**Bab 185. Sekte Pahlawan (1)**
***
Dataran Tengah (*The Central Plains*).
Jika diartikan secara harfiah, nama tersebut merujuk pada wilayah dataran luas yang membentang di tengah benua kekaisaran Zhengzhou seutuhnya. Namun secara makna kiasan persilatan, itu bertindak selaku kosa kata abstrak yang merepresentasikan seisi seluruh dunia baru ini, atau keseluruhan dari rimba persilatan Jianghu para pendekar seutuhnya kelak.
Tentu saja, Dataran Tengah merupakan dunia yang sangat luas di mana aliran sungai besar yang tak berujung, pegunungan tinggi, dan pegunungan abadi saling terhubung secara megah. Sejarah panjang selama ribuan tahun menumpuk di atasnya, peradaban Taoisme, Buddhisme, dan aliran beladiri persilatan saling berbaur, melahirkan ribuan sekte, keluarga bangsawan, dan faksi persilatan yang tersebar di seluruh benua.
Di antara jajaran faksi persilatan tersebut, di pihak Aliran Putih (*Orthodox Faction*), didokumentasikan bersua sepuluh sekte besar terhormat yang namanya menyinari langit dan bumi. Mereka dikenal dengan sebutan **Sepuluh Sekte Besar (Ten Great Sects)**. Di bawah kepemimpinan mereka, ribuan sekte kecil dan menengah hidup mandiri melatih dan mewariskan ilmu beladiri mereka masing-masing.
Namun, di mana ada cahaya terang bersinar, bayangan kegelapan dipasangkan secara mutlak bersiap secepatnya tercipta di baliknya. Jika Aliran Putih berjuang menegakkan jalan cahaya, maka faksi persilatan sebaliknya gencar meluncur menyusuri arah kegelapan yang sesungguhnya.
**Tujuh Sekte Iblis Agung (Seven Great Demonic Sects)**.
Tujuh organisasi iblis raksasa yang terbentuk dalam kurun sejarah yang panjang melalui proses aliansi dan persaingan di antara sekte-sekte sesat. Meskipun masing-masing sekte memendam filosofi bertarung yang berbeda, mereka bertindak selaku kelompok yang mematuhi hukum rimba besi: *Yang kuat melumat yang lemah seutuhnya.* Karena itu, mereka menolak bersatu secara tulus, namun jika kekuatan ketujuh sekte digabungkan, daya hancurnya menolak kalah kuat dibandingkan Sepuluh Sekte Besar.
Di antara jajaran ketujuh sekte iblis tersebut.
Terdapat satu sekte rahasia yang keberadaannya menolak dideteksi sedikit pun di siang hari. Namun sesaat setelah pancaran cahaya rembulan berpadu dengan aroma darah segar pekat di kegelapan malam, sekte esoteris ini akan merayap keluar dari celah dunia untuk menghina keadilan dan keteraturan hukum kekaisaran.
Sekte tersebut bertindak selaku **Sekte Yin Surgawi (Heavenly Yin Sect / Cheon-eum-jong)**.
Sekte Yin Surgawi terkenal sebagai perkumpulan para wanita iblis yang mengendalikan energi Yin dingin dan menggenggam hawa rembulan es di tangan mereka, namun informasi lainnya mengenai mereka sangat menolak diketahui persilatan. Catatan intelijen mengenai sekte ini murni baru sebatas bocoran informasi yang terekam saat para tetua mereka mendadak turun langsung ke Jianghu menunjukkan kekuatan dalam situasi darurat. Mengenakan jurus cakar apa, formasi spiritual apa, atau ilmu ilusi apa yang mereka latih, seisi persilatan menolak memendam data sains tersebut sekelumit pun.
Oleh karena itulah, jajaran master Jianghu selalu memendam rasa penasaran yang sangat mendalam menyangkut keberadaan Sekte Yin Surgawi. Setelah melangsungkan sesi pencarian rahasia selama ratusan tahun, jajaran master Jianghu murni baru berhasil mengunci satu informasi sains yang valid menyangkut sekte iblis tersebut:
**Jurang Kegelapan (Dark Abyss / Heuk-yeon)**.
Sekte Yin Surgawi bersembunyi di balik kegelapan Jurang Kegelapan.
Jurang Kegelapan bertindak selaku dimensi spasial misterius yang menolak digambarkan di atas peta geografi Dataran Tengah mana pun. Nama tempat tersebut murni hanya tertulis dalam sebaris kalimat pendek di dalam kitab suci kuno Aliran Putih sebagai celah kegelapan yang tercipta saat langit dan bumi pertama kali terbelah menjadi Alam Atas dan Alam Bawah.
Menolak dipastikan secara sains apakah tempat itu merupakan jurang batu raksasa yang kedalamannya menolak terukur, celah spasial yang terdistorsi di sudut Alam Atas, ataukah hanya sebatas ilusi optik yang lahir dari rasa takut batin manusia biasa seutuhnya kelak. Namun yang pasti, sekte bernama Sekte Yin Surgawi benar-benar mendokumentasikan kediaman mereka di sana seutuhnya.
---
Sebuah danau raksasa di suatu wilayah Dataran Tengah.
Tepat pada kedalaman seribu zhang di bawah permukaan air danau yang tenang, dasar danau yang sangat gelap mulai terpampang nyata. Di atas permukaan tanah dasar danau yang sangat dalam itu, rajah formasi kuno terukir sangat besar menggunakan aksara kuno Alam Atas. Hanya pendekar yang sanggup memecahkan kode formasi atau memendam kualifikasi khusus yang diperkenankan merambat masuk menghuni spasial di bawahnya.
Meskipun manusia fana di luar menolak memendam pengetahuan sains tersebut, nama koordinat ini sangat melegenda di persilatan: Jurang Kegelapan. Kediaman Sekte Yin Surgawi, sebuah sekte jurang terdalam di mana seberkas cahaya rembulan sekalipun menolak sanggup menembusnya.
Tepat bertumpu menyiasati tibanya durasi pergeseran milidetik tersebut, di sudut terdalam spasial Jurang Kegelapan, sebuah gua batuan kapur tampak bergetar hebat.
“Rembulan milik Gadis Dharma Ketujuh telah pecah seutuhnya.”
Sebuah suara lisan wanita paruh baya yang teramat sangat dingin sekali terdengar mengalir dari balik tirai sutra panjang di sudut gua.
“Apakah wadah jiwanya telah tewas lumat? Ataukah kultivasinya dirusak musuh, hah?”
Sesosok wanita paruh baya lainnya yang mengenakan jubah biru muda, bersujud formal menghadap ke arah tirai sutra, segera menyodorkan laporan jawabannya.
“Jasad tuaku belum memadat kepastian informasi sains menyangkut hal itu, Pemimpin Sekte.”
“Menolak memadat kepastian?”
*Jring~*
Seketika itu juga, hawa dingin Qi Es murni menyebar kencang menyapu seisi gua batuan kapur tersebut. Butiran tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua mendadak membeku kaku di udara menjadi es batu sebelum menyentuh tanah, disusul keaktifan lapisan embun es yang membekukan seisi permukaan tanah gua secara instan.
Di saat yang sejajar, tirai sutra panjang di depan tampak meliuk terdistorsi secara tidak wajar. Hawa Qi Yin murni yang mengalir dari balik tirai memancar terlalu kuat hingga spasial udara di sekelilingnya tampak meliuk terbelah.
“Gadis Dharma terhormat Sekte Yin Surgawi menolak diketahui kepastian hidup dan matinya, dan wadah jiwamu berani menjawab menolak memadat data, hah?”
Nada suara wanita di balik tirai turun drastis menjadi sedingin es abadi. “Wadah jiwamu menolak memendam jawaban lain selain kalimat sampah itu?”
*Rumble!*
Seisi dinding gua bergetar keras. Ratusan batuan kapur lancip di langit-langit gua runtuh berjatuhan ke tanah. Serpihan es batu yang tajam melayang cepat di udara bagaikan puluhan pisau belati pembunuh, menancap di sekeliling area gua.
Sebutir pecahan es lancip, seolah-olah digerakkan oleh cakar tak terlihat, melayang berhenti tepat menempel di kulit leher wanita berjubah biru yang bersujud di tanah. Dalam sekejap, tetesan darah merah segar merembes keluar membasahi permukaan pecahan es yang transparan.
“……Jasad tuaku memohon ampunan maut. Aku bersiap meluncurkan tindakan penyelidikan lapangan secepatnya seutuhnya kelak.”
