Bab 744: Kebencian dan Keputusasaan
"Ini murni sudah saatnya bagiku untuk mati. Setiap manusia pasti akan mati suatu hari nanti."
Encrid menatap sosok Jaxen yang menyongsong ajal kematiannya sendiri dengan ketenangan batin yang mutlak.
Setelah kematian Jaxen, giliran Audin yang menyusul.
"Sang Apostle of War akan memandu jiwamu melangkah maju..."
Memeras sisa hembusan napas terakhirnya, Audin melantunkan doa penyucian suci dengan khidmat.
"Kurasa ini adalah hari-hari paling membahagiakan di sepanjang hidupku..."
Sang ksatria blasteran raksasa, Teresa, bernyanyi lirih dalam keheningan saat nyawanya perlahan melayang.
"Wahai tunanganku, kini telah tiba saatnya bagimu untuk meminang seorang roh suci sebagai mempelaimu."
Shinar masih sempat melontarkan lelucon jenaka hingga detik terakhir hidupnya. Sikap itu benar-benar sangat mencerminkan kepribadiannya.
GRRRR...
*'Kenapa wujud Esther berubah menjadi seekor macan tutul?'*
Satu-satunya penyihir wanita yang dikenal akrab oleh Encrid menghembuskan napas terakhirnya dalam wujud seekor macan tutul liar. Banyak rekan seperjuangan lainnya yang turut tewas bergelimpangan.
Buku yang bertajuk 'Mimpi Buruk' itu dipenuhi tanpa sisa oleh lembaran-lembaran tragedi kehilangan.
Bagaimana cara mereka tewas tidak dibeberkan secara gamblang, namun kepastian mutlak dari kematian yang merayap mendekat terpampang begitu telanjang hingga dadanya terasa teramat perih oleh realitas kelam tersebut.
"Saksikanlah baik-baik dan nikmatilah seluruh kepedihan ini. Pertunjukan sesungguhnya baru saja dimulai."
Sang Ferryman secara sengaja terus menggerogoti keteguhan batin Encrid.
Persis seperti seekor tupai yang mengerat cangkang keras biji ek sedikit demi sedikit, makhluk itu secara perlahan menyuntikkan racun psikologis ke dalam jiwanya.
Tepat saat ia tersadar dari tidurnya, Encrid seketika mengibaskan bayang-bayang mimpi buruk semalamâyang mementaskan jajaran aktor yang jauh lebih mewah dan lengkap daripada sebelumnya.
Sama sekali tak ada gunanya larut merenungi ilusi tersebut; terus mengingatnya takkan pernah mengubah apa pun, dan berusaha membujuk sang Ferryman lewat kata-kata manis mustahil sanggup menghentikan siksaan mental ini setiap malam.
Jika ada hal yang bisa ia percayai, ia hanya sanggup mengandalkan insting batinnya sendiri.
*'Makhluk itu pasti sedang mengincar sesuatu.'*
Selalu ada motif tersembunyi di balik setiap manuver yang dilancarkan oleh sang Ferryman.
Tujuan sejatinya tidak mudah untuk ditebak, sehingga ia belum tahu bagaimana cara meresponsnya secara tepat.
Maka dari itu Encrid murni memilih berfokus pada apa yang wajib dituntaskan di dunia nyata.
Fel telah jatuh pingsan tadi malam setelah berdiri tegak dalam posisi mematung selama tiga hari tiga malam berturut-turut.
"Ada urusan apa sebenarnya kau mengumpulkan kami semua di sini sepagi ini, Saudaraku?" tanya Audin yang berdiri di salah satu sudut Dueling Hall saat Encrid melangkah mendekat.
"Apa kau tidak tahu seberapa sibuknya jadwalku hari ini, hah?!" dengus Rem yang berwatak barbar tanpa beban hidup.
"Ada apa sebenarnya ini, kenapa ribut-ribut sepagi ini?"
Meskipun matahari telah lama membubung tinggi di langit, para pemalas ini tetap bersikeras mengklaim bahwa saat ini masih terlalu pagi.
Jaxen berdiri membisu dalam keheningan seraya melipat kedua tangannya di dada, dan Shinarâyang terkadang sanggup menyunggingkan senyuman yang begitu memukau laksana lukisan mahakarya, namun hari ini memasang ekspresi datarnya yang biasaâpun turut hadir di sana.
Esther telah mengubah wujud fisiknya menjadi seekor macan tutul dan menyandarkan wajahnya di atas kedua cakar depannya, mengamati segala peristiwa dengan malas, sementara Teresa duduk tenang di sampingnya.
Encrid memandang ke arah mereka semua lalu mulai melakukan peregangan otot.
Dimulai dari ujung-ujung jemari tangannya, Encrid secara cermat melemaskan dan memanaskan setiap jengkal serat otot di tubuhnya.
"Apa sebenarnya yang mau kita lakukan di sini?"
"Maju selangkah ke depan, Rem."
Encrid mengunci pandangan matanya lurus ke arah sang pria barbar pembuat onar.
Dalam sekejap mata, atmosfer udara di ruangan seketika berubah drastis, terlepas dari kenyataan bahwa hal yang baru saja dilakukan Encrid hanyalah sedikit menggeser kaki kirinya melangkah maju.
Luagarne yang sedari tadi mengamati dari kejauhan seketika menyadari bahwa pergeseran posisi kaki Encrid merupakan bagian tak terpisahkan dari kalkulasi Tactical Sword miliknya.
*'Langkah kaki kiri itu bisa menjadi awal mula dari sebuah serangan kilat, namun bisa sama mudahnya menjadi pemicu dari sebuah gerakan tipuan.'*
Ilmu seni pedang taktis berakar mutlak pada pengamanan setiap keunggulan medan sekecil apa pun di dalam pertempuran.
Rem sempat hendak melontarkan ejekan namun seketika membungkam mulutnya rapat-rapat.
Tanpa ia sadari, cengkeraman telapak tangannya telah mengunci rapat di atas gagang kapak tempurnya.
Jarak tempur yang memisahkan mereka berdua saat ini terasa teramat sempurnaâposisi yang sangat ideal untuk mengayunkan senjata.
Sejujurnya kedua pendekar ini telah begitu terlatih dalam medan pembantaian sehingga variabel jarak praktis nyaris tidak relevanâmereka sanggup menyabetkan pedang atau kapak dari sudut mana pun mereka berpijak.
Meski begitu, dalam posisi mereka saat ini, satu ayunan sempurna sanggup mendaratkan tebasan maut.
Seluruh suara kebisingan dunia luar seketika menguap lenyap, dan bidang pandang mata Encrid menyempit tajam.
Kini satu-satunya objek yang tertangkap oleh kornea matanya hanyalah sosok Rem.
*'Jarak tempur ini menguntungkan posisiku.'*
Ia telah menyerahkan bilah Samcheol kepada Aetri, sehingga saat ini hanya bilah Penna yang menggantung di pinggangnya.
Meski begitu, jangkauan bilah Penna jauh lebih panjang daripada kapak milik Rem, memberinya sedikit keunggulan dalam hal jarak jangkau tebasan.
Lalu bagaimana dengan faktor lingkungan sekitar? Rem jelas jauh lebih unggul dalam memanfaatkan kontur medan di sekitarnya. Mengoptimalkan situasi darurat adalah spesialisasi alaminyaâia secara instingtif dan intuitif sanggup memanfaatkan apa pun di sekelilingnya demi membunuh.
Bahkan sembari membaca setiap detail medan dan situasi di sekitarnya, pandangan mata Encrid tidak pernah sekali pun lepas dari sosok Rem.
Rem pun melakukan hal yang sama persis.
Tak satu pun dari mereka yang berkedip. Bahkan saat butiran debu melayang tertiup angin sepoi-sepoi di antara mereka, kedua pria perkasa itu berdiri mematung tak bergerak.
Sinar mentari awal musim panas membelai pucuk-pucuk rumput liar yang menyembul di antara celah bebatuan Dueling Hall.
Hari ini terasa cukup terikâsama sekali bukan cuaca yang nyaman untuk berdiri mematung lama-lama.
WUSHHH!
Encrid dan Rem menyabetkan senjata mereka secara serempak! Mustahil bagi siapa pun untuk menentukan siapa yang melancarkan serangan terlebih dahulu.
Begitulah betapa luar biasanya kecepatan refleks merekaâmasing-masing membaca ritme gerak dan tarikan napas lawan dalam sinkronisasi yang teramat sempurna.
