Eternally Regressing Knight

Bab 860: Penyunyian dan Pembersihan

3953 Kata

Bab 860: Penyunyian dan Pembersihan

"Pada akhirnya segenap manusia dipastikan bakal meregang nyawa. Terimalah keberadaanku di dalam jiwamu sebelum ajal menjemputmu. Hanya sesederhana itu saja. Palingkanlah pandangan matamu dari segenap siksaan deritamu. Menjelmalah menjadi sang pemangsa yang memakan, bukan santapan yang dimakan."

Prajurit itu sejatinya menyadari betul bahwa untaian bisikan tersebut adalah racun godaan dari sesosok arwah penasaran jahat (evil spirit), namun bisikan tersebut terdengar sedemikian manisnya.

Itu adalah sebaris bisikan halus yang menggelitik daun telinganya, menyerupai rayuan mesra dari sesosok kekasih.

Teramat sukar untuk diabaikan begitu saja.

Betapa pun tingginya prioritas mereka dalam menegakkan rasa tanggung jawab, selalu tersimpan orang-orang yang palung jiwanya telah remuk di tengah keputusasaan.

Bahkan kala barisan ksatria agung melangkah maju ke garis depan demi menebas kawanan Drowned Ones serta memburu dan membantai kawanan monster yang mengamuk di luar markas, sebuah celah kelengahan dipastikan bakal tercipta.

Dan mencuat dari celah kelengahan tersebut, cengkeraman tangan dingin milik seekor arwah penasaran jahat seketika mencekik leher sang prajurit.

Pria malang itu telah berada tepat di ambang batas bakal dirasuki seutuhnya.

"Makhluk rendahan yang menjijikkan."

BLAAAR!

Gumpalan jelaga hitam pekat yang melayang bertengger di atas kepala sang prajurit yang tengah tumbang kelelahan seketika meledak hancur berkeping-keping.

Itu murni meletus karena sebuah kepalan tinju raksasa milik sesosok pria berwujud manusia beruang baru saja menyapu melintas di atasnya.

Sepasang kelopak mata sang prajurit seketika membelalak lebar saking terkejutnya.

"A-apa yang sebenarnya terjadi?!"

Prajurit yang dilanda kepanikan hebat itu tidak sanggup melanjutkan untaian kalimatnya.

"Tenangkanlah hatimu. Andai jiwamu sampai dimakan oleh arwah penasaran jahat, aku sendiri yang bakal meremukkan tengkorak kepalamu lalu mengantarkan arwahmu melayang menuju ke haribaan Tuhan."

Pernyataan gila macam apa yang sebenarnya tengah dia ucapkan barusan? Apakah pria raksasa ini berniat menyelamatkan nyawaku? Ataukah justru berniat membunuhku?!

Sang prajurit mengerjapkan matanya bingung.

Kesadaran berpikirnya terasa agak berkabut.

Jiwanya yang tadinya melayang gamang perlahan mulai menemukan kembali tempat berpijaknya.

Itu adalah berkah mukjizat dari pancaran cahaya keilahian murni yang baru saja menyapu membelai kepalanya.

"Hahahaha!"

Pria perkasa yang baru saja mengayunkan kepalan tinju bercahaya putih suci tersebut tertawa terbahak-bahak lalu menegakkan kembali raga raksasanya.

Dia berdiri tepat di depan kobaran obor tenda militer, dan siluet bayangan tubuh raksasanya seketika memayungi sekujur tubuh sang prajurit.

"Jika ragamu telah merasa baik-baik saja sekarang, segera bangkitlah berdiri."

Tepat di belakang punggung sang raksasa, sesosok paras wajah yang teramat familier mendadak menampakkan dirinya.

Sebuah kepala menyembul keluar dari balik bahu pria beruang tersebut.

"Prajurit Rapild?"

Itu adalah paras wajah yang dia kenal dengan sangat baik.

Rapild membuka suaranya sembari memancarkan sorot pandangan mata yang jernih—sebuah tatapan mata yang tidak lazim bagi seorang prajurit di garis depan.

"Kita bakal memulihkan kembali keagungan Artefak Pusaka Suci. Tidak, lebih tepatnya kita bakal memancangkan sebuah simbol keilahian yang baru."