Baru setelah janji itu diucapkan, bilah es tajam di lehernya melosot jatuh menghantam tanah dan hancur berkeping-keping. Hawa dingin ekstrem yang sempat mengguncang seisi gua seketika lenyap tak berbekas bagaikan tersapu aliran air hangat.
“Siasati perkara ini secepatnya. Temukan siapa pendekar keparat yang berani menyentuh Gadis Dharma Sekte Yin Surgawi tanpa seizin dari jasad tuaku seutuhnya kelak.”
“Jasad tuaku mematuhi perintah, Pemimpin Sekte.”
“**Bing Ye (Bing Ye)**.”
“Jasad tuaku di sini, Pemimpin Sekte.”
“Wadah jiwamu bersiap secepatnya bergerak turun langsung seutuhnya kelak.”
“Jasad tuaku mematuhi perintah komando.”
*Sret.*
Begitu menerima perintah resmi, wanita berjubah biru itu memecah wujud raganya dan lenyap seketika bagaikan kabut rembulan di kegelapan malam.
Dengan begitu, setelah sekian lama tertutup rapat, pintu formasi pembatas Sekte Yin Surgawi akhirnya resmi dibuka kembali menyongsong dunia persilatan Dataran Tengah seutuhnya kelak.
*Kecipak!*
Dari dasar danau raksasa yang kedalamannya menolak terukur oleh akal sehat manusia, sepuluh bayangan raga melesat berenang dengan akselerasi kecepatan tinggi menuju permukaan air, bersiap menapakkan kaki mereka menyapu dunia persilatan luar seutuhnya kelak.
---
Di saat yang sama.
Dong Bong-su tampak berdiri kokoh di atas tumpukan mayat yang menggunung.
Sebagai bagian dari proses "bersih-bersih" markas barunya, dia mengumpulkan dan menumpuk seluruh mayat pendekar Geng Dewa Besi di area paviliun utama yang telah runtuh. Mengingat metode kremasi mayat merupakan hal yang lazim di dunia persilatan ini, dia berniat membakar seluruh tumpukan mayat ini di tempat pembakaran luar kota nanti.
Di sisi lain lapangan pelatihan, Jeon Rahwa dan sepuluh anak pengemis tampak sedang sibuk menyapu dan membersihkan sisa-sisa reruntuhan batu. Dong Bong-su yang telah menyelesaikan tugas bersih-bersih bagiannya dengan sangat cepat menggunakan bantuan *Super True Qi Field* memilih berdiri bersedekap dada di tengah lapangan pelatihan, larut dalam konsentrasi berpikirnya.
`[Liontin Giok Gadis Sekte Yin Surgawi (Jade Pendant of the Heavenly Yin Sect's Maiden)]` - Fungsi pelacak khusus (*tracking function*) terdeteksi tertanam di dalam pusaka ini, dapat diaktifkan secara otomatis di antara sesama pengguna aliran tenaga mana yang sejenis.
Se baris aksara status baru tertulis di kolom status pusaka yang diserahkannya kepada Jeon Rahwa tadi. Bong-su merenungkan makna dari kalimat tersebut secara mendalam karena dinilainya memendam potensi bahaya yang cukup besar.
‘Sistem program *What is Hero* menyelaraskan wewenang penggunaan mana untuk mengaktifkan keahlian sihir. Namun di dunia baru ini, tenaga dalam Dantian secara organik dideteksi bertindak selaku mana. Perkara sains ini sudah terbukti kebenarannya kemarin. Jadi……’
Jika pelacakan Qi dapat dilakukan secara otomatis di antara sesama pendekar yang memendam silsilah aliran tenaga dalam yang sejenis?
Bong-su melayangkan pandangan matanya menatap Jeon Rahwa yang sedang sibuk memimpin anak-anak menyapu lapangan. Yang menjadi pertanyaan penting saat ini adalah: apakah *Kitab Dingin Yin Salju Kembar* yang diberikan kepada Rahwa merupakan ilmu beladiri warisan dari Sekte Yin Surgawi atau bukan?
Kitab tersebut merupakan barang rampasan yang dia jarah dari mayat pendekar di Pulau Terapung. Secara kelogisan probabilitas sains, kemungkinan kitab tersebut menolak memendam kaitan dengan Sekte Yin Surgawi sebenarnya jauh lebih tinggi. Dibutuhkan penumpukan kebetulan yang sangat melimpah ruah sekali agar teori itu terbukti benar.