*'Ilmu bertarungnya meningkat jauh lebih hebat lagi!'*
Rem membatin dalam hati bahwa ayunan pedang Encrid saat ini telah bergerak secepat tebasan kapak miliknya sendiri.
TRANGGG!
Logam beradu dengan logam, percikan bunga api maut memercik liar di udara! Puluhan garis lintasan tebasan nyaris mendarat telak di sasaran vital mereka masing-masing, namun setiap tebasan itu selalu berhasil ditangkis tipis.
Encrid bergerak dengan presisi kalkulasi yang teramat dingin, sementara Rem mengayunkan kapak besarnya dan menggeser langkah kakinya murni berlandaskan insting hewani.
Rem sama sekali tidak menahan diri; ia seketika membangkitkan teknik kerasukan roh perangnya, menyuntikkan mantra sihir kuno ke sekujur tubuhnya sembari berputar melancarkan badai tebasan kapakâterlepas dari kenyataan bahwa tubuhnya pasti akan didera rasa pegal yang luar biasa setelah duel ini usai.
Encrid pun tidak berbeda. Dengan ledakan energi Will yang membara dahsyat, ia mengalirkan daya hantam ke seluruh serat tubuhnya.
Pertarungan mereka bagaikan sebuah kereta perang berbobot raksasa yang meluncur kencang menuruni lereng tebing curam. Dibutuhkan sosok monster yang luar biasa perkasa demi menghentikan seluruh momentum kehancuran tersebut.
Jika kau sekadar membantu salah satu dari mereka untuk membantai yang lain, hal itu justru akan jauh lebih mudah dieksekusi.
Namun menahan dan melerai mereka berdua tanpa membiarkan salah satu dari mereka terluka parahâbahkan andai sosok legendaris Mercenary King Anu hadir di sini, ia pasti akan sangat kesulitan melakukannya.
Bahkan andai Ragna dan Audin menerjang maju bersamaan, sanggupkah mereka menghentikan duel maut ini tanpa ada yang terluka robek?
Hal itu jelas teramat mustahil.
Sembari menyabetkan bilah pedangnya, kesadaran Encrid larut seutuhnya ke dalam ritme pertempuran.
*'Lebih cepat.'*
Ia mempersempit jeda waktu di antara kilatan pemikiran dan eksekusi fisik, mengejar kecepatan insting tempur liar yang diperagakan oleh Rem.
Kecepatan pedang Encrid mendadak terakselerasi jauh lebih kilatâsebuah kilatan cahaya putih yang menyilaukan. Bukan, manuver ini melesat lebih jauh dari itu: ini adalah rentetan kilatan berkesinambungan laksana sambaran petir!
Kapak tempur Rem melesat menghadang bilah pedang yang sedang mengukir garis-garis putih tersebut. Kini Rem menjelma menjadi badai topan yang meremukkan dan menelan sambaran petir itu bulat-bulat!
Kapaknya menyongsong serangan, menapaki jalur tebasan yang paling optimal.
Namun Encrid melangkah satu tahap lebih jauh, memadatkan ledakan niat membunuhnya lalu melepaskannya ke satu titik tunggal dalam sepersekian detik!
Di ujung benturan pamungkas mereka, bilah Penna yang berporos pada pijakan kaki kiri Encrid mengukir garis lintasan melengkung di udaraâdan lengan kanan Rem tertangkap telak tepat di atas garis tebasan tersebut!
CRASSS!
Encrid menebas buntung lengan kanan Rem! Suara mengerikan dari daging dan tulang yang terbelah dua terngiang jelas di telinga sang pria barbar.
Pada detik yang sama persis, Rem menghunjamkan kapak besarnya mendarat telak di pundak Encrid. Serangan itu menghantam keras, namun gagal memotong tembus tubuhnya; serangan itu hanya meninggalkan luka sayatan yang cukup dalam, tidak lebih dari itu.
Maka Rem seketika memahami hasilnya. Jika duel berdarah ini dilanjutkan sampai tuntas, ia pasti akan tewas.
*'Aku kalah.'*
Itulah pengakuan batin terdalam Rem. Jika pertempuran terus berlanjut, sosok yang kehilangan satu lengan kanannya pasti akan kalah meregang nyawa.
Ini bukan sekadar urusan kehilangan satu anggota tubuh fisik. Ketika sebuah lengan yang semula menempel mendadak lenyap terpotong, hilangnya sensasi motorik akan memicu disonansi spasial yang fatal, dan dibutuhkan waktu lama bagi otak untuk beradaptasi dengan titik keseimbangan baru. Dalam duel hidup-mati melawan seorang Knight elit, celah mikroskopis semacam itu adalah vonis mati mutlak.
*'Meski begitu, aku takkan membiarkanmu menang dengan mudah.'*
Encrid pun membatin kalimat yang sama di dalam hatinya seraya menyipitkan matanya, mengakui secara jantan bahwa bahkan setelah kehilangan satu tangannya, sosok Rem bukanlah lawan yang bisa ditundukkan dengan gampang.
Sama sekali tidak sulit membayangkan sang pendekar barbar yang kerasukan roh perang akan terus mengayunkan kapak besarnya hanya berbekal satu tangan kirinya yang tersisa.
Dalam perang pembantaian yang sesungguhnya, takkan ada waktu bagi disonansi saraf atau pergeseran keseimbangan untuk menjadi penghalang. Pria itu pasti akan menutup jarak, menelan rasa sakit, menukar daging demi daging, dan meremukkan tulang demi tulang!
Encrid sanggup melihat masa depan berdarah itu dengan sangat jelas. Namun duel mereka sama sekali tidak perlu melangkah sejauh itu.
Pertarungan simulasi mereka telah resmi berakhir di titik ini.
"...Apa sebenarnya yang baru saja kau lakukan padaku barusan?"
Tetesan keringat dingin yang mengalir dari dagu Rem menetes jatuh membasahi lantai batu Dueling Hall.
"Cukup menyenangkan, kan?" sahut Encrid melempar balik pertanyaan itu dengan senyuman santai.
Rem memutar lengan kanannya membentuk lingkaran di udara lalu menghela napas.
Seluruh duel berdarah tadi sesungguhnya hanyalah sebuah ilusi batin spasial!
Lebih tepatnya, karena kedua pendekar ini telah saling memahami kapasitas ilmu satu sama lain hingga ke tingkat yang teramat mendalam, mereka sanggup melancarkan duel berdarah di dalam ruang simulasi batin!
"Sangat menyenangkan," aku Rem jantan.
"Kudengar di jajaran militer Empire, mereka memulai pendidikan ksatria dengan mengajarkan bagaimana cara mematerialisasikan tekanan aura niat membunuh. Jadi kupikir metode simulasi seperti ini seharusnya sangat mungkin untuk dipraktikkan."
Saat pertama kali ia bertemu dengan sang Kepala Keluarga Yohan tempo hari, Encrid mengingat bahwa pedang raksasa milik pria agung itu tampak seolah-olah sanggup membelah tubuh siapa pun kapan saja bahkan tanpa perlu bergerak.
Itulah wujud dari materialisasi tekanan aura batin.
Jika kau sanggup mengendalikan tekanan niat membunuh itu dengan jauh lebih halus dan presisi, sangatlah memungkinkan untuk melancarkan duel latihan hidup-mati di dalam ranah virtual.
Itu artinya mereka sanggup bertarung secara totalitasâduel yang jauh lebih dalam, kaya teknik, dan berisiko tinggiâtanpa harus saling melukai menggunakan bilah pedang sungguhan.
Kini setelah kapasitas ilmu mereka telah melesat begitu tinggi, duel fisik sungguhan pasti akan mengakibatkan salah satu dari mereka menderita cacat permanen, sehingga Encrid merumuskan metode brilian ini sebagai jalan keluarnya.
Bukannya ia ingin mempelajari seni anggar steril murni demi pameran di atas panggung. Berlatih dasar memang sangat baik, namunâ
*'Tak ada sarana latihan yang lebih agung daripada medan pertempuran nyata.'*
Itu adalah prinsip yang ia sadari saat membimbing para buronan bertahan hidup di desa pegunungan tempo hari.
Sebagai hasilnya, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Encrid dan Rem barusan hanyalah berdiri mematung di tempat mereka masing-masing, hanya menggerakkan ujung jemari dan sedikit menggeser sudut pijakan kaki mereka, namun bertarung habis-habisan murni mengandalkan proyeksi daya hantam dan niat membunuh yang mereka ledakkan dari posisi mereka berdiri!
