Eternally Regressing Knight

Bab 773: Berpura-pura Lemah

2761 Kata

Bab 773: Berpura-pura Lemah

Sang Corrupted Fairy memiliki kekuatan tempur setara seorang ksatria sejati, dan tempat ini adalah Demonic Domain.

Jika bangsa peri murni menyerap kekuatan dari esensi spiritual hutan, maka baginya, udara pekat Demonic Domain tak ubahnya energi spiritual yang mengalir melimpah.

Tempat ini, tanah terkutuk ini, adalah medan tempur dan lingkungan yang sangat menguntungkan baginya.

Peri korup yang sebelumnya melepaskan sambaran petir hitam itu merasa sangat yakin bahwa ia sanggup membantai beberapa musuh sekaligus seorang diri tanpa kesulitan.

Memang benar mereka baru saja meruntuhkan dinding benteng dan membunuh seorang penyihir beberapa saat lalu, namun bertarung melawan pendekar adalah urusan yang sama sekali berbeda.

Terlebih lagi, keahlian utamanya adalah duel satu lawan satu.

Sebelumnya sang peri korup sempat terkejut, namun kini ia memancarkan ketenangan tajam yang berakar dari rasa percaya dirinya yang begitu kokoh.

Ia tetap tak goyah, bahkan saat amarahnya tersulut oleh makian pedas yang dilontarkan ke arahnya.

Semua gelagat itu mengisyaratkan tingkatan kekuatannya yang luar biasa.

Siapa pun yang terbiasa mengayunkan pedang atau telah melewati asam garam pertempuran pasti sanggup membaca tanda-tanda tersebut.

"Aku akan membereskannya sendiri. Ini adalah tugasku."

Namun Shinar bersikeras kepada semua orang bahwa ia akan menghadapi peri korup itu sendirian.

Ragna sejak awal memang tidak tertarik, sementara Audin dan Teresa sangat menghormati keputusan rekan mereka.

Encrid melirik ke arah Shinar sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Penyihir Mata Biru.

*Apakah dia menyembunyikan semacam kartu truf?*

Encrid menduga kuat wanita itu pasti menyimpannya.

Melihat bagaimana kelompok musuh ini bertindak, kemungkinan itu terasa semakin nyata.

Sang Apostle pun dipastikan takkan tinggal diam berpangku tangan.

Sang Corrupted Fairy melirik sekilas ke arah peri rendahan yang berdiri di hadapannya, lalu mengamati anggota kelompok lain yang bersiaga di kejauhan.

Ada banyak lawan yang harus ia habisi.

Di barisan belakang, beberapa ksatria sedang bertarung melawan kawanan monster modifikasi, dan di antara mereka terlihat seorang beastman beruang yang mencabik-cabik Crystal Armor Golem dengan tangan kosong, meremukkan gumpalan daging menjijikkan yang menyembul keluar dari dalam zirah.

"Tuanku menyambut kedatangan kalian semua!"

Raungan sang beastman sarat akan kegilaan tempur.

Di sudut lain, seorang pria melangkah santai melintasi medan tempur, berjalan lurus menuju ke arah sang Apostle.

Dan yang lainnya—mereka semua bertarung dengan keahlian yang sangat mengagumkan.

'Menghadapi tiga orang atau lebih secara bersamaan akan terlalu merepotkan.'

Lantas apa yang harus ia lakukan?

Kumpulkan energi sihir dari kejauhan lalu tembakkan anak panah petir, menghabisi mereka satu per satu dari jarak aman.

Selain keahlian duel jarak dekat, kecepatan adalah salah satu keunggulan terbesarnya.

Dalam sekejap mata, sang Corrupted Fairy telah menetapkan urutan target yang akan ia bantai.

'Satu panah untuk orang yang mendekati sang Apostle, dua panah untuk beastman beruang, lalu cari celah untuk membunuh pria berdarah campuran pembawa perisai itu, dan habisi dua orang yang sedang melawan monster dari arah belakang.'

