**Bab 105. Menuju Jalan Utama**
***
“Aku sudah berkomitmen sejak awal bahwa aku pasti akan menemukan logam itu kembali.”
“Benar, kau memang menyuarakannya. Kau mengklaim jika logam tersebut dianalogikan sebagai seekor kelinci, kau dipastikan akan melacaknya, menebas matinya, baru kemudian membawanya pulang kembali, bukan?”
“Logam itu sejak mula merupakan barang milik pribadiku, sehingga secara logika penggunaan kosakata ‘membawa pulang kembali’ dirasa kurang presisi.”
“Cih, watak batinmu benar-benar sangat cerewet menyangkut detail kosakata. Sudahlah, lupakan saja. Bagaimanapun juga, setelah ragaku selesai mengotak-atik logam tersebut selama beberapa hari kemarin, arah rencana pemikiranku mendadak mengalami transformasi.”
Monster Senjata menyuarakan kalimat cibiran tersebut sembari tangannya merangsek masuk ke balik jubahnya, baru kemudian menarik tangannya keluar kembali. Di sela cengkeraman telapak tangannya saat itu telah tergenggam sebuah *palu jangdori (jangdori hammer)* besi yang bentangan panjang gagangnya hampir menyamai bentangan dua lengan orang dewasa.
“…….”
“Sebab kenyataannya, setelah selesai merakitnya, lubang dadaku secara mendadak tergiur untuk mengamankan kepemilikan palu besi ini untuk diriku sendiri.”
*Wusss!*
Sesaat setelah kalimat deklarasi tersebut selesai disuarakan, tubuh fisik Monster Senjata meluncur deras menyerang ke arah Dong Bong-su menyerupai sambaran kilat badai baru kemudian mengayunkan hantaman palu *jangdori* di tangannya ke arah bawah dengan akselerasi kecepatan yang jauh lebih mengerikan dibandingkan sambaran kilat tadi. Kelihaian akselerasi serangan fisiknya dideteksi sangatlah mumpuni, menyelaraskan nama besar dari reputasinya sebagai bagian dari faksi Dua Puluh Master Agung di Bawah Langit.
*Brak—!*
Ujung tumpul logam palu *jangdori* raksasa tersebut meluncur jatuh lurus membidik ke arah dahi wajah Dong Bong-su. Jika hantaman fisik tersebut sampai merapat menyentuh kulit kepalanya seutuhnya, batok kepala Dong Bong-su dipastikan akan langsung hancur hancur berkeping-keping di tempat saat itu juga.
Namun Dong Bong-su murni hanya berdiri diam menatap tenang ke arah datangnya palu raksasa tersebut, menolak meluncurkan gerakan menghindar sedikit pun. Reaksi ketenangan batinnya terlampau hening untuk bisa dianalisis murni sebagai akibat keterbatasan refleks fisik mendeteksi serangan yang terlampau cepat. Sepasang bola matanya bahkan menolak berkedip sekejap pun menyongsong datangnya palu.
*Set!*
Satu cun.
Secara sangat presisi di sela jarak sekitar satu ruas jari tangan di depan dahi dahi Dong Bong-su, laju hantaman palu *jangdori* raksasa tersebut mendadak berhenti kaku di udara.
“Alasan taktis apa yang memicu dirimu menolak meluncurkan gerakan menghindar?”
Dong Bong-su, sembari sepasang matanya masih terus menatap lekat lurus ke arah sepasang mata Monster Senjata di depannya melayangkan jawaban datar.
“Sebab di dalam seranganmu barusan, sama sekali menolak bersisa riak hasrat membunuh maupun ketamakan batin sedikit pun.”
Sebuah hukum kausalitas umum. Pada kondisi normal biasa, seorang pendekar menolak dibekali kemampuan untuk melenyapkan nyawa orang lain tanpa ditopang oleh adanya keaktifan hasrat membunuh di kepalanya, serta menolak memicu aksi pencurian tanpa adanya dorongan rasa tamak di dadanya.
Namun pada kasus yang tergolong sangat langka—ekstrem langka—memang diakui eksis segelintir manusia ganjil di dunia.
Golongan manusia selain kemanusiaan sejati tersebut dibekali kapasitas fisik untuk bisa meluncurkan pembantaian massal maupun aksi pencurian secara murni tanpa ditopang oleh adanya luapan emosi dasar tersebut di kepalanya. Mereka secara umum diakui menyandang julukan di dunia persilatan sebagai orang gila, dilabeli sebutan kehormatan sebagai *Dewa Senjata Delapan Arah* maupun *Monster Senjata*, namun di sela-sela parameter penilaian Dong Bong-su saat itu, master di depannya dideteksi tetap tergolong masuk ke dalam klasifikasi manusia normal biasa. Tentu saja, perkecualian murni diwajibkan untuk disematkan menyikapi tingkat kekuatan fisiknya yang tergolong sangat luar biasa gila seutuhnya.
“Analisis jawabanmu barusan seolah-olah sedang mendeklarasikan bahwa kau dipastikan akan sanggup meluncurkan gerakan menghindar seandainya ragaku secara nyata melepaskan hasrat membunuh tadi?”
“Hal itu benar adanya.”
“Kekeke. Bajingan gila sejati. Otakmu secara faktual memang benar-benar telah rusak gila. Yah, aku menganalisis kau dibekali keberanian menyuarakan kalimat sombong tersebut murni ditopang oleh ketidaktahuan kepalamu menyangkut seberapa mengerikan esensi kekuatan asliku, namun meski begitu tingkat kewaspadaan batinmu diakui sangat mengagumkan. Bagus, sangat bagus. Mari kita asumsikan kau memang dibekali kemampuan untuk bisa meluncurkan gerakan menghindar tadi—lalu rencana tindakan apa yang bersiap kau eksekusi setelah sukses menghindar?”
“Setelah sukses menghindar……”
“Setelah sukses menghindar?”
“Aku dipastikan akan langsung menebas mati dirimu seutuhnya.”
“Pft—hahahahahaha! Persis menyalin analisis dugaanku, kau secara konsisten selalu sukses menyajikan hiburan bertarung yang menyenangkan bagi batinku. Oleh karena faktor watak unikmu itulah yang memicu lubang dadaku menolak dibekali pilihan selain berdiri diam manis menanti tibanya perjumpaan bersamamu kemarin. Hahaha!”
Monster Senjata meledakkan suara tawa gilanya kencang karena gembira. Ia secara personal menaruh rasa suka yang sangat padat menyikapi watak kepribadian Dong Bong-su seutuhnya.
Rasa sukanya dideteksi telah tumbuh melompati batas rasa penasaran batin biasa, bertransformasi menjelma menjadi sesosok rasa sayang yang tulus terpancar di dadanya.
Namun ada satu buah kebenaran krusial yang menolak diketahui oleh logikanya seumur hidup……
Yaitu fakta medis bahwa pondasi dasar dari seluruh kehangatan rasa sayang yang ia rasakan saat itu secara esensial murni bersumber dari akting penyamaran Dong Bong-su semata. Ketiadaan riak permusuhan tersebut murni merupakan buah hasil dari kelihaian Dong Bong-su dalam memperagakan peran kosmetik sebagai sosok `[pahlawan palsu]` secara presisi, menyembunyikan wujud aslinya seutuhnya di balik watak moralitas yang disukai oleh Monster Senjata sejak awal.
Monster Senjata dipastikan menolak dibekali kemampuan untuk bisa mendeteksi celah kebohongan tersebut seumur hidupnya, bahkan jika raganya dipaksa tewas mati baru kemudian dibangkitkan kembali oleh keajaiban sekali pun……
“Baiklah, mari kita gerakkan langkah kaki kita sekarang. Aku diwajibkan untuk segera memamerkan kepingan pusaka baru ini ke hadapan matamu secara cepat, murni karena lubang dadaku menolak menaruh minat untuk berakhir tewas ditebas oleh pedangmu kelak.”
Ia memang menolak merinci secara detail objek apa sebenarnya yang bersiap ia tunjukkan di depan matanya saat itu, namun secara taktis hal tersebut sangat mudah untuk dipetakan oleh otaknya. Objek tersebut dipastikan merupakan wujud dari persenjataan pusaka baru (`new item`) yang dirakit murni memanfaatkan hasil peleburan bilah pedang pemula `[Novice's Sword]` yang ia titipkan kemarin.
Monster Senjata bangkit berdiri dari kursi kayunya terlebih dahulu baru kemudian melangkah kaki memandu perjalanannya menuju ke pintu keluar kamar.
