Murim Psychopath

Chapter 190

3157 Kata

**Bab 190. Sekte Pahlawan (6)**

***

════════════════

**[ SEKTE PAHLAWAN ]**

• Tingkat Sekte: Level 1 (Pertumbuhan: Awal) • Reputasi Sekte: [Sekte Baru]

════════════════

▣ Ketua Sekte: Kim Rae-won ▣ Wakil Ketua Sekte: - ▣ Nominal Anggota Sekte: 11 / 10 (Melebihi Batas) ▣ Aset Sekte: 18.750 Nyang Perak / 234 Koin Persilatan ▣ Pendapatan Wilayah: 150 Nyang Perak / Hari

`[Peringatan Darurat! Nominal anggota sekte telah melebihi kapasitas maksimum yang diperkenankan. Jika kapasitas sekte menolak ditingkatkan dalam waktu satu minggu, seluruh fungsi dan keistimewaan Sekte Pahlawan bersiap secepatnya dibekukan seutuhnya kelak!]`

═══ **[ Detail Profil Anggota Sekte ]** ═══

**[ Jeon Rahwa ]** ━━━━━━━━━━━━━ ▸ Jabatan: Anggota Sekte (Wakil Pengelola / Vice Manager) ▸ Tingkat Kekuatan: Menengah (Intermediate) ▸ Kondisi Fisik: Normal ▸ Kepercayaan Batin: [Sangat Percaya / Deep Trust] ▸ Keahlian Utama: Seni Beladiri Es (Dalam Pelatihan) ▸ Keahlian Tambahan: Pengelolaan Operasional, Pendidikan ▸ Misi Aktif: Menolak didokumentasikan ▸ Senjata Utama: Liontin Giok Gadis Sekte Yin Surgawi ▸ Akselerasi Tumbuh: Sangat Cepat ▸ Potensi Bakat: Supreme (Luar Biasa) [Catatan Khusus] - Spesialisasi dalam memanipulasi energi berunsur Yin Dingin. - Kepala Pengelola Operasional Sekte Pahlawan. - Penanggung jawab sesi pelatihan anggota sekte baru. ━━━━━━━━━━━━━

**[ Kim Hoae ]** ━━━━━━━━━━━━━ ▸ Jabatan: Anggota Sekte ▸ Tingkat Kekuatan: Pemula (Beginner) ▸ Kepercayaan Batin: [Keyakinan Kokoh / Firm Belief] ▸ Keahlian Utama: Kemampuan Komando Sekte ▸ Akselerasi Tumbuh: Cepat ━━━━━━━━━━━━━

**[ Kim Ho ]** - [Tampilkan Detail] **[ Kim Uk ]** - [Tampilkan Detail] *(Dan 7 profil anggota lainnya di bawah)*

═══ **[ Atribut Khusus Sekte ]** ═══ ▸ **[Ikatan Pahlawan (Hero's Bond)]**: Memperkuat kekompakan dan sinergi batin seluruh anggota sekte seutuhnya. ▸ `[???]` - Bersiap aktif sesudah Sekte Pahlawan menyentuh Level 2 seutuhnya. ▸ `[???]` - Bersiap aktif sesudah Sekte Pahlawan menyentuh Level 3 seutuhnya.

═══ **[ Misi Khusus Sekte ]** ═══ ▣ **Misi Aktif**: - (Menolak didokumentasikan)

▣ **Misi Tuntas**: - **[Pembentukan Sekte (Guild Establishment)]** - Berhasil merekrut 10 anggota sekte pertama seutuhnya.

▣ **Misi Tertunda**: - **[Misi Pertama (First Mission)]** - Rampungkan tugas permintaan pertama atas nama Sekte Pahlawan seutuhnya. • Hadiah: Poin Pengalaman Sekte +100, Kapasitas Maksimal Anggota +10. ※ Diperkenankan untuk dimulai. - **[Perluasan Fasilitas (Facility Expansion)]** - Bangun 3 fasilitas baru di dalam kompleks markas seutuhnya. • Hadiah: Poin Pengalaman Sekte +100, Kapasitas Maksimal Anggota +10. ※ Diperkenankan untuk dimulai.

