**Bab 186. Sekte Pahlawan (2)**
***
Keluarga Yo merupakan jajaran pejabat tingkat menengah kekaisaran yang telah mengabdi secara turun-temurun selama tiga generasi di bawah Kementerian Pertahanan di Ibukota Nakdo.
Ayah Yo Han-myeong, Yo Jinsan, sempat menduduki jabatan penting sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Namun belasan tahun lalu, ia tersapu bersih oleh pembersihan politik akibat salah mengambil kubu pilihan di tengah konflik perebutan tahta kekaisaran. Sebagai konsekuensi, seluruh keluarga Yo runtuh dalam kehancuran. Satu-satunya pengampunan dinasti yang diperoleh adalah penghindaran dari hukuman mati seluruh klan dan hukuman menjadi budak kekaisaran.
Sebagai gantinya, seluruh pejabat dari keluarga Yo, termasuk Yo Han-myeong, diasingkan menuju wilayah perbatasan terluar kekaisaran. Begitulah kronologis awal mengapa Yo Han-myeong berakhir menjabat sebagai Prefek di kota perbatasan River Capital ini.
Posisi Prefek di River Capital bertindak selaku posisi di mana keberhasilan merapikan kota hanyalah standar kelayakan minimum, sedangkan kegagalan kecil sekalipun bersiap menyeret lehernya ke tiang gantungan. Dalam skenario terburuk, sisa klan Yo yang masih hidup bisa dieksekusi tanpa ampun. Meskipun menyandang gelar Prefek secara administratif, realitasnya dia tidak lebih dari seekor lalat buah tak berdaya yang bisa mati dipukul kapan saja.
**Yo Han-myeong si Lalat Buah (Yo Han-myeong the Fruit Fly)**.
Itu bertindak selaku nama julukan hinaan yang biasa disematkan oleh jajaran bangsawan Ibukota padanya di masa lalu.
---
*Cklek.*
Yo Han-myeong melangkah kembali menghuni ruang kerjanya di Kantor Prefektur River Capital. Dia menutup pintu rapat-rapat dan merebahkan tubuhnya di atas kursi kayu.
‘Sekte Pahlawan……’
Seorang pahlawan.
Dia sangat jarang mendengar kosa kata pahlawan pengelana di tengah peradaban Jianghu yang kejam saat ini, terlebih pembentukan sebuah sekte bernama Sekte Pahlawan. Apakah kosa kata romantis sejenis itu masih memendam hak kelayakan hidup di dalam Kekaisaran Yue Raya saat ini, terlebih di dunia rimba persilatan?
“Hmm.”
Yo Han-myeong menyandarkan kepalanya ke belakang kursi, memanggil ingatan visual kejadian di markas Geng Dewa Besi tadi:
*- Siapa…… tidak, apa nama resmi faksi sekte yang bersiap kau dirikan menghuni markas kediaman ini seutuhnya kelak?* *- Sekte Pahlawan.* *- Sekte…… Pahlawan?* *- Benar. Jasad tuaku, beserta seluruh anggota pengikutku di tempat tinggal ini, bersiap secepatnya memeluk status selaku pahlawan sejati guna membersihkan seisi seluruh rimba persilatan Jianghu keparat ini seutuhnya kelak.* *- Apa…… maksud dari pembersihan tersebut?* *- Sesuai makna harfiahnya.* *- ……* *- Pembersihan total.*
---
‘Merapikan seisi kota.’
Rimba persilatan Jianghu di kota River Capital ini.
Yo Han-myeong telah menghabiskan waktu selama sepuluh tahun lebih memimpin kota ini. Selama itu pula, dia murni hanya melangsungkan sesi kontrol keamanan menggunakan metode penyeimbangan kekuatan rimba antara Geng Dewa Besi, Perkumpulan Dewa Tujuh Bintang, dan faksi kecil lainnya. Melakukan tindakan lebih dari itu berada di luar batas kemampuan pasukannya, dan itu sudah bertindak selaku adat kebiasaan Prefektur selama ratusan tahun sejarah kota.
Dalam kondisi normal, keteraturan rimba itu dipasangkan secara mutlak bersiap secepatnya berlanjut hingga ratusan tahun ke depan seandainya jika variabel asing bernama Kim Rae-won dan Sekte Pahlawannya menolak mendadak meletus menyapu kota.
‘Geng Dewa Besi dan Perkumpulan Dewa Tujuh Bintang telah musnah tanpa sisa……’
Menilai dari sudut pandang administrasi kekaisaran, kejadian ini bertindak selaku kelalaian tugas yang sangat fatal yang bersiap melenyapkan nyawa Yo Han-myeong jika dilaporkan ke Ibukota tanpa adanya solusi penyelesaian. Namun, parameter terpenting yang menuntut perhatiannya adalah:
“Sekte Pahlawan.”
Fakta ilmiah menyatakan jasad master bernama Kim Rae-won tersebut memilih menetap di kota River Capital, memimpin pembentukan Sekte Pahlawan.
Jalur netral seutuhnya kelak.
Menaikkan panji keadilan.
Membendung serbuan musuh asing.
Seandainya jika seisi perkataannya terbukti benar, bukankah hasil akhirnya justru mendatangkan keuntungan yang sangat masif bagi kelangsungan hidupnya? Menegakkan keteraturan hukum baru yang menolak sanggup dicapai oleh ratusan Prefek pendahulunya, tepat di bawah masa jabatannya saat ini. Hal tersebut bertindak selaku pencapaian sains raksasa yang bersiap menyeret silsilah keluarga Yo merangkak naik kembali menuju Ibukota.
‘Untuk saat ini, jasad tuaku bersiap meluangkan mata memantau apa yang akan ditunjukkan oleh teman baru kita seutuhnya kelak.’
Bukgung Ri menyebut pemuda misterius itu sebagai "teman baru" di River Capital. Apakah dia akan bertindak sebagai teman yang menguntungkan ataukah pembawa petaka di masa depan, semuanya menolak dipastikan saat ini.
Yang pasti, takdir hidup Yo Han-myeong saat ini berada sepenuhnya di bawah kendali langkah kaki Kim Rae-won dan perkembangan Sekte Pahlawannya.
“Apakah didokumentasikan prajurit di luar?” panggil Yo Han-myeong tegap.
Ajudan militer segera melangkah masuk menghadap. “Ya, Tuan Prefek.”
Perintah resmi Prefek segera dikeluarkan saat itu juga:
“Mulai milidetik ini, seluruh aparat dinas prefektur River Capital resmi diperintahkan memejamkan mata menolak ikut campur atas seluruh aktivitas pembersihan yang dilakukan oleh Sekte Pahlawan.”
“Maksud Anda……?”
“Sesuai makna kalimatku. Kita bersiap menyodorkan seluruh bantuan moral dan logistik yang menolak dilarang demi membantu Sekte Pahlawan menegakkan keteraturan hukum baru di kota ini seutuhnya kelak.”
“Namun tindakan itu melanggar prinsip non-intervensi antara pemerintah dan persilatan, Tuan Prefek.”
“Tidak.” Yo Han-myeong bangkit berdiri dari kursi kerjanya, melangkah menuju jendela menatap ke arah Jalan Barat—koordinat di mana markas Geng Dewa Besi yang telah runtuh kini sedang mengalami pembangunan kembali sebagai Sekte Pahlawan. “Sekte Pahlawan memelihara jalur netral, serupa dengan posisi netralitas dinas pemerintah kita. Memilih jalur netral bertindak selaku keharmonisan yang sejajar. Tindakan ini menolak merusak prinsip non-intervensi, melainkan penulisan prinsip hukum baru kekaisaran: penyatuan pemerintah dan persilatan.”
“Namun Pemerintah Pusat Ibukota menolak bersedia memaklumi tindakan sepihak selevel itu.”
Yo Han-myeong membalikkan tubuhnya menatap tajam ajudannya. “Memangnya apa yang bersiap dilakukan Ibukota jika menolak memaklumi hal ini, hah?”
“……”
“Pemerintah Pusat Ibukota menolak mempedulikan urusan konyol di perbatasan ini. Mengirimkan tambahan master beladiri dan pasukan militer ke perbatasan River Capital justru bertindak selaku perkara yang teramat sangat menolak dimaafkan oleh anggaran kekaisaran saat ini.”
“……”
“Selama kita sanggup mengamankan pertahanan perbatasan tanpa menuntut tambahan biaya militer dan tanpa menjatuhkan korban prajurit kekaisaran, mereka bersiap menyetujui apapun metode yang kita terapkan di lapangan.”
“Tapi……”
“Terlebih lagi, menolak didokumentasikan alasan bagi Ibukota untuk menolak penegakan hukum baru melalui tindakan kepahlawanan. Apakah wadah jiwamu memahaminya seutuhnya kelak?”
“……Jasad tuaku memahami instruksi Anda. Saya bersiap melaksanakannya segera.” Ajudan itu membungkuk patuh dan melangkah keluar dari ruangan.
Yo Han-myeong kembali menatap ke kejauhan ke arah markas Sekte Pahlawan, bergumam pelan. “Jasad tuaku sudah merampungkan seluruh kapasitas kemampuanku.”
Wajah dingin tanpa emosi dari Kim Rae-won kembali melintas di otaknya, berpasangan kilatan giginya yang putih menyilaukan saat pemuda itu tersenyum ramah.
“Pahlawan yang memilih jalur netral.”
Jalur netral, sebuah istilah yang terdengar manis di permukaan karena seolah-olah bebas bergerak ke kiri atau ke kanan sesuai kebutuhan. Namun di tengah kejamnya rimba persilatan Jianghu, realitasnya justru bertolak belakang. Faksi Aliran Putih maupun Aliran Iblis selalu memendam hasrat menyeretmu berlutut di bawah pengaruh kekuasaan mereka, menolak membiarkan keberadaan kekuatan asing berdiri tegak memantau dari tengah.
Memilih jalur netral tanpa disokong oleh kapasitas kekuatan tempur yang memadai sama saja dengan memesan tiket bunuh diri. Tentu saja, keberhasilan taktis pemuda itu menyapu bersih seluruh isi Geng Dewa Besi dalam sehari telah membuktikan bahwa dia memendam kekuatan tempur yang sangat mengerikan.
Apakah dia benar-benar sanggup mengibarkan panji keadilan di kota River Capital yang terkutuk ini? Yo Han-myeong menolak memadat jawaban ilmiahnya, namun untuk saat ini, dia terpaksa menaruh seluruh harapannya di pundak Kim Rae-won.
---
Sesaat setelah Prefek Yo Han-myeong pergi meninggalkan markas.
Dong Bong-su segera bergerak cepat merintis fondasi pembangunan Sekte Pahlawan. Memeriksa kolom *Antarmuka Anggota Keluarga* dan *Antarmuka Sekte* serta melacak perkembangan sepuluh pengikut barunya memang penting, namun ada urusan lain yang jauh lebih mendesak untuk dirampungkan terlebih dahulu.
Dia membiarkan Jeon Rahwa dan sepuluh anak pengemis tetap melanjutkan tugas menyapu di area markas. Lagipula, menolak didokumentasikan tugas beladiri lain yang sanggup diemban oleh jajaran fisik lemah mereka saat ini.
Prioritas tugas yang harus segera diselesaikan: 1. **Perbaikan & Renovasi**: Bong-su melangkah keluar menuju Distrik 7 Jalan Barat. Menggunakan jasa pedagang yang dia selamatkan sebelumnya, dia menyewa puluhan pekerja konstruksi dalam jumlah maksimal untuk dikirim memperbaiki gerbang dan bangunan markas baru Sekte Pahlawan. Urusan biaya menolak bertindak selaku masalah karena dia telah menjarah seisi peti harta Geng Dewa Besi, Pulau Terapung, serta jarahan bandit kemarin. 2. **Kremasi Mayat**: Bong-su menanyakan koordinat tempat kremasi resmi kepada pedagang tadi. Karena instruksi dari Prefek Yo Han-myeong sudah sampai lebih dulu, dinas kremasi langsung bersikap sangat kooperatif, mengirimkan gerobak untuk mengangkut tumpukan mayat dari markas Sekte Pahlawan untuk dibakar di luar kota. 3. **Pembersihan Jalanan (Sweeping)**: Meskipun Rahwa, anak-anak, dan pekerja konstruksi sedang sibuk merapikan markas, Bong-su bersiap melangsungkan sesi "pembersihan" dalam kategori sains yang sepenuhnya berbeda.
