexandra paham betul wibawa keberadaan macam apa yang dipancarkan oleh suaminya.

Murni menyaksikan seseorang sanggup berdiri tegak menahan tekanan itu saja sudah menjadi tolok ukur dari potensi sang pendekar.

Tipe yang paling buruk adalah mereka yang telah memvonis diri mereka pasti kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai. Orang-orang semacam itu tidak akan pernah bisa menjadi Pioneers.

*'Bahkan mereka tidak akan pernah sanggup naik menjadi seorang Knight.'*

Di dalam klan Zaun, para Knights diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama:

Pioneers, Researchers, dan Observers.

Pioneers kerap dijuluki para Seekers.

Researchers dijuluki para Technicians.

Sementara Observers adalah para Guardians.

Sistem klasifikasi ini bukan hanya mendefinisikan peran ksatria Zaun, melainkan mencerminkan bagaimana struktur ilmu pedang mereka dibangun.

Jika seseorang telah menerima kekalahan mental sebelum melangkah maju, pencapaian terbaik yang bisa ia raih hanyalah menjadi seorang Researcher.

Tipe kedua yang terburuk adalah mereka yang menutup mata dari kelemahan diri mereka sendiri.

*'Itu adalah keangkuhan buta.'*

Sekalipun tahu mereka akan kalah, mereka menolak mengakuinya—tidak memiliki kapasitas untuk merefleksikan kekurangan teknik mereka.

Beberapa orang dengan bakat fisik monster mungkin masih bisa dipaksakan menjadi Pioneers. Namun sepanjang hidupnya, Alexandra belum pernah melihat seorang Pioneer hebat yang mengidap cacat mentalitas ini.

Tipe ketiga adalah mereka yang dengan lapang dada mengakui kelemahan mereka. Merekalah yang akan terus melangkah maju.

Mereka mengakui keterbatasan diri lalu memeras otak mencari cara untuk memperbaikinya.

Suaminya kurang menyukai tipe ini, tetapi Alexandra menganggapnya sebagai kualitas yang sangat brilian.

Mereka tidak bertarung murni untuk kalah—mereka rela melakukan apa pun demi meraih kemenangan.

*'Mereka menjelma menjadi Researchers dan Observers yang hebat.'*

Dan kemudian—ada tipe terakhir.

*'Tipe pendekar yang paling dicintai suamiku.'*

Mereka yang benar-benar menikmati tekanan maut. Bukan sekadar menikmati adu pedang fisik, melainkan menikmati bobot intimidasi itu sendiri. Itulah kualitas sejati dari seorang Pioneer agung.

Dan di antara mereka yang sanggup berkembang di bawah tekanan maut, Alexandra belum pernah menjumpai sosok unik seperti pemuda di depannya ini.

Sebuah seringai lebar yang terpampang lepas.

Satu lirikan saja sudah cukup untuk melihat betapa bahagianya jiwa pria itu saat ini.

Encrid melesat menerjang maju dengan wajah yang begitu dipenuhi euforia hingga tampak seolah ia rela mati demi mencicipi kebahagiaan ini.

Ia menerobos menembus kubah aura yang menindihnya. Sekalipun ada meteor yang jatuh di depannya atau sebuah gunung karang runtuh menimpanya, ia akan terus menerobos maju hanya bermodalkan sebilah pedang di tangan.

*'Sebuah watak baja yang memancar nyata dari seluruh pori-pori tubuhnya.'*

Sang suami, Tempest Zaun, menghunus greatsword raksasanya.

Alexandra tidak memalingkan pandangannya sedetik pun.

Meskipun ini bukan duel hidup-mati, intensitas hawa tempur di antara keduanya begitu pekat—seolah mereka hanya berjarak setipis sehelai rambut dari perang berdarah yang sesungguhnya.

*BUM!*

Greatsword raksasa sang kepala keluarga menghantam turun dalam tebasan vertikal mutlak. Sebuah teknik pamungkas yang termasyhur sebagai *pedang yang meremukkan gunung*.

Bobot hantamannya sungguh di luar akal sehat.

Meskipun dari luar tampak lambat, pada detik sebelum benturan mendarat, sebuah energi tak kasat mata—Will sang patriark—telah lebih dulu mencengkeram erat sekujur tubuh lawan.

Persis seperti prediksi Alexandra, Encrid merasakan belenggu energi mengunci kedua kaki dan pinggangnya, dan ia seketika menolak belenggu itu lewat kehendak batinnya.

*'Menarik sekali.'*

Odinkar memang kuat dan menarik, tetapi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sang kepala keluarga. Saat bergeming diam ia adalah gunung karang, saat bergerak ia menjelma menjadi badai topan.

Wibawa keberadaannya saja sudah sanggup menyulut Will yang menyelimuti sekujur tubuhnya.

Encrid mengangkat Three-Iron Sword, mencengkeram gagangnya erat-erat dengan kedua tangan.

Apakah ia berniat menangkis pedang raksasa itu secara frontal?

Kelihatannya memang demikian.

Namun mata bilah Three-Iron yang diperkuat oleh sisi Black Gold mendadak meliuk tipis dalam sudut presisi, membiaskan sebagian besar daya hancur dari bilah sang kepala keluarga.

*BUM!*

Meski demikian, dentuman benturan kedua bilah mereka meledakkan gelombang kejut udara yang sangat dahsyat.

Ragna lekas melangkah memasang badan di depan Ann untuk melindungi gadis itu dari hempasan debu, sementara Alexandra hanya melipat tangannya di dada sembari menyimak tenang.

"Ada apa sebenarnya?!" tanya Ann bingung, matanya terpejam menahan terpaan angin.

"Kita harus mundur beberapa langkah," bisik Ragna menuntunnya mundur. Jika mereka tetap berdiri di sana, serpihan batu yang terlempar bisa dengan mudah melubangi kening manusia biasa.

*Sret.*

Pada detik pedang mereka saling beradu, Encrid mendadak melepas cengkeraman pedang Three-Iron lalu melesat menerobos masuk ke jarak nol jengkal.

Sebuah taktik petarung gila yang sama sekali tak terduga oleh lawan.

Itu adalah manuver yang berakar dari ilmu pedang Valen Mercenary Swordsmanship—sebuah langkah nekat yang dikalkulasi lewat insting pertempuran murni.

Pertarungan fisik meledak dalam kebrutalan absolut.

Encrid mengepalkan tangan kirinya lalu melayangkan pukulan tinju lurus membidik rahang sang kepala keluarga. Pukulan telak ke arah rahang akan membuat ksatria mana pun kehilangan keseimbangan dan konsentrasi sesaat.

Namun sang kepala keluarga menurunkan dagunya sedikit lalu menyambut hantaman tinju itu menggunakan tempurung dahinya yang sekeras baja.

*BRAK!*

Secara bersamaan tangan sang patriark yang masih menggenggam greatsword menghantamkan tinju kanannya lurus ke wajah Encrid.

Encrid merunduk kilat menghindari bogem mentah itu lalu menyilangkan kedua lengan bawahnya di depan dada demi memblokir hantaman susulan.

Wave Blocking Sword sanggup membentengi diri dari segala sudut serangan fisik. Itu adalah penilaian instan yang lahir dari proses kalkulasi berkecepatan tinggi.

*DUK!*

Pada detik berikutnya lutut sang kepala keluarga menghantam telak tepat di titik temu kedua lengan bawah Encrid.

Encrid sengaja membiarkan tubuhnya terlempar ke belakang, meringankan bobot badannya demi mengendalikan titik pendaratan kakinya di tanah.

Sembari melayang mundur, tangan kirinya menyambar Three-Iron Sword yang tertancap di tanah.

Pedang tempaan Eitri itu seolah memiliki jiwa, terlepas luwes dari tanah liat dan meluncur kembali ke dalam genggaman tuannya.

Melihat manuver itu, sang kepala keluarga memanfaatkan momentum tarikan lututnya untuk menusukkan greatsword raksasanya lurus ke depan.

*'Luar biasa mahir.'*

Baik dalam pertempuran lapangan maupun duel satu lawan satu, pria ini adalah petarung alami.

Encrid merasakan sensasi kesemutan di lengan kanannya akibat hantaman lutut tadi. Pria itu sengaja membidik serabut otot lengannya untuk melumpuhkan daya cengkeram tangannya sesaat.

Namun Encrid adalah seorang pendekar kidal sekaligus bertangan kanan—menukar orientasi tangan sama sekali tidak mengurangi daya hancur serangannya.

Sebaliknya ia mendayagunakan tangan kanannya yang melemah sebagai penopang bawah, menukar posisi pegangannya secara instan.

Sebuah teknik yang telah terpatri mendarah daging lewat latihan ribuan kali: *Valen Mercenary Swordsmanship: Hand Swap*.

Ia mengangkat tangan kirinya ke pangkal atas gagang dan menggunakan tangan kanan menyangga bagian bawah, mengeksekusi teknik *Blade Breaker* menyambut tusukan pedang sang kepala keluarga.

*'Eitri.'*

Pedang yang ditempa oleh sang pandai besi legendaris itu tak akan pernah patah semudah itu.

Tempest Zaun tidak menghentikan laju tusukan pedangnya.

*TRANG!*

Ujung bilah Three-Iron melukis lengkungan busur tajam di udara, menghantam tepat di penampang tengah bilah greatsword sang kepala keluarga.

Lintasan tusukan pedang raksasa itu seketika berbelok arah; Encrid berhasil membelokkannya secara paksa lewat daya dorong murni.

Kobaran Will di dalam dadanya seketika meledak laksana gunung berapi yang memuntahkan lahar panas.

"Hah!"

Encrid berteriak lantang sembari memancangkan kaki kanannya kuat-kuat di tanah, memutar pinggangnya secara ekstrem lalu meluruskan tendangan kaki kirinya.

Ia menendang penampang bilah greatsword Tempest Zaun dengan sekuat tenaga.

*BUM!*

Menggunakan pedang untuk membelokkan lintasan serangan, lalu menyusulkan tendangan kaki untuk merusak momentum musuh seutuhnya—membatalkan serangan sang lawan secara sempurna.

Merespons manuver gila itu, sang kepala keluarga Zaun melepas cengkeraman pedangnya lalu melayangkan pukulan tinju raksasa lurus ke arah Encrid.

Sepasang mata ambernya yang dingin meninggalkan jejak ekor cahaya laksana komet saat ia menerjang maju merapatkan jarak.

*'Apa secara bawah sadar aku berasumsi bahwa pendekar yang menyandang greatsword gerakannya pasti lamban?'*

Benar. Ayunan pedangnya memang tidak terlalu cepat, tetapi pergerakan kakinya secepat kilat.

Kalkulasi dari Wave Blocking dan Flash seketika tumpang tindih di kepalanya, menghasilkan satu jawaban mutlak:

*'Aku tidak bisa menghindarinya.'*

Encrid mengertakkan giginya sembari mempertahankan seringai lebarnya; ia melepas cengkeraman Three-Iron lalu meluruskan jemari tangan kirinya mencakar menusuk kedua mata sang kepala keluarga.

Setiap tindakan mengalir alami tanpa keraguan sedikit pun.

Jika tidak bisa menghindar, balaslah dengan serangan mematikan. Itulah doktrin akhir dari Wave Blocking.

Sang kepala keluarga memejamkan kedua matanya rapat-rapat lalu menghantamkan tinjunya telak menghujam perut Encrid.

*BUM!*

Dentuman ledakan udara meletup dahsyat, dan Encrid merasakan tubuhnya melayang tanpa bobot untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Tubuhnya terlempar melayang puluhan meter ke belakang.

Saat tubuhnya menghantam tanah liat dengan bunyi debuman keras, ia lekas berguling lincah laksana seekor kucing liar lalu kembali memantapkan kuda-kuda kakinya di atas tanah.

Namun ia telah terkena pukulan telak.

Andai Tempest menyusulkan tebasan pedang pada detik itu, Encrid pasti sudah menderita luka fatal.

Akan tetapi sang kepala keluarga memilih berdiri mematung di tempatnya. Setitik darah segar menetes perlahan dari sudut kelopak matanya.

Bola matanya sama sekali tidak terluka, tetapi cakaran jemari Encrid berhasil merobek sebagian kulit kelopak matanya.

Meskipun Encrid berhasil menyerap benturan pendaratan menggunakan otot punggungnya, napasnya sempat tercekat sakit.

Namun jemari tangannya telah mencengkeram erat gagang Horn-Hilted Dagger di pinggangnya.

Meskipun berada dalam posisi berlutut rendah, postur tubuhnya siap meledak—siap melemparkan belati bertanduk itu dan menerjang maju kembali kapan saja.

"Mengesankan."

Sang kepala keluarga Zaun akhirnya membuka suara memecah keheningan.

Duel resmi berakhir.

Seseorang di tepi lapangan menghembuskan napas panjang—*huff*—dan sang kepala keluarga kembali berujar:

"Tekad putus asa selalu tertinggal satu langkah di belakang."

Ia menambahkan beberapa patah kata lagi:

"Hanya usaha dan latihan di masa lalulah yang sanggup menjawab keputusasaan di masa sekarang. Itulah mengapa kau sangat mengesankan."

Pria itu adalah sosok yang sangat hemat bicara, baik di tengah pertempuran maupun setelah duel usai.

Encrid mungkin tidak menyadarinya, tetapi para ksatria klan yang berkumpul menonton di tepi lapangan paham betul situasinya. Mereka tahu betapa bergairahnya sang patriark saat ini.

Normalnya setelah melakoni duel, sang kepala keluarga bahkan tidak akan melontarkan sepatah kata pun. Namun sekarang ia membuka suaranya dengan untaian pujian tinggi. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk mengguncang hati mereka.

"Tamu yang sangat langka," gumam seorang pria paruh baya berambut pirang keemasan lebat di tepi lapangan.

"Tapi dia kelihatannya tidak terlalu berbakat ya," komentar pria lain berambut cokelat terang yang menyandang enam bilah pedang di punggung dan pinggangnya dengan nada datar.

Di tengah keterperangahan semua orang, Encrid membuka suaranya dengan nada lapar:

"Satu ronde lagi?"

Itu memang kalimat khas yang selalu ia lontarkan. Namun kali ini sorot matanya terasa berbeda.

Seringai lebarnya tetap merekah, tetapi di dalamnya terselubung sebuah luapan emosi baru yang teramat pekat. Seolah ia telah menuangkan seluruh jiwa raganya ke dalam permohonan tersebut.

Aroma dari kobaran emosinya merebak luas laksana botol parfum yang tumpah—begitu kuat hingga bahkan mereka yang tak menguasai Will pun sanggup merasakannya dengan sangat jelas.

Sebuah luapan rasa yang kini terpampang nyata di depan mata semua orang:

Keputusasaan yang membakar jiwa.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.