Murim Psychopath

Chapter 84

2458 Kata

**Bab 84. Binatang Spiritual**

***

Kemungkinan besar karena ia telah berhadapan langsung dengan makhluk tersebut dari jarak dekat.

Meski demikian, sistem game secara resmi mendeteksi serigala raksasa Kaiji yang ditunggangi oleh Mamorota sebagai sesosok `[binatang spiritual]` (spiritual beast).

Sebuah quest sistem yang sangat unik yang berhasil diperoleh dari sela situasi yang juga sangat unik.

Jendela notifikasi quest tampak berkedip-kedip di udara, seolah mendesak otaknya untuk segera membuka menu tersebut. Pandangan mata Dong Bong-su sempat beralih sejenak menatap ke arah jendela notifikasi tersebut.

Dan tepat di saat jeda fokus itulah.

“Hyaaa!”

Secara mendadak, gada besi besar di tangan Mamorota mulai berputar kencang menyerupai gasing. Itu merupakan sejenis teknik bela diri luar biasa bernama `[Great Power Dominating Rotation]` (Putaran Mendominasi Kekuatan Besar), di mana ia melepaskan riak energi golok murni dari telapak tangannya untuk menambahkan akselerasi daya putar pada gada besinya.

*Wusss—!*

Tekanan angin putar yang sangat dahsyat yang dihasilkan oleh gada besi tersebut seketika mementalkan posisi tubuh Dong Bong-su ke arah belakang.

Mamorota dengan sangat sigap langsung menyergap celah pertahanan kosong tersebut!

*Brak!*

Ia menghantamkan gadanya, menghancurkan pasak kayu penarik dari satu-satunya unit mesin *trebuchet* tersisa yang sejak tadi dilindungi setengah mati oleh Dong Bong-su.

Sama sekali tidak ada celah bagi Dong Bong-su untuk menangkis hantaman tersebut. Ia belum pernah menyaksikan, bahkan belum pernah membayangkan adanya teknik bela diri yang mampu memutar senjata berat menyerupai gasing seperti itu. Tentu saja, kesalahan fatal terbesar dari sisinya adalah karena ia sempat mengalihkan pandangan matanya dari arah musuh yang tangguh meskipun hanya selama sepersekian detik di saat senjata mereka sedang saling mengunci tadi.

‘Rangkaian pertempuran ini memang sangat menyenangkan. Persis seperti analisaku.’

Kapan kiranya ia akan mampu melihat batas akhir dari khazanah seni bela diri dunia ini?

Tempat perbatasan ini diakui sebagai dunia padang rumput yang dipenuhi oleh kawanan binatang buas tanpa batas, ujung terluar dari wilayah kekaisaran Dataran Tengah. Lalu seberapa banyaknya pendekar monster yang jauh lebih unik yang saat ini sedang tinggal bersiap di area jantung pertahanan Dataran Tengah yang sesungguhnya?

Meskipun pasak pelontar dari unit mesin *trebuchet* terakhirnya telah hancur berantakan dihantam musuh, Dong Bong-su justru menarik sudut bibirnya tipis membentuk senyuman gembira. Baru kemudian ia menutup paksa tampilan jendela quest yang berkedip di kepalanya.

Status binatang spiritual tersebut terikat pada diri Kaiji. Bukan pada diri Mamorota.

Perkara menyelesaikan quest binatang spiritual tersebut bisa ia pikirkan kembali setelah ia selesai melenyapkan nyawa Mamorota terlebih dahulu. Terlebih lagi, prioritas utamanya saat ini adalah menyelamatkan eksistensi dari satu unit *trebuchet* terakhirnya.

Dong Bong-su menyelaraskan genggaman tangannya pada gagang pedang *Wanderer's Sword* secara alami. Kini, menggenggam pedang dirasa jauh lebih alami bagi fisiknya dibandingkan dengan aktivitas memegang sendok maupun sumpit makan. Sebuah pergerakan fisik yang mengalir sangat alami seolah-olah bilah pedang tersebut merupakan perpanjangan dari lengannya sendiri.

*Wusss—!*

Mamorota kembali memutar gada besi besarnya dan mengayunkannya kencang ke arah konstruksi mesin *trebuchet* terakhir. Kali ini, titik bidik sasarannya diarahkan secara presisi ke arah tiang penyangga utama yang menopang seluruh konstruksi mesin kepung tersebut. Jika tiang penyangga tersebut sampai runtuh, mesin *trebuchet* secara otomatis dipastikan akan kehilangan fungsinya secara permanen.

*Sret!*

Dong Bong-su mengaktifkan keahlian `[Lightness Skill Lv. 8]` sistemnya dan meluncur melesat ke arah posisi Mamorota layaknya anak peluru yang ditembakkan.

“……!”

Sepasang mata Mamorota yang tadinya melotot lebar tampak terbuka semakin lebar akibat terkejut. Kecepatan meluncur yang ditunjukkan oleh Dong Bong-su saat menerjang areanya tercatat jauh lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan awalnya baru saja. Sebuah akselerasi kecepatan yang luar biasa dahsyat tanpa didahului oleh gerakan persiapan fisik sedikit pun. Mamorota kesulitan memahami logika pergerakan tersebut, bahkan ia tidak mampu membayangkan metode latihan apa yang bisa menghasilkan kelincahan ekstrem setingkat itu.

Ia buru-buru menarik kembali gada besi besarnya yang sudah hampir menyentuh tiang penyangga mesin. Namun posisi tubuhnya sudah terlanjur meluncur maju, membuat usahanya menarik kembali jurus gadanya terasa sangat terlambat.

Meskipun gada besinya tetap meluncur menghantam tiang penyangga dengan menyisakan sisa momentum daya putar tadi, sebagai gantinya Mamorota terbukti tidak memiliki celah untuk bisa menarik mundur posisi tubuhnya secara utuh dari hadapan Dong Bong-su.

Sebuah situasi kritis!

Merasakan bahaya maut, posisi tubuh Mamorota meluncur jatuh ke belakang dan dengan sangat tipis berhasil menghindari tebasan pedang Dong Bong-su.

*Hah, hah……*

Adalah Kaiji, serigala raksasa yang pergerakannya telah menyatu secara utuh dengan pergerakan Mamorota, yang berinisiatif menarik mundur posisi tubuh mereka dari terkaman pedang Dong Bong-su di saat kritis tadi. Jika bukan karena kelincahan insting serigalanya, Mamorota dipastikan sudah tewas tertusuk tebasan pedang Dong Bong-su saat itu juga.

‘Sangat tipis. Namun sekarang seluruh mesin *trebuchet* mereka sudah resmi hancur terbakar……!’

Meskipun nyawanya sempat berada dalam bahaya maut, ia setidaknya berhasil menyukseskan target penyerangan mereka. Hanya kesimpulan itulah yang paling ia yakini di kepalanya saat ini.

Namun!

Gada besi besar miliknya yang meluncur deras dengan sisa daya putarnya tadi ternyata menghantam area tanah kosong yang sepenuhnya kosong. Awalnya, berdasarkan kalkulasi lintasan gadanya, tiang penyangga utama mesin *trebuchet* tersebut seharusnya sudah hancur terbelah menjadi dua bagian saat ini……!

“……!”

*Brak—!*

Gada besi besarnya menebas “udara kosong” dan justru meluncur menghantam tubuh lima hingga enam orang pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu di sekitarnya hingga hancur menjadi bubur daging.

“L-Lenyap!?”

Benar. Persis seperti teriakan heran Mamorota, unit mesin *trebuchet* raksasa di depannya secara misterius menguap lenyap sesaat sebelum gada besi besarnya sempat menyentuh permukaan tiang kayu. Sebagai gantinya, sosok Dong Bong-su tampak berdiri tegak dengan sangat tenang di area tanah kosong tersebut.

Ia melayangkan pandangan matanya menatap lekat wajah Mamorota dan bersuara datar.

“Ternyata memang ada batasan jika aku murni hanya mengandalkan keahlian aktif sistem saja.”

“………”

Keahlian aktif? Mamorota sama sekali tidak mampu menangkap makna di balik kosakata aneh tersebut. Namun satu hal yang pasti bagi logikanya adalah tepat sesaat sebelum gada besi besarnya menghancurkan tiang penyangga mesin *trebuchet* tadi, telapak tangan Dong Bong-su sempat bergerak menyentuh permukaan tiang penyangga kayu tersebut.

Dan sesaat setelahnya……

Objek raksasa tersebut lenyap menguap. Lenyap sepenuhnya tanpa menyisakan satu pun serpihan kayu di tanah.

“Sebisa mungkin aku sebenarnya tidak ingin menggunakan `[Seni Ilahi Inventaris]` di sela-sela keramaian seperti ini.”

Seni Ilahi Inventaris (`Inventory Divine Art`)? Mamorota tetap tidak memiliki konsep apa pun untuk mendefinisikan nama teknik aneh yang diucapkan oleh Dong Bong-su.

Namun sejak awal, Dong Bong-su memang tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menjelaskan rahasia sistem gamenya kepada Mamorota.

*Set!*

Berikutnya, durasi giliran penyerangan Dong Bong-su resmi dimulai kembali.

*Wusss—!*

Pedang *Wanderer's Sword* di tangan kanan Dong Bong-su meluncur menebas lurus ke depan menyusuri jalur pedang dari jurus `[Straight Piercing the Yellow Dragon]`.

Mustahil menghalau tebasan pedang tajam murni mengandalkan tangan kosong. Mamorota dengan sangat cepat menarik bilah golok barbar miliknya yang tersampir di pinggang—sebuah golok besar dengan bentuk bilah yang melengkung menyerupai busur panah dengan diameter bilah yang sangat lebar—lalu menyapu goloknya dari arah kanan ke kiri seolah sedang menebas air hujan.

*Klang—!*

Bilah pedang *Wanderer's Sword* beserta bilah golok barbar saling berbenturan sangat keras membentuk huruf orang (人). Meskipun ia menarik senjatanya secara terburu-buru, karena bilah golok Mamorota dilapisi penuh oleh energi golok murni, ia berhasil menangkis serangan maut Dong Bong-su, namun……!

*Sret.*

Sebuah gema suara gesekan yang sangat tipis. Insting pertahanan Mamorota memaksa kepalanya untuk miring ke arah samping secara refleks.

Seketika itu juga, sesosok luka sayatan tipis yang cukup panjang menumpuk di permukaan kulit lehernya, mengeluarkan aliran darah segar. Jika bukan karena kepekaan bertarung matang yang telah ia asah di sepanjang ratusan pertempuran maut di masa lalu, kepalanya dipastikan sudah menggelinding terputus di atas tanah pasir saat itu juga.

Serangan gerilya baru saja dipicu karena Dong Bong-su secara mendadak meluncurkan kepingan shrapnel logam tajam dari dalam mulutnya (meluncurkan kepingan shrapnel logam dari inventaris) tepat di saat jarak fisik tubuh mereka menyusut rapat akibat benturan senjata tadi.

Sebuah taktik bertarung tidak lazim yang murni hanya bisa dieksekusi oleh Dong Bong-su seorang diri saja.

Meski begitu, Mamorota terbukti masih mampu menahan tebasan maut Dong Bong-su.

Kini, kondisi pertarungan jarak dekat justru menempatkan faksi Mamorota di posisi yang jauh lebih diuntungkan.

Mamorota beserta serigala Kaiji dideteksi sebagai dua objek tempur, sedangkan Dong Bong-su hanya berdiri sendirian di depan mereka. Terlebih lagi, Dong Bong-su baru saja membuang momentum serangan fisiknya untuk meluncurkan kepingan logam tadi, membuat posisi pedangnya terdorong miring ke samping akibat tolak balik dari benturan golok barbar miliknya.

*Grrrr—!*

Persis seperti perkiraannya, serigala raksasa Kaiji segera meluncurkan serangan cakaran mautnya secara instan. Ia bukan merupakan jenis binatang buas bodoh yang akan melewatkan mangsa empuk yang sedang berdiri tak berdaya tepat di depan hidungnya.

Kaiji membuka moncong raksasanya lebar-lebar dan menerkam lurus ke arah bagian paha kaki Dong Bong-su. Baru kemudian ia mengatupkan moncongnya dengan sangat kencang.

*Jleg!*

Gema cakar tajam Kaiji yang menusuk tembus ke dalam paha kaki Dong Bong-su seharusnya terdengar sangat memuaskan bagi telinga Mamorota…… namun?

Memang ada objek tajam yang menusuk tembus.

Namun!

Objek tajam tersebut sama sekali bukan merupakan deretan taring tajam milik Kaiji.

Serta sosok yang menderita luka robek parah bukan merupakan diri Dong Bong-su.

“Krahaak—!”

Kaiji melepaskan lolongan kesakitan yang sangat melengking dan buru-buru menarik mundur posisi tubuhnya ke belakang.

*Tetes, tetes.*

Semburan darah segar mengalir sangat deras dari balik langit-langit mulut beserta lidahnya, membasahi permukaan tanah pasir padang rumput secara mengerikan.

Pihak penyerang justru berbalik menderita luka robek yang sangat parah.

‘Mengapa?’

Sekali lagi, Mamorota kesulitan untuk merumuskan logika di balik keanehan pertarungan tersebut. Satu-satunya objek yang tertangkap oleh pandangan matanya hanyalah berupa visual moncong serigala Kaiji yang sedang dipenuhi oleh dua kepingan shrapnel logam tajam yang menusuk tembus. Tanpa ada keraguan sedikit pun, ia segera menarik paksa kedua kepingan shrapnel logam tajam tersebut dari balik moncong bagian atas dan bawah Kaiji menggunakan tangannya.

“Krahak!”

Rasa sakit yang ditimbulkan saat kepingan logam tersebut ditarik keluar tercatat jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat logam tersebut menusuk masuk ke dalam mulutnya tadi. Mamorota menyadari detail rasa sakit serigalanya, namun ia tidak memiliki sisa waktu untuk ragu-seketika itu juga ia memperhitungkan Dong Bong-su dipastikan akan segera meluncurkan serangan susulan.

*Set!*

Persis seperti dugaannya, Dong Bong-su tidak melewatkan celah emas tersebut dan kembali meluncur menyerang pertahanannya.

*Wusss—.*

Kali ini, jurus pedang yang diluncurkan adalah jurus pedang `[Sweeping the Thousand Armies]`.

Meskipun sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di mulutnya, serigala raksasa Kaiji tetap mengangkat cakar depannya menyapu lurus ke arah bagian bawah tubuh Dong Bong-su, sedangkan Mamorota memasang bilah golok barbarnya secara tegak lurus untuk menahan laju tebasan pedang Dong Bong-su.

Sebagaimana pertempuran di masa lalu, rangkaian kerja sama tempur seperti ini biasa diistilahkan oleh pendekar padang rumput dengan sebutan `Metode Pembantaian Manusia-Serigala` (Human-Wolf Killing Method).

Di saat serigala bertugas menahan serangan musuh, manusia akan meluncurkan serangan maut, dan di saat manusia bertugas menangkis serangan, serigala akan meluncurkan terkaman maut dari arah samping. Tergantung kondisi di lapangan, kedua objek tersebut bisa meluncurkan serangan bersamaan, atau memfokuskan pertahanan mereka secara bulat. Selama gerakan koordinasi tempur mereka terjalin dengan rapi, mereka dipastikan akan mampu bertarung dengan variasi gerakan yang jauh lebih dinamis dibandingkan dengan bertarung sendirian, dengan kualitas daya serang beserta pertahanan yang meningkat berkali-kali lipat jauh lebih dahsyat.

Di dalam kondisi kritis saat ini, jika Dong Bong-su memilih tidak menarik kembali pedangnya dan mundur menyelamatkan diri, ia dipastikan hanya akan menderita luka fisik sepihak tanpa mendapatkan keuntungan bertarung apa pun.

Mamorota telah berhasil menahan tebasan pedangnya, dan dalam kondisi sejajar seperti saat ini, mustahil bagi fisik Dong Bong-su untuk bisa menghindari terkaman cakar Kaiji dari bawah……!

Tidak. Analisis tersebut salah besar.

Mamorota terbukti masih belum mengenal karakteristik bertarung Dong Bong-su secara mendalam saat ini.

*Klang—!*

Mamorota, yang baru saja berhasil menangkis tebasan pedang Dong Bong-su, secara mengejutkan justru mendadak terpental terlepas dari atas pelana tunggangannya.

`[Kegagalan serangan beruntun kedua Chain Strike terdeteksi. Pemain secara paksa mementalkan posisi tubuh musuh ke belakang.]`

Keahlian pasif `[Chain Strike]` sistemnya telah resmi dipicu aktif.

Akibat tolak balik tersebut, koordinasi tempur Metode Pembantaian Manusia-Serigala secara otomatis langsung terputus di tengah jalan.

Meski begitu, detail tersebut bukan berarti ancaman maut yang membayangi Dong Bong-su telah berakhir. Cakar tajam serigala Kaiji tercatat masih terus meluncur deras mengincar bagian bawah tubuhnya saat itu.

Meskipun keaktifan *Chain Strike* berhasil dipicu pada waktu yang sangat presisi—atau lebih tepatnya telah dikalkulasi secara akurat—dan mementalkan posisi tubuh Mamorota ke belakang, sisa waktu bagi Dong Bong-su untuk menarik mundur kakinya sudah sangat terlambat.

Tepat di saat kritis itulah!

*Wusss—!*

Sosok Dong Bong-su mendadak lenyap menguap dari posisinya. Dan sama halnya dengan hantaman gada besi Mamorota tadi, cakar tajam Kaiji hanya berakhir menyapu udara kosong tanpa membuahkan hasil tebasan apa pun. Tebasan cakarnya meleset sepenuhnya.

Persis seperti taktiknya saat melenyapkan nyawa Paitan kemarin, Dong Bong-su kembali memadukan rangkaian kombo maut dari keaktifan `[Chain Strike]` dipadu dengan keaktifan `[Movement Technique]`.

Satu gerakan memicu dua keuntungan taktis sekaligus.

Melalui satu rangkaian pergerakan kombo tersebut, ia berhasil menghindari terkaman cakar Kaiji sekaligus berpindah posisi secara instan tepat bersiap di bagian belakang punggung Mamorota yang saat itu sedang melayang jatuh di udara.

“……!”

Kondisi mental Mamorota seketika dilanda kekacauan total saat itu. Ia telah melewati ratusan pertempuran maut di sepanjang perbatasan Padang Rumput Utara selama puluhan tahun, namun ia belum pernah sekali pun mengalami gaya pertarungan seaneh dan segila ini sepanjang hidupnya.

Saat ia pertama kali memutuskan memicu duel melawan Dong Bong-su tadi, ia sama sekali tidak mampu membayangkan akan diseret ke dalam gaya pertempuran seperti ini. Tidak, manusia macam apa sebenarnya yang bertarung memanfaatkan cara gila seperti ini? Rangkaian teknik gerakan yang secara akal sehat mustahil untuk dieksekusi, dipadu dengan kualitas bertarung yang sepenuhnya melabrak batas logika dunia persilatan.

Meskipun demikian, ia tetap merupakan sesosok pejuang padang rumput utara sejati yang jiwanya telah terbiasa menyatu dengan pertempuran maut. Sejak pertama kali ia meluncur ke medan perang di usia empat belas tahun hingga tumbuh menjadi jenderal perang veteran saat ini, sekujur tubuhnya telah diukir oleh insting bertarung yang sangat matang.

Meskipun sempat tersentak kaget, Mamorota merespons ancaman tersebut dengan sangat tenang.

Tepat di saat sosok Dong Bong-su lenyap dari hadapannya, ia mendeteksi adanya riak keberadaan batin di bagian belakang punggungnya di udara. Hawa dingin hasrat membunuh yang merayap naik menyusuri tulang belakangnya memaksa seluruh kepekaan indera fisiknya berada dalam kondisi siaga penuh. Mengenai metode apa yang digunakan Dong Bong-su untuk berpindah tempat secara misterius sudah tidak lagi penting bagi kepalanya saat ini. Fakta bahwa Dong Bong-su saat ini sedang bersiap tepat di belakang punggungnya adalah satu-satunya kebenaran yang nyata.

Ia segera memutar arah tubuhnya ke belakang di udara dan mengerahkan seluruh kapasitas energi kultivasi murni miliknya untuk mengayunkan bilah golok barbarnya kencang. Ayunan golok besarnya terlihat sangat menyerupai seekor naga raksasa yang sedang memutar tubuhnya dan mengibaskan ekornya secara buas. Itu merupakan jurus pedang bernama `[Giant Dragon Sweeping Tail]` (Naga Raksasa Menyapu Ekor). Dengan ditambahkan kekuatan akselerasi putar dari teknik *Great Power Dominating Rotation* tadi, daya hancur yang dihasilkan melonjak sangat dahsyat.

*Brak—!*

Bilah pedang Dong Bong-su berbenturan kembali dengan bilah golok barbar Mamorota di udara untuk yang kedua kalinya. Sebuah ledakan energi dahsyat meletus sangat hebat di sela benturan senjata mereka, mementalkan posisi tubuh kedua orang tersebut ke arah yang berlawanan di udara.

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar