Eternally Regressing Knight

Bab 854: Ikatan Batin

3965 Kata

Bab 854: Ikatan Batin

Sensasi gelora ekstasi yang teramat liar meledak membuncah dari akselerasi kecepatan terjangan sang kuda.

Rasanya tak ubahnya seolah sel-sel di dalam otaknya tengah tergelitik ngilu. Untuk sesaat pemuda itu melupakan segala macam prahara di dunia dan terhanyut seutuhnya ke dalam dimensi pertarungan.

'Sensasi ini benar-benar sangat menyenangkan.'

Odd-eye, tepat setelah menebas tewas mangsa buruan pertamanya lalu melesat melintas, mengeksekusi sebuah manuver lincah yang mustahil sanggup ditiru oleh seekor kuda biasa.

Binatang itu menyambut terpaan angin kencang mengandalkan sayap kirinya, lalu memanfaatkan daya dorong tersebut demi mengubah sudut kemiringan tubuhnya dan berbelok tajam ke arah kanan.

Pada saat yang sama, kaki belakang kirinya mengentak permukaan tanah dengan sedemikian kokohnya.

Seluruh rangkaian pergerakan akrobatik tersebut meluncur dengan keahlian presisi yang sama indahnya dengan lemparan kapak maut milik Rem.

Encrid menggeser titik pusat gravitasi tubuhnya secara mulus menyelaraskan setiap lekuk pergerakan Odd-eye.

Koordinasi di antara kedua makhluk hidup itu terjalin dengan teramat sempurna.

Bukankah kesempurnaan manuver seekor kuda pada hakikatnya bertumpu pada keahlian dari sang penunggang yang bertengger di atas punggungnya?

Dan demikianlah, keduanya menyatu menjadi satu kesatuan raga tunggal lalu membelokkan arah terjangan mereka.

Jika hantaman tebasan pertama tadi tak ubahnya sebilah mata pedang yang menyayat melintas, maka terjangan kali ini tak ubahnya sebatang ujung tombak raksasa yang membelah poros tengah formasi sang musuh.

Pedang Dawnforged tergenggam kokoh di tangan kanannya, dan pedang Penna terhunus di tangan kirinya.

Pemuda itu kembali menggenggam sepasang bilah pedang kembar di kedua tangannya untuk kali pertama setelah sekian lama.

Kawanan monster buas di hadapannya membuka rongga mulut mereka lebar-lebar.

Apakah mereka tengah melolongkan sebaris teriakan perang?

Pemuda itu sama sekali tidak sanggup mendengarnya.

Encrid menerjang maju membelah barisan.

Serat-serat otot di kedua lengan bawahnya menggeliat liat lalu mengembang padat.

Akselerasi kecepatan lari yang dipacu oleh Odd-eye berada di tingkatan yang teramat sangat ekstrem bahkan di mata seorang ksatria agung sekalipun.

Andai dirinya mengendurkan cengkeraman kekuatannya barang sedikit saja, kedua tulang lengannya dipastikan bakal patah remuk layaknya sebatang ranting kayu lapuk.

'Tersimpan sebaris kenikmatan murni di balik sensasi bahaya ini.'

Dia menghimpun segenap aliran informasi dari lingkungan sekitarnya mengandalkan kecepatan berpikirnya yang kian terentang tajam.

Pemuda itu terjun bebas membelah jantung formasi kawanan monster.

Sepasang bilah pedang di kedua tangannya menebas, menyayat, merobek, dan meledakkan segala raga makhluk hidup apa pun yang tersentuh oleh matanya.

Fyuuuh!

Rem melontarkan siulan kagumnya.

Itu adalah sebuah atraksi pertempuran agung yang teramat sangat langka untuk disaksikan di belahan bumi mana pun.

"Kuda liar itu... menumbuhkan sepasang sayap?!"

Ropord berseru takjub sembari membelalakkan matanya menatap siluet Odd-eye.

Ksatria lainnya turut dilanda rasa kaget yang serupa, namun rasa terkejut itu murni bertahan sesaat, seiring pemandangan spektakuler di mana sosok Encrid bertarung menyatu dalam satu kesatuan bersama sang kuda seketika membentang memukau pandangan mata mereka.

Ragna membuka sepasang kelopak matanya yang sedari tadi terkantuk-kantuk.

Audin, dengan senyuman damai yang selalu menghiasi paras wajahnya, memanggil asma Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Berkatilah dan limpahkanlah rahmat suci-Mu sekali lagi," gumam Theresa melafalkan senandung ritmisnya.

Gadis manusia beruang itu seketika teringat pada kisah legendaris dari sesosok ksatria suci Tuhan yang tercatat di dalam lembaran kitab suci kuil.

Kala barisan divisi bala tentara iblis membentengi jalan, tersimpan sesosok ksatria agung yang menerjang maju menunggangi seekor kuda pusaka yang dianugerahkan langsung oleh Tuhan.

DUAAAR! BLAAR!

Setiap kali suara ledakan dahsyat meletus membelah atmosfer, semburan darah hitam pekat serta 'serpihan potongan daging Centaurs' seketika berhamburan terlempar ke angkasa.

Setiap kali Encrid melesat menerjang—tidak, lebih tepatnya ke mana pun arah Odd-eye melancarkan serbuannya—lapisan udara seketika terkoyak robek dan gelombang kejut sirkular meledak dahsyat.

Meskipun rombongan ksatria berdiri di radius yang tergolong cukup jauh, suara robekan udara yang meletus menggelegar terus-menerus berdenting menyapa daun telinga mereka.

"Pemuda itu benar-benar tengah menikmati pertempurannya," komentar Themares dingin.

Dia tidak sanggup membaca alur kesadaran batin Encrid murni akibat batasan jarak, namun dia sanggup menyimpulkan fakta tersebut murni lewat mengamati gerak-gerik sang pemuda.

"Sensasi manuver semacam itu benar-benar terlihat sangat memusingkan kepala," gumam Fel meluapkan pandangannya.

Ksatria itu mencoba menempatkan dirinya sendiri ke dalam posisi Encrid.

Sanggupkah diriku bergerak lincah andai dipaksa harus berlari dalam kecepatan segila itu?

Faktor apa saja yang mutlak kubutuhkan demi sanggup mengayunkan pedang, melancarkan tusukan, serta mendobrak barisan musuh dalam kecepatan supersonik semacam itu?

'Kapasitas kalkulasi keputusan instan (instantaneous judgment) mutlak dibutuhkan.'

Serta raga fisikmu wajib ditempa dengan sedemikian kokohnya.

Menyempurnakan seluruh tuntutan tersebut, kau wajib mengerahkan segenap panca indramu demi menyerap dan membaca segenap aliran informasi lingkungan sekitar secara langsung (real time).

'Kecepatan berpikir tingkat tinggi (high-speed thought).'

Sosok Fel pun sejatinya telah mengantongi keahlian tersebut.

Bagaimanapun juga dirinya adalah sesosok ksatria sejati.

Namun andai dirinya diinstruksikan untuk mengeksekusi manuver persis seperti yang tengah diperagakan oleh Encrid detik ini?

"...Kerja keras tanpa henti adalah satu-satunya jawaban mutlak," gumam Fel lirih.

Pengakuan jujur dari lubuk batinnya meluncur tanpa dia sadari.

Ropord pun turut menyaksikan atraksi pertempuran tersebut sembari diliputi oleh kekaguman yang mendalam.

Sudut pandang analisanya teramat sangat berbeda dibanding cara pandang Fel.

Dia sama sekali tidak menempatkan dirinya ke dalam posisi Encrid.

Sebagai gantinya, pria itu melukiskan peta situasi pertempuran seolah-olah dirinya tengah memandang medan laga dari ketinggian angkasa.

'Andai sama sekali tak ada urgensi untuk membidik titik kelemahan fatal sang musuh, mendobrak poros tengah formasi mereka sudah lebih dari cukup.'

Selama kau mengantongi keunggulan daya hantam yang masif, strategi itu tergolong sangat brilian.

Murni menilik dari sudut pandang strategi kemiliteran.

'Tidak, bahkan tanpa perlu melancarkan agresi sebrutal itu sekalipun, menembus titik formasi yang tepat sudah sangat memadai.'

Encrid telah merobek poros tengah kawanan Centaurs lalu memenggal tengkorak kepala sang pemimpin monster berukuran raksasa yang memimpin di barisan paling depan.

Makhluk buas itu sempat melancarkan perlawanan sengit, menghunus sebilah senjata panjang lalu mengayunkannya ke udara.

Ropord tidak sanggup menyaksikannya secara mendetail murni karena jaraknya yang terlampau jauh, namun hasil akhirnya terpampang sedemikian gamblangnya di depan mata.

Encrid melesat melintas seolah murni menyenggol raga sang monster, dan tubuh monster tersebut seketika meledak berkeping-keping di udara.

'Andai senjata yang digenggamnya bukan sebilah senjata berinskripsi (inscribed weapon), bilah pedang biasa dipastikan bakal patah hancur berkeping-keping.'

Demikianlah analisa taktis yang ditarik oleh Ropord.

Sang penyerang dipastikan bakal merasakan hempasan gaya tolak balik kinetik yang teramat dahsyat kala mengayunkan pedang dalam kecepatan tersebut.

Hal itu adalah sebuah keniscayaan alami andai kau berani mengayunkan pedang sembari melancarkan terjangan supersonik.

Bahkan dalam manuver tombak berkuda (lance charge) sekalipun, andai titik hantaman meleset barang beberapa inci saja, adalah fenomena umum bagi tulang lengan atau tulang rusuk sang penyerang untuk patah remuk seketika.

Tentu saja kondisinya berada di dimensi yang terpisah bagi sesosok ksatria sejati yang telah dibekali oleh kekuatan fisik di luar batas nalar manusia biasa.

"Persis seperti yang selalu kupercayai, menempa ketahanan fisikmu secara disiplin setiap hari selalu membuahkan hasil yang manis," gumam Audin bangga.

Bagaimana mungkin sosok Audin gagal membaca dinamika yang baru saja disaksikan oleh Ropord?

Dia merasakan gelora kebanggaan batin murni karena dirinya telah berhasil mewariskan segenap ilmu ketahanan fisik miliknya kepada sosok Encrid.

"Sebuah lembaran perjalanan panjang yang teramat terjal, bermula dari era ajaran Hati sang Monster (Heart of the Beast) hingga detik ini," timpal Rem sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

Pria barbar itu turut merasakan kebanggaan yang serupa layaknya sang manusia beruang dan memandang dirinya sendiri sebagai figur yang paling banyak berkontribusi mematangkan keahlian sang komandan ksatria.

"Pemuda itu dipastikan bakal terlempar jatuh dari pelana andai dirinya gagal mempertahankan fokus konsentrasinya," celetuk Ragna menyisipkan sebaris kalimatnya.

Ksatria berambut perak itu melontarkannya sembari memainkan gagang pedangnya.

Sepasang mata ketiga ksatria itu memang tidak saling bertatapan, namun pancaran atmosfer hawa keberadaan mereka seketika mengalami pergeseran tajam.

Gelora nafsu bertarung di antara ketiganya seketika saling berbenturan di udara.

"Ketiga pria ini meyakini sepenuh jiwa bahwa merekalah yang paling berjasa. Mereka berniat menyulut baku hantam berdarah andai salah satu dari dua lainnya berani bertingkah macam-macam. Pikiran ketiganya berada dalam kesepakatan mutlak," sang Dragonkin menyisipkan ulasan komentarnya dengan nada datar tanpa emosi.

Untaian kalimat yang dibeberkan oleh sang kadal seketika membuat pancaran aura hawa membunuh milik ketiga ksatria itu berkali-kali lipat jauh lebih mengerikan.

"Apa maksudmu dengan berada dalam kesepakatan, heh?!"

"Menyejajarkan kapasitas ilmuku bersama dua orang barbar itu adalah sebuah bentuk penghinaan yang teramat lancang. Belajarlah sopan santun, wahai Dragonkin!"

"Saudaraku sang Kadal, Tuhan Yang Maha Kuasa tampaknya tengah mendambakan sesi dialog mendalam bersamamu."

Sang Dragonkin murni menganggukkan kepalanya santai.

Dia murni menyahut singkat, 'Begitu rupanya.'

Dia sama sekali tidak memelihara secuil pun gelora nafsu bertarung di dalam jiwanya.

Tak ada secuil pun rasa iri hati maupun dengki.

Dia terlahir dari sebuah ras mitologi purba yang teramat sangat jarang memperlihatkan luapan emosi duniawi.

Itulah alasan mengapa dirinya sanggup menerima pancaran hawa membunuh murni yang dilayangkan oleh ketiga ksatria tersebut dengan ketenangan batin yang mutlak.

Luagarne memilih untuk mengunci mulutnya dalam keheningan.

Katak cerdas itu murni memutar sepasang bola matanya secara berkala.

Terlepas dari apakah ketiga ksatria bodoh itu bakal saling bunuh atau tidak, detik ini adalah momen paling berharga demi mengunci dan menikmati aksi spektakuler Encrid di dalam memorinya.

Sama sekali tak ada perkara lain yang memiliki nilai guna di matanya saat ini.

"Sungguh mahakarya yang luar biasa," Shinar murni menyuarakan decak kagum halusnya.

Sang putri elf teramat sangat jarang melontarkan lelucon andai sosok Encrid tidak berada di sampingnya.

Secara alami dia sama sekali tidak menaruh secuil pun minat pada keributan konyol di antara ketiga ksatria tersebut.

Hal yang sama berlaku pada celotehan sang Dragonkin.

Bukankah detik ini adalah waktu yang paling sakral untuk menikmati keindahan aksi sang kekasih?

Dan demikianlah, seekor katak cerdas dan seorang putri bangsawan peri elf resmi menjelma menjadi sepasang penonton setia.

Dunbakel adalah salah satu figur yang paling terkejut kala menyaksikan sepasang sayap agung yang membentang di punggung Odd-eye.

Gadis itu memang sempat diusir keluar dari desa asalnya, namun dirinya menghabiskan masa kanak-kanaknya di tengah belantara peradaban bangsa beastkin.

'Jika garis darah monster buas bercampur baur di dalam raga seekor hewan, binatang itu bakal bermutasi menjadi seekor siluman (beast).'

Dan andai binatang itu disentuh langsung oleh jemari tangan keilahian dewa, binatang itu bakal mekar bermutasi menjadi sesosok binatang suci (divine beast).

"Sosok Anak Krimhalt (Child of Krimhalt)."

Krimhalt adalah dewa tertinggi yang disembah oleh segenap bangsa manusia binatang (beastkin).

Sang dewa menyimbolkan gelora perjuangan hidup dan kesuburan reproduksi serta membantu segenap ciptaan di alam semesta demi bangkit kembali.

Itulah alasan mengapa segelintir cendekiawan bangsa manusia kerap melabeli Krimhalt sebagai dewa musim semi, namun bagi bangsa beastkin, beliau adalah Tuhan tunggal yang mutlak, sehingga perdebatan semacam itu tidak memiliki arti.

Beliau menaungi pergantian empat musim, bentangan langit dan bumi, terbitnya sang surya serta cahaya rembulan yang menerangi malam adalah manifestasi wujud yang berbeda dari sang dewa Krimhalt.

Sesosok binatang suci (divine beast) merujuk pada anak terpilih yang mewarisi benih keilahian yang ditaburkan langsung oleh sang dewa Krimhalt.

Itulah pemahaman akal sehat bangsa beastkin yang dia ketahui sedari kecil.

Terlebih lagi eksistensi dari seekor binatang suci sedari dulu selalu bersemayam di dalam lembaran legenda mitos.

Maka ini adalah kali pertama di dalam hidupnya dirinya sanggup menyaksikan keberadaan makhluk suci tersebut secara langsung menggunakan kedua matanya sendiri.

"Kuda itu telah mewarisi garis darah dari seekor Pegasus, sang kuda terbang bersayap legendaris," tutur sang Dragonkin sembari melangkah meninggalkan ketiga ksatria yang belum sempat menghunus senjata mereka.

Sang Dragonkin telah hidup terisolasi melintasi batas zaman modern, sehingga eksistensinya tak ubahnya melompat langsung dari lembaran masa lampau.

Sosok entitas mitologi yang murni tercatat di dalam lembaran dongeng kuno daratan benua sama sekali bukanlah pemandangan asing di mata seekor Dragonkin.

Mengingat dirinya tempo dulu pernah menjalin interaksi bersama kawanan makhluk tersebut.

Tentu saja ini adalah kali pertama baginya menyaksikan sepasang sayap mendadak mekar mencuat dari raga seekor kuda secara spontan.

Seekor Pegasus murni sedari awal dipastikan bakal terlahir ke dunia dengan sepasang sayap yang telah membentang utuh.

Diiringi oleh rentetan suara dentuman keras yang meletus bersahut-sahutan, segenap kawanan Centaurs telah resmi terkoyak hancur dan meledak berkeping-keping, dan tak butuh waktu lama bagi pertempuran berdarah tersebut untuk tuntas sempurna.

Tepat di tengah-tengah pembantaian tersebut, salah seekor Centaur sempat memisahkan diri dari kawanannya lalu berupaya melarikan diri terbirit-birit, namun Odd-eye melompat tinggi sembari berlari kencang lalu melayang terbang di angkasa.

Sang kuda menangkap hembusan angin mengandalkan sepasang sayapnya di udara lalu memperagakan sebuah manuver meluncur (glide) yang teramat anggun.

Binatang itu melompat membubung tinggi lalu menukik tajam menghujam dari atas langit.

Encrid menebas putus tengkorak kepala Centaur terakhir tersebut mengandalkan sabetan pedang diagonal yang dilancarkan tepat dari angkasa.

Andai kawanan monster buas ini dibiarkan berkeliaran bebas, mereka dipastikan bakal merajalela di kawasan padang rumput ini layaknya sebuah luka bernanah yang membusuk.

Dalam satu sudut pandang, mereka adalah tipikal musuh yang teramat menjengkelkan untuk diburu oleh rombongan ksatria saat ini, meskipun bukan musuh alami yang mematikan, namun seekor kuda luar biasa dan seorang ksatria agung telah menyapu bersih keberadaan mereka tanpa sisa.

Odd-eye melipat kembali sepasang sayap agungnya, dan Encrid melangkah kembali menunggangi punggungnya.

Kepulan uap merah jambu mengepul membumbung dari punggung Odd-eye kala melangkah mendekat.

Luapan hawa panas mendidih yang terpancar dari sekujur raganya membuat cucuran keringat dan percikan darah di kulitnya menguap seketika ke udara.

Sosok Encrid pun memperlihatkan fenomena yang serupa.

Kepulan uap panas turut membubung dari sekujur raganya sembari pemuda itu berujar, "Kecepatan larimu benar-benar terlampau cepat."

Lalu pemuda itu menyisipkan kalimat tambahannya, "Dan sensasinya terasa sama menyenangkannya."

Itu adalah sebuah sensasi kecepatan yang teramat sukar untuk dialami murni mengandalkan raga fisik manusia biasa.

Jika harus berbicara jujur, sensasi tersebut bahkan bakal terasa teramat luar biasa bagi raga fisik seorang ksatria biasa sekalipun.

Dia telah berhasil mengayunkan pedangnya hingga akhir.

Encrid membatin merenung di dalam hatinya.

'Bagaimana cara diriku mengeksekusi seluruh keajaiban tersebut tadi?'

Dia mengeksekusinya murni 'karena memang harus dilakukan', sembari setengah terhanyut di dalam ekstasi pertarungan.

Secara alami akumulasi jam terbang pengalaman serta rentang waktu tempaan disiplin yang dia bangun di masa lalu yang telah menyulap hal mustahil tersebut menjadi kenyataan.

Dia paham betul perihal hukum alam tersebut.

Hii-ring.

Odd-eye menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.

Suara dengusan napasnya terdengar tak ubahnya sebuah permohonan agar sang penunggang segera turun dari punggungnya.

Encrid menepuk pelan kepala Odd-eye menggunakan tangan kirinya, lalu menempatkan telapak tangannya di atas punggung sang kuda dan meluncur turun ke tanah sembari menggulingkan tubuhnya ke samping.

Otot-otot kedua paha kakinya seketika bergetar ngilu.

Dia telah menyuntikkan konsentrasi tenaga yang teramat masif demi menjaga agar raganya tidak terlempar jatuh dari pelana.

Dia sanggup bertahan murni berkat tempaan latihan fisik yang dia jalani secara konsisten.

'Andai bukan karena latihan fisik tersebut, aku dipastikan telah terlempar patah tulang sejak lama.'

Pffrrhk!

Gelora luapan emosi yang membara di dalam jiwa Odd-eye rupanya masih belum kunjung padam seutuhnya.

Sang kuda selama ini telah menahan siksaan rasa sakit yang teramat perih akibat gumpalan lebam yang mengukir punggungnya.

Kuda liar yang telah berhasil menaklukkan garis darah monster di dalam raganya kini merasakan gelora kebebasan yang sejati.

Seisi kolong langit semesta seolah-olah kini telah resmi menjadi miliknya, dan raganya dipadati oleh luapan kekuatan yang melimpah hingga dirinya merasa sanggup mengeksekusi apa pun di dunia ini.

Saluran air yang tadinya tersumbat kini telah resmi terbuka lebar, dan simpul tali yang terikat rumit kini telah terurai tuntas.

"Kau masih mendambakan ingin berlari lebih banyak lagi?"

Encrid sanggup membaca isi batin sang kuda bahkan sebelum sang Dragonkin sempat membuka mulutnya.

Ikatan batin di antara keduanya tempo dulu memang telah terjalin sangat erat, namun detik ini rasanya tak ubahnya seolah benang kesadaran pikiran mereka telah tersambung secara langsung.

Odd-eye menatap lurus ke arah sosok Encrid.

Sepasang mata mereka saling bertatapan lekat-lekat.

Sepasang mata dengan corak warna yang berbeda, merah membara dan biru terang.

"Lakukanlah apa pun sesuka hatimu. Aku sama sekali tidak bakal menahan langkahmu."

Encrid tidak pernah memperlakukan sosok Odd-eye murni sebagai seekor binatang tunggangan belaka.

Kuda jantan ini adalah sesosok kawan sejati serta perwira resmi dari The Order of the Madmen Knights.

Odd-eye mengentakkan kuku kakinya ke tanah seolah tengah meluapkan kegembiraannya yang meledak-ledak.

Diiringi suara dentuman langkah yang menggelegar, binatang itu melesat berlari kencang ke satu sisi.

Seiring dirinya berlari, akselerasi kecepatannya kian melesat kilat hingga siluet raganya bermutasi menjadi sebaris garis lurus tunggal yang membelah garis cakrawala.

Sang kuda bersayap membubung terbang ke angkasa, didorong oleh akselerasi kecepatan larinya membelah kubah langit di mana bias sinar mentari senja tengah meredup temaram.

Kepakan sayap agung.

Sebuah suara kepakan sayap seolah samar-samar terdengar menyapa telinga.

Meskipun pada kenyataannya jarak di antara mereka telah terbentang terlampau jauh untuk sanggup mendengar suara fisik.

Odd-eye telah resmi terbang membubung tinggi menembus hamparan awan di langit luas.

Encrid pun sempat merasakan sensasi terbang sesaat kala bertengger di punggungnya tadi, namun pemandangan yang tersaji saat ini benar-benar merupakan sebuah panorama yang teramat magis.

Siluet Odd-eye kini telah mengecil menjadi sebutir noktah halus lalu menghilang lenyap dari batas pandangan mata.

"Pemandangan yang sangat menyenangkan," Rem menyimpulkan situasi tersebut murni menggunakan sebaris kalimat santai.

Themares dan Dunbakel sibuk mengoceh kepada Encrid perihal takdir sang kuda sebagai Anak Krimhalt, perihal berkah suci keilahian, serta silsilah ras Pegasus.

Encrid menyahut santai dengan nada datar,

"Odd-eye murni tetaplah sosok Odd-eye."

Sang Dragonkin menaruh rasa ketertarikan yang berkali-kali lipat jauh lebih mendalam kepada sosok pria berambut hitam ini.

"Apakah tidak apa-apa bagimu andai kuda itu menghilang lenyap begitu saja dari sisimu?"

"Kuda itu tampaknya pasti bakal kembali pulang kemari, namun andai terbang bebas adalah hal yang sesungguhnya didambakan oleh Odd-eye, maka biarlah hal itu terjadi."

Dia pantang menahan langkah siapa pun.

Prinsip hidup tersebut berlaku mutlak kepada setiap rekannya.

Persis seperti dugaan awalnya, sebuah jawaban yang teramat sangat mengesankan.

Seorang manusia biasa dipastikan mustahil sanggup bertindak dengan ketulusan hati sedalam itu.

Sebuah fakta mutlak yang bahkan dipahami oleh seekor Dragonkin sekalipun.

"Untaian kalimatmu tadi terdengar seolah kau tidak bakal sudi mencari keberadaan bajingan tertentu andai dirinya memutuskan untuk pulang kembali ke belahan wilayah barat," celetuk Ragna menyindir.

"Makna tersiratnya adalah kau dipersilakan untuk pulang kembali ke pelukan klan Yohan lalu menangis tersedu-sedu di dalam dekapan ibumu," tentu saja Rem pantang kalah dan seketika menyambar balik.

"Bagaimana kalau kau sendiri yang pulang kembali ke barisan The Order of the Crimson Cloak Knights? Menimbang fakta bahwa kita sedari awal memang tengah bertolak menuju ke garis depan selatan."

Dia pasti menyerap seni sindir-menyindir ini dari kedua rekannya tadi.

Fel melontarkan provokasinya membidik sosok Ropord.

Ropord membalas sembari membelai surai leher kudanya, "Aku tidak sanggup mendengar ocehanmu dengan jelas murni karena kau hanyalah sesosok pria udik kampungan yang biasa menggembala domba di padang belantara."

"...Pria udik kampungan?! Siapa yang kau maksud?!"

Tempo dulu sosok Fel selalu sanggup memenangkan perdebatan verbal melawan Ropord.

Namun kini Ropord telah resmi memegang keunggulan mutlak.

Dinamika situasi selalu mengalami pergeseran.

Atmosfer di antara barisan ksatria perlahan mulai memanas hangat.

Andai seseorang dituntut untuk mencari akar penyebabnya...

"Kau baru saja memperlihatkan sebuah pertunjukan yang teramat menyenangkan kepada kami, wahai Enki," gumaman halus milik Luagarne adalah jawaban tunggalnya.

Atraksi pertempuran hidup-mati yang baru saja diperagakan oleh Encrid telah memanaskan aliran darah di sekujur tubuh mereka.

Satu-satunya entitas yang tetap sanggup mempertahankan ketenangan batin mereka murni hanyalah sang Dragonkin, sang putri elf, serta sang katak cerdas.

Rombongan ksatria kembali melangkahkan kaki mereka mendesak maju.

Mereka saling melontarkan untaian kalimat ancaman yang mengerikan, namun perselisihan itu tidak sampai bermutasi menjadi bentrokan fisik.

"Mari kita lanjutkan perjalanan."

Insiden singkat tersebut telah resmi berakhir tuntas.

Sangatlah lumrah bagi para pengelana di daratan benua ini untuk berpapasan dengan kawanan monster buas di tengah perjalanan.

Hanya berkat keberadaan rute jalur aman yang dibentengi oleh garnisun Border Guard lah mengapa insiden bentrokan semacam ini terasa sangat langka di kawasan ini.

Satu hari penuh berlalu, dan gumpalan awan mendung gelap mulai berarak memadati kubah langit di atas kepala mereka.

Odd-eye masih belum kunjung kembali pulang, dan entah berakar dari aksi memukau yang diperagakan oleh Encrid kemarin ataukah murni karena watak bawaan lahir mereka, aliran darah di sekujur tubuh para ksatria masih belum kunjung mendingin.

Seolah hendak mewakili gelora darah panas yang membara tersebut, Dunbakel membuka suaranya, "Alangkah menyenangkannya andai sekawanan monster buas mendadak keluar menyerbu dari suatu tempat."

Jika dibandingkan dengan belantara wilayah timur, daratan benua ini tergolong teramat damai.

Terlebih lagi di bawah naungan hegemoni pengaruh garnisun Border Guard, kuantitas monster liar serta kawanan bandit penjarah telah merosot tajam secara drastis.

Seolah-olah dewa semesta baru saja mengabulkan permohonan lisannya...

"Di belahan wilayah barat, kami memiliki sebuah pepatah kuno bahwa untaian kata-kata selalu sanggup bermutasi menjadi benih kenyataan," Rem yang baru saja kehilangan gairah berdebat melawan Ragna sejak pagi hari menyambut untaian kalimat gadis itu.

Pria barbar itu pun sejatinya tengah dilanda rasa bosan yang teramat sangat.

"Mengapa untaian kata-kata sanggup bermutasi menjadi benih kenyataan?" tanya Dunbakel polos.

"Itu adalah sebuah majas kiasan bahasa, dasar kau manusia binatang bodoh!" seru Rem sembari menghunus kapak tempurnya.

Dia sanggup mengunci siluet sekawanan monster buas yang tengah berlari kencang menyerbu dari arah depan.

Kekuatan tempur utama macam apa yang tengah menghadang mereka?

Kawanan anjing berwajah manusia (Man-faced dogs).

Dan bersanding di sela-sela formasi mereka, sekawanan serigala raksasa purba tampak melangkah mengancam, namun binatang-binatang itu sedari awal bukanlah hewan pemangsa biasa.

"Ukuran tubuh mereka teramat sangat masif," gumam Ragna sembari melompat turun dari atas pelana kudanya.

Dia sempat merenungkan opsi untuk melancarkan serbuan berkuda layaknya atraksi Odd-eye kemarin, namun manuver semacam itu dipastikan tak ubahnya menjatuhkan vonis hukuman mati bagi kuda tunggangannya.

Oleh karena itu dia pantang mengeksekusinya.

"Mereka bukan binatang siluman biasa, melainkan kawanan monster purba. Serigala Raksasa Purba (Dire wolves)," sahut Luagarne membeberkan analisanya.

Katak cerdas itu mengantongi segudang jam terbang bertarung menumpas monster dan binatang buas.

Sang Dragonkin tidak berniat melibatkan dirinya ke dalam pertempuran lalu menghentikan laju kudanya, berubah menjadi sesosok penonton.

Encrid, entah atas dasar alasan apa, turut menghentikan kuda tunggangannya tepat di samping sang kadal.

"Wahai tunanganku. Tampaknya tersimpan segudang perenungan mendalam yang tengah berputar di dalam kepalamu."

Berkat terbangnya Odd-eye ke angkasa kemarin, kedua sejoli itu kini menunggangi satu kuda yang sama dengan Shinar yang duduk di bagian depan.

Shinar yang duduk merapat di depan dadanya sanggup merasakan gelora perenungan batin yang tengah melanda jiwa Encrid.

Dia adalah sesosok peri elf, representasi dari ras yang paling sensitif terhadap getaran jiwa di muka bumi.

"Pedang pusaka itu."

Kawanan monster buas yang tengah menerjang mendekat tak ubahnya murni sebuah latar belakang pemandangan yang tidak penting, sehingga pemuda itu sama sekali tidak memusingkan kehadiran mereka.

Para ksatria yang aliran darahnya tengah mendidih panas telah melesat maju menyambut serbuan musuh atas inisiatif mereka sendiri.

Encrid berujar sembari menatap lekat-lekat ke arah pinggang kanan milik Shinar.

"Sudah berapa lama dirimu menggunakan pedang pusaka itu?"

Shinar membelai sarung pedang Naidyr miliknya dengan penuh kasih sayang.

Bagi dirinya, bilah pedang tersebut adalah sesosok sahabat karib sejati.

Bilah pedang itu tidak pernah mengkhianati keselamatannya, dan dipastikan pantang mengkhianatinya selamanya.

"Sudah lebih dari empat ratus tahun lamanya," tutur Shinar sembari memanggil kembali lembaran memori hari sakral kala dirinya pertama kali menerima pedang tersebut, sebelum akhirnya tersentak menyadari selip lidahnya.

"...Bukan empat ratus tahun, melainkan maksudku lebih dari empat puluh tahun lamanya."

Bahkan andai dirinya menyatakan lebih dari empat puluh tahun, untaian kalimat itu pada hakikatnya bukan merupakan sebuah kebohongan.

Murni karena dirinya menggunakan kata 'lebih dari' empat puluh tahun.

Terlepas dari apakah faktanya adalah empat ratus empat puluh tahun ataupun lima puluh tahun, sama sekali tak ada dusta kala menyatakan bahwa usianya telah melampaui empat puluh tahun.

Encrid menyimak selip lidah yang dilontarkan oleh Shinar masuk melalui telinga kanan dan seketika mengeluarkannya melalui telinga kiri.

'Ikatan Batin (Communion).'

Pemuda itu tengah tenggelam ke dalam satu perenungan filosofis tunggal.

Ikatan batin sakral yang baru saja dia rajut bersama sosok Odd-eye kemarin telah menganugerahkannya sebuah pemahaman baru yang teramat mendalam.

Encrid menempatkan telapak tangannya di atas gagang pedang Dawnforged miliknya.

Sebuah senjata berinskripsi (inscribed weapon) pada hakikatnya adalah bagian dari anatomi raga seorang ksatria sejati.

Oleh karena itu, meskipun senjata tersebut merupakan sebongkah lempengan besi padat yang tak bernyawa, mereka berdua sesungguhnya saling merajut ikatan batin satu sama lain.

"Usianya benar-benar telah melampaui empat puluh tahun, wahai tunanganku! Aku merevisi pernyataan lisanku tadi! Tolong lupakan apa yang baru saja kuucapkan sebelumnya!" Shinar kembali menegaskan pembelaannya dari samping sembari memerah malu.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.