Sementara itu, penyihir yang tersisa akan mengulur waktu untuknya.

Itu adalah strategi kilat yang dirancang demi meraih kemenangan mutlak.

Ia cukup cerdas, dan dalam situasi ini, rencananya sangat masuk akal.

Namun, hanya karena sebuah rencana terdengar sempurna, bukan berarti segalanya akan berjalan sesuai harapan.

"Kau sedang merencanakan sesuatu."

Shinar membuka suara, menyadari bola mata sang lawan yang bergerak melirik ke sana kemari.

Meskipun baru saja dihujani makian, sang Corrupted Fairy tetap mampu membaca situasi dengan kepala dingin—hal itu membuktikan bahwa ia bukan sekadar lawan yang bodoh.

Meski begitu, Shinar merasa jengkel melihat peri korup itu bahkan tidak sudi memandangnya secara langsung.

Ia menyadari bahwa bagi lawannya, ia tak lebih dari rumput liar yang akan layu dan mati dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot dicabut.

"Oh benar juga, masih ada kerabat rendahan di sini."

Mendengar cemoohan sang Corrupted Fairy, fokus Shinar kembali terkunci padanya.

Naluri Shinar terbukti tepat.

Sang Corrupted Fairy sama sekali tidak menganggap Shinar—yang sedari tadi hanya melontarkan sumpah serapah—sebagai ancaman nyata.

Memang benar bangsa Corrupted Fairy dan kaum peri murni dulunya terpisah dari dahan pohon yang sama di masa lampau dan kini dianggap sebagai ras berbeda, namun mereka masih berbagi banyak kemiripan biologis.

Bagaimanapun juga, akar mereka tetaplah peri.

Dengan kata lain, ia tahu persis betapa mengenaskannya seorang peri murni jika terlepas dari perlindungan energi vital alam.

Ia berpikir bisa dengan mudah menyayat tenggorokan Shinar sambil lalu saat melesat menuju target berikutnya.

Mungkin merobek mulut cerewet itu hingga lebih lebar bukanlah ide yang buruk, mengingat betapa tajamnya lidah peri rendahan tersebut.

Menangkap maksud jahat di balik raut wajah lawannya, bibir Shinar melengkung membentuk senyuman tipis.

Sebuah seringai anggun nan memikat tersungging di wajahnya.

Tanpa sepatah kata pun, sang Corrupted Fairy memangkas jarak dalam sekejap dan menyabetkan pedangnya lurus ke arah Shinar.

Langkah kakinya sederhana dan gerakannya tampak lugas.

Namun kecepatan dan ketidakterdugaannya tak jauh berbeda dari apa yang ditunjukkan oleh Jaxon beberapa saat lalu.

Tak ada suara derap kaki yang menghentak tanah, tak ada desau angin dari sabetan pedangnya yang membelah udara.

Segala hal tentang serangannya, setiap lekuk gerakannya saat mengayunkan bilah pedang lurus ke arah Shinar, terasa mengalir begitu alami.

Persis seperti mustahilnya menahan hembusan angin dengan telapak tangan kosong, tampak mustahil pula untuk membendung tebasan sang Corrupted Fairy dengan cara biasa.

Saat bilah pedang itu menyambar turun, wajah sang putri peri yang diberkahi kecantikan surgawi tampak terbelah menjadi dua.

Tak ada suara benturan.

Hanya ada bayangan kabur yang perlahan memudar.

Menyatu seketika dengan lingkungan sekitar dan bergerak tanpa kasatmata adalah keahlian khas bangsa peri.

Meskipun saat ini, sang Corrupted Fairy baru saja menunjukkannya.

Kepala peri yang terbelah itu mengabur dan lenyap ke udara hampa.

Rupanya Shinar telah melompat ke samping, meninggalkan bayangan semu di posisinya semula.

Masih dengan senyum tipis di wajahnya, Shinar menggerakkan bilah Leaf Sword miliknya.

