Murim Psychopath

Chapter 191

2913 Kata

**Bab 191. Sekte Pahlawan (7)**

***

“Dalam kondisi normal, jajaran pendekar Jianghu menolak menggunakan rampasan perang yang mereka jarah untuk menolong orang lain atau faksi persilatan lemah lainnya seumur hidup.”

Bae Dal-pae meneguk habis sisa cairan teh hangat di cawannya dalam sekali teguk, lalu menyeringai lebar.

“Kecuali jasad tuaku bersikeras meminjam kosa kata romantis kuno persilatan menyalin sebutan **Pahlawan Agung (Great Hero / Dae-hyeop)** atau **Pahlawan Pengelana (Wandering Hero / Yu-hyeop)**, menolak didokumentasikan metode kelogisan sains lainnya yang sanggup menjelaskan kegilaan watak asumu, paman.”

“Lantas apa alasan wadah jiwamu membeberkan teori sains itu padaku, hah?”

“Ah, jasad tuaku murni hanya merasa penasaran saja seutuhnya kelak.”

Dong Bong-su mendekatkan bibir cawan tehnya, menatap lurus ke sepasang kelopak mata Bae Dal-pae secara dingin. Itu menolak bertindak selaku tatapan mata mencurigai musuh, melainkan getaran rasa ingin tahu yang murni lahir dari batin sang pengemis.

“Penasaran menyangkut apa?”

“Mengenai alasan sains mengapa sesosok master beladiri tingkat monster sekelas Tiga Monster persilatan, yang bahkan memendam kondisi amnesia total pada otaknya, bersikeras menguras hartanya demi menegakkan Keadilan di kota ini, serta berniat melanjutkan kegilaan itu di masa depan seutuhnya kelak ditelan lantai.”

*Tuk, tuk.*

Dong Bong-su memutar cawan tehnya secara perlahan di atas meja kayu. Gesekan antara dasar tanah liat cawan dan permukaan kayu meja menghasilkan suara derit rendah untuk beberapa saat, sebelum telapak tangannya berhenti bergerak dan keheningan kembali menguasai meja.

“Toh.” Suara lisannya terdengar sangat datar. “Karena hal itu terasa sangat menyenangkan sekali seutuhnya kelak.”

“Menyenangkan……? Apakah kelopak telinga jiwaku barusan menolak salah mendengar wadah jiwamu melafalkan kata menyenangkan, hah?”

“Bukankah itu bertindak selaku kebenaran sains yang sangat wajar bagi manusia biasa, hah?”

“……”

“Bagi jajaran manusia fana pada umumnya, membantai bajingan sesat dan melumat kejahatan memang selalu mendatangkan kebahagiaan batin yang memuaskan seutuhnya kelak ditelan bumi.”

Apakah jawaban Bong-su dinilai terlalu melenceng jauh dari kelogisan teori beladiri yang Bae Dal-pae ketahui? Pengemis paruh baya itu murni hanya terbelalak menatap wajah Bong-su dengan bibir sedikit terbuka, berkedip berulang kali menahan heran. Begitu tersadar kembali, dia buru-buru merapikan fitur otot wajahnya dan kembali meluncurkan pertanyaan.

“Y-Ya, secara prinsip sains, kalimat wadah jiwamu memendam kebenaran. Namun manusia fana biasa menolak bersedia membuang harta peraknya demi mengejar kesenangan ekstrem selevel itu, bukan?”

“Bukankah jawabannya berkali-kali lipat jauh lebih sederhana sekali seutuhnya kelak?”

“……”

“Jasad tuaku dipastikan menolak memeluk status selaku manusia fana biasa seutuhnya kelak ditelan bumi.”

*Deg!*

Sepasang bola mata Bae Dal-pae seketika bergetar hebat menyalin getaran gempa bumi yang meretakkan tanah.

“Ha…… ha…… ha. Jasad tuaku memahaminya. Itu bertindak selaku jawaban sains yang teramat sangat sederhana dan jelas sekali seutuhnya kelak.” Bae Dal-pae menggelengkan kepalanya pelan, bergumam lirih di luar kesadaran.

Sederhana, sederhana, sederhana…… Sebuah jawaban yang mutlak benar. Ekspresi wajah pengemis itu tampak menyalin master beladiri yang baru saja sukses merangkak memeluk pencerahan batin tingkat tinggi (*enlightenment*).

