Bab 722: Only?
Jika aku bisa merasakan Will-ku dan menggerakkannya, bukankah aku juga bisa mengubah wujudnya?
*'Aku pasti bisa.'*
Ragna sudah merasakannya langsung di dalam tubuhnya, dan bahkan berhasil mewujudkannya. Kilau putih susu yang muncul di bilah pedang tadi adalah fenomena yang terjadi saat ia menyalurkan Will yang terkompresi ke senjatanya. Jika ia bisa melakukannya pada pedang, ia pasti bisa menerapkannya pada tubuhnya sendiri. Ia mengumpulkan sisa Will di tubuhnya, memadatkannya rapat-rapat, lalu melepaskannya meledak keluar. Ragna mengayunkan Penna empat kali dengan cara itu.
Titik tempat Ragna mengayunkan pedangnya berada persis di sisi kiri depan Encrid.
Karena Dmule juga berdiri terpisah dari dua anak buahnya, situasi ini seolah membagi mereka menjadi dua kubu: Encrid berhadapan dengan Dmule, sementara Ragna menghadapi dua sisanya.
Bahkan sebelum Ragna melangkah maju, otak Encrid sudah berputar kencang, menimbang berbagai kemungkinan. Luagarne-style Tactical Sword tidak pernah mengajarkannya untuk mengandalkan insting semata.
Mempercayai intuisi adalah keahlian unik milik Encrid seorang.
Fondasi dasar Tactical Sword berakar pada perhitungan probabilitas.
*'Bagaimana caranya agar bisa bertahan hidup?'*
Atau,
*'Pilihan mana yang akan menuntun pada kemenangan?'*
Di permukaan, ekspresi dan sikapnya tampak santai, namun di dalam kepalanya, perhitungan matematis bergulir tanpa henti.
Ada terlalu banyak variabel yang bermain di medan pertempuran ini.
Dan salah satu variabel terbesarnya kini terpampang di depan mata Encrid.
Encrid, yang berusaha menghemat tenaganya, duduk bersila di atas tanah berlumpur yang basah—bahkan menumpukan berat badan pada kakinya saja terasa membuang-buang energi. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat bahaya maut yang sedang mengancam Ragna.
Si Kakek Bermata Tiga mengibaskan tangannya berulang kali, menghujankan sambaran petir dari langit.
Tepat di depan Ragna, mutan Scaler bertanduk mengulurkan tangannya dan mengendalikan telekinesis.
Tetesan air hujan yang jatuh terseret ke dalam pusaran telekinesis, memadat membentuk sepasang tangan raksasa dari air.
Dua tangan air raksasa itu mengepung dan mencengkeram dari kedua sisi tubuh Ragna. Bahkan hujan yang tercurah dari udara kosong sanggup terperangkap oleh kekuatan telekinesis ini. Kemampuan itu jauh melampaui Scaler mana pun yang pernah mereka temui sebelumnya.
Bersamaan dengan kendali telekinesis tersebut, si mutan Scaler mempertahankan cengkeraman tangan air raksasanya, mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi ke angkasa, lalu melompat menerjang ke arah Ragna sambil menghantamkan tangannya ke bawah. Kecepatannya saat menjejak tanah dan memangkas jarak mampu menandingi insting tajam seorang ksatria kawakan.
Di mata Encrid, momen saat tangan itu meluncur turun seolah bergerak lambat.
Udara di sekitar tepi telapak tangan itu bergelombang terdistorsi. Untuk sesaat gerakannya tampak lambat—lalu kecepatan tebasan tangannya meledak luar biasa.
Encrid tak sanggup lagi memusatkan pikirannya pada kalkulasi taktik.
Sebagian karena perhatiannya terenggut paksa, dan sebagian lagi karena tubuhnya memang tak mampu memproses dua jalur pikiran sekaligus.
Namun, alasan terbesarnya adalah insting.
Pada saat itu, sesuatu di lubuk hatinya menuntutnya untuk merekam pemandangan di depan matanya, meski ia sendiri tak tahu alasannya.
Tepat sebelum kilatan petir dari si Kakek Bermata Tiga menyambar tubuh Ragna, waktu seolah berhenti berputar. Seluruh fokus Encrid terkunci pada pedang Ragna.
Cahaya menyilaukan terkumpul di bilah pedang Ragna. Tetesan air hujan yang berjatuhan bahkan tampak terbelah begitu menyentuh pendar cahaya itu, berpencar ke kedua sisi.
Will yang terkompresi sempurna kini menjelma menjadi binar cahaya kasatmata. Ragna mengayunkan pedangnya.
Ayunan pertamanya menebas ke arah kiri. Sambaran-sambaran petir terseret mengikuti lengkungan bilah Penna, terbelokkan ke samping lalu menghantam tanah dengan dentuman dahsyat.
Sebelum siapa pun menyadarinya, ujung pedang Ragna sudah melesat lurus ke depan—tepat saat si mutan Scaler menghantamkan tangannya ke bawah.
Pedang panjang Ragna menusuk tembus telapak tangan itu lalu menghunjam lurus menembus kepala bertanduk milik si mutan.
DUAR!
Suara petir yang menghantam tanah menenggelamkan bunyi robekan daging. Semua itu terjadi nyaris pada detik yang bersamaan.
Begitulah betapa mengerikannya kecepatan pedang Ragna. Satu tebasan ke kiri, satu tusukan lurus ke depan.
Rasanya seolah ada dua sosok Ragna yang mengayunkan pedang secara bersamaan tanpa jeda sedikit pun di antara kedua serangan itu.
Dan Ragna tidak berhenti di situ.
Sambil menarik kembali pedangnya dari tusukan maut, ia menerjang ke arah si Kakek Bermata Tiga seraya mengayunkan bilahnya sekali lagi.
Pada detik kritis itu, tirai pelindung tak kasatmata, mantra pertahanan, serta berbagai Artifact dan Spell Object langsung aktif serentak untuk melindungi tubuh si Kakek Bermata Tiga.
Pada saat-saat terakhir, mata ketiga yang tertanam di dahinya bahkan menyala merah menyala.
Namun, tak satu pun dari trik sihir itu sanggup menghentikan tebasan pedang Ragna.
Si pria tua bahkan tak sempat membuka mulutnya. Bilah pedang Ragna telah menorehkan garis tipis yang tegas dan mematikan di sepanjang lehernya.
Hanya dalam tiga gerakan, Ragna kembali melompat ke depan.
Tubuhnya telah melompati batas kemampuannya, mirip seperti kondisi Encrid sebelumnya.
Bagi orang awam, gerakannya akan tampak seperti mantra teleportasi instan.
Tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, Ragna memangkas jarak, dan tebasan terakhirnya meluncur deras mengincar kepala Dmule.
Namun sayang, pedangnya gagal mencapai tujuan akhir.
TRANG! PRANG-PRANG-BRAK!
Sebuah perisai sihir tebal menahannya.
Apakah itu murni nasib sial?
Bukan, hal seperti ini memang sudah bisa diduga.
*"Penyihir itu licik."*
Encrid teringat kembali pada pelajaran berharga dari Esther.
Retakan-retakan bermunculan di sekeliling tubuh Dmule. Di udara kosong, lapisan pelindung bertekstur kaca pecah berkeping-keping lalu berhamburan jatuh ke tanah.
Mantra sihir yang melindungi Dmule selama empat puluh tahun kini hancur berkeping-keping.
"Mengesankan," ucap Dmule seraya mengibaskan tangannya. Gelombang telekinesis menghantam telak dada Ragna.
BUGH!
Setelah melancarkan empat tebasan maut berturut-turut, tubuh Ragna benar-benar kehabisan tenaga. Ia terlempar tanpa daya ke samping, terguling di atas tanah berlumpur tanpa sempat menyeimbangkan tubuhnya di udara.
Gubrak, brak.
Saat ini, seekor ghoul lemah sekalipun mungkin sanggup menghabisinya.
Namun, tangannya tetap mencengkeram erat gagang Penna.
Terbaring di atas tanah, Ragna terbatuk memuntahkan darah segar.
Ia berusaha bangkit, menancapkan bilah Penna ke bumi sebagai tumpuan, namun tubuhnya bergoyang goyah.
Wajahnya berantakan, rambutnya yang kusut menempel di pipi setelah berguling di lumpur yang basah kuyup oleh hujan.
Kubangan lumpur bercampur darah yang ia muntahkan mengalir di wajahnya dalam garis-garis merah pekat hingga menetes dari dagunya.
"Aku sudah menanamkan Seed of Plague di dalam tubuhmu. Berbaringlah di sana kalau kau mau. Bahkan jika kau memohon untuk mati, kau tetap takkan bisa mati."
Ragna tak sanggup menyahut. Darah segar terus mengalir dari mulut dan hidungnya.
Melihat tatapannya yang kabur tanpa fokus, sungguh keajaiban ia belum kehilangan kesadaran.
Atau mungkin ia sebenarnya sudah pingsan, namun tubuhnya masih menolak melepaskan cengkeraman pedangnya.
Meski begitu, ia tetap menancapkan pedangnya ke tanah dan menahan bobot tubuhnya, menolak menyerah dalam pertempuran ini.
Encrid tak tahan lagi melihat kondisi Ragna dan akhirnya membuka suara.
"Kau lihat itu? Dia cuma seorang ahli pedang rendahan, tapi lihat apa yang berhasil dia lakukan padamu."
Dua anak buah yang kau bawa sudah tewas, jadi bagaimana perasaanmu? Dari tiga orang, sekarang cuma tersisa kau sendiri, kan? Nada bicaranya jelas memprovokasi.
"Kalian semua memang orang-orang gila," sahut Dmule.
Suaranya terdengar kesal, namun sama sekali tidak panik.
Kenapa?
Karena dua anak buah yang ia bawa memang tidak penting baginya.
Yang terpenting adalah kesucian—dirinya sendiri yang telah turun ke daratan ini sebagai sosok agung.
"Baguslah kalau begitu, ayo maju ke sini. Aku masih punya sedikit sisa tenaga," cetus Encrid.
Melihat Ragna bertarung dan bertahan sampai seperti itu, sesuatu yang panas membakar di dalam dadanya.
Ia ingin menebas bangkai busuk di depannya itu sekarang juga, bukan?
Baiklah, mari kita lakukan.
Ia meletakkan tangannya di atas gagang Samcheol, namun saat itu juga, suara serak Ragna terdengar.
"Biar... kuhabisi dia."
Tak perlu repot-repot menebak arti kata-katanya.
Tekad bulat di balik ucapan itu sudah sangat jelas, dan itu lebih dari cukup.
Meski setengah tak sadarkan diri, Will yang terkandung di dalam ucapannya tak bisa diragukan lagi.
Saat Encrid menggertakkan giginya, ia tak menyadari ada sosok lain yang mendekat—kondisi tubuhnya yang begitu parah membuatnya gagal merasakan kehadiran orang lain.
"Cukup, Anakku."
Sebuah sosok bertubuh kekar berdiri menaungi Ragna dari guyuran air hujan.
Orang yang baru tiba itu adalah Tempest Yohan, ayah kandung Ragna.
Ia melangkah maju lalu meletakkan tangannya yang kokoh di atas bahu Ragna.
"Semuanya sudah berakhir."
Ucapan sang Kepala Keluarga terdengar datar tanpa emosi berlebihan.
Kata-katanya hanya memuat fakta dan ketulusan. Di samping sang Kepala Keluarga, Rhinox berjalan tertatih-tatih sambil meringis mengeluhkan pinggangnya yang sakit.
Encrid hampir saja bertanya kenapa mereka bisa tiba secepat ini, bukankah mereka baru dijadwalkan sampai besok pagi?
Namun, ia menahan pertanyaannya.
Bukankah itu salah satu variabel yang sudah ia masukkan ke dalam perhitungannya?
Tetap saja, kedatangan mereka terasa sangat terlambat.
Tapi Encrid tak sampai hati untuk menyalahkan mereka.
Kondisi kedua orang itu juga tidak lebih baik—terutama Rhinox.
Pria tua itu telah kehilangan lengan kirinya.
Saat pandangan mereka bertemu, ksatria pedang veteran yang selalu mengawal Yohan itu tersenyum tipis dan melontarkan lelucon,
"Sepertinya mulai sekarang aku harus puas bertarung cuma dengan tiga pedang."
Dulu ia biasa memainkan enam pedang dengan kedua tangannya, tapi kini ia hanya memiliki satu tangan yang tersisa.
Dan dalam kondisi mengenaskan seperti itu, ia masih sempat-sempatnya bercanda.
