**Bab 106. Pertemuan Kembali (1)**
***
Semenjak hari pertama ia dipertemukan secara fisik dengan pemuda tersebut, lubang dadanya dilaporkan menolak dibekali kemampuan untuk melupakan bayang fisiknya bahkan untuk sekejap mata sekalipun.
Kekuatan impresi pemuda tersebut secara konstan terus mengguncang ketenangan jantung di dalam dadanya hingga detik ini.
Makna biologis apa sebenarnya yang tersembunyi di balik riak getaran aneh jantungnya tersebut seumur hidup?
Murni didorong oleh adanya hasrat kuat untuk memecahkan teka-teki getaran batin itulah yang memicu dirinya rela duduk diam manis menanti kemunculan fisik pemuda tersebut di markas aliansi hari ini.
Dan oleh karena alasan kecemasan yang sama pula, ia dilingkupi kekhawatiran pekat menyikapi persentase kemungkinan bahwa pemuda tersebut sebenarnya menolak meluncur merapatkan pergerakan kakinya ke Zhengzhou sama sekali.
“Eh!? Kakak seperguruan, bukankah sosok pendekar di sebelah sana merupakan pemuda yang kita temui kemarin? Nama pendaftarannya adalah…….”
Secara mendadak, Ha Seon-hyang melepaskan teriakan kencangnya sembari baris jemari tangannya menunjuk lurus mengarah ke area kompleks aula dalam aliansi di kejauhan.
Mengingat fokus utama Hua Ruizhi sejak awal murni disibukkan untuk melacak keberadaan Zhong Zhihang, ia secara mekanis hanya memusatkan seluruh sel otaknya menyapu area sekitar loket pendaftaran dan memilih mengabaikan teriakan Ha Seon-hyang barusan.
Area gerbang aula dalam aliansi secara administratif diakui sebagai zona eksklusif yang hanya dibekali izin akses khusus bagi jajaran tamu kehormatan asal faksi Sembilan Sekte Besar, Empat Keluarga Besar Beladiri, maupun jajaran petinggi Aliansi Beladiri saja seutuhnya. Sehingga dideteksi sepenuhnya mustahil bagi sesosok pendekar gelandangan tanpa nama sekelas Zhong Zhihang untuk bisa memandu langkah kakinya keluar melintasi area steril tersebut……
“Zhong…… Zhong…… siapa nama sambungannya kemarin?”
Hah? Marga Zhong……?
“Zhong Zhihang!?”
“Ah! Benar sekali! Zhong Zhihang! Nama pendaftarannya adalah itu…… Huh? Eh? Kakak seperguruan?”
Mendengar konfirmasi nama yang disuarakan Ha Seon-hyang baru saja, Hua Ruizhi secara tergesa-gesa langsung memutar kepalanya menatap tajam ke arah area aula dalam aliansi.
Namun posisi kepala Ha Seon-hyang saat itu terpantau sedang berdiri menghalangi diameter pandangan matanya, menyulitkan dirinya untuk bisa meneliti secara jelas.
*Set!*
Hua Ruizhi secara darurat langsung menggunakan permukaan kepala Ha Seon-hyang sebagai pijakan telapak kakinya baru kemudian melentingkan tubuh fisiknya melompat tinggi terbang menyeberang menuju ke atas genteng bangunan di seberang jalurnya.
Titik koordinat atap bangunan yang ia sasari saat itu secara esensial bertindak sebagai kompleks Paviliun Kediaman Tamu khusus bagi pendekar laki-laki, namun detail partisi gender tersebut sama sekali menolak diberi ruang untuk dipedulikan oleh kepalanya.
Hua Ruizhi sepanjang sejarahnya memang menyandang reputasi sebagai sesosok gadis yang secara konstan selalu bertindak bebas sesuka hatinya bahkan di saat raganya masih mendekam di dalam markas Sekte Huashan sekalipun.
Ditopang oleh status sosialnya sebagai putri kandung dari Pemimpin Sekte Huashan sendiri seutuhnya, tidak bersisa satu pun larangan organisasi di sekte yang dibekali kekuatan hukum untuk bisa membatasi arah pergerakan fisiknya, dan watak keras kepala tersebut terbukti tetap ia peragakan secara mutlak bahkan setelah ia melangkahkan kakinya keluar bertualang di dunia luar.