▣ **Misi Darurat**: - **[Perluasan Sekte Darurat (Urgent Guild Expansion)]** - Kapasitas sekte wajib ditingkatkan dalam kurun waktu 7 hari seutuhnya. • Sisa Waktu: 6 hari 23 jam. • Konsekuensi: Pembekuan seluruh fitur dan keistimewaan Sekte Pahlawan. ※ Menuntut penanganan secepatnya seutuhnya kelak.

═══ **[ Markas Besar Sekte Pahlawan ]** ═══ ▣ Koordinat: Bekas Markas Geng Dewa Besi (River Capital) ▣ Skala Bangunan: Besar ▣ Kondisi: Dalam Restorasi (Fasilitas dasar selesai 100%) ▣ Tingkat Pertahanan: Menengah ▣ Fasilitas Saat Ini: - Lapangan Pelatihan (Beroperasi) - Gudang Senjata (Tingkat Dasar) - Perpustakaan Kitab (Dalam Pembangunan) ▣ Fasilitas yang Diperkenankan Dibangun: - Klinik Pengobatan (Infirmary) - Bengkel Alkimia (Alchemy Workshop) - Asrama (Dormitory) - Lapangan Latihan Bawah Tanah

═══ **[ Hubungan Faksi Luar ]** ═══ ▸ Dinas Prefektur River Capital: [Kooperatif] - Hubungan persahabatan yang erat dengan Prefek Yo Han-myeong. ▸ Sekte Pengemis Agung: [Tertarik] - Sedang melangsungkan sesi penjajakan hubungan. ▸ Penduduk Kota River Capital: [Kekaguman dan Ketakutan] - Dipandang sebagai penyelamat sekaligus dewa pembantai yang kejam.

════════════════

---

*Wusss~*

Dong Bong-su melompat santai menduduki atap genting paviliun utama Sekte Pahlawan, melayangkan jangkauan matanya menyapu sebaris status status yang tertulis di dalam **[Antarmuka Sekte (Guild Window)]** yang baru aktif.

Mengingat sistem *What is Hero* pada dasarnya berakar dari game fantasi barat, perpaduannya dengan dunia persilatan timur ini melahirkan beberapa penamaan status yang terhitung cukup janggal dan terdistorsi secara sains. Namun bagi Bong-su sendiri, tingkat visualisasi kolom status tersebut dinilainya sangat rapi dan memudahkan kerjanya. Tugas mendesak yang menuntut penyelesaian secepatnya tampak terpampang jelas di baris atas.

`[Peringatan Darurat! Nominal anggota sekte telah melebihi kapasitas maksimum yang diperkenankan. Jika kapasitas sekte menolak ditingkatkan dalam waktu satu minggu, seluruh fungsi Sekte Pahlawan bersiap dibekukan seutuhnya kelak!]`

“Apa yang sedang wadah jiwamu tatap dengan begitu serius di atas genting kosong ini, hah?”

Jeon Rahwa saat ini telah melatih sirkulasi Qi es miliknya hingga ke tingkat di mana melompati atap paviliun setinggi ini menolak lagi menyulitkan langkah kaki sepatunya. Dia melangkah senyap mendekati tempat Bong-su duduk.

“Menatapmu.”

“Cih. Matamu murni menatap langit kosong sejak tadi seutuhnya kelak. Trik sandiwara kepahlawanan apa lagi yang sedang kau rencanakan sekarang?”

“Terserah wadah jiwamu ingin mempercayainya atau menolak seutuhnya kelak.”

Secara kelogisan sains, jawaban Bong-su menolak sepenuhnya keliru. Dia memang sedang mengamati data profil Rahwa di kolom *Antarmuka Sekte* tadi.

- Jabatan: Anggota Sekte (Wakil Pengelola / Vice Manager) - Tingkat Kekuatan: Menengah (Intermediate) - Kondisi Fisik: Normal - Kepercayaan Batin: [Sangat Percaya / Deep Trust]

Sistem secara otomatis mendeteksi Rahwa sebagai wakil pengelola kepercayaannya, dan tingkat loyalitas gadis itu kepada nama "Kim Rae-won" telah terkunci di tingkat *Sangat Percaya*.

- Keahlian Utama: Seni Beladiri Es (Dalam Pelatihan)

Sistem mendeteksi sirkulasi *Kitab Dingin Yin Salju Kembar* miliknya sebagai jurus manipulasi es.