Alasan tunggal mengapa sosok Audin tempo hari sempat menyatakan bahwa mereka 'agak sedikit terlambat' murni berakar dari fakta bahwa para pendeta yang jatuh sakit tersebut mutlak membutuhkan waktu pemulihan selama berbulan-bulan sebelum daya keilahian mereka sanggup pulih seutuhnya.

'Bakal sangat sukar untuk memulihkan daya artefak-artefak suci yang lama,' tutur pria raksasa itu tepat setelah menyelamatkan nyawa para pendeta.

'Sebagai gantinya, bakal berkali-kali lipat jauh lebih bijak untuk memancangkan sebuah simbol suci yang baru.'

'Lakukanlah apa pun yang Anda kehendaki.'

Rapild telah membungkukkan kepalanya takzim menyampaikan rasa hormatnya lalu setia mengiringi langkah kedua biarawan tersebut.

Audin dan Theresa melangkah melintasi seisi perkemahan militer.

Keduanya berhenti di setiap sudut tempat yang memancarkan hawa kotor nan najis, dan andai mereka menyaksikan sesosok prajurit jelata yang tengah terhimpit dalam kondisi kritis, mereka bakal mengulurkan sepasang tangan mereka sebelum akhirnya melangkah merapat menuju ke tiang Artefak Pusaka Suci.

Sisa-sisa daya keilahian yang teramat redup yang bersemayam di dalam artefak suci—simbol neraca timbangan keadilan—selama ini murni baru sanggup membentengi perkemahan ini secara pas-pasan.

Andai bukan berkat eksistensi simbol neraca suci yang kini berdiri tegak di depan pelupuk mata Audin, ratusan ekor kawanan monster Drowned Ones dipastikan telah meledak mencuat keluar tepat dari jantung perkemahan ini.

Sebagai gantinya, kawanan makhluk buas yang mengendus aroma darah bangsa manusia terpaksa berhimpun mengepung di perimeter luar perkemahan.

Berkat pemusatan monster di perimeter luar itulah, bukankah Tuan Guru Cypress beserta sebagian perwira Ksatria Jubah Merah saat ini tengah melangkah keluar membantai dan meremukkan gerombolan kawanan Drowned Ones di luar benteng?

KRAK!

Audin mematahkan tiang kayu artefak tersebut tanpa ragu.

Dia merebahkan simbol neraca lama tersebut dengan penuh kehati-hatian di atas permukaan tanah berlumpur yang basah kuyup oleh guyuran air hujan.

Artefak Pusaka Suci yang selama ini berdiri menjulang gagah di sela-sela formasi tenda militer kini telah resmi ditiadakan.

Guyuran air hujan yang membawa hawa pertanda buruk mendadak terasa kian deras mengguyur.

Sebagian prajurit garnisun seketika menangkupkan kedua telapak tangan mereka lalu memanjatkan doa dengan panik, merapalkan permohonan ampunan atas tindakan penodaan kesucian yang baru saja terjadi.

"...Tindakan gila macam apa sebenarnya yang tengah Anda perbuat barusan?!"

Di antara barisan prajurit tersebut, seorang prajurit muda melayangkan tatapan tajam memusuhi.

Sikapnya memang dipadati oleh kehati-hatian, namun aksi penumbangan artefak suci adalah sebuah tindakan terlarang yang pantang dilakoni oleh siapa pun.

Terutama tepat di saat eksistensi dari artefak suci tersebut merupakan pilar tunggal yang membentengi keselamatan perkemahan ini.

"Tenangkanlah dirimu dan berdiam dirilah."

Rapild seketika melangkah maju menahan prajurit muda tersebut.

Sepasang matanya memancarkan kejernihan batin yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Curahan air hujan terus mengguyur, membawa rembesan hawa kebencian racun, dan seisi markas perkemahan dipenuhi oleh atmosfer abu-abu berselimut jelaga yang pekat.

Pandangan mata para prajurit diselimuti oleh kabut abu-abu keputusasaan.

Betapa pun kokohnya keteguhan kehendak Will yang mereka miliki ataupun seberapa tebal perisai rasa tanggung jawab yang mereka pikul di pundak, mereka semua kini telah resmi menyentuh batas toleransi jiwa mereka.

Puluhan pasang mata dipadati oleh rasa saling curiga, ketidakpercayaan, serta gelombang kecemasan yang mencekik dada.

Audin memandang situasi darurat ini sebagai panggung paling sempurna demi menyebarkan ajaran luhur dari Tuhannya.

Gema suaranya yang berat membahana membelah sebaran wabah penyakit kutukan serta mengguncang jiwa mereka yang telah menanggalkan binar harapan.

"Maukah kalian menyimak firman suci dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang tengah menegur medan pertempuran terkutuk ini?!"

Menyusul untaian deklarasi tersebut, Theresa perlahan membuka suaranya melantunkan kidung pujian suci.

Melodi himne suci berkumandang merdu, dan gelombang daya keilahian murni seketika memancar meluap tepat dari episentrum perkemahan.

Audin pun melepaskan segenap curahan daya keilahian miliknya tanpa menahan diri sedikit pun.

Sesosok Drowned One yang baru saja menyembulkan kepalanya hendak terlahir dari kubangan air seketika remuk hancur tengkoraknya murni berkat hantaman berkah Dewa Perang lalu lenyap menguap.

Jeritan lengkingan ngilu dari kawanan arwah penasaran jahat yang sedari tadi bersembunyi di balik bayang-bayang tenda menanti celah mangsa seketika menggema memekakkan telinga.

Untaian lirik lagu dari kidung pujian yang dinyanyikan oleh Theresa menembus masuk menyapa daun telinga segenap prajurit.

"Kala dirimu melangkah menembus amukan angin badai dan topan, kala dirimu berupaya menapaki jalanan gelap gulita tanpa secercah pun cahaya penuntun, Aku bersumpah pantang membiarkanmu melangkah sendirian."

Itu adalah sebaris kidung pujian suci yang menyandang judul, *'Tak Akan Kubiarkan Kau Melangkah Sendirian (I Will Not Let You Walk Alone)'*.

Seiring untaian lirik kidung tersebut berkumandang lembut, seberkas rasa kedamaian yang mendalam seketika bersemi mengendap di dalam palung hati para prajurit.

Tentu saja itu bukan sekadar kedamaian batin belaka.

Ajaran doktrin dari sang Dewa Perang sedari awal tidak pernah bersikap selemah itu.

"Aku menegakkan Artefak Pusaka Suci yang baru ini di hadapan kalian, maka segenap hamba sahaya Tuhan, bertobatlah dan abdikanlah segenap jiwa ragamu melayani keagungan daya kekuatan Tuhan!"

"Wahai Dewa Perang Yang Maha Perkasa!"

Rapild berseru lantang meluapkan gelora fanatisme batinnya hingga urat-urat nadi di lehernya tampak menonjol tegang.

Para prajurit yang sempat diselamatkan di sepanjang jalan tadi—mereka yang telah menyaksikan mukjizat keilahian secara nyata—turut berseru lantang mengiringi seruan Rapild.

Hanya dalam sekejap mata, sekumpulan prajurit reguler kini telah resmi merengkuh keagungan daya kekuatan dari sebuah fanatisme suci.

"Sekarang, apakah kalian telah siap meremukkan tengkorak kepala dari para bajingan yang berani menyerang kita lalu mengantarkan arwah mereka melayang menuju ke haribaan Tuhan?!"

"PERANG (WAR)!"

"Tanggung jawab kewajiban suci kita adalah?!"

"Mengantarkan mereka melayang menuju ke haribaan Tuhan!"

"Dan hak penghakiman mutlak dipegang oleh?!"

"Tuhan Yang Maha Kuasa!"

Encrid yang menyimak dinamika histeris tersebut dari samping seketika menaruh rasa curiga yang mendalam kepada sosok Audin.

'Apakah populasi jemaat pengikut Tuhannya Audin belakangan ini tengah merosot drastis?' Apakah atas dasar alasan itulah mengapa pria beruang itu sengaja memanfaatkan momentum darurat ini demi melancarkan dakwah liar secara membabi buta?

Theresa terus melantunkan kidung sucinya di satu sisi.

Hanya membutuhkan kurun waktu beberapa menit singkat bagi daya keilahian suci mereka demi menyebar menyelimuti seantero markas perkemahan.

'Yah, bagaimanapun juga.'

Apa pun motif aslinya, hawa racun Demon Realm yang selama ini mengendap stagnan di dalam perkemahan militer kini telah resmi terusir mundur.

Untuk kurun waktu singkat, tanah perbatasan ini telah resmi menjelma menjadi sebuah suaka suci yang dinaungi oleh pemeliharaan Dewa Perang.

Guyuran air hujan yang tadinya terasa sangat lembap dan menyesakkan dada mendadak terasa tak ubahnya guyuran hujan musim gugur yang teramat segar dan menyejukkan jiwa.

* * *

"Hei, jika langkah kakimu tertinggal di belakang, aku tidak bakal sudi menunggumu."

"Apakah tampangku terlihat layaknya sesosok orang cacat yang tidak sanggup menemukan jalan pulang? Jika kau berani meninggalkanku, aku sanggup mencari jalanku sendiri."

"Baguslah kalau begitu."

Rem dan Dunbakel saling bertukar percakapan santai, seolah-olah keduanya tengah melakoni sebuah agenda tamasya jalan-jalan di akhir pekan.

Itu adalah sebuah atmosfer ketenangan santai yang sama sekali tidak selaras dengan kegentingan situasi.

Di luar pagar kayu perkemahan, pemandangan yang terbentang tak ubahnya sebuah neraka jahanam.

Setidaknya begitulah potret yang tersaji di mata para prajurit reguler biasa.

Kawanan monster buas berkeliaran di segala penjuru mata angin.

Tersaji pula puluhan binatang siluman buas yang telah menelan darah monster Demon Realm.

Seekor burung rajawali mutasi dengan sebongkah bola mata manusia menjuntai dari paruhnya tampak terbang berputar-putar di angkasa.

Lalu sesosok monster harpy menyambar menembus kepala sang rajawali, mencengkeramnya, lalu mulai mengunyah bangkainya hidup-hidup.

Monster harpy itu melayang terbang sembari serpihan usus bangkai yang membusuk menjuntai bergoyang dari cengkeraman cakarnya.

"Pemandangan ini mengingatkanku pada masa-masa lampau," gumam Rem.

Tempo dulu kala kawasan Domain Iblis Keheningan (Silence) di belahan wilayah barat bergolak mengamuk, dirinya pernah menyaksikan pemandangan neraka yang serupa.

Itu adalah hari sakral di mana segenap Delapan Jenderal Ilahi (Eight Divine Generals) melangkah keluar secara serentak demi membentengi keselamatan wilayah barat.

"Kita murni cukup menyayat dan membelah monster apa pun yang tertangkap oleh pandangan mata kita, bukan? Benar kan?"

Dunbakel pun telah terbiasa hidup di tengah lingkungan yang keras semacam ini.

Kedalaman belantara wilayah timur memiliki karakteristik yang sama persis seperti ini.

Sebuah tanah perburuan liar di mana kawanan monster dan binatang siluman saling membantai dan dimangsa satu sama lain, melangsungkan pesta perjamuan darah setiap hari.

KREEEAAAK!

Empat sosok arwah penasaran yang melolongkan jeritan histeris memekakkan telinga—kawanan banshees—mendadak melancarkan serangan serbuan dadakan membidik sosok Rem tepat dari arah belakang.

Dunbakel melompat melenting menghindar ke samping, sementara Rem mengayunkan kapak tempurnya sembari memasang raut wajah jengkel.

Pria itu mengayunkan kapaknya dalam lintasan setengah putaran, dan mata bilah kapak saktinya seketika mencengkeram raga keempat arwah banshees tersebut secara serentak.

WUUUSH!

Suara gesekan bilah yang membelah lapisan atmosfer terdengar sedemikian mengerikannya.

Diiringi ayunan kapak yang teramat ringan, sebagian air hujan yang tertangkap di penampang bilah berputar membentuk pusaran air halus lalu memercik ke udara.

Keempat arwah penasaran yang melolong histeris, kawanan banshees, seketika tercerai-berai lalu lenyap menguap dari muka bumi.

Pada kondisi normal lolongan jeritan dari seekor banshee sanggup mengguncang kewarasan kesadaran manusia, dan varian kuno dari spesies tersebut bahkan sanggup membangkitkan kawanan mayat hidup mayat kutukan (Draugr), namun keempat arwah penasaran yang muncul di tempat ini sama sekali tidak sempat melancarkan keahlian mereka.

Ayunan kapak maut dari sang prajurit perkasa belahan barat telah memenggal dan memusnahkan eksistensi keempat arwah tersebut tanpa sisa.

"Sensasi daya tebasannya benar-benar terasa sangat nikmat," gumam Rem sembari menyunggingkan seringai tipis di sudut bibirnya.

Pria itu mengendalikan kekuatan sihir (sorcery).

Itulah alasan tunggal mengapa dirinya sanggup merasakan sensasi daya tebasan fisik bahkan kala menyayat raga monster-monster astral yang tidak berwujud padat sekalipun.

"Ya, ya, tebasanmu tadi memang terasa sangat nikmat, kan? Ayo kita bantai mereka sepuas hati kita!"

Rem mengusap punggung kapak tempurnya menggunakan telapak tangannya yang bebas lalu memutar badannya.

Dunbakel pun sama sekali tidak tengah bersantai bermain.

Gadis itu melangkahkan kakinya lincah, membelah dan meremukkan kepala setiap kawanan Drowned Ones yang bermunculan di hadapannya secara presisi.

Apakah ini merupakan pertempuran pembantaian yang sesungguhnya?

Tentu saja bukan.

Ini murni hanyalah sebuah sesi pemanasan fisik belaka.

"Hei, apakah kau telah berhasil melacak titik lokasinya?" tanya Rem sembari bertarung di radius sepuluh langkah di sampingnya.

Bangsa manusia binatang (beastkin) mengantongi indra penciuman yang teramat tajam.

Dan sosok Dunbakel terlahir ke dunia dibekali oleh ketajaman indra penciuman yang berada di tingkatan langka bahkan di kalangan bangsa beastkin sekalipun.

"Sudah kutemukan."

Gadis beastkin berambut putih itu menganggukkan kepalanya mantap.

"Lantas mengapa kau tidak segera memimpin jalan di depan?! Kau mau pantatmu kutendang agar kakimu bergerak lebih cepat?!"

"Aku sedang bergerak sekarang, dasar pria cerewet!"

Keduanya memahami prinsip dasar bagaimana kawanan monster buas bergerak mengorganisir diri.

Encrid tempo hari menegaskan bahwa dirinya mutlak membutuhkan keahlian dari sosok Rem sang pemburu.

Bukan sosok Rem sang wakil komandan, melainkan sosok Rem sang pemburu berdarah dingin sejati.

Untuk sesaat pria itu menanggalkan peran hariannya dalam menertibkan barisan para ksatria.

'Monster-monster yang tidak bernaung di dalam kelompok kawanan selalu tercerai-berai dengan mudah.'

Sebuah kelompok monster yang melancarkan agresi tempur secara terorganisir selalu dilabeli sebagai sebuah 'koloni sarang (colony)'.

Ini adalah tanah perbatasan yang bersinggungan langsung dengan Demon Realm, dan bahkan di sektor selatan sekalipun hukum alam dasar tersebut pantang dilanggar.

Alasan mengapa segenap kawanan monster buas berhimpun mengepung tempat ini?

Dipastikan tersimpan sebuah alasan logis di baliknya.

Ksatria legendaris Sir Cypress kemungkinan besar telah menerjang maju sembari mengantongi pemahaman garis besar perihal hukum alam tersebut.

'Sang komandan pun dipastikan telah menyimpulkan fakta tersebut sehingga beliau menjatuhkan perintah komando kepada kita.'

Itulah alasan mengapa sang komandan menginstruksikannya untuk melangkah maju.

Demi melacak keberadaan sang 'poros penggerak (subject)' dari koloni sarang tersebut lalu membumihanguskannya tanpa sisa.

Andai dirinya bergerak seorang diri, pria itu mungkin bakal mengalami sedikit kesulitan demi melacak posisi sang monster poros yang bersembunyi, namun bersamanya kini berdiri sesosok gadis beastkin yang sanggup mengendus segenap partikel aroma apa pun di kolong langit semesta—mengecualikan bau tubuhnya sendiri, tentu saja.

"Ke arah sebelah sana!"

Keduanya menendang hancur kepala-kepala Drowned Ones yang mencuat keluar dari dalam tanah hendak mencengkeram pergelangan kaki mereka, lalu melempar singkir kawanan monster 'plague ghouls'—varian ghouls yang sanggup meledakkan diri demi menyebarkan racun wabah—sembari mendesak maju.

Varian jenis monster yang bermunculan memang sangat beragam, namun setiap monster tersebut tampak mengalami pembusukan di salah satu bagian tubuh mereka.

Keduanya akhirnya berhasil menemukan sebuah kubangan lumpur kecil.

Sebuah kubangan air berlumpur yang memiliki luas permukaan yang cukup untuk diisi oleh tiga hingga empat orang dewasa.

Tepat di episentrum kubangan tersebut, mereka mengunci siluet sesosok monster berwujud tengkorak kerangka pucat yang menyeramkan.

Lapisan kulit binatang siluman yang membalut tubuhnya menjuntai tak ubahnya sehelai jubah penyihir, dan di tangannya tergenggam sebatang tongkat kayu bengkok yang dipenuhi oleh tonjolan duri-duri tajam.

"Sesosok monster Lich."

Rem membuka suaranya.

"Monster yang menguasai seni sihir? Ini adalah kali pertama bagiku melihat wujudnya secara langsung."

"Aku pun demikian. Selama ini aku murni baru pernah mendengar cerita legendanya."

Itu adalah sesosok monster purba yang terlahir dari akumulasi jasad ghouls dan Drowned Ones, entitas terkutuk yang sanggup membangkitkan jasad mayat hidup dari kematian.

Makhluk tersebut adalah salah satu entitas yang menyandang status monster 'bernama (named)'.

Sang penyihir abadi yang terlahir dari air hujan yang pantang mengenal kematian, monster yang dijuluki sebagai "sang bajingan yang memimpikan keabadian hidup."

Sebuah gelar julukan kehormatan yang disematkan langsung oleh bangsa manusia, tentu saja.

Monster purba ini adalah salah satu sumber malapetaka yang paling memicu sakit kepala di sektor Garis Depan Selatan.

Lebih presisi lagi, salah satu musuh bebuyutan utama yang paling memusingkan bagi The Order of the Crimson Cloak Knights.

Makhluk ini sanggup disejajarkan sebagai sebuah misteri masalah yang belum terpecahkan, bersanding setara bersama prahara Dinding Benteng Belukar Berduri (Thornbriar Walls).

Namun kali ini sang monster terkutuk telah berhadapan dengan lawan yang teramat salah.

Tentu saja hal itu merupakan sebuah kemalangan mutlak bagi sang monster.

Monster kerangka tulang yang terlahir dari genangan air hujan tersebut melambaikan cakar tangannya ke udara.

Tulang-belulang jarinya berderak-derak saling berbenturan, melahirkan suara bising yang menyeramkan.

Pada saat yang sama aliran air hujan seketika memadat berkumpul, berubah menjadi rentetan tombak-tombak air tajam lalu melesat menghujam ke arah kedua ksatria tersebut.

Rem yang menyandarkan kapak tempurnya di atas pundak murni mengayunkan lengannya santai lalu membelah proyektil tombak air tersebut secara frontal.

Dunbakel mengayunkan pedang lengkung scimitar miliknya dari kanan ke kiri, menebas putus tombak air tepat di bagian tengahnya.

Proyektil-proyektil air itu seketika pecah berhamburan di udara, bercampur baur bersama guyuran hujan, lalu bermutasi menjadi kawanan ular air berbisa yang melesat mematuk leher mereka.

Secara serentak cakar-cakar tangan mayat hidup mencuat melesat keluar dari dalam tanah dan mencengkeram pergelangan kaki mereka berdua erat-erat.

"Benar-benar makhluk yang sangat menjengkelkan!"

Dunbakel bergumam jengkel sembari menendang putus cakar-cakar pucat tersebut lalu mengayunkan pedang lengkungnya, mencabik kawanan ular air menjadi enam bagian potongan daging air.

Sementara itu sosok Rem secara khidmat merapalkan asma suci dari sang dewa pelindung yang bersemayam di dalam relung jiwanya.

'Turunlah ke bumi, wahai Jenderal Suci Sapsal.'

Nama agung dari sesosok binatang suci (divine beast) legendaris yang membuktikan eksistensinya murni lewat melacak dan menggigit hancur segenap entitas jahat dan najis di muka bumi.

Itu adalah detik sakral tepat saat kawanan ular air tengah melilit mencekik lehernya yang kekar.

Detik di mana pergelangan kakinya tengah dicengkeram oleh sepasang cakar mayat hidup yang berpendar biru pucat.

Rem mengayunkan kapak tempurnya yang kini telah diselimuti oleh keagungan daya kekuatan Sapsal.

Terhadap ular air yang melilit lehernya, pria itu murni menyentuhnya halus lalu menarik kembali senjatanya.

Dan terhadap cakar-cakar mayat hidup yang mencengkeram kakinya, dia mengaduknya ringan tak ubahnya sebatang sendok sayur di dalam mangkuk sup.

Manuver gerakannya terlihat sedemikian ringannya, namun hasil kehancuran yang tercipta berada di dimensi yang teramat dahsyat.

KIIII-EEEEK!

Diiringi sebuah lolongan jeritan ganjil yang memekakkan telinga, kawanan ular air seketika mengering kerontang lalu lenyap menguap ditelan angin.

Fenomena kepunahan yang sama persis seketika melanda segenap kawanan mayat hidup mayat kutukan (Draugr).

"A-apa yang baru saja terjadi?!"

Dunbakel melontarkan pertanyaannya sembari membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar.

"Jangan berani-berani mengajakku berbicara. Aku mutlak harus memusatkan segenap konsentrasiku saat ini."

Andai sang Jenderal Sapsal tengah dilanda oleh amukan emosi yang liar, entitas suci itu dipastikan bakal menggigit dan mencabik segala hal apa pun yang bersemayam di sekelilingnya tanpa pandang bulu.

Watak sikapnya teramat sangat ganas, liar, dan brutal.

Binatang suci itu bakal memamerkan taring-taring mautnya kepada objek asing apa pun, terlepas dari apakah objek tersebut merupakan kawan ataupun lawan.

"Dan jangan sekali-kali berani menatap ke arahku. Kapak tempurku saat ini tengah sangat membenci keberadaanmu. Hei, tenanglah wahai Sapsal, kubilang jangan gigit gadis itu! Kau paham betul bahwa perutmu bakal mulas kesakitan murni murni akibat mengendus aroma tubuhnya!"

Dunbakel memang tergolong agak lamban dalam mencerna situasi, namun gadis itu sanggup menangkap bahwa pria barbar tersebut sejatinya tengah menjahili dirinya.

"Kau sengaja tengah mempermainkan diriku kan, bajingan?!"

Rem terkekeh geli meluapkan tawa iblisnya, melangkah merapat mendekati sang monster Lich, lalu mengayunkan kapak tempurnya ke udara.

Apakah sang monster purba yang tengah berada di ambang ajal sempat merasakan teror kengerian maut di detik-detik terakhir hidupnya?

Siapa yang tahu pasti.

Dan siapa pula yang mempedulikannya.

Belahan wilayah barat dinaungi oleh keagungan Delapan Jenderal Ilahi (Eight Divine Generals).

Dan bilah kapak tempur yang telah diselimuti oleh berkah daya keilahian dari sang Jenderal Sapsal seketika membelah raga sang monster purba yang memimpikan keabadian hidup tanpa ampun!

Makhluk kerangka tersebut sempat menyilangkan kedua lengannya dan melancarkan beberapa manuver perlawanan terakhir, namun demi membendung tebasan kapak yang memikul berkah daya Sapsal, kau mutlak membutuhkan instrumen pertahanan fisik yang berwujud nyata dan sangat padat.

Bilah kapak meluncur membelah tanpa ragu dan tanpa secuil pun belas kasihan, membelah tengkorak kepala sang monster kerangka hingga pecah terbelah dua.

KRAAAK!

Serpihan-serpihan tulang belulang yang hancur seketika bercampur baur bersama genangan air hujan lalu berhamburan berserakan di atas tanah.

Sang barisan pelopor kegelapan Demon Realm yang terlahir dari kubangan lumpur kini telah resmi meregang nyawa.

GRAAAKH!

Diiringi oleh sebaris jeritan lengkingan terakhir, gumpalan asap hitam pekat seketika mengepul membumbung tinggi ke angkasa.

Jelaga pekat yang tadinya membubung melawan guyuran air hujan seketika terkoyak robek dan tercerai-berai lenyap ditelan angin.

Operasi pembersihan monster telah resmi tuntas sempurna.

Tepat setelah momen tersebut, sekumpulan ksatria yang melabeli diri mereka sebagai tim pembersih orisinal dari tanah perbatasan ini mendadak menampakkan siluet mereka di kejauhan.

Kala Dunbakel sanggup melacak posisi markas musuh dalam sekejap mata murni mengandalkan ketajaman hidungnya, para ksatria yang telah bertarung puluhan tahun di tanah ini melacak lokasi sang monster murni berlandaskan jam terbang pengalaman tempur mereka.

"Sebuah kapasitas keahlian yang teramat sangat unik."

Pria yang berdiri memimpin di episentrum barisan ksatria tersebut membuka suaranya.

Pria paruh baya itu dibalut oleh setelan baju zirah pelindung upacara yang ringan.

Bilah pedang panjang yang tergenggam di tangannya terhunus menjulur ke depan, menyulap penampang bilahnya tampak sedikit lebih panjang dibanding pedang panjang (longsword) konvensional.

"Kalian melangkah kemari terlambat satu langkah," balas Rem sembari menatap dingin ke arah mereka.

Para ksatria tersebut mengenakan jubah kebesaran berwarna merah darah (crimson cloaks).

Identitas jati diri mereka terpampang sedemikian jelasnya bahkan tanpa perlu diucapkan secara verbal.

Hal itu memang sangat gamblang di mata Rem, namun sama sekali tidak dipahami oleh sosok Dunbakel.

Gadis manusia beruang itu seketika memamerkan ekspresi permusuhan yang teramat pekat lalu mengangkat pedang lengkung scimitar miliknya.

Dia mendenguskan lolongan geraman kasarnya sembari memamerkan taring-taring giginya yang tajam.

Musuh tangguh yang berbahaya.

Setidaknya begitulah kesimpulan yang tersaji di dalam kepalanya.

"Siapa kalian para keparat ini sebenarnya?!"

Watak sikapnya terpampang tak ubahnya tengah berhadapan melawan kawanan musuh asing yang mencurigakan.

Gadis itu tidak memahami alasan mengapa dirinya berdiri di tempat ini serta sama sekali tidak menaruh minat pada ordo ksatria yang membentengi tanah selatan.

"Mereka itu adalah sekutu kita, dasar kau manusia binatang bodoh!" semprot Rem sembari menendang betis kaki Dunbakel.

Pria barbar itu sedari dulu telah terbiasa dengan pola di mana dirinyalah yang menyulut keributan dan sosok Encrid yang bertugas melerai.

Sensasi saat ini terasa seolah-olah peran fungsional mereka berdua baru saja bertukar tempat.

"Apakah kalian berdua adalah perwira dari The Order of the Madmen Knights?" tanya sang ksatria Jubah Merah dari seberang.

"Tebakanmu seratus persen tepat."

"Apakah kau adalah sosok Encrid sang komandan? Paras wajahmu terlihat jauh lebih jelek dibanding kabar berita yang pernah kudengar."

Sang ksatria paruh baya yang mengenakan jubah merah darah tersebut melontarkan kalimatnya dengan nada yang sangat dingin dan meremehkan.

"Wah, wah, rongga mulutmu rupanya dipadati oleh ocehan yang sangat menyegarkan sejak detik pertama kita bersua," balas Rem sembari menyunggingkan seringai iblisnya.

"Apakah kau menyadari di hadapan siapa dirimu tengah berdiri saat ini, hingga kau berani melontarkan ocehan lancang semacam itu?!"

Mendengar provokasi Rem, ksatria Jubah Merah lainnya yang berdiri di samping sang pemimpin seketika melangkah maju ke depan.

Pria itu berdiri dalam sebuah postur kuda-kuda yang teramat sempurna demi 'dipenggal putus lehernya' murni lewat satu ayunan kapak tunggal.

Untaian ancaman lanjutan yang meluncur dari bibir Rem dipadati oleh pancaran hawa membunuh murni yang teramat pekat.

Dengan kata lain itu adalah sebuah provokasi perang terbuka.

"Ya, julurkanlah lehermu sedikit lebih maju ke depan, bajingan. Aku mutlak harus memenggal putus kepalamu lalu memajang tengkorakmu di dalam lemari kaca koleksiku."

Gelombang hawa keberadaan yang teramat buas dan mencekam seketika berbenturan saling mengintimidasi di antara kedua kelompok ksatria tersebut.

Tiga hingga empat ekor monster ghouls liar yang kebetulan melintas di dekat mereka seketika mematung gemetaran dicekam oleh rasa takut yang luar biasa.

Andai monster-monster buas itu berani melancarkan serbuan, ketajaman insting hewani mereka seketika membelenggu kedua tangan dan kaki mereka hingga tak sanggup bergerak.

Pancaran hawa membunuh murni yang saling berbenturan di udara telah menekan dan membungkam lapisan atmosfer serta menaklukkan segenap insting buas milik para monster secara mutlak.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.