Pembersihan. *Cheong* untuk bersih, *so* untuk sapu.
Kota River Capital saat ini dipenuhi oleh kekacauan liar yang menuntut untuk disapu bersih seutuhnya. Sesi pembersihan selevel ini menolak membutuhkan sapu ijuk biasa, melainkan genggaman gagang pedang hitam pembunuh seutuhnya. Dan sebagai eksekutor pembersihan, Dong Bong-su bergerak meluncur tanpa jeda sedetik pun.
---
Di saat naga dan harimau sedang bertarung memperebutkan satu wilayah pegunungan, segalanya bersiap berjalan seimbang. Namun jika naga dan harimau itu mendadak lenyap secara bersamaan dari gunung, maka jajaran elang dan kelelawar liar yang sebelumnya tunduk ketakutan bersiap meletus merajalela merampas wilayah kekuasaan sesuka hati mereka. Begitulah hukum dasar dari keteraturan rimba persilatan.
Menolak memanfaatkan peluang emas di saat naga dan harimau telah tewas membuktikan bahwa kau menolak bertindak selaku monster sejati. Dan di kota sekacau River Capital, dipanggil sebagai monster bukanlah hal yang buruk.
**Jo Jung-heon (Jo Jung-heon)**, Ketua **Geng Lonceng Api (Fire Bell Gang)**, saat ini sedang bergerak secara senyap memimpin dua puluh pendekar elit kepercayaannya melompati atap-atap gedung di Jalan Barat. Di bawah penindasan Geng Dewa Besi selama belasan tahun, mereka terpaksa menahan diri. Namun kini, faksi yang memiliki pengaruh lebih besar dari mereka di Jalan Barat hanya menyisakan Sekte Mata Satu dan Aula Angin Hitam saja.
‘Hari ini, jasad tuaku bersiap melumat pertahanan kedua faksi tersebut sekaligus seutuhnya kelak.’
Saat ini, kedua faksi tersebut sedang sibuk mengerahkan seluruh pasukannya merampas bisnis peninggalan Geng Dewa Besi di sepanjang jalan komersial, membuat pertahanan markas pusat mereka berada dalam kondisi yang sangat lemah. Berdasarkan laporan intelijen dari mata-matanya, markas Sekte Mata Satu saat ini hanya menyisakan dua puluh persen kekuatan penjaga, bahkan ketuanya sedang berada di luar markas.
Jika menolak bergerak meluncurkan serangan malam ini, mereka menolak bersiap mendapatkan peluang emas sejenis ini kembali seumur hidup.
*Tap! Tap! Tap!*
Meskipun langkah kaki mereka menimbulkan sedikit suara gesekan di atas genting, menolak didokumentasikan pendekar lain yang menyadari pergerakan mereka karena mereka bergerak melintasi udara atas atap bangunan. Jo Jung-heon memimpin dua puluh pendekar elit bertopi merah. Meskipun jumlahnya sedikit, mereka bertindak selaku pilar kekuatan inti Geng Lonceng Api, menyumbang hampir setengah dari kekuatan tempur faksi mereka.
Meskipun Bo Geonhwi menolak kunjung bergabung tepat waktu di titik kumpul, hal itu menolak dinilai mengurangi daya hancur formasi mereka secara signifikan.
‘Malam ini, Sekte Mata Satu bersiap dihapus seutuhnya dari peta kekuatan River Capital.’
Di sepanjang rute perjalanan mereka melompati atap, suara jeritan histeris dari bentrokan senjata antara Aula Angin Hitam, Sekte Mata Satu, dan faksi lainnya terus terdengar bersahut-sahutan di sepanjang Jalan Barat.
*Kekeke……*
Tawa kegembiraan lolos dari bibir Jo Jung-heon. Ini bertindak selaku pesta perebutan wilayah termegah selama ratusan tahun terakhir di kota. Melodi jeritan maut yang berkumandang di sepanjang jalan bertindak selaku penyemangat bertarung yang sangat memuaskan bagi jiwanya.
Alunan musik kematian itu menolak kunjung terhenti mengiringi langkah kaki mereka hingga akhirnya tiba di dekat markas Sekte Mata Satu.
Namun tepat di saat itu……


