Bab 788: Tiga Sosok Guru
"Kau benar-benar menikmati semua kegilaan ini, kan?"
"Apakah kau sedang bersenang-senang? Di detik ini juga?"
"Kau benar-benar hidup seolah-olah tak ada hari esok bagimu."
Encrid telah berpapasan dengan begitu banyak instruktur pedang yang berbeda sepanjang hidupnya, dan sebagian besar dari mereka cenderung melontarkan kalimat-kalimat yang senada dengan itu.
Namun apa yang sanggup ia perbuat?
Kenyataannya dirinya memang benar-benar sedang menikmati proses ini dari lubuk hatinya yang terdalam.
"...Kenapa kau terus tersenyum?"
Pria yang baru-baru ini mulai diperlakukan oleh Encrid sebagai instruktur pedang pribadinya melontarkan pertanyaan itu dengan nada heran.
Pria itu telah kehilangan sepasang pedang api miliknya yang dipatahkan sebelumnya, dan kini menggenggam sepasang pedang lain yang bentuknya tampak sangat identik.
Namun kali ini sepasang bilah pedang itu memancarkan hawa dingin membekukan yang sanggup membekukan daging hanya melalui sentuhan tipis.
Saat pria itu memutar kedua pedangnya dengan sangat terampil di tangannya, hembusan uap es yang menusuk tulang merayap keluar.
'Senjata-senjata itu pasti akan terasa sangat nyaman digunakan di puncak musim panas.'
Persis seperti itulah kesan pertama dari senjata tersebut.
Bilah pedang yang berputar cepat itu memukul mundur seluruh hawa hangat di sekitarnya, mendinginkan suhu udara dalam sekejap mata.
'Apakah senjata itu tidak sekadar melepaskan hawa dingin, melainkan menyerap seluruh panas di sekitarnya?'
Demi menggunakan sebuah relik pusaka atau Spell Object secara optimal, seseorang dituntut untuk memahami mekanisme kerja senjata tersebut.
Jika kau tidak mengetahui struktur ataupun prinsip kerjanya, kau terpaksa harus mempelajarinya melalui penggunaan berulang kali hingga kau sanggup memahaminya secara utuh.
Dan itulah yang telah dilakukan oleh sang lawan di depannya.
"Spell Object pada hakikatnya adalah sebilah pedang bermata dua—kau hanya akan melukai dirimu sendiri jika menggunakannya secara serampangan."
Itulah wejangan yang kerap diucapkan oleh Jaxon.
Dan Guru Rino memperagakan penggunaan pedang bermata dua tersebut dengan keahlian yang teramat luar biasa.
Ia memiliki bakat istimewa untuk menebas lawannya tanpa pernah sekali pun melukai kulitnya sendiri.
'Pelajaran berharga apa yang sanggup kuserap dari instruktur yang satu ini?'
Seorang murid yang lamban bahkan nyaris tak sanggup mencerna apa yang diperagakan langsung oleh gurunya di depan mata.
Seorang murid yang sedikit lebih cerdas sanggup menyerap tepat satu ilmu dari setiap satu pelajaran yang diajarkan.
Namun seorang murid yang jenius sanggup menguasai lima atau bahkan sepuluh pemahaman baru hanya dari satu sesi latihan tunggal.
Dan jika menyangkut peran sebagai seorang pembelajar, tak ada satu pun makhluk di seantero Benua yang sanggup menandingi kapasitas seorang Encrid.
Di antara seluruh ras yang ada, dialah yang paling unggul di atas segalanya.
Bahkan hal-hal yang enggan diajarkan oleh lawannya—ia rampas dan ia serap semuanya hingga tuntas.
'Apakah tipu daya adalah keahlian utamanya?'
Kesan luarnya memang tampak seperti itu, namun jika menyangkut perang psikologis—mempermainkan mental lawan lewat kata-kata—tak banyak hal berharga yang bisa dipelajari darinya.
Pria itu tidak terlalu lihai dalam bidang tersebut.
Sebaliknya, beberapa manuver gerakan fisiknya yang khusus justru sangat mencuri perhatian.
'Apa yang membuat gerakannya terasa sebegitu istimewa?'
Rino merentangkan kedua lengannya lebar-lebar menyerupai seekor burung pemangsa raksasa.
Saat sepasang bilah pedang es di masing-masing tangannya terentang, gelombang uap dingin yang membekukan bergolak meluap keluar.
Pemandangannya mengingatkan Encrid pada sosok Beelrog saat sang demon mengepakkan sayap iblisnya.
Beelrog bahkan diketahui kerap menggunakan bentangan sayapnya sebagai senjata pemukul.
Dan sepasang bilah pedang ini—bahkan sekadar senggolan tipis saja sudah cukup untuk membekukan daging manusia.
'Sensasinya persis seperti saat Beelrog memadukan pedang Surtr dengan bentangan sayapnya.'
Itulah pemikiran alami yang mengalir lancar di dalam benaknya.
Kobaran api hitam Surtr adalah sesuatu yang bahkan tak boleh kau biarkan menyentuh pakaianmu.
Saat ini pergerakan Guru Rino benar-benar memanfaatkan karakteristik unik dari senjatanya secara sempurna.
Alasan mengapa gerakannya tampak menyerupai sepasang sayap adalah karena ayunan tangannya yang begitu lebar dan terbuka.
Gerakan sapuan yang teramat luas itu sekilas tampak tidak perlu, namun manuver itu secara drastis membekukan suhu udara di sekitarnya.
Bahkan lebih dari sekadar mendinginkan udara—gerakan itu menyebabkan pembekuan instan.
Sebelum dirinya sempat menyadarinya, Encrid merasakan lapisan bunga es tipis mulai terbentuk di kulit kedua lengan bawahnya.
Untuk saat ini hawa dinginnya memang masih terasa samar, namun jika tarian canggung Rino dibiarkan berlanjut, hawa beku itu akan segera mengganggu keleluasaan gerak tubuhnya.
Ia menyadari hal tersebut secara instingtif tanpa perlu berpikir panjang.
Masih ada begitu banyak hal yang sanggup ia serap dari tempat ini.
Sekali lagi terlihat sangat jelas bahwa perang psikologis bukanlah keahlian utama Guru Rino.
"Ayo, tersenyumlah terus semaumu."
Rino melontarkan ejekannya, dan Encrid tetap mempertahankan senyuman di wajahnya.
Bagaimana mungkin ia tidak tersenyum?
Jika orang bilang seorang murid cerdas sanggup menyerap sepuluh ilmu, maka Encrid—sang pria gila—benar-benar menikmati proses belajar itu dengan segenap jiwanya.
Bagi dirinya, menyerap ilmu baru terasa sama menyenangkannya dengan bertarung dan melangkah maju.
Dan kini untuk pertama kalinya ia mendapati dirinya mengembangkan kepekaan observasi yang teramat tajam.
'Penggunaan senjata yang sempurna.'
Memahami potensi penuh dari senjatamu—itu jauh melampaui sekadar menebas atau membekukan musuh.
Ini adalah tentang kemampuan memanipulasi atmosfer udara di sekitarmu demi menciptakan keunggulan taktis mutlak bagimu.
'Hal serupa pun berlaku pada sepasang pedang Blinding Twin Swords miliknya.'
Sepasang pedang kembar yang biasa ia gunakan terkenal akan bilahnya yang memancarkan hawa panas dan lidah api saat disabetkan dengan cepat.
Namun dengan takaran benturan yang tepat, jika ia mengadu kedua bilah pedangnya bersamaan, ia sanggup memicu ledakan kilatan bunga api yang menyilaukan mata.
Teknik tipu daya itu—memanfaatkan ledakan cahaya demi membutakan penglihatan musuh—adalah salah satu jurus andalan Guru Rino.
'Sangat mengagumkan, benar-benar luar biasa.'
Itulah kekaguman tulus yang bersemi di dalam hati Encrid.
Namun itu bukan berarti dirinya akan berdiam diri membiarkan musuh membekukannya.
Sebelum hawa dingin itu sempat meresap ke dalam sumsum tulangnya, ia bergerak menerjang maju.
Menjejakkan kakinya ke tanah, ia menyabetkan pedangnya, melukiskan sebilah busur sabit berwarna biru langit di udara.
