Eternally Regressing Knight

Bab 767: Bakat Menemukan Keunggulan di Tengah Kemalangan

3060 Kata

Bab 767: Bakat Menemukan Keunggulan di Tengah Kemalangan

Seekor burung hitam raksasa berputar-putar di langit kelam, mengumpulkan akselerasi kecepatan, lalu melipat kedua sayap lebarnya dan menukik tajam lurus ke bawah.

Untuk ukuran tubuh yang begitu masif, kecepatan luncurnya benar-benar berada di luar nalar.

Bahkan mungkin bobot tubuhnya yang teramat berat justru membuatnya meluncur jatuh berkali-kali lipat lebih kencang.

BUM—sebuah suara robekan angin membelah udara, dan tepat saat sang burung pemangsa raksasa menyambar ke bawah, sosok Rem seketika lenyap dari posisinya!

"Dasar bajingan gila..."

Fel yang menyaksikan aksi nekat Rem hanya sanggup melontarkan gumaman makian yang menjadi bentuk pujian tertingginya.

Tepat sebelum paruh tajam burung raksasa itu menghantam tanah, sang ksatria liar dari Western Region telah melilitkan seutas tali liat ke gagang kapak kecilnya, memutarnya di atas kepala, lalu melontarkannya ke angkasa.

Dengan paruh runcing yang menjulur laksana sebatang tombak perang raksasa, sang burung hitam menukik menyambar; dan pada detik yang sama, Ropord dan Fel serempak mengayunkan pedang mereka untuk membelokkan arah paruh tersebut, sementara kapak dan tali yang dilemparkan Rem mengait sempurna melilit leher sang burung!

Dalam satu tarikan napas kilat, Rem menyentakkan tubuhnya naik ke atas punggung makhluk raksasa tersebut, dan sang burung hitam seketika mengepakkan sayapnya membubung kembali ke angkasa.

"Kapten!" seru Ropord menatap ke langit.

Encrid tentu saja telah mengetahui siapa sosok manusia terakhir di muka bumi ini yang paling tidak perlu kau cemaskan keselamatannya.

"Itu adalah Rem," sahut Encrid tenang.

Dengan kata lain: pria liar itu adalah tipe petarung yang sanggup membereskan segala rintangan sendirian—bahkan saat bertarung di angkasa sekalipun.

"Luuu-luuu-laaa-laaa!"

Sebuah pekikan liar yang riang menggema membahana dari atas langit—suara itu tak lain adalah lengkingan suara Rem.

Ia kemungkinan besar sengaja memaksakan dirinya untuk terdengar ceria murni karena terpengaruh oleh alunan kidung suci Teresa di bawah.

Rem mendadak teringat pada beberapa bait lagu kuno yang biasa ia dendangkan saat masih berkeliaran di hutan Western Region masa lalunya.

Bukankah ada mitos lama yang menyebutkan bahwa lolongan burung gagak selalu membawa pertanda kesialan maut?

Atau kira-kira semacam itulah dongengnya.

Sembari menunggangi punggung sang burung pemangsa di langit, Rem merapal mantra sihir ritualnya untuk memanggil kehadiran kawan liarnya.

Detik saat siluet bayangan burung elang raksasa terwujud di belakang punggungnya, Rem mencengkeramkan jemari tangan kirinya lalu menghujamkannya ke celah di antara bulu-bulu lebat sang burung hitam.

Laksana cakar tajam seekor elang pemangsa, jemari liatnya menembus lapisan bulu dan mencengkeram erat daging di baliknya!

Krrrraaaaack—!

Rem membulatkan bibirnya lalu melontarkan siulan nyaring yang menggema menyerupai pekikan burung elang gunung.

Menggunakan tangan kirinya sebagai pasak penahan yang kokoh, Rem merendahkan pinggangnya lalu merayap maju ke depan.

Gerakannya persis seperti seorang pendaki tebing ulung yang sedang menaklukkan dinding jurang terjal.

Satu-satunya perbedaan mencolok adalah bahwa ia sedang merayap di atas punggung seekor burung raksasa buas yang melayang tinggi di angkasa.

Begitu berhasil mendekati bagian belakang kepala sang burung, Rem menghunjamkan senjata pusaka Inherited Weapon miliknya—sebilah kapak perang tempaan—lurus ke bawah sekuat tenaga!

Tindakannya meledak begitu tegas hingga gerakannya tampak teramat kilat.

