Eternally Regressing Knight

Bab 865: Atmosfer

2602 Kata

Bab 865: Atmosfer

Cypress sudah tua.

Usia senjanya membuatnya telah berjumpa dengan jauh lebih banyak manusia.

Karena itulah ia memahami bahwa siapa pun yang telah mencapai tingkatan tertentu pantang mengabaikan latihan mereka.

Seluruh ksatria yang disebut berkelas tinggi selalu seperti itu.

Sebab mereka yang mabuk oleh bakat mereka sendiri dan menjadi pemalas pada akhirnya akan tersingkir dan lenyap ditelan zaman.

Jika diperhatikan saksama, hasilnya selalu serupa.

Mereka yang bekerja keras akan bertahan, sementara yang sebaliknya bakal tereliminasi.

'Ingis adalah permata terindah yang pernah kutemukan.'

Cypress, yang telah menyaksikan langsung tumbuh kembang Ingis, memberikan penilaian setinggi itu.

Ia sangat menghargai ksatria bernama Ingis tersebut.

Apakah karena pemuda itu terlahir dengan bakat yang luar biasa?

Bukan.

Apakah ada hal istimewa dari garis keturunan darahnya?

Itu pun bukan alasannya.

Lalu apa faktor terbesar yang membuatnya menilai Ingis begitu tinggi?

'Iron Mask, Ingis.'

Setiap hari yang ia jalani selalu sama.

Ia tidak pernah mengeluh bosan.

Ia teramat piawai dalam pengulangan rutinitas.

Raut wajahnya tak pernah berubah.

Hatinya keras, teguh, dan tulus.

Keteguhan sikapnya yang tak pernah mabuk oleh bakat adalah kelebihan terbesarnya.

'Ketulusan.'

Itulah kebajikan utama Ingis.

Tentu saja, seperti yang telah berulang kali dikatakan, pemuda itu pun dianugerahi bakat yang melimpah ruah.

'Lalu bagaimana aku harus menyebut orang yang satu itu?'

Cypress tersenyum sendiri seraya menatap ke tengah lapangan latihan.

Ada dua sosok yang terus memancarkan kekuatan suci sebagai pengganti holy relic.

Keduanya memiliki perawakan tubuh yang begitu besar hingga bisa disalahpahami sebagai beastkin beruang.

Bukankah salah satu dari mereka dikabarkan mewarisi darah raksasa?

Artinya, yang satu lagi adalah manusia murni, sebuah fakta yang luar biasa mengagumkan.

Bisik-bisik samar terdengar di antara para prajurit yang bertanya-tanya apakah darah pria itu benar-benar bercampur dengan beastkin beruang, sebuah keheranan yang sangat wajar.

Dua holy knight berbadan tegap itu memegang simbol God of War bagaikan panji kebesaran, secara alami menciptakan ruang lapang di sekeliling mereka.

The Madmen Knights berkumpul di area terbuka tersebut.

Fajar belum menyingsing.

Hari masih berupa pagi buta yang diselimuti kabut kebiruan.

Cypress, yang hanya mengenakan kemeja linen usang, mengamati orang-orang yang berkumpul.

Seorang pemuda berambut cokelat, berlengan panjang, dan bertubuh proporsional berbicara lantang seolah ingin didengar semua orang.

"Usaha? Itu cuma perjuangan menyedihkan dari orang-orang yang tidak berbakat."

Pemuda dari alam liar, seorang penggembala bernama Fel.

Ia mendedikasikan diri pada latihan lebih keras daripada siapa pun, tetapi kata-kata konyol itulah yang meluncur dari mulutnya.

Orang gila.

Nama ordo ksatria mereka memang tidak disematkan sembarangan.

Kalimat yang ia lontarkan selagi tubuhnya bermandikan peluh sama sekali tidak memiliki daya persuasi.

Nama pemuda yang bergumam "Berhenti bicara ngawur, bangsat" persis di sampingnya adalah Ropord.

Wajahnya pun sama-sama basah kuyup oleh keringat.

Bulir-bulir keringat berkumpul di dagunya lalu menetes jatuh ke tanah.

"Rasanya jauh lebih baik sekarang setelah hujan reda."

Pria dari West berujar seraya mengayunkan kapak besarnya.

Lawan tandingnya adalah seorang pendekar pedang yang matanya masih setengah terpejam.

Pendekar itu melangkah keluar sambil mengucek matanya yang mengantuk, lalu tiba-tiba menyabetkan pedangnya mengincar kepala si pembawa kapak.

"Aku harus memotong lidah itu biar pagiku bisa tenang."

Celetukan dingin itu terdengar melayang.

Keduanya bergerak maju-mundur, saling berhadapan sengit.

Percikan tanah mencuat ke udara setiap kali kaki mereka menjejak bumi.

Itu adalah perebutan posisi tempur demi menciptakan ruang gerak dan mendominasi sudut serang.

Mereka memang tidak bertarung sungguhan untuk saling membunuh, tetapi sudah jelas bahwa menyela di antara keduanya bukanlah hal yang mudah.

"Kalian punya banyak energi untuk pagi buta begini."

Sejak mengambil alih peran holy relic, si beastkin beruang—bukan, manusia bertubuh raksasa dan wanita berdarah setengah raksasa itu—telah menanggalkan waktu tidur mereka.

Seorang ksatria memang sanggup bertahan beberapa hari tanpa memejamkan mata.

Namun bukan berarti hal itu terasa nyaman atau menyenangkan.

Meski begitu, semua orang tetap menjalankan tugas masing-masing dengan baik tepat di depan kedua sosok itu.

Crak!

Pemandangan seekor Frog yang menyabetkan cambuk dalam latihan keras tergolong sangat langka, dan pemandangan seorang Dragonkin yang mengayunkan pedang putihnya pun terasa asing.

Ditambah lagi pemandangan Krang, sang raja sebuah negara, yang sengaja menyeret kursi ke tepi lapangan untuk menonton mereka?

'Situasinya sedang sulit.'

Kenyataan di medan perang teramat keras.

Cypress memahami lebih baik daripada siapa pun bahwa situasi perang saat ini sangat tidak menguntungkan bagi pihak mereka.

Apakah orang-orang ini tidak mengetahuinya?

Mereka tahu betul.

Hal itu sudah berulang kali mereka bahas dalam rapat strategi kemarin.

'Hanya ada satu kuda yang sanggup terbang di angkasa.'

Sementara pasukan South memiliki lebih dari dua puluh tunggangan terbang.

Meski demikian, orang-orang ini memulai hari mereka seolah-olah tidak ada masalah sama sekali.

Sosok yang berdiri di tengah mereka bangun lebih awal daripada siapa pun dan mengucurkan keringat lebih deras daripada siapa pun.

Namanya adalah Encrid.

"Luar biasa, Saudaraku."

Holy knight bernama Audin mengamatinya seraya tersenyum bangga.

Secercah cahaya fajar mulai merekah.

Matahari perlahan terbit menembus langit yang tadinya pekat tertutup mendung hitam.

Fajar telah tiba.

"Kau tidak pernah berubah."

Suara sang raja terdengar menyapa.

Cypress memahami situasinya.

Pemandangan itu pasti merupakan keseharian yang biasa dari pria bernama Encrid tersebut.

Seorang pria yang terus mengayunkan pedang, melatih raganya, dan memeras keringat di mana pun ia berada.

'Lebih dari sekadar ketulusan.'

Ada keteguhan yang pekat, sebuah tekad pantang menyerah yang terpancar jelas.

Ia adalah tipe pria yang akan tetap menyelesaikan tugasnya bahkan saat badai topan mengamuk sekalipun.

Sisi itulah yang terlihat begitu nyata.

'Bohong rasanya jika kubilang aku tidak menginginkannya di ordoku.'

Tentu saja, segalanya sudah terlambat.

Pria itu kini telah memimpin ordo ksatrianya sendiri yang mengenakan jubah hijau tua alih-alih jubah merah.

Di saat Cypress diam-diam merasa kagum dan terkesima, Bunion, yang turut menyaksikan dari kejauhan, merasakan gejolak aneh di dalam dadanya.

Pria itu berdiri menonton sambil bertumpu pada tombak panjang yang tertancap di tanah bagaikan tongkat penopang.

Rasa lelah yang teramat sangat menumpuk di sekujur tubuhnya akibat pertempuran berdarah yang berlangsung selama berhari-hari tanpa henti.

Namun saat mengamati pria itu, sebagian rasa lelahnya mendadak terlupakan.

Lelah itu menguap lenyap.

Terbang jauh melintasi batas kesadarannya.

Sebuah pemikiran melintas di kepalanya.

'Dia tidak pernah berubah.'

Encrid masih sama persis seperti dirinya yang dulu.

Tak ada yang berubah sedikit pun.

Bahkan setelah menyandang gelar ksatria yang agung, ia tetap bangun lebih pagi dari siapa pun dan bermandikan keringat, persis seperti masa lalunya.

Dalam pandangan Bunion, masa lalu dan masa kini saling bertumpuk.

Hal itulah yang membuatnya merasa jauh lebih takjub.

Tekadnya, terlepas dari kemahiran pedangnya yang kian mengerikan, sama sekali tidak memudar sedikit pun.

'Dulu pun dia selalu seperti itu.'

Seluruh tentara bayaran di bawah komandonya kala itu selalu terbakar motivasi hanya dari mengamati pria itu berlatih.

"Kalau melihat dia bergerak, rasanya... tangan ini gatal ingin mengayunkan sesuatu."

Bunion teringat pada salah seorang rekannya yang pernah mengucapkan kalimat tersebut.

Sekarang, kawan-kawan lamanya itu telah tewas semua.

Seiring kenangan masa lalu, bayang-bayang para rekannya kembali terlintas, dan secara alami pikirannya bermuara pada satu hal.

'Ah, balas dendam.'

Sebuah kata yang teramat manis, sekaligus teramat sulit untuk digapai.

Terlebih jika target pembalasan itu adalah entitas yang nyaris mustahil ditaklukkan.

Di hadapan Bunion kini berdiri sosok pria yang bersedia meneruskan tekadnya bahkan seandainya ia harus mati hari ini.

Kebaikan masa lalu terus berlanjut, dan ikatan persaudaraan itu tidak pernah putus.

Percakapan yang sempat mereka lakukan saat berjalan menembus perkemahan kemarin masih terpatri segar di ingatannya.

"Di mana kau tinggalkan kelompok tentara bayaran kita yang dulu?" tanya Encrid.

"Mereka semua mati."

"Semuanya?"

"Semuanya."

Bunion menceritakan kepahitan masa lalunya.

Sebuah permintaan misi, situasi yang berputar kacau, dan pada akhirnya ulah terkutuk dari iblis Demon Realm.

Mereka adalah saudara dan keluarganya, dan mereka semua dibantai habis.

Bunion mengirimkan seluruh koin krona yang ia miliki kepada keluarga-keluarga yang menanti kepulangan regu tentara bayaran itu.

Bukankah sebuah keberuntungan bahwa beberapa dari rekannya sempat membangun keluarga kecil?

Setelah menuntaskan seluruh urusan dunianya, Bunion melangkah menuju Southern Front.

Bertarung di garis pertahanan yang paling dekat dengan Demon Realm hingga ajal menjemput adalah satu-satunya alasan hidup yang tersisa baginya.

Encrid pernah menjadi salah satu anggota di regu tentara bayaran yang sama dengan Bunion.

Sosok yang telah mendengar seluruh tragedi itu, sosok yang berikrar akan mewarisi tekadnya, sempat berkata:

"Bertahanlah sepuluh tahun lagi, tidak, lima tahun saja."

"Kenapa?"

"Kau tidak berniat membalaskan dendam mereka?"

Encrid mengucapkannya seolah-olah hal itu adalah hal yang sangat lumrah.

Dan ia mengatakannya seolah-olah dirinya pasti sanggup mewujudkannya.

"Tentu saja aku mau."

Bunion tidak menangis kala itu.

Ia sudah menumpahkan seluruh air mata yang dijatahkan untuk seumur hidupnya saat seluruh anggota regunya tewas terbantai.

"Aku akan membalasnya," ulang Bunion, dan alih-alih air mata, ia merasakan perih yang mencabik-cabik rongga dadanya.

"Aku juga bagian dari kelompok tentara bayaran itu."

Kalimat yang diucapkan Encrid menggema di sekujur tubuhnya.

Bersamaan dengan sensasi meremang, kata-kata itu menorehkan kehangatan mendalam di hatinya.

Kebaikan itu telah berbalas, dan jalinan ikatan masih terikat kokoh.

Encrid telah menerima tekad Bunion dengan sempurna.

"Terima kasih," ucap Bunion kala itu, dan Encrid hanya membalasnya santai.

"Kalau berterima kasih, jalani hidupmu dengan sungguh-sungguh."

Mendengar kata-kata itu, Bunion meneteskan satu-satunya sisa air mata terakhirnya lalu tertawa terbahak-bahak.

Kalimat yang dulu pernah ia ucapkan saat menyelamatkan nyawa Encrid kini berbalik kepadanya.

"Kau lupa namaku tapi masih ingat kalimat itu? Dasar keparat gila."

"Nama Bunion terlalu pasaran."

"Memangnya nama Tom istimewa?"

"Kalau kau menebak nama orang dengan nama Tom, tebakanmu bakal benar satu dari sepuluh kali."

Keduanya tertawa bersama saat itu.

Persis seperti masa-masa mereka saat masih menjadi tentara bayaran jelata.

Selagi Bunion tenggelam dalam nostalgia, Prajurit Rapild menatap sosok pria yang selalu dibicarakan oleh sang Apostle of War pujaan hatinya dengan rasa hormat tanpa batas.

Sikap pria itu hanya menyuarakan satu hal mutlak.

Bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah menghentikan latihannya.

"Selama darah masih mengalir di tubuhku, aku akan terus bertarung."

Itulah ikrar yang diucapkan Rapild saat pertama kali menginjakkan kaki di Southern Front.

Apa yang telah ia perbuat demi menepati sumpah tersebut?

Darahnya kini bergejolak mendidih.

Musuh memang belum menampakkan batang hidung mereka, dan sekutu-sekutunya berada pada titik di mana mereka sangat membutuhkan istirahat.

Namun meski demikian, darahnya tetap membara.

'Aku ingin bertarung.'

Rapild bergumam pelan selagi berdoa di samping Audin.

Audin yang mendengarnya tersenyum hangat lalu meletakkan tangannya di atas pundak sang prajurit.

"Saudara Rapild, perjuangan adalah bagian dari pertempuran. Itu adalah insting murni untuk bertahan hidup. Pegang erat-erat perasaan itu."

Baru dua hari berlalu sejak hujan racun itu reda.

Waktu yang sangat singkat untuk memulihkan stamina, namun...

"Kalian melakukan apa yang seharusnya kulakukan."

Cypress tertawa lepas.

Encrid mengalihkan pandangannya mendengar tawa tersebut, lalu menyapukan matanya menatap para prajurit yang sedari tadi mengawasinya.

Bagaimana ia harus melukiskannya?

Sorot mata mereka benar-benar membara penuh harap.

Bukan hanya Bunion dan Rapild.

Sebagian besar pasukan yang mempertahankan South telah berkumpul di lapangan tengah.

Pasukan yang ditempatkan di Southern Front adalah barisan prajurit elit.

Merekalah benteng pertahanan kokoh yang melindungi Naurillia.

Keberadaan mereka semata-mata demi tujuan itu.

"Lebih mudah kalau kau menyerah."

"Berhentilah."

"Hentikan kebodohan ini. Ada jalan hidup yang jauh lebih mudah, kenapa kau malah menyiksa diri seperti ini?"

Cemoohan dan cercaan yang telah ia dengar ribuan kali sebelum menjadi seorang ksatria—orang-orang bermental lemah semacam itu tidak akan pernah sanggup melangkah sejauh ini.

Orang-orang ini, barisan prajurit yang berdiri tegap di tempat ini, adalah cerminan dari dirinya di masa lalu.

'Mereka yang terus bertarung tanpa tahu cara menyerah, dengan sisa bara api yang menyala di dada mereka.'

Menyadari pemikiran yang mendadak melintas itu, Encrid menghentikan ayunan pedangnya.

Ia memutar pegangan pedang Dawn dengan cengkeraman terbalik, lalu menghunjamkannya lurus ke tanah.

Tleb!

Bilah pedang itu tertancap kokoh di tanah berlumpur.

Sebuah gestur sederhana, namun sanggup menyedot seluruh pandangan mata ke arahnya.

Semua orang spontan menghentikan gerakan tangan dan kaki mereka.

Encrid mendadak teringat pada momen pertama kali ia bertemu dengan Krang.

Setiap langkah, setiap gerak tubuh pria itu selalu membawa perbedaan besar.

Dengan pedang yang tertancap di tanah, Encrid meletakkan telapak tangannya di atas pangkal gagang pedang.

Area di sekitarnya seketika menghening sunyi.

Hanya suara hembusan napas yang terengah satu-dua yang terdengar membelah kesunyian fajar.

Encrid, dengan tangan tetap bertumpu pada pangkal pedang, mengangkat kepalanya perlahan.

Ia tidak memancarkan hawa keberadaan yang menekan atau momentum yang berlebihan.

Namun setiap patah kata yang ia ucapkan kini sarat akan bobot kepemimpinan.

Suaranya yang bergema di tengah keheningan menyebar luas, membawa keteguhan tekadnya ke sanubari setiap prajurit.

"Tak ada seorang pun yang datang ke tempat ini untuk mati, bukan?"

Ia bertanya, tetapi itu bukanlah pertanyaan yang menuntut jawaban lisan.

Mereka semua hanya menatapnya dalam diam, mengunci mulut mereka rapat-rapat.

"Semuanya, bertarunglah sampai mati. Demi apa yang kalian inginkan."

Sebuah pidato yang teramat singkat.

Namun di balik keheningan itu, kobaran semangat para prajurit meledak menggelora.

"Siap, Tuan!"

Prajurit Rapild menyahut lantang, suaranya bergetar menahan luapan tekad.

Ia meneguhkan kembali ketetapan hatinya.

Prok!

Krang bertepuk tangan sekali.

"Bagus."

Itulah kata-kata dari seorang pria yang sanggup mengguncang sanubari manusia hanya dengan sepatah kalimat.

Sebab ia selalu mengisinya dengan ketulusan dan kebenaran hakiki.

"Impianku adalah mati tenang di atas ranjang," Cypress menimpali dengan sebuah candaan santai.

Meski fajar baru saja merekah, sebagian besar ksatria yang mengenakan jubah merah telah keluar untuk menyaksikan pemandangan tersebut.

Sebagian meletakkan tangan di gagang pedang mereka; sebagian lagi hanya memandang takjub.

Ksatria-ksatria yang relatif lebih muda memperlihatkan antusiasme yang membara.

Mana mungkin mereka tidak mengetahui kemasyhuran The Madmen Knights?

Gelora semangat yang panas membakar seluruh perkemahan.

Mereka memanfaatkan kobaran energi itu untuk menata ulang perkemahan garnisun.

Luagarne dan Aurelia merevisi rencana pertahanan berkali-kali.

"Mari kita kosongkan bagian tengah perkemahan."

"Rencana yang bagus."

Sesuai dengan rancangan taktik itu, Southern Front menjadi jauh lebih sibuk daripada sebelumnya, menanti saat di mana musuh akhirnya menampakkan diri.

"Apa Royal Guard cuma mau bersantai? Kalau kalian tidak punya keahlian terbang, cepat ulurkan tangan membantu."

Krang memberi perintah tegas.

"Misi utama kami adalah melindungi Yang Mulia."

"Benar, jadi cepat bergerak. Membantu mereka saat ini sama saja dengan melindungiku."

Tekad Krang tidak bisa diganggu gugat.

Pemimpin Royal Guard telah berikrar untuk menjadi pelindung setia sang raja di masa-masa yang teramat sulit.

Ia pun merupakan sosok yang sangat menghormati kehendak Krang.

"Bergeraklah. Dua orang akan bergantian mengawal agar tidak terjadi apa-apa pada Yang Mulia."

Bagi Kapten Royal Guard, ini adalah batas kompromi terakhir yang bisa ia berikan.

Ia memangkas waktu istirahat pasukannya sendiri.

Dengan demikian, barisan Royal Guard pun turut turun tangan membantu.

Keseharian Encrid sangatlah sederhana.

Di pagi hari, ia menjalani serangkaian latihan fisik dan teknik berpedang tanpa henti, dan sisa waktunya ia habiskan untuk menunggangi Odd-eye dan terbang mengarungi angkasa sepanjang hari.

Hiii-rkk!

Odd-eye seolah tidak pernah kehabisan tenaga, tetapi Encrid tetap disiplin meluangkan waktu untuk beristirahat.

"Akan sangat memalukan kalau kita sampai tersandung saat waktu bertarung sungguhan tiba, Odd-eye."

Setelah itu, Encrid menyempatkan diri menghampiri Krang dan berbincang sejenak.

Pria yang menjabat sebagai raja sebuah negara itu sedang menyendok dan memakan sup rebusan sederhana, persis seperti prajurit biasa.

"Bagaimana kalau di dalamnya ada racun?"

"Jika Tuhan memang berniat memanggilku pulang, aku harus menerimanya."

Kenyataannya, tubuh Krang yang telah menyerap bagian dari Sun Tree kebal terhadap sebagian besar racun mematikan.

Tentu saja, para prajurit lain tidak mungkin mengetahui rahasia itu.

Berkat itu pula, saat mendengar ucapan Krang barusan, raut wajah mereka tampak begitu terharu.

Seorang raja yang duduk bersama mereka, berbicara akrab dengan mereka, dan menyantap hidangan yang sama dengan mereka.

Raja yang bersahaja dan membumi.

"Kenapa hanya membawa Royal Guard dan bukan Royal Army?"

Aishia dan Marquis Marcus Baisar jelas sangat mampu memimpin pasukan kerajaan untuk menyusul ke mari.

"Persiapan."

Jawaban Krang teramat singkat.

Encrid mengangguk pelan, memahami maksud tersirat di baliknya.

Setelah itu, latihan berkuda di udara kembali berlanjut hingga malam menyelimuti bumi.

Kuda ini terbang di angkasa, bukan berlari di atas tanah, sehingga latihan intensif adalah hal yang mutlak diperlukan.

Selama beberapa hari berturut-turut, gelora semangat pasukan garnisun tetap menyala berkobar.

Api tekad itu sama sekali tidak padam.

Suasana tetap membara, tepat hingga detik di mana pasukan musuh akhirnya melancarkan invasi mereka.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.