Murim Psychopath

Chapter 189

3357 Kata

**Bab 189. Sekte Pahlawan (5)**

***

Namaku Hoae.

Itu adalah nama panggilan yang diberikan ayahku saat pertama kali menjual diriku kepada sekelompok pria menyeramkan di masa lalu, jadi nama itu pasti benar.

Benar, bukan?

Oh, benar juga. Saat ini didokumentasikan satu aksara nama tambahan yang disematkan di depan nama panggilanku.

Kim. Paman itu yang mengatakannya secara langsung.

*- Mulai hari ini, nama resmi wadah jiwamu bertindak selaku Kim Hoae seutuhnya kelak.*

Kim Rae-won.

Jasad tuaku pertama kali melihat pemuda itu tiga bulan yang lalu……

Distrik 6 Jalan Barat. Koordinat lokasi di mana diriku pertama kali terjual sebagai budak. Aku memendam melimpah ruah sekali ingatan buruk ketimbang ingatan indah di tempat kotor itu. Namun toh, di tempat itu pula aku dipertemukan dengan sembilan adik kecilku, jadi kurasa hasil akhirnya dinilai memuaskan seutuhnya kelak.

Ho, Uk, Yuyeon, Wi, Soran, Jiho, Roe, Jomi, Seon.

Sebenarnya didokumentasikan jajaran kakak laki-laki dan perempuan lainnya di ruang bawah tanah kemarin, namun jasad mereka lenyap satu per satu hingga murni menyisakan kami bersepuluh saja di akhir. Jajaran bandit yang membeli dan mengunci fisik kami di ruang bawah tanah terus meluncurkan siksaan tanpa henti setiap hari. Namun toh, siksaan itu masih berada di bawah batas ketahanan fisik jasad kami. Buktinya jasad kami menolak mati terbunuh hingga akhir, jadi itu membuktikan segalanya masih sanggup tertahan, bukan?

Jasad kami murni hanya bersikeras menjaga keaktifan napas hidup agar menolak menemui ajal.

Hingga pada suatu hari, Kim Rae-won…… pemuda yang namanya menolak kami ketahui saat itu, mendadak meletus menapakkan kaki sepatunya di sana.

*Wusss-wusss!*

Sesuatu yang menyerupai lesatan anak panah tajam menyembur otomatis dari balik ujung jari jemari tangannya. Dalam sekali kedipan mata saja, dia melumat habis seisi seluruh bandit kejam yang menyiksa kami. Setelah membantai mereka semua, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia memutus tali kekang rantai besi kami dan membiarkan kami melangkah bebas sebelum menghilang bagaikan hantu.

Mendadak memeluk status merdeka membuat jasad kami kebingungan setengah mati menyiasati langkah kaki. Urusan yang sanggup kami lakukan hanyalah merayap mengais tumpukan sampah jalanan atau mencari jatah sisa makanan busuk demi menyambung keaktifan napas hidup sehari-hari……

Apakah langit kekaisaran memutuskan meluncurkan uluran bantuan pada kami seutuhnya kelak? Menyalin wujud mukjizat sains yang nyata:

*- Anak-anak, berapa jumlah total anggota kelompok jasad kalian seutuhnya kelak, hah?* *- Sepuluh orang. Jasad kami baru saja bersua dengan Bibi Jeon seutuhnya.* *- Kalau begitu, merapatlah melangkah pergi bersama jasad tuaku seutuhnya kelak.*

Seandainya jika jasad kami bersikeras diam di tempat saja kemarin siang, kami dipasang secepatnya mati kelaparan ditelan tanah. Karena itu, kami memutuskan mematuhi ajakan Bibi Jeon melangkah pergi.

Namun di sepanjang rute perjalanan, kami dipertemukan kembali dengan pemuda pembantai tadi.

Kim Rae-won.

Ternyata Bibi Jeon dan Paman Rae-won mendokumentasikan kediaman mereka secara bersama-sama seutuhnya kelak. Toh, di kemudian hari aku sempat meluncurkan pertanyaan lisan pada Bibi Jeon: *Mengapa Bibi bersedia menampung budak kotor penyakitan selevel kami seutuhnya kelak, hah?* Dan Bibi menjawab bahwa itu bertindak selaku instruksi lisan dari Paman Rae-won sendiri.