Tentu saja atraksi tingkat tinggi semacam ini menuntut ketajaman intuisi yang luar biasa dari kedua belah pihak, serta pemahaman yang teramat jernih atas batas kapasitas diri mereka saat ini.
"Hamba Tuhan yang setia ini siap menanti gilirannya berikutnya!" seru Audin bersemangat.
"Kau benar-benar berhasil menciptakan metode latihan yang sangat luar biasa menarik," puji Ragna menimpali.
Shinar pun turut menunjukkan tekadnya untuk melompat masuk ke arena demi memamerkan keagungannya.
Jaxen melepaskan lipatan tangannya di dada lalu berujar dingin,
"Kalau kita bertarung menggunakan metode ini, kurasa aku pun sanggup memperlihatkan sesuatu yang sangat menarik untuk kalian."
Mereka saling beradu jurus di dalam ruang simulasi batin lalu sesekali mengadu bilah pedang sungguhan secara terukur di dunia nyata.
Jika kau tidak sanggup menikmati proses evolusi ilmu seperti ini, kegembiraan apa lagi yang tersisa di dunia fana?
Menggerakkan tubuh fisik adalah sebuah kenikmatan hidup.
Mengayunkan bilah pedangâjelas terasa jauh lebih menyenangkan lagi.
Setiap kali ia berhadapan dengan variasi serangan yang mematahkan pakem konvensional, Encrid merasakan gelombang gairah tempur yang membuncah di dalam dadanya.
Tanpa ia sadari, bayang-bayang mimpi buruk semalam telah menguap lenyap seutuhnya dari kepalanya.
Shinar melepaskan bukan sekadar desau angin pegunungan musim dingin, melainkan badai topan musim panas skala penuh.
Audin tidak hanya mendemonstrasikan kekuatannya melalui proyeksi energi Will, namun turut mempertontonkan betapa mengerikannya raga manusia yang terlatih sempurna dengan cara mengencangkan otot-ototnya hingga nyaris meledak.
Begitu kau terperangkap di dalam cengkeraman tangannya, praktis mustahil bagimu membalikkan keadaanâsepasang tangan Audin yang memelintir dan meremukkan persendian tulang tampak sanggup menghancurkan apa saja di dunia fana.
Ragna menghunus pedangnya dengan santai lalu berkata datar,
"Nama pedang pusakaku adalah Sunrise; sebagian orang menjulukinya sebagai Rising Sun."
"Kalau bilah ini menyentuh kulitmu, tubuhmu pasti akan terbakar hangus."
Ini adalah senjata pusaka turun-temurun dari silsilah keluarganya, yang telah disuntikkan energi Will milik Ragna sendiri, mengukirnya menjadi senjata pribadinya yang mutlak.
Itu bukanlah pedang yang baru ditempa, namun bagi Ragna, pusaka ini terasa diciptakan khusus hanya untuk dirinya.
Bilah pedang itu memancarkan hawa panas yang teramat sangat menyengat.
Bahkan sekadar melintas menyapu kerah bajumu sudah lebih dari cukup untuk menyulut kobaran api nyata.
Dibandingkan dengan duel simulasi batin mereka, beradu senjata ringan di dunia nyata membuat kedahsyatan dari bilah Sunrise terpampang jauh lebih mengerikan.
"Kalau bilah ini sampai menggores kulitmu, pakaianmu akan langsung terbakar menjadi abu."
Bilah itu dikabarkan sanggup menghasilkan suhu membakar yang begitu ekstrem hingga tetesan keringat yang mengalir di tubuhmu akan langsung menguap lenyap seketika.
Sunriseâsang Mentari Terbitâbenar-benar pantas menyandang nama agung tersebut.
Bagaimanapun juga, tak ada satu benda pun di alam semesta ini yang lebih panas daripada sang surya itu sendiri.
Gaya bertarung Jaxen adalah duel satu serangan penentu kematian yang mutlak.
Pada pertandingan mereka sebelumnya, tusukan tanpa darah miliknya adalah sebuah serangan maut yang seluruh niat membunuhnya telah dihapus bersih.
Namun kali ini pendekar bermata satu itu bertarung dengan pendekatan yang berbeda.
Ia menyerang tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, rela menumbalkan satu lengannya asalkan ia sanggup merenggut nyawa lawannya.
