Eternally Regressing Knight

Bab 832: Mengenali Pola Serangan

3271 Kata

Bab 832: Mengenali Pola Serangan

Pendaran cahaya kuning redup menyelimuti bilah pedang panjang putih milik sang Dragonkin.

Meskipun tak ada sepoi angin yang berhembus di tempat itu, helaian rambut berwarna kuning lemon milik sang Dragonkin—yang tampak menampung kilau cahaya—berkibar anggun.

Dia mengayunkan pedangnya dan membelah monster api yang memiliki postur tubuh jauh lebih masif dibanding fisiknya sendiri.

Fuuush!

Kobaran api yang terbelah dua itu mendadak bermutasi menjadi dua ekor ular api dan melesat menerjang ke arahnya.

Sang Dragonkin melafalkan sebuah Word of Command.

"Lenyaplah (Vanish)."

Hanya dengan satu patah kata titah tersebut, kedua ular api itu seketika padam binasa. Padahal jarak mereka sudah berada lebih dekat dibanding jangkauan panjang pedangnya. Ular-ular api yang sempat menembus pertahanannya seketika terdorong mundur oleh tangan tak kasatmata lalu lenyap menguap, menyebarkan serpihan abu merah layaknya butiran pasir yang tertiup angin kencang.

Sumber dari kobaran api tersebut berakar dari pancaran kehendak sadar.

Dan dirinya telah menyelami kehendak itu lalu menghapusnya hingga tuntas.

Namun sang lawan bukanlah tipe musuh yang sanggup ditundukkan murni hanya melalui rapalan Word of Command semata, sehingga dia memadukannya dengan tebasan ilmu pedang.

Inilah disiplin seni berpedang yang sedari awal menjadi spesialisasi utama milik Themares: sebuah harmoni sempurna antara Word of Command dan kemahiran berpedang.

Seiring berjalannya pertempuran, dia memanggil kembali seluruh teknik tempurnya satu per satu.

Persis seperti dugaan Encrid, pria itu memang tengah menjalani proses pemulihan insting bertarung.

Sembari memulihkan instingnya, dia turut menyadari kembali betapa mengerikannya kapasitas bangsa prajurit yang mengalir di dalam darah Dragonkin miliknya.

Dan tepat saat dirinya tengah melumpuhkan seekor binatang buas api...

DUAR! DUAR! DUAR! DUAR!

"Coba keluarkan lebih banyak lagi monster kroco kalian!"

Seorang pria manusia yang memutar dua bilah cakram di tangannya sembari membidikkan proyektil senjata lempar tanpa henti sukses menumbangkan enam wujud api sekaligus dalam sekejap.

"Hoho, serangan selemah ini masih belum cukup."

Sosok manusia kekar yang menyerupai perpaduan silang antara seekor beruang raksasa dan pria perkasa terus memancarkan kekuatan divinitas suci, berulang kali meledakkan sepasang kaki depan sang Salamander hingga buyar berhamburan.

Wujud sejati milik sang Salamander tampak samar-samar di mata sang Dragonkin.

Oleh karena itu, dari sudut pandangnya, pemandangan itu terlihat seolah sang manusia-beruang bernama Audin tengah menangkis terjangan kaki raksasa milik sang Phantom Beast murni hanya menggunakan sepasang kepalan tinjunya.

Ada jurang perbedaan ukuran yang sangat mencolok di antara kedua kepalan tangan mereka, layaknya perbandingan antara tangan pria dewasa dan kepalan anak kecil berusia tujuh tahun, namun 'anak kecil' yang satu ini dianugerahi kekuatan fisik monster yang teramat luar biasa.

Oleh sebab itu...

DHUAAR!

Kaki depan milik sang Binatang Gaib meledak dan hancur berhamburan lagi dan lagi.

Percikan bara api memercik liar, dan bola-bola api yang melayang di udara seketika buyar terhempas ke segala penjuru mata angin.

Serpihan batuan hancur yang terbakar menyala akibat ledakan bola api berhamburan liar ke mana-mana.

Itu adalah situasi genting di mana siapa pun bisa saja menderita luka parah yang mematikan, namun semua ksatria di tempat itu berdiri dalam kondisi prima tanpa luka.

Tak ada satu pun orang yang menderita goresan luka kecil.

Mereka semua menanggapi bahaya maut tersebut dengan santai seolah hal itu hanyalah angin lalu.

Sang Dragonkin mulai bertanya-tanya di dalam hatinya: apakah standar kapasitas kekuatan tempur di daratan benua ini telah melonjak sedemikian dahsyatnya kala dirinya tengah terlelap dalam belenggu kewajiban?

Encrid sama sekali tidak pernah melupakan petuah taktis yang diajarkan oleh Luagarne.

"Mulai sekarang, kau tidak akan hanya berhadapan dengan pendekar pedang biasa. Seluruh sesi latihan ini adalah persiapan matang untuk menghadapi era tersebut."

Jika Esther berperan membimbingnya perihal cara menangani formula mantra sihir, maka Luagarne adalah mentor utama yang mematangkan seluruh aspek taktik pertempuran individunya.

Encrid selalu fokus dan menyerap setiap pelajaran dengan sikap seorang pendengar yang rendah hati.

Meskipun secara kapasitas kekuatan fisik murni dirinya sanggup menumbangkan sang katak cerdas di hadapannya, dia pantang menghentikan langkahnya untuk terus belajar.

'Selalu ada hal berharga yang bisa dipelajari dari siapa saja.'

Setelah menyadari minimnya bakat bawaan di dalam dirinya, Encrid berusaha menyerap dan mempelajari segala ilmu yang bisa dia jangkau.

Dia melakukan hal itu dengan membelanjakan keping-keping koin perak yang dia kumpulkan dari mempertaruhkan nyawa di medan laga.

Dia melakukannya demi menegakkan prinsip hidupnya, serta demi melindungi setiap jiwa yang berdiri di belakang punggungnya.

Perjalanan itu jelas bukan hal yang mudah.

Benar-benar sama sekali tidak mudah.

Bahkan andai dirinya terperangkap mengulang satu 'hari ini' seorang diri selama lebih dari satu tahun penuh, dia tetap mustahil sanggup melompati bakat alami seorang jenius hanya dalam satu hembusan napas.

Dan pada era sebelum dirinya terperangkap di dalam pusaran 'hari ini', kondisinya jauh lebih mengenaskan lagi.

Apakah dia melewati seluruh masa-masa penderitaan dan kepedihan itu tanpa berpikir jernih?

Bahkan orang awam biasa pun tak akan bertindak sebodoh itu.

Terlebih lagi, Encrid bukanlah orang dungu, dan isi kepalanya bekerja dengan sangat cerdas dan tajam.

Dia menemukan apa yang wajib dia lakukan di posisinya berdiri.

Dia meraba dan mendambakan sebuah jalan keluar untuk melangkah maju, dengan cara apa pun.

'Bisakah aku mengejar ketertinggalan ini murni hanya dengan mengayunkan pedang?'

Kerja keras membabi buta saja tidak akan pernah cukup.

Itulah kenyataan pahit yang harus dia hadapi.

Bilah tajam realitas selalu menggores lehernya dan membidik lurus ke arah jantungnya.

Maka mari kita kaji dan evaluasi ulang setiap pertarungan yang telah dilewati.

Mari kita jadikan proses evaluasi sebagai senjata terkuatku.

Dan itulah yang dia lakukan.

Mari kita ambil satu langkah maju, betapa pun kecilnya langkah tersebut.

Setidaknya mari kita bangun ketahanan fisik yang kokoh.

Jangan sampai kita kalah dalam urusan stamina.

Dan itulah yang dia eksekusi.

Dia bertahan melewati seluruh hari-hari kelam itu lalu terus melangkah maju, bahkan jika harus merangkak di atas tanah berlumpur sekalipun.

Encrid menyadari bahwa untuk mengevaluasi sebuah pertempuran secara sempurna setelah laga berakhir, dia wajib mengamati jalannya laga dengan sangat cermat sedari awal.

Prinsip dasar ini telah dia pelajari bahkan jauh sebelum dirinya resmi bergabung ke dalam ordo regu pembuat onar.

Dia tidak pernah melupakan fondasi berharga tersebut.

"Bertarung dengan benar berarti melihat dengan benar."

Petuah taktis yang diucapkan oleh Luagarne tempo hari sangat selaras dengan prinsip yang dia pegang teguh selama ini.

Melihat bukanlah sekadar mengonfirmasi objek visual menggunakan sepasang mata.

Melihat berarti membaca maksud tersembunyi milik sang lawan, memahami proses pergerakannya, menakar hasil akhirnya, serta membedah esensi yang terkandung di dalam serangannya.

Sikap mental semacam itulah yang menjadi fondasi kekuatan yang memungkinkan Encrid untuk terus bertahan hidup di era saat dirinya masih menyandang kemampuan pedang yang remeh.

Serangan-serangan yang dilancarkan oleh sang Phantom Beast Salamander pada dasarnya tidak terlalu rumit.

Itu berarti serangan monster itu tergolong sangat sederhana jika kau telah memahami poin-poin kuncinya.

Encrid membedah dan memetakan pola serangan musuh ke dalam beberapa kategori.

'Lidah api pemotong (heat-ray tongue).'

Serangan cambuk api ini sanggup melesat keluar dari sudut mana saja, dan kecepatannya setara dengan lemparan kapak milik Rem.

Namun kecepatannya masih lebih lambat dibanding proyektil batu yang dilesakkan dari sebuah umban tali (sling).

Oleh karena itu, manuver serangan ini sama sekali tidak mustahil untuk dihindari.

'Bola api kaki depan (foreleg fireballs).'

Sang Dragonkin menyebut gundukan api itu sebagai sepasang kaki depan.

Dan Encrid pun memandangnya dengan cara yang serupa.

Bola-bola api yang melesat turun meniti garis tipis dari awan api membara sanggup tercipta sebanyak dua atau empat buah secara simultan.

'Tidak terlalu cepat, namun menyimpan bobot hantaman yang luar biasa berat.'

Dia melangkah melampaui rekognisi pola sederhana dan membaca esensi sifat alami yang bersemayam di dalamnya.

Sepasang mata dan kepekaan indra yang dia asah setelah berguru pada Jaxon telah terasah kian tajam setelah dinobatkan sebagai ksatria, dan kini diperkaya oleh doktrin taktis militer milik Luagarne.

'Jangan sekadar menakar lawan; terimalah wujud mereka apa adanya, maka kau akan melihat kebenarannya.'

Prinsip tersebut sukses meremukkan dinding batasan yang membelenggu potensi Encrid.

Konsep pemahamannya meluas, dan cakrawala berpikirnya membentang tanpa batas.

'Formula pembentukan senjata api (fire shaping spell).'

Opsi serangan ketiga milik sang Salamander.

Terpisah dari hantaman kaki depan, lidah api yang membara melesat terbang layaknya rentetan tombak lempar (javelin).

Lebih presisi lagi, proyektil itu tidak memiliki mata tombak sejati, namun memiliki wujud tongkat panjang yang serupa.

Dan jumlahnya tidak hanya satu atau dua batang.

Jika tercipta sedikit saja celah kelengahan, puluhan tombak api bakal tercipta dan melesat menghujam dalam satu hembusan napas.

Namun ancaman itu belum berakhir.

Kapasitas kekuatan sang Salamander masih menyimpan opsi lain.

'Pahatan monster api (fire-forms).'

Pola keempat adalah memproduksi entitas buatan seperti golem api.

Sebagian dari bola api kental menyerupai lahar yang jatuh dari awan api bakal menggeliat membentuk siluet serigala, golem, beruang, atau ular api, lalu menyerbu ganas ke arah rombongan mereka.