Sang burung hitam meronta-ronta liar ke kiri dan ke kanan, berusaha mati-matian menghempaskan sosok asing yang menempel di punggungnya, namun Rem menolak melepaskan cengkeramannya sedetik pun.

Dan hasil pembantaian itu pun meledak seketika.

Mata kapak perangnya membelah tengkorak kepala sang burung hingga menganga lebar!

Krak!

Darah hitam pekat dan serpihan otak menyembur deras laksana hujan lebat dari kepalanya yang remuk.

Dengan tangan kirinya yang masih tertancap di daging sang monster, Rem berjongkok rendah lalu menegakkan separuh tubuhnya.

Seraya mendongakkan kepalanya, ia melihat semburat matahari kelabu yang redup di kejauhan langit perlahan-lahan memudar ditelan kegelapan.

Seekor burung hitam kedua melesat terbang melintasi cakrawala di depannya.

Rem telah memprediksi arah gerak burung kedua tersebut sejak awal.

Ia telah menyelipkan kapak pusaka Inherited Weapon miliknya kembali ke sabuk pinggangnya sejak tadi, lalu dengan cepat mencabut kapak lempar kecil yang masih tertancap di bangkai burung pertama dan melemparkannya lurus ke depan!

Ukuran tubuh musuh yang terlampau besar berarti ada begitu banyak titik sasaran empuk yang bisa ia bidik.

Wuuusss—!

Kapak lempar itu menyayat udara dan, diiringi debuman tumpul, menancap telak di punggung burung pemangsa kedua.

Bangkai burung pertama yang telah tewas memang mulai menukik jatuh bebas, namun Rem sanggup memanfaatkannya sebagai pijakan loncatan untuk sepersekian detik—dan itulah yang langsung ia eksekusi tanpa ragu.

Menghentakkan kakinya ke titik pijakan tersebut, Rem menekuk lututnya, mengencangkan otot pahanya, lalu menyentakkan tali liat yang tersambung pada kapak lemparnya kuat-kuat!

Burung hitam kedua yang sedang melayang seketika tersentak dan tertarik paksa ke arahnya, terhenti kaku di udara untuk sesaat.

Itu memang hanya jeda waktu sepersekian detik, namun hal itu sudah lebih dari cukup.

Rem menarik tali tersebut lalu melompat menerjang, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seraya menunggangi hembusan angin malam lurus ke atas punggung mangsa barunya!

Dengan kedua lengan yang terbentang melayang melintasi langit, sosoknya benar-benar tampak persis seperti seekor elang pemangsa sejati.

Sementara itu, bangkai burung pertama yang ia jadikan pijakan loncatan jatuh berdebam menghantam tanah tandus jauh di belakang arena pertempuran rekan-rekannya.

Brak!

Tepat saat suara debuman bangkai burung pertama bergema, kapak perang Rem telah membelah tengkorak kepala burung pemangsa kedua hingga hancur berkeping-keping!

Krrraaaack—!

Siulan nyaring Rem kembali membahana membelah langit untuk kedua kalinya.

*Apakah pria itu berencana untuk turun kembali ke tanah dengan selamat nantinya?*

Keraguan semacam itu mungkin akan melintas di benak orang awam, namun Encrid sama sekali tidak memikirkan hal tersebut.

Ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa Rem pasti sanggup menemukan jalannya sendiri untuk mendarat.

Pria liar itu bukanlah tipe orang yang akan melompat ke angkasa tanpa perhitungan matang.

Ada begitu banyak metode yang bisa ia gunakan untuk mendarat, bukan?

Ia selalu bisa memanfaatkan dahan-dahan pohon besar sebagai penahan momentum jatuh, dan dalam skenario terburuk sekalipun, ia hanya perlu berteriak meminta Audin untuk menangkap tubuhnya di bawah.

'Bahkan jika kakinya patah sekalipun, meski kurasa hal itu mustahil terjadi.'

Ketinggian terbangnya belum mencapai batas di mana sosoknya hanya tampak seperti titik kecil di awan.

Pada ketinggian seperti itu, fisiknya yang liat dipastikan akan baik-baik saja.

Belum sempat deretan pemikiran itu tuntas di benak Encrid, burung hitam ketiga yang tersisa seketika panik dan melesat terbang membubung tinggi ke angkasa detik saat Rem melompat ke punggungnya!

Bahkan bagi mata Encrid, sangat jelas terlihat bahwa burung malang itu bertindak murni atas dorongan kepanikan dan insting bertahan hidup—namun pada akhirnya, tindakan putus asa itu sama saja dengan berusaha menyeret Rem mati bersama di ketinggian langit.

Manusia biasa tidak bisa terbang.

Dan fakta itu berlaku mutlak bahkan bagi para ksatria terhebat sekalipun.

Sosok burung raksasa yang tadinya membentangkan bayangan gelap di tanah kini menyusut drastis di angkasa hingga nyaris seukuran tubuh manusia biasa.

Encrid sempat bertanya-tanya apakah Rem akan meremukkan kepala sang burung demi memaksanya menukik turun.

Namun alih-alih melakukannya, Rem dengan dingin memenggal putus leher sang burung raksasa!

Sekali lagi, hujan darah hitam pekat mengguyur turun dari angkasa.

Tetesan darah berceceran deras, bulu-bulu hitam berhamburan di langit, lalu bangkai sang burung dan sosok satu orang manusia mulai jatuh menukik bebas ke bawah.

Rem kembali memanfaatkan bangkai burung itu sebagai pijakan lompatan di udara, memperagakan kelincahan akrobatik yang teramat mencengangkan.

Saat telah turun cukup jauh, Rem tampak melayang anggun di udara.

Rem bukanlah seorang ksatria—ia adalah seorang dukun pemanggil roh sejati.

Ia memanggil esensi Spirit of the Eagle, meringankan bobot massa tubuhnya secara drastis.

Hal itu memang tidak membuatnya sanggup terbang bebas laksana burung, namun dengan merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar-lebar, ia sanggup meluncur melayang dihembus angin alih-alih jatuh terhempas bebas.

Hanya ada satu masalah kecil...

"Pria itu tampaknya tersesat di atas sana," gumam Ragna yang melangkah mendekat setelah gelombang Plague Ghouls berhasil dibantai habis.

Ketika Encrid tidak merespons, Ragna mengulangi kalimatnya sekali lagi, seolah ingin menegaskan kabar gembira tersebut:

"Orang idiot yang buta arah itu sekarang benar-benar tersesat di atas langit."

Nada bicaranya terdengar sangat riang dan penuh kepuasan batin.

"...Dia pasti akan menemukan jalan kembali," sahut Encrid datar.

Hembusan angin dan kepakan sekarat burung hitam tadi memang telah melempar tubuh Rem melayang cukup jauh ke kejauhan rimba.

Entah apakah makhluk itu memang sengaja berniat melakukannya di detik-detik terakhir hidupnya—meskipun ia telah mati binasa saat itu.

Namun Encrid sama sekali tidak merasa cemas.

Ia sangat percaya pada ketangguhan naluriah Rem.

Rem bukanlah tipe pria pemalas seperti Ragna, dan seorang pemburu rimba dari Western Region dipastikan sanggup menemukan orientasi arahnya sendiri bahkan di dalam kedalaman Demonic Domain sekalipun—sehingga tak ada alasan bagi mereka untuk membuang waktu menunggunya.

Entah karena alasan apa, sang pemanah peri terkutuk yang sebelumnya bertengger di menara pengintai pohon pun telah mengosongkan posisinya; baik sang peri maupun sang High Priest sang penguasa benteng tak lagi menampakkan batang hidung mereka di atas tembok.

Kenyataannya, kedua musuh itu sengaja mundur ke dalam benteng murni karena mereka meyakini bahwa para penyusup sombong ini akan terus bertarung di bawah hingga kehabisan tenaga dan mati kelelahan.

Pasukan Plague Ghouls adalah kawanan monster yang sangat merepotkan—menghadapi mereka saja sudah cukup untuk menguras habis stamina fisik musuh.

Dan bukan hanya kawanan Ghoul ancaman yang mereka siapkan.

Di angkasa berkeliaran kawanan burung modifikasi, dan setelah kawanan Ghoul musnah, masih ada begitu banyak monster hasil riset alkimia terlarang yang siap dilepaskan.

Yang terpenting, pihak musuh berada di posisi yang sangat aman di dalam benteng, terlindungi oleh ketebalan dinding Thornbriar Fortress.

Pihak musuh merasa mereka sanggup menikmati pertempuran ini dengan santai dari balik dinding.

Dari sudut pandang sang pemanah peri, setelah melepaskan serangkaian anak panah berbalut Will sebelumnya, ia membutuhkan waktu istirahat sejenak untuk memulihkan energinya.

Niat musuh sangat gamblang dan terbaca jelas: begitu para penyusup lelah dan terpuruk setelah membantai kawanan Ghoul, pihak benteng akan melangkah keluar ke atas tembok dan menertawakan mereka dari atas:

*"Ya, kalian bertarung dengan cukup hebat. Sekarang, saatnya bagi kalian untuk bermain bersama para werewolf berlengan empat, bukan? Oh, maafkan aku. Apa kalian sempat melihat monster elit hasil mahakaryaku di belakang sana? Apa kalian sudah mencicipinya?"*

Mungkin kalimat mengejek semacam itulah yang akan mereka lontarkan dari atas tembok benteng nantinya.

Dan para penyusup akan menghadapi gelombang teror baru yang jauh lebih mengerikan dibanding kawanan Ghoul.

Hujan panah maut akan kembali menghujam dari menara Spire Trees, dan barisan Crystal Knight berbaju zirah hitam pekat akan dikerahkan keluar dari gerbang.

Bahkan Encrid sekalipun tidak sanggup membaca secara mutlak apa yang sedang direncanakan oleh sang High Priest ataupun sang pemanah peri di dalam benteng sana.

Ia hanya mengetahui satu hal pasti: jika musuh-musuh itu terlalu mengagungkan dan mengandalkan ketebalan dinding benteng kayu mereka, maka kompi Madmen Knights akan dengan senang hati meremukkan keyakinan sombong tersebut hingga berkeping-keping.

Meskipun kedua sosok pemimpin benteng telah menghilang, hal itu tidak berarti puncak tembok benteng sepenuhnya kosong tanpa penjagaan.

Beberapa siluet bayangan tampak bergerak samar di atas sana.

Bagi mata Encrid, bayangan-bayangan itu tampak berkedip dan terdistorsi.

Dan pada saat itulah, seraya memperhatikan seluruh dinamika medan laga, Encrid tersadar bahwa sosok Jaxon pun telah menghilang diam-diam tanpa suara.

Jaxon telah bergerak menyusup untuk menuntaskan apa yang menjadi keahliannya.

Dan mereka yang berdiri di bawah sini pun akan mengeksekusi tugas mereka masing-masing.

Encrid membuka suara:

"Lua."

Sang Katak Kecil tidak langsung menjawab panggilan Encrid.

Alih-alih menyahut, sepasang bola matanya yang besar terus berputar-putar liar ke segala arah.

Luagarne sedang memproses setiap variabel taktis di dalam kepalanya: dinding benteng pertahanan, kawanan monster, lesatan anak panah, sang pemanah peri, medan lingkungan, hingga situasi psikologis musuh.

Ia merangkai seluruh potongan informasi itu menjadi sebuah gambaran utuh yang teramat jernih di dalam benaknya.

Sang Katak Luagarne—ia adalah tipe pejuang jenius yang selalu sanggup menemukan keunggulan bahkan di tengah kemalangan yang paling mencekam.

Itulah keahlian spesialisasinya: mengubah posisi yang tidak menguntungkan menjadi posisi yang unggul, atau setidaknya menyetarakan kembali papan catur pertempuran.

Ia adalah seorang ahli taktik sejati, yang sanggup membalikkan posisi lemah menjadi posisi dominan melalui manuver-manuver taktis yang brilian.

Seluruh kejeniusan itu berakar langsung dari insting tempur alamiah kaum manusia katak, membuat ilmunya teramat sulit untuk diajarkan maupun dipelajari oleh orang lain.

Namun kehebatannya sama sekali tak terbantahkan.

Jika seseorang sanggup mengubah pertempuran yang mustahil menang menjadi pertarungan yang seimbang, maka ketika situasi pertempuran telah memihak kepada mereka—ketika mereka berada di posisi yang kuat dan unggul—mereka akan bertarung dengan performa yang berkali-kali lipat lebih buas.

Sangat masuk akal jika seseorang akan memperagakan performa terbaiknya saat mereka berada di posisi yang dominan alih-alih tertekan.

Itulah fondasi dasar dari ilmu pedang Tactical Sword gaya Luagarne.

Dan Encrid berhasil menguasai esensi ilmu tersebut melalui ribuan kematian dan kebangkitan berulang di masa lalunya.

Sungguh, bagaimana mungkin Luagarne tidak merasa sangat menyayangi murid sekaligus komandannya ini?

Insting bertarung bukanlah sesuatu yang biasa diajarkan kepada orang lain—seseorang biasanya terlahir memilikinya atau tidak sama sekali.

Namun pria berambut hitam ini benar-benar menyerap dan menguasai setiap pelajaran yang diajarkan kepadanya.

Apa pun teori yang ia pelajari sendiri, ia selalu berhasil menemukan jawaban praktisnya di medan laga.

Hal itulah yang memantik rasa penasaran dan menyulut ambisi terdalam sang Katak Kecil—itulah alasan mengapa ia berdiri di tempat ini hari ini.

Sembari Luagarne menatap ke arah dinding benteng, Encrid pun mulai menarik alur pemikiran taktis yang serupa di dalam kepalanya.

Pengalaman perang pengepungan benteng.

Encrid mengingat kembali momen-momen langka di masa lalunya saat ia terlibat dalam operasi penyerbuan benteng pertahanan.

Jumlahnya memang tidak banyak.

Tak ada alasan untuk berlarut-larut memikirkan keuntungan pihak bertahan ataupun kelemahan pihak penyerang secara teoritis.

Tak ada parit air yang digali di sekeliling benteng ini, dan tampaknya musuh pun tidak bersiap menyiramkan minyak mendidih dari puncak dinding benteng.

Sebaliknya, detik saat siapa pun melangkah mendekati dinding kayu tersebut, jiwa-jiwa gentayangan yang diselimuti oleh Thorn Shroud akan menjulurkan cakar-cakar duri mereka dan berusaha mencabik-cabik tubuh penyerang hingga hancur.

Seseorang tak perlu mengalami kematian secara langsung hanya demi memahami ancaman tersebut.

"Karena ini bukanlah benteng pertahanan biasa, kita tidak bisa menyerangnya menggunakan taktik pengepungan konvensional."

Dalam perang konvensional, pihak bertahan akan menggali parit pelindung dan mengirimkan regu gerilya untuk memutus jalur logistik pihak penyerang.

Pihak bertahan bertarung di rumah mereka sendiri yang nyaman, sementara pihak penyerang harus berkemah di atas tanah becek yang dingin, kelelahan dan terpapar bahaya.

Secara umum, pihak pertahanan selalu memegang keunggulan mutlak.

Tentu saja ada kondisi di mana situasi berbalik sebaliknya—misalnya ketika pihak penyerang mengepung benteng yang minim persediaan pangan dan membuat musuh mati kelaparan di dalam.

"Namun tak ada satu pun dari teori itu yang berlaku saat ini."

Rombongan mereka adalah unit tempur elit berkekuatan kecil tanpa jalur pasokan logistik yang perlu dijaga, dan benteng Thornbriar Fortress yang berdiri di kedalaman Demonic Domain ini sama sekali bukan kastel biasa.

Analisa itu tampak seperti rantai pemikiran yang panjang, namun Encrid memproses seluruh datanya dalam hitungan detik.

Segala variabel berputar kilat di dalam benaknya lalu mengerucut pada dua pertanyaan kunci:

*Apa yang dimiliki oleh pihak musuh namun tidak kita miliki?*

"Ketiadaan senjata artileri pengepungan."

Meskipun ini bukan perang biasa, memiliki senjata pelontar batu seperti Mangonel atau ketapel pengepungan akan sangat menguntungkan.

Encrid sempat melihat deretan Ballista dari tulang monster yang terpasang di puncak dinding benteng—senjata artileri berat yang dimiliki musuh namun tidak dimiliki rombongannya.

Lalu pertanyaan kedua:

*Apa yang kita miliki namun sama sekali tidak dimiliki oleh pihak musuh?*

"Kekuatan tempur mutlak yang sanggup disebut sebagai bencana berjalan—sembilan, tidak, delapan orang ksatria di antara kita."

Jumlahnya akan menjadi sembilan jika Rem telah kembali mendarat.

Maka saat ini mereka memiliki delapan bencana berjalan, ditambah sosok Luagarne yang sangat mahir mengeksploitasi setiap celah pertahanan musuh.

Pandangan mata Encrid tertuju menatap ke arah Luagarne.

Sang Katak Kecil bahkan tidak menggembungkan pipinya.

Ia hanya berdiri memperhatikan dinding benteng dalam keheningan mutlak tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Sinar matahari kelabu telah lenyap sepenuhnya.

Lebih tepatnya, cahaya suram itu telah ditelan habis oleh kegelapan malam.

Sensasinya seolah-olah jelaga hitam pekat dari senja Demonic Domain sedang merayap menutupi seluruh bentang langit.

Persis seperti seseorang sedang memegang kuas cat hitam raksasa dan menyapukannya dari angkasa turun membasahi bumi.

Tepat sebelum kepekatan malam menelan seluruh pandangan mereka, pipi Luagarne berkedut halus.

Krrrk.

"Ini pasti akan sangat menyenangkan," bisik sang Katak Kecil dengan seringai tajam.

Lalu ia menambahkan deklarasi taktisnya:

"Mari kita hancurkan dan terobos masuk lewat kekuatan fisik frontal!"

Penjelasan Luagarne sangat singkat, padat, dan langsung tertuju pada sasaran.

Ia telah memahami secara presisi batas kemampuan dari setiap kawan di sampingnya.

Di momen yang genting ini, berlari mengitari dinding benteng dan bertarung setengah hati adalah manuver terburuk yang bisa diambil.

Aliran Will bukanlah sumber daya yang tak terbatas.

Meskipun Encrid memiliki cadangan Will yang tak pernah habis, bukan berarti stamina fisiknya kebal dari rasa lelah.

Maka yang perlu mereka lakukan saat ini adalah mendobrak dan menghancurkan pertahanan musuh dalam satu hentakan serangan yang menentukan!

Orang-orang di rombongan ini memiliki kekuatan otot yang jauh lebih dari cukup untuk mewujudkannya.

Pihak musuh telah melakukan kesalahan fatal dengan meremehkan kekuatan kompi ksatria ini.

Para ksatria mengatur formasi mereka, lalu membentang dalam satu garis barisan lurus menghadap tepat ke arah dinding Thornbriar Fortress.

Luagarne tidak repot-repot memusingkan taktik yang berbelit-belit.

Terkadang, jawaban yang paling sederhana adalah strategi yang paling jernih dan mematikan.

Jika mereka membuang waktu berpikir terlalu rumit di tempat ini, mereka hanya akan menyerahkan inisiatif medan tempur ke tangan musuh.

Yang mereka butuhkan saat ini adalah sebuah gebrakan di luar nalar—sebuah aksi frontal yang melompati segala kalkulasi taktis musuh.

Dan jika kau memiliki kekuatan fisik yang luar biasa dahsyat, ini adalah jenis aksi yang sanggup kau eksekusi dengan sempurna.

Inilah hal yang sangat dinantikan oleh sang Katak Kecil.

Dinding benteng kayu itu sama sekali tidak memiliki pintu gerbang masuk.

Tak terlihat adanya celah lorong jalan di mana pun.

Sebaliknya, seluruh permukaannya dipenuhi oleh paku-paku duri tajam laksana jarum pemecah es yang sanggup melubangi tubuh seukuran kepalan tinju; di mana-mana mencuat sulur-sulur duri beracun yang menyengat mata hanya dengan memandangnya.

"Biar aku yang membukanya," ujar Audin seraya melangkah maju menatap dinding benteng tanpa pintu tersebut.

Uwooooooh...

Uweeegh...

Waaarrrgh...

Mungkin karena terpengaruh oleh kidung suci yang dilantunkan Teresa tadi, ratapan jiwa-jiwa gentayangan yang menyusun dinding benteng kini terdengar sangat berbeda dari sebelumnya.

Salah satu ukiran wajah tampak memuntahkan cairan merah kental yang menggenang membentuk garis parit lebar di bawah dinding, seolah berusaha menciptakan parit beracun secara mandiri.

Ukiran lainnya memelintir wajahnya, menjulurkan lidah berduri tajam yang panjang dan liat.

Gerakan liukan lidah duri itu persis seperti cambuk yang digenggam oleh Luagarne.

Krak, krak!

Lidah-lidah duri itu menyayat udara malam, bersiap mencabik-cabik apa pun yang berani melangkah mendekat.

Ada relief wajah lain yang merentangkan lengan kayunya, dan yang lainnya membelah wajahnya menjadi dua bagian seraya menusukkan lidah bercabangnya laksana jarum pembunuh.

Kenyataannya, tak ada satu pun relief jiwa di dinding itu yang berdiam pasif.

"Apa aku perlu bernyanyi lagi, Saudaraku?" tanya Teresa bersiap.

"Simpan tenagamu, Saudari," sahut Audin seraya menggelengkan kepalanya pelan.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.