Eternally Regressing Knight

Bab 723: The Explosion of the Dot

3120 Kata

Bab 723: The Explosion of the Dot

Mulut Encrid terbuka begitu saja tanpa bisa ia tahan.

Ia terperangkap dalam kutukan waktu, dipaksa mengulang hari ini berulang kali tanpa henti.

Sampai detik ini, ia telah mengulang hari yang sama ratusan kali. Jika seluruh perulangannya dijumlahkan, hitungannya sudah mencapai ribuan hari, bukan lagi sekadar ratusan.

Maka wajar saja jika kata "cuma" meluncur begitu alami dari bibirnya.

Siapa pun yang mengetahui situasinya—seperti sang Ferryman, misalnya—pasti akan mengangguk paham.

Itu sangat masuk akal.

Namun bagi orang luar yang sama sekali tidak tahu penderitaannya, kata itu terdengar sangat berbeda.

Memprovokasi monster di saat genting seperti ini?

Bukankah kesannya akan tampak seperti itu?

Bagi Encrid, kata "cuma" adalah reaksi yang teramat wajar, namun bagi orang lain di sana, ucapan itu memicu riak gelombang yang sama sekali berbeda.

Baru sesaat lalu, suara Dmule yang bergema berlapis-lapis terdengar begitu mendominasi hingga rintik hujan pun seolah dipaksa bersujud menyembahnya. Ia tampak seperti makhluk agung dari alam lain, bukan bagian dari dunia ini.

Kewibawaannya begitu luar biasa menekan, seolah tak ada seorang pun di dunia fana yang sanggup menyentuhnya.

Namun hanya dengan satu kata, "cuma," sosok dewa itu seketika runtuh kembali menjadi jiwa menyedihkan yang terkurung dalam mayat membusuk—monster yang hidupnya hanya ditopang oleh mantra dan ramuan.

Terlebih lagi, reaksi Dmule justru memperlihatkan kepicikannya, membuktikan bahwa kata-kata sederhana saja sanggup memancing emosinya.

"...Kuakui, makhluk rendahan—kau memang sangat berbakat membuat orang naik darah."

Dmule menatap tajam ke arah Encrid.

"Aku cuma seorang ahli pedang rendahan," sahut Encrid seraya mengangkat Samcheol. Lengannya terangkat perlahan, menunjuk ke salah satu sisi.

Ia melanjutkan,

"Dan bersama berandal di sana, kami cuma dua orang ahli pedang."

Syuuu...

Tak ada yang bersuara selain desau angin dan gemuruh hujan lebat.

Fakta bahwa Encrid sanggup melontarkan provokasi setajam itu di tengah situasi hidup dan mati membuktikan betapa luar biasanya mentalitas yang ia miliki.

DUARRR!

Seolah terpukau oleh nyali Encrid, langit memuntahkan sambaran petir dahsyat. Kilatan putih menyilaukan menerangi area sekitar sebelum akhirnya padam. Bayangan tubuhnya yang memanjang ke empat penjuru kembali menyatu, terserap ke dalam kegelapan yang kembali mengisi ruang. Sepanjang dentuman petir itu, kuda-kuda Encrid tidak goyah sedikit pun.

"Pantas saja mereka disebut orang-orang gila," gumam Rhinox penuh kekaguman.

Encrid ingin sekali memprotes.

Kalimat itu rasanya tidak pantas diucapkan oleh seorang pria yang baru saja kehilangan satu tangan, tapi masih sempat-sempatnya bercanda soal bertarung dengan tiga pedang.

Namun sebelum ia sempat membalas, sang Kepala Keluarga bersuara lebih dulu.

"Sekarang giliranku, Encrid dari Border Guard."

Sang Kepala Keluarga berdiri berhadapan langsung dengan monster yang, melalui teknik perubahan wujud yang aneh, kini memiliki kulit hitam sekeras batu karang.

Meski seluruh tubuh sang Kepala Keluarga dipenuhi luka, ia masih memancarkan aura keberadaan yang sangat luar biasa menekan.