- Akselerasi Tumbuh: Sangat Cepat - Potensi Bakat: Supreme (Luar Biasa) [Catatan Khusus] - Spesialisasi dalam memanipulasi energi berunsur Yin Dingin. - Kepala Pengelola Operasional Sekte Pahlawan. - Penanggung jawab sesi pelatihan anggota sekte baru.

“Toh, jasad tuaku mendeteksi kemajuan latihan beladiri wadah jiwamu berkembang sangat pesat sekali seutuhnya kelak,” ucap Bong-su.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya, hah? Padahal setiap kali matahari terbenam menyongsong malam, jasad tuamu selalu melesat pergi keluar markas.”

“Jasad tuaku memendam metode sains tersendiri.” Dong Bong-su mengedipkan matanya sambil tersenyum ramah. “Mata jiwaku sangat melimpah sekali berkeliaran di sekelilingmu, dan didokumentasikan tepat satu bola mata yang selalu memantau pergerakan tubuhmu seutuhnya kelak.”

“Menyodorkan kebohongan konyol dengan ekspresi serius seperti itu bertindak selaku penyakit batin yang parah, tahu?” gerutu Rahwa kesal.

“Ya, ya. Terserah wadah jiwamu ingin mempercayai kebenaran sains asumu atau menolaknya seutuhnya kelak.”

Helaan tawa kecil yang manis lolos dari bibir Jeon Rahwa mendengar respon datar tersebut. Bong-su sanggup mendeteksi getaran emosi loyalitas *Sangat Percaya* yang menyelimuti tawa manis gadis itu. Apapun kalimat sandiwara yang meluncur dari mulutnya mulai detik ini, Rahwa dipasangkan secara mutlak bersiap secepatnya mempercayainya dan meluncur melaksanakannya tanpa keraguan batin sedikit pun—selama sistem status menolak mengalami error.

“Toh, paman.”

“Ada apa?”

Jeon Rahwa menundukkan kepalanya menatap ke arah lapangan pelatihan di bawah. Di sana, sepuluh anak pengemis sedang sibuk melakukan latihan tanding saling memukul menggunakan tongkat kayu secara intensif.

“Mengenai silsilah pelatihan anak-anak dan pengelolaan urusan harian sekte ini seutuhnya kelak.”

“Ya, ada apa sains dengannya?”

“Sampai kapan jasad tuamu bersikeras membebankan seisi seluruh pengelolaan operasional ini di pundakku sendirian, hah?”

“Mengapa? Apakah kapasitas fisikmu menolak sanggup menahannya seutuhnya kelak?”

“Tentu saja menolak sanggup!” Jeon Rahwa mengangkat kepalanya menatap lurus ke sepasang bola mata Dong Bong-su. “Secara kelogisan, apa perbedaan kapasitas diriku dengan mereka? Jasad tuaku sendiri murni baru merdeka dari status budak kotor selama tiga atau empat bulan saja……”

“Wadah jiwamu memendam kemahiran membaca aksara yang jauh lebih melimpah.”

“Murni hanya itu saja kelebihanku!”

Dong Bong-su balas menatap sepasang kelopak matanya lekat-lekat. “Wadah jiwamu bertindak selaku pendekar dewasa seutuhnya kelak.”

“Apakah status usia biologis itu bertindak selaku perkara penting, hah?”

“Sangat penting sekali seutuhnya kelak.”

“Mengapa?”

“Bagi kelangsungan batin anak-anak pengemis di bawah, fakta ilmiah menyatakan keberadaan sosok pelindung yang bertindak selaku orang tua memendam nominal kehangatan batin yang sangat raksasa sekali seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi.”

“……Orang tua? Jasad tuaku?”

“Lantas menurutmu bagaimana wujud penampakan dirimu di dalam bola mata anak-anak pengemis itu saat ini, hah?”

“……”

“Wadah jiwamu memegang peran selaku sosok Ibu seutuhnya kelak.” Dong Bong-su mengarahkan jari telunjuk kanannya ke dadanya sendiri sambil menyunggingkan senyuman ramah. “Sedangkan jasad tuaku memegang peran selaku sosok Ayah seutuhnya kelak.”

“A-Apakah kalimat asumu itu memendam kelogisan sedikit pun di bawah langit, hah?!” Wajah cantik Jeon Rahwa seketika memerah padam karena panik. “Jika kau berperan sebagai Ayah dan jasad tuaku berperan sebagai Ibu…… Bukankah secara kronologis hubungan kekeluargaan itu menuntut status kita berdua sebagai…… suami istri seutuhnya kelak?!”

“Menolak mengarah ke sana seutuhnya kelak. Mengapa, apakah wadah jiwamu memendam hasrat ingin bersanding bersamaku seutuhnya kelak?” tanya Bong-su menggoda.

“Tentu saja menolak! Kalimat konyolmu tadi terdengar sangat menyesatkan sekali menyapu lubang telinga jiwaku, tahu!”

“Jasad tuaku memahaminya, memahaminya.”

“……”

“Menolak bersua alasan sains untuk panik selevel itu. Kalimatku tadi murni hanya bertindak selaku perumpamaan sains belaka seutuhnya kelak.”

“Cih, perumpamaan macam apa itu? Apakah wadah jiwamu berniat merusak prospek pernikahan jasad tuaku di masa depan, hah?”

“Kalau begitu, haruskah jasad tuaku meluncur memikul tanggung jawab atas sisa umur jiwamu seutuhnya kelak?”

“A-Apa maksudmu memikul tanggung jawab selevel itu, hah?!”

“Menjahili watak asumu memang selalu mendatangkan kebahagiaan batin yang memuaskan sekali bagi jiwaku seutuhnya kelak.”

“Menjahili? Jadi kau murni mementaskan sandiwara lisan menjahili jasad tuaku sejak tadi?”

“Benar.”

“Ih! Lupakan saja! Melangsungkan sesi tanya jawab lisan dengan paman gila sepertimu murni hanya mendatangkan nominal kerugian batin bagi jiwaku seutuhnya kelak!”

Melihat Jeon Rahwa yang memalingkan wajahnya pura-pura marah kesal, Dong Bong-su menaruh intonasi serius di suaranya.

“Wadah jiwamu sudah melakukan pekerjaan dengan sangat luar biasa sekali seutuhnya kelak.”

Langkah kaki Jeon Rahwa seketika membeku kaku mendengar kalimat tersebut. Dong Bong-su melangkah mendekat, mengusap puncak rambut kepalanya secara lembut hingga berantakan sebelum menyunggingkan senyuman ramah.

“Jasad tuaku menegaskan secara sains: kinerja jiwamu terhitung teramat sangat memuaskan sekali seutuhnya kelak. Cukup pertahankan silsilah pengelolaan selevel itu di masa depan seutuhnya kelak.”

Dong Bong-su melangkah melewati tubuhnya dan melompat turun dari atap paviliun menuju lapangan pelatihan.

“Oh, berpasangan jajaran pekerja konstruksi nanti, instruksikan mereka membangun Klinik Pengobatan (Infirmary), Bengkel Alkimia (Alchemy Workshop), dan Asrama (Dormitory) baru di sudut lapangan seutuhnya kelak.”

Klinik Pengobatan. Bengkel Alkimia. Asrama.

Meskipun Bong-su sendiri menolak memahami secara sains fungsi kegunaan bengkel alkimia di dunia baru ini, dia wajib membentang fasilitas tersebut demi menyapu bersih jajaran misi sekte sistem. Entah itu kelak berfungsi menyaring bijih besi menjadi koin emas ataukah meracik ramuan sihir, itu dipasangkan secepatnya mendatangkan kegunaan. Terlebih lagi:

- Misi Tertunda: **[Perluasan Fasilitas (Facility Expansion)]** - Bangun 3 fasilitas baru di dalam kompleks markas seutuhnya. Hadiah: Poin Pengalaman Sekte +100, Kapasitas Anggota +10.

Mulai hari ini, dia wajib rajin merampungkan jajaran misi sekte untuk memperbesar kapasitas Sekte Pahlawan.

“Selalu saja menyodorkan tumpukan tugas baru pada jasad tuaku. Haa…… Pergi ke mana lagi kau sekarang, paman?” Jeon Rahwa buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan, berteriak kencang ke arah Bong-su yang sudah melangkah merapat ke pintu gerbang utama.

Dong Bong-su murni hanya mengangkat tangan kanannya melambai santai tanpa membalikkan badan.

“Jalan-jalan keluar sejenak seutuhnya kelak.”

---

Jalan-jalan santai (*Going out for a walk*).

