Eternally Regressing Knight

Bab 817: The Burning Crow, The Promiser of Plenty, The Heat-Bearing Companion, The Pure White Destroyer, The Mistrustful Loner

3728 Kata

Bab 817: The Burning Crow, The Promiser of Plenty, The Heat-Bearing Companion, The Pure White Destroyer, The Mistrustful Loner

"Bantai mereka? Apa kita bantai saja mereka sekarang? Kubilang juga apa, badan mereka ini bau sekali!"

Dunbakel mendadak memotong kalimat Rem dengan seruan dongkol.

Pelatihan kerasnya di Wilayah Timur serta berbagai macam pengalaman hidup dan mati yang ia reguk di sana telah mengembangkan indra penciumannya berevolusi ke dalam wujud baru yang sanggup melampaui indra keenam manusia.

Gadis itu sanggup mengendus aroma niat jahat yang menguar dari jiwa seseorang.

Sensasi itu serupa dengan indra keenam yang sanggup merasakan hawa keberadaan, namun dia menangkapnya dalam bentuk aroma bebauan nyata.

Bau busuk yang menguar pekat dari ketiga tamu asing di hadapannya sudah lebih dari cukup untuk membuat kepalanya pening berdenyut.

'Bagaimana mungkin aroma mereka bisa jauh lebih busuk dibanding bangkai monster-monster di Wilayah Timur?!'

Apakah orang-orang ini tidak pernah mandi seumur hidup mereka?

Di sini, makna dari kata mandi bukanlah dalam arti harfiah menimba air lalu mengguyurkannya ke sekujur tubuh.

"Apa gunanya cuma membersihkan raga fisik? Kau harus menyucikan pikiran dan jiwamu."

Ada begitu banyak orang-orang aneh dan eksentrik di belantara Wilayah Timur.

Di antara mereka ada seorang pria yang telah bersumpah seumur hidup untuk tidak akan pernah membunuh sesama manusia dan murni hanya akan bertarung melawan kawanan monster buas.

Pria itu dikabarkan merupakan seorang pendeta suci yang mengabdi pada salah satu dewa dari alam Underworld.

Pendeta itu selalu berkhotbah bahwa seseorang harus menyucikan batinnya terlebih dahulu agar sanggup benar-benar bersih dan murni seutuhnya.

Meskipun Dunbakel tidak memahami metode penyuciannya secara mendalam, dia mengetahui satu hal pasti:

'Aroma mereka sangat busuk.'

Ada aroma memualkan yang menguar dari tubuh ketiga orang asing ini yang membuat siapa pun pasti ingin memencet hidung mereka rapat-rapat.

'Niat jahat, hasrat yang terpelintir sesat, serta nafsu serakah yang berbaur rumit di luar nalar.'

Ada begitu banyak aroma serupa yang bercampur aduk, dan meskipun aroma-aroma itu saling menyerupai satu sama lain, partikelnya tidak menyatu sempurna. Aromanya terasa persis seperti saudara tiri yang berbagi satu ayah kandung namun terlahir dari rahim ibu yang berbeda.

'Meskipun perumpamaan ini terasa agak aneh juga sih.'

Alih-alih bersusah payah menjelaskan aroma yang tengah ia endus, Dunbakel mengekspresikan kehendak tekadnya secara lugas.

"Kita benar-benar tidak mau membantai mereka?"

Tanyanya sekali lagi memastikan.

Orang-orang asing ini adalah kotoran sampah yang harus dibersihkan secepat mungkin.

Begitulah vonis penilaian yang ia tetapkan.

Seandainya situasi ini terjadi di belantara Wilayah Timur, jemarinya pasti sudah melesat mencabik mangsa sejak tadi.

Namun tempat ini adalah benteng Border Guard.

Ada sosok pemimpin yang akan bergerak mendahului langkahnya.

Terlebih lagi saat dirinya tadi tanpa sadar sempat hendak melancarkan serangan fisik, bajingan bernama Rem itu secara halus telah menggeser tubuhnya dan menghalangi langkahnya.