Sosoknya tidak lagi terlihat seperti manusia biasa, melainkan menyerupai sebilah pedang yang ditempa menjadi bentuk manusia—sebuah pedang besar yang hidup, berkobar dengan kehendak bertarung yang tajam dan siap menebas.

Tak perlu ditanya lagi ke mana ujung bilah itu mengarah.

"Tenang saja. Kita masih punya Rhinox si tameng daging di sini," timpal Rhinox santai.

"Bukankah makhluk itu tadi bilang kalau satu hari bagi orang lain terasa seperti sepuluh hari baginya?"

Encrid menyela dengan sebuah pertanyaan, namun sebelum ada yang sempat menjawab, ia langsung menyambungnya dengan pertanyaan berikutnya.

"Apakah itu sebabnya wajahmu kelihatan begitu tua melampaui usiamu?"

Mempertaruhkan nyawa hanya demi mengejek musuh—pada titik ini, julukan ksatria bermulut pedas benar-benar terbukti.

Ia mengucapkannya seolah sedang melantunkan puisi kepahlawanan, namun isinya murni ejekan telanjang.

Bakat provokasinya sungguh luar biasa sampai memancing decak kagum.

Apakah ia baru saja mengomentari wajah keriput dan tua sang monster di tengah pertarungan maut ini?

"Kalau aku, untungnya diberkati dengan wajah yang awet muda."

Mendengar celotehan Encrid yang bertubi-tubi, Rhinox tak tahan untuk tidak berdecak kagum seraya menggelengkan kepala.

"Bajingan menyebalkan—kau benar-benar membuatku ingin mencabik-cabikmu sampai hancur."

Dari nada suara monster Dmule, amarah yang membara terasa begitu kental.

Sepanjang puluhan tahun hidupnya, bukan berarti tidak pernah ada orang yang meremehkannya.

Namun, sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali ia mendengar hinaan semacam ini.

Atau mungkin ini pertama kalinya?

Ia tak ingin mengungkit panjang lebar soal masa lalunya, namun selama puluhan tahun ia hidup dalam tidur panjang.

Sebelum ia tertidur, maupun setelah ia terbangun, ia selalu dikelilingi oleh para pemuja yang melantunkan pujian.

*"Oh, dewaku yang agung!"*

*"Oh, Tuanku yang akan bertakhta sebagai dewa baru di Demon Realm!"*

Hescal adalah satu-satunya orang yang tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Hescal mendekatinya bukan karena takut, melainkan demi ambisi pribadi. Namun pada akhirnya, Hescal tidak memilih Yohan, melainkan tetap berada di dekat Dmule dan berusaha menghimpun kekuatan baru di sekitarnya. Hal itu menggoreskan luka busuk di dalam hati Dmule. Menginginkan status dewa bukan berarti seseorang memiliki hati yang lapang. Begitulah watak asli Dmule. Ia tidak pernah mengampuni siapa pun yang berani melawannya. Ia juga tidak sepenuhnya mempercayai Hescal, sehingga ia menanamkan segel kutukan di jantung pria itu—namun pada akhirnya, Hescal mengambil keputusan yang sama sekali tak bisa dipahami Dmule. Kata-kata seperti kepercayaan dan kesetiaan tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Dmule adalah manusia picik yang tak pernah mempercayai siapa pun. Dan kini, ia menjelma menjadi monster yang berhati picik.

"Akan kubunuh kau. Apa pun yang terjadi."

Dmule mengarahkan jari telunjuknya tepat ke hidung Encrid.

Gumpalan kulitnya yang separuh membusuk dan separuh lagi mengeras menjadi batu hitam tampak sangat menjijikkan.

"Memangnya apa salahku padamu?" bantah Encrid membela diri.

Yah, menerima niat membunuh dari orang lain bukan hal baru baginya, jadi ia sama sekali tidak tersinggung.

Namun nada suaranya yang begitu tenang saat membela diri justru terasa semakin menyulut emosi.

