Bab 833: Lindungi Aku Juga
Ars Pugnae, seni bertarung yang mengandalkan letupan energi vigor, adalah disiplin bela diri yang dirancang khusus untuk duel antarsesama makhluk berakal budi.
Oleh sebab itu, sangat sulit memanfaatkannya secara sempurna di medan laga melawan entitas raksasa seperti saat ini.
Meski begitu, Shinar tetap sanggup memadukan beberapa bagian esensial dari teknik tersebut.
Monster-monster api yang diproduksi oleh sang Salamander terus ditebas, diledakkan, dihancurkan, dan dilenyapkan, terblokir rapat oleh dinding pertahanan kokoh bernama The Order of the Madmen Knights bahkan sebelum mereka sempat melangkah mendekati Shinar.
Seluruh formula mantra pembentukan senjata api pun berhasil dibendung secara mutlak oleh Esther.
Segala pencapaian tersebut benar-benar sangat mengagumkan.
Setiap manuver yang diperlihatkan oleh rekan-rekannya, di mata Shinar, adalah sebuah pencapaian tempur tingkat tinggi.
'Mereka semua begitu gigih dan tangguh.'
Mereka adalah barisan ksatria yang telah melangkah sedemikian jauh ke depan, hingga mustahil bagi Shinar untuk mengejar ketertinggalannya hanya bermodalkan ilmu pedang vigor biasa.
Seluruh anggota The Order of the Madmen Knights memang memiliki karakteristik monster semacam itu.
Namun bukan berarti dirinya merasa iri ataupun dengki.
Dia cukup menyadari dengan jernih bahwa dirinya pun wajib mengambil peran dan melakukan sesuatu.
Shinar mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Itu adalah sebilah pedang ramping yang pada satu titik telah ditempa menjadi sebilah jarum penusuk panjang bernama Winter.
'Musim dingin.'
Alih-alih nekat menerjang masuk ke dalam arena duel secara serampangan, dia menyelimuti pedang jarumnya dengan hawa dingin yang membekukan.
Jika bangsa beastkin bertarung mengandalkan daya hidup murni, maka energi vigor milik seorang elf menyimpan kekuatan empat musim alam semesta.
Dia menepis guyuran hujan percikan api menggunakan pedang jarum yang diselimuti oleh hawa dingin musim dingin.
Cukup dengan mengangkat pedangnya dan menggoreskan trajektori melingkar di atas kepalanya yang membentuk kubah pelindung di sekeliling raganya.
Lapisan penghalang es bertemu dengan guyuran percikan api, dan diiringi suara desisan keras, uap putih tebal seketika membubung ke udara.
Dengan manuver itu, dia berhasil membeli sedikit waktu luang.
Kubah pertahanan yang tersusun dari hawa dingin itu sanggup bertahan kira-kira selama durasi tiga tarikan napas.
Satu putaran penuh dimulai dari atas kepalanya, menyapu melintasi mata kaki kanannya, lalu berakhir di atas sisi kiri kepalanya.
Tepat saat dirinya menuntaskan kibasan pedang tersebut, dia melemparkan pedang jarumnya ke udara lalu menangkapnya kembali dengan genggaman terbalik (reverse grip).
Plak!
Sang putri elf yang baru saja melempar dan menangkap kembali senjatanya di udara menjejakkan telapak kaki kirinya ke tanah, lalu memuntir pinggangnya dengan tumpuan engkel sebagai poros putaran.
Aliran tenaga kinetik mengalir deras dari engkel kakinya menuju ke pinggang, siku, dan pergelangan tangannya.
Sebuah transfer kekuatan otot yang teramat sempurna.
Lalu, dia menyuntikkan energi vigor murni ke dalam pedang jarum Winter yang sarat akan hawa dingin tersebut.
Lebih presisi lagi, dia memusatkan gumpalan vigor di ujung jemarinya lalu melesakkannya keluar.
'Aku pantang membiarkan diriku tertinggal di belakang.'
Tak ada rasa dengki di hatinya, yang ada hanyalah keteguhan tekad yang membara.
Shinar menatap bayangan dirinya yang kian tertinggal di dalam formasi The Order of the Madmen Knights, dan alih-alih menyerah kalah lalu berhenti melangkah, dia memilih untuk terus melangkah maju.
Dia menuangkan formula Ars Pugnae ke dalam pedangnya, sembari memadukan teknik melempar proyektil yang sempat dia pelajari sepintas dari memperhatikan gerakan Rem.
Dan dengan segenap daya upayanya, dia melemparkan pedang jarum itu ke udara.
Helaian rambut peraknya berkibar liar membelah hembusan angin.
Saat tubuhnya berputar anggun, sebuah dinamika pergerakan kinetik yang tidak lazim diperlihatkan oleh seorang putri elf meledak ke permukaan.
Postur tubuhnya tampak seolah hendak terjatuh condong ke depan, setelah mengerahkan seluruh elastisitas otot di sekujur raganya secara maksimal.
Dan demikianlah, pedang jarum Winter yang lepas melesat dari genggaman terbaliknya menjelma menjadi sekelebat garis lurus yang mematikan.
DHUAAR!
Kantong udara meledak hancur di belakang lintasan pedang yang melesat terbang, memukul mundur gelombang hawa panas di sekitarnya.
Andai ada seseorang yang memiliki sepasang mata untuk melihat gradasi suhu, mereka pasti bakal menyaksikan seutas garis biru es tergores indah tepat di tengah hamparan atmosfer kuning membara.
KRAAAK!
Pedang jarum miliknya sukses menghunjam menembus dan meledakkan sebagian dari gumpalan awan api di langit.
Sang Dragonkin menolehkan kepalanya ke belakang, menyadari apa yang sebenarnya tengah dibidik oleh sang putri elf.
"Tentu saja," gumam sang Dragonkin pelan.
Dia sedari awal sudah mengetahui dan merasakan bahwa ada sebuah anomali berbahaya yang sempat luput dari pengawasannya.
Itu adalah seberkas proyeksi pemikiran parasit yang ditinggalkan oleh sang iblis pengendali hawa panas.
Sebuah gumpalan emosi negatif pekat yang sarat akan niat jahat.
Dari sela-sela gumpalan awan api membara, sebatang pilar api berwarna kusam membubung tinggi ke angkasa, melesat ke atas, lalu menyusup kembali ke dalam pusaran awan.
Tak ada suara ledakan yang terdengar.
Namun seluruh ksatria yang berkumpul di tempat ini dianugerahi kepekaan indra yang teramat tajam.
Encrid dan Jaxon bukanlah pengecualian, sementara Audin pun telah menakar keberadaan gumpalan hawa jahat di dalam raga sang Salamander berkat kepekaan divinitas sucinya.
Rem bahkan sedari tadi sudah bersiap membidikkan proyektil batunya andai celah kelengahan tercipta.
Shinar murni menjadi sosok pertama yang melancarkan serangan pembuka.
Jelaga hitam pekat mengalir menetes dari titik di mana pilar api kusam itu membubung tadi.
Pemandangan itu tampak seolah ada zat asing berwarna hitam yang tersangkut di antara gumpalan awan api.
Jika meminjam istilah yang kerap dilontarkan oleh Dunbakel, itu adalah jelaga hitam yang tampak memancarkan bau busuk yang menyengat.
Apakah sebuah proyeksi pemikiran parasit berbeda dengan tubuh utama sang iblis?
Tentu saja sangat berbeda.
Proyeksi itu mustahil bisa mengerahkan kapasitas kekuatan tempur absolut yang setara dengan tubuh aslinya.
Dia tidak sanggup memanggil barisan pasukan iblis yang disiagakan di Demon Realm.
Mustahil pula baginya untuk memanggil raga inang superior ke tempat ini.
Sang proyeksi pemikiran parasit itu membatin geram.
'Jadi mereka pikir aku tak sanggup berbuat apa-apa di tempat ini?!'
Jadi para ksatria ini berani menusuk proyeksi pemikirannya murni hanya menggunakan sebatang tusuk sate murahan ini?
Bilah es yang membekukan memang sempat menusuk raganya, namun dampaknya hanya sebatas itu saja.
Tingkat kerusakan yang dideritanya tergolong sangat minim.
Haruskah dikatakan bahwa dirinya merasa sangat tersinggung?
Meskipun dirinya hanyalah seberkas serpihan kesadaran yang terpisah dari tubuh utama, dia mewarisi keangkuhan dan ideologi yang sama persis dengan raga aslinya.
Dengan kata lain, harga dirinya terluka sama parahnya.
'Beraninya mereka bersikap kurang ajar padaku?!'
Bentuk-bentuk kehidupan menyedihkan yang mendiami daratan benua ini menjulukinya sebagai sesosok iblis.
Sang iblis parasit tahu betul sebutan apa yang disematkan oleh para manusia fana kepada dirinya.
Dia pun paham bahwa mereka memanggilnya demikian murni karena dirinya sanggup mengeksekusi hal-hal mengerikan yang bahkan tak sanggup dibayangkan oleh akal budi mereka.
'Mencoba melawanku dengan sebatang tusuk sate rapuh?!'
Ini adalah sebuah provokasi terbuka.
Sang parasit iblis memutuskan untuk mengubah rasa tersinggungnya menjadi luapan amarah yang mendidih.
Bukan berarti dirinya bakal meledak histeris layaknya seorang manusia rendahan.
Perilaku emosional semacam itu jelas tidak mencerminkan martabat agung seorang iblis penguasa.
Sebagai gantinya, dia bertekad menyajikan sebuah situasi neraka yang berkali-kali lipat lebih kejam bagi mereka semua.
Sedari awal, pemandangan di bawah sana memang sama sekali tidak menyenangkan di matanya.
Oleh karena itu, keputusannya untuk memanggang hangus seluruh cacing-cacing tanah yang menggeliat di bawah sana hingga menjadi abu bukanlah perkara besar baginya.
'Seorang manusia biasa membantai Beelrog?'
Pria itu pasti hanya bermodalkan keberuntungan buta semata.
Jika tidak, itu murni aksi bunuh diri konyol dari iblis dungu yang selalu meneriakkan hasrat konflik dan perang.
Itulah sebabnya raga parasit ini sedari awal selalu memandang rendah barisan manusia di bawahnya, teracuni oleh keangkuhan ideologi iblis aslinya.
Dan dia merasa sangat muak pada mereka semua, dimulai dari sosok lancang yang tiba-tiba muncul sembari mengayunkan pedang besar membara, barisan manusia kurang ajar yang pantang mengenal rasa hormat.
Sang parasit secara dingin membedah dan memetakan emosi-emosi di dalam kesadarannya.
Dia tahu betul kobaran kebencian yang memenuhi jiwa sang Salamander.
Jika diibaratkan dengan sebuah perumpamaan puitis, sang Binatang Gaib merasakan kepedihan siksaan fisik murni hanya dari bernapas di atmosfer tanah ini.
Sebab dunia fana ini bukanlah habitat alami tempat dirinya bernaung.
'Kebencian yang lahir dari rasa sakit.'
Dia menyusupkan sebagian dari proyeksi pemikirannya dan memancing keluar kobaran kebencian tersebut.
Sebuah kebencian pekat yang bercampur baur dengan jelaga hitam.
Di palung memori terdalam milik sang Salamander, sesosok bayangan kusam yang diselimuti kabut hitam berbisik dingin di telinganya.
"Kehendakmu tidak penting. Niatmu tidak berguna. Harapanmu tidak berarti. Kau hanyalah segumpal bola api pembakar. Bola api yang bertugas membakar habis apa saja di dunia ini."
Itu adalah bisikan kutukan dari sosok pemuja sesat yang dulunya memanggil sang Binatang Gaib ke dunia fana ini melalui ikatan kontrak palsu.
Sang roh api purba, yang terjebak oleh kepolosan jiwanya, seketika kehilangan seluruh akal sehatnya.
'Kebencian mendalam terhadap belenggu kontrak palsu.'
Sang iblis parasit pada hakikatnya adalah entitas pemangsa yang gemar menggerogoti stabilitas mental manusia.
Dia memang tidak bisa mengendalikan sang Phantom Beast secara mutlak, namun dia sanggup memicu rasa sakitnya, membangunkannya secara paksa, serta mengeksekusi manipulasi emosional semacam ini.
'Kumpulkan seluruh kebencian itu!'
Dia menghimpun dan menggumpalkan emosi negatif, hasrat kehancuran murni.
Sang Binatang Gaib yang tengah menggeliat kesakitan tak sanggup menghentikan proses manipulasi tersebut.
Iblis itu mungkin gagal menjadikannya sebagai inang parasit permanen, namun dia sanggup mengubah sang monster menjadi sesosok wujud api yang dipadati oleh kebencian murni.
Dan sang iblis parasit mengeksekusinya menggunakan otoritas yang dia miliki.
Sedari awal, yang dilakukan oleh sang Salamander hanyalah menyebarkan kabut ilusi bernama fatamorgana agar tak ada seorang pun makhluk hidup yang berani melangkah mendekati dirinya.
Sebab sang monster sejatinya sama sekali tidak ingin bertarung.
Namun jika manusia-manusia itu akhirnya berhasil melangkahi fatamorgana tersebut dan terus mendesak maju, sang Salamander tak lagi memiliki pilihan lain.
Makhluk itu terpaksa bertarung, tenggelam ke dalam pusaran kebencian yang mendidih.
Sebagian dari kesadaran sang parasit memicu emosi-emosi yang menyusun raga sang Binatang Gaib.
'Serahkan seluruh ragamu pada kebencian!'
Kesadaran batin sang Binatang Gaib kini terbelah menjadi dua kutub.
Satu sisi berdiri menonton sembari meratapi kepedihannya, sementara sisi lainnya menyerahkan raga fisiknya pada amukan kebencian dan rasa sakit yang menggeliat liar.
Itulah batas perlawanan batin terbaik yang sanggup dikerahkan oleh sang roh api purba.
Sang iblis parasit ingin memamerkan sebuah keajaiban neraka yang hanya eksis di Demon Realm kepada cacing-cacing tanah yang menggeliat di bawah sana.
Tentu saja pertunjukan ini tidak gratis.
Harganya, tentu saja, adalah nyawa mereka semua.
Bergantung pada situasi yang tercipta nanti, dia bahkan mungkin bisa meraup keuntungan berlipat ganda dengan merebut raga inang baru.
Dia memang telah kehilangan inang pengguna pedang besarnya tempo hari, namun andai dirinya sanggup merampas raga manusia yang beruntung membantai Beelrog itu, hal tersebut bakal menjadi transaksi yang teramat menguntungkan.
'Kalian sendirilah yang menyematkan gelar 'iblis' kepada diriku.
Maka sekarang, akan kupamerkan makna sejati dari gelar tersebut.'
Pedang jarum yang dilemparkan oleh Shinar memang sempat melukai proyeksi pemikiran iblis tersebut, namun sama sekali tidak sampai melenyapkannya.
Dan jarum Winter yang dilemparkan oleh Shinar tidak hanya memberikan dampak pada proyeksi pemikiran sang iblis semata.
Serangan itu justru memicu sebuah anomali tak terduga.
Sang parasit mendadak mendeteksi kehadiran entitas lain di sebuah dimensi batin tempat di mana dirinya seharusnya berdiri seorang diri.
"Makhluk apa kau sebenarnya?!" bentak sang parasit sembari membangkitkan kehendak Will miliknya di dalam dunia imaji kesadaran.
Pendaran cahaya hijau redup berkumpul lalu memadat membentuk sebuah wujud raga.
Dari sela-sela pendaran cahaya zamrud tersebut, helaian rambut perak terurai indah layaknya air terjun yang mengalir anggun.
Sesosok figur berambut perak dengan sepasang manik mata hijau zamrud membuka suaranya dingin.
"Kau."
Tanpa diduga, tubuh mental (mental body) yang merupakan bagian dari kesadaran Shinar kini tengah berdiri berhadapan langsung dengannya di dalam dimensi batin sang Salamander.
Tubuh mental sang putri elf kembali berucap datar.
"Rupa dan jiwamu benar-benar sangat menjijikkan."
Hanya manusia fana rendahan yang memusingkan perkara keindahan rupa fisik, sehingga sang iblis parasit sama sekali tidak goyah oleh cibiran tersebut.
Namun karena bangsa elf hanya sudi menyuarakan kebenaran murni tanpa kepalsuan, ketulusan rasa jijik di balik ucapannya tersalurkan secara teramat nyata, memicu rasa muak di hatinya.
Pancaran warna emosi yang diarahkan gadis itu kepada dirinya terlihat sangat gamblang.
Sebuah rasa jijik dan kebencian yang murni.
Karena mereka tengah berhadapan sebagai sepasang tubuh mental di dunia kesadaran, mereka tidak membutuhkan percakapan lisan yang panjang lebar.
Di dimensi ini, mereka sanggup berbagi gejolak emosi secara seketika serta menakar kehendak batin masing-masing lewat benturan Will.
"Seorang elf yang tak kenal rasa takut. Haruskah kurobek-robek jiwamu hingga berkeping-keping? Ataukah kulemparkan kau menjadi mainan pemuas nafsu bagi para prajurit iblisku?!"
Ancaman yang dilontarkan oleh sesosok iblis bukanlah gertak sambal belaka.
Itu adalah skenario nyata yang bakal diwujudkan di masa depan.
Sebagian dari takdir masa depan.
Ucapannya didasarkan pada fakta realitas.
Dan Shinar memang benar-benar seorang putri elf pemberani yang telah menanggalkan seluruh rasa takutnya setelah melewati teror iblis pembunuh satu tebasan (One-Killer Demon) di masa lalu.
"Aku menolak. Dan sedari awal aku tidak datang ke sini atas undangan kotormu."
Dia melihat seutas garis api membentang di antara proyeksi pemikiran iblis itu dan dirinya.
Tepat sesaat setelah melemparkan pedang Winter tadi, Shinar mendengar sebuah jeritan lirih yang meminta pertolongan.
Itu adalah panggilan tolong yang hanya sanggup didengar dan direspons oleh seorang elf, seorang putri elf yang memiliki kepekaan batin setingkat pemimpin kota peradaban di tanah ini.
Dan Shinar pantang mengabaikan jeritan jiwa tersebut.
Itulah alasan tunggal mengapa dirinya memproyeksikan kesadarannya masuk ke tempat ini.
Sementara itu di dunia fisik, jelaga hitam mengalir deras di antara gumpalan awan api di langit, disusul oleh kobaran lidah api yang menyala kian ganas.
Pada detik itu, suhu atmosfer di sekitar mereka mendadak melonjak naik secara ekstrem.
Udaranya terasa mendesis membakar.
Sebuah temperatur panas yang sedemikian dahsyatnya hingga butiran keringat pun tak sempat menetes keluar dari pori-pori kulit.
Itu adalah hawa panas membara yang sanggup membuat seorang ksatria tangguh sekalipun merasa sangat sesak dan tidak nyaman.
"Lidah."
Bersamaan dengan meletupnya hawa panas ekstrem tersebut, sang Dragonkin melontarkan peringatan singkat.
Encrid telah bergerak melesat bahkan sebelum kata-kata itu tuntas diucapkan, mendekap erat tubuh Shinar yang kini tengah terkulai pingsan tak sadarkan diri di sampingnya setelah melemparkan pedang Winter tadi.
Cambuk lidah api pemotong yang menyerupai seutas tali membara mendadak meliuk membelah menjadi tiga cabang trajektori dan menghujam turun ke bumi, membidik lurus ke arah Rem, Ragna, Audin, dan Encrid secara serentak.
Itu adalah serangan maut yang pantang ditangkis secara frontal, bahkan menggunakan zirah cahaya suci sekalipun.
Cambuk api itu tak ubahnya sebilah pedang pusaka legendaris yang sanggup membelah dan memutuskan objek apa pun yang disentuhnya.
Terlebih lagi, titik-titik permukaan tanah yang baru saja disapu oleh lintasan lidah api sang Salamander bahkan tidak sempat terbakar menyala, melainkan langsung lenyap luluh lantak menjadi serpihan abu hitam.
Lidah api yang gagal mengenai sasaran keempat ksatria itu mengeruk parit dalam di atas tanah, menyerempet sebatang batang pohon yang tengah menyala, lalu melesat kembali ke angkasa.
Batang pohon raksasa yang baru saja terserempet lidah api itu mendadak miring lalu tumbang ambruk ke tanah dengan suara debuman keras, menyatu dengan bara api yang membakar bumi dan seketika berkobar kian menyala.
Tak.
Esther yang menyaksikan pemandangan itu seketika menjentikkan jemarinya dan memadamkan kobaran api tersebut dalam sekejap.
Itu adalah keterampilan magis yang luar biasa, namun saat dihadapkan pada sesosok Binatang Gaib purba yang sanggup mengubah iklim cuaca semesta, sihir tersebut tampak seolah hanyalah atraksi sulap panggung belaka.
"Situasinya memburuk."
Esther melangkah cepat mendekati posisi Encrid lalu melirik ke arah paras Shinar.
Ksatria lain mungkin tidak menyadarinya, namun dirinya sanggup membaca dan menyimpulkan kondisi yang tengah dialami oleh sang putri elf.
Mendengar penuturan tersebut, Encrid bertanya serius.
"Kenapa dia mendadak jatuh pingsan?"
Esther menjelaskan situasi yang terjadi secara teramat padat dan ringkas.
"Sebagian dari kesadaran jiwanya telah terhubung lurus ke atas."
Sebuah penjelasan yang terlalu singkat.
Encrid kembali menuntut kejelasan.
"Ke atas?"
"Terhubung langsung dengan kesadaran sang Binatang Gaib, Salamander."
Kekacauan macam apa lagi ini sebenarnya?
Apakah ada alasan logis mengapa bencana ini mendadak meletus di saat mereka memiliki kapasitas kekuatan yang lebih dari cukup untuk sekadar membendung amukan musuh?
Tentu saja tidak.
Semua ini murni merupakan sebuah rantai kebetulan yang tak terduga.
Dan bagaimana mungkin dunia ini bisa berjalan tanpa adanya sebuah kebetulan?
Jika kebetulan itu berpihak padamu, kau bisa menyebutnya sebagai sebuah keberuntungan, namun jika sebaliknya...
"Apakah dewi keberuntungan baru saja membelakangi kita?" gumam Encrid pelan.
Berdasarkan tumpukan pengalaman dan intuisinya, dia menilai bahwa Shinar mustahil sengaja melakukan tindakan berbahaya ini demi mencari masalah.
Namun fenomena ini juga mustahil terjadi murni hanya atas kehendak gadis itu seorang diri.
Menyusul serangan lidah api pemotong tadi, guyuran hujan percikan api dari langit kini jatuh kian rapat, lebat, dan bertambah ganas.
"Apa bajingan raksasa di atas sana sengaja memuntahkan seluruh amunisi yang dia tabung seumur hidupnya hari ini, hah?!" gerutu Rem kesal.
Tak peduli apakah makhluk di atas sana dulunya pernah menenggelamkan daratan benua ke dalam jurang teror purba atau bukan, di mata Rem, makhluk itu hanyalah sekadar monster pengganggu lainnya.
Gerutuan kesalnya sangat beralasan.
Meskipun dirinya telah melakukan berbagai macam persiapan matang—melumuri tali umbannya dengan cairan ramuan pelindung serta menganyamnya dari kulit binatang beastkin pilihan—adalah hal yang lumrah jika tali senjatanya putus andai dipaksa bekerja terus-menerus di tengah suhu sepanas ini.
Ragna, dengan ekspresi wajahnya yang dingin tanpa emosi, mengangkat pedang Sunrise miliknya ke atas kepala lalu memiringkan sudut bilahnya.
Di sepanjang mata pedangnya, aliran lidah api yang menghujam tersedot membelok ke satu sisi lalu padam seketika.
Gestur tangan dan tatapan matanya tampak sangat datar tanpa beban, namun ketenangan dingin semacam itulah yang justru memancarkan kesan ancaman yang jauh lebih mengerikan.
Jika situasi kian memburuk di luar kendali, dia sudah berada dalam posisi siaga penuh untuk menebas sang Dragonkin beserta sang Salamander sekaligus menjadi berkeping-keping tanpa memusingkan perkara menyelamatkan siapa pun.
Ketetapan tekad membunuh itu memancar teramat pekat dari dalam raganya.
Audin meredupkan pendaran cahaya divinitas sucinya lalu menggeser tubuhnya lincah ke sana-kemari.
Bukan perkara sulit baginya untuk melihat dan mengelak dari guyuran hujan api di tingkatan ini.
Tentu saja, bagi orang awam yang melihat gerakannya dari jauh, manuvernya tampak persis seperti seekor beruang sirkus yang tengah memperagakan atraksi akrobatik.
Jaxon melangkah tenang menembus kobaran api sembari menepis lidah-lidah api di sekitarnya murni hanya menggunakan sebilah belati tunggal.
Permukaan tanah di sekeliling mereka kini telah berkobar membara hebat.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa andai neraka api benar-benar eksis di dunia, maka wujudnya adalah tempat ini.
Kobaran api yang membakar habis kepulan asap dan jelaga menyelimuti mereka rapat-rapat.
Lantas, apakah ini adalah sebuah krisis maut?
Kenyataannya sama sekali tidak demikian.
Demikianlah kesimpulan batin yang ditarik oleh Jaxon.
Mereka memang datang ke tempat ini untuk membendung amukan sang Salamander, namun mereka sanggup melarikan diri kapan saja andai mereka menginginkannya.
Apakah sang Binatang Gaib yang memiliki lidah aneh itu dianugerahi keahlian untuk melacak keberadaan hawa kehadirannya?
Bahkan andai makhluk itu sanggup melakukannya, bagaimana cara monster itu bakal memburu dan menangkapnya saat dirinya melesat melarikan diri?
Dan kalkulasi itu tidak hanya berlaku eksklusif untuk dirinya seorang.
Setiap ksatria di tempat ini dipastikan memiliki segudang trik untuk meloloskan diri dari bahaya maut.
'Jauh lebih mudah jika kita langsung membantainya saja.'
Terlebih lagi, Jaxon memiliki segudang opsi mematikan untuk melenyapkan monster dengan karakteristik semacam itu.
Kondisinya sama persis seperti sebelum dirinya berhadapan dengan Beelrog, namun setelah bertarung melawan iblis itu tempo hari, dia telah mengumpulkan berbagai macam artefak relik kuno yang tersebar di daratan benua, bahkan jika harus meminta kucuran emas dari brankas milik Krais.
Dia bahkan sempat menyusun rencana untuk mengeksplorasi beberapa situs reruntuhan kuno andai memiliki waktu luang nanti.
Artefak-artefak relik berbahaya yang dia kumpulkan kini tersimpan padat memenuhi ruang bawah tanah markas guild miliknya serta kediaman sang kekasih.
Jika ada satu hal yang membuatnya sedikit cemas, itu hanyalah rasa malas memadamkan kebakaran hutan luas setelah seluruh kekacauan ini berakhir nanti.
Lapisan penghalang magis yang terbuat dari material menyerupai kain beludru hitam pekat tercipta kokoh di atas kepala Esther, memblokir guyuran hujan api.
Lidah-lidah api yang berjatuhan tertahan di atas permukaan kain beludru magis itu lalu buyar berhamburan.
Jika diperhatikan secara lebih seksama, percikan-percikan api yang berjatuhan itu menyerupai kawanan makhluk kecil bertubuh ganjil dan memanjang.
Haruskah mereka dijuluki sebagai kawanan kadal berkaki empat yang memiliki anatomi tubuh teramat panjang?
Encrid dan ksatria lainnya telah menangkap detail anatomi tersebut berkat ketajaman persepsi visual dinamis mereka, namun mengetahui fakta itu sama sekali tidak mengubah apa pun.
"Jika kita membantai makhluk itu sampai mati, kesadaran Shinar akan ikut musnah bersamanya," ujar Esther memperingatkan.
Gadis itu telah membenamkan sebelah matanya ke dalam dimensi formula sihir sembari mengamati sisi lain dari fenomena magis tersebut.
Seberkas benang cahaya hijau zamrud tipis tampak terbentang keluar dari raga fisik Shinar, terhubung lurus ke arah entitas di atas langit.
Benang itu memang sangat tipis, namun sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bakal putus.
Lantas apa jadinya jika mereka nekat membantai sang Salamander?
Kini mereka telah memiliki alasan mutlak mengapa mereka pantang membunuh sang monster purba.
Tepat di tengah kebuntuan itu, lidah api tampak menggumpal padat di sekitar jelaga hitam di angkasa, lalu menjulur turun membentuk seutas garis panjang yang kental.
Encrid yang mengamati proses tersebut teringat pada teknik pembuatan botol kaca yang pernah dia saksikan di bengkel kota, bagaimana cairan panas itu menjulur turun dengan sangat pekat dan liat.
Kobaran lidah api yang membidik lurus ke arah permukaan tanah.
Di atas kobaran api merah darah, pendaran cahaya kuning dan biru menyala sesaat, sebelum akhirnya bermutasi menjadi seberkas lidah api berwarna putih murni (white flame).
Menyaksikan fenomena tersebut, sepasang mata sang Dragonkin seketika memancarkan kilau pendaran kuning terang yang teramat pekat.
"Tolong lindungi aku juga."
Sang Dragonkin melontarkan kalimat tersebut tanpa konteks pengantar apa pun, lalu memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
Mendengar permohonan tiba-tiba itu, Rem seketika membuka mulutnya terbelalak kaget.
"...Bajingan satu ini benar-benar tidak punya rasa takut sama sekali, ya?!"
Andai sang Dragonkin masih berada dalam kondisi sadar, dia pasti bakal menyahut mantap, 'Aku menaruh percaya pada apa yang kulihat dengan mataku sendiri,' menggunakan kejujuran dan kemurnian jiwa sebagai perisai argumennya, namun sang Dragonkin hanya meninggalkan sepatah kalimat titipan itu lalu seketika jatuh pingsan dalam posisi berdiri tegak, menyisakan Rem yang hanya bisa menggerutu dongkol seorang diri.











