Bab 829: Themares
"Themares."
Seekor Dragonkin adalah entitas yang ditakdirkan untuk melangkah sendirian.
Oleh karena itu, mereka juga menamai diri mereka sendiri.
Themares, tepat sebelum dirinya melangkah keluar meninggalkan naungan perlindungan orang tuanya setelah melewati masa kanak-kanak, menyematkan sebuah nama untuk dirinya sendiri menggunakan bahasa kuno yang baru saja bangkit di dalam jiwanya.
Nama itu memiliki arti 'esensi kehidupan'.
Dalam satu sisi, itu adalah nama yang sangat selaras dengan karakteristik rasial yang disandang oleh seekor Dragonkin.
'Bukankah sebagian besar dari kaum kami bakal menamai diri mereka dengan makna serupa?'
Themares sempat memikirkan hal itu kala dirinya memilih nama tersebut.
Sepasang mata istimewa, organ paru-paru istimewa, lambung istimewa, lapisan kulit istimewa, serta bakat bawaan yang teramat istimewa.
Mereka adalah ras agung yang terlahir ke dunia dengan segala kesempurnaan fisik.
Namun meski begitu, sudah menjadi hukum mutlak semesta bahwa tidak ada pencapaian yang bisa diraih tanpa melalui proses pembelajaran yang tekun.
Setelah menyadari prinsip mendasar tersebut, Themares mempelajari segala hal dengan penuh ketulusan.
Tentu saja, andai Encrid berkesempatan menyaksikan perjalanan hidupnya, pria itu pasti bakal mencibir sinis, 'Ketulusan? Keee-tuuu-luu-saaan macam apa?!'.
Namun untuk ukuran sebuah ras yang menjalani rentang eksistensi nyaris abadi, usaha yang dia kerahkan sejatinya sudah tergolong sangat luar biasa.
Dan Themares telah hidup melintasi kurun waktu yang teramat panjang.
Begitu lamanya hingga menghitung pergantian tahun tak lagi memiliki makna baginya.
'Untuk apa sebenarnya aku harus hidup?'
Seekor Dragonkin selalu bergulat dengan perenungan eksistensial semacam itu.
Mereka adalah para pengembara nomaden yang menjelajahi dunia demi memburu alasan di balik keberadaan hidup mereka.
Mereka tidak mudah tergiur oleh hawa nafsu, tidak memiliki hasrat serakah, dan tidak menyimpan ambisi muluk.
Itulah sebabnya mereka ditakdirkan menjadi kaum yang berjalan sendirian.
Dan justru karena watak bawaan yang hampa itulah, mereka terpaksa harus terus mengembara demi mencari secuil alasan untuk tetap bernapas.
Persis seperti sebuah kapal layar yang membutuhkan sebongkah jangkar kokoh agar bisa tertambat di pelabuhan, mereka pun membutuhkan sebuah jangkar batin demi menjalani kehidupan.
Kecerdasan intelektual yang terlampau tinggi pantang membiarkan mereka menjalani hidup yang hampa tanpa arti.
Oleh sebab itu, di mata makhluk lain, kaum Dragonkin terkadang tampak hidup dengan keagungan martabat sebagai senjata mereka, namun di sisi lain terlihat menjalani hari-hari dengan keanehan yang sulit dipahami oleh akal sehat.
"Setiap Dragonkin memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain."
Karena seekor Dragonkin selalu melangkah sendirian, mereka tidak memiliki kemiripan fisik maupun watak antara satu individu dengan individu lainnya.
Di saat ras-ras lain saling meniru dan menyerupai satu sama lain lewat interaksi komunal, kaum Dragonkin hanya memancarkan karakteristik bawaan unik milik mereka sendiri alih-alih keseragaman rasial.
Mereka tidak memiliki kesamaan, namun sekaligus menjadi satu-satunya ras yang memiliki ekspresi kehampaan (ennui) yang serupa.
Itulah kesimpulan hipotesis yang diajukan dengan sangat hati-hati oleh para cendekiawan terkemuka di daratan benua.
Kesimpulan itu separuh benar dan separuh keliru.
Sebab mereka sejatinya tetap memiliki satu titik temu yang sama.
Secara ringkas, titik temu itu dapat didefinisikan sebagai sebuah jangkar penambat jiwa.
Lebih tepatnya, sebuah jangkar yang memungkinkan mereka untuk terus melayari samudra kehidupan.
Jika kau tidak memiliki hawa nafsu dan tidak menyimpan sekerat pun keinginan, lantas apa alasanmu untuk tetap hidup di dunia?
Dengan apa kau akan menambatkan kapal layar eksistensimu?
Kaum beastkin mabuk kepayang oleh birahi dan nafsu makan, sementara bangsa katak tak pernah sanggup menahan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan.
Bangsa elf mendambakan tatanan sosial yang stabil dan harmonis, sedangkan bangsa kurcaci terseret oleh gairah abadi untuk mencipta karya tempaan.
Bangsa raksasa adalah ras yang terlahir dengan naluri alami untuk membantai.
Bukan tanpa alasan mereka kerap dijuluki sebagai binatang buas yang mabuk darah.
Umat manusia terbuai oleh seluruh ragam hawa nafsu tersebut, namun sekaligus sanggup melangkahi dan menaklukkannya.
Sedangkan kaum Dragonkin sama sekali tidak memiliki hawa nafsu.
Oleh karena itu, mereka menghujamkan jangkar bernama kewajiban (duty) demi menambatkan bahtera hidup mereka.
Mereka menetapkan sebuah tugas suci yang wajib dituntaskan, menjadikannya sebagai poros tujuan hidup, lalu menjalaninya sekuat tenaga demi menepis rasa hampa yang membunuh perlahan.
Karena mereka adalah makhluk yang hidup abadi, mereka mutlak membutuhkan sebuah alasan nyata untuk tetap bertahan di dunia fana ini.
Dan karena mereka hidup abadi, sebaliknya, mereka mustahil bisa digoyahkan dengan mudah oleh godaan nafsu ataupun keinginan sesaat.
Hidup adalah gelombang badai samudra yang ganas; ombak-ombak pasang akan terus menghantam tanpa henti.
Hanya dengan bersikap kebal dan mati rasa terhadap segala gejolak duniawi itulah mereka sanggup bertahan hidup melintasi keabadian.
Haruskah hal ini disebut sebagai takdir rancangan Sang Pencipta?
Sikap mati rasa adalah salah satu syarat mutlak bagi eksistensi kehidupan abadi.
Namun, bersikap mati rasa tidak melulu membawa keuntungan.
Jika mereka tenggelam terlalu dalam ke dalam jurang kehampaan, seekor Dragonkin bakal terjerumus ke dalam tidur panjang yang teramat lelap hingga mustahil bisa terbangun kembali.
Lantas apa sebutan yang paling tepat untuk menggambarkan tidur lelap yang tak pernah berujung pada kebangunan?
Tentu tidak keliru jika hal itu didefinisikan sebagai sebuah kematian.
Makhluk hidup yang sanggup mati kapan saja—demikianlah hakikat sejati dari seekor Dragonkin.
'Kewajiban.'
Dia menancapkan jangkar penambatnya.
Di masa lampau, Themares pernah menyaksikan jejak-jejak purba yang ditinggalkan oleh sang Salamander dan menyadari bahwa entitas agung tersebut tidak pantas dicap sebagai monster perusak biasa.
'Pikirannya tengah dikendalikan oleh kekuatan asing.'
Oleh siapa?
Menyingkap dalang di balik konspirasi itu adalah tugas masa depan yang teramat jauh.
Sang Salamander adalah sesosok Binatang Gaib, seekor Phantom Beast.
Hanya fakta itulah yang dia pahami dengan pasti.
Dan sejak saat itulah Themares menemukan jangkar hidupnya demi tetap bertahan di dunia nyata.
'Aku akan melindunginya.'
Jika diterjemahkan ke dalam sudut pandang manusia, tindakan itu tak ubahnya sebuah hiburan pengisi waktu luang.
Persis seperti bermain kartu bersama kawan-kawan setelah menuntaskan seharian kerja keras yang melelahkan.
Itu bukanlah hal yang teramat krusial, dan tidak akan menjadi kiamat andai dirinya tidak melakukannya, namun hal kecil itu telah menjelma menjadi alasan tunggal baginya untuk tetap hidup.
Sama halnya seperti permainan kartu yang diselingi lelucon renyah dan segelas bir dingin sanggup membuat beban kerja berat terasa lebih ringan, Themares telah menemukan kewajiban sucinya.
Dan bagi seekor Dragonkin, sebuah kewajiban adalah sumpah mutlak yang wajib dijaga bahkan jika harus menebusnya dengan nyawa.
Dia berniat tidak hanya melindungi sang Phantom Beast bernama Salamander, melainkan turut menjaga kehendak murni yang bersemayam di dalam jiwanya.
Kewajiban itu kian meluas, dan tujuan hidup Themares menjadi teramat jelas.
Memastikan tak ada seorang pun yang melukai sang Salamander, sekaligus memastikan tak ada manusia yang tewas dibantai secara langsung oleh sang Salamander.
Tugas itu memiliki arti mendalam justru karena tingkat kesulitannya yang teramat tinggi.
Dia mungkin tidak sanggup merasakan ledakan kegembiraan, namun dia bisa mencecap secuil rasa kepuasan batin yang menenangkan.
Dan perhitungannya sangat jelas.
Dia menarik garis batas yang tegas.
'Gumpalan makhluk api yang menyebar di sekitar sang Phantom Beast tercipta tanpa kehendak sadar.'
Oleh karena itu, kawanan monster api liar itu berada di luar yurisdiksi kewajibannya.
Hanya pengerahan kekuatan destruktif secara langsung dari raga sang Phantom Beast Salamander yang masuk ke dalam lingkaran tugas dan tanggung jawabnya.
Demikianlah kalkulasi logis yang dirumuskan oleh Themares.
Dan dia tengah menghabiskan kurun waktu yang tak terhitung lamanya demi menjalankan rutinitas tersebut.
Seekor Dragonkin pantang terpengaruh oleh hawa nafsu ataupun keinginan apa pun.
Secara umum memang demikian adanya.
Dan fakta bahwa hal itu berlaku secara umum mengindikasikan adanya sebuah pengecualian langka.
Selain jangkar kewajiban, hanya ada satu hal tunggal di dunia ini yang sanggup memikat rasa kagum dari seekor Dragonkin.
Jika diungkapkan dengan kata-kata, hal itu dapat didefinisikan sebagai sebuah 'impian agung'.
Dan andai Themares diminta menjelaskannya menurut caranya sendiri, hal itu dapat disebut sebagai...
'Sebuah kehendak batin yang tampak mustahil bisa dipatahkan oleh apa pun.'
Dia sempat berjumpa dengan segelintir makhluk cerdas semacam itu beberapa kali di sepanjang lembaran hidupnya.
Dan Themares selalu menaruh rasa hormat yang mendalam kepada mereka semua.
Mereka adalah entitas mulia yang pantas dihormati, sosok-sosok istimewa yang memancarkan kehendak Will yang teramat murni, melampaui sekat kebaikan maupun kejahatan duniawi.
Sosok yang melangkah mantap menyongsong sebuah cita-cita ideal, bukan digerakkan oleh hawa nafsu serakah.
Seekor Dragonkin mustahil sanggup membenci ataupun memusuhi makhluk-makhluk berjiwa luhur semacam itu.
Kaum Dragonkin hanya sudi memihak murni berlandaskan satu alasan tersebut.
'Penghormatan terhadap keteguhan kehendak.'
Jiwa mereka berkilau terang.
Mereka bersinar benderang laksana taburan bintang di langit malam sembari membakar lembaran hidup mereka dengan penuh kobaran semangat.
Hal yang hanya sanggup dirasakan oleh seekor Dragonkin lewat paksaan menancapkan jangkar kewajiban, terpancar secara alami dari dalam diri sosok-sosok yang sanggup menyinari jalan hidup mereka sendiri.
Dan seekor Dragonkin dianugerahi kepekaan indra untuk menangkap dan mengenali kilau jiwa tersebut.
Itulah alasan mendasar mengapa Themares menaruh rasa kagum tanpa pamrih, disusul rasa penasaran dan kenikmatan bertarung, saat saling beradu pedang dengan sosok Encrid sesaat lalu.
Sama halnya seperti bangsa katak yang menyukai keelokan rupa dan bangsa elf yang memuja kemurnian aura, seekor Dragonkin bakal merasa sangat bahagia ketika dipertemukan dengan seseorang yang memadati jiwanya dengan keteguhan Will yang sangat langka dijumpai di muka bumi.
Sensasinya serupa dengan mengagumi sebuah mahakarya seni yang agung, atau menikmati alunan simfoni musik yang sanggup menggetarkan palung hati terdalam.
Jika diungkapkan secara lebih lugas, itu adalah sebuah candu yang memabukkan.
Meskipun rasa kagum itu pantang melangkahi batas kewajiban sucinya.
Tak ada dalih kepahlawanan, tak ada keadilan semu, dan tak ada sekat moralitas.
Namun mereka juga pantang memancarkan niat jahat ataupun hawa haus darah.
Bagi seekor Dragonkin, hal terpenting di dalam hidup adalah menuntaskan kewajibannya.
Itu sangat alami, sebab kewajiban itulah satu-satunya alasan mengapa mereka tetap bernapas.
Themares membaca situasi medan laga sembari memproses berbagai lapisan pemikiran secara simultan.
Di masa lampau, saat sang Phantom Beast mengamuk aktif, makhluk-makhluk sihir yang terbuat dari api hidup tercipta dalam jumlah melimpah di sekeliling raganya, dan siapa pun yang berani melangkah mendekat ke arah Salamander bakal langsung terbuai oleh ilusi psikologis dan kehilangan kewarasan jiwa mereka.
Itu adalah salah satu otoritas magis unik milik sang monster purba.
Themares sama sekali tidak berniat membantai siapa pun yang berdiri di belakang punggungnya.
'Kesadaran batin milik sang Phantom Beast telah terkontaminasi.'
Mengapa?
Dia tak sanggup mengetahuinya saat ini.
Seekor Dragonkin tidak memiliki kemampuan untuk membelah raganya menjadi ratusan klon bayangan.
Dia tidak sanggup memanipulasi mantra sihir secara bebas.
Dia hanya bisa mengerahkan kekuatan biologis bawaannya sendiri.
Itulah sebabnya dia sempat kecolongan saat bentuk pemikiran parasitik menyusup masuk mencemari kesadaran sang monster.
'Sebuah tipu muslihat licik.'
Namun intuisinya sanggup merasakan kejanggalan tersebut dengan jelas.
Seseorang pasti telah sengaja merekayasa bencana ini dari balik layar.
Menyingkap motif di balik konspirasi itu adalah urusan nanti.
Untuk saat ini, dia wajib menuntaskan krisis yang tengah terpampang di depan matanya.
Themares khususnya merasa sangat sayang andai pria berpedang yang baru saja bertukar tebasan maut dengannya harus tewas konyol di tempat ini.
Dia sudah terlanjur menaruh rasa suka yang mendalam terhadap pemuda itu.
'Merasa sayang?'
Apakah dirinya pernah merasakan emosi semacam itu sebelumnya di sepanjang hidupnya?
Sensasi batin ini terasa sangat asing baginya.
Tentu saja, menganalisis gejolak emosi baru ini adalah perkara yang bisa dia renungkan di kemudian hari.
Untuk saat ini, dia wajib memastikan agar orang-orang yang tengah terbuai oleh jeratan ilusi di belakangnya tidak berakhir menjadi santapan kobaran api.
Tepat saat dirinya memantapkan tekad tersebut, salah seorang anggota rombongan yang berdiri di belakang mendadak membuka suaranya.
"Enki."
Suara itu milik sang penyihir wanita berambut hitam.
Gadis itu telah berhasil melangkahi dan mematahkan ilusi emosi yang ditebarkan oleh sang Salamander dengan sangat mudah, lalu membuka kedua matanya kembali.
Proses pematahan ilusi itu terjadi benar-benar dalam satu kedipan mata.
Dan detik berikutnya, Themares terpaksa harus menyaksikan sebuah pemandangan mustahil yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya.
"Omong kosong macam apa lagi ini?!"
Suara gerutuan kasar itu meluncur dari mulut si manusia berambut abu-abu.
Pria itu rupanya turut melangkahi jeratan ilusi tersebut dalam sekejap.
Dan dia bukan satu-satunya orang yang berhasil melakukannya, sehingga sang Dragonkin merasakan sentakan keterkejutan yang teramat langka di sepanjang lembaran eksistensinya.
Esther baru-baru ini telah merasakan sensasi di mana dunia mantranya bertumpang-tindih dengan realitas fisik melalui gerbang Fantasia.
Sangat sulit melupakan momen magis ketika gelombang euforia yang melampaui rasa takjub meluap membanjiri jiwanya.
Namun apakah bijak jika dirinya membiarkan jiwanya mabuk kepayang oleh ilusi tersebut?
Tentu saja tidak.
Garis batas di antara realitas nyata dan dunia ilusi harus ditegaskan secara mutlak.
Seorang penyihir sejati wajib tahu bagaimana cara menarik garis pemisah tersebut.
'Terbuai oleh manisnya ilusi sama halnya seperti terperangkap di dalam labirin tanpa jalan keluar.'
Jika seseorang merasa puas hidup di dalam fatamorgana dan ilusi semu yang mereka ciptakan sendiri, mereka tak akan lagi sanggup menemukan alasan untuk bertahan hidup di dunia nyata.
Gadis itu telah berhasil menaklukkan Fantasia.
Oleh karena itu, menghancurkan, meremukkan, dan tersadar dari jeratan ilusi murahan yang dipancarkan oleh sang Salamander adalah perkara yang sangat mudah baginya.
Sosok mendiang gurunya sempat menampakkan wujudnya di dalam ilusi tersebut sembari melontarkan kata-kata penuh dendam.
'Guruku bukanlah tipe pria yang sudi melontarkan ocehan picik semacam itu, bahkan andai seorang necromancer membangkitkan jasadnya sekalipun.'
Ilusi itu terlalu ceroboh dan dangkal.
Itu bukanlah sihir manipulasi tingkat tinggi yang sanggup mengobrak-abrik struktur psikologis manusia, melainkan sekadar getaran resonansi kasar yang mengguncang kestabilan emosi sesaat.
Tentu saja, pertahanan mental manusia biasa bakal hancur lebur hanya dengan guncangan tersebut, namun tak ada satu pun manusia yang melangkah sejauh ini ke dalam pegunungan yang bisa dicap sebagai orang biasa.
"Omong kosong macam apa lagi ini?!"
Gema suara geram milik Rem terdengar menggelegar.
Merespons panggilan Esther, Encrid menolehkan kepalanya santai lalu bertanya balik, "Ada apa?"
Nada bicaranya terdengar sangat tenang tanpa beban.
Dia telah melangkahi jeratan ilusi dan bayang-bayang masa lalunya dengan sangat bersih.
"Aku tahu betul bahwa waktu bagi Tuhan untuk memanggil jiwaku belumlah tiba," gumam Audin mantap, sembari memancarkan pendaran cahaya suci putih bersih dari sekujur tubuhnya diiringi lantunan doa takzim.
"Akulah pemandu jalan terhebat di seantero benua ini," racau Ragna melontarkan omong kosong khas miliknya.
"Sudah berapa kali aku berhadapan dan bertarung hidup-mati melawan para iblis penguasa? Kau pikir aku bakal tumbang hanya oleh ilusi murahan di level ini?" Shinar mencibir dingin menatap sisa-sisa kabut ilusi.
Tentu saja, karena dirinya adalah seorang elf, seseorang harus memasang telinga dengan sangat teliti hanya untuk menangkap secuil getaran emosi di balik ucapannya.
Sesosok iblis sejati selalu menggerogoti stabilitas mental lawannya sejak detik pertama kau bertatapan mata dengannya.
Ambil contoh sosok Beelrog; andai kau gagal menahan dominasi aura dan intimidasi mutlak miliknya, organ paru-parumu bakal langsung menciut hancur dan kau akan mati seketika.
Itu adalah kematian instan yang datang tanpa peringatan.
Lantas bagaimana dengan iblis yang sempat berniat menjadikannya sebagai pengantin di masa lalu?
Tebasan pedang beracun yang sanggup merenggut nyawa hanya lewat goresan tipis memang teramat berbahaya, namun bukankah pada akhirnya iblis itu berniat menelan seluruh kota peradaban para elf ke dalam kegelapan?
Membayangkan kemungkinan skenario terburuk bukanlah keahlian eksklusif milik Krais seorang.
Bangsa elf, alih-alih meluapkan histeria emosional mereka, memilih menyanyikan kidung keputusasaan dan duka lara di palung hati terdalam mereka.
Seluruh penghuni kota peradaban elf telah melewati masa-masa kelam tersebut.
Maka, jeratan ilusi di tingkatan ini terasa sangat menggemaskan jika dibandingkan dengan era di mana kota tercinta mereka tengah digerogoti dan meregang nyawa menuju kepunahan.
Dan tentu saja, tak ada urgensi untuk meragukan keteguhan Will milik Encrid.
Pria itu mustahil bisa digoyahkan oleh trik murahan semacam ini.
Dia akan terus melangkah maju bahkan setelah menatap langsung paras anak kecil yang gagal dia lindungi di masa lalu.
Andai dirinya tak sanggup melangkahi rasa bersalah itu, dia pasti sudah terperangkap dan membusuk di dalam salah satu pusaran 'hari ini' sejak dahulu kala.
Sama sekali tidak ada kesulitan baginya untuk membedakan antara realitas nyata dan ilusi semu.
Encrid tidak pernah membiarkan dirinya mabuk oleh rasa kemahakuasaan.
'Apakah Dunbakel di garis belakang bakal sedikit goyah?'
Pria itu bahkan memiliki cukup ruang luang di kepalanya untuk memikirkan kondisi rekannya.
Bangsa raksasa dan kaum beastkin secara biologis memang sangat rentan terhadap trik manipulasi ilusi semacam ini.
Jika ditinjau dari kapasitas kekuatan fisik murni, Dunbakel kemungkinan besar sanggup mengimbangi kedahsyatan tenaga milik Theresa, serta tidak akan terdesak kalah andai diadu melawan kombinasi Ropord dan Fel.
Tentu saja, jika duel itu berubah menjadi pertarungan hidup-mati, menebak siapa yang bakal keluar sebagai pemenang adalah hal yang sia-sia, namun...
'Meski begitu.'
Dunbakel pasti sanggup melangkahinya.
Di belantara Wilayah Timur tempo hari, gadis beastkin itu telah belajar bagaimana cara mengendalikan dan menaklukkan rasa takut di dalam hatinya. Ketahanan mentalnya jelas telah mengalami peningkatan pesat.
Bahkan andai dirinya sempat terdistraksi oleh halusinasi visual dan auditori sesaat, dia pantang tumbang menyerah kalah.
Rekan-rekannya yang lain pasti sanggup mengatasi masalah tersebut dengan kemampuan mereka sendiri.
"Si beastkin bau itu mungkin bakal sedikit tersandung, tapi kekuatannya jelas bukan tandinganku," dengus Rem dari atas pohon.
Sosok pria barbar itu memang tampak sangat kasar di luar, namun menyimpan perhitungan yang teramat teliti di dalam benaknya.
Kau bisa menyimpulkan fakta tersebut dari kenyataan bahwa pria itu tengah mencemaskan kondisi Dunbakel detik ini.
Dia sengaja menyebut nama sosok yang paling membuat hatinya gundah.
Hanya saja, karena cara pria itu mengekspresikan perhatiannya teramat brutal dan kasar, hal itu selalu terasa sangat menyakitkan bagi Dunbakel.
"Ceroboh," suara ilusi samar milik sang Ferryman mendadak berbisik di telinga Encrid.
Benar, ilusi ini memang sangat ceroboh.
Kobaran api yang kini menyelimuti langit tampak bagaikan hamparan awan merah darah yang membara hebat.
Lautan lidah api berwarna merah saga menutupi seluruh kubah angkasa.
Lebih presisi lagi, akan jauh lebih tepat jika dikatakan bahwa kobaran api raksasa tengah terbentang luas memenuhi cakrawala, bukan sekadar gumpalan awan biasa.
"Kobaran api itu akan segera runtuh menghujam dari atas langit."
Themares, sang Dragonkin, membuka suaranya dengan nada tenang.
Dan dia tidak menghentikan ucapannya sampai di situ.
"Namaku adalah Themares."
"Aku adalah seekor Dragonkin."
"Dan kalian adalah umat manusia."
Kini setelah sang Salamander purba telah bangkit sepenuhnya dari tidur panjangnya, tugas suci yang terpampang di hadapan sang Dragonkin telah teramat jelas dan nyata.











