Bab 831: Si Bau, Orang Suci, dan Jelita Tiada Tara
Di tengah rentetan sinyal bahaya yang terus didengungkan oleh indra keenamnya, Encrid telah lebih dulu mengarahkan pedang Dawnforged ke sisi kanannya, bahkan sebelum sang Dragonkin Themares sempat bereaksi.
Pergerakan tubuh Encrid melesat jauh lebih cepat dibanding kata-kata yang meluncur dari bibirnya.
Suara desingan, aroma sangit membakar, serta gesekan atmosfer—seluruh sensor indrawi itu berpadu menjadi satu demi membunyikan lonceng peringatan di kepalanya.
Di dalam bidang pandang Encrid, dia melihat lidah api membara membubung tinggi lalu memadat membentuk sebuah gundukan raksasa.
Seluruh proses perubahan wujud magis itu tertangkap jelas oleh matanya, sekuens demi sekuens.
Seutas garis merah tipis tampak menghubungkan gumpalan awan api yang terbentang luas di langit dengan bola api raksasa di bawahnya.
Gundukan api itu melesat menyapu permukaan tanah layaknya laju kereta perang lapis baja yang tengah melancarkan serbuan maut.
KRAAAK-DHUAAR!
Kawasan di sekitarnya seketika terdistorsi hebat oleh raungan menggelegar serta kobaran lidah api yang membubung tinggi.
Suhu panas yang membakar bahkan menciptakan fatamorgana ilusi visual yang menari-nari di udara.
Pemandangan ini sama sekali tidak berlebihan jika disebut sebagai sebuah bencana alam murni.
Apakah mungkin bagi raga fana seorang manusia untuk membendung malapetaka yang diguyurkan langsung dari langit?
Tentu saja hal itu adalah sebuah kemustahilan.
Bagi seorang manusia biasa, tentu saja demikian.
Namun di tempat ini, tak ada satu pun manusia yang bisa dikategorikan sebagai orang biasa.
Terlebih lagi, ini bukanlah masalah genting yang menuntut keterlibatan seluruh anggota ordonya secara serentak.
'Dawnforged.'
Encrid menaruh kepercayaan mutlak pada pedang Dawnforged di tangannya.
Rasa percaya yang teramat kokoh itu tersalurkan sempurna ke dalam bilah pedang, memicu pendaran kehendak inskripsi suci untuk bersinar kian benderang.
Cahaya biru yang memancar dari Dawnforged kini berpendar jauh lebih pekat dibanding sebelumnya.
Dia melangkah maju menyongsong kobaran api yang menerjang.
Dia memadukan keahlian membelah mantra bola api dengan pengalaman tempur yang dia serap saat memotong mantra Walking Fire tempo hari.
'Spell Slaying.'
Itulah sebutan yang pernah disematkan oleh Esther untuk mendeskripsikan tebasan pedang pembelah sihir miliknya.
Dan Encrid mengayunkan pedangnya persis seperti prinsip tersebut.
Mata bilahnya menciptakan tekanan udara masif yang membelah atmosfer terik yang kian memadat.
Selaras dengan lintasan tebasan pedang tersebut, tekanan udara mendadak bergeser membalikkan gelombang hawa panas, dan bilah pedang yang diselimuti oleh kehendak Will itu tanpa ragu membelah kobaran api membara.
Lebih presisi lagi, dia menebas tepat di titik poros tengah bola api tersebut.
DHUAAR!
Bersamaan dengan suara ledakan udara yang meletup hebat.
Fuuush!
Sensasi yang dia rasakan sama persis seperti saat memotong Walking Fire.
Dia memang tidak tahu apakah serangan yang dilancarkan oleh sang lawan tergolong sebagai formula mantra sihir atau bukan, namun...
'Sumber energinya sama. Prinsip dasarnya pun serupa.'
Maka yang perlu dia lakukan hanyalah menebasnya hingga hancur.
Jika ada yang bertanya bagaimana dia sanggup membelah api tersebut, dia cukup menjawab bahwa dirinya sanggup melakukannya murni karena dia tengah menebasnya.
'Pemikiran yang barusan melintas di kepalaku terdengar searogan ocehan milik Ragna.'
Bukankah itu sama persis seperti menjawab 'ya karena aku bisa' saat seseorang menuntut penjelasan logis di balik tebasan pedangnya?
Namun sensasi batin ini sama sekali tidak terasa buruk.
Sebuah arogansi setingkat pemikiran Ragna adalah kemewahan eksklusif yang hanya sanggup dinikmati oleh seorang jenius sejati.
"Segar sekali."
Encrid berucap santai setelah merampungkan ayunan pedangnya.
Ujung-ujung helaian rambut hitamnya tampak sedikit hangus berkerut akibat sengatan hawa panas ekstrem.
Jelaga hitam luruh menumpuk di atas tanah, membentuk kepulan asap tipis.
Dan dalam hitungan detik, asap tipis itu seketika tergilas musnah oleh hawa panas yang kembali menyelimuti area sekitar.
Melontarkan celetukan 'segar sekali' di tengah atmosfer udara yang membakar paru-paru sudah lebih dari cukup untuk membuat siapa pun mengecapnya sebagai seorang pria gila.
Bola api raksasa yang jatuh dari langit berjumlah dua buah, dan sosok Audin bertindak menghadang bola api kedua.
"Oh, Tuhan semesta alam."
Berselimutkan pendaran cahaya suci murni, raksasa beruang itu menaungi kobaran api dengan kekuatan divinitasnya lalu memadamkannya hingga tak bersisa.
Cahaya putih bersih yang memancar dari sekujur raganya menyelimuti lidah api lalu menindasnya hingga padam sempurna.
Dia mengeksekusi manuver mustahil tersebut dengan sangat santai seolah hal itu hanyalah perkara sepele, melangkahi batas akal sehat umat manusia biasa.
Mungkin ketangguhan di luar nalar semacam itulah yang menjadi syarat mutlak untuk berdiri menantang bencana langit.
Di tempat ini, berkumpul barisan petarung tangguh yang pantas dijuluki sebagai bencana berjalan murni berlandaskan kekuatan fisik mereka sendiri.
Mereka sama sekali tidak menunjukkan secuil pun tanda-tanda gentar di hadapan awan api yang membentang di angkasa.
'Penindasan.'
Encrid merenung sembari mengamati cara Audin meredam kobaran api tersebut.
Awan api di langit itu berada dalam wujud yang sangat berbeda dibanding sosok iblis Beelrog tempo hari, dan pola bertarungnya pun teramat sulit untuk ditakar.
Lantas bagaimana cara terbaik untuk menundukkan entitas semacam itu?
'Metode apa yang paling ideal untuk dieksekusi?'
Proses pertimbangannya tidak memakan waktu lama.
Apakah karena dirinya diberkahi oleh keberadaan mata air Uske di dalam jiwanya?
Alur pemikiran Encrid bermuara pada satu kesimpulan tunggal.
"Sebuah pertarungan atrisi."
Dia hanya perlu menguras habis seluruh stamina musuh hingga makhluk itu terengah-engah kehabisan napas.
Lagipula, ini adalah saat yang tepat untuk berhadapan langsung dan mengukur kapasitas daya tahannya.
Oleh karena itu, opsi terbaiknya adalah perang stamina, sebuah adu ketahanan fisik tanpa henti.
Awan api di angkasa pada titik tertentu mulai mengalami perubahan wujud fisik.
Awan itu memadat membentuk siluet binatang berkaki empat yang tengah meringkuk rendah di dekat permukaan tanah.
Wujudnya menyerupai seekor anjing liar, serigala raksasa, atau mungkin seekor kadal purba.
Sebuah pemikiran konyol mendadak melintas di kepalanya saat menatap wujud tersebut.
Bukankah sang Dragonkin tadi sempat menyebut bahwa sambaran garis merah yang membelah tanah sebelumnya adalah lidah sang monster?
Bahkan dalam batas imajinasi terliarnya sekalipun, membayangkan monster api itu terengah-engah kelelahan sembari menjulurkan lidahnya keluar sama sekali tidak terasa lucu.
Tepat pada detik berikutnya, beberapa gumpalan api padat melesat jatuh dari langit diiringi suara dentuman berat, berguling di atas tanah, lalu menggeliat membentuk sebuah raga baru.
Sepasang lengan dan sepasang kaki tercipta kokoh, sembari menggenggam sebilah pedang tajam di kedua tangannya.
Haruskah mereka dijuluki sebagai ksatria api?
Raga mereka memang tersusun murni dari kobaran api hidup, namun postur mereka saat menggenggam pedang serta cara mereka bersiap menerjang sangat menyerupai gaya bertarung seorang prajurit manusia.
DHUAR!
Makhluk-makhluk api itu merampungkan formasi tempur mereka begitu kedua kakinya tegak menjejak tanah.
Mereka merendahkan kuda-kuda bersiap melancarkan serbuan kilat.
Tepat sebelum telapak kaki mereka sempat menjejak tanah untuk melesat maju.
Sebelum ksatria api itu sempat melancarkan kecepatan lari penuhnya, kepalanya mendadak meledak hancur berkeping-keping, dihantam oleh sebutir proyektil senjata lempar yang melesat menembus kobaran apinya sebelum akhirnya lenyap.
Seolah sisa kehendak untuk menerjang masih bersemayam di dalam raganya, lidah apinya sempat berkobar sesaat dan melangkah maju beberapa jengkal, sebelum akhirnya ambruk luruh ke tanah.
Pshhh!
Yang tersisa hanyalah serakan abu hitam pekat yang berhamburan di atas tanah.
Wuuush!
Rem yang berdiri santai di barisan paling belakang sembari memutar umban tali (sling) miliknya mengangkat bahunya acuh tak acuh.
"Bukankah kita tinggal menekan mereka dengan kekuatan penuh sampai mereka lelah sendiri?"
Isi kepala Rem, seperti yang sudah diduga, bekerja dengan sangat cerdas dan praktis.
"Kau benar."
Encrid menyetujui usulannya.
Themares terperangah takjub saat merasakan keteguhan tekad yang terpancar dari masing-masing individu di hadapannya.
Frekuensi seekor Dragonkin merasakan keterkejutan di sepanjang rentang hidupnya bahkan tidak sampai lima kali, dan ini adalah kali keduanya setelah sebelumnya dibuat takjub oleh sosok Encrid.
Sekelompok manusia istimewa yang memiliki kemurnian tekad Will di tingkatan tertinggi kini tengah berkumpul menjadi satu di depan matanya.
Saat mereka bergerak, kehendak batin berdaya murni serta pendaran cahaya jiwa tampak teramat jelas di mata sang Dragonkin.
'Tetap saja, pria itulah yang paling luar biasa.'
Pemuda berambut hitam dan bermata biru cerah. Pancaran cahaya jiwa yang memancar dari dalam dirinya benar-benar terlalu menyilaukan.
Sementara itu di garis pertahanan bawah, Seiki sejatinya bukan merupakan prajurit resmi dari pasukan reguler garnisun, namun dia sempat mempelajari seni bela diri dengan berguru sedikit pada Encrid dan sedikit pada Audin. Encrid tahu betul bahwa gadis itu memiliki bakat alami yang teramat luar biasa, namun sebaliknya juga paham bahwa gadis itu sangat minim akan kehendak ambisi. Bagi seseorang yang cita-cita hidupnya hanya ingin bermalas-malasan menikmati indahnya taburan bintang dari atas puncak gunung, seni bela diri hanyalah prioritas sekunder.
Meski begitu, Seiki tetap menjalani rutinitas yang menyerupai sesi latihan fisik. Dia juga sempat mempelajari teknik dasar memanipulasi kekuatan suci. Dia adalah seorang pengembara gunung (highlander), sosok petualang yang menjelajahi belantara terjal, dan karena rimba benua ini tidak hanya dipenuhi oleh satwa liar yang jinak, sangatlah wajar jika dirinya paham cara bertarung demi bertahan hidup. Kakek tua yang membesarkannya sedari kecil pun menjalani hidup lewat seni berburu dan memasang perangkap.
"Apa-apaan ini, kenapa mendadak begini?!"
Semuanya bermula dari seekor serigala api yang mendadak melompat menyergap saat dirinya tengah bersantai ria.
Lautan makhluk yang terpahat dari kobaran api murni kini tengah menyerbu turun dalam jumlah gerombolan yang teramat masif.
Seiki bertarung sembari melarikan diri, mengerahkan seluruh keterampilan tempur yang dia kuasai.
Dia mungkin pemalas, namun seluruh ilmu bela diri yang dia pelajari sejauh ini sukses menjaga nyawanya tetap utuh.
Dia melesat lurus menuju ke arah garis pertahanan benteng kota.
Jumlah musuh yang menyerbu bukanlah skala bahaya yang sanggup dia tangani seorang diri.
"Pertahankan barisan!"
"Hanya senjata sihir yang mempan melukai mereka!"
"Jangan ada yang nekat maju dengan senjata biasa sebelum menerima berkat suci!"
Di titik tujuan yang dia tuju, barisan prajurit reguler garnisun telah terlibat dalam pertempuran sengit melawan kawanan pahatan monster api.