'Ditambah dengan hujan percikan api (rain of fire).'

Lidah-lidah api seukuran jari manusia terus menghujam turun tanpa jeda dari awan api di langit.

Masing-masing percikan api itu adalah hujan maut yang sanggup membakar dan menembus kulit manusia dengan mudah.

Jalur pendakian gunung kini telah terkoyak berlubang di berbagai sudut, luluh lantak menjadi hamparan tanah datar.

Pepohonan terbakar menyala, dan seluruh lanskap visual berubah memerah darah.

Sensasinya seolah mereka tengah terkurung di dalam sebuah penjara neraka api raksasa.

'Dan yang terakhir adalah fatamorgana ilusi (mirage).'

Seluruh kawasan rimba dipadati oleh gelombang hawa panas yang memicu halusinasi mental.

Lengah sedetik saja, bayangan ilusi semu serta dengungan suara bisikan gaib bakal langsung membakar kewarasan telinga mereka.

Tak ada satu pun ancaman yang terasa mudah.

Namun meski begitu, tak ada satu pun ksatria yang tumbang di tempat ini.

Tak!

Esther menjentikkan jemarinya lalu melafalkan formula mantranya.

"Penguasaan Ruang D'Mulle (D'Mulle's Spatial Domination)."

Di permukaan, gerakan telapak tangannya tampak sangat sederhana dan formula mantranya terdengar sangat ringkas, namun sihir yang baru saja dilepaskan oleh Esther adalah sebuah pencapaian magis yang teramat luar biasa.

Dia secara instan melenyapkan syarat-syarat fisik yang dibutuhkan oleh api untuk menyala.

Dia menciptakan ruang hampa udara sesaat tepat di zona di mana tombak-tombak api, panah panas, serta hujan percikan api tengah meluncur turun.

Di dalam persepsi magisnya, dia menghentikan hembusan angin dan melenyapkan pasokan udara di kawasan tersebut dalam sekejap mata.

Dan seketika itu pula, seluruh proyektil senjata yang terpahat dari kobaran api langsung buyar berhamburan di udara kosong.

D'Mulle's Spatial Domination adalah jenis mantra berdaya sekejap (volatile spell), bukan sihir berdurasi panjang.

Mantra itu aktif sesaat lalu langsung menguap lenyap.

Efek sihir yang normalnya tidak terlalu signifikan itu kini tengah bekerja secara teramat sempurna.

Itu murni karena formula mantra yang tepat dilesakkan pada momentum krusial yang paling dibutuhkan.

Hal itu menjadi bukti sahih bahwa kepekaan taktis Esther dalam mengoperasikan sihir telah mencapai tingkatan yang sangat luar biasa.

"Mudah, terlalu mudah."

Berdiri sekitar sepuluh langkah di belakang Esther, Rem bergumam santai sembari terus membidikkan proyektil senjata lemparnya tanpa jeda, di mana seluruh butiran batunya telah diperkuat oleh aliran energi shamanisme murni.

Setiap proyektil batu yang melesat secara akurat menghancurkan inti energi yang bersemayam di dalam tubuh golem-golem api tersebut.

Di mata seorang petarung yang telah menguasai esensi shamanisme secara mendalam, melacak letak inti dari sebuah wujud api adalah perkara yang sangat-sangat mudah.

Sedari awal, Rem memang jauh lebih mahir dalam menghadapi entitas-entitas yang tidak memiliki wujud fisik padat.

Wujud monster api itu memang bukan roh jahat, namun merupakan entitas tanpa bentuk padat yang dipaksa membentuk raga fisik.

Itulah sebabnya Rem sanggup menakar letak intinya tanpa perlu menguras habis seluruh energi shamanisme miliknya.

Maka tugas ini terasa sangat mudah baginya.

Terlebih lagi, karena Encrid sebelumnya telah menginstruksikan bahwa pertarungan ini bakal berlangsung sebagai perang atrisi, Rem secara cerdas menghemat penggunaan staminanya.

Hal serupa berlaku mutlak bagi ksatria lainnya.

Audin melayangkan kedua tinjunya menyongsong gundukan api yang terus meluncur deras, lalu menggunakan pundak kekarnya sebagai perisai penangkis hantaman.

"Oh, Tuhan Yang Maha Kuasa."

Hal yang paling mengagumkan adalah keluwesan gerakannya.

Dia memutar separuh badannya, merotasikan engsel pundaknya dengan presisi.

Tepat pada detik saat bola api itu menyenggol lapisan pelindung cahaya sucinya, telapak tangan Audin melesat lurus menghantam ke depan.

DHUAAR!

Dan tanpa meleset sedikit pun, kaki depan milik sang Phantom Beast seketika meledak hancur berkeping-keping.

Itu adalah aplikasi teknik menepis gaya dorong kaki api sembari menghantam titik kelemahan di poros tengahnya demi membuyarkan energinya.

Sangat mudah untuk dijelaskan dengan kata-kata, namun itu adalah keahlian tingkat tinggi yang menuntut ribuan jam latihan fisik demi bisa dieksekusi secara nyata.

Audin mendasarkan ilmu bela dirinya pada fondasi seni bela diri Valaf-style lalu mengembangkannya menurut caranya sendiri demi melangkah masuk ke dalam ranah bela diri baru.

Semua evolusi itu tentu saja lahir berkat pengaruh besar dari sosok Encrid.

Dan seluruh buah latihan keras itu kini tengah memancarkan kilaunya di medan laga.

Sebagian dari percikan bola api yang meledak sempat menyiram tubuh Audin.

Dia melangkah santai ke samping dan melepaskan diri dari radius kobaran api tersebut.

Dengan cara taktis semacam ini, dia pun bertarung murni menggunakan efisiensi tenaga dan pergerakan seminimal mungkin.

'Jauh lebih mudah dibanding sparring melawan Saudara Komandan.'

Pria beruang itu membatin santai di dalam hatinya.

Sosok Encrid yang diberkahi oleh cadangan Will Uske tak ubahnya monster hidup tanpa batas.

Dan Audin adalah sesosok monster perkasa yang sangat menikmati sesi adu fisik sepanjang hari melawan lawan sebrutal itu.

Sementara itu, Ragna hanya berdiri mengamati dengan tenang, sesekali melepaskan tebasan pedangnya ke udara.

Jika ada objek apa pun yang tersambar oleh tebasan pedang tersebut, objek itu dipastikan bakal langsung terbelah dua.

Tak peduli apakah itu pahatan monster api ataupun proyektil senjata yang terbuat dari lidah api panas.

Tebasan pedang miliknya sanggup membelah apa saja tanpa terkecuali.

Pria pirang itu tampaknya telah menyerap pemahaman baru dan kembali melangkah maju.

Sebab Ragna memang diberkahi bakat kejeniusan mutlak semacam itu.

Encrid memandangnya demikian, sembari pada saat yang sama merumuskan keputusan taktis di kepalanya.

'Formasi tempur kelompok pemecah ombak (breakwater group battle formation).'

Dia telah membedah karakteristik sang lawan dan merumuskan respons terbaik.

Dia telah menyampaikan poin-poin krusial yang dibutuhkan kepada Rem dan rekan-rekannya, dan mereka telah mengeksekusinya dengan sempurna.

Sama sekali tidak ada hal yang sulit.

Saat mereka meningkatkan tempo kecepatan dan menekan musuh secara sistematis, situasinya bahkan mencapai titik di mana semua ksatria memiliki cukup ruang luang untuk bersantai.

Sang Salamander secara naluriah mencium aroma krisis bahaya dan mulai menyerap kembali pasokan energi dari monster-monster api yang tersebar di lereng bukit.

Inilah alasan utama yang menghentikan laju serbuan kawanan monster api ke arah garnisun Border Guard di bawah.

Suara gemuruh petir yang memekakkan telinga meletup dari sela-sela gumpalan awan api di langit.

Pada saat yang sama, seberkas sambaran petir api melesat meluncur dalam trajektori zigzag yang teramat cepat.

Encrid memacu akselerasi berpikirnya lalu bereaksi secara instan.

Dia mengangkat pedang Dawnforged demi menyambut serangan tersebut.

Pada detik yang sama, sebilah pedang panjang putih melintas di bidang pandangnya seolah hendak menyilangkan serangannya.

Hasilnya, sambaran petir api yang meluncur di tengah hujan api itu dihantam secara serentak oleh bilah Dawnforged dan pedang putih milik sang Dragonkin, meledak hebat dan buyar berkeping-keping!

DHUAAR!

Bersamaan dengan ledakan dahsyat itu, gelombang kejut masif menyapu ke segala penjuru.

Angin kencang menderu liar.

Sebuah badai prahara yang cukup kuat untuk menerbangkan tubuh manusia biasa ke udara.

Tentu saja, Encrid berdiri tegak tanpa bergeming.

Begitu pula dengan sang Dragonkin di sisinya.

"Kau pasti sanggup memblokir serangan itu seorang diri tadi."

"Kurasa juga demikian."

Sang Dragonkin secara naluriah membaca gejolak batin lawannya lalu menyahut singkat.

"Sebuah kebenaran."

Keduanya saling bertukar tatapan mata sesaat.

Lalu mereka kembali fokus pada peran tugas masing-masing.

Sang Dragonkin bertekad mencegah agar para ksatria ini tidak membantai sang Salamander, sekaligus memastikan agar tak ada satu pun ksatria yang terluka oleh amukannya.

Itu adalah sebuah misi suci yang memperlihatkan secuil kegilaan khas milik bangsa Dragonkin.

Bahkan bagi sosok seperti dirinya sekalipun, menundukkan sang Salamander tanpa membiarkan siapa pun terluka adalah tugas yang teramat sulit.

Tentu saja, Themares sedari awal sudah bersiap mengeksekusi misi tersebut bahkan jika harus membakar habis seluruh daya hidupnya, namun detik ini kebutuhan ekstrem semacam itu tak lagi diperlukan.

Lidah api sang Salamander menyapu membelah celah di antara mereka berdua.

Encrid cukup menggeser langkahnya satu jengkal ke kanan lalu menepis hujan percikan api yang berjatuhan menggunakan bilah Dawnforged.

Sang Dragonkin melangkah tenang menembus hujan api sembari mengelak luwes dari sambaran lidah api pemotong.

'Sia-sia belaka.'

Seluruh rentetan serangan sang Salamander berakhir dengan kesia-siaan serupa.

Terlebih lagi, tak ada secuil pun keraguan di tangan Encrid dan barisan ksatria The Order of the Madmen Knights.

Mereka mengelak dan membalas apa pun manuver yang dilancarkan oleh sang monster purba.

Hujan percikan api terus membidik ke arah mereka tanpa henti, namun kerapatannya sejatinya tidak sepadat hujan badai sungguhan.

Para ksatria ini adalah barisan petarung yang telah melompati batas-batas fisik manusia.

Mereka melihat dan mengelak, dan bagi yang tak sempat menghindar, mereka cukup menangkisnya dengan perisai atau senjata.

Sebagai contoh, Esther menyelimuti tubuhnya dengan lapisan perisai pelindung sihir yang kokoh.

Itu sudah lebih dari cukup.

Serangan demi serangan berhasil diblokir, dan diblokir lagi.

Tak ada satu pun kekuatan destruktif milik sang Salamander yang sanggup menyentuh mereka di tempat ini.

Pada saat yang sama, mereka terus bertahan, meremukkan dan menghancurkan segala ancaman dengan efisiensi mutlak.

Bukan perkara sulit bagi mereka untuk mengatur ritme pernapasan.

Ragna dan ksatria lainnya adalah para pakar ulung dalam urusan menghemat stamina murni karena mereka terbiasa berhadapan langsung dengan sosok Encrid.

Uske adalah sebuah sumur mata air abadi yang tak pernah kering.

Jika kau terbiasa beradu fisik siang dan malam melawan pria yang memiliki cadangan Will sebesar itu, kau secara otomatis bakal menguasai seni menghemat energi dan bertarung secara teramat efisien.

Encrid, setelah mengayunkan pedang Dawnforged beberapa kali, kini telah beralih menjadi separuh penonton.

Hanya karena dirinya berperan sebagai penonton, bukan berarti dirinya hanya berdiri melamun tanpa berbuat apa-apa.

Saat dirinya berulang kali membedah dan menganalisis seluruh pola serangan musuh, wujud sejati dari sang Binatang Gaib yang seharusnya tak kasatmata kini mulai tampak samar-samar di matanya.

Itu adalah siluet seekor binatang purba berkaki empat.

'Makhluk itu pasti bakal mati andai kutebas tubuhnya.'

Encrid telah membangkitkan kepekaan taktisnya setelah terjebak ke dalam perangkap Abnaier di masa lampau.

Bahkan di tengah medan perang yang membara ini, dia sanggup melihat rute menuju kemenangan mutlak.

'Jika Rem menjatuhkannya dan Ragna menebasnya.'

Itu bukanlah tugas yang sepele, namun andai dirinya turut terjun membantu, rencana itu pasti bakal berhasil dengan sempurna.

Dengan kata lain, membunuh dan menidurkan sang monster api purba ini adalah perkara yang sangat mungkin diwujudkan.

Dia menaruh kepercayaan penuh pada Dawnforged.

Ini adalah sebilah senjata berinskripsi suci.

Tak ada satu pun objek di dunia ini yang mustahil untuk dipotong oleh senjata yang telah diselimuti oleh kehendak Will murni.

Ini bukan rasa kemahakuasaan yang semu, melainkan rasa percaya dan keyakinan yang berakar kokoh.

Dan sang Dragonkin menyimak seluruh gejolak pemikiran tersebut dari samping.

Haruskah dikatakan wajar jika dirinya merasa teramat takjub?

Terlebih lagi, kepekaan indra sang Dragonkin sanggup membaca sebagian dari kehendak tekad yang memancar dari raga Encrid.

Dia memang tidak bisa membaca isi kepalanya secara harafiah, namun itu adalah bakat bawaan untuk membaca isi hati terdalam milik sang lawan.

Sebuah anugerah yang baru saja dia ingat kembali di tengah jalannya duel.

Sang Dragonkin pada hakikatnya adalah seorang pakar pembaca batin.

Alasannya adalah berkat kepekaan indrawi ultra-presisi yang sanggup menangkap getaran Will milik lawan, dan kini indra legendaris itu telah bangkit seutuhnya di dalam dirinya.

"Kewajibanku adalah melindungi sang Binatang Gaib ini, sekaligus memastikan agar dirinya tidak melakukan pembantaian massal yang tak diinginkan."

Sang Dragonkin kembali menyuarakan sumpah tugasnya.

Dia akan memegang teguh kata-katanya, bahkan lewat tindakan nyata jika memang diperlukan.

"Aku tahu betul," sahut Encrid santai.

Lantas apa langkah yang harus kita ambil sekarang?

Encrid sanggup bertahan dalam kebuntuan ini selama tiga hari tiga malam penuh tanpa kelelahan.

Apakah durasi selama itu bakal cukup untuk menuntaskan masalah?

Tepat saat setiap ksatria tengah menjalankan peran tugasnya masing-masing dan bertahan kokoh di posisinya.

Shinar, selain mengelak lincah dari guyuran hujan api, sama sekali tidak melangkah maju ke garis depan.

Lebih presisi lagi, memang belum ada momentum genting yang menuntut dirinya untuk turun tangan.

Namun sang putri elf merasakan jantungnya berdegup kencang menatap pemandangan agung di depan matanya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.