Serangannya tampak sangat sederhana dan tegas, namun Rino berhasil melompat menghindar.
Menghentakkan kakinya ke samping, pria itu meluncurkan tubuhnya menjauh, meninggalkan bayangan semu di belakang lintasannya.
Encrid telah menyaksikan manuver langkah itu berkali-kali, dan itu adalah teknik gerak langkah kaki yang luar biasa.
Itu adalah manuver pergerakan lateral berkecepatan tinggi, di mana untuk sesaat Rino menyilangkan kedua kakinya demi melipatgandakan akselerasi lajunya.
Encrid telah mengamati manuver itu puluhan kali dan bahkan telah melatihnya berulang kali di atas perahu penyeberangan bersama sang Ferryman.
Kini sang murid gila sedang mengejar bayangan langkah gurunya sendiri.
Mengubah arah serangannya di tengah-tengah ayunan sabitnya, bilah pedang Encrid menyayat melintang dalam lintasan busur horizontal yang mematikan!
"...!"
Guru Rino yang tersentak kaget melebarkan matanya lalu buru-buru mengangkat kedua pedang esnya demi membendung tebasan tersebut.
Dan itu adalah sebuah kesalahan fatal.
*DUARRR!*
Dawnforged adalah sebilah pedang yang jika diperlukan sanggup menghantam dengan bobot yang jauh lebih dahsyat dibanding sebagian besar pedang raksasa.
Mata bilah biru langit itu mendobrak pertahanan sepasang Frost Blades dan menyisakan luka robek panjang menganga di sepanjang dada sang pemiliknya!
Di sepanjang luka robek itu, Black Mist mulai bergolak menyembur deras keluar.
"Kau...!"
Rino yang tak sanggup menahan daya hancur di balik tebasan itu terpental berguling ke belakang sebelum akhirnya berhenti.
Dengan kedua tangan dan lutut bertumpu di atas lantai tanah, ia mengangkat kepalanya sembari menatap tak percaya.
Rino tahu betul bahwa luka tebasan yang baru saja ia terima adalah luka yang mematikan.
Namun kenyataan itu hanya berlaku semasa dirinya masih memiliki raga manusia bernyawa di mana darah segar mengalir.
Kini wujud eksistensinya telah berbeda—sehingga dirinya masih sanggup berbicara dan bergerak untuk sementara waktu.
Bukan berarti ia sanggup membalikkan keadaan melawan pendekar di depannya, bukan pula berarti ia berniat menerjang nekat.
Meski begitu, batinnya dilanda keguncangan yang teramat dahsyat.
Teknik langkah kaki yang baru saja diperagakan oleh Encrid—itu adalah jurus orisinal yang ia ciptakan sendiri setelah bertahun-tahun berlatih!
Dan kini seseorang menjiplaknya begitu saja?
Hanya setelah melihatnya sekali?
Tidak, Encrid bahkan belum pernah melihat seluruh rangkaian gerakannya secara utuh, namun pria itu sanggup menirukan manuvernya dengan sangat sempurna.
"Kau... mencuri dan menguasai jurus langkah kakiku?!"
Siapa pun yang melihatnya akan langsung tahu bahwa Encrid memang sengaja mengamati dan menjiplaknya.
Pupil mata Rino bergetar hebat dalam rasa tidak percaya yang mutlak.
*Dia melihatnya sekali?*
*Bukan, dia bahkan tidak sempat melihatnya secara utuh—dia hanya meniru kilasan gerakan yang sempat tertangkap di depannya?!*
Itu bukan sekadar langkah kaki biasa; itu adalah sebuah teknik tingkat tinggi untuk mengendalikan aliran Will.
Bisakah seseorang menguasai hal semacam itu hanya dalam satu kali pandangan?
Dan pria ini bahkan tidak melihat seluruh rangkaiannya sebelum menirunya.
Tak peduli seberapa jauh kau memikirkannya, hal semacam itu sama sekali tidak masuk akal.
Mustahil ada sosok jenius segila ini di muka bumi.
Ini adalah sebuah kemustahilan di atas kemustahilan.
Dari sudut pandang Rino, peristiwa ini terasa sangat tidak masuk akal—namun kenyataannya terpampang nyata di depan matanya.
Sementara itu, di dalam momen-momen yang sama sekali tidak diketahui oleh Rino, Encrid telah memutar ulang gerakan itu ribuan kali di dalam kepalanya dan melatihnya tanpa kenal lelah di atas perahu sang Ferryman, sembari menerima rentetan omelan pedas dari sang pengemudi perahu.
"Kau mau tercebur ke sungai lagi, hah? Berlatih pedang di tempat sempit seperti ini... Aku belum pernah melihat orang segila dirimu."
Kalimat omelan semacam itulah yang masuk ke telinga kiri Encrid, dan ia tetap melatih teknik itu ratusan kali tanpa mempedulikannya.
"Bagaimanapun juga ini benar-benar sangat tidak adil."
Bahkan saat kedua matanya mulai kehilangan pendaran cahayanya, sang guru bergumam pahit.
Encrid menganggukkan kepalanya pelan, secara hening menyepakati keluhan tersebut.
"...Dasar bajingan keparat yang menyebalkan."
Rino mendefinisikan sosok Encrid dengan umpatan kuno lalu memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Entah kapan ia mencabutnya, sebilah belati pendek kini telah tergenggam di tangannya.
Masih dalam posisi berlutut, ia menghujamkan belati itu lurus menembus lehernya sendiri.
Sosok sang guru melarut menjadi kepulan Black Mist lalu lenyap tak berbekas.
Dengan kata lain, sesi pelajaran pertama untuk hari ini telah usai.
'Keahlian terbesarnya bukanlah tipu daya—melainkan adaptasi mutlak.'
Sebuah pepatah kuno dari masa lalunya menyeruak kembali di dalam benaknya.
"Seberapa hebat dirimu sebagai seorang petarung ditentukan murni oleh bagaimana caramu memperlakukan senjatamu."
Seorang komandan tentara bayaran yang dulu pernah ia jadikan panutan pernah menasihatinya bahwa bagi seorang tentara bayaran, senjata adalah nyawanya sendiri.
'Jadi seperti inilah makna sejati dari mengendalikan sebuah senjata.'
*Dengunggg—*
Saat pemahaman itu memadat di dalam benaknya, bilah Dawnforged berdengung nyaring.
*Frap—*
Jubah pusaka sang peri berkibar meliuk ditiup angin tak kasatmata, meski udara di dalam gua terasa begitu hening dan berat.
Namun jubah itu tetap berkibar anggun.
'Apakah aku selama ini pernah benar-benar memaksimalkan persenjataanku dengan benar?'
Selain pedang ini, ia memiliki beberapa bilah Horn Trumpet Dagger, relik pusaka Penna, serta sepasang sarung tangan pelindung yang terbebat kain.
Ia mengenakan zirah pelindung yang ditempa dari bilah daun peri di balik pakaiannya, dan Esther bahkan telah menghembuskan berkah sucinya ke dalam zirah tersebut.
Menata kembali seluruh isi pikirannya, Encrid melangkahkan kakinya menuju sesi pelajaran kedua.
"Namaku adalah Donafa!"
Ini adalah sosok guru yang sangat mudah terpancing emosinya dan gemar menentukan hasil akhir duel murni lewat satu tebasan tunggal.
Pertarungan dengannya tak pernah berlangsung lama.
Donafa hanya membawa sebilah kapak raksasa, zirah baja tebal yang membungkus tubuhnya, serta tunggangan Ghost Steed miliknya—tanpa senjata pelengkap lainnya.
'Watak kepribadian yang teramat ekstrem.'
Pria itu tak pernah memikirkan hal lain apa pun selain satu ayunan tebasan kapaknya.
Itulah alasan mengapa daya tebas kapak milik Donafa jauh melampaui tingkatan keahlian beladirinya secara keseluruhan.
Pemandangannya mengingatkan Encrid pada bagaimana cara Roman mengayunkan pedangnya semasa masih berstatus sebagai seorang Junior Knight.
Pada masa itu, hanya sekali saja, Roman sanggup menyabetkan pedangnya persis layaknya seorang Knight sejati, jauh di atas kapasitas normalnya.
Alasan mengapa sosok Roman melintas di benaknya saat ini sangat sederhana: Donafa memiliki pendekatan tempur yang sangat identik dengannya.
Jika Guru Rino mengajarkan seni mendalam dalam mendominasi karakteristik senjata, maka apa yang sanggup ia serap dari guru keduanya, Donafa, jauh lebih lugas dan sederhana.
'Pola pikir yang sederhana.'
Ia menggunakan kesederhanaan sebagai senjatanya, menggantikan segala bentuk kerumitan taktik.
Kesederhanaan itu melompat melampaui sekadar fokus biasa—ia menjelma menjadi sebuah agresi murni yang teramat buas.
Sensasinya persis seperti seekor kuda pacu yang mengenakan kacamata kuda, hanya sanggup memandang dan menerjang lurus ke arah depan.
Kacamata kuda adalah alat yang menutup pandangan mata kuda ke arah samping, memaksa mereka hanya memusatkan perhatian ke satu arah di depan.
Dengan memutus seluruh distraksi di sekitarnya, sang kuda sanggup tiba di tujuannya dengan jauh lebih cepat dan efisien.
'Kepekaan indra Donafa kemungkinan besar telah tumpul.'
Ia adalah kebalikan mutlak dari sosok Jaxon.
Maka saat ia mengayunkan kapaknya, ia bahkan kerap melemparkan kepalanya sendiri ke dalam ayunan tersebut.
Pola pikir yang kompleks dan bercabang memang sangat membantu dalam kalkulasi taktis, namun dalam proses pemusatan fokus murni, kerumitan itu hanya bertindak sebagai noda kontaminasi.
Donafa menolak mentah-mentah seluruh noda keraguan tersebut.
Encrid mungkin belum memahami seluruh aturan di dalam Labyrinth ini, namun ia paham betul bahwa sosok-sosok ini dulunya adalah para ksatria terhormat semasa hidupnya.
Donafa sang Dullahan dipastikan memegang teguh filosofi hidup semacam ini bahkan semasa dirinya masih hidup dan bernapas mengalirkan darah merah.
Pemandangannya seolah-olah seluruh eksistensi keberadaannya dibangun murni hanya demi satu ayunan kapaknya.
Namun Encrid tak merasa perlu untuk menyerap seluruh watak ekstrem tersebut.
'Hal itu hanya akan menjadi sebuah kemunduran.'
Encrid bukan sekadar mencuri dan mempelajari ilmu dari para gurunya, melainkan juga membedah bagaimana cara mencerna pelajaran itu dengan caranya sendiri.
Selalu dahaga akan pengetahuan, sikap dan pola pikirnya terhadap proses belajar, serta kepekaan persepsinya telah berkembang secara dramatis dibanding masa lalunya.
Itu adalah sebuah kemajuan yang sebegitu luar biasanya hingga seseorang sanggup menyebutnya sebagai sebuah evolusi diri.
'Hal terpenting adalah menyederhanakan pikiranku hanya pada saat momen krusial membutuhkannya.'
Sikap santai dan malas yang biasa diperlihatkan Ragna mendadak melintas di dalam benaknya.
Meskipun pria itu sangat buruk dalam menjelaskan sesuatu lewat kata-kata, ia tetaplah seorang guru yang luar biasa.
Ada begitu banyak pelajaran berharga yang sanggup diserap murni dari mengamati gerak-gerik kesehariannya.
'Sikap santai itu pada hakikatnya adalah proses mengosongkan pikirannya, dan saat ia mengangkat pedangnya, yang berubah adalah bagaimana caranya mengalihkan fokus pikirannya demi menuntun aliran Will miliknya.'
Cukuplah bagiku untuk mengadopsi kesederhanaan semacam itu murni dengan menggeser pola pikirku.
Selama aku sanggup memusatkan fokus mutlak pada saat momen krusial tiba, itu sudah lebih dari cukup.
'Yang kubutuhkan hanyalah satu titik pemusatan fokus yang intens.'
Lebih tepatnya, menenggelamkan diriku jauh lebih dalam ke dalam satu titik fokus tersebut.
Bagaimana caranya?
Dengan memangkas habis setiap cabang pemikiran liar dan mencampakkan seluruh noda keraguan.
Ia menyerap hal itu murni dari tebasan tunggal milik Donafa.
Persis seperti warna biru dari tanaman nila yang lebih pekat dibanding tanaman nila itu sendiri.
Bagaikan percikan api kecil dari api unggun yang merambat dan berkobar menjadi badai api raksasa.
"Hah?"
Ayunan kapak Donafa membelah angin kosong.
Hal itu terjadi tepat usai Encrid menutup seluruh cabang pemikirannya dan memusatkan seluruh kesadarannya murni untuk meloloskan diri.
Bilah pedang Encrid menyapu bersih melintasi pinggang Donafa.
Di permukaan, aksinya tampak sangat sederhana—sesosok Dullahan di atas tunggangan Ghost Steed miliknya melemparkan kepalanya ke belakang lalu menerjang maju, dan lawannya, sang pendekar pedang Encrid, melesat maju dengan kecepatan penuh.
Keduanya saling berpapasan, melintasi jalur satu sama lain dalam satu kilatan gerakan cepat, dan segalanya tampak berakhir begitu saja.
Pada detik benturan itu, kapak Donafa membelah kehampaan udara, sementara bilah Dawnforged milik Encrid memotong bersih pinggang sang ksatria hantu.
*Sreeek.*
Saat dibutuhkan, bilah Dawnforged sanggup menjelma menjadi setajam relik pusaka Penna.
Encrid telah melancarkan tebasan horizontal memanfaatkan ketajaman mutlak tersebut.
"Aku... kalah."
Tubuh bagian atas Donafa meluncur jatuh dari pinggangnya lalu berdebuk keras menghantam lantai tanah.
Suara kata-katanya terdengar dari titik yang terpisah cukup jauh dari tubuhnya yang tumbang.
Persis seperti biasanya, kata-kata itu meluncur dari kepala yang tergeletak di tanah.
Ia menerima kekalahannya dengan lapang dada saat ditundukkan secara telak dalam adu ilmu pedang frontal.
Ia sanggup mengubah fokusnya secepat kesederhanaan jalan pikirannya.
Encrid melangkah maju menuju guru ketiganya.
Seluruh pencapaian ini tentu saja berkat akumulasi waktu yang ia curahkan demi mengasah keahliannya.
Itu pun merupakan buah manis dari kerja kerasnya mengayunkan pedang di atas perahu penyeberangan sang Ferryman.
"Kau berniat mengajakku bertarung, hah?"
Sang Ferryman sempat melontarkan pertanyaan sinis itu saat menyaksikan Encrid berlatih pedang di atas perahunya.
Tentu saja entitas itu tidak bersungguh-sungguh; itu hanyalah sarkasme khas miliknya.
Sang pendekar wanita berpedang tunggal menyipitkan matanya tepat di detik pertama melihat kemunculan Encrid.
Sangat jelas terlihat bahwa pria di depannya ini bukanlah lawan sembarangan.
Hawa keberadaan agung yang memancar lembut dari sekujur raganya sebegitu padatnya hingga tampak menyerupai sebuah Dinding Benteng Raksasa.
"Rupanya kau berhasil melewati Donafa."
Keahlian terhebat sang pendekar wanita berpedang tunggal terletak pada daya hancur eksplosif yang ia lepaskan saat berada dalam posisi ofensif.
Menganalisa daya ledak serangannya menyingkap rahasia kemampuan sejatinya: kapasitas tarikan napas yang luar biasa panjang.
Pernapasan panjang itulah yang menjadi sumber kekuatan terbesarnya.
Namun teknik serangannya hanya bersinar terang saat ia melancarkan gempuran ofensif.
Tepat saat ia terpaksa beralih ke posisi bertahan, ritme geraknya seketika tersendat, pernapasannya terputus-putus, dan jurang pembeda antara pergerakannya saat menyerang dan bertahan menjadi teramat mencolok.
Sebuah cacat kelemahan yang fatal.
Semangat juangnya membara saat menyerang, namun saat bertahan, hatinya sama sekali tidak berada di sana.
Bahkan saat berbicara, rongga hidungnya memperagakan teknik pernapasan yang teramat khas—tarikan napas panjang dan halus yang ditarik dalam-dalam.
Mengamati, mempelajari, dan menguasai teknik tersebut terasa sangat memikat bagi Encrid.
Di setiap potongan waktu luangnya, bahkan di atas perahu sang Ferryman, Encrid akan menstabilkan ritme pernapasannya seolah sedang melakoni latihan di dalam Imaginary Realm miliknya.
Bukan karena dirinya tidak sabaran—melainkan karena ia benar-benar menikmati proses belajar dan menyerap ilmu dari sosok-sosok ksatria ini.
"Kenapa kau malah sibuk latihan pernapasan di tempat seperti ini?!"
Tentu saja sang Ferryman terus mengomelinya tanpa henti.
Jika ia membiarkan sang pendekar wanita mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu, wanita itu akan segera melancarkan badai gempuran tanpa ampun.
Encrid akan mengamati dan mencuri teknik pernapasannya di sepanjang badai serangan tersebut.
Lalu ketika momen tiba di mana ritme napas wanita itu tersendat, Encrid akan beralih dari posisi bertahan menuju ofensif lalu melancarkan tebasan balasannya.
Namun ia tidak sekadar menyerang—ia melakukannya sembari memperagakan teknik pernapasan milik wanita itu sendiri!
"K-kau... bagaimana bisa...?!"
Jika mengesampingkan sosok Donafa, kedua pendekar lainnya memiliki ketajaman persepsi yang cukup cepat.
Setiap kali hal itu terjadi, mereka selalu menyadari apa yang baru saja dilakukan Encrid dan dilanda keterkejutan yang luar biasa.
"Persis seperti itulah caraku melakukannya."
Saat Encrid memberikan jawaban ambigu tersebut, sorot mata sang pendekar wanita perlahan-lahan meredup hampa.
Bagi orang biasa, adalah hal yang lumrah untuk bertemu dengan seseorang yang jauh lebih berbakat dibanding diri mereka; namun bagi mereka yang dijuluki sebagai sosok jenius, sangat jarang mereka berpapasan dengan seseorang yang sanggup melampaui bakat alami mereka sendiri.
Itulah alasan mengapa momen semacam ini sanggup meruntuhkan ketetapan mental seseorang hingga ke intinya.
Terlebih lagi kondisi mental sang pendekar wanita saat ini jauh dari kata utuh.
Bagaimana mungkin jiwa yang menghabiskan waktu berabad-abad mengembara di dalam labirin Beelrog sanggup memiliki kewarasan yang utuh?
Usai menumbangkan sang pendekar wanita berpedang tunggal, Encrid melangkah menemui Oara, bertukar sapaan dengannya, lalu berdiri berhadapan langsung melawan Beelrog.
Kini adalah hari yang ke-154.
Sepanjang seluruh siklus waktu itu, ia belum pernah sekali pun berhasil menghancurkan ketiga butir kristal inti di dada Beelrog secara bersamaan.
Ia mungkin sanggup membelah satu kristal, namun tak pernah sanggup menghancurkan ketiganya sekaligus—sehingga serangannya terasa sia-sia.
Dan demi menghancurkan bahkan satu butir kristal saja, ia dituntut untuk mengorbankan nyawanya sendiri.
Pertarungan semacam itu tak ada bedanya dengan tindakan bunuh diri konyol, dan itu bukanlah jalur takdir yang akan dipilih oleh seorang Encrid.
Meski begitu, ia terus bergulat dan bertarung tiada henti.
Namun Beelrog tetap berdiri kokoh di hadapannya, menjulang laksana dinding tebal yang mustahil untuk ditembus tak peduli trik apa pun yang dicoba oleh Encrid.
Dan tepat sebelum menyambut 'hari ini' yang berikutnya—hari yang ke-155—sang Ferryman, yang tampaknya sudah tak sanggup lagi menahan rasa muak melihat kegilaan Encrid, akhirnya memberitahukan kepadanya rahasia bagaimana cara meloloskan diri dari hari pengulangan ini.
"Dengarkan aku baik-baik."
Nada suara sang Ferryman terdengar seolah-olah sedang berujar pasrah, "Baiklah, kau yang menang, dasar bajingan gila."