"Kuharap kita tidak akan pernah bertemu sebagai musuh," sahut Rhinox, terdengar benar-benar takjub.

Sang Kepala Keluarga menghunus pedang besarnya, tanpa ada sisa senyuman sedikit pun di wajahnya.

Selama dua puluh tahun terakhir, keadaannya tidak selalu mudah, dan Yohan terpaksa membagi kesetiaan di dalam hatinya.

Sekian lama ia harus mencurigai, menyingkirkan, dan menguji orang-orang di sekitarnya.

Sang Kepala Keluarga sangat murka atas kenyataan pahit itu.

Dan kini, dalang keparat yang membuat seluruh anggota keluarganya saling bermusuhan berdiri tepat di hadapannya. Sumber dari segala manipulasi keji ini bukanlah Hescal, melainkan monster menjijikkan di depan matanya. Sang Kepala Keluarga tahu persis hal itu.

"Seharusnya aku mencarimu dan membunuhmu sejak dulu," bisik sang Kepala Keluarga pelan.

Mendengarnya, pandangan Dmule langsung beralih ke arah sang Kepala Keluarga.

"Sombong sekali kau, keparat."

Setelah bertahun-tahun mencari sosok penebar kutukan dan penyakit, kini mereka akhirnya berdiri berhadapan.

Periode aktif Dmule sebenarnya sangat singkat. Selama ia tertidur, para muridnyalah yang bertindak atas namanya. Andai Hescal tidak membantunya, ia mungkin masih bersembunyi di suatu tempat dalam kondisi koma.

*'Aku terbangun seratus tahun lebih awal dari rencana semula.'*

Tentu saja, hal itu bukan masalah besar—sedikit lebih awal tidak mengubah apa pun. Bagaimanapun juga, ia kini sudah menatap gerbang keilahian. Tak peduli seberapa besar ikan yang berenang di danau bernama Yohan ini, mereka takkan pernah bisa menjadi tandingan baginya.

Karena itulah, meski persiapannya belum sempurna, ia memilih menggerakkan seluruh rencananya sekarang. Tak ada gunanya lagi Dmule menceramahi mereka. Sekarang adalah waktunya menjatuhkan hukuman.

Saat ia menggerakkan tangannya, asap hitam pekat mengepul deras, dan cacing-cacing mengerikan mulai merayap membanjiri tanah. Masing-masing cacing itu berukuran sebesar telapak tangan. Gigitan mereka bukan sekadar sengatan biasa, melainkan racun pemakan daging.

Encrid menyiagakan pedangnya. Rhinox pun ikut berdiri tegak, bertumpu pada satu tangannya yang tersisa.

Lalu, dari arah belakang, mereka merasakan kehadiran beberapa sosok mendekat.

Tak ada yang perlu menoleh. Itu bukan hawa keberadaan monster, dan detik berikutnya, sebuah suara lantang menggema di tengah hujan.

"Ana Hera sudah tiba di sini."

Itu adalah wanita tercantik di wilayah Yohan. Ia berjalan tertatih-tatih mendekat tanpa mengenakan helm pelindung.

"Kutempa bilah pedangku demi momen seperti ini. Biarkan aku ikut bertarung."

Di belakangnya, seorang pria yang berjalan pincang ikut bergabung.

Mereka adalah Anahera dari ras Giants, dan Riley yang bertumpu pada kaki pincangnya.

"Itu monster keparatnya?"

"Hescal sudah ditebas?"

"Apa Ragna sudah mati? Dia tidak boleh mati sekarang. Dia harus menunggu sampai aku melampauinya!"

Lalu, para pendekar pedang keluarga Yohan lainnya ikut berkumpul.

"Kalau kau kalah, aku yang akan maju berikutnya."

Alexandra muncul, merangkul pundak Odincar seraya menyandarkan separuh bobot tubuhnya.

"Jangan khawatir. Aku ada di sini, Alex," sahut Odincar seraya menekan amarah yang sempat meluap hingga ke ubun-ubunnya.

Meski baru sebentar, ia juga telah berkembang pesat.

Dulu ia sering melewati batas saat latihan tanding—itu kebiasaan buruknya. Namun setelah menghabiskan waktu bersama Border Guard, kebiasaan liar itu berhasil ia kendalikan.

Para ksatria pedang Yohan berkumpul di satu titik. Mereka berdiri tegak demi mempertahankan tanah tempat tinggal mereka. Kekuatan mereka jelas melampaui perhitungan Dmule. Meski Medusa dan Cursed Serpent telah tewas, Dmule tak pernah membayangkan bahwa tak ada satu pun dari prajurit Yohan yang mati—dan kini mereka dengan keras kepala berdiri menghalangi jalannya.

Namun Dmule yakin hal itu takkan mengubah hasil akhir. Ia kini bertarung sendirian, tapi itu bukan masalah. Hescal dan murid-muridnya hanyalah pion yang bisa dibuang kapan saja. Ia akan menjadi dewa, sosok yang akan membuka Demon Realm baru di tanah ini. Seluruh makhluk di benua dan Empire akan menyembahnya. Sebagai dewa, ia yang akan menetapkan hukum-hukum baru.

"Lindungi sang Kepala Keluarga!" seru Encrid mengikuti instingnya, lalu tanpa jeda napas, ia langsung meneriakkan komando.

"Bentuk formasi di samping Ana Hera! Karl, amankan barisan belakang! Riley, pimpin kelompokmu! Bantai semua serangga keparat itu sampai bersih!"

Hanya dengan beberapa kibasan tangan Dmule, serangga-serangga beracun menghujani medan perang dari udara, sementara di atas tanah, golem-golem dari lumpur hitam bangkit berdiri.

Kepalan tangan setiap golem lumpur hitam itu sebesar kepala manusia. Apakah mereka akan terjebak dalam pertempuran panjang yang menguras tenaga lagi?

Tidak, kali ini berbeda.

Sang Kepala Keluarga meraih sebuah botol ramuan, menuangkan isinya ke dalam mulut, menelannya habis, lalu mencengkeram pedangnya dengan santai seraya menata ritme napasnya.

*'Dia meminum ramuannya sekarang?'*

Itu ramuan obat yang diberikan Anne. Obat yang bisa menekan rasa sakit, meski hanya untuk sesaat. Sang Kepala Keluarga baru meminumnya sekarang. Artinya, selama ini ia bertarung menahan rasa sakit dengan tubuh yang hancur lebur. Kenapa?

*'Demi momen ini.'*

Semua demi satu detik yang menentukan ini. Sang Kepala Keluarga, seorang ahli strategi ulung, telah menanti kesempatan emas ini sejak awal. Encrid bisa merasakan energi yang berbeda meluap dari tubuh pria itu—sesuatu yang melampaui logika biasa.

Sementara itu, Dmule memanggil ribuan serangga, golem tanah, dan roh-roh jahat yang beterbangan di langit, lalu menyebarkan wabah penyakit. Asap hitam yang ia hembuskan adalah racun mematikan sekaligus wabah menular. Menghirup asap itu akan menumbuhkan tumor di dalam organ tubuh, atau bahkan menyebabkan kebutaan total. Para pendekar pedang Yohan serempak mundur selangkah, memulai perang gerilya yang penuh perhitungan.

Mereka menghindari kabut hitam, menebas serangga-serangga ganas, dan mengitari golem-golem lumpur seraya memotong kaki-kaki batu itu—dan jika kaki itu tumbuh kembali, mereka menebasnya lagi.

Pertarungan sengit meletus, sementara sang Kepala Keluarga berdiri mematung bagai sosok tak bernyawa. Pedang besarnya menggantung lemas, sampai tiba-tiba ia mengangkat bilahnya tegak lurus sejajar dengan wajahnya.

Melihat gerakan itu, Dmule mengibaskan kedua tangannya ke udara dan melemparkan gumpalan-gumpalan cairan hitam pekat. Masing-masing berukuran sebesar kepala manusia, dan tak ada yang sudi membayangkan apa yang akan terjadi jika cairan busuk itu meledak.

"Tahan serangan itu!" perintah sang Kepala Keluarga.

Encrid tidak tahu apa dasar di balik perintah itu, namun ia mematuhinya tanpa ragu sedikit pun. Encrid sanggup merasakan bentuk dan jalur dari aliran mantra sihir itu sendiri.

Dengan kemampuan itulah dulu ia sanggup membelah kobaran api yang berjalan. Dan kepekaan itu terus ia asah melalui latihannya bersama Esther.

*'Mantra sihir.'*

Mengamati aliran mana yang berputar, Encrid mencengkeram erat pedangnya lalu mengayunkannya.

Saat Samcheol meluncur maju seraya menarik kaki kirinya ke belakang, ia menebas salah satu gumpalan hitam itu dengan suara tebasan tajam yang membelah udara, memotongnya menjadi dua bagian.

Cras!

Dua belahan cairan hitam itu jatuh menampar tanah dan seketika lenyap meresap ke dalam bumi tanpa meninggalkan jejak.

Kekuatan sihir itu dipinjam dari penguasa belerang yang sanggup melelehkan apa pun yang disentuhnya. Namun kini kekuatan itu sirna tak berguna—inti dari mantra sihirnya, yaitu manipulasi mana, telah terpotong putus.

"Kau bisa membelah mantra sihir?!"

Dmule terperangah syok.

Siapa pun pasti akan terkejut.

Tali-tali perajut mana dipotong putus begitu saja.

Apakah mungkin seorang ahli pedang rendahan sanggup melakukan hal semustahil ini?

"Beraninya kau!"

Dmule melemparkan lima gumpalan cairan hitam lagi bertubi-tubi, lalu asap hitam berkumpul di belakang punggungnya, memadat menjadi rantai-rantai besi hitam yang melesat ke segala penjuru. Rantai-rantai itu merayap di atas tanah bagai ular berbisa yang lincah dan senyap, meluncur mengincar pergelangan kaki Encrid.

Encrid menebas kelima gumpalan sihir itu secara berurutan. Di luar fakta bahwa benda-benda itu adalah sihir maut, menebasnya sendiri bukan perkara yang teramat sulit. Gerakannya tidak terlalu cepat, dan lintasannya tidak pernah berbelok. Sejujurnya, gumpalan itu jauh lebih mudah ditebas daripada labu-labu yang dilemparkan Rem dengan tangan kosong saat latihan dulu.

Rantai-rantai hitam itu pun tidak jauh berbeda.

Ia bisa melihat simpul-simpul titik konsentrasi gaya pada rantai tersebut, sehingga ia terus bergerak dan menebasnya tepat di titik lemah. Ia mengangkat kakinya, menendang untuk mengulur waktu, lalu menarik Samcheol dan menebasnya menyapu tanah.

Seluruh otot tubuhnya menjerit kesakitan, dan kepalanya berdenyut hebat—

*"Pertahankan agar tetap ringan dan panjang."*

Setelah sekali mencoba ledakan kekuatan sebelumnya, kini ia menyadari bahwa ia bisa menarik keluar Will sehalus benang sutra dengan mengendalikan dirinya.

Mengendalikan Will kini terasa dua kali lebih mudah daripada sebelumnya.

Melihat apa yang dilakukan Ragna tadi membuatnya ingin mencoba teknik-teknik baru itu, namun saat ini, yang terpenting hanyalah mempertahankan ayunan pedangnya agar tidak berhenti.

"Hup!"

Dmule melotot murka ke arah Encrid.

Semua rencananya hancur berantakan gara-gara bajingan satu ini.

Mulut Encrid komat-kamit, seolah berusaha mengucapkan sesuatu. Apakah bajingan itu akhirnya akan mengaku bahwa ia sudah tak sanggup lagi bertahan?