Dong Bong-su melayangkan sepasang matanya menatap tenang ke arah punggung master paruh baya tersebut selama beberapa saat, baru kemudian menyusul bangkit berdiri secara lamban.
*Kret, kret.*
Sesosok gema suara gesekan aneh yang sangat unik mendadak terdengar bergaung di sela udara, menyerupai visual susunan tulang belulang manusia yang sedang remuk dihantam palu besi.
Langkah kaki Dong Bong-su seketika terhenti kaku menyambut kemunculan suara ganjil tersebut.
Lubang telinganya secara sangat dinamis langsung melacak koordinat asal usul gema getaran suaranya. Meskipun riak getarannya terdeteksi sangat halus, namun spektrum panjang gelombangnya dilaporkan terus merenggang lebar di udara. Detail temuan tersebut menandakan bahwa koordinat asal suaranya sedang memandu gerakan menjauh dari posisi fisiknya saat ini. Yang memiliki arti taktis……
*Sret.*
Pintu kamar penginapan tampak bergeser terbuka lebar, disusul oleh gerakan Monster Senjata yang memutar posisi kepalanya menatap lekat ke arah wajah Dong Bong-su.
“Kendala penting apa yang sedang menahan langkah kakimu di dalam kamar? Alasan apa yang memicu dirimu menolak melangkah menyusul pergerakan kakiku di depan?”
“…….”
“Oh, detail transformasi fisik ini? Aku murni hanya meluncurkan sedikit perbaikan kosmetik ringan menyelimuti wujud visual wajahku seutuhnya baru saja. Mendiang guruku di masa lalu sempat melayangkan maklumat petuah khusus bahwa selama fisiku didelegasikan di dalam kompleks Aliansi Beladiri saat ini, aku diwajibkan untuk sebisa mungkin menghindari tindakan berjalan berkeliaran menggunakan wujud visual wajah asliku di depan publik aliansi.”
“Apakah dinilai tidak mendatangkan bahaya maut bagi rencanamu untuk membiarkan wajah aslimu terekspos di hadapan mataku barusan?”
“Tentu saja hal itu aman. Kosakata ‘sebisa mungkin’ secara bahasa murni mengandung makna taktis bahwa kau dibekali kebebasan untuk menolak mematuhi aturan tersebut di saat situasi di lapangan dideteksi menolak mumpuni untuk menyukseskannya, bukan?”
“…… silence.”
“Bagi sudut pandang batinku sendiri, status dirimu diklasifikasikan sebagai sosok tamu istimewa yang kepentingannya menolak dibatasi oleh parameter kosakata ‘sebisa mungkin’ tersebut.”
Hanya di sela-sela durasi jeda waktu yang tergolong sangat singkat tersebut baru saja, visual wajah Monster Senjata dilaporkan telah resmi mengalami transformasi mutlak berubah wujud menyalin visual wajah dari seorang pria paruh baya yang berpenampilan sangat rapi dan berwibawa.
Barulah pada detik kejadian tersebut Dong Bong-su berhasil mengunci satu buah analisis kesimpulan baru menyangkut kemampuan musuh: bahwa salah satu bagian dari delapan keahlian pusaka yang dikuasai oleh Monster Senjata secara esensial menyandang status sebagai jurus teknik penyamaran tingkat tinggi.
Monster Senjata melayangkan sesosok kedipan mata usil ke arah Dong Bong-su, baru kemudian melangkahkan kaki keluar melintasi pintu kamar sembari menggumam santai.
“Kau dipastikan telah memahami dengan sangat baik fakta medis bahwa detail kemampuan penyamaranku ini menyandang status sebagai rahasia militer yang dikunci rapat, bukan?”
“Aku memahaminya.”
“Ah, bajingan kurang ajar. Minimal peragakan sedikit gestur keterkejutan mental atau ekspresi kagum di wajahmu menyambut keahlianku baru saja. Kau secara konsisten benar-benar selalu sukses bertindak sebagai sosok pemuda yang sangat membosankan seumur hidup. Reaksi dinginmu barusan seketika memicu lubang dadaku dilingkupi rasa canggung yang luar biasa pekat murni karena telah bersusah payah menyuarakan kosakata rahasia tadi di depanmu. Sialan. Hahaha.”
Ia memang terus melontarkan kalimat keluhan menyumpahi watak membosankan Dong Bong-su sepanjang jalan, namun di saat yang sama ia juga tetap melepaskan suara tertawa gembiranya secara lantang menyapu koridor. Detail kebahagiaan batinnya tersebut secara konsisten mengabarkan kebenaran bahwa ia secara tulus menaruh rasa sayang yang besar terhadap pemuda tersebut.
Dong Bong-su murni hanya melangkahkan kakinya mengekor tepat di sepanjang jalur pergerakan fisiknya menggunakan ekspresi wajah kuyu datar tanpa emosinya yang khas, meluncur menuju ke gerbang keluar kompleks paviliun.
“Rombongan keparat sialan. Kuantitas mereka yang berhimpun memenuhi tempat ini dilaporkan sangatlah melimpah ruah hari ini.”
Apakah transformasi kosmetik yang merubah wajahnya menjadi rapi tersebut menolak bersanding dengan kesopanan bahasanya?
Intonasi penyampaian kalimat yang meluncur dari balik mulut Monster Senjata terbukti dideteksi tetap terdengar sangat kasar dan sekotor air lumpur zirah parit pertahanan sejak awal.
Tepat di saat Dong Bong-su melangkah keluar menyusul pergerakannya, persis menyelaraskan kalimat sumpah serapahnya baru saja, sesosok air bah lautan manusia dilaporkan sedang memadati area jalan koridor. Menatap ke arah ujung terluar dari koridor panjang Paviliun Kediaman Tamu saat itu, kepulan manusia tampak berjejal sangat rapat hingga memicu analisis kemustahilan bagi pendekar mana pun untuk bisa melintas berjalan membelah kerumunan.
Kepadatan ekstrem tersebut meletus murni dipicu karena hari ini secara administratif dijadwalkan sebagai hari pertama pembukaan loket pendaftaran kompetisi *Turnamen Tarung Bela Diri Pemuda di Bawah Langit*, dipadu dengan dibukanya akses pintu Gerbang Muhwa aliansi secara penuh.
“Yah, jalur perjalanan tempur di dunia ini menolak dibatasi murni hanya bersumber dari permukaan tanah pijakan saja seutuhnya.”
Monster Senjata melayangkan sapuan matanya memeriksa kondisi sekeliling sejenak, baru kemudian mendongakkan kepalanya menatap lurus ke arah langit atas. Menyaksikan gestur penengadahan kepala tersebut, Dong Bong-su dibekali kapasitas batin untuk memetakan rencana gerakan fisik apa yang bersiap ia jalankan setelah ini secara mudah.
“Persentase penguasaan teknik meringankan tubuh yang kau miliki dianalisis sudah sangat mumpuni untuk meluncurkan lompatan memanjat ke atas atap genteng paviliun ini, bukan?”
“Hal itu benar adanya.”
“Bagus, berbekal kepemilikan atas wujud fisik yang telah terlatih sekokoh itu sejak bayi, meluncurkan lompatan memanjat seperti ini dianalisis dapat kau eksekusi secara mudah murni mengandalkan kekuatan latihan fisik luar (`external cultivation`) milikmu semata seutuhnya.”
*Wusss—.*
Selesai menyuarakan kalimat analisisnya tersebut, tubuh fisik Monster Senjata secara instan langsung melenting meluncur terbang ke arah langit atas baru kemudian mendaratkan kedua belah kakinya di atas permukaan atap genteng Paviliun Kediaman Tamu secara tegak.
Dan menyusul pergerakannya tersebut.
Dong Bong-su juga tampak menghentakkan telapak kaki kanannya kencang menghantam lantai tanah baru kemudian meluncur melompat terbang menyusul jalur pergerakannya tanpa menyisakan riak keraguan sedikit pun di wajahnya.
***
**Maklumat Pengumuman Resmi bagi Seluruh Rekan Pendekar Persilatan Benua.**
*Menyusul meletusnya rentetan aksi provokasi militer berskala raksasa yang secara konstan terus diluncurkan oleh faksi Kastil Iblis Surgawi sepanjang beberapa tahun terakhir, kestabilan dunia persilatan Dataran Tengah dilaporkan merosot hancur diliputi oleh tragedi kesengsaraan hidup masyarakat sipil yang mendalam. Oleh karena bencana kemanusiaan itulah, pihak Aliansi Beladiri berkomitmen menggelar program rekrutmen terbuka guna menghimpun jajaran pendekar muda berbakat baru demi bisa dikerahkan membantai faksi iblis pembangkang yang berkeliaran di perbatasan utara benua seutuhnya.* *Bertepatan dengan tibanya perayaan astronomi **Yusu** (Rain Water, hari kelima belas setelah dimulainya awal Musim Semi), bertempat di kaki Gunung Cheongsin wilayah Zhengzhou, kami secara resmi membuka loket pendaftaran bagi gelaran kompetisi turnamen tarung bela diri massal guna menyeleksi pendekar muda berbakat (berusia tiga puluh tahun ke bawah) yang akan mengemban tugas suci memimpin peradaban persilatan di generasi mendatang. Kami menuntut keikutsertaan aktif dari seluruh jajaran bakat muda persilatan seutuhnya.*
**Hyeon-cheon, Ketua Aliansi Beladiri Ke-15.**
“Kakak seperguruan, begitu kita memosisikan raga kita berdiri bersiap di atas atap genteng paviliun ini, wujud kompleks Aliansi Beladiri seutuhnya secara nyata dapat kita saksikan terpampang jelas hanya dalam sekali sapuan mata saja.”
Mendengar baris kalimat penjelasan dari mulut **Ha Seon-hyang** baru saja, Hua Ruizhi tampak memasukkan kembali keping lencana perunggu Aliansi Beladiri yang sempat ia pegang tadi ke balik lipatan baju jubahnya. Persis menyelaraskan kalimat penuturan Ha Seon-hyang baru saja, diukur dari koordinat ketinggian atap genteng Paviliun Kediaman Tamu saat itu, visual pemandangan seisi kompleks Aliansi Beladiri tampak membentang sangat luas dan benderang menyapa sepasang pupil mata mereka seutuhnya, seolah-olah seluruh kompleks gedung dapat dengan mudah mereka genggam murni menggunakan kepalan tangan mereka semata.
Dibandingkan dengan visual sempit yang tertangkap saat raga mereka masih bersiap di bawah koridor paviliun tadi, pemandangan dari atas atap genteng ini menyajikan panorama dunia baru yang sepenuhnya berbeda bagi logikanya. Mengingat loket pendaftaran kompetisi *Turnamen Tarung Pemuda di Bawah Langit* secara resmi telah dibuka sejak pagi hari, alur jalan raya utama yang bertindak menghubungkan antara kompleks Paviliun Kediaman Tamu menuju ke arah Boulevard Utama (`Main Avenue`) dilaporkan telah sesak dipadati oleh lautan manusia sejak mula, memotong total ketersediaan sudut pandang mata dari arah bawah.
**Boulevard Utama (Main Avenue).**
Jalur jalan raya terluas ini secara konsisten selalu menyandang reputasi sebagai jalur transportasi paling bising dan paling padat di sepanjang kompleks Aliansi Beladiri seumur hidupnya. Di sela-sela kedua sisi tepi Boulevard Utama berdiri kokoh barisan gedung penting yang memikul tanggung jawab operasional aliansi menyangkut urusan luar faksi, seperti kompleks Paviliun Kediaman Tamu, Aula Anti-Iblis (`Anti-Demon Hall`), Aula Penakluk Kejahatan (`Conquering Evil Hall`), hingga Aula Sepuluh Ribu Beladiri (`Hall of Ten Thousand Martial Arts`). Agar kau dibekali akses fisik untuk bisa merapat di area aula dalam, kau secara administratif diwajibkan melintas membelah jalur Boulevard Utama ini, dan serupa dengannya di saat kau berniat melangkahkan kakimu keluar meninggalkan markas Aliansi Beladiri kelak, Boulevard Utama bertindak sebagai satu-satunya gerbang keluar bagimu. Singkatnya, Boulevard Utama diakui sebagai urat nadi transportasi paling vital di sepanjang kompleks aliansi.
Meskipun menyadari reputasi kepadatannya tergolong tinggi, tingkat kepadatan manusia yang menyelimuti Boulevard Utama hari ini didokumentasikan sebagai tingkat kepadatan paling ekstrem semenjak kolong Gerbang Muhwa resmi dibuka kekaisaran pertama kali.
“Hiiyaa~ visual keramaian Boulevard Utama saat ini benar-benar dideteksi sepenuhnya identik menyalin visual pasar tradisional kekaisaran, bukan? Apakah kepadatan gila ini meletus murni dipicu karena hari ini bertindak sebagai hari pertama pembukaan pendaftaran?”
Ha Seon-hyang menyuarakan kalimat takjubnya sembari sepasang bibir tipisnya menganga lebar karena heran. Sesuai penuturan kalimatnya baru saja, bentangan luas Boulevard Utama saat itu dilaporkan telah padat dijejali manusia hingga tidak menyisakan ruang kosong sedikit pun untuk sekadar menapakkan telapak kaki, apalagi memaksakan tubuh membelah antrean.
Di sela-sela kepadatan lautan manusia tersebut, titik area Boulevard Utama yang berada di dekat barisan enam bangunan loket pendaftaran yang bersiap berderet di sepanjang Gerbang Muhwa dilaporkan menderita kepadatan yang berkali-kali lipat jauh lebih mengerikan, di mana antrean pendekar tampak menumpuk berlapis sebanyak tiga hingga empat lapis antrean secara konstan. Kondisi di sekitar loket dideteksi sangatlah kacau dan tidak teratur, hingga memicu kepulan debu pasir jalanan membumbung tinggi menyelimuti udara meskipun saat itu Zhengzhou baru saja merintis awal musim semi yang dingin, menyulitkan mata saksi mata untuk bisa memetakan jalannya pergeseran langkah pendekar di bawah secara akurat.
Barisan enam bangunan loket pendaftaran tersebut secara esensial bertindak sebagai unit posko darurat sementara aliansi yang bertugas memproses rangkaian dokumen administrasi pendaftaran jajaran pendekar peserta kompetisi *Turnamen Tarung Pemuda di Bawah Langit*. Kerumunan pendekar yang tubuhnya tampak berjejalan rapat menyerupai tumpukan daging kering di sela bangunan loket tersebut dideteksi sebagai jajaran pendekar peserta turnamen yang sedang bersabar menanti tibanya giliran antrean mereka seutuhnya.
“Pendekar faksi Shaolin, Wudang, Aliansi Pengemis (`Beggars' Sect`)…… Keluarga Murong, Keluarga Paeng Hebei…… Sekte Naga Hitam Zhejiang, Keluarga Hwangbo Jiangxi, Sekte Pedang Hainan—eh!? Detailrajutan jubah zirah yang dikenakan pendekar di sebelah sana dideteksi sangat identik menyalin visual jubah asal wilayah Dongying (Jepang)…… eh!? Dan rombongan pendekar di dekat mereka visual fisiknya terlihat menyerupai rombongan asal Cheonggu (Korea)…… Wah—kakak seperguruan, kuantitas pendekar asing yang meluncur merapatkan pergerakan kaki mereka menuju ke kompleks aliansi hari ini dianalisis sangatlah melimpah. Meskipun isi tulisan di plang papan pengumuman Aliansi Beladiri kemarin secara tegas menyatakan hanya melayangkan undangan perang khusus bagi pendekar Dataran Tengah saja, namun mereka secara nyata tetap memaksakan fisik meluncur merapat dari berbagai belahan dunia persilatan seutuhnya, bukan?”
Jajaran master beladiri aliran lurus, pendekar sekte Tao, kawanan pengemis jalanan, hingga golongan pendekar berdarah kaya yang mengenakan jubah sutra mahal tampak berhimpun memadati jalanan, bersanding rapat di dekat rombongan pendekar asing yang mengenakan bakiak kayu yang bagian tengah solnya terbelah ganjil, pendekar dengan kuncir ikat rambut melingkar tinggi di kepala, beserta barisan pendekar luar daerah lainnya. Kompleks Aliansi Beladiri saat ini secara visual benar-benar telah bertransformasi menjelma sebagai wadah berhimpunnya seluruh faksi di bawah langit benua seutuhnya.
“Persis menyalin baris kalimat penuturanmu barusan, nominal manusia yang berhimpun memenuhi Boulevard Utama hari ini diakui berkumpul bagaikan awan raksasa di langit. Namun di balik kepadatan ekstrem ini, batin komandumu tetap mendeteksi kuantitas manusianya masih berada di bawah nominal target perkiraan awal di kepalaku.”
Hua Ruizhi menyuarakan analisisnya perlahan sembari melayangkan sedikit gelengan kepala di sela lehernya.
Ia memang menolak meluncurkan bantahan taktis menyangkut kebenaran bahwa kuantitas pendekar yang berhimpun memenuhi aliansi hari ini diakui sangatlah melimpah ruah, namun entah mengapa intonasi kepadatannya dideteksi tetap berada di bawah batas nominal target perkiraan awalnya di kepala—bahkan setelah otaknya menyisipkan variabel toleransi medis bahwa durasi waktu saat ini secara faktual masih terhitung sangat pagi.
Peristiwa digelarnya gelaran turnamen tarung bela diri massal berskala raksasa diakui telah sekian puluh tahun lamanya absen dari panggung persilatan Dataran Tengah, dipadu fakta tak terbantahkan bahwa gelaran kali ini diselenggarakan langsung di bawah wewenang Aliansi Beladiri yang saat ini menyandang kedaulatan tertinggi sebagai pemimpin dunia persilatan faksi ortodoks, detail keunggulan tersebut secara otomatis mengonversi turnamen hari ini bertransformasi sebagai peluang emas paling mentereng di sepanjang sejarah persilatan. Terlebih lagi hari ini secara administratif bertindak sebagai hari pertama pembukaan pendaftaran kompetisi.
“Nominal kepadatan gila ini kau labeli dengan sebutan sedikit?”
Suara Ha Seon-hyang terdengar melengking tinggi dibalut riak keterkejutan batin yang pekat menyikapi analisis seniornya baru saja. Ia bahkan tampak sempat menjulurkan lidah mungilnya perlahan, memamerkan gestur keheningan wajah polos cantiknya yang terlihat sangat imut.
“Benar. Ketiadaan kuantitas penonton sipil di Boulevard Utama hari ini dianalisis murni dipicu akibat meletusnya tragedi pembantaian massal oleh hantu pencabut nyawa yang meletus di sepanjang jalan raya kota Zhengzhou malam kemarin. Meskipun begitu, tragedi berdarah tersebut terbukti menolak mendatangkan riak pengaruh buruk yang mumpuni bagi kelangsungan turnamen aliansi. Sebagian besar pendekar asing yang memendam hasrat bertarung memperebutkan gelar pahlawan terpantau tetap memaksakan fisik mereka meluncur mendaftarkan diri hari ini, dan nominal manusia yang terbukti mengalami penurunan drastis murni hanya terbatas menyasar ke arah golongan penonton sipil biasa semata.”
“Oh? Maksud kalimat penjelasanmu menyasar ke arah desas-desus rumor gaib menyangkut kemunculan hantu pencabut nyawa malam kemarin? Mm! Aku mengerti sekarang!”
“Benar sekali. Itu merupakan sebaris rumor kosong yang sepenuhnya melabrak akal sehat dunia persilatan, namun khusus bagi golongan masyarakat sipil lemah yang menolak dibekali kekuatan beladiri sejati, kemunculan rumor sejenis dipastikan akan langsung dirasakan sebagai bentuk ancaman maut nyata yang sangat mengerikan di dalam kepala mereka.”
“Wah—. Jika kenyataannya memang seperti itu, seandainya kawanan penonton sipil tersebut menolak dilingkupi ketakutan maut baru kemudian memaksakan fisiknya meluncur memadati Boulevard Utama hari ini, kondisi kepadatan di bawah dipastikan akan menyajikan visual sesak napas yang membuat pendekar mati karena kehabisan oksigen, bukan?”
“Analisis dugaanmu diproyeksikan valid.”
Sembari kepalanya secara dinamis terus meluncurkan kalimat jawaban balik menyahuti pertanyaan Ha Seon-hyang, sepasang mata Hua Ruizhi terpantau secara konstan terus menyapu lekat kerumunan Boulevard Utama di bawah, seolah-olah ia sejak tadi sedang memusatkan seluruh sel otaknya mencari koordinat keberadaan sesosok pendekar tertentu.
‘Apakah ia saat ini masih belum merapatkan pergeseran kakinya menuju ke markas aliansi?’
Mungkinkah pendekar misterius tersebut sejak awal memang menolak menaruh minat bertarung untuk ikut berpartisipasi di dalam arena kompetisi *Turnamen Tarung Pemuda di Bawah Langit* kali ini? Ataukah selisih usia biologis yang melekat di tubuhnya sebenarnya telah resmi melampaui batas minimal tiga puluh tahun? Ataukah kemungkinannya murni berupa pemuda tersebut sejak awal menolak memandu langkah kakinya mengunjungi kota Zhengzhou seumur hidupnya?
‘Zhong…… Zhi……. hang.’