*- Paman Rae-won bilang, memendam nominal jumlah anggota keluarga yang melimpah ruah selalu mendatangkan keuntungan sains yang memuaskan bagi jiwanya seutuhnya kelak.* *- Apakah yang dimaksud dengan jajaran anggota keluarga itu, Bibi?* *- Keluarga seutuhnya kelak.* *- Apakah keluarga itu?* *- Ah, benar juga. Wadah jiwamu menolak memadat wawasan sains itu karena tumbuh besar di ruang bawah tanah kotor. Keluarga bertindak selaku……* *- Ya. Apakah keluarga itu sebenarnya?* *- Jajaran pendekar manusia fana yang melangsungkan sesi makan bersama seutuhnya kelak.* *- ……Orang-orang yang makan bersama?* *- Benar. Dalam kosa kata persilatan biasa, mereka dipanggil sebagai keluarga seutuhnya.*

Meskipun otak kecilku menolak memahami penjelasannya secara ilmiah, aku sanggup merasakan kehangatan batin dari makna kata tersebut.

Keluarga.

*Hehe.*

Aku memutuskan untuk meluncurkan kapasitas kerja fisik sekeras mungkin senilai jatah menu makanan hangat yang diberikan padaku setiap hari agar terus diperkenankan bertindak selaku anggota keluarga ini. Aku bersumpah di dalam batin: jika aku diberi makan satu kali, aku bekerja senilai satu porsi makanan. Dua kali makan, bekerja dua porsi. Tiga kali makan, bekerja tiga porsi seutuhnya kelak.

Toh.

Kami mengikuti langkah kaki Paman Rae-won dan Bibi Jeon berpindah menghuni sebuah kompleks kediaman yang teramat sangat luas sekali seutuhnya kelak. Itulah momen pertama kalinya aku memadat wawasan sains baru: bahwa seisi kediaman persilatan ternyata diperkenankan memendam nama gelar kehormatan tersendiri.

**Sekte Pahlawan (Hero's Sect)**.

Toh, setibanya kami pertama kali di markas Sekte Pahlawan kemarin siang, pemandangan di sana terhitung teramat sangat mengerikan sekali menyapu jiwa. Tumpukan mayat pendekar menggunung tinggi menyalin bukit batu di mana-mana. Aroma uap darah merah segar menyengat hidung sangat pekat sekali.

Uk dan Seon bahkan menolak berhenti menangis ketakutan setengah mati melihat pemandangan tersebut. Aku sendiri memendam hasrat ingin menangis kencang, namun kupaksa batin jiwaku menahannya erat-erat. Karena aku bertindak selaku kakak perempuan tertua di antara mereka. Aku wajib memelihara ketabahan batin seutuhnya kelak.

Namun Paman Rae-won tampak sangat tenang sekali.

*- Merapatlah mengikuti langkah kaki Nona manis di sebelah sana guna melangsungkan sesi pembersihan mayat seutuhnya kelak. Jika tugas itu rampung, seisi seluruh masalah bersiap secepatnya dirapikan seutuhnya kelak ditelan lantai.*

Hanya kalimat itu saja yang meluncur dari bibirnya, sebelum dia mendadak lenyap melesat pergi entah ke mana. Bibi Jeon menghela napas panjang dan memeluk tubuh kami lembut menenangkan batin.

*- Ya, ya. Kalimat paman gila itu memendam kebenaran sains seutuhnya. Segalanya bersiap secepatnya menjadi bersih dan rapi seutuhnya kelak.*

Dan ucapan Bibi terbukti benar. Keesokan harinya, puluhan pekerja pria paruh baya datang mengangkut seluruh gunung mayat tersebut keluar markas. Setelah mereka pergi, jajaran tukang kayu datang merenovasi tiang-tiang bangunan. Hari berikutnya, orang lain datang mengecat dinding pembatas dan menyapu lantai lapangan hingga mengkilap.

Setelah satu bulan lamanya proses renovasi berjalan, markas kami resmi berubah wujud menjadi dimensi spasial yang sepenuhnya baru seutuhnya.

Tepat bertumpu menyiasati tibanya musim hujan semi pertama kali, langit-langit atap kamar kediaman Sekte Pahlawan menolak meneteskan kebocoran air setetes pun ke lantai seutuhnya kelak.

*- Firasat jasad tuaku merasa tempat ini akhirnya resmi bertindak selaku rumah tinggal yang layak huni seutuhnya kelak. Benar begitu, anak-anak?* Bibi Jeon berucap senang.

Kami bersepuluh menolak sanggup mempercayai wawasan visual mata kami sendiri. Reruntuhan markas Geng Dewa Besi yang sebelumnya hancur lebur kini telah bersalin rupa menjadi paviliun-paviliun megah yang mirip dengan kediaman istana gubernur kekaisaran. Meskipun pembangunannya menolak rampung 100% dan masih menyisakan beberapa pekerja konstruksi di sudut lapangan, hal itu menolak menjadi masalah. Bagi budak scrawny selevel kami, tempat tinggal seluas ini sudah menolak ada bedanya dengan istana surga kekaisaran. Dan istana surga ini bertindak selaku rumah tinggal kami sendiri seutuhnya kelak? Sungguh menakjubkan sekali!

Toh, setelah kediaman kami mulai terbentuk rapi, silsilah aktivitas harian kami bersepuluh menjadi sangat padat sekali. Setiap pagi hari pada Jam Kelinci (sekitar pukul 5 pagi), kami bangun menyapu halaman, menyantap makanan hangat, lalu merapikan kamar masing-masing. Begitu urusan kebersihan selesai, Bibi Jeon mengumpulkan kami semua di aula tengah guna melangsungkan sesi belajar menulis dan membaca aksara kekaisaran.

Kami memulai pelajaran menggunakan *Kitab Seribu Aksara (Thousand Character Classic)*. Kepala kecilku murni baru sanggup menghafal sepuluh aksara saja per hari, sedangkan Jomi sanggup melumat seratus aksara sekaligus dalam sekali baca. Sungguh membuatku sedikit cemburu sekali seutuhnya kelak.

Di sore hari, Paman Rae-won bersiap mengumpulkan Bibi Jeon beserta kami bersepuluh di tengah lapangan pelatihan granite.

*- Stamina bertindak selaku silsilah kunci utama kelangsungan hidup seutuhnya kelak. Pendekar yang fisiknya lemah bersiap secepatnya tewas lumat, sedangkan yang memendam stamina kokoh diperkenankan memperpanjang keaktifan napas hidupnya ditelan bumi seutuhnya kelak.*

Awalnya, menu latihan kami murni baru sebatas berlari mengitari lapangan. Sepuluh putaran lapangan pelatihan raksasa. Ho dan Wi sudah ambruk pingsan di tanah bahkan sebelum menyelesaikan lima putaran pertama. Aku sendiri murni baru sanggup bertahan menyelesaikan tujuh putaran saja sebelum muntah kelelahan.

Mengenai pencapaian lari Bibi Jeon sendiri…… Ah, jasad tuaku bersiap mengunci informasi sains itu sebagai rahasia pribadi saja seutuhnya kelak. Melindungi nama baik Nona manis yang memberi kami jatah makanan lezat tiga kali sehari bertindak selaku kewajiban moral bagi kami seutuhnya kelak.

*- Jasad kalian diperkenankan melangsungkan sesi istirahat jika merasa kelelahan seutuhnya kelak. Namun menyerah menolak pernah mendapatkan kelayakan hukum di dalam aliansi ini seumur hidup.*

Setelah jasad kami bersikeras menyelesaikan putaran lari dengan tubuh yang dibasahi kucuran keringat deras, Paman Rae-won bersiap melafalkan beberapa baris kalimat aneh yang menolak dipahami artinya oleh otak kami, menyuruh kami menghafalnya di luar kepala. Kemudian, dia menyuruh kami duduk melingkar di atas lantai granite dan meluncurkan pijatan cakar tangannya ke beberapa titik meridian tubuh kami secara bergiliran.

Efek pijatannya terasa teramat sangat nyaman sekali hingga rasanya aku bersedia menerima pijatan tersebut seumur hidupku seutuhnya kelak. Terlebih lagi, aku merasakan adanya aliran hawa dingin lembut yang menumpuk bertumpu di Dantian perut bawahku setiap kali sesi pijatan selesai. Sensasi nyaman aliran energi dingin itu menolak sanggup digambarkan menggunakan bantuan aksara kekaisaran sekelumit pun.

Saat aku melayangkan pertanyaan lisan menyangkut hawa dingin tersebut, paman menjawab datar.