Seiki langsung menyusup bergabung ke dalam barisan pertahanan mereka.
'Jumlah mereka terlalu banyak.'
Pasukan reguler bertarung dengan sangat disiplin dan solid.
Tak ada satu pun pos pertahanan yang terdesak mundur.
Para prajurit yang dipersenjatai bilah sihir bahkan sanggup mendominasi dan membantai wujud-wujud api tersebut.
Namun di sela-sela serbuan kroco itu, sesosok monster berwujud varian khusus kerap menampakkan taringnya.
Jenis monster elit yang mustahil bisa dihadapi oleh prajurit infanteri biasa.
'Monster bipedal.'
Monster api yang berdiri dan melesat berlari menggunakan kedua telapak kakinya.
Mereka bergerak jauh lebih gesit dibanding monster api biasa, serta memiliki daya rusak yang berkali-kali lipat lebih dahsyat.
DHUAR!
Tepat saat monster itu menghantamkan tinju apinya ke atas lempengan perisai baja, sang prajurit pembawa perisai seketika terhuyung mundur terhempas ke belakang.
"Monster gila apa ini?!" gumam sang prajurit sembari merapatkan giginya menahan nyeri.
Sebuah daya benturan yang sanggup membuat pandangan matanya berkunang-kunang.
Mampukah diriku menahan hantaman kedua?
Hanya dengan satu pukulan telak tadi, perisai kayunya yang telah dilumuri minyak dan dikeringkan di tempat teduh langsung mengeluarkan derit retakan yang memilukan.
Bingkai besi pelindung di tepi perisainya meliuk bengkok.
Andai dirinya tidak sempat mengangkat perisai itu tepat waktu, dirinya pasti sudah mati terkoyak oleh hantaman tadi.
Rasa takut mencekam seketika merayapi rongga dadanya, namun prajurit itu pantang membiarkan tubuhnya ambruk luruh.
Itu karena jika di pihak musuh terdapat monster perkasa yang berada di luar batas nalar, maka di pihak mereka pun memiliki monster yang tak kalah mengerikan.
"Disiplin latihanmu masih terlalu dangkal."
Apakah seekor monster yang tersusun dari kobaran api hidup sanggup memahami arti kata 'disiplin latihan'?
Makhluk itu kemungkinan besar bahkan tak paham bahasa lisan, namun Fel tetap menyuarakan apa yang wajib dia katakan.
Satu tebasan pedang tunggal melesat membelah udara.
Kobaran api itu seketika terbelah secara vertikal lalu hancur buyar berhamburan.
Itulah otoritas mutlak milik sang Idol-Slayer.
Ilmu pedang miliknya dirancang khusus untuk memotong dan melenyapkan segala entitas yang tidak memiliki wujud fisik padat.
Di mata sang prajurit pembawa perisai, yang tertangkap oleh pandangannya hanyalah sekelebat garis lurus yang menyayat vertikal menembus raga monster api tersebut.
Pemilik pedang yang baru saja membantai sang monster mengibaskan bilah senjatanya ke udara hampa.
Sisa lidah api redup yang menempel di pedangnya seketika buyar menguap dan lenyap tak bersisa.
Prajurit pembawa perisai itu menelan ludahnya dengan susah payah.
Begitu rasa terkejutnya mulai mereda, dia menatap sosok pria yang kini berdiri tegak di hadapannya.
Sang pemilik pedang maut, seorang ksatria resmi dari The Order of the Madmen Knights.
Sosok ksatria yang baru saja menyelamatkan nyawanya itu membuka mulutnya santai.
"Bagaimana menurutmu? Aku jauh lebih keren dibanding Ropord, kan? Baik dalam urusan tampang maupun ilmu pedang?"
Prajurit pembawa perisai itu tentu saja tak berani menggelengkan kepalanya.
Bukankah pria di hadapannya ini adalah sosok penolong yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari kematian?
Sementara itu di sudut medan laga lainnya, pergerakan Ropord berlangsung jauh lebih sibuk dan taktis.
Seutas garis panduan tergambar dengan sangat jernih di dalam benaknya.
Sebuah garis tak kasatmata yang turut tampak nyata di depan matanya.
Sebuah rute pergerakan yang memandunya untuk bergerak secara teramat efisien.
Itu adalah aplikasi dari teknik Hawk's Eye (Mata Elang), yang kini telah dia kuasai dan sempurnakan seutuhnya.
Kepekaan indra yang tajam, bidang pandang visual yang teramat luas, serta doktrin taktik militer yang dia serap dari bimbingan Luagarne—itu adalah seni tempur paripurna yang memadukan seluruh keunggulan tersebut menjadi satu.
Dia melesat melintasi luasnya medan perang.
'Abaikan monster-monster kroco.'
Dia hanya membidik dan menebas monster-monster elit yang mustahil bisa ditangani oleh prajurit reguler biasa.
Dia melesat meniti rute garis yang menghubungkan titik demi titik lalu mengayunkan pedangnya dengan presisi mematikan.
Esther sebelumnya telah menyelimuti pedang tempaan kurcaci miliknya dengan lapisan berkah sihir.
CRING!
Setiap kali mata pedang Ropord menyayat melintasi tubuh pahatan api, serbuk cahaya biru berhamburan indah di udara.
Tebasan mematikan yang dia lepaskan sembari mengubah arah pergerakan lewat tumpuan telapak kaki kirinya adalah manuver tingkat tinggi yang bahkan bakal menuai decak kagum dari sosok Encrid sekalipun.
"Luar biasa, Kapten Ropord!"
Dia sangat dihormati dan dicintai oleh barisan prajurit garnisun, mengingat perannya sebagai instruktur utama yang membina pelatihan para rekrutan baru.
Pendekatan membimbingnya sangat berbeda dibanding Fel, yang gemar menyiksa fisik prajurit hingga terkapar di tanah lewat rentetan omelan pedas, sparring brutal, serta kekerasan fisik, sembari terus mendoktrin bahwa latihan keras dan disiplin mati adalah segalanya.
Tentu saja ada segelintir prajurit bertubuh badak yang cocok dengan metode keras milik Fel, namun jumlah mereka adalah minoritas.
Mayoritas prajurit garnisun jauh lebih terinspirasi oleh metode pelatihan taktis yang diterapkan oleh Ropord.
Semuanya bergantung pada kecocokan watak masing-masing prajurit, namun mayoritas suara jelas berpihak pada kubu Ropord.
Tentu saja, Fel pun memiliki basis pengikut setianya sendiri.
Sebagai contoh, sepuluh pendekar pedang yang bernaung di bawah divisi Ragna lebih condong mengagumi dan meniru gaya bertarung milik Fel.
Meskipun secara struktur organisasi resmi, mereka bernaung langsung di bawah komando Ropord.
Dalam satu sisi, itu hanyalah perbedaan preferensi kecil semata, namun satu hal yang pasti adalah bahwa Ropord jauh lebih populer di kalangan prajurit.
"Ropord!"
"Ropord si Pelari (Running Ropord)!"
Pria itu saking seringnya diperintahkan untuk terus berlari hingga akhirnya mendapatkan julukan unik semacam itu.
Medan pertempuran itu terbentang sangat luas.
Jika kedua ksatria itu beraksi mendominasi di satu sektor, maka di sektor lainnya, sesosok half-giant, seorang gadis beastkin, dan seekor katak cerdas tengah bergerak mengamuk.
Dunbakel melesat berlari sembari menggenggam sebilah tombak di tangan kanan dan sebilah pedang standar prajurit di tangan kirinya.
Kepekaan indra penciumannya melompat jauh melampaui batas normal milik bangsa beastkin biasa.
Sebuah hidung tajam yang secara naluriah sanggup mengendus titik rangsangan terkuat di medan perang.
"Tepat sasaran."
Di mana pun mata tombak dan bilah pedangnya menyapu melintas, suara denting menyerupai kaca pecah meletup bersahut-sahutan.
Lalu raksasa api itu seketika luruh menjadi serakan abu putih dan hancur berkeping-keping.
Itu berkat berkah suci yang sebelumnya telah dirapal oleh Theresa.
Pancaran kekuatan divinitas suci sukses memadamkan kobaran lidah api monster tersebut.
"Ooh, Si Bau Dunbakel (Stinky Dunbakel)!" seru beberapa prajurit bersorak menyemangati.
"Bau maut dari Dunbakel!"
"Bisa tutup mulut kalian tidak, hah?!"
Itu bukanlah julukan perang yang diinginkan oleh Dunbakel.
Sementara itu, Theresa melantunkan nyanyian suci tepat di jantung formasi pasukan reguler.
Sebuah nyanyian himne suci (chant) yang sarat akan limpahan kekuatan divinitas.
Untaian lirik kidung suci itu bermutasi menjadi aliran energi suci yang meresap masuk memperkuat senjata seluruh prajurit.
"Oh Tuhan, di mana pun jamahan tangan-Mu menyentuh—"
Tepat saat nada tinggi melengking merdu dari bibirnya, pendaran cahaya suci putih bersih menyelimuti seluruh mata pedang dan ujung tombak para prajurit.
Inilah kedahsyatan dari sebuah formula kidung suci (chant), sebuah keahlian divinitas tingkat tinggi yang bahkan tak sanggup dikuasai oleh raksasa seperti Audin.
Para prajurit yang kian terbakar semangat tempurnya serentak mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi.
"Orang Suci Theresa (Saint Theresa)!"
Sosok saintess yang sesungguhnya sejatinya adalah gadis bernama Seiki, namun di lingkungan internal unit garnisun, sosok yang dipuja sebagai orang suci justru adalah Theresa.
Itu jelas bukan julukan yang lazim disematkan pada perawakan fisik seorang wanita half-giant berotot kekar, namun seolah hendak membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pasukan reguler biasa—melainkan angkatan perang yang bernaung di bawah The Order of the Madmen Knights—mereka sangat gemar melontarkan julukan-julukan gila semacam itu.
Mungkin itu adalah efek samping psikologis akibat digembleng habis-habisan dalam sesi latihan fisik harian mereka.
Dan di antara Si Bau dan Sang Orang Suci...
"Lua si Jelita Tiada Tara (Peerless Beauty Lua)!"
Sang katak betina, yang secara visual tampak persis seperti seekor amfibi katak di mata manusia biasa, seketika menggembungkan kedua pipinya saat mendengar julukan tersebut diteriakkan.
Itu adalah ekspresi menahan tawa yang nyaris meledak.
"Dasar kalian prajurit gila keparat."
Dia menggerutu sembari memutar pedang melingkar (loop sword) di tangannya.
Itu adalah teknik bertarung inovatif yang dia ciptakan setelah mengamati rotasi putaran umban tali milik Rem tempo hari.
Dia mengenakan sarung tangan khusus yang dibalut lilitan tali kulit tebal di setiap ruas jarinya, diperkuat oleh lapisan kulit beastkin di bagian luar.
WUUUSH-WUUUSH!
Dia mengayunkan loop sword yang telah terkunci rapat di jarinya, memutarnya pada rotasi kecepatan tinggi.
DUAR! DUAR! DUAR!
Gundukan monster api yang tersambar oleh putaran bilah melingkar itu seketika terkoyak berkeping-keping dan terlempar ke udara.
Seluruh persenjataan yang dia kenakan adalah senjata sihir berkualitas tinggi, sehingga dirinya tidak memerlukan suntikan berkat divinitas tambahan.
Bagi seluruh elemen pasukan pertahanan, membendung serbuan gundukan api yang mendekat sejatinya bukanlah tugas yang teramat sulit.
Masalah utamanya adalah kenyataan bahwa serbuan monster itu tak menunjukkan tanda-tanda bakal berakhir dalam waktu dekat.
Garrett dan Luagarne yang memantau jalannya laga dengan cemas di garis belakang tahu betul bahwa mereka kemungkinan besar harus bertahan dalam kebuntuan ini setidaknya selama tiga hari penuh.
Seekor Salamander purba pantang mengenal kata lelah.
Kawanan monster api yang diproduksinya bakal terus menyerbu tanpa henti setidaknya selama tiga hari berturut-turut.
Keduanya memahami kenyataan pahit tersebut dengan sangat baik.
Namun tepat pada detik itu, sebuah keajaiban di luar kalkulasi mendadak terjadi di depan mata mereka.
"Hmm?"
"Apa serbuannya sudah selesai?"
Gumam keheranan semacam itu mulai terdengar bersahut-sahutan di antara barisan prajurit reguler.
Setelah gelombang golem api yang menerjang di tengah kawanan binatang buas api berhasil dibantai, kuantitas musuh yang turun dari lereng bukit mulai menyusut drastis.
Pada satu titik, jumlah mereka jelas berkurang secara signifikan, hingga akhirnya serbuan gelombang api itu terhenti total tanpa sisa.
'Enki.'
Luagarne secara naluriah merasakan bahwa Encrid, yang telah menerobos masuk ke dalam belantara pegunungan, pasti telah berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa di atas sana.
Tak ada alasan lain mengapa pasokan kekuatan destruktif milik sang Salamander bisa terputus secara mendadak seperti ini.
Dan tebakan sang katak memang benar adanya.