Apakah ia sudah mencapai batas kekuatannya?

Darah segar terus mengalir deras dari hidungnya—kondisinya jelas sudah sangat kritis.

Sembari terus menembakkan rentetan mantra, Dmule mengunci pandangannya pada gerakan bibir Encrid.

Encrid menelan darah segar yang terus mendesak naik ke tenggorokannya lalu membuka suara.

Seorang pembicara yang baik selalu memastikan kata-katanya terdengar jelas oleh pendengarnya. Dalam hal itu, Encrid sangat ahli.

Ia berbicara dengan volume yang pas, cukup agar Dmule mendengarnya dengan sempurna.

"Bagaimana perasaanmu mengetahui bahwa semua kekacauan ini berhasil digagalkan cuma oleh dua ahli pedang rendahan dan seorang gadis pembantu?"

Dia masih sempat mengejek di saat seperti ini?!

"KYYYAAAAAK!"

Dmule menjerit murka.

Kemarahannya meledak meluap-luap.

Akibatnya, variasi mantra sihir yang ia lontarkan semakin menggila.

Massa hitam, rantai berduri, dan tangan-tangan bayangan mencuat liar dari dalam tanah.

Bahkan sebagian tetesan air hujan berubah hitam dan menjelma menjadi monster-monster anjing pemburu.

Petir menyambar-nyambar liar di segala penjuru, namun Encrid berkelit lincah dan menebas putus setiap mantra yang berpotensi membahayakan sang Kepala Keluarga.

Di tengah hujan serangan itu, ia sesekali terpaksa berguling di tanah, membasahi seluruh tubuhnya dengan lumpur hitam. Dari gerakannya yang begitu ganas, serpihan celana dalam Fairy Tribe yang retak di tubuhnya tergelincir jatuh. Basah kuyup dan berlumuran lumpur setelah berkali-kali terbanting, ia tampak seperti tikus tercebur got. Namun di tengah kegelapan badai itu, sepasang mata biru jernih milik Encrid tak pernah kehilangan cahayanya sedikit pun.

Tepat saat Encrid tampak mencapai batas staminanya, sang Kepala Keluarga melompat menerjang ke hadapan Dmule.

Pada detik yang menentukan itu, apa yang sedang diandalkan oleh Dmule?

Mantra perisai sihir yang membungkus tubuhnya?

Namun salah satu kebenaran mutlak di dunia ini adalah: keyakinan bisa mengkhianatimu kapan saja.

Bukankah hal itu juga tertulis di dalam Holy Scripture?

Ada pepatah terkenal di dalam Holy Scripture: jika kau mengangkat ratusan murid, pasti akan ada satu orang yang akhirnya berkhianat dan menjual gurunya sendiri.

Sebagai catatan, kisah tentang murid yang mengkhianati gurunya selalu tercatat di setiap Holy Scripture.

Kisah itu juga sering muncul dalam dongeng-dongeng kuno yang dituturkan dari mulut ke mulut.

"Ah."

Di suatu sudut, Ragna yang baru tersadar dari pingsannya mengeluarkan desah napas tertahan.

Encrid pun memusatkan seluruh pandangannya ke depan. Ia sudah tak punya sisa tenaga lagi untuk bergerak, pedang Samcheol miliknya tertancap kokoh di tanah sebagai sandaran tubuh.

Air hujan menghantam kelopak matanya, namun ia pantang berkedip sedetik pun.

Sang Kepala Keluarga—Tempest Yohan—melesat maju lalu mengayunkan pedang besarnya.

Hanya satu kali ayunan.

Ia mempertaruhkan seluruh keberadaannya pada satu tebasan itu—pengalaman masa lalunya, seluruh latihan keras sepanjang hidupnya, bahkan masa depannya.

Cahaya menyilaukan meledak dari bilah pedangnya.

Berbeda dari kekuatan suci milik Audin, kilau ini adalah perwujudan murni dari tekad dan Will yang sejati.

Cahaya yang membungkus bilah pedangnya mendistorsi dan membelah ruang di sekelilingnya.

Itu adalah tebasan pedang yang sanggup membelah apa pun di dunia ini.

Siapa pun yang melihatnya akan langsung memahaminya dalam sekejap mata.

Dan pada detik itu juga, pedang sang Kepala Keluarga menghancurkan seluruh lapisan mantra pelindung, menghantam tubuh Dmule, menebas miring dari bahu hingga ke pinggang, lalu membelah tubuh monster itu menjadi dua bagian.

CRASSS!

Di mata orang yang melihat, pemandangan itu tampak sederhana: kilatan cahaya putih membelah sesosok monster menjijikkan.

Sepanjang proses itu, Encrid bisa merasakan Will di dalam tubuh sang Kepala Keluarga meluap dan meledak dahsyat.

Bukan karena indra perasa Encrid yang istimewa.

Siapa pun yang setidaknya berada di tingkat calon ksatria pasti bisa merasakan ledakan energi itu.

Will pada dasarnya tidak berwujud, tak kasatmata namun nyata.

Namun barusan, mereka benar-benar bisa melihat wujudnya dengan mata kepala sendiri.

Lebih dari sekadar menampakkan wujud Will, sang Kepala Keluarga memproyeksikan dampaknya ke luar—bagaikan angin tak kasatmata yang tiba-tiba mengacak-acak rambutmu, semua orang di sekitarnya bisa merasakan pergeseran atmosfer saat energi itu menyapu medan perang.

*'Ledakan.'*

Pria itu juga meledakkan Will-nya.

Hanya saja, metodenya berbeda dari gaya Alexandra.

Pengalaman, insting, dan seluruh teori yang diasah melalui latihan keras berpadu padu di benak Encrid, membuatnya paham persis apa yang baru saja dilakukan sang Kepala Keluarga.

*'Ledakan titik.'*

Alexandra selalu mengatur ritme kekuatannya saat bertarung—gaya yang bisa disebut sebagai "ledakan garis."

Sebaliknya, sang Kepala Keluarga mempertaruhkan seluruh kekuatannya pada satu tebasan pedang tunggal.

Dengan kata lain, itu adalah ilmu pedang yang dirancang untuk menuangkan seluruh daya hidup ke dalam satu hantaman maut.

Itu pasti teknik rahasia andalannya.

Dan dengan teknik itulah, sang Kepala Keluarga berhasil menebas putus mimpi buruk yang telah menghantui keluarga Yohan selama puluhan tahun.

Darah hitam pekat membasahi tanah berlumpur.

Hujan mulai mereda perlahan, dan kini desau angin badai pun ikut mereda.

Dmule menunduk menatap tubuhnya yang terbelah dua.

Organ-organ tubuhnya yang setengah membusuk tumpah ruah ke atas tanah.

"Kenapa...?"

Ia menggumamkan pertanyaannya dengan sisa napasnya.

Sosok gila yang mengaku sebagai dewa sudah tak berbekas—yang tersisa hanyalah manusia buruk rupa yang menolak menerima kematiannya.

Pada saat yang sama, Encrid mengingat kembali tebasan pedang yang baru saja dilancarkan sang Kepala Keluarga, dan rasa dingin seketika menjalar ke seluruh tubuhnya.

Sejujurnya, selama ini ia mengira ia bisa menang jika bertarung mengerahkan seluruh kemampuannya.

*'Aku takkan sanggup menahan tebasan itu.'*

Menyaksikan teknik pedang barusan, secercah rasa takut menghantam benaknya.

*'Benua ini sungguh sangat luas.'*

Dan kenyataan itu justru membuatnya merasa sangat bersemangat.

Encrid menyunggingkan senyuman lebar saat menatap Will dan pedang sang Kepala Keluarga. Dan tanpa sengaja, Dmule menoleh lalu melihat senyuman di wajah Encrid.

Kebencian murni yang teramat pekat seketika membakar di lubuk hati Dmule.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.