Bisakah lengannya ditumbuhkan kembali?
Kecuali jika ada penyembuh legendaris seperti Seiki di sini, hal itu hampir mustahil.
"A-aku..."
Ragna hanya terus mengulang kata yang sama, tanpa menyadari tangan siapa yang sedang bertengger di bahunya.
Semua orang telah menyaksikan apa yang baru saja ia perbuat.
Si Kakek Bermata Tiga telah tewas terpenggal, dan si Chimera yang sempat menumbuhkan tanduk kini tergeletak dengan lubang sebesar kepalan tangan di kepalanya.
Setelah menusuk dengan Penna, Ragna memuntir pergelangan tangannya dan menyentaknya keluar, merobek tengkorak monster itu hingga tepi lubangnya bergerigi kasar—seolah baru saja dibabat dengan bilah tumpul.
Singkatnya, kedua monster itu sudah mati total.
Ragna telah membantai dua musuh kuat dan nyaris membunuh Dmule, meski akhirnya gagal.
Dmule tahu kedua orang ini mendekat, namun membiarkan mereka datang begitu saja karena ia tak lagi peduli.
"Kalian sanggup bertahan melewati segala rintangan. Sungguh luar biasa. Apakah Hescal yang tidak becus menjalankan tugasnya? Ataukah kalian yang melampaui perkiraanku?"
Dmule tidak panik—sebaliknya, ia justru tampak kagum.
Tak disangka mereka sanggup menunjukkan kegigihan sebesar itu, padahal semua jebakan dan monster yang ia siapkan berakhir tewas bergelimpangan di tanah.
Ia bahkan telah menyiapkan peti mati untuk mereka semua, namun tak pernah membayangkan hasilnya akan menjadi seperti ini. Sejujurnya, ini di luar perkiraannya. Jadi, di satu sisi, ia merasa agak terhibur. Ini mungkin hiburan terakhir yang bisa ia nikmati sebelum meraih keilahian sejati.
Dmule menatap ke bawah ke arah mereka semua. Tanpa mereka sadari, tubuhnya mulai membesar, dan kini kepalanya berada dua kepala lebih tinggi daripada Encrid. Daging busuknya menggelembung, dan tulang-tulang hitam mencuat keluar menopang tubuhnya bagai tiang pancang. Daging yang dipenuhi urat-urat menonjol mengisi celah di antara tulang, menambah kekokohan sanggahannya.
"Kalian semua akan terlahir kembali. Aku akan menyuntikkan keilahian ke dalam tubuh kalian dan menunjukkan dunia yang baru."
Siapa pun yang melihat pemandangan ini mungkin akan mengira mereka yang memohon hal itu.
"Jadi kau pelakunya."
Sang Kepala Keluarga melangkah lurus menghampiri Dmule tanpa gentar oleh ocehannya. Perubahan tubuh Dmule yang membengkak raksasa memang luar biasa mengerikan, namun sang Kepala Keluarga seolah tak memedulikannya.
Tubuhnya sendiri dipenuhi sayatan dan luka gores.
Meski darah sudah berhenti mengalir, luka-luka itu tampak menghitam pekat—tanda jelas dari racun ganas.
Langkah demi langkah, sang Kepala Keluarga mendekat lalu berhenti melangkah.
Jika ia menerjang maju sekarang dan mengayunkan pedang besarnya, ia bisa menebas leher Dmule dalam sekejap mata.
Jaraknya kini kurang dari sepuluh langkah.
Dalam waktu sesingkat itu, leher Dmule memanjang mulus, dan ia mendongakkan dagunya tinggi-tinggi, menatap angkuh dari atas.
Sang Kepala Keluarga berbicara dengan nada datar.
"Wujudmu ternyata jauh lebih jelek daripada yang kubayangkan."
Rhinox yang berdiri di belakang mengangguk setuju.
"Benar sekali, jelek luar biasa."
Dmule memandang orang-orang yang tersisa di depannya—atau lebih tepatnya, memandang rendah ke arah mereka.
"Rupanya bocah perempuan itulah yang membuat kalian sanggup bertahan sejauh ini. Seharusnya aku membunuhnya jauh lebih awal."
Tak ada seorang pun di sana yang paham maksud perkataan maupun tindakan Dmule.
Dmule pun tidak mengharapkan mereka paham.
Lagipula, seorang dewa tidak butuh pemahaman dari makhluk ciptaannya.
Ia melanjutkan bicaranya.
"Kenapa kalian para ciptaan rendahan, yang terperangkap dan meronta-ronta, selalu saja membangkang dengan keras kepala?"
Bahkan jika ia tidak menuntut pemahaman mereka, bukankah ia setidaknya harus memberitahu betapa agung, luar biasa, dan beratnya perjalanan yang telah ia lalui?
Ini bukan lagi soal pemahaman—ini akan menjadi doktrin suci.
"Dulu pernah ada masa ketika sang Reaper datang mendekat dan berbisik kepadaku. Ya, itu terjadi sangat lama sekali, jauh lebih lama dari masa ini. Kala itu, aku berhasil meracik ramuan paling luar biasa. Ramuan itu membuatku bisa hidup dalam aliran waktu yang berbeda dari orang lain. Dengarkan baik-baik—bisakah kalian membayangkan bagaimana rasanya jika satu hari bagi kalian, berjalan dua kali lebih panjang daripada orang lain?"
Awalnya Dmule memang memiliki bakat yang luar biasa, namun ia selalu mendambakan puncak yang jauh lebih tinggi.
Ia mendalami alkimia, hingga akhirnya menguasai dunia sihir secara mutlak.
Dalam perjalanannya, ia merambah hingga ke Demon Realm, dan bahkan berkelana ke seluruh penjuru Empire.
Dengan begitu, ia berhasil mengintip rahasia-rahasia terdalam di benua ini. Baru saat itulah ia mengerti apa yang sesungguhnya ia inginkan.
Menjadi dewa—itulah satu-satunya hasratnya.
"Ramuan itu hanyalah keuntungan kecil yang kudapat saat meneliti keabadian dan hidup kekal."
Saat sudut mulutnya yang membusuk tersenyum mencibir, sekerat daging busuk terlepas dan jatuh menampar tanah.
Melihat tampangnya saja sudah cukup untuk mengocok perut siapa pun.
Kini kulitnya berkilat keras dan memancarkan kilau menyerupai batu permata.
Namun permata itu tidak bening. Itu bagaikan batu permata yang dipenuhi kotoran menjijikkan.
"Dengarlah! Ini adalah bukti keagungan yang kuucapkan untuk pertama kalinya setelah aku resmi menjadi dewa!"
Suara Dmule terdengar menggema berlapis-lapis.
Saat Encrid menatapnya, ia merasakan sensasi mengerikan yang sama persis seperti saat berhadapan dengan iblis.
Bukan hanya karena Dmule berbeda dari manusia biasa—ada atmosfer asing yang begitu dingin pada tujuan hidupnya dan pandangannya terhadap kehidupan, sangat berbeda dari makhluk berakal mana pun.
Tekanan hawa keberadaan yang memusingkan menindih udara di sekitarnya.
Tekanan itu bahkan membuat suara gemericik air hujan terlupakan begitu saja.
Apakah ini rasa kendali mutlak, seolah ia telah mencengkeram seluruh ruang di sekitarnya?
Atau mungkin lebih mirip daya tarik magnetik luar biasa yang menyedot perhatian semua orang ke arahnya.
Hanya setelah berhasil mendominasi seluruh atmosfer di sekitarnya, Dmule, dengan lidahnya yang membusuk, melafalkan baris pertama dari Holy Scripture miliknya.
"Bagi orang lain, satu hari itu biasa. Bagiku, satu hari terasa seperti sepuluh hari lamanya! Dan aku telah menghabiskan lebih dari seratus hari seperti itu! Begitulah cara seseorang melampaui batas biasa untuk menjadi sosok yang luar biasa! Inilah awal mula dari makhluk yang terlahir sebagai manusia, melampaui iblis, dan bertakhta sebagai dewa!"
Suara berlapis itu bergema menghujam ke lubuk hati setiap orang.
Bahkan udara di sekeliling mereka seolah berlutut dan menundukkan kepala tanda tunduk pada kata-katanya.
Pada saat itu, tanpa sadar, Encrid menggumamkan isi hatinya yang paling jujur.
"Cuma seratus?"
Gumamannya terdengar pelan, namun semua orang di sana mendengarnya dengan jelas.











