Murim Psychopath

Chapter 86

2483 Kata

**Bab 86. Pet**

***

Mamorota telah resmi tewas.

Salah seorang perwira komandan Pasukan Serigala Abu-Abu bernama Bato terdeteksi masih terus bertahan di lapangan tanpa ikut menarik mundur pasukannya saat itu. Di saat jajaran prajurit musuh maupun kawan sedang sibuk melarikan diri meninggalkan area medan pertempuran maut, ia sendiri merasa tidak sanggup untuk bergeser kaki. Kemungkinan besar karena ia memikul beban kewajiban moral untuk menyaksikan akhir hayat dari Mamorota seorang diri. Jenis keterikatan batin seperti itu memang eksis di dalam dadanya.

“Perolehan kepingan poin pengalamanmu terdeteksi berada jauh di bawah nominal perkiraanku baru saja.”

Sosok komandan faksi lawan, yang helaian rambut poninya tampak jatuh melandai menyelimuti matanya, menyuarakan kalimat tersebut datar lurus ke arah jasad mayat Mamorota di tanah.

Secara alami, jasad mayat sama sekali tidak melayangkan kalimat jawaban balik.

Ia mendongakkan kepalanya dan menyapu bersih pandangan matanya ke sekeliling lapangan sekali saja. Menyaksikan sisa prajurit di medan perang sedang sibuk melarikan diri menyelamatkan nyawa mereka masing-masing, ia kembali memutar arah pandangan kepalanya secara datar ke segala penjuru arah.

Dan secara alami, bidik pandangan matanya berakhir mendarat tepat menatap ke arah Bato.

Sekujur tubuh Bato seketika menegang kaku di tempat. Bahkan tanpa perlu memicu duel fisik sekalipun, sudah menjadi fakta tak terbantahkan bagi logikanya bahwa tingkat kekuatan pemuda di depannya berada jauh di atas tingkat kekuatannya, dan Bato menyadari detail bahaya tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan siapa pun di lapangan saat itu.

Namun Dong Bong-su terbukti tidak menaruh perhatian yang lama ke arah wajahnya. Ia dipastikan sama sekali tidak menaruh ketertarikan bertarung terhadap pendekar kelas bawah sekelas dirinya.

Dong Bong-su segera menundukkan kepalanya memeriksa kondisi serigala raksasa milik Mamorota, Kaiji. Bagi pandangan mata Bato, serigala raksasa tersebut dideteksi telah resmi tewas di tanah, namun bagi Dong Bong-su anomali fisiknya terdeteksi berbeda.

Tidak, atau apakah kebenarannya memang tidak seperti itu? Tepat di saat serigala raksasa Kaiji yang berada dalam fase sekarat di ambang kematian tersebut berpasangan tatap dengan pandangan mata Dong Bong-su, satu biji kelopak mata kirinya yang tadinya tertutup rapat seolah tertimpa beban ribuan kati mendadak terbuka lebar memamerkan sorot mata merah menyala. Hasrat permusuhan. Hanya hasrat liar itulah yang terpancar pekat memenuhi matanya.

“Ya, jika kau memang berniat untuk bertransformasi menjadi sesosok *Pet* milikku, setidaknya kau memang harus memamerkan kebuasan seperti itu.”

Dong Bong-su bersuara sembari melengkungkan sudut bibirnya tipis membentuk senyuman gembira yang terlihat sangat aneh. Sama halnya dengan Mamorota tadi, Bato juga tidak memiliki dasar pengetahuan apa pun untuk mendefinisikan arti di balik kosakata aneh dari mulut pemuda itu.

Jari tangan pemuda itu tampak membuat gerakan mengayun aneh di udara kosong. Apakah ia sedang menekan sesosok tombol hologram tidak kasat mata di udara? Ataukah gerakan tersebut murni merupakan visual ilusi mata dari kecemasan Bato saja?

*Wusss—.*

Secara mendadak, gema suara dengung energi yang sangat asing meletus menyapu udara, disusul oleh pendaran cahaya energi berwarna ungu muda misterius yang mengalir menyelimuti sekujur tubuh raksasa Kaiji. Visual fenomena tersebut merupakan sebuah keajaiban yang belum pernah disaksikan oleh Bato sekali pun sepanjang hidupnya di perbatasan. Satu hal yang pasti bagi logikanya adalah pancaran energi yang dilepaskan oleh pendaran cahaya ungu tersebut terasa sangat agung dan sangat suci.

Sesuatu yang bertolak belakang dengan senyuman tipis di bibir Dong Bong-su.

Hawa maut yang merembes keluar dari tubuhnya terasa sangat tidak bersahabat hingga memaksa serigala abu-abu tunggangan Bato untuk mundur bergeser kaki ke belakang secara refleks karena takut.

‘Apakah itu merupakan salah satu dari jenis teknik ilmu bela diri aneh yang ia gunakan di pertempuran tadi?’

Mustahil baginya untuk tahu. Rangkaian analisis dugaan dangkal seperti itulah satu-satunya kapasitas yang mampu dirumuskan oleh otaknya saat ini.

Selesai menyaksikan akhir hayat Mamorota, Bato tidak lagi memiliki alasan logis untuk tetap bertahan mendekam di tempat kejadian ini. Jika ia terus memaksakan diri bersiap di tempat ini tanpa tujuan, bukankah ia murni hanya sedang menyerahkan lehernya untuk ditebas mati oleh pedang Dong Bong-su?

Namun fisiknya terbukti kesulitan untuk bergeser melarikan diri. Ia tidak mengetahui penyebab pastinya, namun batinnya berbisik bahwa ia terpaksa harus tetap bersiap di tempat ini beberapa saat lagi. Sebaliknya, ia diliputi kecemasan bahwa jika ia memaksakan diri melarikan diri saat ini, nyawanya dipastikan akan langsung melayang tewas.

Bato memutuskan untuk tetap bertahan diam di tempat. Meskipun ia terpaksa harus bersanding di dekat sesosok hawa maut yang sangat tidak nyaman bagi mentalnya.

‘Hm?’

Begitu pendaran cahaya ungu tersebut padam dari udara, serigala raksasa Kaiji tampak bangkit berdiri kembali dari atas tanah pasir. Bato awalnya menganalisis serigala tersebut sudah resmi mati, namun menilik kondisi fisiknya saat ini…… wujud tubuhnya terdeteksi berada dalam kondisi yang sangat sehat dan sangat bugar.

Keajaiban macam apa sebenarnya pendaran cahaya ungu baru saja?

Bukan hanya detail kesembuhan fisik luar saja yang mengalami transformasi. Di dalam sepasang mata serigala raksasa tersebut, luapan hasrat permusuhan maut yang ia tujukan ke arah Dong Bong-su tadi saat ini telah resmi lenyap tanpa sisa.

Wujud tatapannya…… bagaimana cara mendeskripsikannya? Tidak ada riak emosi apa pun di dalam matanya. Jika ada sesuatu yang bersisa di dalam matanya, detail tersebut murni hanya berupa pancaran mata indifferen yang sepenuhnya datar. Sesosok sorot mata kosong tanpa emosi menyerupai visual sepasang mata keruh dari jasad mayat yang telah membusuk, dengan tidak ada satu pun riak perasaan yang terekspos di dalamnya.

Dong Bong-su menatap lekat ke arah sepasang mata kosong milik Kaiji tersebut selama beberapa saat, baru kemudian mengelus permukaan kulit kepalanya secara perlahan dan bersuara.

“Aku juga sangat menyukai sorot mata kosongmu yang seperti ini. Visualnya terlihat sangat mirip dengan diriku.”

Selesai merapikan rangkaian urusan medis serigalanya, Dong Bong-su bangkit berdiri tegak. Baru kemudian ia melayangkan pandangan matanya menatap ke arah satu titik lokasi di kejauhan. Tidak, analisis pandangan matanya salah. Menilik detail fokus matanya, ia saat itu sedang tidak menatap ke arah wajah Bato, melainkan sedang menatap lurus ke arah cakrawala bagian belakang benteng.

Bato memutar kepalanya ke belakang secara refleks mengikuti arah pandangan mata pemuda itu. Itu merupakan jalur pelarian yang seharusnya sudah ia lalui sejak tadi.

Arah jalur yang membentang menuju ke Benteng Guisui. Sisa pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu lainnya saat itu sedang bergerak melarikan diri kencang menyeberangi padang rumput.

Dan di arah seberangnya, gerakan pasukan utama kekaisaran di bawah komando Lee Ja-song tampak bergeser memutar jalur pergerakannya demi bisa mengepung Benteng Guisui dari arah samping.

Berdasarkan kalkulasi Bato, jajaran pendekar Pasukan Serigala Abu-Abu dipastikan akan mampu mencapai gerbang Benteng Guisui beberapa saat lebih cepat dibandingkan kepungan musuh. Mungkin mereka akan mampu menyelamatkan diri masuk ke dalam benteng jika saja pintu gerbang besi utama dibuka dari dalam……

“Sebuah harapan kosong.”

*Sret.*

Sebelum ia sempat menyadari pergerakan fisiknya, sosok Dong Bong-su secara misterius ternyata telah berdiri tegak tepat di belakang punggungnya. Bahkan di dalam situasi mengejutkan tersebut, Bato secara refleks sempat berniat menggerakkan tangannya menarik gagang golok barbar miliknya, namun ia terpaksa harus mengurungkan niat pertahanannya dalam sekejap.

Karena telapak tangan Dong Bong-su saat itu ternyata telah mencengkeram erat lengannya.

Dan, seolah-olah hal tersebut merupakan perkara biasa, pemuda itu saat ini telah menunggangi punggung serigala raksasa Kaiji secara santai.

Kaiji merupakan sesosok serigala spiritual pemangsa utara yang sepanjang sejarah hanya diizinkan untuk ditunggangi oleh Mamorota maupun Timur Khan saja. Bagaimana metode gila yang digunakan oleh pemuda ini untuk menjinakkan binatang spiritual tersebut? Terlebih lagi target jinakkannya baru saja berstatus sebagai musuh mautnya, dan proses penjinakannya diselesaikan dalam kurun waktu yang bahkan kurang dari satu *sikgyeong* (sekitar 15 menit)?

Namun rangkaian keajaiban sistem yang melekat di tubuh pemuda itu berada di luar batas nalar akal sehatnya.

“Apakah kau dibekali kemampuan untuk memahami bahasa Dataran Tengah?”

Ia dipastikan sedang melayangkan pertanyaan mengenai kelancaran bahasa kekaisaran miliknya. Bato buru-buru mengangguk kepala cepat. Ayahnya di masa lalu merupakan seorang saudagar dagang yang bernaung di bawah serikat dagang raksasa padang rumput utara, *Ortogh*. Sama halnya dengan pedagang perbatasan lainnya, sebagian besar klien bisnis mereka merupakan golongan saudagar asal Dataran Tengah. Secara alami, dasar bahasa transaksi perdagangan didominasi oleh penggunaan bahasa kekaisaran, dan sangat wajar jika jajaran anak keturunan mereka diwajibkan untuk menguasai bahasa kekaisaran sejak dini.

Dong Bong-su kembali menyuarakan kalimatnya.

“Timur Khan sebenarnya telah membuang eksistensi kalian semua.”

“……?”

“Sejak detik pertama kalian melangkahkan kaki ke luar meninggalkan gerbang benteng, kalian semua sudah resmi dibuang olehnya.”

“Apa maksud sebenarnya di balik kalimatmu……?”

“Jika aku bersiap di posisinya saat ini, aku dipastikan juga akan mengambil keputusan taktis yang serupa.”

Sebuah kalimat yang sepenuhnya tidak mampu dicerna oleh logika Bato. Namun intonasi penyampaiannya terdengar sangat meyakinkan. Lagipula, opsi pertahanan apa lagi yang bersiap ia ambil selain mempercayai kalimat pemuda di depannya saat ini? Nyawa fisiknya saat ini telah resmi berada di bawah cengkeraman genggaman pemuda tersebut.

“Kau hanya perlu membantuku mengeksekusi satu buah tugas fisik saja.”

Meskipun itu hanya berupa satu baris instruksi singkat, Bato berhasil menangkap makna taktis di baliknya. Ia memang tidak mengetahui detail tugas fisik apa yang akan ia eksekusi, namun jika ia sukses menyukseskannya, nyawa fisiknya dipastikan akan diampuni oleh pemuda itu.

Bato kembali melayangkan anggukan kepala patuh.

Dong Bong-su menarik tali kekang serigalanya dan memutar arah kepalanya kembali ke belakang. Punggung tubuhnya tampak terekspos terbuka di depan mata Bato, namun Bato tidak memiliki keberanian untuk menggeser fisiknya meluncurkan serangan gerilya sedikit pun. Di depannya berdiri sesosok master yang telah melenyapkan nyawa Mamorota. Musuh alami yang mustahil untuk bisa dihadapi oleh pendekar kelas teri sekelas dirinya.

*Cipak, cipak.*

Gema suara cakar kaki Kaiji yang melangkah menapak di atas genangan darah segar terdengar sangat kental dan basah menyapu tanah pasir.

Tidak lama kemudian, Dong Bong-su beserta serigala Kaiji tiba kembali di lokasi di mana unit mesin kepung *trebuchet* terakhir berada. Bagi pandangan mata Bato, kondisi mesin pelontar batu tuas penyeimbang tersebut tidak lagi dideteksi dalam kondisi yang utuh. Struktur pasak pelontarnya dideteksi telah retak akibat dihantam gada besi Mamorota tadi. Meski begitu, kerusakannya terbukti tidak sampai menghancurkan seluruh konstruksi tiang, karena bagian tiang lengan pelontarnya dideteksi masih saling mengunci kokoh berkat lilitan tali tambang tebal.

Dong Bong-su memungut gulungan tali tambang yang berserakan di atas tanah pasir, menegakkan bagian pasak tiang yang retak, baru kemudian melilitkan tali tambang tersebut kencang-kencang untuk menguncinya kembali. Meskipun perbaikan instan tersebut tidak menghasilkan konstruksi mesin yang sempurna, Bato menganalisis mesin kepung tersebut setidaknya masih akan mampu melontarkan beban sebanyak beberapa kali tembakan lagi sebelum akhirnya hancur.

*Cipak, cipak.*

Dong Bong-su memacu langkah serigala Kaiji kembali bergeser arah. Kali ini, pergerakannya diarahkan lurus menuju ke lokasi bukit tumpukan jasad mayat sampar.

Ia menyentuh tumpukan jasad mayat yang memancarkan bau busuk luar biasa tersebut menggunakan telapak tangannya tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya. Sesaat setelahnya, persis seperti keanehan lenyapnya unit mesin *trebuchet* raksasa tadi, tumpukan bukit jasad mayat tersebut seketika lenyap menguap dari pandangan mata.

Bato bahkan sudah tidak merasa terkejut lagi menyaksikan keajaiban baru saja. Ia murni mendefinisikan kejadian tersebut sebagai bentuk penguasaan teknik bela diri misterius yang canggih semata. Bagaimanapun juga, ia sempat mendengar rumor bahwa di wilayah kekaisaran Dataran Tengah, eksis banyak sekali master bela diri yang mampu menguasai berbagai macam teknik aneh di luar nalar. Kemungkinan besar pemuda di depannya saat ini merupakan salah satu dari jajaran master aneh tersebut.

Bato sempat menyentuh beberapa bagian kulit tubuhnya sendiri secara refleks akibat heran. Namun berbeda dengan Dong Bong-su, tidak ada perubahan fisik apa pun yang terjadi pada tubuhnya.

Selesai melenyapkan seluruh tumpukan jasad mayat pes ke dalam inventarisnya, Dong Bong-su meluncur kembali menuju ke lokasi penempatan mesin *trebuchet*.

Ia melangkah lurus menuju ke arah keranjang pelontar batu yang terpasang di ujung lengan pelontar mesin kepung.

Baru kemudian ia menarik seutas tali tambang kuning tebal yang terpasang di bagian ujung tiang pelontar, mengikatkan ujung tali tambang tersebut di leher serigala Kaiji, melilitkan separuh sisa tali tambangnya menyelimuti bagian lingkar dadanya sendiri, baru kemudian turun dari punggung tunggangan Kaiji.

Terakhir, ia melayangkan pandangan matanya menatap ke arah Bato dan bersuara.

“Kemari.”

Bato melangkah kaki mendekat tanpa melayangkan kalimat tanya. Ia menyadari durasi untuk mengeksekusi tugas fisik yang diminta pemuda itu telah tiba saat ini.

“Begitu posisiku beserta serigala ini telah berdiri bersiap di atas keranjang pelontar mesin kepung, segera tebas tali pengunci ini saat itu juga.”

Meskipun kesulitan menangkap logika di balik instruksi Dong Bong-su, Bato tetap melayangkan anggukan kepala patuh.

*Krieeet.*

Selesai menerima anggukan kepalanya, Dong Bong-su secara mendadak mulai menarik seutas tali tambang penarik keranjang penyeimbang sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya.

Serigala raksasa Kaiji ikut membantu menyelaraskan gerakan tuannya, menancapkan cakar kakinya dalam-dalam ke tanah pasir sembari menarik tali tambang kencang-kencang.

Seketika itu juga, beban keranjang penyeimbang raksasa yang bobot fisiknya dipastikan mencapai beberapa ton secara perlahan mulai terangkat naik ke udara, dengan bagian lengan pelontar di ujung lainnya yang bertindak sebagai peluncur mulai turun merapat mendekati tanah.

“………”

Awalnya, Bato menganalisis tugas fisik yang diminta pemuda itu adalah untuk membantunya menarik tali tambang guna mengangkat beban keranjang penyeimbang raksasa tersebut ke atas. Namun kenyataannya dugaan dugaannya salah besar.

*Krieeet—.*

Begitu posisi keranjang penyeimbang berisi batu terangkat mencapai titik tertinggi di udara, Dong Bong-su mengikat erat ujung tali tambang penariknya pada pasak besi yang tertanam kokoh di dalam tanah pasir. Mereka berhasil menyelesaikan tugas fisik yang seharusnya menuntut pengerahan tenaga minimal lima puluh orang prajurit biasa murni mengandalkan tenaga fisik mereka berdua saja, namun Bato terbukti sudah tidak menaruh keheranan lagi atas keajaiban fisik tersebut. Entah mengapa, ia merasa keajaiban tersebut sangat wajar terjadi jika melibatkan pemuda itu.

*Ting— Ting—.*

Layaknya seorang pemusik yang sedang menyelaraskan ketegangan senar alat musik miliknya, Dong Bong-su menyentil bagian tengah tali tambang pengunci secara perlahan menggunakan jarinya. Langkah ini ia lakukan untuk memastikan ketegangan tali tambang pengunci telah berada dalam kondisi siaga tempur untuk dilepaskan.

Gema denting talinya terdengar sangat tipis menyapu udara. Getaran tambangnya terdeteksi sangat rapat menandakan ketegangan talinya telah berada dalam fase maksimal.

Setelah mengetuk tambang beberapa kali lagi, Dong Bong-su kembali melompat naik ke atas punggung serigala Kaiji baru kemudian memosisikan kaki tunggangannya berdiri bersiap di dalam keranjang pelontar ujung lengan mesin. Ukuran fisik serigala raksasa Kaiji sangatlah besar hingga membuat sepasang cakar depannya tampak menyembur keluar menumpuk di bagian tengah lengan kayu pelontar, namun detail tersebut dideteksi tidak akan mendatangkan kendala bagi kelancaran peluncuran mesin kepung.

Kini, barulah Bato berhasil memetakan dengan sangat jelas detail tugas fisik yang diinginkan oleh Dong Bong-su. Serta fakta bahwa ia terpaksa harus mengeksekusi tugas gila ini demi bisa menyelamatkan nyawanya sendiri. Namun, ia sama sekali tidak mampu membayangkan malapetaka seperti apa yang akan menimpa pertahanan Benteng Guisui akibat peluncuran gila ini.

Meski begitu, ia tidak dibekali opsi lain selain mematuhinya. Bahkan jika ia menolak meluncurkannya saat ini sekalipun, Dong Bong-su dipastikan akan menemukan metode lain untuk memutus tali tambang pengunci tersebut secara mandiri. Setidaknya dengan mematuhinya, ia bisa menyelamatkan nyawa fisiknya saat ini.

“Tebas talinya sekarang juga.”

*Wusss!*

*Sret!*

*Brak—!*

Bilah golok barbar di tangan Bato meluncur deras menebas putus seutas tali tambang pengunci mesin kepung, menghantarkan laju peluncuran fisik dari Dong Bong-su beserta serigala raksasa Kaiji melesat sangat kencang melayang tinggi di udara menuju ke arah Benteng Guisui.

Bato menyapu pandangan matanya menyaksikan visual peluncuran gila tersebut selama beberapa saat, baru kemudian naik ke atas punggung serigala abu-abu miliknya dan melesat pergi menghilang ditelan luasnya padang rumput di kejauhan.

Dong Bongsu

Dong Bongsu

Karakter Utama
Tang Wu

Tang Wu

Pendukung
Tang Hwa

Tang Hwa

Pendukung

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar