**Bab 192. Sekte Pahlawan (8)**
***
Bae Dal-pae menyunggingkan senyuman lebar padanya. Sebuah senyuman ramah yang tulus, jenis ekspresi emosional yang teramat sangat jarang sekali ditunjukkan oleh jasad Dong Bong-su sendiri seumur hidup.
“Seperti yang wadah jiwamu ketahui dengan sangat baik secara sains, peradaban Jianghu saat ini telah sepenuhnya membusuk seutuhnya kelak.”
*Grin.*
Mendengar kalimat Bae Dal-pae, barisan gigi putih bersih Dong Bong-su tampak berkilau di kegelapan. Itu bertindak selaku penayangan ekspresi kepahlawanan yang sangat alami sekali, namun memendam insting pembantai yang tegap di baliknya seutuhnya kelak.
“Bukankah bertindak selaku hukum sains yang wajar jika luka pembusukan raksasa bersiap secepatnya dipenuhi oleh uap nanah kotor, ulat, dan jajaran belatung sampah persilatan, hah?”
“Seberapa parah nominal kerusakannya?” tanya Bong-su. Kalimat tanya yang terhitung sangat khas sekali dari mulut jasad Dong Bong-su seutuhnya.
“Sudah menyentuh tingkat darurat yang menuntut kehadiran sesosok **Tabib Agung (Great Physician)** seutuhnya kelak ditelan bumi.”
Itulah jawaban yang memang ingin didengar oleh Dantian Dong Bong-su. Sesosok pahlawan sejati pada dasarnya memendam peran sains yang sejajar dengan tabib pengobat luka. Satu-satunya perbedaan murni baru sebatas metode terapi pembantaian yang mereka terapkan di lapangan seutuhnya kelak.
“Kalau begitu, haruskah jasad tuaku melangkah keluar tapal batas kota sekarang seutuhnya kelak?”
*Tring~*
`[Sistem: Sebuah permintaan tugas resmi telah masuk ke Sekte Pahlawan seutuhnya.]`
Dong Bong-su memeriksa kembali bagan misi yang baru diperolehnya dari sesi tanya jawab lisan dengan Bae Dal-pae tadi:
`[Misi Sekte: Permintaan Pertama (First Request)]` - Dewi Takdir resmi memerintahkan wadah jiwamu memimpin sebuah kelompok sekte persilatan baru. - Hal tersebut bertindak selaku takdir kepahlawanan jiwamu seutuhnya kelak. - Kini, tugas misi pertama resmi disodorkan ke pundakmu beserta seisi seluruh pengikut sektemu seutuhnya kelak ditelan bumi. - Ini bertindak selaku resep terapi pengobatan pertama yang bersiap kau tunjukkan menyapu rimba persilatan Jianghu ini seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi. - Tugas: Bubarkan **Aliansi Bandit (Bandit Alliance)** seutuhnya. - Progress: 0% - Hadiah: Sejarah Kepahlawanan +1, Kepercayaan Batin Bae Dal-pae sedikit meningkat seutuhnya.
Aliansi Bandit.
Berdasarkan penjelasan ilmiah dari Bae Dal-pae tadi, aliansi tersebut bertindak selaku kelompok gabungan dari seisi seluruh bandit penguasa area sekitar **Danau Berwarna (Chae-sa-ho / Colorful Lake)** yang sebelumnya luput dari sapuan cakar pembantaian Bong-su saat melangkah menuju kota River Capital beberapa bulan lalu. Menolak didokumentasikan mangsa buruan yang jauh lebih cocok selain mereka guna menutup rantai target pembersihan pertamanya seutuhnya kelak.
Dong Bong-su mengangkat sebutir kelopak bunga forsythia kuning di genggaman tangannya. Sebuah cakar tangan kasar yang sudah berulang kali disirami uap darah merah segar, mengering, dibasuh air bersih, disiram darah kembali, lalu dilap bersih—sebuah tangan pembunuh yang menumpuk luka, sembuh, meneteskan darah, lalu sembuh kembali selama kurun waktu ratusan pertempuran.