Memantau perubahan watak tersebut membuat Dong Bong-su kembali menyimpulkan sifat dasar manusia: *Mendeteksi kebenaran di balik kebohongan sandiwara, dan mendeteksi kebohongan di balik kebenaran sains. Serta di sisi lain, melabuhkan simpati pada kemunafikan yang manis, dan melabuhkan kebencian pada kekejaman yang jujur.* Itulah esensi sejati dari makhluk bernama manusia fana.

Sesudah kurun waktu sekali minum teh berlalu. Dong Bong-su mengetuk pinggiran cawan tehnya menggunakan ujung kuku jari telunjuknya secara lembut.

*Ting~*

Petikan suara rendah itu seketika menarik kesadaran Bae Dal-pae kembali menghuni realitas meja. Dia segera memaku tatapan matanya lurus ke arah Dong Bong-su.

“Terima kasih, paman Kim. Bukan—”

“……”

“Pahlawan Agung seutuhnya kelak ditelan bumi.”

Milidetik barusan, Bae Dal-pae resmi terdeteksi sukses merayap melompati satu dinding pembatas dimensi jiwanya—baik secara kemanusiaan maupun silsilah kekuatan batin. Dan menolak diragukan secara sains, letusan perubahan takdir itu meletus murni akibat cakar tangan Dong Bong-su sendiri seutuhnya kelak.

Serta.

*Duuung~*

`[Sistem: Misi Hubungan (Relationship Quest) - Mohon tanggapi letusan 'Kepercayaan Batin Kedua (Second Belief)' seutuhnya.]` - Kepercayaan batin selalu mendatangkan hadiah yang sepadan seutuhnya kelak ditelan bumi.

Sebuah letusan *Kepercayaan Batin* baru yang telah sekian lama menolak meletus di kolom status sistemnya. Dong Bong-su yang melirik baris aksara hologram keemasan yang murni hanya diperkenankan dibaca oleh matanya sendiri menyunggingkan senyuman tipis dalam hati.

“Cukup. Hentikan panggilan konyol itu dan segera serahkan koordinat tugas pembersihan harian jasad tuaku seutuhnya kelak.”

“Ah, jasad tuaku memohon ampunan, Pahlawan Agung.”

“Dan hapus sebutan Pahlawan Agung itu dari mulutmu.”

“Baik, Pendekar Muda (Young Hero / So-hyeop).”

“……Panggil saja menggunakan intonasi biasa menyalin kemarin siang seutuhnya kelak.”

“Baik, Tuan Pahlawan Pengelana seutuhnya kelak.”

“Ya, ya. Terserah wadah jiwamu ingin melafalkan panggilan apa seutuhnya kelak. Oh, dan mulai detik ini, jasad tuaku bersiap menebus seisi seluruh informasi kejahatan atas nama resmi Sekte Pahlawan seutuhnya.”

“Hah? Nominal kegunaan sains apa yang didapat dari perubahan nama pembeli itu, paman?”

Tentu saja memendam nominal kegunaan yang sangat raksasa sekali seutuhnya kelak:

- Misi Tertunda: **[Misi Pertama (First Mission)]** - Rampungkan tugas permintaan pertama atas nama Sekte Pahlawan seutuhnya. Hadiah: Poin Pengalaman Sekte +100, Kapasitas Anggota +10.

Sebuah tujuan sains yang teramat sangat penting sekali guna merampungkan **[Misi Sekte]** miliknya.

“Toh, karena jasad tuaku sudah mendirikan sekte resmi, terasa sangat janggal secara sains jika terus menyelesaikan urusan menggunakan nama pribadi seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi.”

“Ah! Maksud paman adalah agar letusan tindakan keadilan ini resmi diakui kekaisaran sebagai kinerja resmi Sekte Pahlawan! Sungguh cara berpikir yang teramat sangat mulia sekali, Pahlawan Agung! Jasad pengemis kotor sepertiku menolak memendam hak kelayakan sains untuk membaca kedalaman rencana agung jiwamu seutuhnya kelak ditelan bumi!”

Meskipun Bong-su sendiri menolak kunjung memahami parameter sains apa yang dinilai bertindak selaku *Kepercayaan Batin* oleh sistem kepahlawanan *What is Hero*, letusan *Kepercayaan Batin Kedua* dari Bae Dal-pae ini dirasanya sedikit berlebihan. Namun di sisi lain, getaran kepatuhan batin itu bersiap secepatnya mempermudah kelancaran operasinya di masa depan.

Dong Bong-su menggelengkan kepalanya pelan menepis pujian tersebut. “Anggap saja teorimu itu benar seutuhnya kelak. Jasad tuaku menolak memendam waktu luang yang melimpah, jadi cepat serahkan detail informasi kejahatan hari ini seutuhnya kelak.”

Mendengar desakan itu, otot wajah Bae Dal-pae tampak sedikit meliuk cemas. Dia bahkan melayangkan pandangan matanya memantau reaksi wajah Dong Bong-su secara ragu.

“Sejujurnya paman……”

“Ada apa?”

“Menolak didokumentasikan tugas kejahatan sedikit pun hari ini seutuhnya kelak.”

“Apa maksud dari kalimat sampahmu itu, hah?”

“Sesuai makna harfiahnya seutuhnya kelak ditelan bumi.”

“……”

“Berkat keaktifan cakar tangan jasad tuamu membantai ratusan bajingan sepanjang beberapa bulan belakangan ini, wilayah River Capital saat ini resmi memeluk status yang teramat sangat damai sekali seutuhnya kelak steril dari kejahatan.”

“……”

Damai?

---

Setelah melangkah keluar meninggalkan *Kedai Tahu Segalanya*, Dong Bong-su berjalan menyusuri gang-gang komersial kota River Capital.

Pemandangan kota saat ini benar-benar telah bergeser sepenuhnya dari kondisi awal saat dirinya dan Jeon Rahwa pertama kali menapakkan kaki di gerbang kota dulu. Silsilah teriakan histeris bernada "bunuh" atau "mati tertebas" menolak lagi terdengar mengguncang telinga di sepanjang trotoar jalan maupun di balik dinding bangunan toko.

*- Sejujurnya paman, jasad tuaku sempat memprediksikan hasil keteraturan hukum ini mustahil dicapai seumur hidup seutuhnya kelak, Pahlawan Agung.* *- Keteraturan hukum apa yang kau maksud, hah?* *- Letusan perubahan wujud damai kota River Capital ini seutuhnya kelak.*

Ucapan Bae Dal-pae tadi memang terbukti kebenarannya secara ilmiah. Bahkan di bawah deteksi Qi Dong Bong-su sendiri, silsilah kota perbatasan River Capital saat ini—mulai dari Jalan Timur, Jalan Tengah, hingga Jalan Barat—telah sepenuhnya bersalin rupa menjadi dimensi spasial kota yang sepenuhnya baru seutuhnya. Lantai batu jalanan yang dulunya pekat menyengat aroma uap darah merah segar kini telah bersalin rupa menjadi arena bermain anak-anak kecil yang berlarian menyebarkan tawa riang gembira. Jajaran pedagang kaki lima menolak lagi menyelipkan belati di pinggang mereka, dan jajaran pembeli melangkah santai tanpa perlu sibuk melayangkan pandangan mata cemas memantau punggung mereka dari sergapan bandit.

Sesosok pemilik kedai buah-buahan yang mengenali fitur wajah Dong Bong-su buru-buru memilihkan sebutir buah apel termerah dan tersegar dari keranjangnya, menyodorkannya cepat ke telapak tangan Bong-su sebagai bentuk rasa terima kasih batinnya yang tulus.

Dong Bong-su menerima apel tersebut dan menggigitnya santai. Menolak terdeteksi adanya kandungan racun sains di dalamnya. Dia melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalan. Tak butuh waktu lama bagi jajaran penduduk untuk berkumpul mengiringi langkah kakinya. Pendekar usia lanjut buru-buru membungkuk hormat menyodorkan salam kepalan tangan (*so-hap*), pendekar muda melayangkan tatapan mata kekaguman yang tegap, dan puluhan anak kecil berlarian riang mengekor di belakang langkah kakinya.

Dia tahu cepat atau lambat kota River Capital bersiap secepatnya memeluk status stabil seutuhnya kelak, namun keaktifan masa damai ini meletus dengan akselerasi yang dinilainya terlampau cepat dari perhitungan sains. Bagaimanapun:

`[Sistem: Tindakan kepahlawanan jiwamu sukses melipatgandakan data sejarah pahlawan seutuhnya.]` `[Sejarah Kepahlawanan +1]`

Kalimat petikan mekanis kepahlawanan itu sudah berkumandang belasan kali di kepalanya murni hanya dari silsilah aktivitas pembersihan di kota perbatasan ini saja. Kurun waktu tiga bulan memang menolak diizinkan untuk disebut sebagai waktu yang singkat untuk merapikan kota.

Beberapa waktu kemudian. Setelah berhasil memisahkan diri dari kerumunan penduduk yang mengekor di belakangnya, Dong Bong-su menghentikan langkah kaki sepatunya di sudut gang komersial Jalan Tengah.

Cahaya matahari siang masih bersinar sangat terik sekali menerangi bumi. Meskipun begitu, hembusan angin basah yang membawa hawa dingin tampak bertiup lembut mengibarkan rambut abu-abunya. Mengingat saat ini adalah puncak musim panas, keaktifan angin basah membuktikan didokumentasikan silsilah musim hujan tahunan di dunia baru ini secara ilmiah.

Dong Bong-su berdiri mematung cukup lama di sudut gang, menggunakan seluruh Qi Sense-nya menyerap setiap perubahan takdir yang meletus di kota River Capital. Secara ilmiah, dia memindainya secara detail—mulai dari bekas noda darah kering di sela batu jalanan yang memantulkan rona kemerahan cahaya matahari, hingga kepakan sayap regu burung liar di langit atas.

Hamparan kota saat ini terasa terlalu damai. Terlalu padat menyemburkan getaran energi kehidupan penduduk yang dinamis.

Tepat di saat itu, matanya terkunci menatap ke arah bayangan gang sempit di sudut depannya.

“Keluar.”

Menolak didokumentasikan respon getaran Qi dari balik kegelapan gang tersebut sekelumit pun.

“Bukankah jasad tuamu menegaskan silsilah waktu kedatangan asumu terhitung terlampau cepat dari kelogisan sains, hah?” Dong Bong-su menyodorkan peringatan lisannya sekali lagi. “Anak kecil.”

Baru setelah peringatan kedua dilayangkan, sesosok anak kecil yang menyembunyikan raganya di balik bayangan dinding gang mulai menggerakkan langkah kaki kecilnya melangkah keluar menuju jalan utama. Anak itu tidak lain bertindak selaku anak laki-laki terkecil yang bertahan hidup dari pembantaian markas Korps Ular Giok kemarin—anak yang nekat mengajukan pertanyaan apakah Bong-su bersiap membantai mereka semua juga seutuhnya kelak.

Anak itu merapat mendekati posisinya dengan kedua telapak tangan yang tertekuk disembunyikan di balik punggungnya seutuhnya.

“Jasad tuaku sudah menegaskan waktu kedatangan asumu terhitung terlampau cepat seutuhnya kelak.”

Namun anak itu menolak menghentikan langkah kaki kecilnya hingga jarak tubuhnya merapat tepat satu zhang di hadapan Dong Bong-su. Menolak didokumentasikan getaran hawa membunuh (*Killing Intent*) dari balik tubuh kecil anak tersebut sekelumit pun, namun silsilah watak manusia menolak pernah diperkenankan dipercayai 100% secara sains. Seandainya jika anak kecil ini memendam jenis jiwa psikopat yang sejajar dengan kapasitas jiwanya sendiri, target dipasangkan secara mutlak bersiap secepatnya menyembunyikan hawa membunuhnya sepuasnya ditelan batin.

*- Jika didokumentasikan di antara jasad kalian yang memendam hasrat membalas dendam maut atas kematian darah daging kalian…… Baguslah. Kalian diperkenankan melangkah mendatangi kediaman jasad tuaku di Sekte Pahlawan kapan saja seutuhnya kelak. Jika tindakan itu bertindak selaku keadilan bagi jiwa kalian, jasad tuaku bersiap menyambut kedatangan cakar senjata kalian dengan senang hati seutuhnya kelak.*

Anak kecil ini dipastikan merapat ke tempat ini murni akibat kombinasi hasrat dendam anak-anak berpasangan penegasan kalimat Bong-su kemarin siang seutuhnya kelak.

‘Untuk saat ini.’ Mengingat didokumentasikan belasan bola mata penduduk yang memantau pergerakannya di jalan raya, melangkah mundur menghindar bertindak selaku keputusan terbaik…… atau begitulah rencana awalnya sebelum anak itu menyodorkan kedua tangannya ke depan. Menyodorkan cakar tangannya lurus ke arah Bong-su.

Tepat satu zhang di depannya.

“Ini.”

“Benda apa sains ini?”

“Ini bunga jalanan, paman.”

