Eternally Regressing Knight

Bab 835: Keahlian Bangsa Elf adalah Distorsi (2)

3521 Kata

Bab 835: Keahlian Bangsa Elf adalah Distorsi (2)

Memukul kepalanya keras-keras?

Tidak, tindakan barbar semacam itu adalah hal yang bakal diperbuat oleh bajingan seperti Rem.

Ragna bakal langsung menodongkan pedang ke lehernya sembari melontarkan ancaman maut, sedangkan Audin bakal berteriak lantang tanpa syarat menyuruhnya memanjatkan doa kepada Tuhan.

'Enki...'

Lantas bagaimana dengan sang tunangannya sendiri?

Pria itu adalah sosok yang selalu sanggup menemukan jalan keluar dari segala kebuntuan.

Seorang pria yang diberkahi keteguhan tekad yang teramat luhur serta kilau Will yang benderang.

Sosok pria yang tak pernah ragu melemparkan dirinya ke dalam pusaran ketidakpastian demi merenggut hasil akhir terbaik yang mungkin diraih.

Gadis itu telah menyaksikan perjuangan hidup pria tersebut dari jarak yang teramat dekat hingga akhirnya sanggup berdiri di titik ini.

'Aku pun pasti sanggup melakukannya.'

Shinar meluaskan cakrawala dunia batinnya dalam sekejap.

Alur berpikirnya berakselerasi kencang, menjelajahi setiap sudut demi memburu sebuah jawaban.

Jika dirinya mempertahankan sikap kaku yang terus bertolak belakang dengan apa yang dibisikkan oleh sang iblis parasit, stabilitas jiwa sang Binatang Gaib dipastikan bakal hancur berkeping-keping.

Bukankah pertahanan mental sang monster saat ini sudah berada dalam kondisi yang teramat rapuh?

Dia menuntaskan kalkulasi berpikirnya lalu berbisik lembut ke telinga sang Salamander.

"Bencilah mereka. Luapkan amarahmu. Tak apa jika kau ingin mengamuk murka."

Kini giliran sang iblis parasit yang seketika terbungkam seribu bahasa.

Trik gila macam apa lagi yang tengah diperagakan oleh peri gila ini?

Haruskah gadis itu merasa terhormat karena berhasil menuai impresi keterkejutan semacam itu dari sesosok iblis?

Gadis itu tidak memedulikannya.

Sang iblis sempat terperangah sesaat, sebelum akhirnya kembali melanjutkan bisikan racunnya dengan nada yang jauh lebih agresif.

"...Bencilah mereka, teruslah membenci. Meledaklah!"

Kini sang putri elf tampak seolah tengah membantu memuluskan rencananya.

Jika memang demikian adanya, dia cukup memanfaatkan bantuan sukarela tersebut.

Shinar berucap seolah hendak mendukung hasutan sang iblis, namun mendadak mengubah untaian kalimat penutupnya.

"Dan pisahkanlah ragamu. Jangan pernah membiarkan racun kebencian itu bersemayam di dalam jiwamu."

Untaian bisikan itu meresap sempurna ke dalam kesadaran sang Salamander.

Alur pemikiran Shinar sejatinya sangat sederhana dan praktis.

Dia menemukan metode yang berguna di antara tumpukan ilmu yang pernah dia lihat dan pelajari dari sosok Encrid, lalu mengaplikasikannya ke dalam situasi ini.

Ilmu pedang pemecah ombak milik Encrid mengandalkan manipulasi dua cabang alur berpikir secara simultan. Ide brilian ini mencuat di kepalanya berlandaskan analogi tersebut.

Jika situasinya terasa sedemikian menyiksa hingga kau tak sanggup menjatuhkan pilihan, lantas mengapa kau tidak membelah ragamu menjadi dua bagian terpisah?

Sang Binatang Gaib di dunia fana ini pada hakikatnya tidak memiliki raga fisik padat yang mengikat.

Maka manuver pemisahan itu seharusnya sangat mungkin untuk dieksekusi.

Itu adalah hipotesis berani yang hanya sanggup dirumuskan murni karena dirinya terlahir sebagai seorang elf.

Lantas bagaimana andai rencananya berakhir dengan kegagalan?

Dia baru akan memikirkan solusinya saat momen kegagalan itu benar-benar tiba.

Apakah seluruh rangkaian peristiwa ini hanyalah sebuah kebetulan belaka, ataukah sebuah suratan takdir?

Shinar memutuskan untuk mempercayai bahwa ini adalah takdir.

Dirinya dan sang Salamander memiliki satu titik temu yang serupa.

Sang iblis memang sempat membangkitkan kesadaran sang monster, namun sama halnya seperti manusia yang merasa jauh lebih akrab dengan sesama manusia yang memiliki warna kulit serupa, sang roh api purba pun merasa jauh lebih tertarik pada sosok putri elf yang memancarkan kemurnian energi vigor alami.

Dan sang Binatang Gaib mengeksekusi petunjuk bisikan Shinar dengan teramat sempurna.

Gumpalan energi pekat yang terbelenggu di dalam jiwa sang Salamander seketika terlepas dan terkoyak keluar.

Sang Salamander mengumpulkan seluruh racun kebencian di dalam dirinya, memadatkannya menjadi segumpal massa yang terpisah, lalu memuntahkannya jatuh ke bumi.

Shinar sanggup melihat gumpalan kebencian itu memadat membentuk sebuah raga baru lalu melesat menyerbu ke arah rombongan para ksatria di bawah.

Sang putri elf yang membenamkan kesadarannya di dalam gumpalan awan api membara menyimak seluruh jalannya laga di bawah sana.

Dia melihat wujud api pertama yang menyerbu seketika meledak hancur berkeping-keping hanya oleh satu tebasan kapak tempur tunggal.

"Makhluk busuk selemah kau berani mencari gara-gara denganku?!"

Rem dipastikan baru saja melontarkan makian kasar semacam itu.

Shinar memang tak sanggup mendengar suara teriakannya dari ketinggian ini.

Siluet tubuh mereka di bawah tampak sekecil telapak tangannya.

Sang iblis parasit hawa panas sempat terkejut oleh manuver tak terduga yang dilancarkan oleh sang putri elf, dan kini kembali terperangah untuk kedua kalinya saat menyaksikan kecakapan tempur barisan ksatria di bawah.

Segala hal yang dipuntahkan oleh sang monster saat ini adalah manifestasi dari lembaran memori masa lalu sang Salamander.

Dengan kata lain, itu adalah rekaman memori dari entitas-entitas perkasa yang dulunya pernah memukul mundur sang Binatang Gaib menggunakan kekuatan destruktif murni.

Di masa lampau, tingkatan ilmu para ksatria dan penyihir di daratan benua berdiri jauh lebih superior dibanding era saat ini, serta binatang-binatang buas purba pun memiliki ketangguhan fisik yang jauh lebih mengerikan.

Beberapa binatang buas di era itu bahkan sanggup mencabik-cabik dan mengamuk membantai barisan ksatria lapis baja.

Lantas bagaimana dengan tingkatan kekuatan para monsternya?

Hal itu tentu tak perlu dipertanyakan lagi.

Sang iblis parasit memang belum hidup terlalu lama, namun dirinya memahami dengan sangat baik kedahsyatan era kuno tersebut.

Apa yang tengah dimuntahkan oleh sang Salamander detik ini adalah memori dari era kejayaan masa lalu itu, namun wujud-wujud api tersebut justru luluh lantak hancur tanpa sempat membeli sedikit pun waktu.

Pertarungan itu berlangsung sama sekali tidak seimbang.

Pahatan monster api purba itu hancur luruh satu per satu hanya dalam satu kali tebasan senjata.

Sang iblis sama sekali tidak panik ataupun meledak marah pada momen tersebut.

Dia murni mengoreksi kembali alur pemikirannya yang keliru.

'Kematian Beelrog tempo hari sama sekali bukan karena keberuntungan buta semata.'

Bukan tanpa alasan gelar 'iblis' disematkan pada dirinya.

Meledak marah dan mengutuk kegagalan rencananya adalah hal yang bisa dia lakukan di lain waktu.

Hal yang wajib dia cermati detik ini adalah realitas fakta yang terpampang di depan matanya.

Sang iblis menatap realitas nyata sembari menyimak suara transmisi yang dikirimkan oleh tubuh utamanya yang berbagi kesadaran jiwa dengannya.

'Tak ada lagi hal yang bisa kita perbuat di tempat ini.'

Tepat pada detik sang proyeksi pemikiran iblis menyadari kenyataan tersebut, raganya mulai terkikis dan buyar berhamburan secara perlahan layaknya selembar kain lap lapuk yang membusuk.

Hanya karena proyeksi dirinya telah musnah, bukan berarti para ksatria itu sanggup menyelamatkan eksistensi sang Binatang Gaib.

Bahkan andai makhluk itu telah berhasil memisahkan kebenciannya dan membelah raganya menjadi dua bagian, apakah ada tempat bernaung yang layak bagi sang roh api di dunia fana ini?

Tentu saja tidak ada.

Oleh karena itu, sang Binatang Gaib dipastikan bakal terus tersiksa di dalam penderitaan abadi.

Pada akhirnya, makhluk malang itu bakal merendahkan dirinya menjadi hamba sahaya milik bangsa iblis.

Makhluk itu bakal menundukkan kepalanya sendiri, memohon belas kasihan agar siksaan hidupnya segera diakhiri.

Takdirnya dipastikan bakal bermuara pada kesimpulan kelam tersebut.

Atas pertimbangan itulah, sang iblis parasit bersiap menarik kesadarannya sembari menyematkan tawa cibiran di dalam kehendak Will miliknya, tepat saat pandangan matanya bertubrukan dengan sepasang mata sang Dragonkin yang sedari tadi berdiri mengamatinya sebagai penonton.

Lebih presisi lagi, keduanya saling mengenali eksistensi masing-masing.

Alasan tunggal mengapa sang Dragonkin memproyeksikan tubuh mentalnya ke dimensi batin ini murni hanyalah demi mengingat dan merekam eksistensi iblis keparat tersebut.

Lantas bagaimana andai dirinya mati terbunuh di tempat ini?

Maka dia cukup menerima kematiannya dengan tenang.

Seekor Dragonkin pada hakikatnya tidak memiliki keterikatan yang teramat mendalam terhadap eksistensi kehidupan fisik mereka.

Itulah sebabnya mengapa bangsa Dragonkin adalah entitas berbahaya yang pantang dijadikan sebagai musuh.

Sebuah ras agung yang rela mempertaruhkan nyawa dan mengerahkan segenap daya upaya demi memburu dan membantai siapa pun yang telah berani mengacaukan pelaksanaan kewajiban suci mereka.

"Perekaman memori tuntas," sahut sang Dragonkin dingin merespons tawa cibiran sang iblis.

Sama sekali tak ada secuil pun senyuman di wajahnya.

Sang iblis parasit mendadak merasakan hawa dingin mencekam merayapi jiwanya tanpa alasan yang jelas.

Shinar menyaksikan kesadaran sang iblis menarik langkah mundur.

Kepulan asap hitam pekat yang buyar menjadi serakan bintik-bintik debu.

Sosok perusak yang sedari tadi membisikkan racun ke telinga sang Salamander kini telah lenyap tanpa bekas.

Sementara itu di dunia fisik di bawah, Encrid, Rem, dan ksatria lainnya terus menebas dan meremukkan setiap bola api yang berjatuhan ke tanah.

Lantas sekarang, langkah apa yang wajib dieksekusi berikutnya?

Sesosok Wood Guard tersusun dari kayu pelindung hutan, sedangkan Dryads tercipta dari dedaunan hijau dan tetesan embun pagi.

Dan Binatang Gaib ini memiliki raga yang tersusun murni dari kobaran lidah api.

Namun sang Salamander sama sekali tidak memiliki organ yang terbuat dari daging dan darah segar.

Itulah sebabnya mengapa sangat sulit bagi sang Binatang Gaib untuk bertahan hidup di daratan fana ini.

Sebab tanah ini adalah habitat asing yang tidak mengizinkan eksistensinya untuk bernapas.

Satu-satunya hal yang sanggup dia perbuat selama ini hanyalah bertahan hidup lewat tidur panjang yang dipaksakan, sembari berharap suatu hari nanti dapat kembali pulang ke alam asalnya.

—Kedamaian.

Harapan suci sang Salamander menghunjam teramat dalam ke palung hati Shinar.

Shinar merasakannya dengan sangat jelas.

Pada saat yang sama, dia menyadari bahwa ada hal berharga yang sanggup dia perbuat di tempat ini.

Jika keahlian representatif bangsa manusia adalah adaptasi, maka kurcaci adalah penempaan karya.

Jika keahlian bangsa katak adalah penelitian ilmu, maka bangsa raksasa adalah konflik pertikaian.

Jika keahlian kaum beastkin adalah seni bertahan hidup, maka keahlian bangsa Dragonkin adalah ketenteraman batin.

Dan keahlian terhebat milik bangsa elf adalah distorsi.

Kemampuan magis untuk mendistorsi persepsi kebenaran semata-mata demi tidak melontarkan kebohongan berakar kokoh di dalam karakteristik rasial mereka.

'Sang Binatang Gaib mendambakan kepulangan ke alam asalnya.'

'Aku belum sanggup mengabulkan permintaan itu saat ini.'

'Alasan mengapa dirinya ingin pulang bukanlah sekadar nostalgia masa lalu, melainkan karena dirinya membutuhkan sebuah suaka perlindungan yang aman.'

'Sebuah ruang yang damai dan tenteram sudah lebih dari cukup untuk menjadi suaka bagi sesosok Binatang Gaib.'

Terlebih lagi, sang roh api purba sedari awal sama sekali tidak pernah menginginkan kehancuran.

Makhluk itu tidak pernah mendambakan pembantaian darah.

Shinar berbisik lembut ke telinga sang Salamander tepat saat sang monster menuntaskan pemotongan dan pemisahan racun kebencian dari dalam jiwanya.

Gadis itu berjanji bakal menyediakan sebuah ruang suci yang damai baginya untuk bermain dan beristirahat.

Separuh dari janji itu lahir dari dorongan impulsif sesaat, namun separuh lainnya terasa sangat alami dan tepat.

Wujud sang Salamander kini telah berubah menjadi sesosok kadal api yang membara anggun.

Keahlian terhebat milik seorang elf adalah distorsi.

Bagaimana jadinya jika dia sanggup menciptakan sebuah kondisi di mana entitas yang normalnya hanya bisa merasakan kedamaian di dunianya sendiri kini sanggup mencecap kedamaian serupa di dalam kota peradaban para elf?

Tentu saja hal itu mustahil bisa diwujudkan hanya bermodalkan metode yang sederhana.

Dia wajib menyediakan asupan makanan yang cukup serta tempat beristirahat yang teramat nyaman bagi makhluk ini.

Lantas apa sebenarnya makanan yang disantap oleh makhluk semacam ini?

Dia jelas tidak bisa memberinya buah-buahan hutan biasa.

Seekor Dryad murni menyantap tetesan embun pagi di sepanjang hidupnya.

Kondisinya serupa dengan mereka.

Sang Salamander menyantap kobaran api murni.

'Apa elemen yang jauh lebih mendasar dari sekadar api?'

Shinar merenung dari sudut pandang pemahaman seorang elf.

'Energi vigor.'

Sumber energinya sama, sehingga secara lebih presisi, makhluk itu menyerap nutrisi dari aliran mana dan vigor murni.

Dia sanggup membiarkan makhluk ini bermukim di dalam belantara hutan yang dipadati oleh kelimpahan energi vigor, serta mengizinkannya bergerak bebas sebagai imbalan dari pertukaran vigor tersebut.

Percikan inspirasi kilat meletup layaknya sambaran petir di kepalanya, dan dia bergerak mengikuti bimbingan inspirasi tersebut.

"Sebuah dimensi yang tersusun murni dari limpahan vigor."

Itu memang bukan alam asal tempat dirinya terlahir, namun dia sanggup merekonstruksinya menjadi sebuah habitat yang serupa dengan habitat aslinya melalui seni distorsi.

Persis seperti sang penyihir Esther yang sanggup membuka gerbang dimensi formula sihir miliknya, Shinar pun sanggup mengeksekusinya.

Metodenya?

Sama sekali tidak sulit.

Dia telah mengetahui keberadaan beberapa zona suci semacam itu di lingkungan kota peradaban para elf.

Bangsa elf menjalani eksistensi hidup yang abadi.

Ketika saatnya tiba bagi mereka untuk menerima peristirahatan abadi, kesadaran mereka pada akhirnya bakal buyar melebur menjadi energi vigor murni.

Raga fisik dan sukma batin mereka melebur menjadi aliran vigor lalu meresap menyelimuti seluruh penjuru kota.

Itulah kekuatan tersembunyi pamungkas yang bersemayam di dalam kota peradaban peri Kiraheis.

Ada sebuah zona suci khusus di mana para tetua membaringkan raga mereka kala melebur menjadi aliran vigor.

Sebuah tempat sakral yang dikenal sebagai Hutan Peristirahatan Abadi (Forest of Eternal Rest).

Dia sanggup merancang sebuah habitat yang serupa dengan tempat suci tersebut.

'Murni hanya menggunakan energi vigor.'

Di tengah kelimpahan vigor itu, dia cukup menyediakan sebuah suaka yang dinaungi oleh nyala api abadi.

'Jika kita membutuhkan barisan penjaga yang akrab dengan kobaran api.'

Para ksatria elf dipastikan lebih dari cukup untuk mengelola zona suci tersebut.

Di antara bangsa elf, ada faksi ksatria yang sangat akrab dengan lempengan baja tempa dan kobaran api.

Mereka memanipulasi energi vigor dan elemen api secara simultan.

Itu adalah metode brilian yang terinspirasi dari keberadaan faksi tersebut.

Di masa lalu, Shinar sempat membenci dan mengutuk kobaran api akibat trauma teror iblis, namun sang putri elf yang telah melangkahi ketakutan itu kini telah menjadikan api sebagai sahabat karibnya.

'Ikutlah melangkah bersamaku.'

Dan demikianlah, Shinar menuntun dan membimbing sang Binatang Gaib menuju ke kota peradaban para elf.

Bagi sesosok kadal api purba yang tengah tersiksa oleh kepedihan fisik yang mendalam, tak ada tawaran yang terdengar lebih manis dibanding suaka tersebut.

Itu adalah sebuah tawaran suci yang mustahil bakal dia tolak, bahkan andai tawaran serupa dilontarkan oleh sesosok iblis sekalipun.

Sementara itu di dunia fisik, Encrid melihat bola api di hadapannya menggumpal padat lalu memadat membentuk siluet seorang prajurit manusia.

Dalam tempo yang dibutuhkan untuk mengangkat pedang Dawnforged, bola api itu telah merampungkan wujud fisiknya dengan sepasang lengan dan kaki yang kokoh. Postur tubuhnya teramat masif, setara dengan perawakan Audin, sembari menggenggam sebilah pedang yang tersusun dari kobaran api di tangan kanan serta perisai api di tangan kirinya.

Itu adalah sisa manifestasi racun kebencian terakhir yang dimuntahkan oleh sang Salamander.

Pahatan monster api itu mengambil satu langkah maju.

Dia menakar jarak serang lalu mengayunkan pedang apinya dengan buas.

Itu adalah tebasan klasik yang membidik lurus ke arah ubun-ubun kepala.

DHUAAR!

Suara dentuman udara meletup mengikuti arah tebasan.

Lidah api memancar membentuk pola garis yang membingungkan pandangan mata.

Encrid mengangkat pedang Dawnforged pada sudut kemiringan tertentu, memblokir tebasan bilah api, lalu menarik langkah mundur sebanyak tiga jengkal.

Jarak itu berada tepat satu mili di luar jangkauan tebasan lawan.

Dia bahkan telah mengkalkulasi radius jilatan lidah api yang menempel di mata pedang musuh secara presisi.

Detik berikutnya, bilah pedang api itu menyayat horizontal membelah ruang kosong yang baru saja ditinggalkan oleh tubuh Encrid.

Mata pedang yang tadinya jatuh menghunjam secara vertikal mendadak meliuk sejajar dengan permukaan tanah lalu melesat menusuk ke depan.

Encrid memiringkan tubuhnya ke samping lalu memanfaatkan bilah Dawnforged layaknya sebuah perisai untuk mendorong dan menepis tebasan lawan.

CRIIING!

Percikan lidah api sebesar kuku jari berhamburan liar ke segala penjuru.

Syuuut!

Jubah mantel milik Encrid bergerak mengibas secara otomatis dan memblokir percikan api tersebut.

'Murni karena raganya tersusun dari kobaran api.'

Makhluk itu sanggup mengeksekusi manuver pergerakan liar semacam itu tanpa memedulikan apakah sendi-sendi tulangnya bakal patah atau tidak.

Dia mengayunkan pedangnya dari atas kepala lalu mendadak memuntirnya membelokkan arah tebasan.

Tentu saja Encrid pun sanggup meniru manuver itu andai dirinya berniat melakukannya, namun...

'Apakah aku perlu memaksakan diri?'

Sesaat lalu, engsel sendi lawan meliuk ke arah yang bertolak belakang dari anatomi normal.

Sehingga serangannya berubah menjadi hantaman tak terduga yang berbahaya.

Sangat sulit menakar kapasitas keahlian tempur musuh murni hanya mengandalkan intuisi visual semata.

Mengapa?

Karena makhluk itu bertarung di luar kaidah bentuk normal.

Dia mengeksekusi pergerakan-pergerakan mustahil yang tak sanggup ditiru oleh tubuh manusia biasa dengan teramat mudah.

Musuh ini tidak hanya berbahaya karena dirinya adalah segumpal api membara; makhluk ini adalah wujud monster api yang dibekali oleh keterampilan ilmu pedang yang teramat luar biasa.

'Seluruh entitas yang memiliki anatomi tubuh abnormal pasti memiliki karakteristik serupa.'

Bagaimana jadinya jika lawannya adalah sesosok monster yang berjalan menggunakan banyak kaki alih-alih dua kaki?

Makhluk semacam itu dipastikan bakal memamerkan manuver bertarung yang jauh lebih ganjil lagi.

Encrid tenggelam dalam perenungan taktisnya sesaat, lalu mengerjapkan kedua matanya.

Untuk sesaat, pendaran cahaya biru terang tampak memancar berkilau dari sepasang manik matanya.

Itu adalah kilau cahaya jiwa yang tampak nyata murni karena keteguhan tekad dan kehendak Will di dalam tubuhnya tengah meluap membara hingga ke batas tertinggi.

Tepat saat dirinya tengah menempa mata pedang keteguhan tersebut.

"Gantian denganku kalau kau merasa kesulitan, Kapten!"

"Saudara Komandan, aku bisa memamerkan teknik baru yang baru saja kukembangkan tempo hari!"

"Kalau kau tidak berniat menebasnya, minggir sana!"

Secara berurutan, itu adalah celetukan santai dari Rem, Audin, dan Ragna.

Hanya Jaxon yang berdiri mematung dalam keheningan.

Alih-alih melontarkan ocehan, tangannya bergerak mencabut sebuah senjata dari balik jubahnya lalu memasangnya di pergelangan tangan.

Itu adalah senjata khusus yang diduga merupakan sebuah artefak relik kuno, memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Meskipun area di sekitarnya dipadati oleh kobaran lidah api, senjata berbentuk cakar binatang itu memancarkan hawa dingin yang membekukan.

Sebuah cakar tempur (claw), senjata yang menyerupai cakar binatang buas pemangsa.

Tiga bilah cakar tajam yang diselimuti hawa dingin kini terpasang kokoh di punggung tangan Jaxon.

Encrid, alih-alih melontarkan jawaban lisan, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.

DHUAAR!

Dawnforged menghantam dan meremukkan bilah pedang api sang lawan hingga hancur berkeping-keping.

Merespons hantaman itu, sang lawan mengangkat perisai apinya tinggi-tinggi.

Segumpal bola api menyembur keluar dari balik perisai, melesat membidik lurus ke arah paras wajah Encrid.

Encrid memutar tubuhnya setengah putaran dengan luwes.

Menyaksikan manuver tersebut, sepasang mata Jaxon seketika berbinar bangga.

Jauh di masa lampau, dia pernah mengajarkan teknik menangkis hantaman tak terduga yang menusuk dalam jarak dekat kepada pemuda itu.

Dia menyuruhnya memuntir engsel pundak demi mempersempit area target tubuh, sembari pada saat yang sama memangkas jarak untuk melancarkan serangan balik ke arah musuh.

"Teknik ini sangat sulit."

"Aku tidak akan repot-repot mengajarkannya padamu andai teknik ini mudah."

Sebuah memori dari masa-masa yang teramat jauh di masa lalu.

Itu adalah pelajaran yang dia sampaikan sepintas lalu di era saat dirinya masih bertindak sebagai pemimpin regu prajurit.

Dan Encrid mengeksekusi teknik kuno dari masa-masa itu dengan teramat alami dan sempurna.

Sebuah pergerakan refleks yang membuktikan bahwa pemuda itu telah melatihnya selama berhari-hari tanpa henti.

Itu adalah bukti sahih bahwa dirinya tidak pernah melalaikan sesi latihan fisik hariannya sedetik pun.

Kenyataan itulah yang membuat dada Jaxon berdesir bangga.

Lalu Encrid mencengkeram bilah ricasso Dawnforged menggunakan tangan kirinya sembari menggenggam erat gagang pedang dengan tangan kanannya, lalu menghunjamkan mata pedangnya melesat ke atas layaknya sebatang dayung yang tengah mengayuh perahu di arus deras.

Pola ayunan pedang itu adalah teknik yang dia serap dari Ragna, sementara cara dirinya menjejakkan telapak kaki kiri demi memanfaatkan elastisitas seluruh otot tubuhnya adalah warisan ilmu milik Audin.

Dan akhirnya, tandukan kepala keras yang dia hantamkan ke arah dahi ksatria api di depannya adalah gaya bertarung barbar milik Rem.

DHUAAR!

Kobaran lidah api meledak hebat tepat di depan keningnya.

'Indules, ironclad. Indules, ironclad. Indules, ironclad.'

Encrid mengulang formula penempaan tekad baja itu di dalam batinnya, menyuntikkan kehendak Will murni ke dalam dahinya.

Dan dengan cara itulah dirinya meremukkan kepala api sang lawan menggunakan tandukan kepalanya, menciptakan celah dengan menarik langkah kaki kirinya ke belakang, lalu melancarkan tebasan berkecepatan tinggi menggunakan pedang yang kini murni digenggam oleh tangan kanannya.

Bilah Dawnforged yang menyambar turun dari atas kepala memancarkan kilau garis biru terang dan membelah tuntas racun kebencian milik sang Salamander!

BLAAR-DHUAAR!

Tekanan udara yang terkompresi meledak dahsyat, dan kobaran api yang terbelah dua seketika menghamburkan percikan bara api ke segala penjuru mata angin.

Kobaran api yang meledak liar itu sempat membakar semak belukar di sekitarnya.

Dan pada satu titik, gumpalan awan api membara di langit telah sirna lenyap tanpa bekas.

Encrid menyibak helaian rambut hitamnya ke belakang, dan serpihan rambutnya yang hangus berkerut berhamburan jatuh layaknya butiran debu hitam.

Dan sang Dragonkin yang baru saja tersadar dari pingsannya membuka suaranya dari belakang punggung mereka.

"Sang putri elf telah menuntaskan sebuah pencapaian yang teramat luar biasa."

Itu adalah perkara sakral yang bersinggungan langsung dengan pelaksanaan tugas sucinya.

Itulah alasan mengapa dirinya menyuarakan pujian tersebut.

Pada detik yang sama, Shinar pun perlahan membuka kedua matanya kembali.

Encrid menatap lurus ke dalam manik mata sang tunangan.

Sepasang matanya kini tampak memancarkan semburat pendaran warna oranye hangat yang berpadu indah di tengah warna hijau zamrud alaminya.

"Tapi apa makhluk raksasa tadi benar-benar sudah mati?"

Bahkan sosok seperti Rem pun merasa tidak yakin.

Tepat pada detik saat Encrid menebas monster api tadi, hawa keberadaan masif yang sedari tadi menggantung di atas awan api telah lenyap menguap seutuhnya.

"Aku tidak membunuhnya," sahut Encrid tenang.

Tepat sesaat sebelum dirinya mengayunkan pedangnya tadi, dia sempat mendengar suara bisikan Shinar yang bergema di kepalanya.

'Tak apa jika kau ingin menebasnya.'

Itulah kalimat yang dibisikkan oleh gadis itu.

Tepat saat keduanya menuntaskan percakapan mereka, seberkas lidah api kecil berkumpul di atas tanah tepat di titik di mana Encrid melancarkan tebasannya tadi, lalu memadat membentuk siluet seekor kadal api kecil seukuran kepalan tangan manusia.

Kadal api mungil itu menjentikkan lidah apinya ke udara sesaat lalu menarik langkah mundur.

Lalu sosoknya buyar menguap layaknya fatamorgana di tengah padang pasir.

Encrid tidak sanggup membaca arah pergerakan ataupun kehendak batin sang Binatang Gaib secara presisi, namun ada satu pesan emosi yang sanggup dia tangkap dengan teramat jelas dari kepulan asap kadal mungil yang baru saja menghilang tersebut.

'Rasa terima kasih.'

Yah, sensasi yang terpancar memang terasa sangat hangat seperti itu.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.