Eternally Regressing Knight

Bab 837: Bertahan Hidup, dan Kau Akan Menjadi Lebih Kuat

3353 Kata

Bab 837: Bertahan Hidup, dan Kau Akan Menjadi Lebih Kuat

Kekaguman terhadap sebongkah batu putih sihir itu berlangsung singkat, begitu pula dengan pernyataan cinta mendalam yang dilontarkan kepada Shinar.

Krais bertanya penasaran, "Siapa sosok asing yang kalian bawa pulang kali ini? Kalian berangkat ke Pegunungan Pen-Hanil, bertarung melawan seekor Salamander, dan berhasil keluar sebagai pemenang, kan?"

Pasukan reguler garnisun Border Guard di bawah pun sempat terlibat dalam pertempuran sengit melawan kawanan pahatan monster api.

Krais telah menerima rangkuman laporan taktis perihal seluruh rangkaian peristiwa tersebut.

Merespons pertanyaan itu, Encrid menganggukkan kepalanya dengan tenang.

Memang benar bahwa dirinya membawa pulang seseorang, dan memang benar bahwa mereka baru saja bertarung melawan sang Salamander purba.

Lantas, apakah untuk saat ini mereka bisa bernapas lega?

Kemungkinan besar memang demikian.

Krais sempat berpikir demikian di dalam hatinya, sebelum akhirnya kembali terperangah takjub saat diperkenalkan dengan sosok Themares, lalu terkejut untuk kedua kalinya kala diberitahu bahwa pria tampan di hadapannya adalah seekor Dragonkin.

Dan saat menatap paras penampilannya...

"Apakah tidak ada kewajiban sakral bagimu untuk bekerja di salon kecantikan?" gumam Krais spontan.

Itu adalah komentar spontan yang sangat mencerminkan watak khas seorang Krais.

Themares, secara visual, dianugerahi ketampanan unik yang sanggup menyaingi kecantikan paras milik Shinar.

Sepasang mata reptilnya yang memiliki celah pupil vertikal memancarkan aura misteri yang memikat, sementara proporsi hidung mancung dan bibirnya membentuk seraut wajah rupawan yang bakal diakui oleh siapa saja.

Postur tubuhnya tampak ramping dari luar, namun dia bertubuh tinggi semampai dengan jangkauan sepasang lengan dan kaki yang panjang.

Ragna sempat menilai bahwa pria itu memiliki lengan yang sangat ideal untuk mengayunkan pedang panjang, sedangkan Audin memujinya sebagai proporsi tubuh yang teramat seimbang.

Dan menyempurnakan seluruh keunggulan itu, helaian rambut pirang lemon miliknya berkilau putih keemasan saat memantulkan bias sinar mentari.

Sebuah pembawaan yang hangat dan cerah, namun pada saat yang sama sepasang matanya memancarkan kedalaman dimensi lain.

'Sosok ini pasti bakal laku keras!'

Andai dirinya melangsungkan debut resmi di salon kecantikan mewah, popularitasnya dipastikan bakal meledak dahsyat menyaingi karisma milik Encrid ataupun Jaxon.

Dia mungkin tampak ramping dari luar, namun otot-otot padat yang terpahat di lengan bawahnya bakal menjadi salah satu daya pikat utamanya.

Sebuah tubuh yang seimbang sempurna dan memberikan kenikmatan estetika murni hanya dengan memandangnya.

'Paras wajah rupawan dan bentuk tubuh ideal adalah sebuah bakat bawaan yang mahal.'

Krais meyakini prinsip tersebut dengan sepenuh jiwanya.

Hanya saja, sungguh sebuah kemalangan besar bahwa orang-orang yang diberkahi bakat visual sehebat itu selalu menaruh minat pada hal-hal yang sama sekali bertolak belakang.

'Semuanya pasti bakal sukses besar andai mereka sudi melangsungkan debut di panggung.'

Demikianlah kalkulasi bisnis yang dirumuskan oleh Krais, namun tentu saja Themares sama sekali tidak menunjukkan secuil pun ketertarikan.

"Kewajiban suciku tidak bersemayam di tempat semacam itu."

