Eternally Regressing Knight

Bab 859: Segalanya Bakal Beres Entah Bagaimana Caranya

4201 Kata

Bab 859: Segalanya Bakal Beres Entah Bagaimana Caranya

Itu adalah sebuah hari di mana rintik hujan gerimis turun membasahi bumi.

Guyuran air hujan yang dingin membekukan sekujur raga, serta aroma busuk nan menyengat menusuk rongga hidung.

Dan tersaji puluhan orang jelata yang tengah gemetaran hebat dicekam oleh gelombang kecemasan.

Sebuah tanah peradaban di mana bangunan lumbung gandum dibangun kokoh mengandalkan susunan batu karang, sementara gubuk-gubuk pemukiman warga murni didirikan dari lempengan papan kayu lapuk.

Itulah potret realitas kelam dari desa-desa pertanian penyangga yang memberi makan seisi kota benteng.

Hamparan tanah subur yang melimpah ruah.

Untaian kalimat macam apa sebenarnya yang paling tepat demi melukiskan kondisi tanah tersebut?

Sajian Makanan Berdarah (Bloody Meal), butiran gandum yang bermandikan kucuran darah segar.

Di dalam perimeter kota benteng, pancaran hangat sang surya tidak sanggup menyinari tanah dengan baik murni akibat tingginya dinding-dinding benteng raksasa yang membentang.

Lahan persawahan mustahil sanggup ditempatkan di dalam kawasan kota.

Oleh karena itu desa-desa pertanian didirikan di luar kota pada radius jarak pendek, dibekali oleh bangunan lumbung batu demi membentengi stok pangan dari serbuan kawanan monster dan binatang siluman.

Para petani jelata mempertaruhkan nyawa mereka demi melangkah keluar membajak sawah.

Stok gandum dibentengi kokoh oleh dinding batu, sementara rakyat jelata meregang nyawa demi membela gubuk pemukiman mereka.

Demikianlah tatanan sistem bagaimana sebuah kota benteng beroperasi.

Apakah kenyataan pahit semacam ini merupakan hal yang wajib diterima dengan lapang dada, menimbang fakta bahwa tersimpan batas toleransi populasi manusia yang sanggup ditampung oleh sebuah kota?

Sosok Encrid di masa lampau pantang sudi menerima kenyataan tersebut.

Pemuda itu kala itu tengah melangsungkan perjalanan mengemban misi mengawal seorang wanita bangsawan tepat kala langkahnya terhenti di desa itu.

"Hanya benda-benda inilah yang kami miliki di dunia ini."

Figur yang berbicara adalah seorang kakek tua renta yang ujung-ujung jemari tangannya telah menghitam legam murni akibat seumur hidup membajak tanah.

Punggungnya yang bungkuk sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda sanggup ditegakkan kembali.

Kepalanya yang tertunduk lesu pantang sanggup terangkat.

Pagar kayu pembatas yang mengelilingi desa, rintik hujan yang mengguyur di atasnya, serta segenap orang-orang jelata yang menggantungkan napas hidup di tempat itu.

Kunci gerbang lumbung batu digenggam oleh para prajurit bangsawan, dan sang lord penguasa tanah yang seharusnya membentengi keselamatan wilayah murni 'hanya' membentengi keselamatan kota bentengnya semata.

Para petani yang terdorong terisolasi di luar dinding pantang sanggup menelantarkan tanah garapan mereka, menyadari betul bahwa mereka bakal berubah menjadi gelandangan miskin andai mereka menyerah menelantarkan panen musim ini.

Mereka menghimpun segenap sisa harta mereka lalu menyewa jasa tentara bayaran.

Itu adalah sebaris kisah klasik yang sanggup kau dengar di berbagai penjuru benua.

Kekayaan finansial yang serba pas-pasan serta butiran gandum yang berlumuran darah.

Rakyat jelata yang berjuang mati-matian demi menyambung nyawa.

Serta seorang penguasa tiran yang memilih untuk menutup mata.

Harta pusaka keluarga yang diserahkan oleh kakek tua bungkuk itu murni hanyalah sebentuk cincin tembaga kusam serta sebuah kerajinan kaca murahan.

Encrid mengantongi ketajaman mata yang sangat baik dalam menilai barang berkat jam terbang pengalamannya mengawal para bangsawan, sehingga dirinya memahami betul nilai harga dari benda-benda tersebut.

'Bahkan tidak bernilai sebutir keping koin emas sekalipun.'

Itu adalah upah bayaran yang teramat menyedihkan demi menyewa sebuah kelompok tentara bayaran profesional.

Faktor itulah yang menjadi alasan utama mengapa para tentara bayaran lainnya menolak membantu desa tersebut.

"Hamba memohon kepada Anda, tolong selamatkanlah desa kami," pinta sang kakek tua.

Encrid murni memungut cincin tembaga kusam tersebut.

"Aku mengembara seorang diri, sehingga upah cincin ini sudah lebih dari cukup."

Salah seorang pemuda desa yang menyaksikan momen tersebut menatap lurus ke arahnya memancarkan sorot tatapan mata yang teramat sinis dan memusuhi.

Helaian rambutnya yang basah kuyup oleh guyuran air hujan menempel rekat di pipinya.

Curahan air hujan terus mengguyur tanpa henti.

"Kita sanggup membentengi desa ini mengandalkan kekuatan kita sendiri!"

"Jangan bicara bodoh, kita dipastikan mustahil sanggup bertahan tanpa bantuan seorang ahli pedang sejati!"

Itu adalah sebuah perdebatan panas di antara sang kakek tua dan seorang pemuda desa yang usianya setidaknya terpaut dua puluh tahun lebih muda.

Tanah pedesaan ini selama ini tergolong cukup dinaungi keberuntungan.

Beberapa invasi binatang siluman memang sempat meletus di masa lalu, namun warga sanggup memukul mundur mereka tanpa memicu malapetaka besar.

Bukan berarti sama sekali tak ada korban jiwa yang gugur, namun mereka belum pernah mencicipi pekatnya rasa keputusasaan maut yang sejati.

"Dasar kau bajingan Tom keparat, aku pasti bakal membalaskan dendam kematian saudaraku," gumam seorang pria sembari meludahkan ludahnya ke tanah.

Sorot pandangan matanya memancarkan hawa membunuh yang sangat pekat.

Encrid menyapu pandangan matanya mengamati warga yang berhimpun lalu memilih untuk mengunci mulutnya dalam keheningan.

Ini adalah sebuah kelompok masyarakat yang tidak bakal sanggup berubah bahkan andai mereka dipimpin oleh sesosok komandan perang terbaik sekalipun.

Jika harus berbicara jujur, dirinya sendiri saat ini tengah kewalahan mengurus urusan pribadinya.

Opsi untuk mengabaikan desa ini dan melangkah pergi sedari awal memang tersedia di depan matanya, namun pemuda itu pantang mengambil opsi tersebut.

Menembus guyuran air hujan di penghujung musim panas, sekawanan binatang siluman lapar mendadak menyembulkan kepala mereka dari semak belukar.

Sebagian besar dari mereka berwujud serigala buas dan rubah siluman.

Kawanan pemangsa itu sama sekali tidak membidik bangunan lumbung batu.

Mereka membidik raga bangsa manusia.

Manusia jelata yang minim persenjataan tempur selalu menjadi mangsa buruan yang paling empuk di alam liar.

"...Kuantitas jumlah mereka terlampau banyak."

Salah seorang pemuda desa bergumam gemetaran, dan Encrid menganggukkan kepalanya dalam batin.

Tersaji lebih dari dua puluh ekor binatang siluman yang tengah kelaparan membabi buta.

Lantas apakah mereka dipaksa harus pasrah meregang nyawa begitu saja?

Seluruh pria dewasa yang sanggup memegang senjata, mengecualikan kaum wanita dan anak-anak belia, berhimpun memadatkan formasi.

Encrid berseru lantang menginstruksikan mereka agar bertarung saling merapatkan punggung, dan bahkan kala salah satu kakinya tertembus gigitan taring serigala, pemuda itu menghantam dan meremukkan tengkorak kepala seekor rubah siluman mengandalkan gada besi (mace).

Bahkan di masa-masa itu sekalipun, pemuda itu tidak pernah lalai melakoni gemblengan latihan fisiknya setiap hari, sehingga ketahanan fisiknya tergolong sangat luar biasa.

Namun ini bukan merupakan sebuah prahara krisis yang sanggup ditaklukkan murni lewat mengandalkan keunggulan fisik yang sedikit lebih tangguh dibanding orang lain.

Pemuda itu telah berada tepat di ambang batas bakal bermutasi menjadi kotoran binatang buas bersama segenap penduduk desa lainnya.

Dia bertahan sekuat tenaga, melangkah tertatih-tatih dengan tungkai kaki yang tercabik luka gigitan, melancarkan tusukan pedang serta mengayunkan gada besinya membabi buta.

"Bocah yang satu ini benar-benar sesosok bajingan yang gila."

Sebuah kelompok tentara bayaran mendadak muncul di medan laga.

Pria yang memimpin di barisan paling depan membuka suaranya.

"Guyuran hujan badai ini benar-benar teramat sangat mengerikan," seru sang kapten tentara bayaran.

Pria itu melontarkan kalimatnya sembari mengayunkan bilah pedangnya ke udara.

Di mata sosok Encrid pada masa-masa itu, pria tersebut adalah sesosok ksatria yang dibekali oleh kapasitas keahlian pedang yang teramat sangat luar biasa.

Murni lewat satu ayunan pedang tunggal, seekor rubah siluman yang tengah menerjang seketika melolong kesakitan lalu terlempar mundur.

Prajurit-prajurit lainnya melangkah merangsek di belakang punggung sang kapten.

Mereka adalah lima belas prajurit bersenjata lengkap, seluruhnya mengantongi kapasitas keahlian tempur yang berkali-kali lipat jauh lebih superior dibanding sosok Encrid kala itu.

"Apa, apakah ada sesosok gadis desa tercantik yang rela menyerahkan dirinya padamu hingga kau nekat bertarung mati-matian sampai sejauh ini?" celetuk salah seorang tentara bayaran sembari tertawa riang.

Pria itu bertanya heran mengapa pemuda berambut hitam ini nekat melakoni pertarungan bunuh diri yang sedemikian nekatnya.

Prahara krisis maut telah resmi berlalu, dan lembaran hidup mereka sama sekali belum berakhir.

"Tidak, sejujurnya kapasitas ilmumu bahkan belum terlalu matang. Apa yang sebenarnya berputar di dalam kepalamu kala melangkah maju tadi?!" tanya sang kapten tentara bayaran heran.

"Aku murni... tidak sanggup menelantarkan mereka meregang nyawa di depan mataku."

"...Kau benar-benar merupakan varian baru dari sesosok bajingan gila."

Tepat setelah insiden berdarah tersebut, Encrid resmi bergabung bernaung ke dalam kelompok tentara bayaran tersebut dan menyerap segudang pemahaman ilmu darinya.

Pria itu memang bukan figur yang bakal dilabeli oleh Encrid sebagai guru pertamanya, namun pria itulah sesosok figur dermawan yang telah sudi menampung dan merawat keselamatannya di masa-masa sulit.

'Kau sudah seharusnya menaruh bilah pedangmu dan berhenti menjadi seorang pendekar pedang. Itu adalah keputusan hidup yang paling bijak. Jika kau benar-benar tidak sanggup melepaskannya, maka berkeliaranlah merayu para wanita bangsawan.'

Bukankah pria itu tempo dulu sempat melontarkan nasihat konyol semacam itu kepadanya?

Lembaran memori hari hujan di masa lampau seketika bertumpukan menyatu bersama realitas yang tersaji detik ini.

Encrid menatap lurus ke arah figur pria dari lembaran memorinya tersebut.

"...Tim?"

"Sialan, siapa Tim keparat yang kau maksud?! Namaku adalah Bunion!"

"Ah, benar juga."

Encrid menganggukkan kepalanya mantap.

Bunion.

Itulah nama sejati pria tersebut.

"Jika kau memang tidak mengingat nama orang, lebih baik kau tutup mulutmu rapat-rapat. Mengapa kau justru nekat melafalkan nama acak yang berbeda?" gumam Ropord mencibir dari samping.

"Pemuda itu sedari dulu memang selalu bersikap seperti itu. Mengapa kau masih bertanya heran tepat di saat kau telah mengetahui tabiat aslinya?" Fel seketika menyambar balik.

Ropord memang terlihat jauh lebih sensitif dan tegang dibanding biasanya tepat sejak menginjakkan kakinya di medan laga ini.

Untaian kalimatnya meluncur murni berakar dari pengaruh ketegangan tersebut.

Kemungkinan besar sektor garis depan pertempuran inilah suaka tempat di mana dirinya dulu ditakdirkan untuk berada.

Lembaran hidup adalah sebuah rentetan kebetulan yang tiada akhir; kau tidak pernah tahu hal apa yang bakal mengalami pergeseran serta bagaimana jalannya.

Pilihan-pilihan hidup yang terbentang di antara kelahiran dan kematian selalu memiliki cara unik demi mengubah banyak hal.

"Bukankah kedua nama itu terdengar cukup mirip?"

Encrid memiringkan kepalanya heran tepat setelah menyimak gerutuan Ropord.

Bunion menatap lurus ke depan lalu menyunggingkan senyumannya, mengabaikan perdebatan aneh yang tersaji di hadapannya.

Pria itu pun sedari dulu memang mengantongi bakat alami untuk melontarkan celotehan tanpa arah semacam itu.

"Aku sama sekali tidak pernah menyangka. Kau, sosok komandan tertinggi dari The Order of the Madmen Knights?! Tapi yah, dirimu sedari dulu memang ditakdirkan untuk merengkuh pencapaian-pencapaian agung."

Bunion bertutur sembari mengerutkan batang hidungnya.

Itu adalah sebuah gestur kebiasaan khas yang selalu dia peragakan setiap kali tersenyum.

Lingkaran hitam tebal yang mengukir kelopak matanya serta kelelahan fisik yang teramat berat terpampang sedemikian jelasnya di tubuhnya, namun pria itu tetap menyunggingkan senyuman hangatnya.

"Bukankah kau tempo dulu sempat menasihatiku agar segera pensiun berhenti menjadi seorang pendekar pedang?"

"Pernahkah aku melontarkan ocehan semacam itu? Kapan tepatnya?" Bunion mengangkat kedua bahunya sembari memasang wajah terzalimi.

Encrid menyunggingkan senyumannya lalu mengulurkan telapak tangannya ke depan.

Watak sikap tidak tahu malu semacam inilah yang menjadi ciri khas abadi dari sosok Bunion.

Kedua pria itu saling menjabat tangan erat-erat.

"Aku merasa sedemikian bahagianya sanggup melihatmu kembali hidup-hidup hingga rasanya aku sanggup meneteskan air mata."

"Paras ekspresi wajahmu membeberkan fakta yang bertolak belakang."

"Yah, bagaimanapun juga harga diri kejantananku pantang mengizinkan diriku menangis tersedu-sedu murni demi seorang pria."

Itu adalah sebuah watak sikap yang teramat santai dan akrab.

Bunion saat ini mengemban amanat sebagai seorang komandan regu (squad leader) yang memimpin sepuluh prajurit di garis depan.

Divisi garnisun di sektor Garis Depan Selatan memang melangsungkan rotasi berkala, namun tersimpan beberapa unit pasukan yang bertugas menetap secara permanen di tempat ini.

Bunion bernaung di dalam salah satu unit permanen tersebut.

Secara alami Bunion mengambil alih peran sebagai pemandu jalan bagi rombongan Encrid.

Pria itu membeberkan peta lokasi tenda-tenda militer serta memaparkan dinamika situasi darurat yang tengah melanda markas garnisun.

Tepat setelah menyimak seluruh penjabarannya, Encrid melontarkan pertanyaannya,

"Bagaimana ceritanya kau bisa berakhir menetap bertugas di tempat terkutuk ini?"

"Murni karena seseorang harus bersedia mengeksekusi tugas ini. Dan aku adalah sesosok orang yang tengah mengeksekusinya."

Itu murni hanyalah sebaris topeng pembelaan lahiriah.

Tersimpan jauh lebih banyak untaian kata-kata luhur yang tersembunyi di balik palung batinnya, namun pria itu tampaknya enggan membeberkannya secara verbal detik ini.

Persis seperti kesan pertama kala mereka bersua tempo dulu, pria ini memiliki hati yang teramat lembut bagi sesosok petarung yang mencari nafkah mengandalkan sabetan pedang di daratan benua yang keras.

Faktor itulah yang menjadi alasan tunggal mengapa dirinya sudi menampung dan merawat keselamatan sosok Encrid di masa-masa sulit lampau.

"Kau melangkah kemari demi menolong kami, bukan begitu? Wahai Encrid. Jika memang demikian, maka tolonglah kami. Ulurkanlah sepasang tanganmu demi membentengi keselamatan tanah perbatasan ini."

Kebaikan budi, kehangatan rahmat.

Sangatlah tepat untuk menyatakan bahwa jalinan takdir di antara keduanya terikat kokoh oleh pilar-pilar luhur tersebut.

Mantan Kapten Tentara Bayaran Bunion telah menyelamatkan nyawa Encrid dari jurang maut serta mengajarkannya segudang ilmu berharga.

Bahkan seni melontarkan lelucon tidak tahu malu pun diserap oleh Encrid murni dari sosok Bunion.

"Jangan khawatirkan apa pun."

Kebaikan budi selalu berputar membalas.

Mereka yang dengan tulus mengulurkan kebaikan dipastikan suatu hari nanti bakal menuai berkah rahmat yang serupa.

Bunion awalnya sempat dilanda keterkejutan yang teramat masif kala mendengar nama besar dari sang komandan The Order of the Madmen Knights, dan hari ini dirinya sanggup menyaksikan sosok sang legenda secara langsung.

'Akankah dinamika konstelasi perang sanggup mengalami pergeseran murni berkat bergabungnya satu ordo ksatria tunggal?'

Bagaimana jadinya andai mereka menerjang melintasi garis depan selatan?

Haruskah mereka melancarkan perang terbuka secara konvensional?

Hal itu teramat sangat sulit untuk diwujudkan.

Benar-benar teramat sukar.

Salah satu kartu truf paling mematikan yang dikantongi oleh kerajaan Lihin-Stetten adalah instalasi persenjataan balista anti-personel (anti-personnel ballista).

Itu adalah sebuah mahakarya senjata artileri yang telah dimodifikasi secara khusus, di mana setiap proyektil pasak tombak yang ditembakkan ke arah tubuh prajurit berukuran berkali-kali lipat jauh lebih tebal dibanding sebatang tombak kayu biasa.

'Bahkan sesosok ksatria agung sekalipun bakal sangat kesulitan demi mendobraknya.'

Celah kelemahan dari senjata artileri tersebut murni bertumpu pada sifatnya yang hanya sanggup dioperasikan dari posisi geografis yang statis, namun bentangan topografi medan yang membentang dari titik ini menuju ke markas perkemahan militer selatan dipadati oleh tebing-tebing curam, jurang sempit, serta bukit-bukit bergelombang.

Demi mendobrak barisan musuh secara frontal, mereka terpaksa harus mendaki bukit terjal serta melintasi koridor jurang sempit sembari menahan hujan proyektil balista yang ukurannya lebih tebal dari lembing dan melesat jauh lebih kilat dibanding anak panah biasa.

Dengan kata lain hal itu sama sekali bukan perkara yang mudah.

'Bagaimana jika kita bergerak memutar mengepung dari arah samping?'

Sekelompok kecil ksatria elit mungkin sanggup mendobrak dan melangkah kembali, namun apakah barisan ksatria elit selatan bakal berdiam diri berpangku tangan sepanjang waktu tersebut? Kondisinya benar-benar teramat suram.

Bunion memahami betul perihal kebuntuan taktis tersebut.

Pria itu menyadari bahwa bahkan dengan kehadiran bala bantuan dari sebuah ordo ksatria sejati sekalipun, tidak banyak hal yang sanggup diubah secara instan.

Serta instrumen apa yang sanggup mereka kerahkan demi menumpas teror monster udara yang dikenal sebagai Gryphon Riders?

"Segalanya bakal beres entah bagaimana caranya."

Encrid melontarkan kalimatnya dengan nada yang teramat tenang.

Pemuda itu telah menyimak seluruh pemaparan situasi kritis tersebut.

Sama sekali tak ada solusi instan yang sanggup dirumuskan dalam sekejap mata.

Namun pemuda itu tetap melontarkannya.

Fenomena menariknya adalah tepat saat untaian kalimat itu meluncur dari bibir Encrid, otot pipi, kelopak mata, serta jemari tangan milik Bunion seketika bergetar halus saking kagetnya.

"...Apakah dirimu telah melangsungkan pertemuan tatap muka bersama Tuan Guru Cypress?!" tanya Bunion terperangah.

"Tidak, aku sama sekali belum bersua dengannya."

Encrid menggelengkan kepalanya perlahan.

Gagasan apa sebenarnya yang tengah dipikirkan oleh sang komandan tertinggi sektor Garis Depan Selatan tersebut?

Pemuda itu sama sekali tidak mengetahuinya.

Dia pun tidak terlalu memusingkan alasan mengapa sang komandan veteran belum menampakkan batang hidungnya.

Pemuda itu telah bersua langsung dengan Raja Krang dan menetapkan apa yang wajib dia tuntaskan.

Bagi sosok Encrid, hal itu sudah lebih dari cukup.

"Benarkah demikian? Sungguh sebuah kebetulan yang teramat sangat aneh," gumam Bunion takjub.

Encrid memang tidak mengetahuinya, namun untaian kalimat 'Segalanya bakal beres entah bagaimana caranya' adalah moto prinsip hidup yang selalu digaungkan oleh sosok Sir Cypress di setiap kesempatan.

'Sesosok ksatria yang pantang mengenal kata menyerah.'

Figur agung yang selalu memancarkan binar harapan bahkan di tengah pekatnya jurang keputusasaan.

Demikianlah karakteristik dari sosok ksatria legendaris yang membentengi keselamatan tanah ini.

Sebagian besar prajurit garnisun yang setia bertahan di sektor selatan memiliki watak kepribadian yang sama persis layaknya Bunion.

Ini adalah sebuah tanah perbatasan di mana mustahil bagimu untuk sanggup bertahan hidup tanpa dibekali oleh dedikasi rasa tanggung jawab yang luar biasa.

Kala hujan lebat mengguyur, kawanan monster Drowned Ones mencuat keluar dari perut bumi, gerombolan monster buas menyerbu tanpa henti, serta bala tentara kerajaan Lihin-Stetten melancarkan agresi di tengah kekacauan.

Baru-baru ini teror Gryphon Riders serta memudarnya daya kesucian artefak suci bertumpukan menyatu, melahirkan hari-hari paling mengerikan di sepanjang sejarah garnisun.

Namun meski begitu, sama sekali tak ada satu pun prajurit yang melarikan diri membelot.

Mereka yang setia bertahan di medan laga pantang sudi memalingkan pandangan mata dari kewajiban tugas mereka bahkan di tengah himpitan derita semacam ini.

Mereka melangkahkan kaki mengemban tugas piket jaga malam sembari berjalan pincang, serta bertarung menumpahkan darah sembari sekujur tubuh mereka dibalut oleh perban medis.

Daya kesucian Artefak Pusaka Suci tidak lagi berfungsi optimal?

Maka mereka murni cukup menggertakkan gigi mereka dan bertarung berkali-kali lipat jauh lebih keras.

Sang musuh melemparkan senjata maut dari ketinggian angkasa yang mustahil dijangkau?

Maka mereka murni cukup merapatkan pertahanan dan bertahan hidup hingga sebuah celah peluang emas mencuat ke permukaan.

Sembari mengeksekusi seluruh keteguhan tersebut, mereka pun membentengi keselamatan segenap sekutu yang melangkah kemari demi berjuang membela tanah selatan.

Ini adalah sebuah divisi angkatan perang yang sama sekali tidak pernah mengenal kata menyerah atas hal apa pun di dunia ini.

* * *

"Bolehkah kami melangkah masuk meninjau kondisi di dalam tenda?"

Audin dan Theresa telah berhasil menemukan tenda barak medis tempat di mana para pendeta suci bernaung.

Aroma pekat dari kematian menguar merayap dari sekeliling dinding tenda.

Di tengah-tengah aroma anyir dari guyuran air hujan Demon Realm, aroma khas dari raga manusia yang tengah berada di ambang ajal mengambang menyesakkan dada.

Sepanjang masa-masa kala mengabdi sebagai seorang biarawan kuil di masa lampau, sosok Audin telah menjumpai ribuan orang-orang yang meregang nyawa.

Aroma apek dan bau pesing air seni; aroma khas yang selalu terpancar dari tubuh manusia yang tengah sekarat.

Tenda medis ini detik ini tengah dipadati oleh aroma kematian tersebut.

Merespons pertanyaan yang dilontarkan oleh sang pria raksasa, sesosok prajurit penjaga mengencangkan otot perutnya lalu menyahut terbata-bata.

"Siapakah... siapakah sebenarnya Anda berdua?"

Kesadaran berpikir sang prajurit penjaga bekerja dengan teramat lambat.

Serangan sakit kepala kronis serta racun dari air hujan Demon Realm telah mengaburkan kejernihan otaknya.

Kapasitas kognitif dan daya nalarnya telah merosot jatuh hingga tersisa kurang dari separuh dari standar normal.

Dia murni memusatkan segenap kesadarannya demi mengeksekusi kewajiban tugasnya.

Pada kenyataannya andai dirinya tidak memaksakan fokusnya, jiwanya dipastikan bakal sangat rentan untuk dirasuki oleh arwah penasaran jahat.

"Kami adalah hamba sahaya yang mengabdi pada keagungan Dewa Perang."

Prajurit penjaga itu tampak dilanda keragu-raguan yang mendalam.

Orang-orang yang terbaring di dalam tenda bagaimanapun juga tengah berada di ambang ajal kematian.

Sama sekali tidak bakal menjadi sebuah masalah besar andai membiarkan siapa pun melangkah masuk.

Terlebih lagi figur yang berdiri di hadapannya adalah sesosok biarawan kuil.

Namun misi kewajiban tugas yang diemban di pundaknya adalah membentengi keselamatan mereka.

Audin sejatinya sanggup mendobrak melangkah masuk secara paksa mengandalkan keunggulan fisiknya, namun pria perkasa itu pantang mengeksekusinya.

Dia menaruh rasa hormat yang teramat mendalam kepada para prajurit ini.

"Kita tengah berdiri tepat di jantung perkemahan militer. Mengarahkan ujung tombakmu ke arah tubuhku bakal menjadi tindakan yang sangat tepat andai diriku melakoni perbuatan tercela."

Sedari awal andai dirinya bukan merupakan bagian dari sekutu, mustahil baginya untuk sanggup melangkah menginjakkan kakinya hingga sejauh ini.

Dan segenap pendeta suci yang terbaring di dalam tenda di belakang punggung sang prajurit telah berada dalam kondisi tanpa harapan.

Sehingga sang prajurit sejatinya murni cukup menarik langkah mundur, namun dirinya tetap enggan membuka jalan dengan mudah.

"Biarkan mereka berdua melangkah masuk."

Sebuah suara berat mendadak menggema dari belakang punggung Audin.

Itu adalah sosok Rapild.

Pria itu mengantongi pangkat militer yang lebih senior dibanding sang prajurit penjaga piket.

Dia sejatinya tengah bersiap melangkah menuju ke baraknya demi memejamkan mata beristirahat sesaat.

Namun langkah kakinya tergerak demi memburu keberadaan para pelayan Dewa Perang.

Bukanlah perkara yang sukar untuk melacak keberadaan mereka.

Bagaimanapun juga perawakan tubuh raksasa mereka sedari awal teramat sangat mencolok.

Terlebih lagi kedua biarawan raksasa itu kini tengah berdiri tepat di depan tenda milik sang dermawan penyelamat hidupnya.

"Prajurit Kepala Rapild."

"Kukatakan padamu, segera buka jalannya."

Rapild berujar sembari mendorong tubuh sang prajurit penjaga ke samping.

Prajurit yang bertugas mengamankan tenda mengerjapkan sepasang matanya yang sayu lalu menarik langkah mundur.

"Apakah Anda berdua benar-benar berniat melangkah masuk? Jika Anda melangkah masuk secara ceroboh, Anda berdua dipastikan bakal tertular oleh wabah penyakit terkutuk ini," tutur Rapild memperingatkan.

Keinginan tulus yang bersemayam di dalam palung hatinya sedari awal sama sekali belum berubah.

Orang-orang mulia yang tengah menderita sekarat di dalam tenda tersebut terlampau suci dan berbudi luhur untuk dibiarkan meregang nyawa di tempat terkutuk ini.

Bahkan tanpa perlu disiram oleh guyuran air hujan sekalipun, tanah perbatasan ini terus mengikis dan menguras habis vitalitas hidup manusia.

Oleh karena itu pria itu murni mendambakan agar para pendeta suci tersebut sanggup dievakuasi pulang menuju ke kota yang aman.

"Segala sesuatunya bakal baik-baik saja, wahai saudaraku yang memancarkan raut wajah duka."

Kala Audin melontarkan untaian kalimatnya, kerutan dalam di dahi Rapild seketika berkerut rapat lalu perlahan kembali mengendur rileks.

"Sebuah sapaan panggilan yang teramat sangat aneh."

Sang prajurit penjaga bergeser menyingkir, dan Rapild menarik tirai kanvas pintu tenda lebar-lebar.

Audin membungkukkan kepalanya menyampaikan rasa terima kasihnya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam tenda.

Pria raksasa itu menyaksikan sepuluh orang pendeta tengah terbaring lemah di tengah pekatnya aroma air seni dan bau busuk luka menganga.

Tersaji sepuluh orang pendeta; seisi ordo pendeta suci tanpa nama berhimpun di dalam tenda sempit tersebut.

Di samping masing-masing ranjang tersaji mangkuk-mangkuk air bersih serta lembaran kain lap kering.

Sebuah bukti nyata dari jejak perawatan medis yang penuh kasih sayang, bahkan di tengah kondisi darurat yang sedemikian kritisnya.

"Mereka dipastikan bakal meregang nyawa andai terus dibiarkan terbaring di tempat ini," bisik Rapild dari belakang punggungnya.

Jika harus berbicara jujur, para pendeta suci tersebut sanggup menghembuskan napas terakhir mereka kapan saja detik ini.

Namun meski begitu, andai masih tersisa secuil harapan, andai satu nyawa saja sanggup diselamatkan dari jurang maut.

Bertolak belakang dari binar harapan yang bergolak di dalam batinnya, untaian kalimat yang meluncur dari bibir sang prajurit terdengar teramat realistis.

"Andai Anda berdua mustahil sanggup menyelamatkan nyawa mereka, setidaknya tolong lantunkanlah sebaris doa suci demi menganugerahkan ketenangan bagi kepulangan arwah mereka."

Suara Rapild bergetar hebat tertahan oleh isak tangis yang menyesakkan tenggorokannya.

Rasa kebencian diri atas ketidakberdayaan raganya yang sama sekali tidak sanggup berbuat apa pun demi menolong sang dermawan penyelamat membebani sekujur jiwanya, dan pria itu murni hanya sanggup memanggil asma Tuhan di dalam batinnya.

'Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa... Andai Engkau sudi mengabulkan sebaris permohonan hamba, hamba memohon dengan segenap jiwa raga hamba...'

Selamatkanlah nyawa mereka.

'Jika Engkau sudi menyelamatkan nyawa mereka dari maut, hamba berikrar bakal menyembah dan mengabdikan segenap sisa napas hidup hamba melayani keagungan-Mu selamanya.'

Itu adalah sebuah untaian doa sakral yang mempertaruhkan segenap keimanan, lembaran hidup, hari esok, serta seluruh eksistensi dirinya di muka bumi.

Sebuah doa yang dipanjatkan dengan keputusasaan yang teramat mendalam.

"Langkah kaki kita rupanya agak sedikit terlambat," tutur Audin lirih.

Mendengar pengakuan tersebut, Rapild seketika terjerembap ke dalam jurang keputusasaan yang berkali-kali lipat jauh lebih gelap.

Meskipun dirinya sedari awal telah mengetahui vonis maut tersebut, konfirmasi verbal yang mendarat di telinganya tetap terasa menyayat hatinya.

"Mereka setidaknya mutlak membutuhkan jeda waktu istirahat selama satu bulan penuh demi sanggup memulihkan vitalitas fisik mereka."

Untaian kalimat lanjutan yang baru saja meluncur dari bibir Audin seketika membungkam mulut Rapild hingga tak sanggup berkata-kata.

"Saudariku. Tolong lantunkanlah nyanyian pujian suci."

"Siap, laksanakan, saudaraku."

Dan menyimak melodi kidung pujian yang melantun lembut serta panorama mukjizat agung yang seketika membentang memukau di depan pelupuk matanya, Prajurit Rapild seketika berlutut menjatuhkan kedua lututnya ke tanah.

Aaaaaah—!

Theresa menyuntikkan segenap kemurnian daya keilahian suci ke dalam lantunan melodi suaranya.

Itu sama sekali bukan merupakan sebaris senandung ratapan kematian.

Lantunan kidung suci yang dia nyanyikan mengambil alih fungsi sakral dari sebuah Artefak Pusaka Suci (Holy Relic).

Kesepuluh pendeta suci tersebut tengah terjangkit oleh racun wabah penyakit kutukan yang disebarkan oleh hawa Demon Realm.

Tentu saja mereka sama sekali bukan satu-satunya korban.

Wabah penyakit kutukan tersebut telah merayap menjangkiti seantero garis depan pertempuran.

Rapild menyaksikan sebuah mukjizat keilahian yang nyata.

Binar cahaya keemasan yang teramat suci memancar meluap dari untaian lirik lagu pujian tersebut, dan binar cahaya suci itulah yang menyelamatkan keselamatan nyawa kesepuluh pendeta suci.

Tepat saat sapuan cahaya keemasan tersebut menyentuh permukaan kulit seorang pendeta yang dipenuhi oleh bercak-bercak noda hitam membusuk—pria tua yang sedari tadi terengah-engah megap-megap menahan sesak napas—sang pendeta suci yang dulu menyelamatkan nyawa adik perempuannya perlahan membuka sepasang kelopak matanya.

"...Peristiwa apa sebenarnya yang baru saja terjadi padaku?"

Pria suci itu telah terbaring koma tanpa sadarkan diri selama tiga hari berturut-turut, dan para prajurit selama ini terus membolak-balik posisi tubuhnya demi mencegah timbulnya luka baring (bedsores).

Pria suci itu kini telah membuka sepasang matanya, menolehkan kepalanya perlahan, lalu membuka suaranya.

"Rapild... benarkah kau sosok Rapild?"

Kala sang pendeta tua menolehkan pandangannya, sepasang matanya pertama kali tertuju mengunci sosok Rapild yang tengah berlutut sembari terus-menerus merapalkan doa rasa syukur yang tiada henti, sebelum akhirnya menatap takjub ke arah sosok Audin dan Theresa.

"Anda telah berhasil selamat dan hidup kembali, wahai Bapa Suci..."

Rapild merangkak maju di atas kedua lututnya lalu menangis tersedu-sedu, kedua pundaknya bergetar hebat meluapkan tangisannya.

Bangsa manusia menangis murni bukan sekadar akibat siksaan rasa duka yang mendalam, melainkan sanggup meneteskan air mata murni berakar dari luapan sukacita yang teramat membuncah di dalam dada.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.