Begitu memutar posisi telapak tangannya berulang kali memindai kulitnya, dia melihat tangannya saat ini dalam kondisi sangat bersih sekali secara sains. Baru setelah kepastian kebersihan itu dikunci, kelopak bunga forsythia kuning tersebut diperkenankan masuk menyelinap di bawah jangkauan matanya seutuhnya kelak.
Memang benar, saat ini tangannya murni hanya menggenggam kelopak bunga jalanan biasa seutuhnya kelak. Urusan yang menuntut penanganan secepatnya pada milidetik ini……
Sesaat kemudian. Dia melangkah keluar meninggalkan gerbang kota River Capital dengan tangan kosong seutuhnya kelak.
Pada hari bersejarah itulah, sebutir bunga forsythia kuning kecil resmi tertanam kokoh di sudut gang pasar kota River Capital, menolak diizinkan untuk diinjak-injak kaki manusia fana kembali seumur hidup.
---
Aliansi Bandit.
Jajaran tumpukan sampah kotor yang menghuni Danau Berwarna—yang silsilah hubungannya biasanya menolak akur menyalin minyak dan air—akhirnya resmi bersatu membentuk aliansi rahasia. Alasan sains di balik bersatunya mereka menolak bertindak selaku urusan yang rumit. Mereka murni terpaksa membentuk aliansi karena sadar jika menolak bersatu, seisi seluruh jasad mereka bersiap secepatnya tewas terbantai tanpa sisa seutuhnya kelak ditelan bumi.
Dalam kondisi normal, kehidupan jajaran bandit Danau Berwarna terhitung teramat sangat damai sekali menyapu hari. Mereka murni menyantap makanan sisa yang dibuang oleh faksi raksasa kota River Capital, merampas kereta barang biro pengawal (*escort agencies*) yang melintas lengah di sepanjang jalan raya, serta melangsungkan sesi perampokan, penjarahan harta, dan pemerkosaan liar pada jajaran penduduk nomaden perbatasan Yan Utara yang menolak jauh dari kediaman mereka seutuhnya kelak.
Itu benar-benar masa-masa indah yang teramat sangat damai sekali bagi mereka……
Hingga pada suatu hari, sesosok meteor pembantai mendadak jatuh menyapu wilayah mereka, melumat habis seisi masa damai tersebut menjadi abu halus seutuhnya kelak.
Saat markas **Benteng Kuncup Prem** pertama kali musnah tanpa sisa dari peta kekuatan, jajaran bandit murni mengira kejadian tragis itu bertindak selaku nasib buruk akibat jatuhnya meteor bumi belaka. Namun seiring bergesernya hari, jumlah markas yang musnah melonjak menjadi dua, dua menjadi empat, dan empat meletus menjadi delapan markas sekaligus seutuhnya kelak ditelan bumi.
Hingga akhirnya.
Di antara nama-nama faksi raksasa berjuluk *Sepuluh Gunung, Dua Belas Air, dan Dua Puluh Empat Kuda* yang memegang kedaulatan atas seisi wilayah sekitar Danau Berwarna, total dua belas markas bandit gunung, bandit air, dan bandit berkuda dilaporkan runtuh rata dengan tanah dalam waktu singkat.
Tebasan dua belas dari total empat puluh enam markas pertahanan Danau Berwarna.
Meskipun dalam catatan persilatan kemarin didokumentasikan satu atau dua markas yang hancur terhapus akibat konflik internal perebutan wilayah, menolak pernah didokumentasikan sejarah di mana dua belas markas besar rata dengan tanah dalam tempo yang teramat sangat singkat sekali seutuhnya kelak.
Awalnya didokumentasikan kebingungan sains menyangkut identitas pelaku pembantaian. Mereka murni bersikeras meyakini meteor bumi yang jatuh kemarin menolak memendam sifat biasa. Namun toh, kebenaran sains segera meletus terpampang nyata bahwa meteor yang melumat mereka menolak lain bertindak selaku zirah fisik dari satu orang pendekar saja—berpasangan catatan musnahnya seisi seluruh markas bandit yang dilewati sepanjang jalur perjalanannya seutuhnya kelak ditelan bumi.
Koordinat akhir dari rute perjalanan meteor pembantai tersebut terpampang sangat jelas sekali seutuhnya: kota tanpa hukum River Capital.
Mendengar hal itu, jajaran bandit Danau Berwarna sempat menarik napas lega. Karena siapapun identitas pendekar pembantai tersebut, sesaat setelah melangkah kaki memasuki kota River Capital, dia menolak bersiap diperkenankan merajalela sesuka hatinya seumur hidup. Dia dipasangkan secepatnya tewas lumat di dalam kota atau terpaksa menyembunyikan cakar kekuatannya seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi.
Namun.
Rumor intelijen berikutnya yang meluncur keluar dari gerbang kota menyapu bersih seluruh keyakinan batin mereka menjadi serpihan debu cemas.
*- Kota River Capital telah resmi diratakan seutuhnya kelak!*
Sebuah laporan sains yang teramat sangat mustahil sekali meletus di bawah langit perbatasan. Terlebih lagi, runtunan cerita maut yang merembes keluar dari gerbang kota membuat sekujur tubuh jajaran bandit gemetar ketakutan setengah mati menusuk jiwa:
*- Sesosok pendekar bernama Kim Rae-won dilaporkan sukses menyapu bersih seisi seluruh Jalan Timur dan Jalan Barat kota River Capital hanya dalam kurun waktu satu malam saja seutuhnya kelak!* *- Ketua Sekte Pahlawan, Kim Rae-won, resmi melangsungkan sesi kerja sama militer dengan dinas prefektur kekaisaran guna melumat habis seisi seluruh kejahatan di River Capital seutuhnya kelak ditelan bumi!*
Kosongnya kontrol keamanan dan kekacauan hukum yang selama ini dipelihara di River Capital bertindak selaku pilar utama kelangsungan hidup jajaran bandit Danau Berwarna. Mendengar rumor pembersihan total tersebut menyapu kota tak ubahnya menyalin suara sambaran petir di siang bolong bagi telinga mereka.
Baru saat itulah, seisi seluruh bandit Danau Berwarna menyadari kebenaran sains secara mutlak: selama pendekar bernama Kim Rae-won itu masih memelihara keaktifan napas hidupnya di kota perbatasan, seisi masa damai mereka menolak bersiap pernah kembali seumur hidup seutuhnya kelak ditelan bumi.
Karena alasan itulah, aliansi rahasia ini resmi didirikan.
Sebuah aliansi pertahanan raksasa berjuluk **Aliansi Bandit (Bandit Alliance)**, yang memadatkan gabungan kekuatan tempur dari total tiga puluh empat markas bandit gunung, bandit air, dan bandit berkuda—empat puluh enam dikurangi dua belas markas yang musnah—resmi bersatu demi menjaga perdamaian sisa umur mereka seutuhnya kelak. Berpasangan kepemilikan senjata rahasia tingkat tinggi yang mereka persiapkan di lapangan seutuhnya kelak.
---
Aura ketegangan yang sepenuhnya berbeda dari kemarin siang tampak menyelimuti seisi udara di sekeliling Danau Berwarna. Ini menolak sekadar tatapan mata memerah menahan amarah biasa; melainkan getaran tekad bertarung yang teramat sangat pekat sekali menyelimuti jasad puluhan ribu bandit, serupa dengan aura pasukan militer kekaisaran yang bersiap menyongsong perang hidup dan mati.
Embun perang.
Hawa membunuh yang teramat sangat pekat—jenis Qi es yang biasa terdeteksi di atas medan perang pembantaian puluhan ribu prajurit—mengalir deras menyelimuti cakar senjata yang digenggam erat oleh jajaran bandit Danau Berwarna.
Tombak, kapak, gada besi, pedang lebar, busur panah, dan sejenisnya seutuhnya kelak ditelan bumi.
“Baguslah. Dengan persiapan formasi tempur selevel ini, jasad monster bajingan itu menolak bersiap berani merobos masuk secara sembarangan seutuhnya kelak ditelan bumi……” gumam Ketua Alansi Bandit, Ketua Benteng **Heo Tang-hyang (Heo Tang-hyang)** dari **Benteng Raja Akhirat (Underworld King Fortress / Myeong-wang-chae)**, pelan dari puncak bukit batu memantau barisan pasukannya di bawah.
“Apakah jajaran **Master Formasi (Formation Masters / Jin-bup-sa)** sudah menempati koordinat pos masing-masing seutuhnya kelak?” tanya Heo Tang-hyang.
Mendengar pertanyaan Ketua Aliansi, sesosok Pelindung Utama Aliansi yang berdiri tegak di sebelahnya—Ketua Benteng **Ak Sa-bi (Ak Sa-bi)** dari **Benteng Air Taring Serigala (Wolf Fang Water Fortress / Rang-a-su-chae)**—menganggukkan kepalanya tegap. “Jasad mereka sudah menempati pos pertahanan 100% seutuhnya kelak.”
Jajaran Master Formasi atau ahli perumus formasi spiritual.
Nominal kuantitas jasad mereka di persilatan memang secara alamiah menolak melimpah ruah. Jika silsilah kekuatan beladiri biasa diperkenankan dilatih menggunakan ketekunan fisik jasad, maka urusan memahami delapan penjuru arah formasi spiritual secara sains menuntut restu berkah alami dari garis Yin-Yang dan Lima Unsur sejak lahir seutuhnya kelak ditelan bumi.
Oleh karena itu, ahli formasi bertindak selaku jajaran pendekar yang melangkah kaki memasuki dimensi spasial yang menolak dipahami akal sehat, memendam arah jalan hidup yang sepenuhnya berbeda dari kategori master beladiri biasa maupun jajaran kultivator dewa seutuhnya. Dalam kosa kata persilatan biasa, jasad mereka terhitung sangat langka sekali dan memendam nominal nilai taktis yang teramat sangat raksasa sekali di pertempuran, berpasangan tarif sewa jasa yang menolak terukur murahnya.
Namun toh. Sekaya apa pun tarif sewa jasa mereka secara sains, nominalnya tetap bersiap secepatnya bernilai jauh lebih murah sekali ketimbang nominal tebusan satu nyawa jasad seutuhnya kelak ditelan lantai.
Guna mengantisipasi serbuan mendadak dari Sekte Pahlawan, Aliansi Bandit rela menguras seisi tabungan perak yang dikumpulkan sepanjang masa damai mereka murni untuk menyewa puluhan Master Formasi bayaran dari **Menara Formasi (Formation Tower / Jin-tap)** sebagai bala bantuan di lapangan seutuhnya kelak.
“Namun paman. Seandainya jika bajingan itu menolak kunjung menampakkan batangnya di tempat ini, bukankah seluruh persiapan sains kita saat ini bersiap secepatnya menjadi kesia-siaan belaka seutuhnya kelak ditelan bumi?” Ak Sa-bi memiringkan kepalanya ragu.
Heo Tang-hyang membalikkan wajahnya menatap tajam Ak Sa-bi. “Perkara sains selevel itu menolak bersiap meletus seumur hidup seutuhnya kelak.”
“Dasar hukum sains apa yang membuatmu seyakin itu, hah?”
“Jasad tuaku sudah mengirimkan mata-mata khusus menyusup ke kota River Capital beberapa hari lalu,” jawab Heo Tang-hyang datar sebelum kembali melayangkan jangkauan matanya menatap ke arah koordinat kota. “Kondisi kota perbatasan itu saat ini menolak lagi sama dengan kota yang kita kenal dulu seutuhnya kelak ditelan bumi.”
“Lantas?”
“Laporan mata-mata menegaskan: suasana kota terlalu sunyi terkendali seutuhnya.”
“Sunyi? Apa nominal masalah sains yang terkandung di balik kata sunyi itu, hah?”
“Itulah masalah terbesarnya! Sejak kapan sejarah kota River Capital diperkenankan memeluk status sunyi, hah?”
“……”
“Murni karena kota River Capital selalu bising oleh pertarungan rimba di masa lalu, jasad kita diperkenankan melahap makanan sisa mereka secara damai seutuhnya kelak.” Heo Tang-hyang menyodorkan kesimpulan sainsnya tegap. “Jika kota River Capital saat ini telah sukses mengunci stabilitas keamanan mutlak, menurut otak asumu siapa target sasaran pembersihan mereka berikutnya, hah?”
Dia menolak menuntut penyelesaian kalimat tersebut secara lisan karena seisi kepala pemimpin benteng di sekelilingnya sudah memadat jawaban sainsnya seutuhnya kelak. Setelah target River Capital rampung dibersihkan, maka sasaran berikutnya dipasangkan secara mutlak tertuju pada Danau Berwarna ini seutuhnya kelak ditelan bumi.
Meskipun obrolan tadi murni meletus di antara Heo Tang-hyang dan Ak Sa-bi, puluhan ketua benteng lainnya yang berjaga di dekat mereka menolak sanggup menyangkal kelogisan argumen tersebut. Danau Berwarna, dimensi spasial di mana puluhan markas bandit gunung, bandit air, dan bandit berkuda berkumpul padat layaknya sarang semut bumi, dipasangkan secara mutlak bersiap secepatnya bertindak selaku koordinat perburuan berikutnya bagi Sekte Pahlawan. Mengenakan kapan waktu kedatangan pendekar keparat itu menapakkan kakinya, keyakinan batin menyangkut serbuan itu telah terkunci rapat di dalam batin seluruh bandit seutuhnya kelak ditelan bumi.
Setelah obrolan penting tersebut berakhir, menolak didokumentasikan lagi suara lisan yang terdengar berkumandang di puncak bukit batu. Murni hanya kepakan sayap burung gagak berpasangan rona mendung yang menekan seisi udara Danau Berwarna seutuhnya kelak.
Hingga pada suatu milidetik.
*Argh!*
Sebuah jeritan maut yang teramat sangat pendek sekali meletus membelah keheningan di gerbang masuk puncak barat daya. Koordinat spasial di mana pasukan **Kelompok Bandit Berkuda Mamama (Mamama Horse Bandit Group / Ma-ma-ma-ma-jeok-dan)** ditempatkan bersiaga seutuhnya kelak ditelan bumi.
“Mereka datang! Bajingan Sekte Pahlawan benar-benar telah meluncur menapakkan kakinya di sini seutuhnya kelak!” “Serang! Hentikan bualan asumu dan segera gunakan senjata kalian membantai mereka, orang-orang bodoh!” “Bantai mereka seadanya semata seumur hidup!” “Bajingan keparat itu ada di depan!”
Regu bandit yang sejak tadi menahan napas ketakutan seketika meletuskan teriakan perang mereka secara serentak menyambut milidetik yang dinanti ini. Menolak mempedulikan apakah mereka bersekutu di bawah kategori pertahanan darat, air, atau berkuda; di seisi seluruh penjuru Danau Berwarna, getaran hawa bertarung yang teramat sangat panas sekali meletus membumbung tinggi ke langit berpasangan kepulan debu tanah dan semburan air danau yang pekat.
Meskipun menolak didokumentasikan kejelasan sains menyangkut nominal kuantitas pasukan Sekte Pahlawan yang dikirim menyerbu, kehadiran musuh telah terdeteksi nyata seutuhnya kelak. Demi menjaga kelangsungan sisa umur jiwanya, seisi seluruh bandit wajib meluncurkan segenap kapasitas kekuatan tempurnya melumat musuh seutuhnya kelak ditelan bumi.
“Uwooo!” “Bantai mereka tanpa sisa seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi!” “Mampuslah kau, pendekar keparat!” “Berapa orang prajurit yang dikirim menyerbu? Berapa nominalnya, bajingan keparat!” “Bagi jajaran perempuan jalang sekte mereka, jasad tuaku bersiap merobek selangkangan mereka seutuhnya! Berpasangan jajaran pria, aku bersiap meremukkan biji kemaluan mereka hingga lumat seutuhnya kelak ditelan lantai!”
Jajaran bandit yang menyemburkan ribuan kalimat sumpah serapah kotor meletus merangsek maju menyalin banjir bandang menuju koordinat asal jeritan maut pertama tadi. Aliansi Bandit telah menguras habis seisi tabungan kekuatan tempur mereka di tempat ini, sehingga kekalahan satu kali saja di medan tempur malam ini bersiap secepatnya melumat habis silsilah eksistensi mereka seutuhnya kelak ditelan bumi. Puncak Danau Berwarna wajib dijadikan sebagai kuburan massal bagi Sekte Pahlawan seutuhnya kelak ditelan lantai.
*Boom!*
Sebuah ledakan Qi yang teramat sangat dahsyat sekali meletus menghancurkan barisan kuda Kelompok Bandit Berkuda Mamama yang sedang berputar meluncurkan formasi pengepungan seutuhnya kelak ditelan bumi.
Seluruh pendekar di medan pertempuran seketika mendeteksi adanya kejanggalan sains. Daya hancur ledakan barusan menolak memendam kelayakan disamakan dengan silsilah jurus *Qi Wave* biasa seumur hidup seutuhnya kelak. Jurus cakar apa sebenarnya itu, hah?
Sebelum kepala mereka sempat merumuskan jawaban ilmiahnya, ledakan kedua dan ketiga dilaporkan meletus berurutan tanpa jeda seutuhnya kelak ditelan bumi.
*Boom! Boom!*
Koordinat ledakan berikutnya menolak bertempat di gerbang masuk tempat Kelompok Bandit Berkuda Mamama bersiaga tadi seutuhnya. Ledakan kedua dilaporkan meletus tepat di tengah bukit batu, sedangkan ledakan ketiga meletus tepat di bawah puncak bukit utama.
Apakah jajaran pendekar Sekte Pahlawan sukses melangsungkan sesi penyusupan rahasia dan meletuskan serangan sabotase secara serentak di berbagai koordinat, hah? Menolak didokumentasikan kepastian data sains menyangkut perkara itu seutuhnya kelak. Namun rentetan ledakan dahsyat saat ini telah resmi melumat berbagai sudut pos pertempuran mereka seutuhnya kelak ditelan bumi.
*Boom! Boom! Bang! Krek!*
Meskipun melodi ledakan yang berkumandang di udara memendam ragam bunyi yang berbeda, hasil akhir kerusakan fisiknya tercatat sama persis seutuhnya secara sains. Setiap jajaran pos pertahanan berhasil ditembus paksa, menyapu bersih seisi seluruh alur taktis pertempuran Aliansi Bandit menjadi kekacauan total seutuhnya kelak ditelan bumi. Meskipun mereka telah meluangkan waktu berhari-hari menyusun sistem pertahanan di sekeliling Danau Berwarna, rajah formasi spiritual mereka runtuh berhamburan dalam sekali sapuan saja seutuhnya kelak.
Aliansi Bandit menolak memendam kapasitas sains sedikit pun untuk merespon maupun meluncurkan serangan balasan taktis seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi.
“Serang! Serang! Cepat gunakan senjata kalian membantai pendekar keparat itu, jajaran manusia bodoh!” teriak Heo Tang-hyang lantang mengeluarkan komando tempur, namun silsilah alur pertempuran meluncur memihak kekalahan mereka dengan akselerasi yang menolak wajar seutuhnya kelak.
“Formasi spiritual! Apa yang terjadi pada rajah formasi kita, hah?! Apa pekerjaan sains yang diselesaikan jajaran Master Formasi bayaran itu, bajingan keparat!” teriak Heo Tang-hyang geram melihat rajah pertahanan mulai dari Kelompok Bandit Berkuda Mamama, **Benteng Hutan Hijau (Green Forest Fortress / Nok-rim-chae)**, **Regu Angin Darah Danau (Blood Wind Lake Squad / Hyeol-pung-ho-dae)**, **Kelompok Bandit Cakar Hitam (Dark Claw Bandit Group / Heuk-jo-jeok-dan)**, **Benteng Bandit Air Mengalir (Flowing Water Bandit Fortress / Yu-su-su-chae)**, hingga **Benteng Warna Malam Rembulan (Moonlit Night Colorful Fortress / Ya-wol-chae)** dilaporkan hancur lebur tanpa sisa seutuhnya kelak ditelan bumi.
Serta. Baru detik inilah, kelopak mata Heo Tang-hyang mendeteksi kebenaran sains yang sesungguhnya seutuhnya kelak ditelan bumi.
Musuh yang merontokkan pertahanan puluhan ribu pasukan mereka murni baru sebatas **satu orang pendekar saja seutuhnya kelak**.
Sesosok raga pemuda misterius tampak merangsek membelah inescaple net pertahanan yang dibangun Aliansi Bandit dengan sangat mudah sekali seutuhnya kelak ditelan bumi. Dia melangsungkan sesi pembantaian massal secara acak tanpa aturan beladiri yang lazim seutuhnya kelak ditelan bumi.
**Pasukan Bandit Berkuda Empat Jiwa (Four Souls Horse Bandit Army / Sa-hon-ma-byeong-dan)** sempat meluncurkan formasi tusukan tombak berkuda menyerbu ke arahnya, namun di milidetik raga mereka merapat mendekati tubuh pemuda itu, seisi zirah fisik beserta kuda tunggangan mereka meletus hancur berubah menjadi butiran abu hitam berserakan di udara seutuhnya kelak. Pasukan berkuda yang sebelumnya mereka banggakan sanggup menghentikan langkah Ketua dari Sepuluh Sekte Besar sekalipun kini telah hancur lebur menyalin kertas mainan ditelan cakar tangannya seutuhnya kelak ditelan lantai.
Menolak didokumentasikan kapasitas sains sedikit pun yang diperkenankan mereka lakukan guna menahan serbuan dewa kematian tersebut seutuhnya kelak.
“……”
Menolak didokumentasikan lagi kosa kata lisan yang sanggup dilafalkan oleh mulut Heo Tang-hyang seutuhnya kelak ditelan bumi. Dia murni hanya diperkenankan meluangkan pandangan matanya menyaksikan keaktifan masa damai dan kelangsungan hidup aliansinya runtuh lebur menjadi puing dalam sekejap mata seutuhnya kelak.
Nominal rasa tidak berdaya yang teramat sangat raksasa sekali—jenis emosi kelemahan fisik yang menolak pernah dia rasakan sepanjang sisa umur hidupnya—mendominasi seisi pembuluh darah raganya secara mutlak seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi.
Tepat di saat itu, sesosok bayangan semu mendadak meletus terpampang nyata tepat di depan kelopak sepasang bola matanya seutuhnya kelak.
Itu bertindak selaku bayangan raga Dong Bong-su seutuhnya.
*Boom!*
Sebuah ledakan Qi berukuran sangat pendek meletus menghantam kepalanya. Dalam pecahan milidetik itu pula, silsilah kesadaran jiwanya resmi terhapus habis steril dari ingatan seutuhnya kelak ditelan bumi.
Aliansi Bandit sejak awal murni hanya memelihara keaktifan ilusi batin belaka seutuhnya kelak ditelan bumi. Berpikir bahwa dengan cara membangun tanggul pertahanan yang kokoh, menggali parit jebakan yang dalam, serta mendirikan benteng kayu yang tebal, jasad mereka sanggup membendung amukan badai topan seutuhnya kelak ditelan bumi.
Namun amukan badai topan murni hanya melintas menembus rintangan tanah tanpa mempedulikan aturan pertahanan seutuhnya kelak ditelan lantai aliansi. Urusan kalimat tanya, jawaban ilmiah, maupun jajaran percakapan moral menolak memendam nominal kegunaan sekelumit pun di hadapannya.
Terlebih lagi di saat badai topan pembantai tersebut memendam nama resmi bertindak selaku Dong Bong-su seutuhnya kelak ditelan bumi.
Bencana alam raksasa bernama Dong Bong-su resmi menyapu seisi wilayah sekitar Danau Berwarna secara merata tanpa menyisakan secuil pun pertahanan hidup seutuhnya kelak ditelan bumi melintasi batas langit. Dalam sekejap mata saja……


