Bab 830: Aliansi Sementara
Shinar membuka suaranya sembari menyimak untaian kata yang keluar dari mulut sang Dragonkin.
"Dia tengah menyusun ulang tata bahasa di dalam kepalanya."
Itu adalah sebuah proses pengulangan bertahap, layaknya seseorang yang tengah menggali kembali lembaran memori masa lalu yang telah lama terkubur.
Pria itu tengah menarik keluar serpihan ingatan yang nyaris terlupakan satu per satu—pengetahuan kuno yang dulunya pernah dia pelajari dan kuasai dengan sempurna, namun telah sekian lama tidak pernah dia gunakan dalam percakapan nyata.
Prosesnya persis seperti memanaskan sebilah mata pisau tumpul di atas tungku perapian demi mengasah kembali ketajamannya.
Bagi entitas-entitas yang menjalani hidup melintasi keabadian waktu, keahlian semacam itu adalah keterampilan hidup yang mutlak diperlukan.
Sebuah kehidupan abadi tanpa kemampuan untuk melupakan masa lalu justru bakal menjelma menjadi siksaan neraka yang teramat menyakitkan.
Di antara barisan tetua agung bangsa elf di kota Kiraheis yang sangat jarang menampakkan batang hidung mereka ke hadapan publik, ada segelintir sosok yang memiliki karakteristik serupa.
Mereka adalah entitas purba yang bahkan tidak sudi keluar dari peraduan mereka saat kota mereka tengah berada di ambang kehancuran akibat ancaman iblis.
Itu bukan karena mereka bersikap apatis atau berhati dingin, melainkan karena kesadaran mereka telah separuh melangkah masuk ke dalam dimensi tidur abadi.
Sangat jarang salah satu dari tetua purba itu terbangun dari tidurnya, dan apa yang tengah diperlihatkan oleh sang Dragonkin saat ini sangat mirip dengan fenomena langka yang pernah disaksikan Shinar di masa lalu.
Sang Dragonkin, persis seperti tebakan Shinar, berhasil merangkai kembali memorinya lalu kembali membuka suaranya.
"Larilah. Kalian boleh melarikan diri dari tempat ini sekarang. Aku yang akan membendung amukannya."
Mata pisau yang tadinya tumpul kini telah terasah sangat tajam.
Struktur tata bahasanya terdengar sangat jernih, dan susunan kalimatnya tersusun dengan teramat logis.
Namun tak ada satu pun orang di hadapannya yang bereaksi panik merespons peringatan sang Dragonkin.
Mereka semua hanya melirikkan pandangan mereka ke arah sosok komandan mereka.
Bahkan seorang Shinar sekalipun memilih berdiri tenang sembari menanti instruksi dari pria itu.
Encrid baru saja saling bertukar tebasan maut dengan entitas misterius ini.
Sebuah dialog yang dirajut lewat benturan bilah pedang, haruskah disebut demikian?
Melalui pertarungan singkat tadi, dia telah menangkap secuil impresi batin dari lawannya, dan apa pun yang diucapkan oleh sang Dragonkin, Encrid hanya akan menyuarakan apa yang wajib dia katakan.
"Kau ini sosok yang cukup aneh ya."
Kau baru saja bertarung sengit melawanku sesaat lalu, dan sekarang tiba-tiba kau menawarkan diri untuk membendung amukan monster demi kami?
Bukankah sedari awal kau sendiri yang berdiri menghadang jalanku demi mencegahku membantai sang Salamander?
Bobot kekuatan yang tersalur di bilah pedang putihnya tadi terlalu berat untuk dicap sebagai sekadar lelucon iseng sesaat.
Lawan di hadapannya ini bukanlah tipe pria yang gemar melontarkan kebohongan murahan.
Demikianlah penilaian intuitif yang ditarik oleh Encrid.
Bahkan jika intuisinya tidak selalu benar seratus persen, dalam aspek penilaian watak petarung, dia memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Themares, yang menilai bahwa mereka masih memiliki sedikit waktu luang sebelum bencana jatuh menimpa, merespons perkataan Encrid dengan tenang.
"Apakah aku seaneh itu?"
Sebuah pertanyaan balik yang meluncur datar.
Themares tahu betul bahwa dirinya adalah sosok yang istimewa murni karena garis darahnya sebagai seekor Dragonkin.
Namun pada detik ini, dia justru merasa bahwa manusia yang tengah berbicara di hadapannya ini jauh lebih aneh dan ganjil dibanding dirinya.
Lihatlah keteguhan Will yang memancar dari dalam raganya.
Encrid bukanlah satu-satunya petarung yang sanggup menakar kapasitas lawan lewat adu pedang.
Terlebih lagi, seekor Dragonkin dianugerahi kepekaan indra yang jauh melampaui batas normal makhluk hidup lainnya.
'Seorang manusia yang teramat unik.'
Demikianlah impresi batin yang tertanam di benak Themares saat menatap sosok Encrid.
Manusia itu sama sekali tidak tergoyahkan.
Dia tampak bagaikan sebuah kapal layar kokoh yang sanggup berlabuh tenang di tengah samudra luas tanpa membutuhkan sebutir jangkar pun.
Dia tampak sanggup bertahan tegak meski diterjang oleh badai prahara terhebat sekalipun.
Sebuah fenomena yang sangat misterius.
Dan misteri agung itulah yang menggelitik palung jiwa terdalam sang Dragonkin.
Sebuah impian muluk, sesosok makhluk berakal budi yang jiwanya dipadati oleh keteguhan Will murni—dia adalah seorang manusia yang benar-benar memberikan kenikmatan batin saat dipandang.
Sosoknya sangat menarik, menyuntikkan rasa senang, serta melahirkan gelombang ekspektasi yang membuncah.
Apa sebenarnya kewajiban suci yang diemban oleh pria ini, dan fondasi macam apa yang menopang keteguhan tekadnya hingga sekokoh ini?
Ini adalah kali pertama di sepanjang hidupnya sang Dragonkin merasakan rasa penasaran yang sedemikian hebat, dan bagi siapa pun di dunia ini, pengalaman pertama selalu meninggalkan kesan yang teramat mendalam.
Sensasinya persis seperti raut wajah takjub dari seorang anak kecil yang baru pertama kali mencicipi manisnya sepotong kue lezat di dalam hidupnya.
Dia memang pernah berjumpa dengan segelintir sosok berjiwa teguh di masa lalu dan menaruh rasa hormat kepada mereka, namun ini adalah kali pertama dirinya merasakan stimulasi batin sedahsyat ini.
Apakah ini sensasi saat seseorang yang biasanya hanya memandang kolam kecil dan danau tenang, mendadak dipertemukan langsung dengan luasnya samudra lepas?
Gelombang kepuasan batin sebesar itulah yang kini tengah membuncah di dalam rongga dada Themares.
Itulah alasan mengapa dirinya sangat berharap agar pemuda berpedang ini tidak meregang nyawa di tempat ini.
Sesosok manusia yang sanggup memicu letupan emosi sekuat ini di dalam diri seekor Dragonkin benar-benar teramat langka di muka bumi.
Sangat-sangat langka.
Tepat di hadapannya, terlepas dari tatapan mata kuning bermata reptil yang tengah menatapnya lekat-lekat, alur berpikir Encrid tengah memproses lapisan analisisnya sendiri.
Salah satunya adalah mengkaji ulang jalannya duel singkat mereka sesaat lalu.
Ada dua alasan mendasar mengapa dirinya menyebut pria ini aneh.
Pertama adalah kepribadiannya, dan yang kedua adalah kapasitas ilmu bela dirinya.
Lebih presisi lagi, haruskah disebut sebagai keahlian tempurnya yang terus berevolusi secara dinamis di tengah duel?
'Apakah dia sengaja menyembunyikan kekuatannya tadi?'
Satu cabang pemikirannya membedah dan memutar ulang rekaman memori pertempuran tadi.
Encrid mengingat dengan sangat jelas setiap manuver yang dipamerkan oleh lawannya.
Pedang panjang putih itu meliuk lentur menepis serangannya, dan sebelum itu sang lawan sempat mengerahkan daya koersif mutlak melalui Word of Command.
'Bukan, lebih dari itu, bukankah ritme pertarungan pria ini sedari awal terasa sangat canggung?'
Benar.
Ritme duelnya memang sempat terasa sangat janggal.
Bagaimana cara mendeskripsikan kejanggalan itu secara lebih sederhana?
Jika harus dirangkum menjadi satu kalimat padat...
'Keahliannya dalam menakar jarak pertarungan mengalami peningkatan pesat seiring berjalannya duel.'
Pada benturan pertama, kepekaan jarak tempur pria itu benar-benar sangat berantakan.
Dia murni menambal celah fatal tersebut berkat kemampuan fisik monsternya yang di luar nalar.
Menakar jarak serang adalah fondasi paling mendasar di dalam sebuah pertarungan fisik.
Kaidah itu berlaku mutlak, baik saat kau menggenggam sebilah pedang tajam ataupun melepaskan kepalan tinju telanjang.
Dan teknik menakar jarak milik pria itu terus berubah menjadi semakin sempurna.
Bermula dari titik krusial tersebut, segala aspek gerakannya mulai mengalami perubahan drastis.
'Posisi pijakan kakinya dan cara dia merentangkan pundaknya.'
Setelah kepekaan jaraknya kembali, postur kuda-kudanya ikut berubah menjadi sangat kokoh.
Itu adalah bentuk kuda-kuda yang asing di matanya, namun diikuti oleh pergerakan-pergerakan taktis yang patuh pada logika dasar pertempuran.
Ilmu berpedang adalah disiplin yang sengaja dikembangkan demi bertarung, meraih kemenangan, dan membantai musuh.
Dan lawannya telah mengeksekusi aspek mematikan tersebut dengan sangat setia.
'Tiga serangan terakhirnya tadi benar-benar sangat tajam dan presisi.'
Khususnya pada serangan ketiga terakhir, di mana Encrid bahkan terpaksa harus menghindar dalam jarak selisih sehelai rambut.
Bilah pedang yang meliuk lentur menyerupai ular putih itu membidik lurus ke arah lengan bawahnya dengan teramat presisi.
'Menangkis mata bilah sembari menebas balik.'
Itu adalah gerakan yang sempurna layaknya buku panduan, namun diluncurkan setengah ketukan lebih cepat dari ritme normal.
Pria itu mempermainkan tempo bertarung dan memadukannya dengan jalinan teknik tinggi.
Sensasinya seolah dirinya tengah berhadapan dengan seseorang yang telah khatam membaca buku panduan ilmu pedang, melatih setiap babnya secara terpisah, lalu merangkainya kembali menjadi sebuah kesatuan yang mematikan.
'Apakah penilaianku ini sudah benar?'
Pria itu memang seunik itu.
Dari mana sebenarnya keunikan ganjil itu berasal?
Apakah pria itu sudah terlalu lama tidak bertarung di medan nyata, sama persis seperti dirinya yang sudah sekian lama tidak menggunakan bahasa lisan?
Jadi, apakah saat ini dirinya tengah menjalani proses pemulihan insting tempur?
Jika memang demikian adanya...
"Ayo kita bertanding satu ronde lagi setelah masalah ini selesai."
Seluruh ksatria yang berdiri di belakang mendengar ajakan tersebut, namun tak ada seorang pun yang menyela.
Ini bukanlah kali pertama atau kedua Encrid bertindak impulsif semacam itu.
Memperlihatkan rasa suka tanpa pamrih kepada musuh yang kapasitasnya tak sanggup ditakar dan tengah berevolusi secara langsung di depan matanya.
Persis seperti Themares yang merasa terpikat oleh keteguhan jiwanya, Encrid pun merasakan ketertarikan yang setara.
Dia ingin menyelami seberapa dalam batas kemampuan yang bersemayam di dalam tubuh sang Dragonkin.
"Aku wajib menuntaskan kewajibanku terlebih dahulu."
Sang Dragonkin menyuarakan prinsip hidupnya dengan tegas.
Sebab sebuah kewajiban selalu berdiri di atas segalanya.
Jika seekor Dragonkin kehilangan kewajibannya, mereka tak lagi memiliki alasan untuk bertahan hidup.
Bagi mereka, kewajiban memiliki bobot sakral semacam itu.
Sebuah jangkar penambat kehidupan, kehendak batin yang memungkinkan mereka untuk tetap bersandar di hari ini.
Pancaran aura yang menyerupai hawa intimidasi pekat menguar dari sosok Themares saat dirinya berucap.
Ini adalah perkara mutlak yang pantang dikompromikan, sehingga kata-katanya diselimuti oleh pancaran kehendak Will yang teramat murni.
Tentu saja, di permukaan, intonasi suaranya terdengar sangat tenang dan wajar.
Alasan mengapa Encrid sanggup merasakan kehendak sakral di balik ucapannya murni karena dirinya memiliki kepekaan indra yang teramat tajam.
Encrid bahkan sanggup menangkap secuil getaran emosi dari seorang putri elf yang dingin.
Merasakan getaran ini tentu bukanlah perkara sulit baginya.
Encrid, yang mulai merasa tertarik pada konsep kewajiban yang dibicarakan oleh sang lawan, bertanya balik.
"Dan apa sebenarnya kewajiban yang kau maksud itu?"
Nada bicaranya terdengar jauh lebih ramah dibanding sebelumnya.
Faktanya, sepanjang pertarungan tadi, dia sama sekali tidak merasakan secuil pun niat jahat ataupun hawa haus darah dari tubuh lawannya.
Yang terpancar hanyalah kenikmatan bertarung dan niat baik yang murni.
Pria ini adalah sosok yang sangat unik.
Jika kewajiban yang diembannya memang masuk akal, bukankah tak ada salahnya untuk mendengarkannya terlebih dahulu?
Pendekatan ini mirip seperti saat dirinya memutuskan untuk menerima kehadiran Dunbakel di masa lalu.
Dia bertindak mengikuti kata hatinya.
Mungkin itu karena intuisinya sudah lebih dulu menyimpulkan bahwa entitas agung di hadapannya ini mustahil bakal menyerang pemukiman kota atau membantai warga sipil yang tak bersalah demi memuaskan niat jahat.
"Kewajibanku adalah melindungi entitas yang berada di belakang punggungku," ujar sang Dragonkin tenang.
Nada suaranya terdengar sangat datar tanpa emosi.
Tak ada luapan histeria yang membara di dalamnya.
Tak terlihat pula adanya fanatisme buta ataupun doktrin moralitas semu.
Yang terpancar hanyalah satu rasa tanggung jawab yang mutlak.
'Namun pancaran Will di dalam jiwanya terisi teramat padat.'
Dia benar-benar lawan yang sangat ganjil.
Pilihan kata yang dilontarkan oleh pria itu mendengung hangat di dalam rongga dada Encrid.
Sebab kata 'melindungi' adalah hal yang selama ini selalu diperjuangkan oleh Encrid di sepanjang hidupnya.
Jika sang lawan membicarakan soal kewajiban, maka dirinya pun sanggup membicarakan perihal kewajiban serupa.
Dan jika kewajiban saling bertubrukan dengan kewajiban lainnya, prinsip mana yang harus dimenangkan?
Hukum rimba di daratan benua ini selalu memberikan jawaban tunggal: pihak yang paling kuatlah yang memegang kebenaran mutlak.
Namun apakah membantai pria ini beserta sang Salamander adalah opsi terbaik yang bisa diambil saat ini?
Pertimbangan itu mendadak melintas di benak Encrid.
Encrid paham betul bagaimana cara dunia ini bekerja.
Ada batas penyelesaian yang tuntas, namun tidak pernah ada kesempurnaan mutlak di dunia nyata.
Jika kau terlalu terobsesi mengejar kesempurnaan yang fana, kau hanya akan berakhir terperangkap membusuk di dalam pusaran hari ini.
Jika kau bertekad melangkah maju menyongsong hari esok, kau pantang terbelenggu oleh ilusi kesempurnaan.
Namun lantas, apakah ada nilai berharga dari sebuah hari yang sengaja dibiarkan berlalu begitu saja tanpa usaha maksimal?
Sebuah hari di mana seseorang telah mengerahkan seluruh daya upaya terbaiknya.
Justru karena dirinya mendambakan hari terbaik semacam itulah, dia memilih untuk menimbangnya dengan matang.
Demi meraih hasil terbaik tersebut, Encrid kembali bertanya.
"Melindungi?"
Siapa sebenarnya yang tengah melindungi siapa di tempat ini?
Seolah hendak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung, sebuah ancaman maut mendadak melesat jatuh dari atas langit.
Indra keenam milik Encrid seketika berdentang liar.
Meskipun dirinya sedang tidak berada dalam posisi bertarung aktif, percepatan alur berpikirnya meledak seketika.
Sesuatu yang tak kasatmata tengah meluncur turun dengan kecepatan mengerikan.
Lebih presisi lagi, ini bukan semata-mata matanya tak sanggup melihatnya, melainkan intuisinya telah lebih dulu merasakan sebuah bahaya maut yang bahkan belum sempat termanifestasi secara nyata.
Raga fisiknya, yang telah terbiasa mencium aroma kematian dan ancaman mematikan, bereaksi secara instan.
Seberkas garis merah menyala melesat menghujam turun tepat di atas kepalanya.
Sensasinya bagaikan ada entitas raksasa yang tengah mengibaskan seutas cambuk api yang teramat panjang dan ramping dari angkasa.
Berkat aktivasi kilat dari indra keenamnya, tubuh Encrid melesat bergeser tiga langkah ke samping, menyisakan bayangan ilusi tubuhnya di titik awal.
Garis merah menyala itu menorehkan parit panjang di atas tanah tepat di titik yang baru saja dihindari oleh Encrid.
Tak ada suara ledakan yang menggelegar ataupun dentuman dahsyat.
Hanya desisan halus yang menyayat udara, disusul terciptanya sebuah lubang parit sempit dengan kedalaman yang tak sanggup diukur oleh mata telanjang.
Kepulan asap tipis yang menyerupai kabut panas membubung dari dalam celah lubang tersebut.
Di sepanjang jalur perlintasan yang baru saja dilalui oleh garis merah itu, gelombang hawa panas ekstrem mendistorsi udara di sekitarnya hingga tampak bergelombang liar.
Hembusan angin panas menyengat membelai pipi Encrid.
Andai dirinya terlambat menghindar sedetik saja, bagian tubuh mana pun yang tersambar pasti bakal langsung terpenggal putus seketika.
'Daya tebasnya setara dengan jurus Sunrise milik Ragna.'
Serangan itu teramat tajam dan membakar.
Panjang bentangan torehannya bahkan sanggup disejajarkan dengan barisan lima orang prajurit dewasa yang berdiri berjejer.
Sebuah sayatan yang teramat dalam dan panjang.
Andai dirinya tidak bergerak mengelak, dia pasti sudah terpaksa menumbalkan salah satu lengan bawahnya.
Tentu saja, tak ada seorang pun ksatria di rombongan itu yang terluka oleh sambaran cambuk api tersebut.
Mereka semua menengadah menatap ke atas sembari mengamati asal mula serangan itu.
Tidak sulit untuk menyingkap dari mana cambuk maut itu diluncurkan.
Garis merah itu dilesakkan dari sela-sela gumpalan awan api membara yang kini telah turun semakin rendah, menggantung sangat dekat di atas kepala mereka.
"Sebuah lidah," gumam sang Dragonkin secara singkat dan padat, dan Encrid menangkap maksudnya dengan sangat baik.
"Maksudmu benda tajam tadi adalah lidah milik sang Salamander?" tanya Encrid sembari melirik ke arah parit hangus di atas tanah.
Sang Dragonkin menganggukkan kepalanya pelan.
Dia memang tidak tahu apa makna kata 'melindungi' menurut definisi pria di depannya, namun Encrid telah memahami satu esensi krusial.
"Selama aku tidak membantai makhluk itu sampai mati, semuanya bakal baik-baik saja, kan?"
Sang Dragonkin tadi sempat menyuruh mereka melarikan diri, dan di tengah duel sengit sesaat lalu, dia rela membalikkan badannya demi melindungi rombongan mereka dengan cara menebas bola api yang jatuh dari langit.
Encrid merangkai seluruh kepingan fakta tersebut menggunakan intuisi tempurnya.
Lawan di hadapannya ini tengah berusaha melindungi sang Salamander, namun pada saat yang sama bertekad mencegah agar kobaran api milik sang monster tidak menumpahkan bencana ke wilayah sekitarnya.
Merespons pertanyaan yang lahir dari kesimpulan logis tersebut, sang Dragonkin menyahut singkat.
"Tepat sekali."
Kalau begitu, apakah tindakan yang tengah diupayakan oleh sang Dragonkin saat ini serupa dengan sebuah pendisiplinan?
Dia paham bahwa situasinya kurang lebih mirip seperti itu.
'Menghadapi anak nakal yang kelewat batas.'
Apakah pria ini tengah bersiap melayangkan hantaman disiplin murni karena makhluk ini adalah jenis anak yang terkadang hanya bisa disadarkan melalui cambukan rotan?
"Kalau begitu, mari kita bereskan masalah ini bersama-sama."
Encrid melontarkan tawaran aliansi sementara.
Sang Dragonkin menganggukkan kepalanya setuju.
Pancaran kehendak Will milik pemuda di hadapannya ini benar-benar teramat murni dan luhur.
Bukan tanpa alasan sang putri elf yang pantang melontarkan kebohongan sudi melangkah mendampingi dirinya.
"Kau tidak berniat membereskan bajingan ini dulu sebelum kita maju, Kapten?" seru Rem bertanya dari atas dahan pohon.
Kata 'membereskan' yang dilontarkan Rem tentu saja ditujukan langsung kepada sosok sang Dragonkin.
Apakah namanya tadi Themares?
Itu adalah nama sang Dragonkin yang sempat dia dengar saat pria itu bergumam sendiri tadi.
Jika Encrid memang bertekad demikian, melumpuhkan sang Dragonkin bukanlah hal yang mustahil bagi mereka.
Pertarungan bakal terasa jauh lebih mudah andai salah satu anggota rombongan ikut turun tangan membantu, namun...
"Seluruh unit, bersiap untuk bertempur!"
Encrid mengabaikan celetukan Rem dan langsung menjatuhkan komando perang.
Hal yang menarik adalah, tak ada satu pun anggota ordo yang menunjukkan tanda-tanda penolakan.
Mereka adalah barisan ksatria tangguh yang telah setia mengikuti segala bentuk keras kepala milik kapten mereka sejak era pasukan regu gila dulu.
Hal serupa berlaku mutlak hingga detik ini.
Mereka pantang mempertanyakan apa pun keputusan yang diambil oleh komandan mereka.
Mereka hanya akan fokus mengeksekusi apa yang wajib mereka tuntaskan di medan laga.
Faktanya, kepatuhan itu lahir dari rasa percaya diri yang mutlak bahwa melumpuhkan seekor Dragonkin ataupun membantai sang Salamander sekalipun adalah tugas yang sanggup mereka selesaikan kapan saja andai situasi berubah menjadi kacau.
Sementara itu, sesosok iblis parasit pengendali hawa panas yang menyusupkan wujud pikirannya ke dalam kesadaran sang Salamander tengah tertawa mencibir menatap mereka dari balik kabut tebal.
'Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka tak ada seorang pun yang boleh memilikinya.'
Di antara jajaran petapa sesat di Demon Realm, hanya dirinyalah yang sanggup melakukan ritual terlarang ini: membangunkan paksa sang Salamander purba yang tengah terlelap dalam hibernasi panjangnya.
Dia berniat memanggang hangus seluruh bajingan angkuh yang telah berani mencari gara-gara dengannya hingga menjadi abu kelabu.
Fakta bahwa sebagian daratan benua ini bakal terbakar luluh lantak dalam prosesnya sama sekali bukan urusan pribadinya.
Para penguasa berpengaruh lain di daratan benua ini mungkin bakal melontarkan protes keras, namun dia cukup mengabaikan ocehan mereka.
Kini setelah sang Salamander telah membuka kedua matanya, kawasan wilayah ini pasti bakal hancur lebur hingga mustahil bisa dibangun kembali dalam kurun waktu yang teramat lama.
'Namun tanah ini pada akhirnya selalu pulih kembali.'
Kuncup-kuncup kehidupan baru selalu mekar subur di atas tanah yang telah dibakar hangus oleh perlintasan sang Salamander.
Sebab monster purba itu sejatinya dianugerahi kekuatan regenerasi alam yang luar biasa.
Meskipun dalam prosesnya, ratusan ribu nyawa manusia bakal terpanggang mati secara sia-sia.
Sosok parasit hawa panas itu terkekeh puas di dalam batinnya, meski dirinya saat ini hanya berwujud sebagai seberkas proyeksi pemikiran parasit.
"Matilah kalian semua!"
Dia mengarahkan proyeksi pemikirannya dan memicu kesadaran sang Salamander secara agresif.
Rasa sakit, penderitaan, dan gejolak amarah yang mendidih tersalurkan melalui proyeksi pemikirannya langsung ke dalam tubuh utama sang monster purba.
Dia justru sangat menikmati sensasi siksaan tersebut.
Sang iblis parasit tahu betul bahwa andai dirinya tak sanggup melepaskan candu kenikmatan sadis ini, dia mustahil bisa meraih ambisi besarnya, namun...
'Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan kenikmatan semanis ini?'
Sensasi ini terasa teramat mendebarkan.
Andai dirinya berwujud manusia, kelopak matanya pasti bakal bergetar hebat meresapi letupan kenikmatan yang berkali-kali lipat lebih dahsyat dibanding kepuasan berahi seksual.
'Sekarang, matilah kalian semua!'
Mari kita tambahkan sedikit bumbu penyedap ke dalam pertunjukan ini.
Dengan menambahkan jeritan histeris manusia, ratapan kepedihan, serta bau daging terpanggang.
Proyeksi pemikiran itu memang tidak sanggup mengendalikan raga sang Salamander secara penuh, sehingga dia hanya bisa menonton dari dalam.
Dia menikmati pemandangan di mana sang Binatang Gaib dari dimensi lain itu mengayunkan kedua kaki depannya setelah sempat melepaskan cambukan lidah api penghancurnya tadi.
Proyeksi pemikiran iblis itu memandangnya murni sebagai sepasang kaki depan, namun bagi manusia yang berdiri menghadapinya di bawah, pemandangan itu tampak sangat berbeda.
Sepasang kaki depan milik sang Salamander adalah perwujudan dari dua bola api raksasa yang membara hebat, yang siap meremukkan dan membakar hangus seluruh prajurit yang berkumpul di bawahnya.
'Bagaimana cara kalian bakal terpanggang mati, hah?!'
Sayangnya, ekspektasi kejam sang iblis parasit tidak pernah terwujud.
Seberkas kilatan cahaya biru langit mendadak melesat membelah udara dan memotong salah satu bola api raksasa tersebut hingga buyar terkoyak, sementara bola api lainnya dihantam telak oleh sambaran cahaya pedang putih bersih yang pantang melangkah mundur, melenyapkan kobaran apinya seketika!
'Apa?!'
Kedua telapak kaki depan sang Salamander raksasa seketika terdorong mundur terhempas ke belakang!











