Bab 808: Inspeksi
Normalnya, seorang ksatria sejati sangat jarang bertindak sebagai pengawal pribadi seseorang.
Waktu luang mereka yang terbuang sia-sia pada hakikatnya adalah sebuah kerugian besar bagi kekuatan pertahanan suatu negara.
Secara umum, jauh lebih bermanfaat bagi para ksatria untuk menjaga perbatasan wilayah atau menangani berbagai macam bahaya maut yang bertebaran di seantero Benua.
Hal ini juga merupakan alasan kenapa ordo Red Cloak Knights tidak bisa meninggalkan perbatasan wilayah selatan dengan mudah.
Yah, bukan berarti tidak ada ksatria yang menjalani hidup sesuka hati mereka, namun sejak awal jumlah ksatria di seluruh penjuru Benua memang tidak bisa dibilang banyak.
Oleh karena itu, sang kapten Pengawal Kerajaan sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan terjadinya situasi semacam ini.
Akibatnya, dia tidak sanggup membantah sepatah kata pun.
Meski demikian, sang kapten tetap berusaha melawan hingga detik-detik terakhir.
"Sebuah tembok benteng pertahanan tidak akan pernah bisa dibangun hanya dengan satu tangan."
Krang menepis keberatan itu dengan santai.
"Benar. Tapi situasinya sekarang berbeda. Sekarang, urusannya selesai begitu aku berhasil dilindungi."
"Seorang manusia hanya memiliki sepasang mata."
Encrid merasa apa yang dikatakan sang kapten Pengawal Kerajaan ada benarnya.
Terlepas dari kemampuan merasakan bahaya yang mendekat, mencegah terjadinya bahaya tersebut sejak awal menuntut pengerahan usaha yang sama sekali tidak kecil.
Hal itu bukanlah sesuatu yang sanggup dikerjakan oleh seorang individu tunggal, bahkan oleh seorang ksatria sekalipun.
Sejak awal sudah menjadi hal yang lumrah bahwa seorang pengawal jarak dekat tidak boleh bergerak menjauh melebihi radius tertentu dari sosok yang tengah ia lindungi.
Encrid memiliki pengalaman yang cukup banyak bekerja sebagai seorang pengawal bayaran.
Itulah alasan kenapa dia sangat memahaminya.
"Apakah itu artinya ada sebuah serangan yang sanggup lolos dari kepekaan wawasan seorang ksatria yang bisa terjadi di dalam ibu kota ini?"
Krang mendadak bertanya membalikkan keadaan.
Mendengar nada suaranya yang begitu percaya diri, sang kapten Pengawal Kerajaan tetap memberikan jawabannya, bahkan sembari menyadari bahwa dirinya tengah terseret masuk ke dalam perangkap argumen sang raja.
"Tugas hamba adalah mengantisipasi kemungkinan buruk satu banding sepuluh ribu."
"Kalau begitu aku harus mengatakan hal ini. Adalah tugasku untuk memerintah negeri ini sebaik mungkin agar kemungkinan satu banding sepuluh ribu itu tidak akan pernah terjadi."
Sang raja telah menuntaskan seluruh masalah keamanan publik di sekitar ibu kota dan telah mencurahkan kerja keras yang luar biasa besar untuk hal tersebut.
Apakah sang kapten bermaksud menyatakan bahwa terlepas dari seluruh kerja keras yang telah ia lakukan, bahaya maut masih tetap mengintai?
Hal itu memang sangat memungkinkan.
Sehebat apa pun tindakan yang diambil seseorang, tidak semua bahaya di dunia ini bisa dilenyapkan seutuhnya.
Karena di dalam setiap karya dan usaha manusia, selalu ada penyelesaian, namun tidak akan pernah ada kesempurnaan mutlak.
Begitulah hukum alam semesta berjalan.
Terlebih lagi, dengan dibukanya jalur perdagangan melintasi Naurillia baru-baru ini, bukankah jalanan ibu kota kini disesaki oleh lalu-lalang berbagai macam ras, mulai dari raksasa, peri, kurcaci, hingga manusia katak dan manusia binatang?
Di atas semua itu, para pendatang dari wilayah Barat dan Selatan, serta sesekali pejabat terhormat dari pihak Kekaisaran turut berlalu-lalang masuk.
'Itu terlalu dipaksakan.'
'Alasannya terlalu dipaksakan.'
'Sangat dipaksakan.'
Mulai dari Encrid, Marcus, Matthew, hingga sang kapten Pengawal Kerajaan, mereka semua tahu betul bahwa sang raja tengah memelintir logika kenyataan.
Namun saat berbicara, sosok Krang tampak seolah memancarkan binar cahaya keagungan.
Secara kebetulan punggungnya tengah menghadap ke arah timur, sehingga matahari yang terbit melukiskan bayangan panjang dari punggung menuju ke depan tubuhnya.
Itu adalah sebuah pembawaan diri yang membuat bayangan gelap itu pun tampak sarat akan keyakinan mutlak.
Krang terus berbicara dengan nada suara yang mantap.
"Jadi, singkirkan kekhawatiranmu. Lagipula, andai aku mati sekalipun, kerajaan ini tidak akan runtuh. Naurillia hari ini bukanlah sebuah negara yang lemah."
Sang kapten, meski sudah setengah pasrah, melontarkan satu kalimat terakhirnya.
"Tugas hamba adalah melindungi Yang Mulia."
"Aku juga tahu hal itu."
Krang yang tersenyum sembari berucap tampak seolah tengah meminta sebuah kompromi.
Bersamaan dengan kalimat itu, sang raja membubarkan sang kapten Pengawal Kerajaan, dan dengan demikian Encrid sanggup melangkah meninggalkan benteng dalam bersama Krang.
Keduanya berjalan keluar menyusuri jalanan dengan langkah kaki santai tanpa sepatah kata pun.
Encrid yang melangkah dengan derap kaki yang mantap mengungkit kembali apa yang baru saja terjadi.
"Alasanmu tadi terlalu dipaksakan."
Krang seketika menganggukkan kepalanya setuju.
Dia sama sekali tidak berniat membantahnya, dan juga tidak terlihat malu sedikit pun.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau melakukannya?"
"Hmm, aku sebenarnya harus menjelaskan semuanya sekarang, tapi aku merasa kau pasti bakal paham bahkan tanpa kujelaskan, jadi aku tidak akan menjelaskannya."
Pria ini rupanya telah mengembangkan bakat untuk membujuk orang lain menggunakan argumen bersilat lidah selagi mereka tidak saling bertemu.
Encrid menganggukkan kepalanya mengisyaratkan agar sang raja terus berbicara.
Krang menambahkan kata-katanya.
"Jika diperlukan, seorang raja pun harus berani mengambil risiko. Dan apa yang ingin kulakukan hari ini adalah sebuah inspeksi penyamaran."
Sebuah inspeksi penyamaran bermakna menyembunyikan identitas asli sang raja lalu mengamati wajah-wajah rakyat yang hidup bernapas di ibu kota secara langsung.
Jika dia bergerak dengan rombongan pengawal dalam jumlah besar, keberadaannya akan terlalu mencolok perhatian, dan esensi dari mengamati secara diam-diam akan lenyap seketika.
Namun apakah hal semacam itu memang benar-benar diperlukan?
Tepat di titik waktu saat ini?
Tidak.
Namun di sisi lain, iya.
Ditinjau dari sudut pandang umum, ini memang sebuah inspeksi mendadak yang tiba-tiba, namun Encrid tahu betul bahwa Krang tidak akan pernah melakukan sesuatu yang sia-sia tanpa makna.
Meskipun akan sangat sulit untuk menebak alasannya jika pria itu enggan menjelaskannya secara gamblang.
Namun Encrid merasakan dengan instingnya dan mengetahui melalui intuisinya bahwa ada sesuatu yang tengah diincar oleh Krang.
"Tubuhmu masih dalam masa pemulihan?"
Tanya Krang.
"Kedua lenganku masih butuh istirahat."
"Kau bilang butuh istirahat, tapi kau malah menghajar Aishia dan para prajurit istana sampai babak belur seperti itu?"
"Itu tadi adalah latihan rehabilitasi."
Encrid mengucapkannya dengan nada serius, namun Krang menganggapnya sebagai sebuah lelucon dan tertawa renyah.
Sang raja menyebut agenda ini sebagai sebuah inspeksi penyamaran, namun yang ia lakukan hanyalah menarik tudung bertopi runcing sedikit miring ke bawah.
Dia sama sekali tidak memperlihatkan usaha nyata untuk menyembunyikan wajah aslinya.
"Kau tidak perlu menutupi wajahmu?"
"Menurutmu ada berapa banyak rakyat di ibu kota ini yang sanggup mengenali wajah rajanya sendiri? Kau bisa menghitungnya dengan jari di satu tangan."
Di mata Encrid, Krang justru terlihat seolah tengah berharap ada seseorang yang berhasil mengenalinya.
Dan Encrid pun merasakan seolah Krang merasa puas dengan fakta bahwa kondisi fisiknya saat ini belum pulih sempurna akibat cedera luka.
'Apa sebenarnya yang kau inginkan?'
Jika dia memikirkannya dengan saksama, dia merasa bisa menemukan jawabannya.
'Dia menyebutnya inspeksi penyamaran, namun dia memperlihatkan wajahnya dan tidak menyembunyikan identitasnya.'
'Dia memperhatikan tingkat keparahan cederaku lalu mengangguk puas.'
'Dia sengaja menyingkirkan barisan pasukan pengawalnya.'
Dan sang raja pun sempat menyatakan bahwa ada arus bawah yang mencurigakan tengah berhembus di dalam ibu kota.
Apakah pria ini sengaja menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan hidup demi memancing keluar musuh dari tempat persembunyian mereka?
Apakah siasat semacam itu memang akan berhasil?
Apakah secara politis akan menguntungkan jika rakyat mengetahui bahwa sang raja telah diserang oleh komplotan pembunuh?
'Rasanya hal itu justru sebuah kerugian besar.'
Stabilitas yang berhasil diraih dari menjamin keamanan kota serta memusnahkan monster, binatang buas, dan kelompok bandit di sekitarnya.
Semua itu adalah fondasi utama dari kemakmuran pesat Naurillia saat ini.
Apakah ada kebutuhan mendesak untuk mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa ada sebilah belati yang tengah membidik leher sang raja di tengah kemakmuran ini?
Bahkan andai kebutuhan itu memang ada, apakah perlu dibeberkan secara terang-terangan seperti ini?
Dan bahkan bukan dalam bentuk rumor yang samar?
"Lihat itu."
Krang berujar di tengah-tengah alur pemikiran Encrid.
Encrid mengesampingkan spekulasinya ke satu sisi lalu mengalihkan pandangan matanya.
Di hadapan mereka terbentang sebuah jalanan raya yang dilapisi oleh batu-batu putih rapi, yang saat ini masih sepi dari hiruk-pikuk manusia.
Susunan batu-batu itu membentuk sebuah jalur yang tertata teratur.
"Ini adalah salah satu dari empat jalan raya utama yang membelah ibu kota. Ini adalah White Road yang mengarah lurus menuju ke benteng dalam."
Selagi mereka melangkah di atasnya, butiran pasir putih halus mengeluarkan bunyi gemerisik pelan di bawah sol sepatu mereka.
Krang kembali berbicara.
"Jalan ini dibangun dengan memahat dan meratakan bongkahan batu putih."
Di atas jalanan berbatu halus itu, jalur untuk kereta kuda dan jalur bagi para pejalan kaki tampak dipisahkan dengan sangat rapi.
Itu adalah salah satu proyek tata kota yang tengah digencarkan oleh Naurillia.
Mereka memisahkan jalan yang dilalui para pejalan kaki dari jalur kereta kuda, dan kereta-kereta angkutan umum yang beroperasi pada jam-jam tertentu akan mengangkut para penumpang.
Dengan sistem ini, jalan raya ini akan membantu orang-orang agar tidak tersesat di dalam tata kota yang begitu rumit dan padat.
'Mirip seperti yang ada di Border Guard.'
Krais dulunya juga merancang dan tengah menjalankan proyek serupa di wilayah perbatasan.
"Dan kau lihat bangunan di sebelah sana itu?"
Encrid mengikuti arah telunjuk Krang dan melayangkan pandangannya.
Di arah tersebut, dia melihat sebuah bangunan gudang penyimpanan besar dengan atap kubah yang melengkung bulat.
Hal yang membedakannya dari gudang biasa adalah bahwa lapisan luar yang menyelimuti dindingnya tampak terbuat dari material logam.
Bangunan itu, memantulkan teriknya sinar matahari, berkilauan memancarkan rona cahaya perak yang megah.
Gelombang cahaya keperakan seakan beriak lembut di sepanjang dinding bangunan tersebut.
"Orang-orang bilang True Silver dengan kualitas rendah tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Kami melapisi seluruh bagian luar gudang itu menggunakannya, lalu memasang sebuah benda sihir di dalamnya yang menyemburkan udara dingin beku."
Menjaga suhu dingin tetap stabil murni mengandalkan benda sihir biasanya menuntut biaya keping Krona yang sangat besar.
Struktur ini adalah sebuah perangkat inovatif demi membuatnya bertahan dalam jangka waktu yang semi-permanen.
True Silver yang membalut bagian luar adalah sejenis logam sihir, dan berlandaskan sifat logam tersebut, para penyihir merancang formula sihir agar sirkulasi udara dingin terus berputar stabil di dalam ruangan tanpa henti.
Tentu saja, Encrid tidak memahami detail teknisnya secara mendalam.
Seseorang seperti Esther pasti akan memandangi bangunan ini lalu memujinya sebagai sebuah perangkat teknologi yang sangat menarik.
"Negara yang mendanai pembangunannya dan kami menyewakannya kepada berbagai kongsi dagang besar. Kami berhasil meraup keuntungan keping Krona yang cukup menyenangkan dari sana."
Nada bicaranya sama sekali tidak terdengar sombong.
Dia hanya menceritakannya sambil lalu selagi mereka tengah berjalan-jalan santai menyusuri kota.
Bukan, sang raja saat ini tampak sangat antusias.
Bukankah dia hanya tengah memamerkan pencapaian kerja kerasnya kepada sahabat karibnya sendiri?
Krang memang seorang raja agung, namun dia pun adalah seorang pemandu wisata yang sangat menyenangkan.
Selain bangunan itu, ada pula sebuah jalan pasar tempat para saudagar berkumpul di mana kereta kuda dilarang keras melintas, serta Outer Road yang dirancang khusus bagi orang-orang yang tengah terburu-buru.
Setelah berkeliling, keduanya berjalan berdampingan sembari mengunyah apel manis yang dilapisi lelehan gula kental.
Dalam sekejap mata, pancaindra Encrid mendadak terasah menjadi luar biasa tajam, dan bersamaan dengan kepekaan itu, dia merasakan pergerakan di sekelilingnya melambat drastis.
Kenapa?
Pancaindranya memusat menyatu, memantik indra keenamnya untuk bangkit.
Bahkan tanpa mengetahui alasannya secara pasti, dia langsung mengendus adanya bahaya maut yang mendekat.
Dengan sepotong apel masih berada di dalam mulutnya, Encrid mengulurkan tangannya ke udara, membuka lalu mencengkeram tinjunya secepat kilat.
Itu adalah sebuah gerakan yang teramat sederhana, namun manuver itu melesat begitu cepat hingga mata manusia biasa mustahil sanggup menangkapnya dengan jelas.
Sesuatu tertangkap telak di dalam cengkeraman tangannya.
Tuk! Trrrk.
Batang anak panah yang terjepit di tangannya bergetar hebat.
Itu bukanlah anak panah yang ditembakkan dengan kekuatan busur biasa.
Dan itu bukan hanya satu batang.
Tiga batang anak panah lainnya melesat menerjang secara beruntun dalam jeda sepersekian detik.
Kedua tangan Encrid melesat menyambar di udara bagaikan tengah merenggut kehampaan.
Tuk, tuk, tuk.
Trrrrk.
Empat batang anak panah berhasil ditangkap sempurna.
Meskipun tubuhnya masih dalam masa pemulihan cedera, raganya telah melewati sesi latihan tanding pemanasan tadi.
Serangan di tingkatan ini tak ada apa-apanya baginya.
Sorot mata Encrid menyapu luas, berpusat mengunci deretan bangunan di sekitarnya.
'Para pembunuh bayaran yang sangat terlatih.'
Jika mereka bukan petarung kawakan, mereka tidak akan langsung berpindah posisi secepat kilat tepat setelah melepaskan tembakan anak panah.
Atap-atap gedung tinggi, celah jendela kamar, lorong-lorong sempit di area pasar.
Tikus-tikus got itu tengah bersembunyi di balik bayang-bayang kegelapan, memancarkan niat membunuh yang pekat tertuju lurus ke arah mereka berdua.
Jumlah pembunuh bayaran itu ada beberapa orang.
Encrid menggeser tubuhnya menutupi bagian depan Krang.
Dia sanggup menangkis hujan anak panah semacam ini semalaman suntuk.
Bukan, dia bahkan sanggup menangkap semuanya dengan tangan kosong.
"...Kau berhasil menangkap semuanya."
Krang berujar dari balik punggungnya.
Itu adalah nada suara yang terkejut, namun jenis keterkejutannya terasa agak aneh.
Rasanya seolah sang raja bukan terkejut oleh kehebatan ksatria di hadapannya, melainkan karena situasi yang terjadi tidak berjalan persis seperti yang ia rencanakan.
"Jumlah mereka lumayan banyak."
Nada suara Encrid terdengar sangat tenang.
Situasinya akan tetap sama persis, entah yang melesat menerjangnya adalah hujan anak panah ataupun lemparan lembing beracun.
Serangan di tingkatan ini bahkan sanggup ditahan oleh seorang Junior Knight kawakan.
Tentu saja, bukan dengan cara menangkapnya di udara seperti yang baru saja ia lakukan, seolah merenggut pergelangan tangan bayi yang baru lahir.
Hanya dengan demonstrasi ini saja, Encrid seharusnya sudah sanggup meremukkan semangat bertarung para pembunuh bayaran tersebut, namun pihak lawan rupanya tidak mengenal kata menyerah.
Dua batang anak panah lainnya kembali melesat menerjang ke arah mereka.
Namun demikian, kali ini jenis anak panah yang dilepaskan sangatlah berbeda.
Proses berpikir Encrid terakselerasi cepat saat membaca dua garis lintasan serangan di udara.
'Yang satu memancarkan aroma sengak yang menyengat.'
Dan yang satunya lagi memancarkan bau tajam yang pedas menusuk hidung.
Itu adalah anak panah khusus yang telah disuntikkan formula sihir.
Lalu bagaimana cara menanganinya?
Jika dia menebasnya di udara, anak panah itu akan meledak seketika dan dampak ledakannya pasti akan menjangkau posisi mereka berdua berdiri.
Cara terbaik untuk mengatasi kedua anak panah itu adalah melangkah maju ke depan lalu menebas batang anak panahnya menggunakan pedang.
Dengan kata lain, melangkah beberapa tindak ke depan meninggalkan posisi Krang dan menetralisir ancaman itu terlebih dahulu demi memblokir dampak ledakan, namun itulah tepat hal yang diincar oleh para penyerang.
'Kalau aku bergerak menghindar, sisa anak panah lainnya pasti akan melesat memburu sang raja.'
Oleh karena itu, dia hanya perlu menangkisnya sembari tetap berdiri kokoh menjaga titik ini.
Encrid melakukan tepat hal tersebut.
Pertama adalah anak panah dengan aroma sengak yang menyengat.
Itu adalah proyektil yang dililit oleh gulungan perkamen sihir yang dirancang untuk meledak tepat di detik proyektil itu terhenti.
Maka dia hanya perlu memastikan agar anak panah itu tidak sampai terhenti.
Dia memperlakukan ujung mata panah itu layaknya sebuah tusukan senjata dari seorang pendekar pedang atau tombak yang ahli, lalu mengetuk bagian ekornya menggunakan punggung tangannya.
Bersamaan dengan ketukan halus itu, lintasan terbang sang anak panah seketika berbelok arah.
Anak panah yang tadinya melesat mengincar Krang sembari menebarkan aroma sengak, berbelok lintasannya dan terbang melambung melintasi bagian atas kepalanya.
Anak panah berikutnya diperlakukan dengan cara yang sama persis.
Anak panah kedua ini dirancang untuk menebarkan kabut racun mematikan tepat saat meledak, namun berkat sentuhan halus tangan Encrid, proyektil itu terlempar melesat jauh ke kejauhan.
Anak panah pertama meledak dahsyat di lantai tiga sebuah gedung tinggi, dan anak panah kedua terhempas masuk ke dalam sebuah lorong pasar yang sepi dan meletupkan kabut hijau pekat dengan suara ledakan keras.
Duum!
Beberapa pembunuh bayaran yang tengah melancarkan serangan tanpa sadar menganga terperangah.
Pemandangan apa yang baru saja mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri?
Menangkap anak panah di udara saja sudah cukup mencengangkan, namun pria itu baru saja membelokkan anak panah berbalut gulungan sihir hanya dengan sebuah lambaian tangan santai.
Gerakan itu tampak seolah sang ksatria mengibaskan telapak tangannya lalu menciptakan hembusan angin beliung yang mendorong proyektil tersebut menjauh.
Encrid menepuk-nepuk tangannya dengan tenang tanpa beban.
Mata panah tadi memang sempat menyerempet kulitnya, namun sentuhan itu hanya meninggalkan bekas garis merah tipis, bahkan tidak sampai menggores dagingnya.
Itu karena dia secara instan menggerakkan Will miliknya untuk menyelimuti tubuhnya dengan pertahanan Ironclad, dan ujung tajamnya tidak sampai memotong dagingnya secara langsung.
"Cukup tajam juga."
Dia kemudian melontarkan impresi penilaiannya.
Encrid tidak repot-repot melayangkan tatapan tajam ke arah persembunyian orang-orang tersebut.
Dia masih belum boleh meninggalkan posisinya berdiri saat ini.
Karena dia harus melindungi keselamatan Krang.
Dengan kata lain, jika mereka terus melepaskan anak panah dari kejauhan, satu-satunya hal yang sanggup ia lakukan hanyalah terus menangkis.
Pihak yang bertahan selalu berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, sehingga hal semacam ini memang tak terhindarkan.
Kelompok pembunuh bayaran itu menatap tajam ke arah sosok Encrid dan bersiap-siap untuk melancarkan gelombang serangan mereka berikutnya.
Encrid yang mengendus pergerakan tersebut membuka mulutnya dengan tenang.
"Kalian tahu, aku tidak datang kemari sendirian."
Bersembunyi di balik bayang-bayang kegelapan bukanlah hak monopoli milik mereka semata.