Dan sembari menghalangi langkahnya, bukankah Rem sempat bergumam lirih?

"Apa, kau mau menyandang julukan resmi sebagai 'Berandalan Liar dari Timur'?"

Kendalikan dirimu baik-baik.

Sepasang mata abu-abu milik Rem memancarkan untaian pesan peringatan tersebut.

Dunbakel dulu sempat dimarahi dengan cara yang serupa oleh Anu.

"Hanya karena kau telah berhasil menaklukkan rasa takutmu bukan berarti segalanya telah selesai. Kaum manusia binatang, dalam arti tertentu, memiliki sifat posesif obsesif yang jauh lebih keras kepala dibanding bangsa manusia katak.

Jika kau tidak sanggup membina pengendalian diri di dalam jiwamu, kau tidak akan pernah bisa melesat memanjat ke tingkatan yang lebih tinggi."

Anu melontarkan petuah bijak itu sembari mengunyah daging monster kukus di mulutnya, mengunyahnya sesaat sebelum akhirnya meludahkannya ke tanah dengan bunyi cphuuu.

Beberapa pengikut setia dan barisan pengawal pribadi yang berdiri menjaga di sampingnya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sang raja.

Sosok Dunbakel kala itu memang mustahil sanggup membina pengendalian diri.

Pola kehidupan di Wilayah Timur pada hakikatnya menganut prinsip lepas tangan secara mutlak.

Mereka bertarung atas kehendak mereka sendiri, mencari makan atas usaha mereka sendiri, dan menyelesaikan apa yang harus mereka kerjakan secara mandiri.

Regu ekspedisi penjelajahan timur mustahil sanggup bertahan hidup jika tidak menerapkan prinsip keras semacam itu.

Mengingat bahwa orang-orang di sana sanggup tiba-tiba berkelana mengembara kapan saja sesuka hati, berdalih hendak menjelajahi wilayah baru, sama sekali tidak ada permukiman yang layak disebut sebagai sebuah kota selain perkemahan pusat mereka.

Apakah keuntungannya adalah bahwa di sana hampir tidak ada serangan monster terorganisir ke kota?

Namun tempat itu pun merupakan sebuah belantara yang teramat sangat tandus dan kejam.

Hamparan tanah liarnya dipenuhi oleh lokasi-lokasi gersang tanpa sehelai pun rumput hijau yang tumbuh.

Wilayah itu bukanlah padang pasir tandus, namun lingkungannya teramat ekstrem di mana seseorang murni hanya sanggup bertahan hidup jika bermukim di dekat permukaan danau air tawar.

Seorang anak yang terlahir di belantara Wilayah Timur dituntut untuk sanggup menanggung beban hidupnya sendiri sejak usia dini.

Mereka harus berburu mencari makanan mereka sendiri, dan akan sangat sulit bagi mereka untuk bertahan hidup jika tidak sanggup membuktikan nilai guna keberadaan mereka.

Anu sejak awal memang sengaja mengirimkan anak-anak tangguh semacam itu berbondong-bondong menuju ke daratan Benua.

Fakta bahwa sang raja timur sempat datang berkunjung menemui Encrid tempo hari serta terus-menerus mengirimkan surat kepadanya turut merupakan bagian tak terpisahkan dari misi tersebut.

'Kapasitas kemurahan hatinya memang teramat luas.'

Sosok Anu memang seperti itu.

Dia telah merintis dan membukakan jalan bagi mereka yang tidak sanggup menetap dan berakar di tanah kelahirannya.

Dalam arti tertentu, pria itu telah membukakan jalan bagi kaumnya untuk mengamankan penghidupan dengan cara melangkahkan kaki menuju ke benteng Border Guard.

Bagaimanapun, Dunbakel berhasil mencapai kapasitas kekuatannya saat ini berlandaskan prinsip kebebasan mandiri tersebut, sehingga dulunya dia belum sempat mematangkan pengendalian dirinya, namun...

"Apa? Kau mau sebelah bola matamu kucungkil keluar? Warnanya kuning keemasan berkilau, jadi kurasa Si Mata Belok itu pasti mau membelinya dengan harga yang sangat mahal."

Di tempat ini berdiri sosok personifikasi dari pengendalian diri tingkat tinggi bernama Rem. Bajingan barbar ini sangat cepat memicu perkelahian, memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap berbagai macam hal, dan memiliki otak yang teramat sangat licik dan tajam. Rem yang baru saja menahan Dunbakel mengalihkan pandangan matanya menatap ke arah Encrid.

Encrid masih memilih untuk bungkam seribu bahasa.

Sama tenangnya seperti biasa.

Pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan pembawaan diri yang teramat kokoh.

Bukannya tatapan mata Rem tengah menuntut jawaban.

'Kenapa dia membiarkan orang-orang aneh ini tetap hidup?'

Rasa penasaran?

Kemungkinan besar memang begitu.

Meskipun dirinya tidak sanggup mengendus aroma niat jahat seperti halnya Dunbakel, sensor kepekaan alami milik Rem turut menyimpan sisi yang luar biasa istimewa.

'Mencekam, sarat akan hawa subversif dan petaka.'

Sensasi ini bukan murni karena mereka sempat merapal formula kutukan hitam tadi.

Jika diibaratkan dalam gaya perumpamaan khas masyarakat wilayah barat, orang-orang asing di hadapan mereka ini bagaikan 'sebuah hari di mana matahari menolak terbit'.

Mereka bagaikan gumpalan awan badai petir hitam pekat yang menyumbat seluruh kanvas langit.

Langit hari ini sebenarnya sangat cerah dan sinar matahari terasa membakar hangat, namun atmosfer keberadaan yang dipancarkan oleh ketiga orang asing ini justru berbanding terbalik seutuhnya.

'Dan di saat bersamaan, aku pun merasa sangat penasaran.'

Pihak musuh telah menusuk titik krusial tersebut dengan sangat tepat sasaran.

Ocehan perihal kehidupan abadi dan sebagainya adalah satu perkara, namun eksistensi keberadaan orang-orang ini sendiri terasa sangat mengganjal di hati.

Dan rasa mengganjal itu terasa sangat asing dan tidak lazim.

'Jika meminjam gaya bahasa dari manusia binatang berandalan yang baru pulang dari timur ini, mereka ini memancarkan bau busuk yang teramat menyengat hingga ke langit.'

Lebih dari segalanya, itu adalah aroma memualkan yang pernah ia cium sebelumnya di masa lalu.

Bau busuk dari peradaban Demon Realm, kemungkinan besar.

Dia pernah mencium aroma yang serupa dari entitas monster purba bernama Beelrog tempo hari.

Namun demikian, jika aroma utama yang memancar dari diri Beelrog adalah aroma sengak daging terbakar yang pekat, maka aroma yang menguar dari ketiga orang ini didominasi oleh bau anyir yang teramat amis, menyerupai bangkai ikan busuk yang membusuk di bawah terik matahari.

Tentu saja Rem tidak mengendusnya secara fisik menggunakan hidungnya.

Itu murni merupakan sinyal peringatan yang dibisikkan oleh indra keenamnya yang telah ditempa oleh kekuatan magis Shamanism.

Bahwa hal-hal di hadapannya ini adalah entitas yang teramat kotor dan terkutuk.

Rasanya seolah salah satu dari delapan jenderal dewa purba tengah berbisik lantang menyatakan bahwa kini adalah giliran tugasnya untuk melangkah turun tangan.

Sang jenderal dewa yang teramat membenci dan muak terhadap segala bentuk kejahatan dan kenajisan berbisik bahwa dirinya sudi meminjamkan kekuatannya kepada sang pendekar.

Rem menekan bisikan kekuatan gaib tersebut, berdiri dengan kedua kaki terbuka lebar, menggoyangkan pundaknya ke kiri dan ke kanan dengan gestur santai yang arogan, sembari menyandarkan kapak perangnya di atas pundak.

"Orang-orang ini benar-benar menarik ya? Sangat amat menarik."

Gumam Rem sembari terkekeh dingin.

Sebagaimana hal yang umum dirasakan oleh siapa pun yang menatap sosok Rem, ketiga orang asing itu—entah mereka adalah tamu kehormatan ataupun penyusup gelap—seketika merasakan sebuah firasat buruk yang teramat mencekam.

Pria barbar di hadapan mereka adalah tipe monster yang sanggup membelah kepala mereka menjadi dua menggunakan kapaknya kapan saja jika dibiarkan bergerak bebas.

Bajingan barbar ini terasa jauh lebih berbahaya dibanding pria berambut pirang yang mereka temui di lorong tadi yang tiba-tiba mengayunkan pedangnya tanpa alasan.

Sang penyihir bertopi hitam membiarkan kedua lengannya terkulai lemas di samping tubuhnya.

Jika situasinya memburuk, dia terpaksa harus membuktikan keagungan kekuatannya kepada orang-orang biadab ini, bahkan andai itu bermakna menghujani seluruh lapangan ini menggunakan badai formula sihir.

Di tengah situasi kebuntuan yang mencekam tersebut, sosok yang paling tidak terduga mendadak melontarkan suaranya.

"Apa saja!"

Apakah itu karena sang saudagar merasakan atmosfer di sekitarnya tengah berubah menjadi semakin ganjil dan mematikan?

Ataukah karena dirinya telah menilai bahwa mereka tidak boleh terus-menerus diseret masuk ke dalam alur permainan pihak lawan seperti ini?

Kemungkinan besar kedua alasan itu berbaur menjadi satu.

Pria bertubuh tambun itu berseru lantang sembari rahang pipinya yang menggelambir bergetar hebat.

Dia adalah seorang saudagar sejati, seorang pedagang tulen berdarah murni yang pantang menjual barang dagangannya dengan harga murah murni hanya karena dirinya terseret oleh atmosfer lingkungan sekitar.

Dia telah menorehkan rekam jejak prestasi yang luar biasa gemilang di dalam bidang perdagangannya.

Jika dirinya bukan sosok yang istimewa, dia mustahil akan dipilih menjadi duta resmi yang diutus untuk menyampaikan pesan agung ini.

Insting bisnis sang saudagar telah berteriak lantang bahwa detik inilah saat yang paling tepat baginya untuk bertindak, sehingga dia kembali membuka mulutnya.

Pandangan mata Encrid seketika beralih menatap ke arah sang saudagar.

Itu adalah sebuah tatapan yang beralih murni karena dirinya merasakan secuil rasa penasaran, meskipun dari luar raut wajahnya tampak sangat datar.

Meskipun tidak sedahsyat pesona karismatik milik Krang, suara sang saudagar yang memiliki daya tarik persuasif yang menonjol memiliki kekuatan tersendiri untuk menyedot perhatian orang-orang di sekitarnya.

"Anda sama sekali tidak perlu buru-buru mengambil keputusan saat ini juga! Saat hendak membeli sebuah barang yang teramat sangat berharga, bukankah seseorang sewajarnya menimbang-nimbang terlebih dahulu apa saja keunggulannya serta keuntungan apa yang sanggup ia raih?!"

Bobot kekuatan seketika meresap menyatu ke dalam untaian kata-kata yang dilontarkan oleh pria tambun yang sedari tadi sempat terpuruk mematung di satu sudut akibat terhimpit oleh hawa tekanan.

Dia menolak tunduk pada arus yang ada dan justru menciptakan sebuah arus baru dengan keberaniannya.

Tentu saja arus baru ini adalah jenis arus yang sanggup terbelah menjadi dua keping hanya dalam satu tebasan kapak perang milik Rem lalu bermutasi menjadi genangan darah segar, ceceran otak, dan serpihan tulang yang hancur.

Meski begitu, sang saudagar telah memperagakan keberanian sejati.

Seandainya dirinya adalah seorang pengecut yang bahkan tidak sanggup menyampaikan apa yang harus ia katakan, sama sekali tak ada alasan baginya untuk sudi melangkahkan kakinya sejauh ini.

"Wah, argumen yang kau sampaikan barusan benar-benar poin yang sangat bagus."

Dan sosok yang melontarkan kalimat persetujuan tersebut seketika melangkahkan kakinya masuk ke dalam area lapangan latihan.

Seorang pria dengan helaian rambut cokelat yang berkilau halus, dan tepat di sampingnya berdiri seorang pengawal wanita berkulit kecokelatan yang merupakan kekasih hatinya, serta tepat di belakang mereka berdua melangkah sosok pria bernama Abnaier—yang meskipun statusnya belum secara resmi membelot menjadi warga Naurillia, bekerja jauh lebih luar biasa dibanding kapasitas terbaiknya.

Terik sinar matahari menyinari sosok mereka bertiga.

Abnaier mengunci keberadaan ketiga tamu asing itu menggunakan pandangan matanya lalu menatap lurus ke dalam mata mereka satu demi satu.

Dan di dalam lubuk hatinya dia menilai bahwa orang-orang ini adalah sosok-sosok lawan yang teramat tangguh.

Itu adalah sebuah kebiasaan profesional miliknya, membaca dan menakar prestise kehebatan pihak musuh.

Tentu saja jika dibandingkan dengan sosok ksatria bernama Encrid yang berdiri tegak di hadapan mereka, hawa keberadaan ketiga orang asing itu murni terasa sangat kurang.

'Sang Pembantai Beelrog.'

Mendengar kisah pertempuran epik yang ia serap melalui penuturan Krais tempo hari, jantung Abnaier telah berdegup kencang memburu selama beberapa hari berturut-turut.

Menekan ancaman Demon Realm, memperkokoh tata kelola urusan dalam negeri, serta membangun fondasi ketahanan nasional yang solid.

Sebuah negara dengan akar fondasi yang kokoh akan selalu sanggup meraih dominasi keunggulan di dalam perang besar menghadapi Demon Realm kelak, serta tidak akan pernah bisa diguncang oleh kekuatan asing mana pun, entah itu Kekaisaran di utara ataupun imperium mana pun.

Itulah negara impian yang selalu didambakan oleh Abnaier.

Dan apakah bagian paling krusial dari impian agungnya tersebut?

'Para ksatria.'

Atau para penyihir agung.

Lebih tepatnya, itu adalah sebuah kekuatan militer absolut yang berada jauh di luar batas standar kewajaran.

Sebuah kekuatan tempur terpusat yang dihuni oleh kelompok kecil beranggotakan para petarung elite terbaik.

Dan bukan sekadar ksatria atau penyihir biasa, melainkan sosok-sosok monster yang sanggup bertarung hingga titik darah penghabisan demi membuktikan nilai keberadaan mereka.

Dengan kata lain, mereka harus tetap sanggup bergerak aktif dengan penuh vitalitas bahkan setelah menyapu rata beberapa sarang koloni monster sekaligus.

Namun bertarung hidup dan mati melawan sang iblis perselisihan?

Meraih kemenangan mutlak atas monster purba tersebut?

Dan kembali pulang dalam keadaan bernyawa?

Itu adalah sebuah pencapaian gila yang bahkan tidak pernah sanggup ia bayangkan di dalam mimpi terliarnya sekalipun.

Dan sosok pahlawan agung yang telah menuntaskan kemustahilan itu kini tengah berdiri tegak tepat di depan mata kepalanya sendiri.

Itulah alasan kenapa dirinya tetap bersikap sangat tenang dan dingin, meskipun ketiga orang asing di hadapannya tengah memancarkan hawa keberadaan yang teramat ganjil.

Apakah Krais merasakan hal yang serupa di dalam hatinya?

Abnaier tidak sanggup memastikannya secara mutlak.

Apa yang sempat diucapkan oleh Krais saat pertama kali mendengar kabar bahwa Encrid telah membantai Beelrog masih membekas sangat jelas di dalam ingatannya layaknya sebuah cap besi membara:

"Begini, Ab... bayangkan kau memiliki sebuah rumah yang sangat megah. Namun mendadak kebakaran hebat meletus di rumah tetangga tepat di sebelah rumahmu. Bukankah kau pasti akan merasa penasaran perihal siapa sosok yang telah menyulut kobaran api tersebut? Jika tidak, bukankah kau setidaknya akan mencoba mencari tahu kenapa api itu sampai bisa berkobar? Tapi katakanlah secara kebetulan kau berhasil menemukan sosok pria yang telah menyulut api itu."

"Lalu kalau aku berhasil menemukannya?"

"Apa yang akan kau lakukan terhadap pria penyulut api itu?"

Dia bisa saja membakar rata rumah megah milikku kapan saja.

Sosok pria yang memegang asumsi kehati-hatian setinggi itu saat ini tengah berdiri mendampinginya.

Abnaier adalah seorang perancang strategi perang yang terbiasa menanam berbagai macam jebakan mematikan di medan tempur.

Dia memiliki kecerdasan intelektual yang telah melesat menyentuh tingkatan yang luar biasa istimewa, jauh melampaui batas manusia biasa.

"Kalau aku yang berada di posisi itu, kurasa aku akan memerintahkannya untuk membakar rata musuh yang berani menebar ancaman terhadap rumahku."

"Ya. Itu memang bisa menjadi salah satu opsi cerdas, atau kau bisa memilih untuk melenyapkan variabel berbahaya itu sejak awal, bukan begitu?"

Teramat sulit bagi Abnaier untuk memprediksi seberapa jauh daya jelajah imajinasi pemikiran milik Krais sanggup melangkah.

'Sebuah rumah dan kobaran api.'

Bagaimanapun, dia tahu betul bahwa sosok yang telah menyulut kobaran api itu adalah Encrid, namun apa yang akan terjadi setelahnya masih merupakan sebuah misteri besar yang gelap.

Suara Krais mendadak membelah lamunan pemikirannya dan berkumandang lantang.

"Kelompok orang yang benar-benar aneh dan eksentrik. Salah satu dari kalian adalah seorang penyihir kan?"

Krais memang tidak berada pada tingkatan seorang ksatria, atau bahkan setara dengan seorang Junior Knight sekalipun, namun ketajaman wawasannya melesat jauh melampaui rata-rata manusia biasa.

Dia langsung menangkap identitas asli dari pihak lawan murni hanya berbekal busana pakaian dan atmosfer yang mereka pancarkan.

Pandangan mata sang pria bertopi lebar seketika beralih menatap ke arah Krais.

Itu adalah sebuah sorot mata yang menyiratkan kebingungan: 'orang aneh macam apa lagi yang muncul kali ini?'

Pria bertopi itu telah melewati begitu banyak peristiwa konyol dan absurd di sepanjang jalan kemari.

Meski begitu, dia langsung menyadari bahwa pria bermata belok di hadapannya ini tampaknya merupakan sosok yang paling rasional, berakal sehat, dan paling masuk akal untuk diajak bernegosiasi secara normal.

"Tebakanmu benar sekali."

Jawaban penegasan itu meluncur keluar dari bibir Esther.

Di saat bersamaan, sang pendekar Greatsword perlahan-lahan bangkit berdiri terhuyung-huyung di atas kedua kakinya.

Dia sudah tidak sanggup lagi mengumpulkan secuil pun keberanian untuk melancarkan serangan fisik.

Setelah dihancurkan dan ditundukkan hanya dalam satu kali pukulan telak tadi, dia sama sekali tidak memiliki hak untuk membantah sepatah kata pun.

Seandainya mereka menggelar duel pertarungan secara resmi dengan persiapan matang, dia pastilah masih memiliki serangkaian senjata pamungkas dan kartu truf untuk melawan, namun saat ini dirinya datang mengemban mandat resmi sebagai seorang utusan diplomatis.

Hal itu bermakna bahwa dirinya dilarang keras bertindak ceroboh menentang kehendak mutlak dari sang majikan agung yang ia layani.

'Guncangan impaknya masih tersisa di dalam tubuhku...'

Lebih dari segalanya, hantaman tinju yang menghujam telak bagian perutnya tadi telah merobek beberapa organ bagian dalamnya.

Itu adalah sebuah hantaman mematikan yang sanggup membunuh manusia biasa seketika di tempat.

Benturan dahsyat yang menghantam raganya pastilah telah tersalurkan secara langsung menuju ke kesadaran sang majikan yang ia layani.

Kemungkinan besar berkat transmisi itulah peristiwa berikutnya terjadi.

Kehendak tekad sang majikan—yang sedari tadi tengah bermain aman di atas batas keraguan—kini telah condong miring ke satu sisi secara mutlak.

Timbangan takdir, di mana opsi pemusnahan dan opsi perangkulan diletakkan secara berdampingan, kini telah resmi terjatuh miring ke satu sisi.

Arah condongnya timbangan itu sama sekali bukan mengarah ke opsi pemusnahan, melainkan berbanding terbalik seutuhnya.

'Rangkul dan bawa pria itu ke pihak kita, tak peduli apa pun yang terjadi!'

Sisi lain kepribadian di dalam lubuk jiwanya secara intuitif menyampaikan mandat mutlak dari sang majikan agung.

Peristiwa itu terjadi tepat saat sang pendekar Greatsword bangkit berdiri tegak lalu dengan tenang menyarungkan kembali pedang besarnya ke sarung di punggungnya.

Sang saudagar membuka mulutnya lebar-lebar.

"Bolehkah saya memperkenalkan diri kami secara resmi di hadapan Anda sekalian?"

Dia berbicara sembari mengedarkan pandangan matanya menyapu seluruh hadirin yang berkumpul, dan setiap gestur serta pembawaan dirinya terasa sangat luwes dan alami.

Dia sudah sangat terbiasa menangani situasi negosiasi tegang semacam ini.

Dia adalah sosok pria yang telah berhadapan dengan ribuan karakter manusia sepanjang hidupnya, entah saat masih mengelola lapak dagang kecil ataupun saat masih menjadi seorang pedagang keliling.

Dia adalah seorang saudagar terpandang yang memikul tanggung jawab besar mengelola salah satu kantor cabang resmi dari serikat dagang nomor satu di Benua, kongsi dagang Lengardis.

Mengingat bahwa dirinya adalah sosok yang telah membuktikan nilai keberadaannya bukan mengandalkan kekuatan militer kasar, melainkan melalui keahlian diplomasi dan negosiasi bisnis.

"Saya berdiri di hadapan Anda sekalian hari ini atas panggilan titah agung dari sang Master of Forbidden Word serta sang Believer in Gold."

Ucapnya sembari membusungkan dadanya dengan bangga, dan di saat bersamaan, sepasang matanya dengan cermat mengamati reaksi dari setiap orang yang mendengarnya.

Bukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan secara terang-terangan menatap wajah mereka satu per satu.

Hal itu bermakna bahwa sang saudagar ingin menguji apakah mereka memahami makna mendalam di balik untaian gelar agung tersebut, dan jika mereka mengetahuinya, bagaimana mereka akan meresponsnya.

Sang manusia binatang masih memperlihatkan raut wajah yang tampak sangat ingin memukulinya sampai babak belur, dan sang pria barbar memasang ekspresi jijik yang seolah berkata 'gelar omong kosong macam apa lagi itu?'

Sosok ksatria bernama Encrid tetap mematung tenang tanpa emosi, dan sang penyihir wanita bernama Esther tengah asyik bergumam lirih sendirian, mengulang-ulang untaian kata 'manusia, sihir, manusia, sihir' tiada henti.

Setidaknya pria berambut cokelat serta pria berambut kehijauan yang berdiri di belakangnya tampak seperti sosok-sosok beradab yang sanggup diajak bernalar menggunakan logika sehat.

Secercah binar rasa penasaran yang halus tampak terpancar di sepasang mata mereka berdua.

Pandangan mata sang saudagar seketika memusat mengunci ke arah mereka.

Seperti kata pepatah kuno, demi menembak jatuh seorang jenderal perang, kau harus membidik dan menembak kuda tunggangannya terlebih dahulu.

'Bidik dan pengaruhi orang-orang yang berdiri di sekelilingnya terlebih dahulu!'

Khususnya pria berambut cokelat tersebut, hanya dalam sekali lirik saja sang saudagar sudah sanggup memastikan bahwa pria itu memancarkan hawa kepribadian yang sangat serupa dengan dirinya sendiri.

Dengan kata lain, dia adalah tipe pria oportunis yang sanggup mengabaikan norma-norma dan konvensi umum demi meraih keuntungan materi yang nyata.

Jika memang demikian kenyataannya, maka mereka berdua pasti sanggup mengobrol dan bertransaksi. Setidaknya pria itu pasti sanggup meneruskan pesan dan kehendak dari sang majikan agung.

Bukankah kenyataan itu merupakan alasan paling mendasar kenapa dirinya rela bersusah payah datang langsung kemari secara pribadi?

"Apakah Anda sekalian mengetahui perihal keberadaan Demon Realm?"

Tanya sang saudagar sembari melempar umpan pancingnya.

Informasi rahasia adalah sebuah komoditas barang dagangan tak kasatmata yang teramat bernilai tinggi.

Dan memikat calon pembeli dengan cara memberikan secuil sampel gratis dari produk tersebut adalah prinsip paling mendasar di dalam dunia perdagangan.

Dia mendongkrak nilai tawar dirinya sendiri dengan cara membeberkan informasi-informasi tabu yang belum pernah diketahui oleh pihak lawan sebelumnya.

Dua utusan lainnya dengan tenang beralih menjadi penonton pasif.

Ditinjau dari keterampilan mengolah kata dan bersilat lidah, pria tambun inilah yang paling mahir di antara mereka bertiga, sehingga mereka membiarkannya memegang kendali panggung.

Tentu saja seandainya sang saudagar mencoba memainkan trik kotor yang merugikan di tengah jalan, mereka berdua tidak akan ragu menghentikannya seketika.

Sang saudagar memang sama sekali tidak memiliki kekuatan militer fisik, namun kedua rekannya memiliki kekuatan tempur yang nyata.

Fakta perlindungan itu memberikan rasa aman dan keleluasaan psikologis yang cukup bagi sang saudagar.

"Di dalam belantara Demon Realm, ada begitu banyak entitas berkuasa yang biasa kalian sebut sebagai para demon atau iblis."

Kata 'demon' atau iblis bukanlah sebuah istilah hinaan yang merendahkan, namun istilah itu pun sama sekali bukan merupakan sebutan yang bernada penghormatan.

Para penghuni asli dari peradaban Demon Realm menyebut diri mereka menggunakan sebutan yang sangat berbeda, namun sama sekali tak ada kebutuhan mendesak untuk membeberkannya di tempat ini.

Sang saudagar sangat memahami bagaimana cara memilih kata-katanya dengan bijak.

"Yaitu The Burning Crow, The Promiser of Plenty, The Heat-Bearing Companion, The Pure White Destroyer, serta The Mistrustful Loner."

Sang saudagar menjeda kalimatnya sesaat dengan tempo yang teramat pas lalu melanjutkan penjelasannya dengan nada khidmat.

"Tampaknya Anda sekalian baru pertama kali mendengar deretan nama-nama agung ini. Semua nama tersebut adalah gelar-gelar kehormatan yang merujuk pada entitas-entitas penguasa tertinggi dari apa yang selama ini kalian sebut sebagai para iblis agung."

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.