Bab 766: Bernyanyi di Panggung yang Kecil dan Sempit
*Dari sebuah panggung yang kecil dan sempit,* *Sosok yang akan mengakhiri semua penderitaan ini akan datang!* *Sang ksatria yang akan mewarnai perang dan kehidupan dalam lembayung senja!* *Kita akan memanggilnya sang Knight of the End!* *Sosok yang akhirnya akan menutup tirai segala keputusasaan!* *Sang pahlawan sejati yang akan menghentikan peperangan!*
Zoraslav mendengarkan lantunan lagu kuno yang telah diwariskan secara turun-temurun selama beberapa generasi di pemukimannya.
Di luar daun jendela rumahnya, beberapa anak kecil terdengar melantunkan bait-bait lagu tersebut, ritmenya terdengar khidmat persis seperti sedang melafalkan ayat-ayat Kitab Suci.
Di seantero benua, legenda kuno itu telah menyebar luas sebagai lagu balada tentang sang Knight of the Ceasefire ataupun sang Knight of the Apocalypse, dengan nada dan lirik yang memiliki kemiripan serupa.
Sebagian wilayah menyebutnya sebagai sang Knight of the End, sementara wilayah lain mengenalnya sebagai sang Knight of the Apocalypse.
Dan di kawasan-kawasan tertentu, ia diabadikan dengan gelar sang Knight of the Twilight.
Lirik aslinya yang paling purba telah lama terkubur dan terlupakan oleh waktu.
Itulah mengapa di berbagai tempat, orang-orang menyanyikannya dengan mengganti kata Akhir, Kiamat, dan Senja secara bergantian di dalam bait lagu mereka.
Namun bagi para penduduk desa perbatasan ini, lantunan itu bermakna jauh melampaui sekadar nyanyian hiburan.
"Knight of the Apocalypse..."
Atau seperti yang sering disebut sebagian orang: sang Ksatria Pengakhir Perang.
Sosok agung semacam itu konon, menurut ramalan kuno, suatu hari nanti akan datang dan berdiri tegak melindungi mereka dari kepunahan.
"Apa kau benar-benar percaya bahwa pria berambut hitam itu adalah sosok Knight of the Apocalypse yang dinubuatkan dalam lagu?"
Kiamat yang digambarkan di dalam lirik lagu tersebut merujuk pada kehancuran dunia fana ini.
Dan dunia fana bagi mereka merujuk secara mutlak pada keberadaan Demonic Domain.
Dengan kata lain, ramalan itu merujuk pada kedatangan seorang ksatria yang akan meruntuhkan kekuasaan Demonic Domain hingga rata dengan tanah.
Ada orang-orang yang menafsirkannya dengan cara seperti itu, meskipun penafsiran itu bukanlah satu-satunya kebenaran mutlak.
Zoraslav melayangkan pandangan matanya menatap orang-orang yang duduk melingkar di sekeliling meja kayu besar.
Mereka saat ini sedang berkumpul di ruang pertemuan balai desa.
Lebih dari sepuluh orang tokoh pemukiman, dengan lebih dari dua puluh pasang mata, kini terfokus menatap lurus ke arahnya.
Zoraslav adalah seorang pria yang teramat realistis.
Itulah alasan mengapa hingga saat ini, ia selalu menanamkan pemikiran ini di dalam kepalanya:
'Lagu itu tak lebih dari sekadar kidung untuk merajut harapan semu.'
Ditinjau dari sudut pandang praktis, lagu kuno ini tercipta murni karena sebuah tuntutan kebutuhan psikologis.
Apa hal paling mendasar yang paling dibutuhkan oleh manusia untuk bertahan hidup?
Makanan, pakaian, dan tempat bernaung?
Manusia masih sanggup bertahan hidup terseok-seok meskipun mereka kehilangan salah satu dari ketiga kebutuhan pokok tersebut.
Namun ketika tekad di dalam hati telah patah hancur, semuanya akan berakhir seketika.
*Apa gunanya mempertahankan nyawa jika hidup harus tersiksa seperti ini?*
Bagi seseorang yang telah kehilangan asa seperti itu, bahkan jika kau memberinya makanan lezat, pakaian hangat, dan tempat tidur yang nyaman sekalipun, semua itu tak lagi memiliki arti.
Apakah masih ada alasan yang tersisa untuk terus bernapas?
Apakah kelangsungan hidup masih berharga jika kau harus tercemar menjadi manusia buangan di tanah terkutuk ini?
Apakah aku benar-benar harus terus melanjutkan hidup yang memalukan ini?
Jika ada orang yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan menyakitkan itu kepada Zoraslav, hanya ada satu jawaban jujur yang akan meluncur dari bibirnya:
Tentu saja jawabannya adalah karena aku masih sangat ingin hidup.
Pernah ada hari-hari di mana ia duduk menyaksikan seorang anak kecil menyeruput semangkuk sup hambarâyang dimasak dari lobak liar kering yang kerasâdan anak itu berpura-pura bahwa sup itu terasa sangat lezat seraya tersenyum manis kepadanya.
Hari di mana anak kecil itu pertama kali lahir ke dunia fana ini masih terpatri sangat jelas di dalam ingatannya.
Meskipun kehidupan di desa ini jauh dari kata makmur, damai, ataupun nyaman, di balik dinding-dinding kayu sederhana ini, mereka berhasil menemukan secercah keindahan dari sebuah kehidupan.
Mereka sanggup berjalan menyusuri pergantian musim dan, berdampingan bersama orang-orang yang mereka cintai, saling mengobrol dan merawat satu sama lain.
Mereka mendambakan kehidupan, inginâbetapa pun sederhananyaâuntuk terus melangkah maju dan menjaga semua kehangatan itu.
Dan salah satu pilar utama untuk menopang kehidupan yang rapuh itu adalah harapan.
Hal paling esensial yang mutlak dibutuhkan oleh jiwa manusia untuk bertahan hidup adalah secercah harapan.
Maka sejauh yang dipahami oleh Zoraslav, lagu kuno yang diwariskan turun-temurun itu hanyalah sebuah alat untuk menyulut api harapan di tengah komunitas yang terisolasi ini.
*Seorang pahlawan yang kelak akan mengakhiri seluruh penderitaan kita dan membawa kehidupan yang lebih baik akan datang?*
*Dan sosok itu adalah sang Knight of the Apocalypse?*
Begitulah lirik lagunya bersenandung, namun Zoraslav tak pernah benar-benar mempercayainya.
Setidaknya, ia tidak pernah mempercayainya di masa lalu.
Bertahan hidupâbahkan jika itu berarti harus bersujud di bawah bayang-bayang dewa iblis sepanjang sisa umur merekaâitulah kenyataan pahit yang harus mereka jalani.
Itulah hal yang selalu diyakini oleh Zoraslav selama ini.
Ia tidak bergantung pada dongeng rakyat kuno; ia memilih untuk menatap kenyataan dan merengkuhnya apa adanya.
"Aku tak bisa berhenti berpikir bahwa... pria itu mungkin benar-benar sosok yang dinubuatkan tersebut," gumam seorang kawannya membuka suara.
Pria yang berbicara itu adalah sahabat lamanya, sosok yang dulunya jauh lebih sinis dan realistis dibanding Zoraslav sendiri, namun kini sepasang matanya berbinar-binar memancarkan cahaya terang.
Sorot mata dari orang-orang buangan yang selama ini tak pernah dipedulikan oleh peradaban luar, yang selalu diabaikan dan dicampakkan, kini mulai dipenuhi oleh secercah harapan baru.
Lagu kuno yang diwariskan leluhur, pria berambut hitam yang tanpa ragu sedikit pun menebas roboh patung berhala sang dewa iblis, membantai habis setiap monster dan binatang buas yang mengepung pemukiman mereka, lalu membalikkan badannya membelakangi lautan darah tanpa meminta imbalan apa pun.
Sosok pejuang agung yang melangkah masuk menembus kedalaman Demonic Domain tanpa mengharapkan secuil pun hadiah duniawi.
Bagi mata Zoraslav, pria berambut hitam itu benar-benar tampak persis seperti sang Knight of the Apocalypse sejati.
Sebuah tangan kokoh yang berbalut kebaikan tulus kini terulur kepada orang-orang yang belum pernah mengecap bahkan secuil pun remah harapan sepanjang hidup mereka.
Mungkinkah mereka sanggup menolak uluran tangan tersebut?
Tidak, mereka tak akan pernah sanggup menolaknya.
Karena mereka pun sangat merindukan kehidupan yang lebih layak.
Dan begitulah, seluruh penduduk di pemukiman itu serempak melantunkan doa tulus bagi keselamatan sang ksatria yang telah melangkah masuk ke dalam jurang kegelapan.
***
Teresa berdiri tegak di atas panggung sempit yang ia ciptakan khusus untuk dirinya sendiri.
Ia belum menghunus pedang bajanya; untuk saat ini, ia belum membutuhkannya.
*"Kutampung seorang gadis yatim piatu yang hanya tahu cara bertarung, dan beginilah caramu membalas budikuâdengan pengkhianatan tanpa tahu terima kasih?!"*
Mengapa kenangan kelam di masa lalu itu mendadak melintas di benaknya saat ini?
Itu adalah momen di saat Uskup Sekte Sesat mencengkeram seluruh kehidupannya sebagai sandera.
Sebuah masa kelam di mana dunia di hadapannya hanyalah serpihan-serpihan kehampaan yang berwarna hitam dan abu-abu.
Dan pada masa itulah ia pertama kali bertemu dengan Encrid.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berhasil menemukan secercah kebahagiaan saat mengayunkan pedangnya, dalam apa yang selama ini hanyalah tindakan mekanis tanpa jiwa.
Itu adalah pengalaman pertama baginya.
*'Aku akan bertarung, dan terus bertarung, demi membuktikan eksistensi jiwaku.'*
Itulah jawaban tegas yang dulu ia berikan kepada Encrid.
Encrid dulu pernah bertanya kepadanya tentang bagaimana ia ingin menjalani hidupnya seandainya ia terlahir kembali ke dunia ini.
Segala hal dari momen bersejarah itu masih teringat teramat jelas di dalam ingatannya.
Aroma udaranya, suhu hembusan anginnyaâia mengingat setiap detilnya dengan sempurna.
Dulu ada tarikan napas panjang yang sarat akan kepedihan, dan ada sosok dirinya yang memandang masa lalunya dengan penuh penyesalan.
Maka sosok Teresa sang bidak Sekte Sesat telah mati binasa, dan ia terlahir kembali sebagai Wandering Teresa.
Pada awalnya ia sempat mencoba bersembunyi di balik topeng kecil, namun tak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa persembunyian itu sama sekali tidak berguna.
*'Aku akan terus bertarung hingga akhir hayatku.'*
Kata-kata itu bukan hanya ditujukan demi darah kaum raksasa yang mengalir deras di dalam nadinya.
Melainkan sebuah ikrar bagi sosok dirinya di masa lalu, dan bagi sosok dirinya yang akan melangkah menyongsong hari esok.
Bagaimanapun juga, bertarung tidak selalu berarti melontarkan kepalan tinju atau menumpahkan darah musuh.
Teresa telah bertarung melawan bayang-bayang masa lalunya, merengkuh tuhan yang baru, dan mendalami ajaran-ajaran suci dari Kitab Suci.
Berdiri kokoh di atas panggung kecil yang tercipta dari perisai bajanya, Teresa menolehkan kepalanya menatap ke arah belakang.
Sang pahlawan yang dulu telah menyelamatkan jiwanya sedang berdiri memperhatikannya dengan tatapan tenang.
Menyambut tatapan mata biru tersebut, Teresa membuka bibirnya perlahan.
"Aaaahâ"
Sebuah suara serak dan berbobot, namun entah mengapa terdengar teramat memikat bagi siapa pun yang mendengarnya, bergetar merdu di dalam tenggorokannya.
Ia kembali memutar kepalanya menatap lurus ke depan dan, seraya memandang ke arah gerombolan monster yang meneteskan nanah busuk yang merayap mendekat serta dinding benteng di kejauhan yang menggema dengan jeritan kutukan, ia mulai melantunkan suaranya.
Suara merdunya mulai mengalun naik dan turun, terkadang tersambung halus, terkadang berhenti sejenak, bahkan hembusan napasnya melebur sempurna menjadi bagian dari melodi suci.
Dengan kata lain, ia mulai bernyanyi.
Tak lama kemudian, kidung pujian sucinya yang mengagungkan Sang Pencipta membubung tinggi membelah langit dan menggetarkan tanah tandus di bawah pijakan mereka.
Membangkitkan Divine Power adalah anugerah ilahi yang hanya dilimpahkan kepada segelintir manusia terpilih.
Dan bakat untuk sanggup menggetarkan sanubari jiwa orang lain melalui lantunan suara adalah anugerah yang sama langkanya.
Dengan kata lain, membangkitkan kekuatan suci dan melantunkan kidung pujian secara sempurna menuntut dua bakat alami yang terpisah.
Jika secara ajaib seseorang terlahir dengan kedua anugerah tersebut sekaligus dan mengasahnya tanpa henti melalui disiplin ketat, ia akan sanggup mengendalikan Divine Power secara mutlak melalui nyanyian.
Di dalam lingkungan ordo ksatria suci Holy Knights Order, sosok-sosok istimewa semacam itu sangat dihormati dan dianugerahi gelar keagungan: **Sacred Cantor**.
Terkadang, mereka pun dipanggil dengan sebutan Holy Cantor.
Audin telah melihat kilatan bakat tersebut di dalam diri Teresa dan membimbingnya untuk membangkitkan kekuatan agung itu.
Itu adalah alasan yang sama persis mengapa saat Encrid berangkat menuju Yohan dulu, Luagarne sengaja ditinggalkan untuk mendampingi Teresa.
Sang Katak Kecil sanggup menyanyikan lagu perang unik bernama Frog Song, dan lengkingan suaranya sanggup mempengaruhi kondisi tempur semua orang di sekitarnya.
Dalam satu sudut pandang, teknik itu berakar pada prinsip dasar yang serupa dengan kidung pujian suci.
Sang wanita raksasa Half Giant menancapkan perisai besarnya ke tanah untuk menciptakan panggung pribadinya, lalu berdiri di atasnya dan bernyanyi dengan sepenuh jiwa.
Melodi yang terajut dari suaranya terasa teramat indah, agung, dan menyegarkan sanubari.
Setiap kali ia menaikkan nada suaranya, resonansinya melesat begitu dahsyat hingga udara di sekelilingnya seolah merekah terbuka.
Aaaahâaaah!
Hanya dengan mendengarkan alunan suaranya saja sudah cukup untuk membuat jiwa seseorang merasa terlahir kembali.
"Ini..." gumam Encrid tertegun takjub.
Seiring bergemanya nyanyian Teresa, sebuah wujud gaib mulai tercipta memadat di hadapannya, dan pemandangan menakjubkan itu membuat mulut Encrid sedikit ternganga.
Aaaahâaaah.
Kepiawaian seni Teresa, yang mengubah bahkan hembusan napasnya menjadi bagian dari simfoni tanpa kata, mengirimkan sensasi meremang di sepanjang tulang belakang Encrid.
Konon seorang penyair kelana yang hebat sanggup memainkan alat musik dengan piawai, namun penyair yang paling agung adalah mereka yang bernyanyi menggunakan jiwanya.
Melodinya mengalun teramat dalam, memancarkan resonansi agung yang menyebar luas ke segala penjuru.
Hangat, megah, dan menenangkan jiwa.
Hawa sejuk yang lembut menyelimuti Encrid dan seluruh ksatria di sekitarnya, begitu menenteramkan hingga rasanya sulit dipercaya bahwa mereka saat ini sedang berdiri di jantung tergelap Demonic Domain.
"Semoga Tuhan senantiasa melindungi kita," bisik Audin melantunkan doa suci.
Ketenangan batin yang tercipta bukanlah sekadar sugesti perasaan belaka.
Meskipun suara Teresa tidak menggelegar kasar, kidung sucinya yang terinfusi oleh Divine Power murni mengambil wujud fisik nyata dan membentang kokoh menahan laju serbuan kawanan Ghoul!
Sebuah dinding benteng pertahanan yang berpendar cahaya putih suci mendadak terciptaâmemang tidak setinggi perisai tempat Teresa berpijak, namun dengan mudah menjulang melampaui tinggi kepala orang dewasa.
Barikade cahaya putih suci itu melebar ke sisi kiri dan kanan, mendorong mundur kabut kegelapan Demonic Domain dengan keagungan mutlak.
Pemandangan itu sendiri benar-benar memukau dan menakjubkan jiwa.
"Teresa pernah memberitahuku bahwa ia sangat terinspirasi oleh apa yang kau peragakan dulu, Kapten Saudaraku," bisik Audin seraya tersenyum bangga.
"Begitu rupanya..." gumam Encrid penuh rasa takjub.
Dinding pelindung yang dulu pernah ia bangun demi menahan laju pasukan Aspenâitulah sumber inspirasi utama bagi sang wanita raksasa.
Pada detik itu, Encrid pun teringat bahwa dirinya pernah menyatukan suara Will ke dalam vokalnya di masa lalu, dan hal itu pun turut memberikan pengaruh mendalam bagi perkembangan teknik Teresa.
Audin memang selalu berpesan agar tidak perlu mencemaskan perkembangan Teresa.
Meski begitu, ia sama sekali tidak menduga bahwa Teresa sanggup memperagakan mukjizat sehebat ini di medan perang nyata.
"Dindingnya tidak sempurna. Mereka mulai merayap menerobos lewat celah-celah kosong!" seru Luagarne memutar kedua bola matanya yang besar.
Penilaian taktis sang Katak Kecil sangat tepat.
Melalui celah sempit di antara dinding cahaya suci tersebut, seekor monster Ghoul memaksakan tubuhnya untuk merayap masuk.
Daging tubuhnya mendesis dan melepuh hebat saat bersentuhan dengan pendar cahaya putih suci, asap pekat mengepul saat tubuhnya terbakar, namun monster itu terus merangsek maju menembus barikade.
Diiringi debuman tumpul, monster itu menjatuhkan satu lututnya ke tanah, mencengkeramkan jemarinya yang tajam ke tanah tandus, berusaha merayap maju apa pun yang terjadi.
Dan tepat di hadapannya berdirilah seorang pria bertopeng yang menyabetkan pedang pendeknya dengan dingin tanpa ragu sedetik pun.
Slasssh!
Monster pun pada dasarnya tersusun dari tulang, daging, dan otot.
Bagi Jaxon, yang memahami secara sempurna bagaimana cara menusuk dan menyayat pada sudut yang paling presisi untuk membunuh, memenggal monster semacam ini adalah hal yang teramat mudah.
Namun reaksi biologis dari monster Ghoul yang terluka sama sekali berada di luar kewajaran.
Krrrk...
Gumpalan nanah kental berwarna kuning seketika membengkak liar dari luka tebasan lehernya.
PLOK!
Diiringi letupan basah yang memekakkan telinga, kantung nanah itu meledak dahsyat.
Dalam kondisi normal, ledakan itu dipastikan akan menyemburkan spora-spora wabah penyakit terkutuk ke segala arah, namun pendar Divine Power dari nyanyian Teresa seketika menindih dan memurnikan spora-spora beracun tersebut hingga musnah tak berbekas.
Seiring naiknya nada kidung suci sang Sacred Cantor, pendar cahaya putih suci memadat dan melenyapkan seluruh sisa bangkai Ghoul yang meledak.
Audin pun bergerak menyapu celah-celah lainnya.
Ada beberapa celah sempit di sepanjang garis barikade.
Saat sang manusia-beruang melesat melintasi medan laga, tubuh kekarnya tampak seolah-olah hadir di tiga tempat berbeda secara bersamaan.
Itu adalah bayangan semu yang tertinggal akibat kecepatan geraknya yang luar biasaâsebuah kelincahan akrobatik yang sama sekali tidak mencerminkan postur tubuhnya yang raksasa.
Setelah melesat lincah seperti itu, setiap sentakan ringan dari kepalan tinju sucinya seketika meledakkan kepala monster Ghoul menjadi serpihan hancur!
Tepat di mana tengkorak kepalanya meledak, nanah kuning membengkak laksana kantung kemih babi yang ditiup paksa sebelum akhirnya meledak kembali.
Audin bahkan tak perlu repot-repot menunggu bantuan dari kidung Teresa.
Meskipun ia tidak sanggup menyanyikan kidung pujian, dalam hal memanipulasi kekuatan suci murni secara langsung, kemampuannya dua kali lipat lebih terlatih dibanding siapa pun.
Audin membentangkan telapak tangannya tepat di atas bangkai Ghoul yang baru saja ia hancurkan.
Mengikuti sapuan tangannya, selembar tirai cahaya putih suci terbentang mengembang laksana ujung jubah agung seorang pendeta.
Bahkan semburan nanah beracun yang meledak sekalipun tak sanggup menembus tirai cahaya suci tersebut.
Dugâ!
Ledakan nanah itu hanya sanggup melepaskan suara benturan tumpul sebelum padam terurai menjadi abu hampa.
"Kau memiliki bakat yang cukup lumayan juga," puji Luagarne seraya menarik keluar cambuk kulitnya.
Dibandingkan dengan sebilah pedang baja, jangkauan cambuk sang Katak Kecil jauh lebih panjangâdirancang khusus untuk pertempuran jarak menengah dan jauh.
Dan senjata itu adalah sebuah relik kuno yang sanggup menyulut kobaran api sesuka hati.
Seekor Plague Ghoul meronta-ronta mencoba menerobos masuk lewat celah barikade, hanya untuk mendapati tengkorak kepalanya hancur berkeping-keping dihantam oleh cambuk api yang menyala!
Bandul pemberat di ujung cambuk Luagarne ditempa dari logam Dark Gold, dan cambuk itu sendiri, saat digenggam oleh pendekar yang terlatih, sanggup melancarkan sabetan berkecepatan tinggi bahkan hanya dengan tenaga fisik orang dewasa biasa.
Namun sosok yang mengendalikannya saat ini adalah seekor Katak yang telah terlatih dalam seni bertarung tingkat tinggi.
Tali cambuknya dirajut liat dari kulit binatang buas pemangsa.
Karena kecepatan bertambah seiring besarnya pengerahan tenaga fisik, tak perlu dipertanyakan lagi betapa mengerikannya daya hancur cambuk tersebut.
Krakâ! Brakâ!
Cambuk api itu menyayat membelah udara, membakar hangus kepala-kepala kawanan Ghoul diiringi kobaran lidah api merah menyala.
Bahkan sekadar untuk sanggup mengikuti jejak gerak sabetan cambuk itu saja, seseorang mutlak membutuhkan kecepatan refleks setingkat seorang Knight sejati.