Sebuah aktivitas mendatangi wilayah sekitar dalam kurun waktu singkat. Dan sepanjang tiga bulan kurun waktu belakangan ini, Dong Bong-su konsisten melangsungkan sesi "jalan-jalan santai" tersebut setiap hari tanpa pernah absen sekali pun. Setelah melangkah keluar meninggalkan gerbang Sekte Pahlawan, Bong-su menyusuri jajaran gang sempit yang meliuk sebelum akhirnya melangkah kaki sepatunya memasuki sebuah kediaman kedai teh usang.

*Kriet~*

Suara gesekan engsel pintu kayu yang lapuk terdengar menolak nyaman di telinga. Tentu saja Bong-su sudah terbiasa menyiasati melodi engsel rusak tersebut selama tiga bulan ini. Begitu pula dengan aroma kepulan asap rokok tembakau murah yang berbaur aroma air teh seduhan kualitas rendah di dalam ruangan.

“Waktu kedatangan wadah jiwamu merapat ke tempat ini terhitung sedikit terlambat dari jadwal harian biasa seutuhnya kelak.”

“Jadwal harian? Jika pendekar aliansi luar mendengar kalimat asumu barusan, mereka bersiap mengira jasad tuaku bertindak selaku pengemis resmi sektemu seutuhnya kelak.”

“Oh? Apakah wadah jiwamu menolak memeluk status selaku pengemis, hah?”

Dong Bong-su murni hanya mengulas senyuman tipis menepis ejekan tersebut, menarik sebuah kursi kayu dan mendudukinya santai. Di seberang meja kayu kotor tempatnya duduk, sesosok pengemis paruh baya berjanggut kusut tampak menyambut kedatangannya dengan senyuman lebar.

“Jasad tuaku terus mendeteksi kehadiran wajah asumu di tempat ini setiap hari, membuatku berpikir jasadmu resmi diangkat menjadi murid sekte kami seutuhnya kelak.”

“Hentikan bualan konyolmu seutuhnya kelak. Menu tugas pembersihan apa yang bersiap diselesaikan hari ini, hah?”

Pengemis paruh baya tersebut—sang Pemimpin Cabang *Kedai Tahu Segalanya*, **Bae Dal-pae (Bae Dal-pae)** yang menyandang status selaku *Murid Tujuh Ikatan* Sekte Pengemis—segera menuangkan secawan teh hangat dan menyodorkannya ke hadapan Bong-su sebelum menyahut santai.

“Wadah jiwamu bersiap mati sesak napas jika menolak bekerja sehari saja rupanya. Apakah wadah jiwamu memendam dendam pribadi menyangkut tumpukan tugas, hah? Di setiap kedatangan asumu, kalimat pertama selalu berputar menyiasati urusan pekerjaan pembantaian seutuhnya kelak.”

“Setiap hari bertindak selaku medan perang yang menuntut penyelesaian sains seutuhnya kelak.”

Bae Dal-pae menatap lekat ke sepasang bola mata legap Dong Bong-su sejenak sebelum meneguk tehnya kembali dan melanjutkan pembicaraan.

“Sebelum jasad tuaku menyerahkan menu tugas hari ini, didokumentasikan satu informasi sains penting menyangkut dirimu yang wajib kusampaikan terlebih dahulu seutuhnya kelak.”

“Informasi apa sains?”

“Kesimpulan resmi menyangkut profil jiwamu yang telah diputuskan oleh jajaran Sesepuh Kantor Pusat Sekte Pengemis Agung seutuhnya kelak.”

“Kesimpulan menyangkut jasad tuaku? Atas dasar hukum apa Sekte Pengemis Agung nekat merumuskan kesimpulan selevel itu pada jiwaku, hah?”

Meskipun Dong Bong-su merespon dengan intonasi ketidakpuasan yang jelas, Bae Dal-pae tetap melanjutkan kalimatnya tegap.

“Bukankah penyelidikan awal menyangkut identitas asumu meletus akibat pengajuan permintaan resmi berbayar dari Nona Muda Jeon kemarin lusa, hah?”

“Bukankah jasad tuaku sudah menegaskan untuk menghentikan sesi penyelidikan konyol itu kemarin siang?” Bong-su menyahut datar. Dia memang sempat melarang kelanjutan penyelidikan identitasnya sesaat setelah dia aktif melangsungkan sesi "jalan-jalan sore" di kedai teh ini beberapa bulan lalu.

Bae Dal-pae murni hanya menyunggingkan senyuman misterius. “Sejujurnya, paman Kim. Bahkan seandainya jika Nona Muda Jeon menolak menyodorkan nominal koin emas penyelidikan kemarin lusa, jajaran intelijen Sekte Pengemis Agung dipasang secepatnya meluncurkan sesi penyelidikan khusus menyangkut silsilah jiwamu seutuhnya kelak ditelan lantai.”

Setelah mengisi kembali cawannya, Bae Dal-pae meneguk tehnya pelan sebelum menyambung. “Menolak bersua alasan untuk menanyakan mengapa sesi penyelidikan itu wajib meletus, karena wadah jiwamu memahaminya secara sains dengan sangat baik sekali seutuhnya kelak.”

“……”

“Jika Sekte Pengemis Agung bersikeras menutup mata menolak menyelidiki sesosok master misterius yang sanggup meratakan seisi seluruh faksi persilatan kota River Capital hanya dalam kurun waktu kurang dari lima hari penuh, bukankah papan nama aliansi intelijen nomor satu kekaisaran milik sekte kami wajib dicopot dan dibakar detik itu juga seutuhnya kelak ditelan lantai?”

“Lantas apa isi kesimpulan konyol yang diputuskan jajaran sesepuhmu itu, hah?”

“Bahwa wadah jiwamu, paman Kim, tidak lain tidak bukan bertindak selaku sang legenda Anak Sekolah Kim Rae-won seutuhnya kelak ditelan bumi.”

“Dasar hukum sains apa yang kalian gunakan untuk menyimpulkan hal itu, hah?”

Bae Dal-pae mengetuk meja kayu dengan jari telunjuknya berulang kali melafalkan laporannya. “Sesosok pendekar misterius yang mendadak meletus jatuh dari langit perbatasan, memendam kondisi amnesia total pada ingatannya, namun sanggup menyapu bersih seisi aliansi hitam Jalan Barat dan Jalan Timur kota River Capital dalam kurun waktu kurang dari lima hari penuh. Menurut perhitungan probabilitas sains jiwamu, berapa persen peluang meletusnya kejadian selevel itu meletus secara kebetulan di dunia baru ini?”

“Jadi murni karena jasad tuaku memendam kekuatan beladiri yang menolak masuk akal untuk dilatih dalam semalam, wadah jiwamu menyimpulkan aku pasti bertindak selaku sang legenda Anak Sekolah Kim Rae-won seutuhnya?”

“Tepat sekali.”

“Murni hanya itu saja data sains yang kalian kumpulkan, hah?”

“Mengenai silsilah ilmu beladiri yang wadah jiwamu gunakan bertarung, catatan sejarah menyatakan ilmu beladiri Anak Sekolah sejak awal menolak memendam kejelasan asal-usul kitab persilatan mana pun, sehingga mustahil bagi sekte kami untuk melacak garis silsilah perguruanmu dari jurus cakar pedangmu seutuhnya kelak. Terlebih lagi, wadah jiwamu menolak menyodorkan celah sedikit pun bagi jajaran intelijen kami untuk melacaknya seutuhnya kelak.”

“Kurasa argumen asumu itu memendam kelogisan sains seutuhnya.”

“Toh, setelah melangsungkan sesi penyelidikan intensif selama tiga bulan penuh pasca malam penyatuan River Capital meletus, itulah keputusan resmi yang disahkan oleh jajaran Sesepuh Agung di Kantor Pusat kami seutuhnya kelak.”

Kesimpulan resmi jajaran Sesepuh Agung Kantor Pusat. Dong Bong-su memicingkan matanya. “Lantas apa kesimpulan pribadi yang diputuskan oleh wadah jiwamu sendiri, hah?”

“Memangnya apa nominal kegunaan dari kesimpulan pribadi pengemis rendahan tingkat Murid Tujuh Ikatan sepertiku di hadapan keputusan resmi Sesepuh Agung, hah?”

“Jasad tuaku murni merasa penasaran seutuhnya kelak.”

Mendengar hal itu, Bae Dal-pae memindai penampilan luar Dong Bong-su dari kepala hingga ujung kaki sepatu berulang kali secara detail sebelum akhirnya meneguk cawan tehnya kembali.

“Sesosok pahlawan pengembara sejati.” Bae Dal-pae akhirnya melafalkan kalimat pribadinya. “Ah, menggunakan kosa kata sains pilihan jiwamu sendiri seutuhnya kelak: sesosok pahlawan sejati.”

“Pahlawan?”

“Menolak didokumentasikan perbedaan sains menyangkut siapa identitas aslimu yang sesungguhnya di bawah langit ini, paman Kim. Kesimpulan pribadi yang kuperoleh setelah meluangkan waktu memantau pergerakan tubuhmu selama tiga bulan belakangan ini murni tertuju pada kesimpulan tersebut.”

Dong Bong-su menyesap teh hangatnya pelan, membalas tatapan mata Bae Dal-pae. Di balik kelopak sepasang bola mata kuyu pengemis paruh baya itu yang masih menyimpan tumpukan tanda tanya besar menyangkut asal-usulnya, Bong-su sanggup membaca dengan jelas arah kesimpulan pribadi yang ditarik oleh batin Bae Dal-pae.

“Sesosok pahlawan raksasa yang sesungguhnya. Menolak mempedulikan apakah wadah jiwamu bertindak selaku sang legenda Anak Sekolah Kim Rae-won ataukah bukan, jasad tuaku bersaksi wadah jiwamu bertindak selaku sesosok pahlawan raksasa yang bersiap secepatnya merubah arah silsilah sejarah rimba persilatan Jianghu ini seutuhnya kelak ditelan lantai.”

“Dan parameter sains apa yang mendukung kesaksian asumu itu, hah?”

“Lima puluh dua…… dua puluh tujuh…… tiga puluh…… Ah, jasad tuaku menolak sanggup menghitung nominal angkanya menggunakan jari tangan lagi seutuhnya kelak.” Bae Dal-pae menurunkan jari jemari tangannya pasrah menyerah menghitung.

“Nominal kasus apa yang sedang wadah jiwamu hitung sejak tadi, hah?”

“Kasus kegilaan batin.”

“Kegilaan?”

“Jajaran letusan tindakan keadilan yang wadah jiwamu rampungkan sepanjang tiga bulan belakangan ini, paman Kim.”

“……”

“Penyelesaian lima puluh dua kasus perdagangan budak manusia, pelumatan dua puluh tujuh faksi lintah darat kejam, penghancuran tiga puluh sarang bandit gunung dan perompak sungai, serta puluhan kasus pembersihan kejahatan lainnya di sekeliling wilayah perbatasan kota River Capital. Namun parameter terpenting yang menolak masuk akal bagi logikaku adalah……”

“……”

“Seluruh letusan tindakan keadilan selevel itu wadah jiwamu rampungkan secara konsisten sambil **menyodorkan nominal koin emas persilatan** dalam jumlah masif dari kantong pribadimu sendiri seutuhnya kelak. Kosa kata sains apa lagi yang memendam kelayakan digunakan untuk melabeli kegilaan batin pendekar selevel itu selain sebutan pahlawan gila seutuhnya kelak ditelan bumi, hah?!”

Ucapan Bae Dal-pae sepenuhnya benar secara ilmiah.

Itulah wujud asli dari sesi "jalan-jalan santai" Dong Bong-su selama tiga bulan belakangan ini. Dia menyodorkan nominal nyang perak dan Koin Persilatan (*Martial Currency*) dalam jumlah masif kepada cabang *Kedai Tahu Segalanya* murni guna menebus informasi sains menyangkut letusan kejahatan (*injustice*) yang sedang meletus di sekeliling River Capital.

Didokumentasikan pendekar keadilan Aliran Putih yang bergerak sukarela melenyapkan kejahatan demi nama baik faksi mereka. Didokumentasikan pula pendekar yang memotong kepala bandit demi mengincar hadiah uang buruan dari dinas kekaisaran. Namun sepanjang ingatan Bae Dal-pae berkelana di rimba Jianghu, menolak pernah didokumentasikan sesosok pendekar gila yang bersedia menguras harta pribadinya murni demi membeli informasi koordinat kejahatan agar diperkenankan melakukan letusan keadilan.

Seorang pahlawan keadilan sejati yang nekat membuang harta peraknya sebesar **123.755 nyang perak** serta **229 Koin Persilatan** murni untuk membayar biaya administrasi informasi kejahatan. Sesosok pendekar yang secara nyata mempraktikkan filosofi kepahlawanan murni tersebut di hadapan matanya.

Itulah wujud dari "Kim Rae-won" di dalam kelopak matanya saat ini seutuhnya kelak ditelan bumi.

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar