Bab 809: Membunuh dengan Kebencian
"Ugh!"
Sang pembunuh bayaran yang sedari tadi bersembunyi di dalam sebuah lorong pasar melompat ke atas demi menghindari kepulan kabut racun.
Jari-jemarinya mencengkeram dinding penahan lalu memanjat naik ke atas atap sebuah rumah bata, namun dalam sekejap mata, hembusan angin dingin menyapu lehernya.
Sebuah pertanyaan seketika melintas di benak sang pembunuh bayaran.
Hembusan angin yang mendadak?
Dan angin yang teramat dingin menusuk tulang?
'Di tengah-tengah musim panas terik begini?'
Dia bahkan tidak sempat mengangkat kepalanya, namun dia melihat bentangan langit biru yang bersih tanpa awan.
Langit itu dipenuhi oleh terik sinar matahari yang membakar.
Dengan segaris garis merah terukir melintang di lehernya, sang pembunuh mendongakkan kepalanya ke belakang lalu ambruk tersungkur.
Darah segar yang mengucur deras dari tubuhnya yang tumbang mewarnai atap anyaman jerami dan bebatuan menjadi merah pekat.
"A-ada apa ini?!"
"Kyaaaak!"
"Bajingan..."
Baru pada saat itulah jeritan histeris dan teriakan panik meletup bersahutan dari segala penjuru arah.
PRIIITTT!
Seorang prajurit yang berjaga untuk keamanan kota meniup peluitnya keras-keras.
Mendengar bunyi peluit tersebut, empat orang prajurit lain yang tengah berpatroli segera berlari berkumpul.
Di saat bersamaan, Jaxon yang berdiri di atas atap bangunan lain menusukkan belatinya menembus rusuk seorang pembunuh bayaran yang tengah tiarap lalu membelah jantungnya, serta menancapkan sebilah Silence Dagger tepat di dahi pembunuh bayaran lainnya yang matanya tengah mengintip dari balik celah jendela gedung.
Meskipun tiga orang rekan mereka telah tewas seketika, sisa pembunuh bayaran lainnya bahkan tidak sanggup melacak di mana posisi Jaxon berada.
"Sisakan satu orang, jangan kau tangkis."
Krang berbisik mendesak dari belakang.
Encrid yang berdiri melindungi bagian depan Krang membuka suaranya.
"Jaxon, sisakan satu orang."
Krang mengucapkannya dengan berbisik, dan nada suara Encrid pun tidak terlalu keras, namun hal itu sudah lebih dari cukup.
Berkat ledakan anak panah sihir tadi, kekacauan besar telah meletus, dan jeritan histeris serta suara kepanikan orang-orang menggema di mana-mana, namun seorang Jaxon yang tengah berkonsentrasi penuh pasti sudah mendengar instruksi tersebut.
Benar saja, segalanya berjalan tepat sesuai dengan kehendak Krang.
Total ada lima orang pembunuh bayaran, dan sosok yang bersembunyi paling rahasia menghentak dinding penahan lalu melompat keluar, memanfaatkan momentum itu untuk berteriak lantang.
"Demi keluarga kerajaan yang sejati!"
Dia melolongkan pekikan itu sembari mengulurkan tangannya ke depan.
Sebatang anak panah pendek melesat keluar dari balik lengan bajunya. Encrid tidak bergerak menangkisnya.
Itu karena setelah Krang menyuruhnya untuk tidak menangkis, sang raja menarik kerah bajunya dan berujar agar membiarkannya saja, bahwa dirinya sendiri yang akan menanganinya.
Encrid tidak tahu apa yang tengah diincar oleh sang raja, namun dia tahu betul bahwa Krang telah menyusun sebuah rencana matang.
'Kalau situasinya memburuk, aku tinggal menghunus pedangku.'
Terlebih lagi, dia memiliki keleluasaan waktu untuk menghunus pedangnya bahkan setelah menunggu hingga detik-detik terakhir yang paling kritis.
Di mata Encrid yang tengah memusatkan fokusnya, pendaran cahaya merah terlihat berkilau menyelimuti sekujur tubuh Krang.
Pendaran cahaya merah yang bangkit dengan kecepatan setara dengan laju terbang sang anak panah memadat membentuk sebuah wujud nyata dan meliuk-liuk mengitari sosok Krang.
'Sebuah sihir?'
Serupa, namun sebenarnya berbeda.
Hawa keberadaannya sama sekali tidak berbau sihir.
Justru hawa itu memancarkan aroma selembar kain yang telah dijemur hingga kering sempurna di bawah terik matahari pada hari yang teramat cerah.
Cahaya merah yang meledak keluar dari tubuh Krang menyambar anak panah yang ditembakkan oleh sang pembunuh bayaran.
Pendaran cahaya itu membentuk sebuah wujud, tampak menyerupai kaki depan seekor binatang buas purba.
Tentu saja, seluruh peristiwa ini terjadi hanya dalam sekejap kedipan mata.
Pemandangan itu hanya terlihat jelas oleh Encrid yang telah mengerahkan konsentrasi tingkat tingginya; manusia biasa bahkan mustahil sanggup menangkap apa yang tengah terjadi.
Kaki depan binatang buas itu mencengkeram anak panah pendek tersebut.
Dan peristiwa itu berakhir sampai di situ.
Anak panah yang telah disuntikkan formula sihir kabut racun itu dinetralkan sihirnya seketika lalu patah berkeping-keping dengan bunyi gemeletuk pelan.
Sang pembunuh bayaran telah melemparkan seluruh bobot tubuhnya maju bersamaan dengan tembakan anak panah tadi.
Apakah anak panah yang sebelumnya berhasil ditangkis kini akan mempan?
Dia telah mengantisipasi kegagalan itu dan telah menghunus sebilah belati sepanjang satu jengkal lalu menerjang maju, namun kaki depan binatang buas yang memanjang dari tubuh Krang langsung menghantam telak kepala sang pembunuh.
Bugh.
Tulang lehernya patah remuk seketika, dan tubuhnya terlempar ke samping lalu bergulingan tak berdaya di atas tanah.
Pria dengan leher yang patah itu menjelma menjadi mayat di tempat.
Dan dengan demikian, pembunuh bayaran terakhir pun tewas binasa.
Menyaksikan hal itu, Krang melepaskan tudung kepalanya lalu menarik keluar jubah kebesarannya sendiri yang sedari tadi tersembunyi di balik mantel besarnya.
Pendaran cahaya merah yang menyelimuti tubuhnya melukiskan sebuah siluet megah di belakang punggungnya.
Empat kaki yang kokoh, serta surai tebal yang melilit lehernya bagaikan kobaran api yang menyala-nyala.
Sosok makhluk agung itu berdiri tegak menjaga di belakang punggung Krang, meski terlihat samar-samar.
Pemandangan itu seolah mendeklarasikan bahwa izin darinya adalah hal yang mutlak dibutuhkan sebelum ada siapa pun yang berani membunuh manusia ini.
Kali ini siluet tersebut tidak hanya terlihat oleh mata Encrid seorang.
Kini wujud itu terlihat sangat jelas oleh semua orang di sekitarnya.
Makhluk itu sengaja menampakkan dirinya demi tujuan tersebut.
Niat di baliknya teramat sangat jelas.
Hembusan angin kencang berhembus dan jubah merah Krang berkibar gagah.
"Apakah masih ada orang-orang yang merasa tidak puas dengan kepemimpinanku?!"
Kemunculannya seketika menyedot seluruh pandangan mata orang-orang di sekitarnya.
Awalnya hanya mata beberapa orang yang terbelalak kaget, namun reaksi keterkejutan itu menyebar dengan sangat cepat, bagaikan tetesan tinta hitam yang jatuh ke dalam air jernih.
"Kalian semua, dengarkan baik-baik!"
Dan kemudian Krang memperagakan keahlian utamanya.
Setelah mengunci seluruh pandangan orang-orang yang tengah terkejut, dia menancapkan kehendak tekadnya ke telinga mereka melalui sebuah pidato singkat di tengah lantai pasar, tanpa membutuhkan mimbar pidato apa pun.
"Semua kekacauan ini pastilah berakar dari kurangnya kebajikan di dalam diriku sendiri. Aku mengakui hal tersebut."
Isi dari pidato yang padat dan berisi itu sebenarnya tidak terlalu penting.
Krang pun bersikap sangat tenang alih-alih mencurahkan segenap jiwa raganya ke dalam kata-kata tersebut.
Sejak detik dirinya berbicara sembari menyerap seluruh tatapan mata di sekitarnya, pembawaan dirinya selalu konsisten.
Tenang, berwibawa, dan teramat serius.
"Aku tidak akan pernah membiarkan para monster dan gerombolan bandit merajalela di tanah ini!"
Encrid tidak tahu apa yang sebenarnya tengah diincar oleh Krang, namun dia sanggup memastikan satu hal dengan sangat jelas.
'Dia sengaja pamer.'
Tujuan utama Krang adalah memperlihatkan kepada mereka semua sosok binatang buas yang bersinar terang di belakang punggungnya.
Bukan, itu bukan sekadar binatang buas biasa, melainkan seekor Divine Beast agung.
Meskipun hanya berlangsung dalam tempo sesaat, kekuatan dan kecepatan manuver yang diperlihatkan oleh kaki depan makhluk itu setara dengan kekuatan seorang ksatria sejati.
'Dengan asumsi bahwa itu hanyalah sebuah gestur ringan yang digerakkan untuk menangkis sebatang anak panah.'
Keinginan untuk mencoba bertarung melawannya seketika membuncah di dalam hatinya.
Itu adalah sebuah reaksi berantai yang sangat alami.
Saat kau melihat sosok lawan yang teramat tangguh, tak peduli apakah mereka adalah manusia, raksasa, manusia katak, ataupun seekor Divine Beast.
Pidato Krang berakhir dengan singkat dan tepat sasaran.
Dan saat membalikkan badannya lalu melihat tatapan Encrid, sang raja langsung membuka suara.
"Tidak boleh. Sekarang aku bisa tahu hanya dengan melihat sorot matamu itu. Makhluk ini cuma akan bereaksi saat nyawaku berada dalam bahaya kritis."
Krang tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya.
Percakapan itu terjadi setelah sebagian dari pasukan keamanan kota, begitu mendengar kabar penyerangan, membentuk formasi barikade mengelilingi sang raja.
Pasukan Pengawal Kerajaan yang bergegas datang dari benteng dalam menciptakan lapisan pertahanan tambahan di sisi dalam barikade pasukan keamanan.
Krang memutus rasa penasaran yang berbinar di mata Encrid hanya dengan satu tebasan kata.
Jika berbicara mengenai kepekaan membaca situasi, Krang sama cepatnya dengan siapa pun.
"Ah..."
Krang tertawa mendengar helaan napas kecewa dari bibir Encrid.
Sahabatnya yang satu ini benar-benar tidak pernah berubah sedikit pun.
Dan seseorang memang harus berada di tingkatan gila seperti ini agar sanggup mendambakan sebuah impian yang terdengar begitu mustahil.
Yah, hal serupa pun berlaku bagi dirinya sendiri.
"Apakah itu Sun Tree?"
Tanya Encrid penasaran.
"Ya."
Suara kedua pria itu tidak diucapkan dengan pelan.
Percakapan mereka terdengar jelas oleh pasukan Pengawal Kerajaan yang mengepung mereka serta para prajurit keamanan kota yang bertelinga tajam.
Terlebih lagi, bukankah sang raja baru saja memamerkannya secara langsung di depan mata kepala mereka sendiri?
Dari kasak-kusuk kerumunan rakyat yang berkumpul di kejauhan, kata-kata seperti 'Sun Tree', 'pohon pelindung', dan 'sang raja yang dilindungi oleh dewa keluarga kerajaan' mulai bermunculan bersahutan.
Krang bahkan mungkin telah menyusupkan para provokator di tengah kerumunan demi menyebarkan kata-kata tersebut.
"Bukankah itu tadinya cuma sebuah legenda dongeng belaka?"
Kisah berdirinya kerajaan mengenai tiga ksatria agung dan Sun Tree tak lebih dari sekadar cerita rakyat pengantar tidur.
Krang menggelengkan kepalanya mantap.
"Bukan sekadar dongeng."
Encrid mengedipkan matanya sekali.
Krang berniat menjawab seluruh tanda tanya yang berkecamuk di benak sahabatnya.
"Hanya mereka yang mewarisi darah bangsawan kerajaan yang memiliki kualifikasi, dan di bawah kualifikasi tersebut, ini adalah sebuah perlindungan mutlak yang bisa diperoleh jika seseorang sanggup menerima kekuatan dari sang Divine Beast tanpa kehilangan nyawanya."
Tato rajah di lengannya adalah bukti nyata bahwa kekuatan Sun Tree telah bersemayam di dalam dirinya.
"Kau bisa saja mati dalam proses penyerapan itu?"
Itu adalah sebuah kekuatan yang tak bisa dibandingkan dengan sesuatu yang bisa didapatkan begitu saja hanya karena kau menginginkannya.
Di antara berbagai macam artefak sihir, ada benda-benda terkutuk yang memberikan kekuatan dahsyat dengan menukarnya menggunakan daya hidup sang pengguna.
Beberapa penyihir dengan hobi busuk sengaja menciptakan benda-benda sihir semacam itu.
Lalu apakah rajah pelindung ini, di mana kekuatan Divine Beast bersemayam di atas kulit dan melindungimu dari maut, tidak menuntut bayaran harga yang setimpal?
Kemungkinan besar mustahil jika tanpa harga.
"Mereka yang bertekad lemah, mereka yang mendambakan kekuasaan murni demi keuntungan pribadi... yah, menurut legenda keluarga kerajaan, orang-orang semacam itu pasti bakal mati binasa, tapi sejauh yang kualami, rasanya itu cuma soal bertahan melewati mimpi buruk selama sekitar tiga hari penuh."
Seperti kata pepatah, seorang pria sejati akan tetap memasang wajah tegar bahkan jika dirinya nyaris mati sekalipun.
Pada kenyataannya, proses itu mustahil hanya sekadar soal bertahan dari mimpi buruk belaka.
Namun tak ada alasan bagi Encrid untuk menanyakannya secara mendalam.
Krang kemungkinan besar akan menceritakannya jika Encrid bertanya, bahkan andai hal itu merupakan rahasia terbesar keluarga kerajaan, namun Encrid sendiri tidak terlalu penasaran.
"Kancing pertama kini telah berhasil dikancingkan. Ah, ini bermakna bahwa semua ini barulah permulaan."
Membeberkan kepada khalayak ramai bahwa dirinya dilindungi oleh Sun Tree hanyalah langkah awal dari rencananya.
Encrid tidak menanyakan lebih jauh mengenai manuver politik ini.
Dia tahu Krang pasti akan menceritakannya sendiri saat waktunya tiba nanti.
Apa pun itu, sepasang mata Krang masih memancarkan binar cahaya yang menyala terang.
Meskipun jenis cobaannya berbeda, Krang pastilah telah melewati berbagai macam badai prahara yang sama beratnya dengan apa yang dihadapi Encrid selama ini.
Bahkan saat ini, setelah berhasil menaklukkan seluruh prahara itu, sorot matanya sama sekali tidak berubah.
Bagi Encrid, seluruh tanda tanya di kepalanya telah terjawab tuntas dengan kenyataan itu.
Namun ada satu hal yang masih mengganjal.
"Benar-benar tidak boleh?"
"Sudah kubilang tidak boleh!"
Duel latihan tanding melawan Divine Beast dari Sun Tree terasa agak sedikit disayangkan jika harus dilewatkan.
Krais yang sudah lama tidak berjumpa membuka suara, dan Marcus menganggukkan kepalanya setuju.
"Itu benar."
Sebuah adu domba, tindakan menancapkan baji pemisah di antara orang-orang.
Dengan memamerkan bahwa Sun Tree melindunginya, Krang berhasil menyandang gelar agung sebagai 'Sun King', namun fakta perihal adanya upaya pembunuhan berdarah tetaplah nyata.
"Pemberontakan kudeta lagi?"
"Kudengar sang ratu telah kembali?"
"Bukan, anak sang ratu tengah dibesarkan di suatu tempat tersembunyi, dan ini adalah persekongkolan dari klan-klan lokal yang mendesaknya maju merebut takhta."
Berbagai macam rumor liar saling bersahutan beredar di seantero kota.
Seluruh kabar burung itu sampai ke telinga Encrid yang menghabiskan sepanjang harinya bermain dan berlatih di lapangan latihan kerajaan.
Beberapa komandan pasukan yang menghabiskan waktu bersamanya di lapangan latihan turut mendengar rumor-rumor tersebut, namun respons mereka sangatlah kokoh.
"Yang Mulia Raja pasti akan membereskannya. Jika tenaga kami dibutuhkan, beliau pasti akan memanggil kami saat itu tiba."
Kepercayaan dan keyakinan mutlak.
Hal-hal itulah yang berhasil dibangun oleh Krang bersama pasukannya seiring berjalannya waktu.
Beberapa bangsawan mungkin merasa gentar dan goyah, namun perisai keluarga kerajaan yang berkumpul di lapangan latihan tidak memperlihatkan secuil pun keraguan di hati mereka.
Encrid menyesap teh mahal yang menjadi hobi kegemaran Marcus.
Dia sempat mendengar bahwa jika kau memetik pucuk daun teh yang hanya tumbuh di wilayah tertentu lalu memfermentasikannya dalam jangka waktu yang sangat lama, sebuah aroma yang teramat unik akan tercipta.
Dia baru saja mendengarnya beberapa saat lalu, namun penjelasan itu masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, sehingga dia tidak mengingat detailnya secara pasti.
Rasa teh itu terasa agak pekat dan kesat di awal, namun turut menyimpan rasa manis dan gurih umami yang halus, dan aromanya terasa sejernih kelopak bunga yang mengapung di atas permukaan air telaga yang bening.
Itu bukanlah teh yang buruk.
Selagi Encrid menikmati cangkir tehnya, Krais terus berbicara dengan nada suara yang tenang dan dingin.
"Kalangan bangsawan tidak memiliki kapasitas untuk melakukan hal semacam itu. Bahkan andai mereka mampu, untuk apa mereka membidik takhta raja? Sang ratu? Anak sang ratu? Hal semacam itu sama sekali tidak ada. Itu murni rumor tak berdasar. Dan bahkan andai sosok itu memang nyata, bagi kalangan bangsawan untuk melancarkan kudeta saat ini adalah tindakan bodoh yang hanya akan mendatangkan kerugian kolosal. Tak ada keuntungan apa pun. Dan para bangsawan yang kukenal bukanlah tipe orang yang sudi bergerak tanpa adanya keuntungan materi."
Mereka yang memikul tanggung jawab dan memimpin sebuah wangsa memiliki kewajiban mutlak untuk menghidupi keluarga besar mereka.
Andrew dulu pun sempat melontarkan hal yang serupa pada satu titik.
Bahwa rasa tanggung jawab akan lahir dengan sendirinya seiring membesarnya suatu kaum.
"Dan sebuah pemberontakan? Menentang otoritas kekuasaan kerajaan saat ini? Atas dasar apa?"
Bugh.
Krais menghantamkan tinjunya ke atas meja.
Bahkan dengan gerakan ringan yang sama sekali tidak mengguncang cangkir-cangkir teh itu, alis Marcus seketika bertaut menyempit.
"Hati-hati sedikit."
Maknanya adalah bahwa pria itu tidak sudi melihat cangkir teh berharga mahal dan daun teh langka miliknya tumpah mengotori lantai.
Itu adalah logika yang sama persis seperti seorang pencinta anggur yang melihat sebotol anggur berusia lima puluh tahun tumpah berserakan di tanah.
Krais melayangkan permohonan maaf melalui tatapan matanya lalu melanjutkan analisisnya.
"Dengan dibukanya jalur perdagangan, zaman ini telah menjelma menjadi era terbaik untuk hidup dibanding masa-masa sebelumnya. Apakah jatah sepotong roti milik para bangsawan menyusut akibat kebijakan itu? Sama sekali tidak."
Encrid memandangi ruang kerja Marcus.
Ruangan itu kini memiliki lebih banyak hiasan mewah dibanding sebelumnya.
Jumlah perabotannya pun tampak bertambah.
Lebih tepatnya, lemari-lemari itu tampaknya digunakan untuk menyimpan stok daun teh langka dan cangkir-cangkir teh keramik berkualitas tinggi.
Meskipun barang-barang itu tergolong barang mewah, hal ini masih bisa dikategorikan sangat sederhana bagi seorang bangsawan terpandang.
Mengingat bahwa Naurillia hari ini jauh lebih makmur dan kaya dibanding masa-masa sebelumnya.
"Terlebih lagi, dengan menjamin keamanan ibu kota serta membangun jalur jalan yang aman di wilayah sekitar, beliau bahkan berhasil menekan habis serangan bandit, monster, dan binatang buas. Itu adalah sebuah pencapaian agung yang berhasil dituntaskan untuk pertama kalinya di antara seluruh penguasa kerajaan sebelumnya."
Mayoritas dari pencapaian gemilang itu terwujud berkat jerih payah Encrid.
Pandangan mata Marcus menyapu sosok Encrid sesaat.
Pria berambut hitam dan bermata biru terang itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa banyak berpikir.
'Dia sama sekali tidak tertarik.'
Marcus membaca kondisi pria itu hanya dalam satu lirikan mata.
Tebakannya tepat sasaran.
Encrid hanya mendengarkan setengah telinga, sembari mengingat kembali kata-kata yang pernah diucapkan Krang.
Bukankah sang raja sempat bilang bahwa separuh dari kebijakan yang ia terapkan lahir langsung dari kepala pria bermata belok di hadapannya ini?
'Dan sebagian darinya kemungkinan besar adalah gagasan milik Abnaier.'
Jika seseorang mencari sosok yang paling bersemangat membara di Border Guard baru-baru ini, maka orang itu pastilah Abnaier.
Pria itu meluncurkan berbagai macam proyek bisnis dan rencana strategis di Border Guard yang dulunya tidak bisa ia terapkan di Aspen.
Kabarnya kerajaan Aspen pun perlahan-lahan mulai berubah akibat pengaruh dari manuvernya tersebut.
Dan pria itu sempat bilang bahwa hal itu terasa sangat memuaskan batinnya.
Terlepas dari sikap cuek Encrid, Krais terus melanjutkan kata-katanya dengan mantap.
"Seandainya aku yang berada di posisinya, aku sejak awal tidak akan membiarkan masalah semacam ini sampai mencuat."
Marcus bertanya penasaran.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
"Membuat para bangsawan saling mengawasi, saling mencurigai, dan saling bertikai satu sama lain tanpa henti."
Itu adalah kata-kata yang lugas tanpa tedeng aling-aling, namun isinya setajam dan seberdarah benturan bilah pedang di medan tempur.
Jika para bangsawan sibuk saling bertikai di antara mereka sendiri, tak akan ada ruang bagi mereka untuk terpikir menentang sang raja.
Alasan kenapa rumor-rumor tak berdasar bisa beredar liar adalah karena kehidupan mereka saat ini terlalu damai dan sejahtera, jadi dia akan membuat kondisi di mana pemikiran semacam itu mustahil muncul.
Bagaimana caranya?
Dengan memanfaatkan faksi-faksi di kalangan bangsawan untuk saling mengadu domba mereka satu sama lain.
Haruskah disebut sebagai sebuah metode untuk mencegah perang besar dengan mengobarkan perkelahian-perkelahian kecil?
Namun demikian, hal semacam itu bukanlah jalan yang diinginkan oleh Krang.
Krais mengatakannya sembari menyadari hal tersebut sepenuhnya.
Siapa yang bakal berani protes jika beberapa gubuk reyot tempat tinggal kaum miskin dibakar rata demi membuka jalur jalan bagi kereta-kereta kuda?
Kaum miskin tidak memiliki kekuasaan apa pun, sehingga mereka tidak sanggup bersuara.
Para bangsawan yang membuka bisnis angkutan kereta kuda meraup pundi-pundi keuntungan besar, sehingga mereka hanya akan menempelkan lidah mereka ke langit-langit mulut dan memilih bungkam seribu bahasa.
Normalnya, seorang penguasa bahkan tidak boleh berkedip sedikit pun saat membakar rata gubuk-gubuk kumuh tersebut, namun Krang menolak keras melakukan kekejian semacam itu.
Jalan yang ia tapaki adalah sebuah jalan yang teramat terjal, berat, dan melelahkan.
Oleh karena itu, itulah jalan agung seorang raja sejati.
Itulah jalan mulia yang didambakan oleh Krang.
'Impian, dan harapan.'
Di era kelam di mana hal-hal semacam itu dianggap tidak berguna, mereka yang mengejarnya pastilah orang-orang yang bodoh.
Oleh karena itu, Krang adalah seorang pria yang bodoh.
'Dan begitu pula dengan diriku.'
Encrid pun tahu betul bahwa apa yang ia dambakan selama ini terdengar teramat mustahil dan konyol.
Dia mengetahuinya, namun dia tetap memilih untuk terus melangkah maju.
Dan perlahan demi perlahan, dunia ini mulai berubah.
Sosok Krais di hadapannya adalah bukti nyata dari perubahan tersebut.
Pria yang dulunya selalu gemar mencari-cari kesalahan, mencibir bahwa ini salah dan itu keliru, kini tanpa ragu bergabung dan setia mengikuti kehendak Krang, mengikuti kehendak tekadnya.
"Lalu untuk apa kau datang kemari?"
Tanya Encrid santai.
Krais tidak dipanggil secara resmi olehnya.
Pria itu tiba-tiba saja menampakkan diri di ibu kota.
"Aku datang untuk menghukum bajingan-bajingan yang berani mempermainkan dan menodai Salon."
Sepasang mata Krais seketika berkilat tajam.
Dengan kata lain, matanya menyala membara dipenuhi oleh kebencian mendalam kepada orang-orang yang telah memperalat impian terbesarnya.
Sumber utama dari rumor-rumor busuk yang mengancam stabilitas keluarga kerajaan bermula dari jaringan Salon.
Bermula dari tempat perkumpulan itu, dikabarkan bahwa mata-mata dari pihak selatan tengah merajalela melancarkan aksi mereka.
"Mata-mata dari selatan..."
Sebelum mereka berpisah tadi, Krang sempat berpesan bahwa semua kekacauan ini adalah ulah dari imperium Lihin-Stetten di wilayah selatan.
Dan para mata-mata itu telah memanfaatkan jejaring Salon demi melancarkan skenario busuk mereka.
Salon-salon di ibu kota telah dibajak oleh jaringan spionase pihak selatan.
Krais merasa teramat sangat murka atas penghinaan tersebut.
"Membunuh mereka semua dengan kebencian."
Sang penggagas agung Salon bergumam lirih sembari memancarkan amarah yang mendidih.