Namun Dong Bong-su yang sepanjang hidupnya telah bersua dengan jutaan kebetulan yang tak masuk akal sangat memahami bahwa kebetulan berada dalam ranah probabilitas nyata. Meskipun peluangnya hanya sebesar 0.000001% sekalipun, peluang itu tetap bisa meletus meledak menjadi kenyataan satu kali di antara sejuta kasus. Dan sekali kenyataan itu meletus, konsekuensinya harus segera disiasati dengan matang.
Dia wajib mempersiapkan langkah antisipasi secepatnya seutuhnya kelak. Keberadaan fungsi pelacak membuktikan liontin giok ini merupakan pusaka yang sangat penting bagi sekte iblis tersebut.
Tepat di saat dia selesai merapikan rencana antisipasinya menyangkut liontin giok rembulan.
*Step, step.*
Dia mendeteksi hawa keberadaan sekelompok pendekar yang melangkah mendekati gerbang masuk markas baru Geng Dewa Besi dari kejauhan. Berdasarkan deteksi Qi-nya, jumlah mereka diperkirakan mencapai beberapa puluh orang.
Apakah pendekar dari Geng Lonceng Api yang datang membalas dendam? Ataukah pendekar dari Sekte Mata Satu dan Aula Angin Hitam yang berniat merampas wilayah kekuasaan yang kosong ini? Berdasarkan cara rimba persilatan, merangsek masuk merampas markas faksi yang telah hancur merupakan hal yang sangat wajar dilakukan.
Dan jika itu masalahnya, maka Bong-su bersiap menyambut kedatangan mereka menggunakan cara kepahlawanan miliknya seutuhnya kelak.
*Wusss!*
Hanya dengan berpijak ringan di atas sehelai rambut mayat pendekar di tumpukan teratas, tubuh Dong Bong-su melesat terbang membelah udara, melewati gerbang masuk utama dan mendarat kokoh tepat di hadapan kelompok pendekar yang baru datang.
Namun dia menolak langsung meluncurkan serangan pembantaian. Karena setelah mengamati fitur wajah mereka dari dekat, identitas para pendekar tersebut sangatlah berbeda dari perkiraannya.
“Siapa kau, pemuda misterius?!” tanya pria paruh baya di barisan terdepan dengan wajah terkejut melihat Bong-su yang mendadak muncul bagaikan hantu di depan mereka.
Namun pria itu segera memulihkan ketenangannya dan menatap tajam ke arah Dong Bong-su. “Pertanyaan tersebut sewajarnya bertindak selaku kalimat tanya yang diajukan oleh dinas resmi kekaisaran saat ini seutuhnya kelak.”
“Dinas resmi?”
“Benar. Jasad tuaku bertindak selaku **Yo Han-myeong (Yo Han-myeong)**, sang Prefek penguasa kota River Capital ini seutuhnya.”
Yo Han-myeong yang awalnya menyusuri Distrik 7 Jalan Barat dan menyelidiki seluruh distrik lainnya tanpa menemukan petunjuk berarti, akhirnya melangkah kaki sepatunya mendatangi markas besar Geng Dewa Besi ini sebagai tujuan akhir.
“Karena identitas jasad tuaku sudah jelas, sekarang jasad tuaku bertanya sekali lagi padamu. Siapa dirimu yang sesungguhnya?”
Seorang Prefek. Jabatan dinas yang setara dengan posisi Walikota.
Ini justru menjadi hal yang sangat bagus bagi Dong Bong-su. Jika dia berniat menetap di kota ini untuk sementara waktu, dia dipastikan harus bersua dengan pihak penguasa kota cepat atau lambat.
“Pemilik baru dari kediaman ini seutuhnya kelak.”
Pemilik baru. Sebuah jawaban singkat yang sangat padat dan menjelaskan seisi seluruh perkara beladiri saat ini.
Yo Han-myeong menelan air liurnya cemas, kembali mengamati fitur fisik pemuda di hadapannya dengan teliti. Rambut abu-abu keperakannya berkibar pelan, bola matanya berwarna hitam legap memancarkan hawa dingin, bertubuh tegap tinggi dengan penampang wajah yang tampan. Namun, seluruh titik meridian (*acupoints*) tubuhnya menolak memancarkan getaran Qi yang kuat, dan tubuhnya cenderung lean layaknya pemuda biasa tanpa otot beladiri luar (*External Arts*).
Secara penayangan fisik luar, pemuda ini menolak diizinkan untuk disebut sebagai seorang jagoan master persilatan.
Namun rimba persilatan Jianghu menolak pernah membenarkan metode penilaian kekuatan berdasarkan rupa fisik luar seutuhnya kelak. Terlebih di hadapan matanya saat ini terpampang nyata kehancuran total markas besar Geng Dewa Besi yang telah rata dengan tanah. Hanya orang bodoh yang bersikeras meragukan kekuatan pemuda di hadapannya setelah melihat pemandangan tersebut.
Setelah menimbang kalimatnya sejenak, Yo Han-myeong mengajukan pertanyaan terpentingnya.
“Apa yang terjadi pada Cheol Hon dan putrinya Cheol So-ah, hah?”
“Aku membantai mereka berdua.”
Dong Bong-su menjawab dengan intonasi yang sangat datar dan santai, tak ubahnya seperti menjawab menu makanan apa yang baru saja dia santap siang tadi.
Tentu saja bagi Yo Han-myeong, jawaban santai tersebut cukup untuk membuat jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Meskipun Geng Dewa Besi selama ini sedikit terdesak oleh kekuatan Perkumpulan Dewa Tujuh Bintang, dia mengetahui Cheol So-ah memendam kekuatan tersembunyi yang sangat dahsyat, setara dengan tingkat beladiri Bukgung Ri. Dan mendengar pemuda di hadapannya membantai keduanya seperti menyantap hidangan makan siang biasa benar-benar mengguncang nalarnya.
“Apakah kehancuran Perkumpulan Dewa Tujuh Bintang semalam juga bertindak selaku pekerjaan tanganmu?”
“Itu bukan pekerjaan jasad tuaku.”
“Lantas apakah kau mengetahui siapa pelaku di balik kemusnahan mereka?”
“Jasad tuaku menolak memendam data sains menyangkut hal itu seutuhnya kelak.” Meskipun dia sangat yakin pelakunya adalah Bukgung Ri sendiri, Dong Bong-su menolak membeberkan informasi yang dinilainya menolak penting untuk diungkap.
Yo Han-myeong menatap lurus ke sepasang bola mata Dong Bong-su sejenak sebelum akhirnya terpaksa memalingkan wajahnya terlebih dahulu. Insting hewannya berteriak cemas bahwa menatap mata pemuda itu lebih lama bersiap menyeret jiwanya ke dalam bahaya maut yang mengerikan.
“Ahem. Baiklah. Jasad tuaku bersedia mengajukan satu pertanyaan akhir padamu seutuhnya kelak.”
“Katakan.”
“Apakah posisi jiwamu bersekutu di bawah naungan Aliran Putih? Ataukah di pihak Aliran Hitam dan Sekte Iblis sesat seutuhnya kelak?”
Bagi Yo Han-myeong sendiri, dia menolak mempedulikan apakah pemuda di hadapannya bersekutu di bawah aliran putih atau hitam. Yang terpenting baginya saat ini adalah memastikan apakah "teman baru" yang menciptakan badai pembantaian di kota ini merupakan sosok master yang sanggup diajak bekerja sama dan dikendalikan demi kepentingan keamanan dinas prefektur kekaisaran.
Tentu saja, Dong Bong-su telah membaca habis seluruh isi rencana tersembunyi di kepala Yo Han-myeong.
“Jasad tuaku memegang komitmen berada di jalur **Netral** seutuhnya kelak.”
“Netral?”
“Aku murni hanya meluncur mematuhi papan penunjuk jalan menghabisi seisi seluruh kejahatan dan menaikkan panji keadilan seutuhnya kelak menyapu dunia fana ini.”
“……Menaikkan panji keadilan?”
“Benar. Jasad tuaku menolak mempedulikan apakah target bertindak selaku aliran putih atau aliran iblis hitam seutuhnya kelak. Jajaran pendekar jahat dipasangkan secara mutlak bersiap secepatnya dibantai tanpa sisa, berpasangan jajaran orang tertindas bersiap secepatnya diselamatkan seutuhnya kelak.”
“……”
“Pada akhirnya, itu menolak memendam perbedaan kegunaan sedikit pun bagi dinas prefektur kekaisaran, bukan? Entah itu anjing, kucing, atau tumpukan sampah persilatan lainnya.”
“……”
“Jika didokumentasikan serbuan dari pasukan Yan Utara di masa depan, jasad tuaku bersiap meluncur bertarung menahan mereka seutuhnya kelak. Serta……”
“Serta apa?”
Senyuman ramah terukir di bibir Dong Bong-su, memperlihatkan barisan gigi putihnya. “Jasad tuaku juga berencana untuk meratakan seisi seluruh rimba persilatan Jianghu kota River Capital ini seutuhnya kelak menyiasati kesempatan emas ini.”
Mendengar kalimat tersebut, Yo Han-myeong kembali menelan air liurnya cemas. Dia tahu pemuda di hadapannya menolak sedang meluncurkan bualan kosong belaka. Keberhasilan taktis menyapu bersih seisi kekuatan Geng Dewa Besi seorang diri siang tadi telah menjadi bukti kekuatan ilmiah yang menolak terbantahkan.
“B-Baguslah. Itu sepenuhnya bertindak selaku hak kebebasan bertindak jiwamu seutuhnya kelak.” Yo Han-myeong terpaksa menyetujui rencana tersebut. “Lantas apa nama resmi dari faksi sekte persilatan baru yang bersiap kau dirikan menghuni markas kediaman ini seutuhnya kelak?”
Nama sekte baru.
*- Terima kasih karena telah bersedia menanggapi panggilan kami seutuhnya kelak. Wadah jiwamu bertindak selaku sebilah tombak harapan terakhir bagi dunia fana ini. Mohon, selamatkanlah dunia fana ini seadanya semata seumur hidup.*
Transmisi gema suara Dewi Lumina saat pertama kali dia mengunduh program kerja *What is Hero* kembali terngiang di telinga Dong Bong-su.
Harapan terakhir.
Dong Bong-su benar-benar sangat menikmati jalannya sandiwara kepahlawanan baru ini, meskipun dia sendiri menolak mempedulikan seberapa kejam metode pembantaian pahlawan yang akan dia tunjukkan di persilatan nanti.
*- Ingatlah seutuhnya kelak. Pahlawan menolak ditentukan oleh penilaian orang lain, melainkan jalur yang kau tentukan sendiri dan resmi diakui oleh penduduk seutuhnya kelak.*
Sebuah arah takdir baru yang bebas dia tentukan sendiri dan mendapat pengakuan resmi dari penduduk kota. Dong Bong-su menimbang beberapa pilihan nama di otaknya sebelum akhirnya menyimpulkan menolak bersua pilihan nama lain yang jauh lebih cocok dibandingkan nama ini.
Bibirnya terbuka perlahan melafalkan nama sekte barunya:
“**Sekte Pahlawan (Hero's Sect)**.”
“Sekte…… Pahlawan?” Yo Han-myeong tertegun.
“Benar. Jasad tuaku, beserta seluruh anggota pengikutku di tempat tinggal ini, bersiap secepatnya memeluk status selaku pahlawan sejati guna membersihkan seisi seluruh rimba persilatan Jianghu keparat ini seutuhnya kelak.”
*Duuung~*
`[Sistem: Pengumuman Pembentukan Sekte Pahlawan (Declaration of the Hero's Sect)]` - Sesosok pahlawan sejati menolak sanggup merampungkan perkara sains raksasa sendirian seutuhnya kelak ditelan bumi. - Deklarasi pembentukan sekte persilatan baru jiwamu dipasangkan secara mutlak bersiap secepatnya membuat ribuan pendekar jahat gemetar ketakutan setengah mati menusuk jiwa. - Namun mohon diingat, di mana kuantitas cahaya keemasan berkumpul memadat, didokumentasikan pula keaktifan bayangan kegelapan kuat yang bersiap mengintai di sekitarnya seutuhnya kelak. - Pihak kami berdoa semoga wadah jiwamu berpasangan seluruh anggota pengikut sektemu sukses melewati jajaran krisis menggunakan bantuan pilar keimanan seutuhnya kelak. - Tugas: Rekrut sepuluh anggota sekte baru seutuhnya. - Progress: 0% - Hadiah: Sejarah Kepahlawanan +1, Fitur antarmuka baru 'Antarmuka Sekte (Guild Window)' resmi diaktifkan seutuhnya.