Meluncur mendaratkan kaki di atas permukaan atap genteng penginapan laki-laki.
Bagi logika kepalanya, detail pelanggaran moralitas tersebut sama sekali menolak dideteksi sebagai sebuah kendala penting.
*Wusss—.*
Sesosok jurus meringankan tubuh tingkat tinggi khas Sekte Huashan bernama `[Lambaian Dedalu Lembut]` (Slender Willow Drifting) seketika dipicu aktif menyelimuti keanggunan melayang tubuhnya di udara.
Meskipun watak kepribadian Hua Ruizhi diakui sangat keras kepala, tidak teratur, dan secara konstan selalu melayangkan tatapan cibir meremehkan kemampuan pendekar di sekelilingnya, namun tingkat penguasaan ilmu bela diri yang melekat di tubuh fisiknya secara mutlak diakui sangat luar biasa tangguh hingga namanya sukses dikunci menyandang status sebagai bagian dari faksi *Lima Phoenix* (Five Phoenixes) benua.
Namun!
*Wusss!*
Sesosok tubuh fisik pendekar asing secara mendadak terpantau melesat terbang naik dari arah bawah membidik langsung ke arah koordinat melayangnya.
Bukan murni berupa satu orang pendekar saja, melainkan nominalnya tercatat sebanyak dua orang sekaligus!
Master pertama dilaporkan telah lebih dulu sukses mendaratkan telapak kakinya di atas permukaan atap genteng Paviliun Kediaman Tamu laki-laki mendahului laju pendaratannya, sedangkan master kedua secara ajaib meluncur melompat terbang ke atas secara sangat presisi tepat pada detik yang sama di saat fisiknya sedang melayang di udara.
“……!”
Pemuda tersebut dideteksi menyandang visual penampilan dengan helaian rambut poni panjang yang sangat lebat menutupi separuh wajah cantiknya.
Dampak dari letusan lompatan terbangnya ke arah langit atas tersebut secara otomatis memaksa helaian poni rambut panjangnya terkibas kasar ke arah kiri dan kanan akibat hantaman embusan angin malam yang kencang.
Melalui celah kibasan rambut halus itulah, fokus sepasang matanya secara mutlak berpasangan tatap dengan sepasang bola mata Hua Ruizhi secara langsung di udara.
Fokus matanya membidik ke bawah, sedangkan fokus mata pemuda tersebut membidik lurus ke arah langit atas.
Sepasang matanya yang memancarkan aura ketakpedulian yang pekat namun memendam tingkat kemantapan batin yang menolak digoyahkan tersebut terpantau tumbuh menyajikan visual yang berkali-kali lapis semakin besar di depan matanya seiring bergesernya koordinat tubuh mereka yang merapat kencang.
“Ah!”
Hua Ruizhi saat itu dilaporkan telah memicu total keaktifan jurus meringankan tubuh *Slender Willow Drifting* di udara seutuhnya, memotong habis kapasitas biologis tubuhnya untuk bisa memutar arah pinggang fisiknya ke arah alternatif lain, maupun meluncurkan gerakan melenting balik mengarah ke Paviliun Kediaman Tamu wanita koordinat tempat Ha Seon-hyang bersiap.
Kemustahilan manuver udara tersebut dideteksi sebagai jenis kemustahilan fisik yang bahkan menolak sanggup diselesaikan oleh ayah kandungnya sendiri seutuhnya—sang Pemimpin Sekte Huashan.
Jika akselerasi laju gerakan mereka menolak dihentikan, ia secara mutlak diproyeksikan akan langsung menabrak hancur tubuh pemuda asing di depannya dalam hitungan detik!
Namun, tepat pada detik krusial tersebut bergulir.
Pemuda dengan sepasang mata kosong tanpa emosi tersebut secara ajaib mengulurkan sebelah tangannya keluar tepat pada detik waktu yang sangat presisi baru kemudian menangkap lembut tubuh melayangnya masuk ke dalam dekapannya seutuhnya.