"Coba saja tangkis kalau kau memang sanggup," tantang Jaxen sembari menyunggingkan senyuman puas.
Bukan hanya Encrid yang merasakan sensasi getaran batin yang menyenangkan ini.
Bagaimanapun juga, seluruh anggota kompi Madmen Knights adalah kumpulan orang-orang sinting yang memiliki jiwa yang serupa.
"Ini benar-benar sangat menyenangkan!" seru Rem mewakili seluruh isi hati rekan-rekannya.
Mereka segera kembali menjalani rutinitas harian mereka sebagai prajurit penjaga perbatasan Border Guard.
Encrid memeras keringatnya sepanjang hari berusaha mengibaskan sisa-sisa mimpi buruk, namun malam ituâdan malam-malam berikutnyaâsang Ferryman terus memusatkan seluruh upayanya untuk mengguncang jiwa Encrid.
"Anakku kini harus tumbuh besar tanpa seorang ayah..."
Sosok itu adalah Ayul, istri tercinta Rem.
Di dalam dekapannya, wanita itu menggendong seorang bayi yang baru lahir.
Itu pasti merupakan anak kandung dari benih cinta Rem dan Ayul.
"Apakah jalan hidup berdarah ini benar-benar keputusan yang adil?" tanya wanita itu tersedu-sedu.
Sorot matanya seolah menuntut pertanggungjawaban apakah kematian tragis Rem adalah satu-satunya jalan keluarâapakah ini benar-benar takdir terbaik yang bisa diraih?
Mimpi buruk dari sang Ferryman datang laksana sebuah serial drama keputusasaan yang berkesinambungan.
Setelah tragedi Kehilangan, kini tiba babak Kebencian.
"Jadi putra kebanggaanku telah tewas meregang nyawa..."
Sosok Ragged Saint mendadak muncul, menatap kosong ke arah Encrid dengan duka yang membeku.
Leona yang kehilangan seluruh aset Lockfreed Trading Company miliknya jatuh tersungkur mencium tanah, meratap pilu bahwa kemiskinan ini sama sekali bukan hal yang ia inginkan dalam hidupnya.
"Pertunjukan ini belum berakhir," bisik sang Ferryman dingin.
Setelah Kehilangan dan Kebencian, ia mementaskan babak ketiga dari sandiwaranya.
Tema dari babak ketiga adalah Keputusasaan Mutlak.
Encrid memimpikan sebuah mimpi yang teramat panjang.
Di dalam mimpi itu, ia hidup melintasi rentang waktu lebih dari sepuluh tahun ke depan.
Pada akhirnya pangkalan Border Guard sanggup bertahan, dan dengan dukungan penuh dari Raja Krang, negeri Naurilia tumbuh berkembang menjadi kerajaan yang makmur sejahtera.
Namun pada suatu hari yang terkutuk, kegelapan malam yang pekat tanpa dasar mendadak menyelimuti seluruh area perbatasan Border Guard.
Kota benteng itu terkepung total dan dibanjiri oleh jutaan monster purba dan binatang iblis.
Seluruh jalur komunikasi dan pasokan logistik dengan dunia luar terputus seutuhnya.
Itu adalah takdir kehancuran tak terelakkan yang dipicu oleh meletusnya anomali Demonic Domains.
"Komandan!"
Krais datang mencarinya di tengah puing-puing benteng yang terbakar. Sama sekali tidak sulit membaca gejolak emosi yang berkecamuk di sepasang matanya.
"Kau pasti akan terus bertarung sampai detik darah penghabisan, kan?" tanya sang ahli strategi.
Keteguhan tekad baja yang selalu diperagakan Encrid telah menular seutuhnya ke dalam jiwa Krais.
Pria itu tak lagi diliputi rasa cemas atau ketakutan yang memalukan.
Namun ia tahu persis bagaimana kisah ini akan berakhir.
"Kau akan bertarung sampai detik kau mati terhormat, kan?"
Semua orang telah menerima dengan ikhlas bahwa mereka akan mati terkubur di tanah ini.
Krais membuka suara, dan seluruh prajurit berkumpul membentuk barisan pertahanan terakhir.
Encrid dan seluruh rekan seperjuangannya bertarung mati-matian melawan kegelapan yang mengepung Border Guard selama satu tahun penuh tanpa jeda!