Sebongkah bunga. Benda itulah yang digenggam erat oleh cakar tangan kecil anak tersebut seutuhnya kelak. Sebutir kelopak bunga kuning yang bentuk rupanya menyerupai **Bunga Forsythia (Forsythia / Gaenari)** di dunia lamanya. Meskipun Bong-su sudah mendeteksi aroma wangi bunga tersebut sejak awal melalui Qi Sense-nya, dia menolak menyangka anak itu benar-benar bersikeras menyerahkan sekuntum bunga padanya seutuhnya kelak.

“Mengapa wadah jiwamu menyerahkan benda konyol selevel ini pada jasad tuaku, hah?”

“Murni mementaskan hasratku saja seutuhnya kelak.”

“……”

“Bunga-bunga jalanan akhirnya diperkenankan mekar secara rapi di kota River Capital saat ini. Ini bertindak selaku momen pertama kalinya sepanjang hidup jasad tuaku menyaksikan kelopak bunga mekar tanpa hancur diinjak-injak cakar sepatu pendekar tawuran seutuhnya kelak ditelan lantai.”

“……”

Anak kecil itu merapat maju selangkah lagi, menjejalkan tangkai bunga forsythia kuning tersebut ke dalam genggaman telapak tangan Dong Bong-su sebelum membalikkan badannya melangkah pergi terburu-buru.

“Wadah jiwamu menolak terdeteksi bertindak selaku pendekar jahat di dalam bola mataku, paman. Meskipun sebenarnya……” Anak itu memelihara etiket lisan menolak menyelesaikan sisa kalimatnya seutuhnya kelak.

Apakah kalimat kepatuhan itu murni lahir dari ketulusan batinnya ataukah bagian dari sandiwara belaka, Bong-su menolak mempedulikannya secara sains.

*Mendeteksi kebenaran di balik kebohongan sandiwara, dan mendeteksi kebohongan di balik kebenaran sains. Serta di sisi lain, melabuhkan simpati pada kemunafikan yang manis, dan melabuhkan kebencian pada kekejaman yang jujur.*

Memang benar, itulah silsilah watak dasar dari makhluk bernama manusia fana.

Namun parameter sains yang berkali-kali lipat jauh lebih menarik sekali seutuhnya kelak adalah: fakta ilmiah membuktikan penggunaan selembar "topeng kepahlawanan" miliknya sanggup merubah total tatanan hukum kota River Capital seutuhnya. Merubah kota hingga ke tingkat di mana kelopak bunga jalanan diperkenankan mekar tanpa takut diinjak-injak pendekar bertarung, serta memicu sesosok anak yatim melabuhkan simpati keadilan pada sosok pembantai darah daging keluarganya sendiri seutuhnya kelak ditelan bumi.

*- Oleh karena itulah jasad tuaku nekat melayangkan pertanyaan lisan padamu seutuhnya kelak, Pahlawan Agung. Penayangan kota River Capital saat ini resmi memeluk status yang teramat sangat damai sekali seutuhnya kelak ditelan lantai.* Kalimat tanya Bae Dal-pae kembali terngiang di otaknya.

*- Pahlawan Agung, bukan, apa sebenarnya wujud dari target tujuan akhir didirikannya Sekte Pahlawan ini seutuhnya kelak, hah?* *- Wadah jiwamu sudah meluangkan waktu memantau pergerakan tubuhku sepanjang tiga bulan belakangan ini, namun otak asumu tetap menolak sanggup menyimpulkan jawabannya seutuhnya kelak, hah?* *- Tidak. Justru karena jasad tuaku mengetahuinya secara sains, makanya aku bersikeras bertanya seutuhnya kelak. Karena jasadmu tampak sedang merintis letusan perkara sains yang mustahil dicapai di persilatan.* *- ……* *- Namun setelah memantau perkembangan markasmu hingga hari ini, jasad tuaku mendeteksi teori kemustahilan itu bersiap secepatnya terhapus seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi.* *- ……* *- Apakah wadah jiwamu benar-benar memendam keyakinan sains sanggup mendirikan panji Keadilan tegak lurus di tengah rimba persilatan Jianghu keparat ini seutuhnya kelak ditelan bumi?* *- Tentu saja.* *- Wadah jiwamu terhitung teramat sangat polos sekali rupanya. Hehehe.*

Dong Bong-su sempat tertawa kecil di dalam batinnya kemarin siang menanggapi pujian polos tersebut. Dia menyetujui kesimpulan itu secara mutlak. Sesosok manusia bodoh yang teramat sangat polos sekali seutuhnya kelak ditelan bumi. Itulah wujud asli dari "Kim Rae-won" yang sesungguhnya di dalam penilaian sains jiwanya.

Sistem *What is Hero* ini diakui secara sains sangat praktis dan dinamis menyelaraskan diri dengan realitas dunia baru ketimbang program kerja *New Murim Online* terdahulu. Berkat kepraktisan sistem tersebut, dia diperkenankan meluncur memanfaatkan setiap keistimewaan program sesuai wewenang hasrat jiwanya sepuasnya seutuhnya kelak. Namun Kim Rae-won terdahulu justru menolak sanggup memanfaatkan keistimewaan sains tersebut sekelumit pun hingga menemui ajal kematiannya seutuhnya kelak ditelan lantai. Kim Rae-won bertindak selaku sosok manusia polos yang menolak memendam kelayakan hidup seumur hidup.

*- Mengapa jasad tuaku menolak diperkenankan memeluk status selaku manusia polos seutuhnya kelak, hah?* *- Tidak. Bukan ke arah sana maksud jasad tuaku seutuhnya kelak. Meskipun jasad tuaku, Bae Dal-pae, resmi dicap bertindak selaku pengemis perbatasan Jalan Barat River Capital, jasad tuaku setidaknya secara sah masih terdaftar menyandang status selaku murid dari aliansi Aliran Putih seutuhnya kelak ditelan bumi. Tentu saja, silsilah kinerja Sekte Pengemis Agung saat ini menolak lagi memendam kelayakan disamakan dengan Aliran Putih kemarin siang.* *- Lantas apa inti dari bualan asumu itu, hah?* *- Murni hanya…… jasad tuaku memendam hasrat ingin membagi keaktifan tekad jiwaku menyatu di bawah papan penunjuk jalan Keadilan milikmu seutuhnya kelak, Pahlawan Agung. Di dalam penilaian mataku sendiri, dimensi spasial sekacau kota River Capital ini memang teramat sangat menuntut kehadiran kedamaian seutuhnya kelak ditelan bumi.*

Damai. Sebuah kosa kata yang teramat sangat tenang dan memanusia sekali secara sains seutuhnya kelak ditelan bumi.

Kalimat Bae Dal-pae kemungkinan memendam kebenaran dari sudut pandang kemanusiaan fana. Namun sebagai konsekuensinya, bagi perkembangan status sesosok "Pahlawan sejati", kata damai bertindak selaku kosa kata yang teramat sangat menolak ramah sekali seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi. Sesosok pahlawan sejati menolak pernah menuntut kehadiran masa damai seumur hidup seutuhnya kelak.

Berdasarkan kelogisan sains sistem kepahlawanan, kejayaan sesosok pahlawan secara mutlak menuntut kehadiran silsilah kekacauan, ketidakadilan, perang pertumpahan darah, serta tragedi kemanusiaan yang melimpah ruah seutuhnya kelak ditelan bumi. Masa damai, secara mendasar bertindak selaku musuh bebuyutan utama bagi kelangsungan hidup pahlawan seutuhnya. Musuh alami (*natural enemy*).

Jika kota River Capital saat ini telah sepenuhnya memeluk status damai, maka kota perbatasan ini menolak lagi memendam nominal kegunaan bertindak selaku area berburu poin pengalaman (*experience*) bagi jiwanya seutuhnya kelak ditelan lantai. Karena sesosok pahlawan sejati bertindak selaku entitas yang wajib meminum uap darah merah segar pekat demi membesarkan kapasitas status kekuatannya seutuhnya kelak ditelan bumi. Terlebih bagi sesosok pahlawan bertopeng sepertinya.

Tepat pada milidetik inilah, Dong Bong-su menyadari kebenaran sains tersebut secara mutlak seutuhnya kelak. Perkara ini sejajar dengan kondisi saat dirinya melumat habis seisi kekuatan Perkumpulan Ular Biru kemarin siang. Dan sebagai penutup, Bae Dal-pae menyodorkan kalimat kunci yang sangat memuaskan sekali bagi jiwanya:

*- Namun paman.* Dong Bong-su memanggil kembali ingatan kalimat penutup Bae Dal-pae kemarin siang seutuhnya kelak. *- Di luar tapal batas dinding kota River Capital ini, seisi seluruh rimba persilatan Jianghu kekaisaran Zhengzhou masih tetap memelihara hukum rimba pembantaian yang sama seutuhnya kelak ditelan bumi.*

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar