Eternally Regressing Knight

Bab 884: Jika Harus Dilakukan, Maka Lakukanlah

2938 Kata

Bab 884: Jika Harus Dilakukan, Maka Lakukanlah

"Benar sekali, sedari awal aku memang sangat ingin bertemu dengan salah satu dari kalian. Pasti akan sangat disayangkan seandainya kalian semua berangkat ke medan perang tanpa menyisakan satu orang pun di tempat ini."

Pustis berbicara dengan penuh ketulusan.

Ia benar-benar mendambakan sebuah bentrokan yang sejati dengan mereka.

Bukankah ia telah berulang kali mendengar kisah-kisah tentang pencapaian luar biasa yang mereka torehkan hingga telinganya terasa berdenging panas?

'Bunga-bunga yang mekar di dalam lumpur.'

Bongkahan intan permata yang tersembunyi di sela-sela bebatuan kali.

Sebuah narasi kepahlawanan yang teramat dicintai oleh seluruh anggota ordo Mud Knights.

Struktur kisah klasik di mana seorang pengemis berpakaian compang-camping berhasil meraih kesuksesan gemilang berkat perpaduan kerja keras dan keberuntungan—bukankah kisah tersebut terdengar seolah-olah sedang membicarakan diri mereka sendiri?

Sebab mereka pun memulai perjalanan hidup dari dasar lumpur paling bawah sebelum akhirnya merangkak naik meraih status sosial tertinggi.

Pustis memandang mereka, The Madmen Knights, memiliki kesamaan takdir yang teramat mirip dengan ordo Mud Knights.

'Dari prajurit biasa menjelma menjadi ksatria sejati.'

Pasti ada begitu banyak peristiwa berdarah yang mereka lalui sedari masa-masa di mana mereka masih dicap sebagai sekumpulan pembuat onar hingga sanggup berdiri di posisi mereka saat ini.

Separuh dari perasaannya adalah ikatan rasa persaudaraan yang mendalam, dan separuh lainnya adalah api persaingan yang berkobar.

Menambahkan kenyataan bahwa ordo Mud Knights seharusnya menjadi satu-satunya entitas yang pantas menyandang narasi agung tersebut, ada pula secuil keserakahan di dalam dadanya untuk melenyapkan eksistensi ordo saingan ini dari muka bumi.

Terlepas dari apa pun motif di baliknya, ketulusan rasa antusiasmenya sepenuhnya nyata.

"Apakah pendengaranmu sudah mulai kembali pulih sekarang?"

Persis seperti apa yang diucapkannya, fungsi pendengaran Jaxen perlahan-lahan mulai pulih seperti sediakala.

"Apakah kau membutuhkan waktu tambahan untuk beristirahat?"

Di belakang punggungnya, seorang prajurit narapidana yang tenggelam di dalam rawa lumpur menjerit histeris memohon pertolongan, namun suara memilukan itu terasa sama sekali tidak relevan baginya.

Ketenangan batin pria itu sepenuhnya nyata.

Ia sama sekali tidak memedulikan kematian segelintir prajurit rendahan.

Jaxen memungut dua bilah belati miliknya yang tadi sempat terlempar dan berserakan di atas tanah.

Dalam proses tersebut, ia secara sengaja memperlihatkan celah pertahanannya, namun sang ksatria lawan sama sekali tidak bergerak menerkam.

Pustis berdiri menunggu seraya memutar pergelangan tangannya beberapa kali.

Meregangkan otot-ototnya agar tubuhnya tidak kaku sebelum genderang duel berdentang.

Pemandangan saat pria itu membunyikan persendian tulangnya dari pergelangan kaki hingga ke atas terlihat teramat luwes, seolah-olah gerakan itu telah mengkristal menjadi kebiasaan alami selama bertahun-tahun.

Pria ini sangat berpengalaman dalam melakoni duel hidup-mati antar ksatria.

Berada dalam tingkat ketegangan yang terukur dan antusiasme yang terkendali.

Ia adalah seorang petarung alami yang memiliki segudang pengalaman tempur nyata.

"Kalau kau memang berniat menunggu, bagaimana kalau kita bertarung besok pagi saja? Pulanglah dulu untuk hari ini."

Jaxen melontarkan celetukan itu dengan nada bicara yang teramat datar dan santai.

Sebuah intonasi suara seolah-olah permintaan konyol itu sudah sewajarnya dikabulkan.

"...Hah? Wah, nyalimu benar-benar sangat tebal juga."

Pustis sempat tertegun bungkam sejenak sebelum akhirnya melepaskan tawa renyah.

Apakah Jaxen telah tertular oleh tabiat buruk Encrid?

Menerapkan sedikit dari gaya bicara sang kapten rupanya sanggup memicu retakan kecil pada ketenangan batin sang ksatria musuh.

Tentu saja retakan emosi itu lenyap dalam sekejap.

Pria itu langsung mengakui ketangguhan mental Jaxen.

Menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah sanggup menang dalam adu silat lidah, ia menganggukkan kepalanya santai.

Akumulasi pengalaman yang kaya selalu melahirkan toleransi batin yang luas untuk menerima berbagai situasi tak terduga.

Persis seperti pria yang berdiri di hadapannya saat ini.

"Tentu saja aku tidak bisa melakukan hal konyol itu," sahut sang ksatria seraya terkekeh geli.

Penilaian taktis, pembawaan sikap, dan ketegasan bertindak—seluruh aspek pada diri pria ini tergolong sangat luar biasa.

Seorang ksatria sejati yang sangat mumpuni.

Jaxen melemparkan pandangan matanya melintasi pundak sang lawan.

Tekanan hawa keberadaan dari ksatria yang berdiri di depannya memang tidak bisa dibilang kecil.

Namun sebuah sensasi bahaya maut yang jauh lebih memusingkan mendadak menusuk-nusuk saraf kewaspadaannya.

Sebuah sensasi batin yang berakar di dalam domain intuisi dan indera keenamnya.

Ia memiliki bakat istimewa untuk membedakan bentuk ancaman maut tak kasat mata berkat tempaan pengalaman hidup selama bertahun-tahun.

Pustis secara sengaja membiarkan penyihir sekutunya tewas terbunuh beberapa saat yang lalu.

Sikapnya tak ubahnya sedang membersihkan seekor serangga pengganggu yang menjengkelkan.

Kenapa pria itu melakukan hal tersebut?

Semata-mata karena dirinya diliputi rasa percaya diri yang meluap-luap.

Karena variabel magis yang dihadirkan oleh para penyihir tidak lagi memiliki arti penting dalam perhitungannya.

'Atau pria itu merasa dirinya sanggup menang tanpa bantuan sihir dan menganggap penyihir itu hanya sebagai beban penghalang.'

Atau mungkin hubungan personal di antara mereka berdua memang sangat buruk sedari awal.

Ada begitu banyak kemungkinan motif di baliknya.

Ia tidak bisa mengetahui segalanya secara pasti, namun satu hal yang teramat benderang.

Pihak musuh memiliki keyakinan mutlak akan kemenangan mereka.

"Berapa banyak ksatria yang kalian bawa ke mari?" Jaxen bertanya to-the-point.

Meski subjek pertanyaannya tidak dijabarkan secara rinci, maknanya telah tersampaikan dengan sangat sempurna.

Jika kalimat itu dijabarkan secara lengkap, bunyinya adalah 'Berapa banyak ksatria yang dikerahkan dalam penyerbuan ini?'

"Lima orang."

Total ksatria yang bernaung di bawah panji Mud Knights berjumlah tujuh orang.

Karena dua orang di antaranya bertugas mengawal langsung pergerakan sang Kaisar Agung, itu berarti seluruh kekuatan utama mereka telah dikerahkan ke tempat ini.

"Target kami hanyalah membakar habis Border Guard. Karena itulah satu-satunya peran kami dalam perang besar ini."

Sebuah nada bicara yang mengisyaratkan bahwa informasi ini bahkan bukan lagi sebuah rahasia militer yang berharga.

Mendengar pengakuan Pustis, Jaxen melontarkan pertanyaan balik.

"Lalu bagaimana dengan garis depan yang dijaga oleh Tuan Cypress?"

"Hm, tampaknya ada kesalahpahaman fatal yang kalian yakini sedari awal."

Jaxen menunggu kelanjutan kalimat lawan dalam keheningan siaga.

Pustis yang sedari tadi berbicara dengan begitu santai mendadak memanfaatkan detik kelengahan tersebut untuk melancarkan serangan kilat!

