Bab 855: Pertanda Buruk, Kegelisahan, dan Kelam
Terlepas dari apa pun celotehan yang dilontarkan oleh Shinar, sosok Encrid sedari tadi telah tenggelam teramat dalam ke dalam pusaran perenungan batinnya sendiri.
'Hanya separuh jalan.'
Dia merasakan adanya sebaris kekosongan di dalam jalinan koneksi batinnya bersama pedang Dawnforged (Dawn).
Rasanya tak ubahnya murni baru tersambung separuh jalan.
Lantas bagaimana dengan pedang pusaka Penna?
Sejak detik pertama dirinya menghunus bilah tersebut, dia merasa tak ubahnya diperlakukan murni sebagai seorang 'tamu' belaka.
Ketajaman indra intuisinya yang terasah tajam membisikkan kepastian tersebut.
Menyatakannya secara presisi tepat separuh memang terasa agak janggal, namun satu hal yang pasti adalah pemuda itu merasakan adanya sebuah kepingan puzzle yang hilang.
'Apakah tersimpan sebuah alasan logis di baliknya?'
Apakah sang bilah pedang enggan membuka palung hatinya?
Ataukah justru watak sikap batinnya sendirilah yang bermasalah?
Apakah kapasitas keahlian pedangnya yang masih belum memadai?
Ataukah bakat alaminya yang terlampau dangkal?
Alur pemikirannya meluncur menghunjam lurus menuju ke inti terdalam, menyisir kembali lembaran masa lampau demi memburu sebaris jawaban pasti.
Terlepas dari apakah jawaban tersebut merupakan kebenaran mutlak ataukah sebuah kekeliruan, bangsa manusia sedari dulu memang selalu mengembara memburu sebuah kepastian.
Dan sosok Encrid bagaimanapun juga adalah seorang manusia biasa.
Secara alami pemuda itu mendambakan sebaris jawaban.
Dia berulang kali menggenggam lalu mengendurkan cengkeraman jemarinya pada gagang pedang Dawnforged.
"GRAAAKH!"
Sosok Serigala Raksasa Purba (Dire Wolf) adalah monster predator buas yang sanggup mengoyak dan meremukkan tubuh seorang pria dewasa murni dalam satu gigitan rahang tunggal.
Tengkorak kepala dari serigala monster yang berukuran sebesar sebuah bangunan rumah panggung itu mendadak melayang terbang ke angkasa.
Sang pria barbar buas dari belahan wilayah barat telah menebas putus leher sang serigala purba secara teramat mulus.
Tebasan kapaknya meluncur sedemikian kilat dan ganasnya hingga sang serigala raksasa yang telah kehilangan kepalanya bahkan sama sekali belum menyadari bahwa dirinya telah tewas, terus mengibaskan cakar depannya menghantam tanah tepat di mana sosok Rem sempat berdiri sesaat lalu.
DUAAAR!
Permukaan tanah seketika terbelah retak.
Gumpalan tanah berhamburan terlempar ke segala arah seolah tengah memekikkan jeritan ngilu.
Andai bumi memiliki indra perasa, fenomena semacam itulah yang bakal terjadi.
Murni lewat satu tendangan kaki tunggal, bangkai tubuh sang serigala raksasa seketika miring limbung lalu ambruk menimpa tanah.
Bumi seketika bergetar hebat diiringi dentuman deburan yang berat.
Itu adalah seonggok bangkai yang teramat sangat masif.
Genangan darah hitam pekat mengucur deras layaknya guyuran hujan badai, membasahi permukaan tanah di sekitarnya.
Pada saat ini, pancaran hangat sang surya telah memudar lenyap seutuhnya, dan atmosfer udara terasa sedemikian pekat dan mencekam.
Gumpalan awan mendung tebal memadati seisi kubah langit, menyulap siang hari menjadi gelap gulita tak ubahnya malam buta.
Itu adalah sebuah hari di mana keberadaan sang surya di tengah hari sama sekali tidak meninggalkan jejak.
Rem menyunggingkan seringai tajamnya, memamerkan taring-taring giginya sembari menatap ke arah bangkai monster yang baru saja dia bantai.
"Ayo maju, kalian masih punya kawanan lagi?! Maju kemari bajingan!"
Pria barbar itu tengah menikmati ekstasi pertempuran, terhanyut di dalam gelora kekacauan yang liar.
Lantas apakah sosok Rem adalah satu-satunya petarung yang mengamuk membabi buta di tempat ini?
Tentu saja tidak.
Fel yang telah melesat menyusup ke tengah-tengah kawanan anjing berwajah manusia (Man-faced dogs) menghunus pedang Pembantai Berhala (Idol-Slayer) miliknya, menginjak cakar depan serigala yang tengah membidiknya, lalu melompat melenting tinggi ke angkasa.
Bilah pedang hitam pekat miliknya menyambar layaknya sambaran petir menyengat, membelah mahkota kepala sang serigala purba tanpa ampun.
Ketajaman bilah serta ledakan daya hantamnya berpadu sempurna membelah tengkorak kepala sang monster menjadi dua bagian yang simetris.
Bilah pedang itu meliuk lincah tak ubahnya sambaran halilintar yang hidup.
Menyayat dan membelah, lalu seketika menarik kembali lintasannya.
Menguasai kembali keseimbangan tubuhnya di udara, Fel mengentakkan kakinya menendang serpihan kepala serigala yang terbelah lalu mendarat anggun menjejakkan kakinya di atas tanah.
Satu tebasan, satu nyawa melayang (one strike, one kill).
Sebuah serangan khas yang merepresentasikan jati diri seorang Fel, sang pemilik pedang maut kepastian.
Sebuah teknik pedang yang selaras sempurna bersama bilah pusaka yang dia pikul.
'Mata bilah pedangnya telah kian menghitam pekat.'
Encrid tetap tenggelam merenung bahkan kala menyaksikan atraksi pembantaian tersebut.
Jawaban yang dia cari tidak kunjung mendarat dengan mudah.
Tidak, rasanya tak ubahnya tengah menyiksa batin meratapi sebuah pertanyaan yang sedari awal memang tidak memiliki jawaban mutlak.
Mengapa para dewa bersikap sedemikian kejamnya terhadap nasib bangsa manusia?
Mengapa daratan benua ini pantang sanggup membebaskan diri dari belenggu pengaruh kawanan monster dan teror Demon Realm?
Kerumitan itu tak ubahnya melontarkan pertanyaan filosofis semacam itu lalu menuntut sebaris jawaban instan.
Lantas haruskah dirinya terus bermuram durja meratapi kebuntuan ini di tempat ini?
Tidak, sama sekali tak ada urgensi baginya untuk bersikap selemah itu.
Encrid mengibaskan segenap keraguan yang menyelimuti benaknya.
Dia pantang membuang energi meratapi masalah-masalah yang mustahil sanggup dipecahkan dalam sekejap mata detik ini.
Dia melangkah jauh melampaui sekadar meredam hasrat memburu jawaban; dia menguraikannya dengan akal sehat yang dingin.
Dia mengingat seluruh teka-teki tersebut, namun pantang membiarkannya bersemayam mengendap di dalam relung hatinya.
Sosok Encrid selalu sanggup mengeksekusi hal tersebut.
Apa yang masih kurang di dalam dirinya saat ini sanggup dia sempurnakan kelak di masa depan, seiring dirinya diberikan waktu luang untuk merumuskan jalannya.
Persis seperti jalan perjuangan yang selalu dia tapaki hingga detik ini.
'Dawnforged adalah bilah pedang agung yang ditempa dari benua Aetri.'
Dan pedang itu pun merupakan sebilah senjata pusaka yang telah diselimuti oleh kemurnian kehendak Will miliknya.
Jawaban sejati dipastikan eksis di suatu tempat.
Belum mengetahuinya di detik ini bukanlah sebuah malapetaka.
'Andai bakat alamilah yang menjadi faktor penghambatnya.'
Maka segenap kekurangan itu sanggup dilacak dan ditambal tuntas melalui tempaan kerja keras.
Persis seperti hukum alam yang sedari dulu selalu dia buktikan.
Pandangan mata Encrid beralih mengamati jalannya pertempuran yang tengah dilancarkan oleh divisi ordonya.
Itu benar-benar merupakan sebuah panorama pertempuran yang teramat sangat megah dan memukau pandangan mata.
Penuh dengan inspirasi wawasan, sarat akan pelajaran taktis, serta rentetan atraksi yang mengundang decak kekaguman tanpa henti.
Kubah langit di atas kepala mereka tampak menghitam legam seolah-olah baru saja dihujani oleh guyuran jelaga tebal.
Dan menembus kegelapan tersebut, kilatan cahaya fajar milik Ragna (Sunrise) melesat membelah hamparan tanah.
"Tampaknya aksi terjangan Odd-eye kemarin telah meninggalkan kesan mendalam yang teramat kuat di benak mereka."
Encrid berujar sembari sepasang matanya berbinar terang mengamati jalannya laga.
"Pemuda itu telah berhasil menepis keraguan batinnya."
Sang Dragonkin menyuarakan apresiasi analisanya.
"Aku sudah mengetahuinya bahkan tanpa perlu kau beritahu, wahai Dragonkin. Aku pun sanggup membaca isi hati tunanganku tercinta."
Shinar menyisipkan celotehannya dari samping.
Encrid menyimak percakapan di sampingnya masuk melalui telinga kanan dan seketika mengeluarkannya melalui telinga kiri, sembari sepasang matanya tetap terkunci lekat pada medan laga.
Ini adalah momen sakral yang menuntut konsentrasi penuh.
Kelengahan fokus barang sedetik saja bakal membuat momen emas tersebut luput dari pandangan matanya.
Ragna melesat menyusup melintasi sela-sela formasi tiga ekor monster serigala raksasa.
Rentetan tusukan pedang yang dia lancarkan merupakan representasi murni dari akselerasi kecepatan mutlak.
Ksatria berambut perak itu memadukan seni pedang penghubung Oara (Oara's Linking Sword) bersama rentetan tebasan mematikan.
Mengakselerasi pusaran kehendak Will yang berputar membara di dalam raganya, dia menancapkan kedua kakinya ke atas permukaan tanah.
Menekuk lalu mengentakkan lutut dan pergelangan kakinya, dia melenting melesat maju tak ubahnya sebatang pegas baja berkecepatan tinggi.
Siluet raganya seolah-olah tampak melayang terbang di udara.
Apakah pria berambut perak ini benar-benar sesosok jenius sejati?
Dia menginternalisasi kesan mendalam yang dia serap kemarin lalu memanifestasikannya secara sempurna mengandalkan raga fisiknya sendiri.
Itu adalah sebuah teknik pedang ilahi yang diperagakan murni mengandalkan sepasang kakinya sendiri alih-alih bertengger di atas pelana kuda.
'Dia bahkan sanggup memadukan momentum gaya puntir dari putaran pinggangnya secara presisi.'
Dia menyalurkan daya inersia kinetik dari derap lari seekor kuda perang yang tengah memacu kecepatan penuh ke dalam bilah pedang yang diayunkannya sembari berlari kencang.
Ragna memamerkan kapasitas bakat alaminya yang luar biasa.
Pedang Sunrise melukiskan sebaris garis kilatan berwarna jingga terang, dan segala raga monster apa pun yang terperangkap di dalam garis lintasan tersebut seketika meledak hancur berkeping-keping!
Tentu saja pria itu mustahil sanggup terus berlari supersonik layaknya Odd-eye sepanjang waktu.
Dia murni mengakselerasikan kecepatannya dalam kurun waktu sepersekian detik yang eksplosif.
'Luar biasa mengagumkan.'
Encrid berdecak kagum di dalam hatinya.
Dan atraksi yang teramat menyenangkan rupanya masih belum berakhir di titik ini.
Kali ini giliran sosok Audin yang memperagakan aksinya.
Pria perkasa itu pun rupanya telah mengamati gerak-gerik Odd-eye kemarin lalu merumuskan sebuah teknik tempur baru di dalam kepalanya.
Mereka adalah sekumpulan pria sejati yang raga fisik dan ekspresi wajahnya seketika bakal memancarkan kesan mendalam yang mereka rasakan secara gamblang.
Sebuah fakta alamiah yang sanggup dia baca secara garis besar bahkan tanpa perlu meminjam kemampuan menerawang pikiran.
Bahkan tanpa perlu menyandang status seekor Dragonkin sekalipun, bukanlah perkara sulit untuk meraba intensi dan palung hati dari rekan-rekan seperjuangannya.
Mengingat mereka adalah sekumpulan orang-orang yang telah melintasi puluhan medan pertarungan hidup-mati bersama-sama.
Dan Encrid adalah salah satu bagian integral dari lingkaran tersebut.
Audin menggerakkan raga raksasanya.
'Gaya putaran (Spin).'
Encrid tempo dulu merintis fondasi dasar dari seni pedang Pusaran (Vortex) miliknya murni berlandaskan prinsip-prinsip bela diri Valaf (Valaf martial arts).
Audin pun mengetahui seluk-beluk prinsip tersebut dengan sangat baik.
Pria manusia beruang itu memutar tubuh raksasanya tak ubahnya sebuah gasing besi raksasa, lalu melesat meluncur menghunjam ke satu sisi.
Itu adalah sebuah metode taktis demi memadatkan konsentrasi gaya putaran sentrifugal lalu melontarkannya meluncur ke arah luar.
Memang memiliki format yang berbeda dibanding jurus Vortex, namun prinsip dasarnya tergolong sangat identik.
Jika sosok Ragna melukiskan garis-garis akselerasi kecepatan mengandalkan pedang Sunrise, maka Audin memperlakukan sekujur raga fisiknya sendiri layaknya sebilah mata pedang raksasa.
Jika harus berbicara jujur, wujudnya bahkan tidak lagi menyerupai sebilah mata pedang.
"Sebuah metode yang murni mengandalkan kekuatan otot brutal, namun teramat sangat efisien."
Audin telah bermutasi menjadi sebongkah batu karang raksasa yang ditempa dari lelehan baja murni.
BLAAAR!
Lapisan udara seketika meledak dahsyat dan terkoyak robek di sepanjang lintasan yang dia terjang.
Batu karang baja raksasa itu menghunjam menembus delapan ekor monster buas sekaligus!
Lima ekor di antaranya tertembus hancur tubuhnya secara frontal; sementara tiga ekor lainnya terperangkap ke dalam pusaran angin topan yang tercipta dari akselerasi dadakan Audin, merobek daging mereka hingga tewas seketika.
KIIII-EEEEK!
KAEK-KAEK!
Monster-monster buas yang ukuran tubuhnya menjulang lebih tinggi dibanding ras raksasa itu seketika mematung gemetaran dicekam oleh rasa teror yang teramat pekat.
Lantas siapa sebenarnya yang layak dilabeli sebagai monster buas di tempat ini?
Apakah para monster buas itu tengah melontarkan jeritan histeris semacam itu di dalam benak mereka?
Lantas apakah kondisinya berbeda bagi sosok Rem?
Pria barbar itu pun menghentikan ayunan kapak tempurnya, mencerna sensasi yang dia serap kala menyaksikan sosok Odd-eye mengandalkan caranya sendiri, lalu memperagakannya di depan mata mereka.
Sang pria barbar dari belahan wilayah barat menghunus sebilah kapak genggam yang terikat rapi oleh lilitan tali urat binatang purba.
Dia tidak melompat melenting jauh layaknya atraksi Ragna ataupun Audin.
Mengendalikan ritme hembusan napasnya, pria itu melangkahkan kakinya dalam derap langkah pendek yang teramat cepat, lalu menghimpun segenap gelora tenaga kinetik tersebut demi melontarkan kapak tempurnya.
Sebuah bayangan semu (afterimage) tampak tertinggal di titik di mana dirinya sempat berdiri sesaat lalu.
Fenomena ganjilnya adalah potongan gerakan yang terpecah tersebut membuat bayangan semu itu tampak tak ubahnya sebuah rangkaian aksi gerak yang terus menyambung tanpa putus.
Seluruh keajaiban tersebut meletus hanya dalam radius lima langkah lari pendek.
Sensasinya tak ubahnya sebuah ilusi fatamorgana di padang pasir.
Dia menancapkan kaki kirinya kokoh ke tanah, menarik lengan kanannya jauh ke belakang, lalu melontarkannya ke depan dengan akselerasi penuh.
Di akhir lintasan gerakannya, sekujur raga fisiknya melengkung condong ke depan seolah-olah setiap serat otot di dalam tubuhnya baru saja diperas hingga titik maksimal.
Demikianlah cara Rem melontarkan kapak lempar yang tergenggam di tangan kanannya.
Otot-otot di sekujur anatomi tubuhnya mengembang secara eksplosif lalu melepaskan energinya dalam satu hentakan tunggal.
Aliran kekuatan sihir (sorcery power) di dalam raganya meledak menyatu dalam frekuensi yang harmonis.
DUAAAR—!
Bilah kapak lempar itu seketika bermutasi menjadi sebuah cakram maut berputar yang merobek lapisan atmosfer.
Bahkan sebelum suara dentuman sonik sempat menggema di udara, mata bilah kapak tersebut telah menembus dan meremukkan tengkorak kepala sang serigala purba hingga hancur berkeping-keping!
Sepasang bola mata Encrid memancarkan binar kekaguman yang benderang.
Pancaran hangat sang surya yang tersembunyi di balik gulungan awan mendung pekat seolah-olah kini tengah bersemayam di dalam sepasang matanya.
'Dia menghimpun gelora tenaga kinetik yang tercipta dari entakan kakinya ke tanah lalu menyalurkannya seutuhnya ke dalam kapak genggamnya.'
Rem melontarkan kapak di tangan kanannya sembari memeras segenap kapasitas otot tubuhnya.
Dia mengeksekusi rangkaian pergerakan dinamis tersebut sembari berlari kencang.
Sebuah ancang-ancang lari selalu memungkinkan seseorang untuk melompat jauh lebih tinggi.
Rem menyalurkan seluruh prinsip momentum tersebut ke dalam senjata lemparnya.
Dan itulah hasil akhir spektakuler yang baru saja tersaji.
"Yah, bagaimanapun juga ketapel lempar tradisional tetap berkali-kali lipat jauh lebih nyaman untuk kugunakan," gumam Rem sembari menegakkan kembali postur tubuhnya.
Demi melontarkan objek apa pun di dunia ini, kau murni cukup memanfaatkan keunggulan gaya sentrifugal.
Oleh karena itu melontarkan kapak genggam dengan cara sebrutal ini teramat sangat jarang dibutuhkan kecuali dalam kondisi darurat yang mendesak.
Bagi ketiga ksatria monster tersebut, pembantaian ini tak ubahnya sebuah arena permainan yang menyenangkan.
Menyaksikan atraksi rekan-rekannya, aliran darah di sekujur tubuh Encrid kembali mendidih hangat.
"Mereka saling mendorong dan menarik satu sama lain, saling memberikan rangsangan stimulus tempur," komentar sang Dragonkin dingin.
"Itulah ciri khas paling mendasar yang melekat pada kepribadian pria berambut hitam itu," timpal Luagarne menambahkan.
"Tak ada seorang pun di muka bumi ini yang bakal membantah bahwa pemuda itu adalah sesosok pria pemantik yang teramat sangat memprovokasi jiwa," bisik Shinar tepat di samping telinganya, memastikan agar suaranya terdengar jelas oleh Encrid.
Pertempuran kini telah melibatkan aksi dari Ropord, Theresa, serta Dunbakel.
Dinamika bentrokan fisik tersebut berlangsung secara sepihak.
Atraksi itu bahkan telah melangkahi definisi pertempuran biasa dan resmi bermutasi menjadi sebuah pembantaian massal.
Sebelum bertolak melangkah kemari, Dunbakel telah menerima sebilah pedang pusaka baru yang ditempa langsung oleh seorang pandai besi ras Dwarf.
Pedang pusakanya berwujud sebilah pedang lengkung (scimitar).
Ukurannya tergolong lebih panjang dibanding pedang lamanya, serta guratan pola bergelombang yang mengukir penampang bilahnya terpampang teramat tegas dan jelas.
Sang pandai besi kerdil tempo hari dengan penuh rasa percaya diri menjamin bahwa bilah pedang tersebut dipastikan pantang patah dengan mudah.
"Baru-baru ini sebuah pasokan material langka yang dikenal sebagai 'baja non-material (immaterial steel)' telah mendarat dari kawasan Pegunungan Demp (Demp Mountains). Murni menilik dari aspek tingkat kekerasannya yang absolut, material tersebut sanggup menandingi kekerasan lempengan besi sejati."
Karakteristik paling unik yang melekat padanya adalah sifatnya yang sanggup menyatu membaur bersama kegelapan malam tanpa perlu dicat hitam pekat, menyulap bilah pedang tersebut menjadi sangat sukar untuk dideteksi oleh pandangan mata musuh.
Mata pedang yang berwarna abu-abu gelap itu mengantongi kemampuan magis untuk menyerap partikel cahaya di sekitarnya.
Dunbakel sama sekali tidak memusingkan seluk-beluk teori material tersebut, namun gadis itu merasa sangat puas murni karena bilah pedang barunya terbukti teramat sangat kokoh.
"Pedang ini benar-benar sangat hebat! Sangat luar biasa!"
Bahkan sepanjang perjalanan berkuda kemarin gadis itu berulang kali menghunus pedangnya lalu membelai bilahnya sembari menyunggingkan senyuman girangnya.
Langkah kakinya sedari awal memang terlahir teramat sangat lincah.
Dunbakel meliuk melesat zig-zag melintasi medan laga tak ubahnya seberkas sambaran kilat.
Meskipun akselerasi kecepatannya mustahil sanggup disejajarkan bersama kedahsyatan terjangan Odd-eye, pergerakannya tetap berada di tingkatan yang teramat sangat mengerikan.
Bahkan sesosok ksatria sejati sekalipun sanggup kehilangan jejak pergerakannya andai mereka menurunkan kewaspadaan mereka barang sepersekian detik saja.
Hanya ada segelintir monster buas di dunia ini yang sanggup bereaksi merespons kelincahan gerak Dunbakel.
Dunbakel berlari kencang, mengerahkan elastisitas kelenturan sekujur raganya demi mengayunkan bilah pedang lengkungnya.
Bilah pedang yang dipadati oleh segenap luapan tenaganya melukiskan lintasan setengah lingkaran yang mematikan.
Penuh dengan gelora tenaga dan kecepatan kilat.
Daya hancur letalitasnya teramat sangat mematikan.
CRASH!
Tepat di sepanjang lintasan yang dia lewati, sesosok anjing berwajah manusia yang terbelah dua secara vertikal seketika menyemburkan isi perut yang busuk serta genangan darah hitam pekat ke udara.
Putaran bilah pedang mautnya terus mengamuk tanpa henti, menyayat putus belasan ekor monster lainnya dalam kurun waktu yang teramat singkat.
"Hahahaha! Akulah sang Saint Suci, Dunbakel!"
Dunbakel berseru lantang meluapkan kegembiraannya yang meledak-ledak.
"Apa kepalamu sudah gila, heh?!"
Rem membentak memarahi kelakuan konyol gadis itu.
Pertempuran berdarah tersebut berlangsung singkat, padat, dan dipenuhi oleh kobaran hawa panas yang membara.
Itu adalah sebuah hari di mana kubah langit yang kelam menyembunyikan eksistensi sang surya.
Hanya aroma anyir darah hitam serta bau busuk bangkai yang menguap memenuhi udara.
Dengan ketiadaan sosok Odd-eye di sisi mereka, kawanan kuda pengangkut barang tampak dilanda kegelisahan, mendenguskan napas mereka sembari mengentakkan kuku ke tanah.
"Semuanya baik-baik saja. Tenanglah."
Shinar menepuk-nepuk leher kuda tunggangannya dengan lembut.
Dia adalah sesosok peri elf.
Digembleng sedari belia demi menyembunyikan ekspresi emosi mereka secara lahiriah, bangsa peri kerap tampak dingin tanpa emosi, namun pada hakikatnya mereka adalah ras yang paling sensitif terhadap getaran emosi makhluk hidup lain dibanding bangsa mana pun.
Sensitivitas alami yang dimiliki oleh seekor kuda adalah sebuah frekuensi yang teramat familier di mata seorang peri elf.
Bukankah murni berakar dari sensitivitas jiwa yang teramat rapuh itulah mengapa dirinya dipaksa harus menjalani gemblengan latihan demi menekan gejolak emosinya sejak usia kanak-kanak?
"Ssssh, tenanglah, segalanya aman. Sama sekali tak ada monster buas yang sanggup menyentuh kita di tempat ini."
Seiring mereka melangkah maju sembari menenangkan kuda tunggangan mereka, dua kelompok kawanan monster lainnya kembali menampakkan siluet mereka di kejauhan.
"Kuantitas populasi mereka tergolong cukup masif. Namun teritorial Kadipaten Viscount Harrison dipastikan bakal baik-baik saja. Divisi pasukan serbu milik Rem (Rem Guard) dipastikan tengah bertugas menjaga wilayah tersebut."
Ropord berujar sembari menyeka bilah pedangnya yang berlumuran darah hitam pekat.
Pria itu bergumam lega sembari mengeluarkan beberapa helai kain bersih demi membersihkan penampang bilahnya.
Dia selalu menikmati aktivitas membedah dan menganalisis konstelasi kekuatan tempur.
Itu adalah sebuah kebiasaan harian sekaligus hobi pribadinya.
Dalam sudut pandang analisanya, divisi pasukan serbu yang digembleng oleh Rem dipastikan mustahil sanggup ditumbangkan murni oleh serbuan monster-monster rendahan semacam ini.
Segelintir prajurit mungkin bakal meregang nyawa andai nasib sial tengah menimpa mereka, namun mereka bukan tipikal divisi penakut yang bakal menarik langkah mundur murni karena ada kawan yang gugur.
'Sama sekali tak ada satu pun divisi garnisun kita yang bakal tumbang di hadapan monster-monster ini.'
Tak ada satu pun unit tempur di dalam struktur organisasi divisi prajurit infanteri tetap Border Guard yang bakal sanggup dikalahkan oleh monster sekelas ini.
Ropord memikul tanggung jawab penuh atas program pembinaan fisik dan disiplin tempur dari divisi prajurit tetap secara menyeluruh.
Hanya ada segelintir perwira di tempat ini yang memahami status kesiapan tempur prajurit tetap sedalam Ropord.
"Makna tersiratnya adalah kita sama sekali tidak memiliki urgensi untuk singgah mampir ke sana, bukan begitu?"
Apakah fenomena ini dipicu oleh pekatnya gulungan awan mendung di atas kepala mereka?
Sebaris firasat buruk mendadak menyusup membasahi palung hati Encrid.
Dia menilai bakal berkali-kali lipat jauh lebih bijak untuk merevisi rencana awal mereka yang tadinya berniat singgah beristirahat di kediaman sang viscount, lalu memilih untuk terus mendesak maju lurus ke selatan.
Andai teritorial kekuasaan sang viscount tengah dilanda ancaman bahaya maut sekecil apa pun, manuver semacam itu dipastikan mustahil untuk diambil.
'Kapasitas kalkulasi pertimbangan milik Ropord selalu terbukti sangat layak untuk dipercaya.'
Karakteristiknya sangat berbeda dibanding kala Ragna memandu arah jalan.
Pria itu selalu awas dan peka terhadap dinamika lingkungan di sekelilingnya secara presisi.
Hal itu merupakan keunggulan terbesar sekaligus celah kelemahannya.
'Seorang ksatria sejati wajib menyulap celah kelemahannya menjadi pilar kekuatannya.'
Pria itu tidak menyandang gelar sang bencana alam tanpa alasan.
Encrid sedari awal selalu menaruh rasa hormat dan simpati yang mendalam kepada sosok Viscount Harrison.
Dia menghargai ketulusan niat dan keteguhan kehendak sang viscount melangkah jauh melampaui sekadar hubungan kerja sama politik.
Oleh karena itu andai sosok Harrison tengah berada di ambang bahaya maut, sosok Krais dipastikan bakal langsung turun tangan memobilisasi bantuan.
'Tanah kadipaten mereka memproduksi minuman anggur berkualitas terbaik di benua.'
Krais mendedikasikan segenap energinya demi membentengi keselamatan sang bangsawan.
Seluruh faktor pertimbangan itulah yang mendorong pengerahan divisi prajurit tetap ke wilayah tersebut, dan Ropord memahami konstelasi tersebut kala dirinya melontarkan argumennya.
Dengan dukungan divisi prajurit tetap yang membentengi punggung mereka, andai prahara darurat meletus, Krais dipastikan bakal segera mengintervensi.
"Andai prajurit-prajurit didikanku sampai tumbang di hadapan makhluk-makhluk rendahan semacam ini, segenap jerih payah keringat yang kucurahkan selama ini dipastikan bakal menjadi sia-sia belaka," dengus Rem sembari memutar bibirnya sinis.
Andai para prajurit dari divisi Rem Guard mendengar ocehan sang komandan, mereka dipastikan bakal muntah busa saking jengkelnya, namun secara objektif sosok Rem memang telah mencurahkan dedikasi yang teramat masif demi membina ketahanan mental unitnya.
Jika sosok Audin adalah figur terbaik dalam menempa ketahanan fisik dan stamina para prajurit, maka sosok Rem adalah maestro yang tak tertandingi dalam membakar ketangguhan mental prajuritnya.
Sosok Ragna dan Jaxon pada hakikatnya memang tidak dibekali oleh bakat alami untuk membina kelompok pasukan dalam skala masif.
Rombongan ksatria kembali melanjutkan derap langkah perjalanan mereka.
Odd-eye masih belum kunjung kembali pulang bahkan setelah dua hari berturut-turut berlalu.
Sebagai gantinya, gerombolan kawanan monster buas terus berdatangan menyerbu tanpa henti.
Kubah langit yang dipadati oleh kepekatan awan mendung hitam bertahan selama dua hari penuh sebelum akhirnya rintik hujan mulai turun membasahi bumi.
Bahkan di saat tengah hari sekalipun, bentangan langit tampak gelap gulita layaknya malam pekat.
Curahan air yang awalnya bermula dari rintik gerimis halus perlahan bermutasi menjadi guyuran hujan lebat.
Guyuran hujan deras terus mengguyur tanpa jeda selama beberapa waktu.
Rombongan ksatria membalut tubuh mereka menggunakan tudung jubah minyak tahan air.
Jalur rute yang membentang menuju ke garis depan selatan terasa sangat anomali dan ganjil.
Dipenuhi oleh pertanda buruk (ominous), gelombang kegelisahan (unrest), serta diselimuti oleh aura kelam (gloom) yang menyesakkan dada.
Tentu saja hal itu bukan berarti rombongan Encrid bakal terjerembap terbelenggu oleh firasat buruk tersebut.
"Bagaimana penilaianmu, wahai tunanganku tercinta? Bukankah jubah sutra yang kukenakan ini terlihat teramat sangat mempesona?"
Shinar membuka suaranya dari samping sembari sepasang matanya berbinar terang benderang—sebuah binar mata yang teramat sangat kontras dan tidak lazim bagi seorang peri elf.
Jubah pusaka yang dihadiahkan langsung oleh kota para peri, Kiraheis, menolak dan menepis setiap tetesan air hujan dengan sedemikian mudahnya tanpa membiarkan seujung kain pun basah.
"Jubah itu memang... bagaimana cara mengatakannya?"
Encrid menyetujui klaim tersebut, dan sang Dragonkin kembali menyuarakan hasil bacaan batinnya dari samping.
"Peri wanita itu tengah menegaskan di dalam kepalanya bahwa hanya dialah satu-satunya pasangan hidup yang paling sempurna bagi sang komandan."
Luagarne hanya sanggup menduga kuat bahwa bocah kadal Dragonkin ini sejatinya murni sangat menikmati sensasi membaca pikiran orang lain lalu membeberkannya secara blak-blakan ke hadapan publik.
Rem terkekeh geli meluapkan tawanya.
Ragna mendenguskan napasnya sinis.
Jubah-jubah pelindung yang dikenakan oleh segenap perwira The Order of the Madmen Knights seluruhnya merupakan mahakarya tenun yang didatangkan langsung dari kota para peri.
Sebagian besar ksatria mengenakan jubah-jubah ajaib yang memantulkan guyuran air hujan tersebut sembari melangkah maju dengan santai, seolah-olah mengabaikan seutuhnya segenap firasat buruk dan pertanda malapetaka yang tengah mengepung perjalanan mereka.