Sang Dragonkin menolaknya dengan nada datar tanpa basa-basi lalu membuang pandangan matanya ke arah lain.

Seekor Dragonkin dianugerahi kemampuan alami untuk membaca gejolak batin lawan.

Dia sanggup merasakan hasrat ketamakan yang teramat murni dan intens memancar dari dalam diri Krais, namun dirinya sama sekali tidak memiliki niat untuk meladeni hasrat duniawi tersebut.

Krais mendecakkan lidahnya, merasa sangat menyayangkan penolakan dingin itu.

"Bukankah beberapa saat yang lalu kau masih dilanda kepanikan luar biasa mencemaskan aksi balas dendam dari bangsa iblis?"

Abnaier melontarkan sindiran geli saat mengamati tingkah laku Krais.

"Aku memang sempat mencemaskannya," sahut Krais dengan nada tenang.

Sepasang matanya bergantian menatap ke arah sosok Encrid, Jaxon, dan sang Dragonkin, sebelum akhirnya pandangannya mendarat pada perawakan Rem dan Audin.

Kedua ksatria tangguh itu pun memiliki daya pikat visual yang teramat unik menurut standarnya sendiri.

"Lantas bagaimana dengan sekarang?" tanya Abnaier lagi.

"Aku masih mencemaskannya."

"Raut wajahmu sama sekali tidak menampakkan kecemasan itu."

"Jika ada peluang bisnis yang jauh lebih penting di depan mata, kita bisa menunda rasa cemas itu untuk sementara waktu."

Rasa cemas itu sejatinya tetap bersemayam di dalam hatinya.

Namun Krais kini telah belajar bagaimana cara menelan rasa khawatirnya sembari tetap melangkah maju.

Bukankah ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa memelihara rasa cemas dan ketakutan ibarat terus menggenggam secangkir air penuh tanpa pernah meletakkannya ke atas meja?

Tugas yang wajib diselesaikan di masa depan telah terpampang nyata.

Maka yang perlu dia lakukan hanyalah menjalankan perannya seperti biasa sembari meletakkan cangkir kekhawatiran itu untuk sesaat.

Dan itulah yang tengah dieksekusi oleh Krais.

Alasan perihal salon kecantikan hanyalah salah satu instrumen pengalih perhatian yang memungkinkan kestabilan mentalnya untuk beristirahat sejenak.

Ada faktor krusial lainnya yang sukses meredakan rasa cemas di dalam benak Krais.

'Mereka semua berhasil kembali pulang dalam kondisi selamat tanpa luka.'

Dia sekali lagi mengonfirmasi fondasi kekuatan tempur luar biasa yang bersemayam di dalam diri barisan manusia yang kerap dijuluki sebagai bencana berjalan ini.

'Sosok Salamander legendaris.'

Bagaimana jadinya jika kelak dia mengubah kisah kepahlawanan penaklukan monster api ini menjadi sebuah kidung lagu lalu menyuruh penyair menyanyikannya di panggung salon?

Waktu luang yang tercipta bahkan memberinya ruang untuk merenungkan skenario bisnis semacam itu.

Krais telah menakar kapasitas kekuatan militer yang terkumpul rapat di sekeliling sosok Encrid menurut pemahamannya sendiri.

Tak ada seorang pun yang sanggup menduga bagaimana wujud kedahsyatan kekuatan ordo ksatria ini bakal tersingkap dan mengguncang dunia di masa depan.

Bagaimanapun juga, seluruh rombongan telah kembali dengan selamat, dan sang Salamander—meskipun tak ada orang luar yang mengetahuinya—kini telah resmi bersarang damai di dalam suaka kota peradaban para elf.

Shinar sempat mengeluhkan rasa letihnya dan berulang kali merengek meminta digendong di sepanjang jalan, namun Encrid mengabaikan rengekan tersebut dan memilih menyarankan hari istirahat penuh kepada sang Dragonkin.

"Apa di dalam kepalamu itu memang tidak ada hal lain selain pertarungan fisik?!"

Shinar menyuarakan fakta kebenaran itu dengan nada merajuk, namun tak ada satu pun ksatria yang menyimaknya dengan serius.

Kapan sebenarnya seorang Encrid pernah bertingkah laku berbeda dari itu?

Semua kegilaan ini telah terasa sangat familier dan alami di mata mereka.

Sang Dragonkin sama sekali tidak merasa heran melihat dinamika interaksi tersebut.

Sedari awal, dia memang pantang memusingkan perkara-perkara yang berada di luar lingkaran kewajiban sucinya.

Namun detik ini, dia telah menaruh rasa penasaran yang mendalam terhadap sosok sang pemuda manusia.

Dan sebuah pertanyaan pun meluncur dari bibirnya.

"Kau tampaknya sangat menyukai pertarungan fisik."

Itu terlihat sangat nyata di permukaan, dan terasa sama jelasnya kala dirinya membaca getaran batin sang lawan.

Sembari berucap, sang Dragonkin turut menyadari bahwa pemuda di hadapannya ini tidak semata-mata mencintai 'pertarungan' itu sendiri.

"Tampaknya kau jauh lebih mencintai sebuah tantangan dibanding pertarungan belaka."

Seni membaca batin.

Itu adalah bakat istimewa yang eksklusif dimiliki oleh bangsa Dragonkin, berakar kokoh dari ketajaman wawasan indrawi mereka.

Dia sanggup merasakan esensi yang sebenarnya didambakan oleh manusia bernama Encrid.

Dan kenyataan itulah yang membuat sosok pemuda ini terasa berkali-kali lipat lebih menarik di matanya.

'Kehendak Will miliknya memancar sedemikian luhur dan menyilaukan.'

Fondasi yang menopang kehendak tersebut adalah kekuatan mental baja yang pantang mengenal kata patah dan terus bergerak melangkah maju, bahkan kala dirinya berulang kali dihantam oleh berbagai macam tantangan maut.

Itu adalah sebuah wujud keteguhan jiwa yang belum pernah dia jumpai pada manusia fana ataupun makhluk cerdas lainnya di sepanjang lembaran eksistensinya.

'Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terwujud?'

Kondisi batin sekuat itu murni hanya bisa tercipta andai seseorang telah berulang kali berhadapan dengan jurang kesulitan tanpa batas yang hanya bisa dilangkahi lewat mengerahkan segenap jiwa raganya, serta secara ajaib selalu berhasil keluar hidup-hidup dari neraka tersebut.

'Selama dirinya tidak mati.'

Secara teoritis, kemungkinan itu memang sangat logis untuk terjadi.

Ketajaman wawasan milik sang Dragonkin memang teramat luar biasa.

Dia memang tidak mengetahui bahwa Encrid menjalani hidup lewat pusaran pengulangan hari, namun dirinya sanggup mengintip esensi inti dari fenomena tersebut.

Bukan berarti dirinya menyimpan ambisi untuk menggali lebih dalam demi membongkar rahasia pemuda itu.

Seekor Dragonkin selalu berfokus pada hasil akhir, bukan memusingkan proses di baliknya.

Dia murni merasakan sebuah ketertarikan batin yang tulus.

Bangsa Dragonkin adalah sebuah ras agung yang dianugerahi oleh segudang keistimewaan biologis.

Jika dirinci secara berurutan, anugerah pertamanya adalah Word of Command, yang kedua adalah Dragon Scale (Sisik Naga), dan yang ketiga adalah Dragon Eye (Mata Naga).

Jika Word of Command berfungsi untuk menindas kehendak lawan secara alami melalui getaran suara, maka Dragon Scale bertugas memutasi permukaan kulit menjadi zirah pelindung baja yang mustahil bisa digores oleh tebasan pedang biasa.

Dan yang terakhir, Dragon Eye adalah anugerah sepasang mata legendaris yang sanggup membaca dan menembus kehendak batin milik sang lawan.

Mata mereka yang menyerupai sepasang mata reptil memang tampak sangat unik di luar, namun alasan mendasar mengapa mata itu dijuluki sebagai Dragon Eye murni berakar dari ketajaman wawasan intuisinya.

Tepat pada detik Themares menatap sang lawan, dia sanggup membaca kehendak batin serta titik awal peluncuran pergerakan fisik mereka.

Kaum Dragonkin pada hakikatnya adalah bangsa yang terlahir ke dunia dengan membawa wawasan batin yang sempurna.

Tepat satu hari setelah insiden penaklukan sang Salamander resmi berakhir.

Sejak fajar menyingsing di ufuk timur, sang Dragonkin berdiri dalam keheningan mengamati sosok Encrid yang tengah bermandikan peluh keringat.

Pancaran kilau Will yang benderang sanggup menggetarkan palung emosi seekor Dragonkin.

Itu memang tidak terpancar di raut wajahnya, namun Themares benar-benar menikmati momen hidupnya murni hanya dengan mengamati gerak-gerik pemuda manusia tersebut.

Dan Luagarne, sang katak cerdas yang turut mengamati sesi latihan fisik subuh tersebut, merasa seolah dirinya baru saja menemukan rekan seperjuangan baru.

"Bukankah bangsa Dragonkin terkenal sangat tidak peduli pada urusan orang lain?"

Luagarne melontarkan pertanyaan santai sembari mengamati Encrid, Audin, dan Theresa yang tengah menggembleng fisik mereka menggunakan serangkaian alat beban yang terpahat dari lempengan besi padat.

Rekan latihan fisik subuh milik Encrid biasanya adalah sosok Audin dan Theresa, dan sesekali Ropord serta Fel bakal turut bergabung.

Tentu saja anggota ordo lainnya pun bebas bergabung kapan saja sesuai keinginan hati mereka.

"Luar biasa, Saudaraku!" puji Audin sembari mengayunkan sebongkah bola besi bertangkai ke atas dan ke bawah dengan ritme teratur.

Gumpalan otot-otot kekar di sekujur tubuh bagian atasnya menggeliat kencang mengikuti irama ayunan.

'Sebuah raga fisik yang telah ditempa secara sempurna.'

Sebuah tubuh yang tampak teramat kokoh bahkan di mata seorang Dragonkin sekalipun.

Sebuah raga yang menyerupai sebongkah lempengan besi padat, di mana barisan otot-otot kecil yang terperinci terukir rapat di antara jajaran otot-otot besarnya.

Tentu saja raga fisik milik Encrid pun tidak kalah mengagumkan, terlepas dari perbedaan volume ukuran tubuh mereka yang teramat mencolok.

Pujian Audin meluncur murni karena Encrid mengulang sesi latihannya secara disiplin tanpa memforsir tenaganya secara berlebihan.

Mengingat mereka baru saja bertarung sengit kemarin, sesi latihan subuh hari ini murni ditujukan sebagai ajang pemanasan otot yang ringan.

Luagarne, setelah melontarkan pertanyaannya tadi, menatap lurus ke depan sembari menanti jawaban dengan sabar.

Themares melafalkan bahasa lisan yang telah mulai dia biasakan hanya dalam kurun waktu dua hari singkat.

"Pernyataanmu memang benar adanya."

Seorang kawan baru yang agak lambat dalam merespons pertanyaan.

Demikianlah penilaian Luagarne di dalam hati, namun dirinya sama sekali tidak merasa keberatan.

Dalam urusan bersikap acuh tak acuh terhadap hal-hal yang berada di luar lingkaran minat pribadi, bangsa katak sama sekali tidak kalah dingin dibanding bangsa Dragonkin.

Karakteristik unik yang dimiliki oleh kedua ras ini adalah kemampuan mereka untuk menerima wujud sang lawan apa adanya, tak peduli bagaimana pun bentuk fisik rupa mereka.

"Lantas mengapa kau berdiri mengamatinya di sini?"

Dan sang katak kembali melontarkan pertanyaannya.

Rasa penasaran yang tinggi adalah senjata utama milik bangsa katak.

"Sosoknya teramat menarik," sahut sang Dragonkin singkat, padat, dan jujur.

Luagarne merenung kala menyimak jawaban tersebut.

'Sebuah karisma memikat yang sanggup meracuni ketenangan seekor Dragonkin.'

Sama sekali tidak berlebihan jika julukan semacam itu disematkan pada sosoknya.

Gadis itu bahkan menilai bahwa julukan-julukan lawas seperti Pembantai Monster atau Pembantai Beelrog sudah selayaknya ditanggalkan ke masa lalu.

Gelar terhebat bagi seorang Encrid adalah sang Ksatria Iblis (Demonic Knight).

Itu sangat tepat.

Bukankah dirinya saat ini bahkan berhasil membuat sesosok iblis merayu dan mengejarnya?

Tentu saja, rayuan dari sesosok iblis bukanlah hal yang patut disambut dengan tangan terbuka.

Iblis parasit itu telah menyerbu secara membabi buta dan membangunkan paksa sang Salamander purba.

Andai kapasitas kekuatan militer mereka berada sedikit saja di bawah standar kemarin...

'Sebuah tragedi pembantaian yang mengerikan dipastikan bakal melanda tanah ini.'

Justru karena dirinya pantang membiarkan tragedi kelam itu terjadi di dunia nyata, Encrid memilih untuk kembali membasahi sekujur tubuhnya dengan peluh keringat hari ini.

Luagarne sekali lagi menyadari alasan mendasar mengapa Encrid sanggup bertahan dan hidup menembus hari ini dengan segenap jiwanya.

'Hanya dengan tidak menyia-nyiakan sekerat pun 'hari ini' secara percuma...'

...dirinya sanggup melindungi setiap jiwa yang berdiri di belakang punggungnya lalu terus melangkah mantap menyongsong impian yang dia dambakan.

Pemuda itu memahaminya secara jernih lewat akal kepalanya, serta meresapinya dengan segenap ketulusan palung hatinya.

Hanya sesederhana itu.

Saat Encrid tengah bermandikan peluh keringat, Themares secara perlahan mulai memanaskan aliran darah di sekujur raganya.

Seekor Dragonkin dianugerahi keahlian biologis semacam itu.

Dia cukup berdiri mematung dalam keheningan, mengencangkan dan merilekskan otot-ototnya secara bergantian agar selalu berada dalam status siaga penuh untuk bergerak kapan saja.

Dia memanaskan aliran darahnya dan merilekskan otot-ototnya pada takaran yang presisi.

Dia kini telah resmi memasuki kuda-kuda tempur aktif.

"Aku sudah siap," ujar Themares tenang.

Encrid menganggukkan kepalanya lalu melangkah berdiri tegak tepat di hadapannya.

Dan demikianlah, kedua pendekar pedang itu kembali berdiri saling berhadapan di lapangan latihan tempur setelah jeda satu hari singkat.

Apakah ada urgensi untuk melontarkan basa-basi percakapan lebih lanjut?

Tentu saja tidak ada.

Keduanya serentak mencabut senjata mereka dari sarungnya.

Pendaran cahaya biru milik Dawnforged dan kilau bilah pedang panjang putih seketika saling membelit dan beradu di udara.

TRANG!

Tepat saat kedua bilah senjata yang diselimuti oleh pancaran Will itu saling bertubrukan, hembusan angin kencang seketika meledak menderu di sekeliling mereka.

Encrid telah melancarkan serangkaian tusukan kilat dan tebasan terarah demi mengincar celah pertahanan lawan, namun sang Dragonkin memamerkan dinding pertahanan yang teramat kokoh dan solid.

Encrid memperlambat ritme ayunan pedangnya sesaat lalu bertanya, "Terbuat dari material apa pedang putihmu itu sebenarnya?"

Itu adalah sebilah pedang istimewa yang tetap utuh mulus tanpa cela meskipun telah berulang kali berbenturan langsung melawan ketajaman Dawnforged.

Material bilahnya jelas tidak menyerupai lempengan logam baja biasa.

"Pedang ini ditempa murni dengan cara mencabut salah satu tulang tubuhku sendiri lalu memadatkannya," sahut Themares jujur.

Senjata berinskripsi milik seekor Dragonkin rupanya menyimpan sisi penciptaan yang teramat ekstrem dan intens.

"Apa tulang yang kau cabut itu bisa tumbuh kembali?"

"Ada sebatang ruas tulang yang tidak terlalu berguna di dekat pangkal ekorku."

Ketika ditanya apakah lumrah bagi bangsa Dragonkin untuk menempa senjata pribadi menggunakan tulang tubuh mereka sendiri, pria itu menganggukkan kepalanya mantap.

Sama sekali tak ada hal yang membosankan di dalam kisah-kisah yang mereka bagi di sela-sela sesi adu pedang tersebut.

Selama beberapa hari berturut-turut, keduanya terus saling bertukar tebasan pedang berulang kali, diselingi percakapan santai di antaranya.

Haruskah disebut sebagai sebuah sesi sparring persahabatan yang sanggup memuaskan dahaga bertarung milik Encrid dan Themares sekaligus?

Namun duel itu pantang melangkahi batas garis aman tertentu.

Menilik dari standar brutal milik The Order of the Madmen Knights, adu pedang mereka tergolong sebagai sesi sparring yang sangat ringan dan terkontrol.

"Keahlian pedang pria itu lumayan juga," komentar Rem setelah menyimak jalannya duel di hari pertama.

Di hari kedua, Ragna menimpali sembari mengernyitkan sebelah alisnya, "Keterampilan tekniknya terus mengalami peningkatan."

Jaxon hanya berdiri menyimak dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak, sementara Fel dan Ropord turut memamerkan gelora semangat tempur mereka.

"Bagaimana kalau kurasakan padamu kedahsyatan tebasan kapak mautku?!" seru Rem bahkan sempat melompat menerjang masuk, berbicara layaknya seorang bandit jalanan kelas tiga.

Fel, Ropord, dan Theresa pun bergantian maju menjajal ketangguhan sang Dragonkin masing-masing satu kali ronde.

"Pria ini benar-benar tidak memiliki aroma bau badan sama sekali. Sangat aneh rasanya. Apa seluruh bangsa Dragonkin memang tidak punya bau tubuh seperti ini?"

Dunbakel melontarkan keheranannya, merasa sangat ganjil pada eksistensi sang Dragonkin yang tak memiliki bau badan sedikit pun namun memancarkan hawa keberadaan yang teramat tegas.

Entah bagaimana mulanya, sosok Themares kini telah resmi membaur dan menyatu dengan seluruh anggota ordo para ksatria gila.

Lantas bagaimana dengan atmosfer kehidupan di dalam benteng kota garnisun sepanjang masa-masa tersebut?

Suasananya terbentang sangat damai dan tenteram.

Warga dan prajurit beraktivitas seperti biasa seolah pertempuran dahsyat kemarin hanyalah peristiwa sepele yang tak berarti.

Jika ada yang bertanya apa alasan mendasar di balik sikap santai tersebut, kenyataannya sama sekali tak ada alasan muluk.

Pasukan reguler garnisun memang sempat bertarung membantai kawanan monster api, namun mereka tidak menganggap pencapaian itu sebagai sebuah keajaiban luar biasa.

Hanya sebatas itu saja.

Belantara Pegunungan Pen-Hanil sedari dulu adalah habitat liar tempat di mana kawanan monster buas bermunculan di pagi dan petang hari.

Oleh karena itu, bahkan andai segerombolan monster es mendadak menyerbu turun besok pagi, para prajurit dipastikan bakal menyambut serbuan itu dengan sangat santai.

Faktanya, di setiap musim dingin tiba, kawanan raksasa berbulu putih lebat yang dikenal sebagai Yeti selalu bergerak turun menuruni lereng bukit.

Fenomena itu hanya jarang mendapat sorotan murni karena kuantitas populasi monster Yeti tidak terlalu masif.

Kemunculan seekor Drake liar mungkin bakal memicu kepanikan massal di masa lalu, namun masa-masa mencekam semacam itu telah lama terkubur di masa lampau.

Standar kapasitas tempur pasukan reguler garnisun saat ini telah berada di tingkatan yang jauh berbeda dibanding era terdahulu, serta markas ordo The Order of the Madmen Knights kini bermarkas kokoh di tanah ini.

Jika seekor Drake menampakkan diri, fokus permasalahan utama para prajurit hanyalah seberapa utuh mereka sanggup membawa pulang lembaran kulit sisiknya ke pangkalan.

Itu membuktikan bahwa kekuatan militer yang mampu mengeksekusi hal tersebut kini tengah menetap siaga di dalam kota benteng ini.

Bahkan tanpa perlu mengandalkan bantuan para ksatria The Order of the Madmen Knights sekalipun, menundukkan seekor Drake adalah tugas yang sanggup diselesaikan dengan mudah murni oleh divisi elit pasukan reguler.

Tentu saja, hanya sosok Krais serta para bendahara pengelola anggaran kota yang bakal cerewet memperhitungkan nilai ekonomis dari keutuhan selembar kulit Drake atau bangkai monster.

Barisan prajurit reguler itu sendiri murni hanya fokus menuntaskan pertarungan.

"Tapi tetap saja, pria itu bahkan sanggup menundukkan seekor Salamander purba?!"

Setidaknya sosok Garrett Guiro, pria yang memahami kebenaran fakta tersebut dengan sangat jernih, merasa teramat takjub dan terperangah.

'Kota ini benar-benar telah berbeda.'

Benteng perbatasan Border Guard telah melompat terlalu jauh dibanding kota-kota lainnya di daratan benua.

Benteng ini berbeda dari kota-kota metropolitan di bawah kekuasaan Duke of Okto, berbeda dari kemegahan Nauril, serta melampaui kota-kota niaga besar yang kerap dipuja sebagai pemukiman paling nyaman untuk ditinggali berkat limpahan kekayaannya. Apakah seluruh kemajuan ini tercipta murni karena ketiadaan ancaman perang melawan kerajaan Aspen?

'Ataukah semua ini berkat tangan dingin sang kawan bermata besar, Krais?'

Jika kau mengamati sisi lain dari sebuah fenomena besar, alasan di baliknya tidak pernah hanya bersumber dari satu faktor tunggal.

Dunia ini tidak pernah berjalan secara sesederhana itu.

Namun di antara seluruh faktor tersebut, selalu ada satu alasan terbesar yang menjadi poros penggeraknya.

'Encrid.'

Pria yang kini telah resmi menjabat sebagai komandan tertinggi dari ordo ksatria The Order of the Madmen Knights selalu menikmati proses membagikan dan mengajarkan apa pun ilmu yang telah dia serap dan kuasai.

Dia menanamkan kesadaran bahwa membangun ketahanan stamina fisik melalui rutinitas brutal seperti lari neraka (hell-run) adalah sebuah kewajaran mutlak.

Dan di atas fondasi tersebut, kerja keras Krais serta serangkaian keunggulan geografis turut menyatu memperkuatnya.

'Dan ketika rentetan insiden bahaya terus meletus tanpa henti, mereka selalu merespons dan melangkahinya dengan tangguh.'

Pepatah kuno yang melegenda di daratan benua tampaknya berlaku mutlak bagi kota perbatasan ini.

'Bertahan hiduplah, dan kau akan bertumbuh menjadi semakin kuat.'

Entah bagi seorang tentara bayaran ataupun saudagar niaga, hukum alam itu selalu terbukti benar.

'Kota benteng ini.'

Kota ini telah berhasil bertahan hidup melintasi berbagai macam prahara maut hingga akhirnya menjelma menjadi sebongkah batu karang raksasa yang teramat keras dan kokoh.

Atmosfer yang menyelimuti tempat ini telah berubah total dibanding era saat dirinya dulu masih bertugas di sini.

'Bukan lagi tempat bagiku untuk mencampuri urusan mereka.'

Garrett Guiro adalah seorang pria petualang alam liar.

Dirinya bukanlah seorang politisi licik, bukan pula seorang perwira militer aktif, melainkan seorang penyair keliling (bard).

Dia sempat menggubah sebuah kidung balada baru perihal sosok sang Ksatria Iblis yang berhasil membendung amukan sang Salamander purba, namun karyanya gagal meledak di pasaran murni karena dirinya tidak lantas dianugerahi bakat menggubah lagu yang jenius hanya gara-gara sempat melewati satu insiden pertempuran maut.

"Sungguh sebuah kesialan. Seharusnya akulah sosok yang menyebarkan legenda agung ini ke seluruh penjuru dunia."

Bagaimanapun juga, Garrett akhirnya melangkah pergi melanjutkan pengembaraannya, dan sesosok makhluk berakal budi yang baru kini telah resmi bergabung bernaung di dalam benteng perbatasan Border Guard.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.