Seluruh cadangan makanan habis terkuras tanpa sisa, dan bahkan jeritan ratapan bagi mereka yang tewas akhirnya membisu ditelan keheningan.
*Jika kau melarikan diri seorang diri, kau pasti sanggup bertahan hidup.*
*Kau pun mengetahui kenyataan itu di dalam hatimu, bukan?*
*Pergilah.*
*Tinggalkan mereka dan hiduplah bebas.*
*Melangkahlah menuju hari esok yang nyaman dan damai.*
Apakah ini sebuah mimpi di dalam mimpi?
Jauh di dasar jurang keputusasaan yang kelam, suara bisikan sang Ferryman kembali merayap di telinganya.
Encrid menolak mendengarkannya.
Musuh-musuh purba masih mengepung dari segala penjuru mata angin, dan tak ada cara untuk menghentikan serbuan mereka.
Terperangkap di dalam hari tanpa akhir yang diisi oleh pembantaian monster dan binatang iblis, sang Ferryman kembali berbisik dingin kepadanya.
"Apakah neraka keputusasaan seperti ini yang sesungguhnya kau dambakan, wahai manusia?"
Kehilangan, Kebencian, Keputusasaan.
Ketiga racun mental itu menghujam dan mengoyak batinnya, namun dampaknya sama sekali tidak sanggup meruntuhkan keteguhan jiwanya.
Kenyataannya Encrid telah menemukan jawaban mutlaknya atas segala sandiwara yang dipentaskan oleh sang Ferryman.
*'Adalah sebuah kebodohan yang memalukan untuk berpangku tangan pasrah mengharapkan pertolongan orang lain.'*
Dan di saat yang sama, ia pun menyadari sepenuhnya bahwa jika ia berjuang seorang diri tanpa rekan seperjuangan, ia takkan pernah sanggup mencapai apa pun di dunia ini.
Encrid telah tercerahkan pada kebenaran hakiki tersebut sejak lama.
Sembari mengibaskan jeratan mimpi buruk itu, ia mendengar kalimat pamungkas sang Ferryman yang bergema putus asa di dalam mimpinya:
"Jiwa dan tekadmu... telah berada jauh di luar jangkauan kekuasaanku."
Encrid memperhitungkan bahwa manuver tadi adalah upaya paling gigih yang pernah dikerahkan oleh sang Ferryman setelah sekian lama.
Bukan salahnya jika pada akhirnya ia terpaksa harus mengecewakan ekspektasi makhluk jurang tersebut.
Tepat saat ia membuka matanya, fajar hari belum menyingsing di ufuk timurânamun sosok orang lain telah terlebih dahulu bangun dan berdiri di lapangan sebelum dirinya.
Fel sedang menyandarkan ujung mata pedang Idol Slayer di atas lantai Dueling Hall, tatapan matanya terpancar begitu tenang dan mantap.
Tak ada getaran keraguan di matanya, dan hawa keberadaannya terasa teramat kokoh dan stabilâpersis laksana permukaan danau pegunungan yang hening.
"Komandan."
"Iya."
"Kalau aku berhasil menang melawanmu hari ini, apakah itu artinya aku resmi menjadi Komandan Ksatria yang baru?"
Encrid memahami kondisi psikologis Fel hanya dalam sekali pandang.
Ia mengenali sosok orang bodoh yang sedang terjangkit sindrom kemahakuasaan semu, hanya gara-gara baru saja memegang pedang pusaka di tangannya.
"Kalau begitu kurasa hari ini mungkin bakal menjadi hari di mana aku merebut kursi kepemimpinanmu itu, Komandan."
Fel kini telah bertransformasi menjadi jauh lebih gila dan tak terkendali daripada saat pertama kali mereka bertemu dulu.
Seluruh kegilaan ini kemungkinan besar merupakan pengaruh buruk dari Rem.
Bagaimanapun juga di dalam divisi Madmen Knights, tak banyak orang seperti Encrid yang sanggup mempertahankan kewarasan akal sehat mereka secara utuh.
Encrid melangkah santai meraih sebilah pedang kayu latihan dari rak senjata.
Mata pedangnya tumpul tanpa ketajaman, membuatnya sangat cocok dimanfaatkan sebagai sebatang tongkat pemukul untuk mendidik bocah nakal.