Tingkat penguasaan jurus tangkapannya dideteksi sangatlah luar biasa ajaib, menyatu secara sempurna menyelaraskan alur momentum keaktifan jurus meringankan tubuh miliknya tanpa menyisakan riak penolakan fisik sedikit pun—tidak, melainkan jurusnya murni seolah-olah melebur basah menyatu dengannya.
Pada kondisi normal biasa, benturan antara luapan gaya dorong lompatan atas milik pemuda tersebut berpasangan dengan gaya dorong jurus *Slender Willow Drifting* miliknya secara sistematis dipastikan akan langsung meledakkan kecelakaan tabrakan fisik yang fatal di udara……
Namun pemuda gila di depannya terbukti mampu menangkap keanggunan tubuh melayangnya layaknya selembar daun dedalu lembut tanpa menyisakan keraguan sedikit pun di tangannya, baru kemudian memandu laju pendaratan mereka menyelaraskan momentum hening tersebut tanpa sedikit pun bertindak melawan arah arus energinya, melanjutkan kelangsungan jurus meringankan tubuhnya sendiri seutuhnya.
Apakah detail kehalusan jurus meringankan tubuh pemuda tersebut murni hanya merupakan wujud dari halusinasi mental di kepala Hua Ruizhi saja saat merasakan jurusnya terasa sangat identik dengan teknik *Slender Willow Drifting* milik sektenya?
*Wusss—! Tap.*
“Fuuuh—. Kau secara konstan memang selalu sukses menyajikan riak keterkejutan batin bagi mataku. Bahkan setelah tubuhmu dipaksa berbenturan langsung dengan jurus *Slender Willow Drifting* barusan, hanya dalam hitungan sepersekian detik yang sangat singkat kau secara ajaib dibekali kemampuan untuk berimprovisasi menyalin total momentum jurus tersebut seutuhnya. Kekeke. Menyandang kepemilikan atas bakat bertarung sekolosal itu namun bersikeras merelakan fisismu tidur terlantar bekerja sebagai tentara bayaran murahan. Benar-benar sebuah pemborosan bakat yang sangat menyedihkan seumur hidup.”
Pria paruh baya yang telah lebih dulu mendaratkan kakinya di atas genteng paviliun melayangkan baris kalimat cibiran tersebut tertuju ke arah pemuda yang saat itu masih mendekap erat tubuh Hua Ruizhi.
Master paruh baya tersebut, secara sangat mencengangkan, terbukti langsung dibekali kemampuan taktis untuk mengenali identitas jurus meringankan tubuh milik Sekte Huashan sebagai jurus *Slender Willow Drifting* hanya dalam sekali sapuan mata saja.
Serta objek yang berkali-kali lipat jauh lebih mengejutkan bagi logikanya adalah—
‘Apakah pemuda di depanku ini secara nyata baru saja sukses meniru total esensi jurus *Slender Willow Drifting* sekteku?’
Ia memang menolak dibekali dasar pembuktian yang valid untuk menguncinya secara mutlak saat ini, namun mengingat baris kesaksian tersebut meluncur langsung dari balik mulut seorang master puncak yang dibekali kemampuan membaca jurus *Slender Willow Drifting* hanya dalam sekali lihat, logikanya dipaksa untuk menyetujui kebenaran kalimat tersebut seutuhnya.
Bahkan di sela-sela guncangan mental yang sedang menyelimuti dadanya saat itu, Hua Ruizhi memutar kepalanya mendongak menatap lekat ke arah wajah pemuda yang mendekapnya menggunakan sepasang mata yang dipenuhi rasa penasaran yang pekat.
Helaian poni rambut panjang pemuda tersebut terpantau telah kembali merosot turun menutup dahi, memotong kembali akses matanya untuk bisa meneliti keindahan sepasang mata kosongnya seperti tadi.
Pemuda gila ini secara visual diakui menyandang wujud wajah yang tergolong sangat tampan, dipadu dengan kepemilikan atas sesosok sorot mata yang sangat unik bagi jiwanya.
Tanpa sempat disadari oleh logikanya sendiri, ia secara konstan terus mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah pemuda tersebut dalam durasi waktu yang tergolong cukup lama.
Persis menyalin reaksi batinnya saat ia pertama kali dipertemukan dengan wujud Zhong Zhihang belum lama ini.
“Kekeke. Tampaknya gadis muda di dalam dekapanmu itu telah menaruh ketertarikan batin yang sangat padat terhadap ketampanan wajahmu. Lihatlah, ia bahkan menolak memisahkan jemari tangannya dari tubuhmu seutuhnya.”
“……A-Ampun!”
Sesaat setelah selesai mencerna gema kalimat godaan dari mulut master paruh baya tersebut, barulah Hua Ruizhi tersadar dari lamunannya bahwa fisiknya saat itu sedang dalam kondisi didekap erat di dalam pelukan seorang pemuda asing seutuhnya.
Ia secara tergesa-gesa langsung melepaskan kuncian lengannya melompat mundur.
*Gubrak.*
“Aduh!”
Tampaknya pemuda tersebut secara gerilya memang telah lebih dulu melepaskan topangan telapak tangannya dari arah punggungnya sejak mula, memicu wujud fisiknya yang kehilangan topangan langsung ambruk tak berdaya mendaratkan bagian bokongnya menghantam kerasnya permukaan atap genteng tanah liat secara memalukan.
Pemuda tersebut murni hanya melayangkan sekali lirikkan mata dingin menatap fisiknya yang jatuh terduduk di atas genteng, baru kemudian memandu pergerakan langkah kakinya berjalan santai merapat ke arah koordinat berdirinya master paruh baya.
“Hei, bajingan kecil. Apakah tindakan kasar tersebut pantas kau peragakan menyambut kelembutan fisik dari seorang gadis cantik?”
“Ia sendiri yang memilih melepaskan topangannya.”
“Ck ck ck. Watak pria jahat yang sangat tipikal seutuhnya. Jenis pria dingin yang sepanjang sejarah hidupnya diproyeksikan dipaksa menolak dibekali peluang untuk sekadar menggenggam erat telapak tangan seorang gadis secara layak. Hei, gadis muda di sebelah sana.”
“……Ya-Ya?”
Tanpa sempat disadari oleh logikanya, Hua Ruizhi melayangkan jawaban verbalnya secara asal-asalan dibalut kebingungan mental.
Letusan situasi aneh yang menggelitik di atas genteng ini diakui terlampau konyol hingga memaksa otaknya hanya mampu merespons menggunakan nada suara linglung semata.
Dirinya sendiri bahkan menolak mengetahui alasan ilmiah apa yang melatarbelakangi kekacauan batinnya saat itu.
Kemungkinan besar hal tersebut meletus murni disebabkan sepanjang sejarah hidupnya mendekam di markas Sekte Huashan, menolak bersisa satu pun pendekar persilatan yang dibekali keberanian gila untuk melontarkan kosakata kasar maupun bersikap tidak sopan di hadapan wajah cantiknya seumur hidup.
“Aku berkomitmen melayangkan permohonan maaf ke hadapanmu bertindak mewakili perangai buruk bajingan kecil ini. Pemuda gila ini sepanjang hidupnya murni hanya disibukkan tinggal di wilayah utara benua yang liar dan berbau amis besi karat, sehingga otaknya menolak dibekali penyimpanan memori menyangkut aturan sopan santun dunia persilatan. Mohon luaskan sumur toleransi batinmu memaafkannya, gadis cantik.”
“……Ah, baik. Baik…….”
Ia melayangkan jawaban verbalnya secara samar baru kemudian kembali mengarahkan sepasang matanya menatap tajam ke arah pemuda tersebut.
Namun pemuda gila tersebut terpantau telah memutar arah pandangan matanya menjauh dari tubuhnya, memusatkan fokus penglihatan matanya menatap tajam ke arah kejauhan bawah, mengincar jalur Boulevard Utama.
Tanpa sempat disadari oleh logikanya kembali, ia ikut menggeser arah pandangan matanya menyalin koordinat bidikan mata pemuda tersebut seutuhnya.
Barulah pada detik itu ia secara mendadak tersadar kembali menyangkut motif taktis apa sebenarnya yang memicu fisiknya memaksakan diri melompat menyeberang ke atas genteng laki-laki ini sejak awal.
‘Zhong Zhihang!’
Fokus tatapan mata pemuda tersebut saat ini secara nyata sedang membidik langsung ke arah wujud Zhong Zhihang.
Secara geografis, memosisikan raga meluncur menyeberang dari arah atap genteng paviliun wanita merapat ke kompleks Paviliun Kediaman Tamu pria terbukti menyajikan sudut pandang yang berkali-kali lipat jauh lebih mumpuni untuk menangkap wibawa kuat Zhong Zhihang yang melangkah lincah di bawah secara benderang.
Dan.
‘Ataukah dugaanku meleset? Apakah bidikan sepasang matanya secara faktual sedang menatap tajam ke arah wanita cantik di dekatnya?’
Tepat di sela-sela jalur pergerakan fisik Zhong Zhihang saat itu, sesosok wanita cantik yang keindahan visual fisiknya sepenuhnya mustahil untuk bisa dideskripsikan menggunakan goresan tinta kuas manusia biasa terpantau sedang melangkah kaki beriringan secara sangat anggun bersamanya.
Mengingat helaian poni rambut panjang pemuda di dekatnya saat itu terpantau kembali menutup separuh wajahnya, Hua Ruizhi menolak dibekali celah pembuktian untuk menebak apakah mata pemuda tersebut sedang membidik ke arah Zhong Zhihang, mengincar leher wanita cantik di dekatnya, ataukah secara bersamaan merekam gerak-gerik keduanya seutuhnya.
‘Namun apakah visual di bawah benar-benar diklasifikasikan sebagai golongan manusia sejati? Ataukah ia murni merupakan sesosok peri khayangan yang meluncur turun ke bumi?’
Sosok wanita yang melangkahkan kakinya beriringan di dekat tubuh Zhong Zhihang saat itu dideteksi terlampau cantik.
Tidak, melabeli keindahan wujud visual fisiknya murni bersandar pada penggunaan kosakata "cantik" dianalisis sepenuhnya menolak mumpuni untuk mewakili kemolekan fisiknya seutuhnya.
Pancaran sepasang alis melengkung indah bagaikan luasnya bentangan langit malam yang bersih, lekukan batang hidung lurus halus seolah-olah dirakit secara khusus memanfaatkan sentuhan tangan master pemahat terbaik di sepanjang peradaban kekaisaran, sepasang bibir mungil dengan kepekatan warna merah ceri yang dilarutkan ke dalam air jernih, bentuk rahang wajah yang menolak dirancang terlalu membulat maupun terlalu tajam menyajikan visual simetris yang sangat sempurna dan terdefinisi kokoh, helaian rambut panjang hitam berkilau dipadu kehalusan kulit wajah merona merah muda, disusul keanggunan leher panjang rampingnya yang bertumpu di atas keindahan lekuk tubuh fisiknya yang sangat mempesona.
Ia secara visual merupakan sesosok wanita yang terlahir sangat sempurna seutuhnya, terlampau cantik hingga memicu lahirnya dugaan taktis bahwa fisiknya menolak diklasifikasikan sebagai bagian dari makhluk hidup penghuni dunia fana biasa.
Visual kulit wajah Hua Ruizhi secara mendadak terpantau merona merah panas seketika.
Fakta medis bahwa wujud fisik sekelas dirinya selama ini secara publik kerap diagung-agungkan menyandang gelar kehormatan sebagai *Wanita Tercantik Pertama di Provinsi Shaanxi* seketika dirasakan sangatlah hina dan compang-camping di dalam kepalanya saat ini.
Bahkan riak rasa bangga yang sempat bersemayam di dalam dadanya menyikapi gelar kehormatan tersebut dirasakan sangatlah memalukan hingga memicu lahirnya rasa ingin mati saja karena malu.
Keanggunan postur fisiknya saat melangkah lincah dibalut kibasan kain sutra tipis berwarna biru pucat di bawah sana.
Bukankah visual gerakannya secara harfiah murni menyalin visual peri khayangan sejati?
Sesosok luka goresan mental yang tipis seketika tercetak menghantam batin Hua Ruizhi seutuhnya.
Murni hanya bersandar dari hasil sekali perjumpaan visual mata semata…….
“Wow—. Persis menyalin pakem dugaan umum sejak dulu, begitu ragamu memaksakan kaki meluncur memasuki wilayah Dataran Tengah, maka standar kualitas kecantikan gadis di tempat ini secara otomatis dipastikan menyajikan level yang sepenuhnya berbeda, bukan? Bajingan kecil. Apakah sepasang sel otakmu dibekali data informasi untuk mengenali siapa sebenarnya esensi identitas asli gadis muda di bawah sana?”
Mendengar baris pertanyaan yang diajukan master paruh baya di dekatnya baru saja, pemuda di dekatnya melayangkan sapuan mata cepat menatap ke bawah selama sepersekian detik, baru kemudian secara lamban membuka mulutnya bersuara.
“Aku mengenalnya. Sangat mengetahuinya.”
Sembari menyuarakan kalimat konfirmasinya tersebut, pemuda tersebut mengangkat sebelah telapak tangannya ke atas baru kemudian menyingkap sedikit helaian poni rambut panjangnya ke arah samping secara halus.
Ia, Dong Bong-su, dibekali penyimpanan memori taktis untuk mengenali esensi identitas asli dari sosok wanita cantik tersebut—tidak, lebih tepatnya sosok pendekar laki-laki yang sedang memicu jurus penyamaran menyamar menjadi wujud wanita cantik tersebut—jauh lebih baik dibandingkan dengan siapa pun pendekar yang bersiap berdiri di atas genteng paviliun ini seutuhnya.
**Namgung Hye.**
`[Do Heo-ok.]`
***
**Peri Dunia Persilatan (Martial Fairy).**
Sebuah istilah kehormatan yang digunakan khusus untuk merujuk pada peri penunggu dunia persilatan seutuhnya.
Istilah tersebut memang terdengar sangat sederhana di telinga masyarakat awam, namun secara esensial ia memendam jutaan kepingan makna taktis yang sangat mendalam bagi dunia persilatan.
Di sepanjang wilayah Dataran Tengah, merupakan sebuah pakem kebiasaan umum bagi pendekar untuk mendeskripsikan keindahan wujud visual wanita tercantik di suatu daerah menggunakan gelar sejenis *Wanita Tercantik Pertama di Kota X*.
Namun malapetaka takdir seperti apa yang bersiap meletus jika plang nama daerah tersebut secara resmi dicoret oleh benua baru kemudian digantikan menggunakan susunan kosakata dunia persilatan, yang esensinya mewakili kedaulatan dari seluruh penjuru luasnya dunia persilatan Jianghu secara mutlak?
Terlebih lagi, seandainya penggunaan kosakata *Wanita Tercantik Pertama* secara resmi dihapus dari plang gelar baru kemudian dikonversi menyandang sebutan sebagai *Peri sejati* seutuhnya?
Sosok wanita yang tidak hanya memuncaki parameter keindahan visual tercantik di dunia persilatan saja, melainkan dibekali kepemilikan atas tingkat bakat beladiri yang tergolong sangat luar biasa mengerikan di bawah langit benua.
Sesosok wanita yang tercatat paling cantik di dunia persilatan dipadu dengan kepemilikan atas bakat tempur yang tergolong kolosal di generasinya.
Detail parameter itulah yang paling tepat untuk mendefinisikan esensi dari gelar *Peri Dunia Persilatan*.
Ditinjau dari sela sudut pandang kesombongan, itu memang diakui sebagai sebaris gelar kehormatan yang terkesan sangat angkuh dan menantang maut, namun di sepanjang sejarah dunia persilatan masa lalu tercatat eksis beberapa orang pendekar wanita tangguh yang secara sah diakui oleh benua sukses menyandang gelar tersebut seutuhnya.
Hingga kemudian, seiring dengan merosot drastisnya intensitas aktivitas tempur jajaran pendekar wanita di dunia persilatan sepanjang kurun waktu seratus tahun terakhir, eksistensi dari gelar peri tersebut secara perlahan dilaporkan telah lenyap tak berbekas ditelan sejarah benua.
Namun baru-baru ini, sesosok pendekar wanita muda yang secara sah diakui berhasil mewarisi kembali kedaulatan gelar legendaris tersebut akhirnya resmi menampakkan wujud fisiknya di panggung persilatan.
**Namgung Hye.**
Tepat pada malam menjelang upacara pernikahannya digelar di masa lalu, ditopang oleh meletusnya aksi penyergapan dadakan berskala raksasa yang diluncurkan secara berserikat oleh faksi Kastil Iblis Surgawi bekerja sama dengan organisasi pembajak *Delapan Belas Benteng Air Sungai Yangtze*, seluruh kompleks kediaman keluarganya dilaporkan telah disapu bersih hancur lebur dalam kurun waktu satu malam semata, memotong habis sisa nyawa dari calon suaminya tercinta beserta merenggut nyawa seluruh kepingan anggota keluarganya tanpa sisa.
Sesosok wanita malang yang secara nyata dipaksa memikul seluruh beban tragedi kemalangan nasib dunia di atas pundak fisiknya seorang diri.
Secara alami.
Kejadian ini memang sudah sangat sesuai dengan pakem dugaan umum, namun pada masa-masa awal tragedi meletus, tidak satu pun pendekar di dunia persilatan yang memendam asumsi taktis bahwa gadis malang tersebut secara tersembunyi memendam wibawa tangguh sekelas itu di dalam tubuh fisiknya seutuhnya.
Kemungkinan besar.
Ia sejak awal memang telah terlahir dibekali oleh bakat bertarung yang tergolong sangat luar biasa kolosal sejak bayi.
Namun riak keaktifan bakat tempur aslinya dilaporkan secara konstan selalu tertimbun redup di balik nama besar serta kemegahan pengaruh politik yang dimiliki oleh faksi keluarganya di masa lalu, menghalangi matanya untuk terekspos ke dunia luar.
Sebelum tragedi berdarah *Bencana Pembantaian Massal Provinsi Anhui* meletus menghancurkan keluarganya seutuhnya, potret informasi yang bersiap di kepalaku menyangkut Namgung Hye murni hanya terbatas menggambarkan fisiknya sebagai sosok wanita tercantik di seantero Provinsi Anhui semata, atau sebatas menyandang status sebagai putri kedua yang berwatak lemah lembut dan anggun asuhan Pemimpin Keluarga Namgung seutuhnya.
Murni hanya terbatas pada detail informasi sepele itu saja.
Oleh karena latar belakang kehampaan prestasi tempur itulah, di saat ia secara resmi mendeklarasikan sumpah suci untuk melunasi dendam kesumat keluarganya dan melangkahkan kakinya merapat mengajukan diri bertindak sebagai bagian dari salah satu lengan kekuatan Aliansi Beladiri.
*Atas dasar kemampuan apa sebenarnya kau dibekali keberanian mengajukan diri bertarung di baris depan aliansi.*
*Meskipun kami bersedia mempercayai klaim bahwa kau secara ajaib telah berhasil mewarisi penyimpanan energi sejati dantian milik mendiang master **Do Heo-ok**, namun bagaimana mungkin fisik seorang wanita lemah dibekali kapasitas biologis untuk bisa menguasai teknik `[Golok Petir]` (Thunder Blade), sebuah teknik beladiri beraliran extreme yang murni mengandalkan penyaluran hawa murni extreme yang pekat seutuhnya.*
*Target apa yang bersiap kau capai di sela pertempuran maut aliansi murni hanya bermodalkan keindahan visual wajah cantikmu semata, dan rentetan cibiran sejenis lainnya.*
Mayoritas pendekar persilatan secara kompak terus menyuarakan kalimat penolakan berniat menghalangi langkahnya atau murni meluncurkan kalimat ejekan meremehkan tekadnya sepanjang jalan.
Tidak bersisa satu pun pendekar yang memendam target perkiraan positif menyikapi kontribusi tempur aslinya kelak.
Meskipun begitu,
Namgung Hye terbukti secara mutlak sukses menghancurkan berkeping-keping seluruh target perkiraan sepele dunia persilatan tersebut menggunakan cara pertarungan yang sama sekali menolak disimpulkan sebagai cara pertarungan yang sepele.