Ketika tengkorak atau tubuh monster Ghoul meledak menyemburkan nanah akibat hantaman cambuk, cairan busuk itu justru menjadi bahan bakar tambahan yang membuat kobaran api Luagarne menyala semakin berkobar-kobar.
Kini Ragna pun turut terjun melangkah masuk ke dalam gelanggang pertempuran.
Dengan langkah santai yang malas dan tatapan mata yang setengah melamun, sang ksatria pirang melangkah tenang mendekati barisan kawanan Plague Ghouls.
Entah sejak kapan ia telah menghunus greatsword Sunrise miliknya, yang kini memancarkan kilau pendar merah menyala yang teramat terang.
Meskipun matahari senja mulai tenggelam di balik cakrawala, tak ada kekurangan cahaya sedikit pun di tempat ini.
Ragna mengayunkan greatsword raksasanya laksana seorang petani yang sedang memanen tangkai gandum menggunakan sabit tajam.
Ia menjaga lintasan bilah pedangnya tetap rapat dan efisien, murni mengandalkan liukan pergelangan tangannya sembari menggeser langkah kakinya secara teraturâgerakan sederhana yang berulang-ulang dengan ritme yang stabil.
Tap, tap, tap, tap, tap!
Diiringi gerakan santai nan teratur tersebut, bukanlah tangkai gandum yang terpenggal berjatuhan, melainkan kepala-kepala kawanan Plague Ghouls yang terpental ke udara lalu menggelinding di tanah tandus!
Gumpalan nanah sempat membengkak di permukaan luka tebasan monster yang ditebas oleh Ragna, namun gelembung-gelembung busuk itu berukuran jauh lebih kecil dibanding biasanya.
Cles.
Gelembung nanah itu bahkan tak sempat meledak dengan benar.
Pedang Sunrise menolak secara mutlak segala hal yang najis dan terkutuk di dunia fana ini.
Senjata pusaka itu dinamai Sunrise karena ia adalah sebilah pedang agung yang ditempa dari esensi mentari fajar.
Sebuah pusaka warisan turun-temurun yang diagungkan di dalam silsilah keluarga Yohan.
Hasil pembantaian semacam ini adalah hal yang sangat wajar bagi pedang suci tersebut.
Dengan ribuan monster yang menerjang serempak, beberapa ekor Ghoul memang sempat menyelinap masuk melewati celah barikade satu per satu.
Atau mungkin pada titik ini, Teresa sengaja membiarkan beberapa monster lolos demi menguji kesiapan rekan-rekannya.
Sang wanita raksasa memusatkan sisa Divine Power yang bersemayam di dalam tubuhnya lalu membakar habis sebagian besar gerombolan Plague Ghouls yang mengepung di luar dinding cahaya.
Monster-monster Ghoul yang mulutnya dijahit rapat bahkan tak sanggup melolongkan jeritan kematian saat tubuh mereka hangus menjadi abu.
Menyaksikan kawanan Ghoul disapu bersih semudah itu, Rem menyeringai lebar lalu berteriak:
"Hei, kalian berdua di sana, bantulah sedikit lebih banyak!"
Seruan itu ia tujukan langsung kepada Ropord dan Fel.
Kidung suci Teresa memang telah berhasil mendirikan barikade dinding pertahanan cahaya suci yang kokoh, namun ketinggiannya tidak sanggup mencapai ruang udara di atas kepala mereka.
KRRRAAAAACKâ!
Hal itu menandakan bahwa kawanan Crow Beasts raksasa yang menukik menyambar dari langit kelam masih menjadi ancaman yang harus segera dibereskan.
Namun apakah serbuan burung pemangsa raksasa itu benar-benar menjadi masalah besar bagi para ksatria Madmen Knights?
Kemungkinan besar sama sekali tidak.