Dikenal sebagai Sword of the Four Seasons, bentuk bilah pedang itu mengalir melintasi musim semi, musim panas, dan musim gugur, sebelum akhirnya tiba di musim dingin yang membeku.

Daun muda yang menjadi simbol musim semi pada bilah pedang berubah wujud menjadi Needle—duri tajam runcing yang merepresentasikan dinginnya musim salju.

Semua transformasi ini dimungkinkan karena wujud sang pedang dibentuk langsung oleh energi vital jiwa peri.

Kini, di tangan Shinar, bilah pedang berdaun itu telah berubah bentuk sepenuhnya, menjadi sangat runcing dan ramping.

Pedang itu telah mengambil wujud Needle—sebilah pedang tusuk yang tipis memanjang.

Bilah Needle itu melesat lurus ke depan secepat kilat!

Sang Corrupted Fairy mengangkat pedangnya yang bercorak hitam belang kelabu tepat pada waktunya untuk menangkis tusukan tersebut.

*Dukh—*

Disertai suara benturan tumpul yang halus, gerakan Shinar terhenti dengan lengan terentang lurus usai melancarkan tusukan.

Sang Corrupted Fairy menahan pedangnya secara horizontal dalam posisi bertahan, menutupi sebagian mulutnya dengan bilah senjata sembari menatap tajam ke arah Shinar.

Sebuah hasrat membara berkilat di dalam kedua matanya yang hitam pekat.

Itu adalah niat membunuh yang murni—hasrat buas untuk mencabik-cabik dan merobek daging mangsanya.

Tepat saat hawa korupsi bergolak di matanya dan memancar keluar dalam pendaran hitam legam, cahaya hijau zamrud ikut berkilat di kedua mata Shinar. Tak lama kemudian, kilauan zamrud yang sama mulai terpancar dari bilah Needle yang ia genggam.

Dalam sekejap mata, aroma logam busuk yang menyesakkan di Demonic Domain terkoyak oleh keharuman segar dedaunan dan aroma semerbak rerumputan yang merebak ke udara.

"..."

Mata sang Corrupted Fairy yang mengintip di balik bilah pedang melebar sempurna.

Sekali lagi, rasa terkejut yang nyata terukir jelas di wajahnya.

Shinar, yang masih mempertahankan senyum tipis di sudut bibirnya, berbisik anggun dengan nada dingin,

"Apa kau benar-benar mengira aku datang ke tempat terkutuk ini tanpa persiapan apa pun? Namaku adalah Shinar Kiraheis. Atas nama seluruh anak-anak bunga dan pepohonan, aku akan merenggut nyawa sosok yang telah mengkhianati bangsaku di masa lalu."

Dengan kedua bilah pedang yang saling menekan rapat, Shinar menikmati aliran energi vital hutan yang bergolak melimpah di dalam senjatanya.

Sesuai dengan perkataannya barusan, ia sama sekali tidak melangkah ke medan ini dengan tangan hampa.

Alasan ia tidak menggunakannya sejak awal murni karena ia tidak sanggup melepaskan energi sebesar ini lebih dari sekali.

Ia telah membawa serta esensi jiwa hutan yang berlimpah, menyimpannya rapat-rapat di dalam bilah pedangnya.

Rengekan dan keluhannya saat bersandar di bahu Encrid sebelumnya, mengeluhkan sakit kepala akibat udara kotor Demonic Domain, ternyata bukan sekadar penderitaan fisik belaka.

'Pura-pura sakit, ya.'

Tentu saja, siapa pun yang memperhatikannya dari kejauhan—seperti Encrid—pasti akan berpikir demikian.

'Berpura-pura lemah, padahal menyembunyikan kekuatan sedahsyat itu di balik lengan bajunya?'

Shinar telah merengek dan bermanja-manja begitu rupa hingga Encrid bahkan memikirkan hal itu dua kali di dalam kepalanya.

Sosoknya tampak kurang seperti makhluk berusia ratusan tahun dan jauh lebih mirip seorang gadis kecil berumur dua belas tahun.

Namun kini, melihatnya berdiri tegak di medan laga seperti ini, sang putri peri tampak lebih dari sekadar bugar—ia tampak memancarkan vitalitas kehidupan yang meluap-luap.

Detik berikutnya, kedua bilah pedang milik dua sosok berkulit kontras itu akhirnya mulai beradu dalam harmoni pertempuran yang mematikan.

Dua kilatan warna menggoreskan garis-garis tajam di udara saat pedang mereka bertemu dan berpisah silih berganti.

*Tring!*

Bunyi dentingannya terdengar halus, namun gelombang benturan yang dihasilkan sama sekali tidak bisa dianggap remeh.

Pusaran angin mendadak berputar di antara mereka—sebuah hembusan angin aneh yang separuh berbau darah busuk dan separuh lagi menyebarkan keharuman hutan rimba menyapu sekeliling area pertempuran.

Dari pandangan sekilas, Encrid merasa Shinar tidak akan kalah dengan mudah.

Tentu saja, seseorang tak pernah bisa memastikan hasil dari sebuah pertarungan sebelum duel benar-benar usai, dan perbedaan keahlian semata tidak selalu menjamin kemenangan mutlak.

Meski begitu, Encrid menaruh rasa percaya penuh pada Shinar.

Ia menghormati ketetapan hati sang putri peri untuk menghadapi duel ini seorang diri, sebagaimana yang ia minta dengan tegas.

Percikan api yang sebelumnya berkilat di langit perlahan-lahan memudar, cahaya-cahaya yang berkedip di atas kepala mulai padam satu per satu.

Dan tepat sebelum sisa-sisa bunga api terakhir padam sepenuhnya—

"Aku akan mengunyah dan menelan kalian semua sampai tak bersisa!"

Jeritan histeris meluncur dari bibir penyihir yang tersisa.

Kematian Penyihir Mata Merah telah memicu amarah membabi buta dari Penyihir Mata Biru.

Ia mengayunkan tangannya dengan liar, mengejar jejak langkah Jaxon tanpa henti.

Ke mana pun tangannya terarah, gelombang gaya telekinesis memadat dan bilah-bilah angin tajam menyapu ganas.

Jaxon merespons ancaman itu sesuai taktik terbaik saat menghadapi pengguna sihir: ia langsung merenggangkan jarak, bergerak meliuk dalam jalur melengkung demi keluar dari garis pandang sang penyihir.

Itu berarti ia bergerak lincah ke sana kemari hingga kakinya terasa panas terbakar.

Sang penyihir tak pernah membiarkan Jaxon lepas dari jangkauan sihirnya.

Alih-alih bersusah payah melacak gerakan lincah pria itu dengan matanya, ia langsung menyebarkan sihirnya ke seluruh penjuru area.

"Kau takkan bisa berdiri tegak sendirian di tengah kawanan gagak pemangsa!"

Ini bukanlah mantra pinjaman yang meminjam kekuatan dari entitas gaib lain, melainkan sebuah sihir penciptaan murni.

Saat sihir itu merebak, Jaxon menyadari sudah tak ada gunanya lagi menyembunyikan keberadaan tubuhnya.

Situasi bisa menjadi runyam jika ia memaksakan diri, namun—

'Tak ada alasan untuk memaksakan diri di sini,' batin Jaxon tenang.

Mantra sang penyihir menyebarkan debu halus tak kasatmata di sekeliling area, meninggalkan jejak pendaran ke mana pun tubuhnya bergerak.

Sebaik apa pun ia menyamarkan hawa keberadaannya, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menangkal sihir pelacak ini—selama tubuh fisiknya masih berpijak di dunia nyata.

Maka Jaxon memutuskan untuk memusatkan seluruh fokusnya pada manuver menghindar.

Dan ia melakukannya dengan sangat lihai.

Setiap kali prajurit kerangka berzirah menghalangi jalurnya, ia langsung mempreteli beberapa ruas tulang di tempat atau menjegal dan melemparkannya ke samping, sembari terus meliuk menghindari sambaran mantra sihir.

Tepat pada saat kilatan cahaya menyilaukan meledak dari telapak tangan sang penyihir, Jaxon merasakan bahaya fatal dan menyambar sesosok prajurit kerangka untuk dijadikan perisai darurat, lalu berguling cepat ke tanah.

Cahaya yang memancar dari tangan sang penyihir menyisakan bayangan silau yang menyengat mata dan seketika membakar monster-monster malang di jalurnya hingga hangus.

*DUARRR!*

Saat serpihan tulang kerangka yang hancur oleh ledakan cahaya melesat berhamburan ke arahnya, Encrid akhirnya mulai bergerak maju.

Ia dan Jaxon memang tidak berada dalam koordinasi yang terencana sempurna, namun mereka telah menghabiskan banyak waktu bertarung berdampingan di medan perang.

Sementara Jaxon memancing seluruh perhatian sang penyihir dari depan, Encrid melangkah maju mengendap-endap, mengincar punggung sang lawan yang terbuka lebar.

Mereka melancarkan serangan jepit, mengepung sang penyihir dari arah depan dan belakang secara bersamaan.

'Formasi ini sama sekali tidak buruk,' batin Encrid.

Begitulah strateginya—Jaxon mengacaukan dari depan, sementara dirinya merangsek dari belakang.

Kombinasi ini sangat sempurna untuk memecah konsentrasi sang penyihir ke dua arah berlawanan.

Kondisi tubuhnya pun terasa sangat prima.

Ia tidak mengalami luka berarti, dan aliran Will miliknya telah pulih hampir seutuhnya.

Keadaannya memang belum bisa dibilang sempurna seratus persen, namun setelah menjalani hidup dengan hanya memakan roti keras prajurit rendahan, Encrid paham betul bahwa momen saat inilah yang selalu menjadi kondisi terbaiknya.

Bahkan ia sangat yakin bahwa seseorang memang harus mempercayai hal tersebut.

Lagipula, kecuali jika seseorang memiliki kemewahan untuk hanya bertarung setelah menyantap makanan lezat dan beristirahat cukup, langkah terbaik adalah selalu menganggap diri sedang berada dalam kondisi puncak di detik ini juga.

Pola pikir pantang menyerah semacam inilah yang sangat membantu efisiensi penggunaan aliran Will miliknya.

Fakta bahwa Knight's Oath mampu mempengaruhi aliran Will membuktikan bahwa ketetapan batin sehari-hari memegang peranan yang teramat krusial.

Meskipun lengan bawahnya masih terasa agak ngilu di bekas kepulan uap panas tadi, sensasi itu tak lebih dari sekadar tanda bahwa otot-ototnya telah dipanaskan dan siap bertempur habis-habisan.

"Beraninya kau... beraninya kalian... BERANINYA KALIAAAN!"

Penyihir Mata Biru menjerit histeris seolah telah kehilangan seluruh akal sehatnya, mengibaskan tangan dan kakinya secara membabi buta.

Lalu, seolah baru saja menekan sebuah sakelar di dalam kepalanya, ia mulai melantunkan mantra baru dengan nada suara yang teramat tenang dan dingin.

Sebuah contoh klasik dari kepribadian ganda yang mengerikan.

"Wahai Dog of Hwarin."

Memperlihatkan dualitas yang begitu kontras justru membuatnya tampak jauh lebih gila dan berbahaya.

Angin berhembus kencang dari bawah telapak kakinya, menerbangkan rambutnya dan membuat jubah longgarnya mengembang dramatis. Ia merentangkan tangannya ke depan, dan cairan hitam pekat menetes deras dari ujung-ujung jarinya, menggenang di tanah—lalu dari kubangan gelap itu, bangkitlah kawanan anjing pemburu hitam pekat.

Mereka adalah makhluk sihir yang tercipta dari gumpalan jelaga hitam.

Encrid sudah sering melihat sihir semacam ini sebelumnya.

Apakah saat ia berada di Western Region dulu?

Itu adalah mantra yang kerap digunakan oleh para penganut sekte sesat, dan sang penyihir mengendalikannya dengan sangat mahir.

Satu-satunya perbedaan dari apa yang pernah ia lihat di masa lalu adalah monster-monster yang bangkit kali ini diselimuti oleh rona merah gelap, membuat penampilan mereka tampak jauh lebih buas dan mengerikan.

Tentu saja, Encrid sama sekali tidak gentar.

Dan ia memiliki alasan yang sangat kuat untuk itu.

Satu-satunya hal yang perlu ia lakukan adalah terus melangkah maju ke depan, mengayunkan pedangnya dan membabat habis apa pun yang berani merintangi jalannya.

Monster-monster bentukan sihir itu menerjang ke arahnya sembari memamerkan taring-taring hitam yang tajam, namun Encrid menyambut mereka dengan sabetan pedang menyapu.

Lengkungan tebasan yang indah berkilat di udara saat bilah pedangnya menyayat bertubi-tubi tanpa henti.

Segala hal yang terbelah oleh tebasan Dawnforged langsung larut menjadi debu halus dan lenyap tak berbekas.

Rupanya Penyihir Mata Biru tidak sebodoh itu untuk hanya bergantung pada satu jenis sihir.

Ia dengan cepat melancarkan serangkaian mantra penghancur fisik.

Dari celah dinding benteng yang telah runtuh, sebuah batu karang raksasa melesat terangkat disertai suara gemuruh dahsyat, melayang di udara dan meluncur deras mengincar tubuh Encrid.

Masalahnya, jika dibandingkan dengan lesatan anak panah petir hitam sebelumnya, bongkahan batu besar ini melayang jauh terlalu lambat.

Encrid telah terbiasa menghindar dan menepis panah petir berkecepatan tinggi, sehingga menghindari sebongkah batu melayang bukanlah tantangan yang berarti baginya.

Encrid melangkah tenang ke samping, memperhitungkan waktunya dengan presisi sempurna untuk menempelkan telapak tangannya ke permukaan batu besar itu lalu memberikan dorongan kuat ke arah samping!

Batu karang raksasa itu—yang terlalu berat untuk ditahan oleh monster berkaki tanah—menghantam telak kawanan anjing berwajah manusia bersayap darurat, menggilas dan meremukkan enam hingga tujuh monster sekaligus saat menggelinding deras melindas mereka.

*KRAAAK!*

Menyaksikan pemandangan itu, mata sang penyihir bergerak liar ke segala arah dalam kepanikan luar biasa, namun ia tak sanggup berbuat apa-apa untuk menghentikannya.

Encrid terus merangsek maju, menebas habis setiap mantra yang menghadang; dan setiap kali celah pertahanan terbuka, sebilah belati senyap milik Jaxon akan melesat menyambar dari arah berlawanan.

Sang penyihir mengerahkan segala trik sihir yang ia miliki demi menahan laju dua ksatria yang mengepungnya dari kedua sisi, namun tak ada satu pun yang sanggup menghentikan gerak maju mereka yang tak kenal ampun.

Hingga akhirnya, ia mulai melakukan sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh mendiang rekannya, si Mata Merah.

Disertai bunyi derak tulang yang memilukan, susunan kerangka tubuhnya terpuntir hebat, mengubah wujud fisiknya secara mengerikan.

Darah hitam mendidih menyembur dari tubuhnya yang membengkak, dan enam lengan monster baru mencuat menembus kulit punggungnya.

Lengan-lengan baru itu bergerak cepat membentuk segel-segel mantra aneh secara berulang-ulang, melepaskan sihir terlarang baru ke udara.

Lebih tepatnya, itu adalah sebuah mantra pemanggilan terlarang yang menarik sebagian dari kekuatan sejati milik sesosok Demon!

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.