*- Itu bertindak selaku Tenaga Dalam seutuhnya kelak.* *- Apakah Tenaga Dalam itu sebenarnya, paman?* *- Papan penunjuk jalan takdir jiwamu seutuhnya kelak.* *- Papan penunjuk jalan?* *- Sirkulasi energi yang bersiap menentukan arah langkah kaki hidup kalian seumur hidup seutuhnya kelak ditelan bumi.* *- Bagaimana jika jasad kami di masa depan memilih meluncur menyusuri arah jalan hidup yang berbeda dari keinginan paman, hah?* *- Selama jasad kalian menolak memilih merangkak menyusuri jalur iblis yang jahat, itu menolak bertindak selaku masalah sains bagi jiwaku seutuhnya kelak.* *- Bagaimana jika jasad kami nekat melangkah menyusuri jalur iblis yang jahat seutuhnya kelak, hah?*

Sepasang bola mata pemuda misterius itu menatap lekat ke kelopak mataku selama beberapa detik sebelum menyodorkan jawaban lisannya.

*- Hal tersebut bersiap secepatnya bertindak selaku sesi pengumpulan poin pengalaman bertarung (experience) yang teramat sangat memuaskan sekali bagi Dantian jiwaku seutuhnya kelak.* *- Poin pengalaman bertarung?* *- Benar. Senilai kapasitas tenaga yang kuhabiskan membesarkan bakat alami tubuh kalian seutuhnya kelak, maka senilai itu pula kepuasan poin pengalaman yang bersiap kupanen sesudah membantai jasad kalian jika memilih jalur iblis di masa depan seutuhnya kelak ditelan lantai.*

Jasad tuaku sudah memikirkan kalimat paman tersebut berulang kali setiap malam, namun otak kecilku tetap menolak sanggup memecahkan kelogisan sains dari ucapannya sekelumit pun. Kalimat orang dewasa memang teramat sangat rumit sekali seutuhnya kelak ditelan bumi.

Toh, sejak saat itu, rutinitas harian kami berjalan secara konsisten tanpa perubahan: bangun fajar hari, bersih-bersih markas, melahap menu makanan hangat dalam porsi yang melimpah ruah, belajar menulis di pagi hari, berlari mengitari lapangan di sore hari, menghafal baris kalimat dari Paman Rae-won, menerima sesi pijatan meridian tubuh, melahap menu makan malam melimpah, lalu pergi bermain sepuasnya di luar gerbang.

Awalnya Bibi Jeon sempat melayangkan kekhawatiran lisan pada Paman Rae-won menyangkut keselamatan kami bermain di luar, namun paman menegaskan situasi kota saat ini sudah sepenuhnya terkendali.

*- Kota River Capital saat ini resmi memeluk status aman terkendali seutuhnya kelak steril dari ancaman.*

Menggunakan uang saku yang diberikan Paman Rae-won secara melimpah, kami bersiap membeli pancake hangat dan mi kuah di kedai-kedai Jalan Barat sepuasnya. Tampaknya ucapan paman terbukti benar secara ilmiah bahwa kota ini sudah aman dari terkaman bandit jalanan.

Saat musim panas mulai merapat tiba, menu latihan berlari di tengah lapangan granite menjadi berkali-kali lipat jauh lebih melelahkan sekali seutuhnya kelak. Kucuran keringat membasahi pakaian kami bagaikan diguyur air hujan deras di bawah terik matahari yang menyengat. Namun anehnya, jasad kami menolak merasakan panas ekstrem menyiksa tubuh. Apakah efek kebal panas ini lahir berkat metode pernapasan Qi es yang diajarkan Paman Rae-won kemarin siang?

Seiring hari-hari menyenangkan yang kami lalui bersama, kapasitas fisik jasad kami secara dinamis terus berkembang menjadi jauh lebih kuat seutuhnya kelak. Saat ini, jasad tuaku telah sukses menghafal seisi seluruh aksara di dalam *Kitab Seribu Aksara* di luar kepala. Aku juga sanggup menyelesaikan seratus putaran lari mengitari lapangan pelatihan dengan sangat mudah sekali seutuhnya kelak.

Terlebih lagi, paman mulai mengganti menu hafalan kalimat dengan sesi latihan tanding (*sparring*) menggunakan senjata tongkat kayu di antara kami bersepuluh. Dan hawa dingin yang paman sebut sebagai Tenaga Dalam kini telah memadat kokoh bertumpu di Dantian perut bawahku, berdenyut menyebarkan aliran kekuatan yang semakin tangguh di setiap harinya.

Meskipun paman masih rajin menyodorkan uang saku dalam jumlah melimpah, kami bersepuluh menolak lagi terlalu sering keluar bermain di luar gerbang. Karena sesi latihan tanding saling memukul menggunakan tongkat kayu terasa berkali-kali lipat jauh lebih menyenangkan sekali seutuhnya kelak ditelan bumi!

*Hehe.* Bertindak selaku anak tertua membuatku diposisikan sebagai kakak perempuan tertua di antara anak-anak pengemis lainnya. Sejujurnya aku sempat memendam rasa malu dan canggung memikul panggilan tersebut di masa lalu, namun kini aku memendam kebanggaan batin yang tegap. Karena aku bertindak selaku anak yang memendam kapasitas kekuatan bertarung terkuat di antara kami bersepuluh! Aku memegang hak kelayakan hukum menjadi kakak tertua mereka, bukan?

Tentu saja, masing-masing adikku memendam ciri khas kekuatan beladiri mereka sendiri: - **Ho** memendam kapasitas kekuatan fisik yang teramat sangat raksasa sekali, satu tebasan tongkat kayunya sanggup melempar tubuhku melayang jauh seutuhnya kelak. - **Uk** bertindak selaku jenius dalam urusan menghindari pukulan. *Selama tongkat musuh menolak menyentuh kulitku, maka nominal rasa sakit resmi bernilai nol seutuhnya kelak ditelan lantai*—itulah moto bertarung miliknya. - **Yuyeon** memendam kelenturan tubuh yang luar biasa menyalin namanya, sanggup meluncurkan serangan tongkat dari sudut spasial yang menolak wajar dan menolak terduga. - **Jomi** bertindak selaku anak terpintar, serangannya selalu mengincar koordinat titik kelemahan tubuh yang menolak terprediksi batin. - **Seon** bertindak selaku adik terkecil, namun memendam watak bertarung yang teramat sangat galak sekali. Sekali gigi taringnya mengunci gigitan di kulit musuh, dia menolak bersedia melepasnya seumur hidup.

Aduh, jasad tuaku rupanya terlalu melimpah ruah menceritakan kehebatan regu kami seutuhnya kelak.

Di luar waktu mengajari kami membaca, Bibi Jeon selalu disibukkan oleh urusan administrasi markas yang menumpuk. Tampaknya menolak didokumentasikan sudut spasial markas Sekte Pahlawan yang luput dari sentuhan cakar tangan Bibi. Dia bertindak selaku sosok yang menyambut utusan resmi dinas militer prefektur yang sesekali datang bertamu, mengontrol puluhan pekerja konstruksi bangunan yang dikirim Paman Rae-won, dan di malam hari dia bersiap melatih beladiri es miliknya sendirian di tengah lapangan.

Seringkali saat Bibi meliukkan telapak tangannya membelah udara malam, spasial udara di sekelilingnya membeku kaku dan meletus hancur, meremukkan kursi dan meja kayu di dekatnya menjadi serpihan es.

*- Ah, meletus lagi! Mengapa silsilah kontrol kekuatanku menolak kunjung stabil, hah? Mengapa kapasitas Qi es Dantianku menolak patuh dikendalikan? Ya ampun.* Bibi selalu menggerutu panik sambil meniup telapak tangannya yang membeku kemerahan setiap kali kejadian itu meletus. Sesudah itu, dia selalu menoleh menatap kami sambil menggaruk tengkuknya malu. *- Maafkan Bibi ya, anak-anak. Hoho.*

Mengenai Paman Rae-won sendiri, jasad tuaku menolak pernah mendeteksi keberadaannya di dalam kompleks Sekte Pahlawan kecuali pada jam latihan sore hari kami. Dia murni hanya sesekali mendatangi kami menanyakan beberapa hal sains secara bergantian: apakah didokumentasikan fasilitas tidur yang menolak nyaman, apakah didokumentasikan menu makanan yang menolak lezat, ataukah didokumentasikan barang kebutuhan harian kami yang menolak terpenuhi di markas. Meskipun kenyataannya seisi kebutuhan kami sudah terpenuhi secara melimpah ruah, paman tetap rajin meluncurkan pertanyaan sejenis menunjukkan kepedulian batinnya pada kami seutuhnya.

Jasad tuaku sangat menyukai paman seutuhnya kelak. Bukan murni diriku saja, melainkan seluruh adik kecilku saat ini telah resmi melabuhkan rasa sayang yang teramat sangat mendalam sekali menyapu paman, bibi, dan markas Sekte Pahlawan ini seutuhnya kelak.

Keluarga. Benar, keluarga seutuhnya kelak. Saat ini aku akhirnya memadat kepastian sains menyangkut arti dari kalimat: *jajaran pendekar manusia fana yang melangsungkan sesi makan bersama seutuhnya kelak.*

Hingga pada suatu hari di bulan ketiga, di saat musim panas mulai matang menyapu kota. Sebuah papan nama kayu raksasa resmi digantung kokoh di atas gerbang utama markas Sekte Pahlawan. Kami bersepuluh yang kini sudah sanggup membaca aksara kekaisaran melafalkan tulisan di atas papan tersebut dengan tegap penuh kebanggaan:

“**SEK-TE PAH-LA-WAN**!!”

*- Benar. Cara membaca jasad kalian sudah terhitung sangat rapi sekali seutuhnya kelak.* Bibi Jeon mengusap kepalaku lembut.

Pada hari bersejarah itulah, jasad kami bersepuluh untuk pertama kalinya secara sah menerima stempel nama marga resmi kami seutuhnya kelak:

*- Mulai milidetik ini, seisi seluruh jasad kalian resmi menyandang marga Kim seutuhnya kelak ditelan bumi.*

Kim Hoae, Kim Ho, Kim Uk, Kim Yuyeon, Kim Wi, Kim Soran, Kim Jiho, Kim Roe, Kim Jomi, Kim Seon. Kami akhirnya memegang kepemilikan marga resmi saat ini. Sejujurnya aku menolak mempedulikan status sosial marga tersebut secara kekaisaran, aku murni hanya merasa sangat senang sekali karena nama margaku kini sama persis dengan nama marga milik Paman Rae-won seutuhnya kelak.

Paman Rae-won melangkah mendekati kami dan mengajukan pertanyaan lisannya.

*- Serta mulai detik ini, jasad kalian bersepuluh resmi bertindak selaku anggota resmi Sekte Pahlawan seutuhnya kelak. Apakah wadah jiwa kalian menyetujui takdir ini, hah?* *- YA, PAMAN!*

Suara sahutan lisan kami bersepuluh meletus kompak bagaikan sambaran petir menyapu lapangan. Paman Rae-won menyunggingkan senyuman ramah yang teramat sangat cerah sekali melihat kepatuhan jawaban kami.

Tepat bertumpu menyiasati milidetik di saat senyumannya mekar seutuhnya kelak.

Apakah itu murni ilusi optik mata kecilku saja? Aku mendeteksi adanya getaran energi asing yang teramat sangat dahsyat sekali yang mendadak meletus menyembur keluar dari dalam tubuh paman menyapu seisi lapangan:

- Efek Sekutu: Serangan +5%, Pertahanan +5%, Ketahanan Status +10% seutuhnya kelak. - Efek Musuh: Serangan -5%, Pertahanan -5%, Ketahanan Kritis -10% seutuhnya kelak.

Itu bertindak selaku momen pertama kalinya jasad tuaku menyaksikan paman menyunggingkan senyuman ramah yang sesungguhnya seutuhnya kelak. Toh, aku merasa sangat bahagia sekali saat itu. Jasad kami bersepuluh meluncurkan senyuman balik menatap wajah ramahnya seutuhnya. Karena mulai hari ini, jasad kami resmi diikat bertindak selaku satu keluarga besar dan anggota resmi Sekte Pahlawan seutuhnya kelak ditelan bumi.

---

Waktu yang cukup lama telah berlalu sejak saat itu.

*Duuung~*

`[Sistem: Pengumuman Pembentukan Sekte Pahlawan (Declaration of the Hero's Sect)]` - Sesosok pahlawan sejati menolak sanggup merampungkan perkara sains raksasa sendirian seutuhnya kelak ditelan bumi. - Deklarasi pembentukan sekte persilatan baru jiwamu dipasangkan secara mutlak bersiap secepatnya membuat ribuan pendekar jahat gemetar ketakutan setengah mati menusuk jiwa. - Namun mohon diingat, di mana kuantitas cahaya keemasan berkumpul memadat, didokumentasikan pula keaktifan bayangan kegelapan kuat yang bersiap mengintai di sekitarnya seutuhnya kelak. - Pihak kami berdoa semoga wadah jiwamu berpasangan seluruh anggota pengikut sektemu sukses melewati jajaran krisis menggunakan bantuan pilar keimanan seutuhnya kelak. - Tugas: Rekrut sepuluh anggota sekte baru seutuhnya (11/10 tuntas) - Progress: 100% (Tuntas) - Hadiah: Mengunci Sejarah Kepahlawanan +1, Fitur antarmuka 'Antarmuka Sekte (Guild Window)' resmi diaktifkan seutuhnya.

`[Sistem: Anda berhasil merekrut jajaran anggota yang memendam kualifikasi kelayakan bertarung dan kesetiaan batin yang tegap ke dalam sektemu. Hadiah diberikan.]` `[Sejarah Kepahlawanan +1]` `[Fitur 'Antarmuka Sekte (Guild Window)' resmi aktif seutuhnya.]` `[Dunia baru ini telah menjadi sedikit lebih indah seutuhnya kelak.]`

Tiga bulan penuh setelah pembantaian massal malam penyatuan River Capital berlalu. Akhirnya, fitur aliansi resmi bernama Sekte Pahlawan telah benar-benar aktif sepenuhnya di layar hologram status sistem miliknya.

“Ingatlah secara ilmiah. Senilai kuantitas kekuatan bertarung jasad kalian berkembang menjadi lebih kuat seutuhnya kelak, maka senilai itu pula wujud kekuatan Sekte Pahlawan bersiap melonjak naik seutuhnya kelak. Ingatlah bahwa kejayaan Sekte Pahlawan bertindak selaku kejayaan jasad kalian, dan kejayaan jasad kalian bertindak selaku kejayaan Sekte Pahlawan seutuhnya kelak ditelan bumi.”

Dong Bong-su berucap datar sembari melayangkan pandangan matanya menyapu wajah Hoae beserta anak-anak lainnya secara bergantian.

“Langkah kaki Sekte Pahlawan baru saja dimulai saat ini seutuhnya kelak. Detik di saat jasad kalian semua sukses bertransformasi memeluk status selaku pahlawan sejati yang sesungguhnya menyapu dunia fana ini, itulah momen di saat kejayaan Sekte Pahlawan resmi mencapai kesempurnaan sains yang mutlak seutuhnya kelak ditelan bumi.”

Setiap baris kalimat kepahlawanan yang meluncur dari bibirnya bertindak selaku kebenaran sains yang mutlak bagi Dantian jiwanya sendiri. Jika jajaran anak pengemis ini berkembang menjadi kuat, maka Sekte Pahlawan menjadi kuat……

‘Dan jasad tuaku juga secara otomatis bertarung menggunakan kapasitas kekuatan yang berkali-kali lipat jauh lebih dahsyat sekali seutuhnya kelak.’

Jika masing-masing dari sepuluh anak ini sukses berevolusi memeluk status selaku "Pahlawan sejati" di bawah pengawasan sistem kepahlawanan……

Sesosok topeng pembantai murni baru bersiap menunjukkan kemegahan sains yang sesungguhnya di saat ia sanggup menyembunyikan wajah predator di baliknya dengan sangat rapi sekali seutuhnya kelak ditelan bumi. Dan menolak didokumentasikan entitas lain di seisi seluruh semesta ini yang memendam kelayakan menggunakan topeng kepahlawanan tersebut dengan tingkat kerapian yang melebihi kapasitas jiwanya seutuhnya kelak.

Senyuman ramah di bibir Dong Bong-su mekar berkali-kali lipat jauh lebih cerah sekali menyapu halaman markas.

‘Pahlawan.’

Bukankah jalur evolusi baru tersebut terasa sangat menakjubkan dan sepenuhnya berbeda dari silsilah jalur peningkatan kekuatan bertarung terdahulu seutuhnya kelak melintasi batas langit?

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar