Bab 694
Pria dengan enam bilah pedang di sabuknya mengamati seringai Encrid sepanjang duel lalu mengangguk kagum dalam hati.
*'Watak bertarung yang sungguh luar biasa.'*
Menerjang maju sembari menyeringai lepas di hadapan tekanan mautâitu adalah jenis reaksi yang bahkan jarang diperlihatkan oleh Odinkar atau anak-anak muda Zaun lainnya. Pemuda berambut hitam itu benar-benar menikmati bobot intimidasi dari sang kepala keluarga.
Pemandangan itu langka, tidak lazim, dan sangat memikat mata. Namun di dalam House of Zaun, hal semacam itu belum sepenuhnya asing, jadi ia tadinya hendak menganggapnya sebagai "salah satu anomali biasa".
*"Satu ronde lagi?"*
Namun kemudian Encrid melontarkan kalimat itu tepat setelah menderita kekalahan telak. Kata-kata barusan sama sekali tidak biasa. Luapan emosi di balik permohonan itu menusuk lurus menghujam sanubari siapa pun yang mendengarnya.
Sang pria penyandang enam pedang bahkan tidak tahu siapa sosok Encrid sebenarnya, tetapi ia mendapati dirinya berharap sang kepala keluarga bersedia mengabulkan tantangan tersebut.
Lihatlah betapa pekatnya keputusasaan yang berkobar di dalam sepasang manik mata biru yang dibingkai rambut hitam pekat itu.
*'Kepala Keluarga, bukankah kobaran jiwa semacam itu yang selalu Anda khotbahkan selama ini?'*
Bukankah sang patriark baru saja mengucapkannya beberapa detik yang lalu?
Bahwa tekad putus asa selalu datang terlambat satu langkahâdan hanya usaha keras yang telah ditimbun di masa lalulah yang sanggup menjawabnya di masa sekarang.
Dan kini pria berambut hitam itu tengah menumpahkan dahaga keputusasaannya bahkan saat dirinya tengah dihujani untaian pujian tinggi.
Ia berseru bahwa ia masih ingin mengayunkan pedangnya lebih banyak lagi. Bahwa pertempuran ini belum usai. Bahwa ia ingin bertahan di sana sedikit lebih lama.
Ia menyuarakannya dengan segenap luapan jiwa yang tumpah ruah.
*'Mengakui kekalahan adalah hal yang terpuji. Menikmati seni pedang adalah hal yang mengagumkan.'*
Namun memiliki keputusasaan sejati yang membakar jiwaâitu adalah hal yang jauh lebih mulia.
Itu adalah salah satu doktrin agung House of Zaun. Bahkan merupakan prinsip hidup pribadi sang kepala keluarga.
Dulu mereka mengasingkan Ragna dari keluarga murni karena seorang jenius tanpa keputusasaan bukanlah seorang jenius sejati. Namun sekarang pria yang datang mendampingi kepulangan Ragna tengah mempertontonkan kobaran api yang menghujam telak ke relung dada mereka. Sesuatu yang membara sangat panas.
"âŠSebuah watak yang langka," gumam pria paruh baya berambut pirang di sampingnya.
Sang pria penyandang enam pedang bahkan tidak menoleh saat membalas ketus:
"Langka? Itu adalah watak yang teramat berharga. Latihlah matamu lebih baik lagi, Hescal."
Jam terbang bertahun-tahun mengayunkan pedang memberitahunya bahwa pria di lapangan itu adalah sosok yang sangat istimewa. Mungkin karena ia sendiri mendalami konsep gelombang pedang, instingnya membisikkan kepastian mutlak tersebut.
Hescal tampaknya tidak memandangnya dari sudut yang sama. Manik matanya memang menyiratkan sedikit keterkejutan, tetapi sikap keseluruhannya tetap dingin tak acuh.
"Seperti biasa, mendengar ceramah soal kepekaan mata darimu rasanya sungguh menyiksa telinga."
Pria bernama Hescal itu membalas sinis, tetapi sang pria enam pedang tidak repot-repot menimpali lagi.
Apakah perdebatan remeh itu penting saat ini? Sama sekali tidak.
Ada mata-mata lain yang tengah terpaku menyimak. Salah satunya adalah Ann. Gadis itu pun ikut terhanyut oleh keputusasaan Encrid yang membakar, tatapannya tercuri seutuhnya, dan mendapati dirinya berharap pria yang dulu membantai gurunya itu sanggup bangkit kembali menantang batas kemampuannya.
Dan secara alami pandangan Ann beralih menatap sosok yang semestinya menjawab permohonan Encrid.
Pada saat itulah Ann melihat seutas kepulan asap hitam tipis melayang keluar dari mulut sang kepala keluarga. Fenomena itu terjadi begitu singkat hingga terasa seperti ilusi halusinasiâsebelum akhirnya menguap lenyap tanpa bekas.
Tadi ia terlalu syok untuk menyadarinya, tetapi kini sebuah aroma khas merebak pekat di udara. Sebuah aroma yang hanya sanggup diendus oleh seorang alchemist dengan jam terbang bertahun-tahun meracik tanaman obat dan ramuan medis.
Ann seketika tersentak bangun dari keterhanyutan emosinya. Naluri alkimiawinya menyatu dengan kesadarannya, mengembalikan kejernihan berpikir ke dalam kepalanya.
*'Iya.'*
Ann menyadari sesuatu yang mengerikan dan hendak membuka mulutnya untuk bersuara, tetapi istri sang kepala keluarga telah lebih dulu melangkah maju.
"Biar kuambil alih dari sini."
Alexandra melangkah maju ke tengah lapangan tanpa meminta izin suaminyaâtetapi tak ada satu pun orang yang membantah.
Semua orang di sana tahu betul bahwa keahlian pedang Alexandra nyaris setara dengan sang kepala keluarga.
Bahkan Encrid yang kini tengah bertumpu pada satu lututnya sembari menghembuskan napas panas dengan mata membara bisa merasakan bobot wibawa yang menguar di sekeliling wanita itu.
Sebagian orang tahu, sebagian lainnya butaâtetapi sosok bernama Schmidt, sang perwira perekrut Kekaisaran, dulunya dilatih ilmu pedang langsung di bawah bimbingan Alexandra.
Gaya pedang Schmidt menitikberatkan pada kecepatan murni. Dan itu sangat wajar. Bahkan sebelum menyandang nama besar Zaun, bilah pedang Alexandra selalu termasyhur akan kecepatannya yang membutakan.
Dulu kala ksatria legendaris bergelar Knight of Gale Winds menggegerkan benua dengan langkah kakinya, Alexandra menyandang gelar kemasyhuran yang serupa:
*Blitzklinge*âyang dalam bahasa daratan utama diterjemahkan sebagai *Lightning Blade*.
Senjata andalannya adalah sepasang pedang tempaan khusus yang sedikit lebih panjang daripada pedang pendek biasa. Bahkan di bawah langit mendung yang kelabu hari ini, hawa dingin berkilau seolah terus memeluk sepasang matanya.
*'Tempest memiliki tebasan yang teramat berat.'*
Dan istrinya memiliki tebasan yang secepat kilat.
Ragna tumbuh besar dengan mengamati ilmu pedang kedua orang tuanya setiap hari. Sangat wajar jika pemuda itu pada akhirnya menguasai gaya pedang yang berat sekaligus secepat sambaran kilat.
Begitu Alexandra selesai berucap dan tampak memberi jeda sesaat bagi Encrid untuk mengatur napas, salah satu bilah pedang pendeknya seketika menjelma menjadi seberkas kilatan cahaya yang menusuk lurus membidik kening Encrid.
*Czzzzztttâ!*
Suara desau udara yang tersengat halilintar mengekor di ujung mata pedang saat bilah itu meluncur deras. Encrid yang memusatkan fokusnya hingga ke batas ekstrem lekas memiringkan kepalanya ke samping.
*Cras!*
Ujung bilah menggores pipi kirinya, menumpahkan butiran darah ke udara. Namun sebelum setetes darah pun sempat menyentuh tanah liat, setidaknya lima belas pertukaran tebasan kilat telah meledak di antara mereka.
*Tring-trang-tring-trang-tring!*
Pada detik berikutnya Encrid telah kembali melompat berdiri di atas kedua kakinya, menahan Three-Iron Sword dalam sudut diagonal, menyembunyikan siluet tubuhnya di balik penampang pedang laksana tameng baja.
Alexandra berdiri empat setengah langkah di depannya, menggenggam sepasang pedang pendek di kedua tangannya dengan santai.
*Glegar.*
Gumpalan awan mendung kian menggelap di atas langit. Gemuruh guntur berdentum di kejauhan. Hujan lebat tampaknya akan segera mengguyur bumi.
*Tetes.*
Luka robek di pipi Encrid ternyata tergores lebih dalam dari perkiraannya. Seutas aliran darah segar meluncur turun membasahi pipinya hingga menetes di ujung dagunya.
"Aku akan menyelesaikan duel ini sebelum rintik hujan pertama turun," tutur Alexandra dingin.
"Begitukah?" sahut Encrid di sela napasnya yang memburu penuh gairah.
*Bagaimana aku sanggup menangkis rentetan tebasan barusan?* tanyanya pada diri sendiri mencari jawaban teknis.
Namun tidak ada jawaban pasti yang muncul.
Mungkinkah ia tadi murni hanya diberkahi keberuntungan?
Alexandra memberinya jeda singkat lagi untuk memulihkan konsentrasi lalu kembali membuka suara:
"Cuaca yang aneh. Badai datang lebih awal dari biasanya, tapi aku belum pernah melihat badai sebesar ini seumur hidupku. Entah dewa mana yang tengah bermain trik hari ini, tapi yang jelas bukan God of Swords. Beliau tidak peduli pada hal lain di luar mata bilah."
"Begitukah?" ulang Encrid dengan nada yang sama.
Sudut bibir Alexandra terangkat membentuk seringai tipis.
"Bocah tengil ini. Kau sama sekali tidak mendengarkan sepatah kata pun yang kuucapkan ya?"
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Ragna tahu betul kelemahan ibunya: meskipun pembawaan alaminya sangat ramah dan anggun, pada detik seseorang melangkahi garis batas kesabarannya, wanita itu akan menanggalkan tata krama bicaranya. Itu adalah sinyal bahaya maut.
*'Sebenarnya apa ini�'*
Encrid memusatkan seluruh kepekaan batinnya pada sensasi misterius yang tengah bergolak di dalam jiwanyaâsesuatu yang berada tepat di ambang batas jangkauan jemarinya.
Sensasinya persis seperti melihat fatamorgana di tengah padang pasir tandus. Ia merasa jika ia memusatkan fokusnya sedikit lebih keras lagi, ia pasti sanggup mencengkeram wujud fatamorgana itu. Karena itulah tanpa ia sadari keputusasaannya kembali meluap keluar.
Dahaga batin yang biasanya ia kubur rapat-rapat di dasar jiwanya kini menyembur naik ke permukaan. Itu telah melampaui sekadar rasa gembira biasaâitu adalah hasrat mutlak untuk menguasai pemahaman baru tersebut detik ini juga.
Ia ingin mengayunkan pedangnya sebuas mungkin. Ia belum tahu caranya. Ia belum tahu jalannya. Namun ia hanya ingin terus mengayunkan pedang tanpa henti.
Dan ia menambahkan satu hasrat lagi ke dalam kobaran jiwanya:
*'Sebisa mungkin bertahan selama mungkin.'*
Terus mengayunkan pedang. Berulang kali tanpa jeda. Sembari mempertahankan kondisi transendensi ini.
Lalu apa yang harus ia lakukan demi mencapainya?
*'Bertahanlah.'*
Kobaran Will di dalam dadanya tak akan pernah padam. Untuk saat ini ia memajukan Three-Iron Sword ke depan lalu menyembunyikan tubuhnya di balik penampang bilah.
Memajukan kaki kanannya, ia menggunakan jempol kakinya sebagai poros tumpuan lalu menarik garis vertikal lurus ke atasâmemblokir ruang gerak dengan bilahnya.
Posisi itu menempatkan pedang tepat di antara dirinya dan sang lawan. Ia memastikan lawannya tidak bisa melihat apa pun selain kilau mata bilah pedang.
*'Lalu apa langkah berikutnya?'*
Murni dari pertukaran jurus pertama tadi, ia menangkap sebuah kebenaran: gaya bertarung lawannya memiliki kemiripan struktur dengan One-Killer dari Demon Realm.
Ilmu pedang wanita ini menari di antara insting dan kalkulasi, tetapi fondasi utamanya berakar pada logika rasional yang dingin. Bagaimana jika ia sengaja menyuntikkan kekacauan ke dalam logika tersebut?
Dulu ia pernah menerapkan taktik ini saat bertarung melawan iblis One-Killer di masa laluâberupaya meremukkan kalkulasi dingin sang lawan.
*'Tanpa gerakan sia-sia. Tujuannya adalah merusak ritme berpikir musuh.'*
Wave Blocking Sword telah aktif sepenuhnya. Insting taktisnya memberitahunya apa yang harus dieksekusi.
Encrid menurunkan tangan kirinya perlahan lalu menggesernya sedikit mendekati gagang Penna di pinggangnya. Namun ia tidak menghunus pedang itu. Tidak, ia bahkan tidak berniat mencengkeram gagangnya.
Meski demikian gestur mikro itu sudah lebih dari cukup untuk menyuntikkan galat kalkulasi ke dalam benak sang lawan.
*Krak!*
Encrid mendadak melihat dua bilah sabit rembulan meluncur jatuh ke arahnyaâbukan, sepasang pedang pendek yang melengkung anggun laksana sabit bulan.
Ia mengangkat Three-Iron secara diagonal menyambut serangan itu sembari menggeser kaki kirinya mundur dan menegangkan seluruh serabut otot di tubuhnya.
Tiba-tiba persepsi waktu di matanya melambat drastis. Segalanya harus melambat, jika tidak ia tak akan pernah sanggup menahan tebasan maut ini.
Bulan sabit itu meluncur jatuh. Dan sebilah pedang jika salah perhitungan akan berbalik memotong tubuh tuannya sendiri.
Jika ia kalah dalam adu tenaga melawan tebasan sabit kembar itu, pedangnya sendiri yang akan menebas tubuhnya.
*TRANG! KLANG!*
Sepasang sabit rembulan itu menghantam telak penampang bilah Three-Iron. Encrid menilai sudah terlambat untuk membelokkan tebasan itu murni menggunakan kekuatan tangan, maka ia menerapkan teknik beladiri Valaf-Style Martial Arts untuk menyerap dan membiaskan daya dorong tersebut melalui rotasi tubuhnya.
*Sret, sret.*
Akibatnya kedua telapak kakinya bergeser terseret menyamping di atas tanah liat.
Alexandra yang baru saja melancarkan tebasan sabit kembar itu lekas melompat mundur merenggangkan jarak.
"Kau bercanda ya? Aku ini jauh lebih cepat darimu, dan kau malah nekat menarik trik konyol seperti itu? Orang bodoh macam apa yang bertarung begitu?!"
*Putrimu yang melakukannya,* batin Encrid menelan provokasi itu dalam hati. Sekarang bukan saatnya bercanda. Alexandra jelas masih menahan sebagian besar kekuatannya.
Encrid baru saja dihajar habis-habisan oleh sang kepala keluarga beberapa menit yang lalu. Mustahil fisiknya berada dalam kondisi prima seratus persen.
Apakah Alexandra menahan diri karena alasan itu? Sebenarnya tidak sesederhana itu.
Ragna mengenali tabiat buruk ibunya yang mulai kambuh.
Seekor tikus yang terpojok mungkin akan nekat menggigit kucingâtetapi apa yang terjadi jika sang kucing sebenarnya adalah seekor harimau buas?
Alexandra Zaun sangat gemar menggiring lawannya masuk ke sudut keputusasaan mutlakâsetidaknya dalam arena duel tanding.
Lekukan bibirnya tak bisa berbohong: wanita itu tengah menikmati pertempuran ini seutuhnya.
"Hei, kalau kau terus bertingkah nekat begitu, kau bakal mati sungguhan lho," peringat Alexandra dingin.
Encrid merasakan bobot maut di balik kalimat tersebut. Niat membunuh yang memancar dari tubuh wanita itu sama sekali bukan lelucon pasar.
Wibawa keberadaannya telah memadat menjadi bentuk nyata, persis seperti milik suaminya tadi.
Tadi kehadiran suaminya bagaikan sebilah greatsword raksasa. Kini kehadiran sang istri bagaikan sebutir mata anak panah yang terpasang pada busur yang ditarik kencangâterhunus tepat beberapa inci di depan bola mata Encrid. Pada detik busur itu dilepas, anak panah maut itu pasti akan melubangi kepalanya.
Ketegangan ekstrem itu membakar otaknya dan menyulut kesadarannya hingga ke titik didih. Will miliknya meledak meluap, memicu setiap saraf di tubuhnya untuk bekerja maksimal. Pikirannya berputar makin cepat laksana pusaran angin.
*'Untuk terus merusak kalkulasinya, aku terpaksa harus terus membuka celah titik lemahku sendiri.'*
Yang berarti di hadapan pendekar dengan kecepatan kilat sekelas Alexandra, tindakan itu tak ubahnya aksi bunuh diri konyol.
*'Itu adalah manuver yang sangat bodoh.'*
Encrid mengakuinya secara jujur.
Ia menuntaskan evaluasi taktisnya dalam satu tarikan napas.
*Brak!*
Kaki Alexandra kembali menghentak tanah liat. Pada detik tubuhnya melesat maju menerjang dari tanah, siluet fisiknya seketika mengabur tertelan kecepatan kilat.
*'Bereaksilah!'* titah Encrid pada tubuhnya sendiri.
Tusukan titik presisi di awal tadi, disusul rentetan tebasan beruntun, lalu tebasan sabit kembar barusan. Ia tidak menangkisnya lewat proses berpikir sadar. Tubuhnyalah yang bereaksi secara otomatis.
*BUM!*
Bilah Three-Iron milik Encrid berhasil menahan tebasan diagonal turun Alexandra, tetapi wanita itu memegang dua bilah pedang di tangannya.
Pedang di tangan kirinya menyelinap masuk dalam tusukan kilat yang tajam, menusuk lurus ke celah sambungan di atas paha kanan Encridâsebuah titik rawan yang tak terlindungi oleh pelat zirah.
Memanfaatkan momentum dari tangkisan tebasan pertama tadi, Encrid memutar tubuhnya setengah putaran secara ekstrem.
Berkat putaran kilat itu, bilah kedua Alexandra hanya menyayat permukaan kulit pahanya alih-alih menusuk tembus organ dalamnya.
Darah segar merembes dari kain celana yang robek, tetapi itu hanyalah luka gores luar.
*"Kau harus mengayun dengan seluruh tubuhmu, dasar bodoh! Mulailah dengan membentuk otot perutmu. Buat ototmu lebih keras lagi!"*
Kapan wejangan itu ia dengar dulu?
Tepatnya di masa-masa ia memeras keringat mencari nafkah sebagai tentara bayaran, pemandu jalan, pengawal pribadiâatau bahkan sekadar hiasan pelindung bagi nyonya bangsawan.
Salah satu instruktur veteran telah menanamkan fondasi ilmu pedang dasar itu ke dalam kepalanya.
*"Kau tidak mengayunkan pedang cuma bermodalkan kekuatan lenganmu. Gunakan seluruh bobot tubuhmu!"*
Maka ia telah melatihnya. Tanpa melewatkan satu hari punâlaksana seorang ksatria gila sejati.
Kemudian Audin mengajarinya cara membuat serat-serat ototnya menjadi jauh lebih liat, lebih tahan benturan, dan lebih fleksibel. Maka ia mengikutinya, membentuk tubuhnya sesuai doktrin sang ksatria beruang.
Tubuhnya kini merespons setiap komando dengan presisi mutlak. Dan di atas segalanya, ia telah mempelajari sebuah jalur di mana tidak ada langkah yang salah.
Ragna telah mengajarkan filosofi agung itu padanya. Maka tidak ada lagi sebutir keraguan pun di hatinya.
*'Insting dan intuisi batin meledaklah!'*
Pedang Alexandra meluncur dari luar batas persepsi indra dan kalkulasi logisnya.
Itulah alasan mengapa indra sensoriknyalah yang memimpin di depan dan bereaksi mendahului otaknya.
Hembusan angin dingin menyapu lembut daun telinganya. Seluruh sarafnya menegang tajam, bahkan bulu-bulu halus di tubuhnya seolah sanggup membaca setiap liukan gerak sang lawan.
Siluet tubuh Alexandra kini tampak berkilau temaram, cahaya tipis menyelimuti tubuhnya dan sepasang pedang pendeknya memancarkan pendar cahaya serupa.
Wanita itu menyembunyikan tangan kirinya di belakang punggung lalu menebaskan pedang kanannya dalam sabetan miring yang teramat dahsyat.
*'Bereaksilah!'* perintah Encrid pada raganya sekali lagi.
Sesuatu yang tadinya buram dan abstrak akhirnya mewujud menjadi bentuk nyata di dalam genggamannya.
Indranya bertindak terlebih dahuluâbergerak mendahului kesadaran otaknya untuk memproses apa yang tengah terjadi. Dan di dalam proses transendensi itu, Will miliknya teralirkan secara alami tanpa hambatan.
Ia telah melatih gerakan ini ratusan, mungkin jutaan kali sebelumnya, tetapi kali ini rasanya seolah ada entitas lain yang menenun benang-benang energi tak kasat mata ke dalam dagingnya dan menggerakkan raganya secara sempurna.
*BUM!*
Sebuah dentuman udara yang memekakkan telinga meledak keras, dan Encrid sekali lagi terlempar melayang di udara bagaikan boneka tali yang putus. Namun kali ini tubuhnya tidak berguling mencium tanah.
*Dukâ*
Seseorang menangkap punggungnya di udara dan menahan momentum luncurnya dengan kokoh.
Berkat tangkapan itu, alih-alih menghantam tanah dengan canggung, Encrid mendarat mulus dalam posisi duduk bertumpu pada satu lututnya.
Secara ironis itu adalah posisi akhir yang sama persis saat ia menyelesaikan duelnya melawan sang kepala keluarga tadi.
"Apa yang baru saja kaulakukan barusan?!" bisik Ragna dengan mata membelalak lebar penuh keterkejutanâsebuah ekspresi langka yang nyaris tak pernah terlihat di wajah pemuda itu.
"Aku tidak tahu," sahut Encrid jujur di sela napasnya yang terengah.
"Alex, apa kau tadi benar-benar berniat membunuh orang dalam duel tanding?!" tegur sang pria penyandang enam pedang dari tepi lapangan.
"Ah, serius, aku tadi nyaris kebablasan membunuhnya. Kau baik-baik saja?" tanya Alexandra yang kini telah kembali ke pembawaan ramahnya yang tenang.
"Tapi kurasa kau baik-baik saja kok. Kau berhasil menangkisnya dengan sangat rapi tadi kan?" tambah Alexandra tersenyum geli.
Encrid mengangguk mantap lalu berujar tulus:
"Iya. Aku berhasil menangkisnya. Dan duel tadi sungguh sangat menyenangkan."
Ia mengucapkannya dengan ketulusan jiwa yang mutlak.
Ragna menatap Encrid lekat-lekat, memutar kembali adegan mustahil yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Itu adalah hal yang nyaris di luar nalar.
*'Dia baru saja menyelimuti dan memadatkan Will di sekeliling pedangnya.'*
Hanya untuk sepersekian detikâtetapi Ragna yakin seratus persen ia melihatnya dengan sangat jelas.
Will adalah energi tak berwujud kasat mata. Ragna secara pribadi meyakini bahwa tingkatan berikutnya dari penguasaan Will adalah memberi bentuk padat pada kekuatan abstrak tersebut.
Jika ia harus memberinya nama, ia akan menyebutnya *materialisasi Will*.
Encrid sempat memperlihatkan fenomena serupa saat membongkar kuda-kuda Wave Blocking Sword tempo hari.
Fondasi dari teknik itu berakar dari wibawa pedang sang ayah. Ragna memodelkan konsep manifestasi energi dari intimidasi sang kepala keluarga, melahirkannya dalam wujud greatsword bayangan.
Kini langkah berikutnya adalah memadatkannyaâmemancarkan Will yang jauh lebih padat, lebih murni, dan lebih tajam.
*'Sang Kapten baru saja berhasil melakukannya.'*
Pada momen krusial tadiâsaat Encrid menangkis pedang ibunyaâpria itu telah melangkah satu tapak lebih jauh mendahului Ragna.
"Coba lakukan sekali lagi," desak Ragna penasaran.
"Eh? Mm... kurasa aku tidak bisa mengulanginya sekarang," tolak Encrid menggelengkan kepala. Lalu ia menambahkan dengan senyum tipis:
"Lagipula hari ini bukan satu-satunya hari dalam hidupku kok."
Bakat memang hal yang sangat kejam. Bagi sebagian jenius, satu kali kilasan keberuntungan sudah cukup untuk menguasainya. Bagi orang lain, dibutuhkan puluhan kali keberuntungan dan jutaan tetes darah untuk mencapai titik yang sama.
Namun bahkan di hadapan kekejaman takdir ituâ
"Pertarungan tadi benar-benar sangat menyenangkan," kekeh Encrid tertawa lepas.
Manusia seperti dirinya sungguh teramat langka di muka bumi ini.
Ragnanyalah yang tadi menahan punggung sang kapten dengan telapak tangannya.
"Sejak kapan Anda mengidap penyakit itu?"
Suara itu datang dari Ann yang sedari tadi berdiri menyimak di tepi lapangan. Gadis itu kini melangkah tegap mendekati sang kepala keluarga Zaun lalu melontarkan pertanyaannya dengan tegas.
Sang kepala keluarga menatap Ann dalam keheningan.
Raut wajah Ann menunjukkan bahwa ia tengah berada dalam keseriusan medis yang mutlak.
"Bicaralah," desak Ann menuntut jawaban laksana seorang dokter yang memerintah pasiennyaâtetapi baginya hal itu adalah kewajiban yang sangat alami.
Siapa pun sosok di hadapannyaâjika ia adalah seorang pasien yang tengah sekarat digerogoti maut, Ann akan melakukan apa pun demi menyelamatkan nyawanya. Itulah panggilan jiwa dari seseorang yang mendedikasikan hidupnya sebagai seorang healer sejati.
"Di dalam. Kita bicara di dalam saja," sahut sang kepala keluarga akhirnya membuka suara.
Alexandra lekas melambaikan tangannya membubarkan para ksatria klan yang menonton di sekeliling lapangan:
"Pertunjukan sudah resmi selesai, semuanya! Kalau kalian menikmatinya, kembalilah berlatih lebih keras lagi sana!"