Bagi seorang ksatria sejati, jarak lima langkah tak ubahnya berada tepat di bawah ujung hidung sendiri.

Terlebih lagi Pustis memiliki spesialisasi dalam manuver serbuan dan pendobrakan garis pertahanan.

Duaaar!

Udara di sekitarnya seketika terkondensasi lalu meledak hebat.

Selagi gumpalan tanah di permukaan bumi memancar membubung layaknya air mancur, senjata flail—sebuah gada besi berkepala tiga yang tersambung pada rantai baja—meremukkan kepala Jaxen bahkan sebelum suara ledakannya sempat terdengar!

Namun tidak ada serpihan otak, retakan tulang tengkorak, semburan bola mata yang pecah, ataupun genangan darah segar.

Hantaman flail maut milik Pustis hanya membelah bayangan semu milik Jaxen.

Jaxen adalah sosok yang paling sensitif dan memiliki kepekaan paling tajam di seantero The Madmen Knights.

Tepat pada detik saat musuh menetapkan niat membunuhnya, ia telah memprediksi lintasan serangannya lalu melenting melompat ke samping.

Sosok yang paling mustahil untuk terkena jebakan serangan mendadak di The Madmen Knights adalah Jaxen seorang.

"Itu hanyalah bayangan semuku," ujar Jaxen santai.

Kedua tangannya yang menggenggam belati terkulai lemas di samping tubuhnya.

Apakah hanya ksatria musuh saja yang terbiasa melakoni duel melawan para ksatria tangguh?

Sungguh menggelikan.

Jaxen menghabiskan setiap detik kehidupannya sehari-hari bersama sekumpulan orang-orang gila yang selalu mengincarnya dan memaksanya melakoni konfrontasi frontal setiap saat.

Menghindari serangan mendadak semacam ini sudah menjadi makanan sehari-harinya.

Klining!

Rantai-rantai flail saling berbenturan menimbulkan suara gemerincing baja yang nyaring.

Pustis kembali mengambil kuda-kuda bertarung yang sama persis seperti sebelum ia mengayunkan senjatanya tadi lalu berujar dingin.

"Coba hindari yang satu ini!"

Melancarkan serangan selagi berbicara.

Sebuah teknik bertarung klasik di dalam seni pedang tentara bayaran gaya Valaf, Valaf-style.

Di wilayah South, seni pedang ilusi telah tersohor secara turun-temurun.

Sudah sewajarnya jika ada beberapa ksatria yang turut menguasai seni bela diri gaya Valaf.

"Apa kesalahpahaman yang kau maksud tadi?"

Nada suara Jaxen terdengar teramat tenang tanpa riak.

Kedua sudut bibir Pustis terangkat naik mengukir seringai lebar.

Bajingan di hadapannya ini benar-benar meluap dengan ketenangan batin yang abnormal?

Apakah ia sama sekali tidak merasa gentar bahkan setelah mendengar ada lima orang ksatria yang mengepungnya?

Apakah ia terlalu menaruh keyakinan pada penyihir yang berdiri di belakang punggungnya?

Mempercepat proses berpikir adalah keahlian alami yang dikuasai oleh setiap ksatria sejati.

Pustis merangkum seluruh pertimbangannya dalam sekejap lalu menyahut sombong.

"Hanya dengan satu ordo ksatria kami saja, kekuatan tempur kami sudah lebih dari cukup untuk melumat habis seluruh kerajaan kalian!"

Jika jumlah ksatria sejati adalah representasi mutlak dari supremasi militer, maka perkataan Pustis memang benar adanya.

Mendengar klaim tersebut, Jaxen menghitung jumlah rekan-rekannya di dalam benaknya.

Hal itu tidak memakan waktu lama.

Bahkan tanpa menyertakan sang Dragonkin yang baru saja bergabung tempo hari, ada sepuluh orang ksatria sejati di ordo mereka termasuk dirinya sendiri.

"Apa kau tahu berapa jumlah anggota The Madmen Knights?"

"Apa?"

"Kami ada sepuluh orang."

Dan kalian cuma ada lima orang.

Bahkan tanpa perlu menuntaskan kalimatnya, maknanya telah tersampaikan dengan sangat telak.

"Tapi bukankah detik ini kau cuma sendirian di sini?"

Bantahan Pustis pun sepenuhnya benar.

Seraya melepaskan tawa mengejek, sang ksatria menyepakkan ujung sepatunya ke tanah sekali lagi.

Wuuush! Hamburan serpihan tanah membubung menutup jarak pandang.

Ujung kepala flail berduri melesat ganas mengincar sisi kiri kepala Jaxen.

Selagi lawan sibuk menghindarinya, ia akan meluncurkan tendangan menyapu dari bawah menggunakan ujung kakinya.

Seluruh rangkaian serangan itu bakal mengalir beruntun tanpa memberikan ruang sedetik pun bagi lawan untuk menarik napas.

Jaxen bergerak meliuk persis seperti apa yang telah diprediksi oleh sang ksatria musuh.

Hal itu sama sekali bukan masalah.

Menyimpang dari prediksi lawan hanya pada momen yang benar-benar krusial dan pada batas yang terukur sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan dampak mematikan.

Terlebih lagi celah kelengahan sepersekian detik sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawa seorang manusia.

Kebenaran abadi itu tidak akan pernah berubah bahkan dalam pertarungan frontal langsung.

Namun poin penting yang sempat terlewatkan oleh perhitungan Jaxen adalah watak dasar dari ordo Mud Knights itu sendiri.

Tepat setelah menghindari sabetan flail dan meloloskan diri dari jangkauan tendangan susulan Pustis, Jaxen mendadak merasakan sensasi perih menyengat yang menusuk pinggang sebelah kirinya!

Ketajaman intuisinya menyambar kepalanya laksana kilatan petir.

Jaxen menghantamkan siku kirinya ke bawah sekuat tenaga!

Trak!

Siku kirinya terbentur oleh sesuatu yang teramat keras.

Sosok penyerang gelap itu pun meliukkan lengan bawahnya demi menangkis benturan siku menggunakan pelindung lengan vambrace lalu melesat menarik langkahnya mundur.

"...Oho, hebat juga."

Sosok bayangan hitam yang baru saja menusuk pinggangnya mendekat dan menjauh hanya dalam sekejap mata.

Kedua mata Jaxen mengunci sosok siluet yang baru saja melompat mundur tersebut.

Tubuhnya teramat kerdil, bahkan tinggi kepalanya tidak sanggup menjangkau dada Jaxen.

Telinganya panjang meruncing layaknya seorang elf, namun pipinya merah merona layaknya bangsa kurcaci dwarf.

Sepasang alis putihnya membentang panjang ke kiri dan ke kanan, kedua sudut matanya terkulai turun, dan paras wajahnya dipenuhi keriput tua beserta janggut yang lebat.

Sebuah seruan decak kagum meluncur dari mulut monster kerdil tersebut.

"Kau sanggup menangkis seranganku tadi. Tapi tetap saja kau tidak sanggup memblokir seluruh mata pisaunya, bukan?"

Jaxen sama sekali tidak melepaskan rintihan kesakitan.

Ia hanya mengidentifikasi benda apa yang baru saja menusuk dan melukai pinggangnya.

'Jarum penyengat. Bukan... ini adalah sebuah jarum besi runcing.'

Seorang kurcaci berdarah elf.

Sosok kerdil itu secara alami menyembunyikan tangannya di balik punggungnya.

Meski Jaxen tidak melihat langsung senjata apa yang tergenggam di tangannya, tidaklah sulit baginya untuk menebaknya secara presisi.

Khusus bagi seorang Jaxen, hal itu teramat mudah.

Lengan baju yang longgar, dan di bagian dalamnya pasti tertanam sebuah pelindung vambrace baja yang tadi menahan benturan sikunya, dan selain itu pasti ada berbagai macam senjata rahasia yang berjejer rapi di balik kainnya.

Ia tahu pasti tanpa perlu melihatnya dengan mata kepala.

Sebab dirinya sendiri pun bertindak persis seperti itu.

Dengan kata lain, sosok di hadapannya ini adalah petarung dari jenis yang sama persis dengan dirinya.

Jaxen merasakan sensasi mati rasa merayap di sekitar luka tusukannya selaras dengan tetesan darah segar yang merembes di pinggangnya.

"Ah, aku tidak perlu meminta maaf padamu, bukan? Aku memang bilang bakal menunggumu, tapi aku tidak pernah berjanji bakal bertarung satu lawan satu denganmu, kan? Mud Knights selalu menggunakan segala cara dan metode kotor demi merebut kemenangan kapan pun dan di mana pun. Itulah sumpah suci ordo kami!"

Untaian kalimat mengejek itu dilontarkan oleh Pustis.

Nada bicaranya yang sinis sudah lebih dari cukup untuk membuat siapa pun mendidih ingin merobek mulutnya.

Meski begitu Jaxen sama sekali tidak terpancing emosi.

Kenapa pinggangnya terasa mati rasa?

Sebuah pertanyaan selalu mengiringi jawabannya.

'Racun mematikan.'

Dan ini adalah varian racun baru yang baru pertama kali meracuni tubuhnya.

Sebuah racun sintetis hasil ekstraksi campuran dari racun tanaman herbal, mineral beracun, dan bisa binatang berbisa.

'Dan diracik khusus dengan resep pribadinya sendiri.'

Ini bukan racun umum yang beredar di pasaran.

Jaxen telah ditempa untuk menahan berbagai jenis racun sedari masa belianya.

Oleh karena itu ia memiliki kekebalan alami terhadap mayoritas racun mematikan di dunia, namun...

"Racun buatanku sedikit istimewa, Kawan Muda."

Sosok kerdil itu berujar tenang.

Dan perkataannya sepenuhnya benar.

Suara-suara dengingan aneh mulai terngiang di telinganya disertai rasa pening berputar di kepalanya.

Gejala biologis dari penyebaran racun.

"Hah..." Jaxen menghembuskan napas pendek.

"Bagaimana kalau aku ikut bergabung juga?"

Di titik ini, seorang ksatria musuh lainnya melangkah keluar dari dalam kabut.

Sosok pria yang menyilangkan dua bilah pedang di punggungnya.

Panjang bilah pedangnya sedikit lebih pendek daripada longsword standar, namun sepasang lengan pria itu teramat panjang layaknya seekor monyet liar.

Gagang kedua pedang di punggungnya mencuat keluar ke arah luar pundaknya demi mempermudah gerakan menghunus kilat.

"Ya, bergabunglah ke mari. Aku mungkin saja bakal dihajar babak belur seandainya bertarung sendirian melawannya. Kemampuannya benar-benar sangat tidak biasa," ujar Pustis santai.

Ia adalah tipe pria yang sanggup mengakui kehebatan musuh secara terbuka dan rela menelan harga dirinya demi mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Ordo-ordo ksatria Lihin-Stetten terbagi menjadi dua cabang filosofis besar jika diteliti secara menyeluruh.

Pihak yang mempertahankan tradisi kuno dan pihak yang membina ksatria lewat metode pelatihan modern.

Di antara kelompok tersebut, Mud Knights adalah penganut cabang yang pertama, dan pembawaan sikap Pustis adalah manifestasi murni dari doktrin tersebut.

Mereka bertarung semata-mata demi bertahan hidup, dan mewariskan seni, teknik, serta mentalitas bertahan hidup semacam itu melintasi generasi.

Inilah alasan kenapa karakteristik dari setiap ordo ksatria South teramat kontras dan benderang.

"Seandainya tadi Venom tidak menusuk pinggangnya, bajingan itu pasti sudah melemparkan sesuatu ke arahku atau mencabut senjata rahasia yang tak terduga. Atau mungkin tidak. Bagaimanapun juga, ia pasti bakal melakukan trik mematikan," Pustis terus mengoceh menganalisis.

Jaxen tidak repot-repot menyela percakapan mereka.

Sebagai gantinya, ia mengedarkan pandangan matanya menatap ketiga ksatria musuh yang kini mengepungnya.

Seandainya ia sanggup meloloskan diri dari koordinat posisinya saat ini, ia memiliki rasa percaya diri mutlak untuk sanggup membantai ketiga ksatria ini satu per satu.

Jika ia bertarung dengan memanfaatkan ruang gerak dan jarak tempuh, lalu menyergap mereka pada momen yang ia kehendaki, membunuh mereka bukanlah hal yang sulit.

Artinya hal itu sangat mungkin dilakukan jika ia memilih untuk melarikan diri terlebih dahulu lalu membalas dendam di kemudian hari.

Pertempuran pasti akan menjadi berkali-kali lipat lebih mudah daripada sekarang.

"Target utama operasi kita adalah sang penyihir. Cepat menyingkirlah dari jalan kami!"

Pustis sang Pengamat, Observant Pustis—itulah julukan kehormatan pria itu.

Karena memiliki kepekaan observasi dan ketajaman wawasan yang luar biasa, matanya dalam menakar kapasitas musuh tergolong sangat tajam.

Ia telah membaca gaya bertarung dan kebiasaan gerak Jaxen secara menyeluruh.

'Seorang pria yang menguasai puncak seni pembunuhan bayaran.'

Sosok Venom di ordo ksatrianya pun bertarung dengan pola yang serupa.

Nama kurcaci berdarah elf yang baru saja menusukkan jarum beracun tadi adalah Venom, dan dengan mengingat bagaimana cara makhluk itu bertempur, sangat mudah baginya untuk membayangkan pola taktik yang bakal dilancarkan oleh Jaxen.

Selaras dengan hal tersebut, sangat mudah pula baginya untuk menyimpulkan alasan kenapa pria ini bersikeras bertahan di tempat ini selagi menelan kerugian taktis yang begitu besar.

"Akan sangat nyaman bagi kita berdua jika kau bersedia menyingkir. Kami senang bisa melenyapkan sang penyihir, dan kau pun senang karena sanggup bertahan hidup."

Jaxen kembali melepaskan tawa dingin.

Sungguh menggelikan bahwa ketika detik genting semacam ini tiba, ia mendadak sanggup memahami isi hati terdalam dari seorang Encrid.

Bertarung mati-matian semata-mata karena ada orang-orang yang berdiri di belakang punggungmu.

Pertarungan sang kapten sedari dulu memang selalu seperti itu.

Bukan pembunuhan berdarah dingin demi meraup keping Krona, melainkan sebuah pertempuran demi membentengi dan melindungi orang lain.

Sebuah konsep yang teramat mustahil untuk ia bayangkan bahkan lima tahun yang silam.

"Hentikan ocehan membosankanmu dan cepat serang aku!"

Seraya melontarkan tantangan tersebut, Jaxen memutar kedua belah belati di genggamannya lalu menguncinya dalam posisi genggaman terbalik.

Salah satu tangannya tampak kosong tanpa senjata, namun lekukan jemari tangannya yang mencengkeram sesuatu mengindikasikan bahwa ada sebilah senjata tak kasat mata yang tergenggam kokoh di sana.

Karena ia telah mengusap bersih darah di bilah Invisible Blade selagi mereka sibuk mengoceh tadi, wujud pisaunya kembali lenyap tak terlihat.

Jaxen tetap berdiri tenang.

Sama sekali tidak ada secuil pun kegoyahan pada pembawaan sikapnya.

Menghadapi tiga orang ksatria sejati secara frontal terbuka memang bukanlah jenis pertarungan yang ia sukai, dan ia sedang bertarung di tengah kerugian racun yang menyebar, namun apa lagi yang bisa ia perbuat?

'Jika hal ini memang harus dilakukan.'

Maka lakukanlah.

Persis seperti apa yang telah diperagakan oleh Encrid, sudah lebih dari cukup jika dirinya pun mengeksekusinya dengan cara yang sama.

'Bakal kubawa mati kalian bertiga bersamaku!'

Sepasang mata Jaxen teramat jarang memperlihatkan letupan emosi, namun hari ini sepenuhnya berbeda.

Khusus untuk hari ini, kobaran semangat tempur yang membara bersemayam pekat di dalamnya.

Sepasang mata yang sepenuhnya berbeda dari sosoknya yang biasanya.

"Selama aku belum mati membujur kaku, kalian tidak akan pernah bisa melihat seujung rambut pun dari penyihir kami. Dan jika wanita itu sampai melihat jasad mayatku kelak, dia pasti bakal mencungkil keluar kedua bola mataku!"

"Bajingan ini masih berani banyak mulut?!"

Selagi kata-kata itu terlontar, siluet dari sosok kurcaci bernama Venom mendadak mengabur dan lenyap ke dalam bayang-bayang, sementara ksatria berlengan panjang yang baru bergabung segera menghunus kedua bilah pedangnya ke udara.

Pustis memutar gada flail berduri tinggi-tinggi di atas kepalanya dari arah depan.

Wuuush, wuuush!

Suara hantaman gada besi berkepala tiga yang merobek hembusan angin meraung teramat memekakkan telinga.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.