Jika tidak sekarang, entah kapan lagi aku bisa bergabung dengan party raid boss Guardian of the Forest di masa mendatang.
"Tolong izinkan aku bergabung dengan party kalian."
Aku berencana ikut dengan party mereka, bertahan hidup di barisan belakang sampai Guardian of the Forest tumbang, lalu menjarah seluruh Blue Orichalcum yang dijatuhkannya. Persetan jika anggota party lainnya tewas.
*Lagipula, exp milikku tidak akan berkurang saat aku mati!*
Sebenarnya ada risiko jika aku tewas: aku bisa menjatuhkan Mamon's Greatsword atau Mengel's Plate Armor yang menjadi seluruh hartaku saat ini. Namun, demi mendapatkan Blue Orichalcum, risiko ini sangat layak untuk kuambil. Kutatap Toban dengan tatapan penuh tekad.
Apa aku terlalu berani? Atau aku memang tidak tahu malu? Aku mendongak dan melihat Toban menatapku dengan keraguan yang terpancar jelas di wajahnya.
"Levelmu berapa?"
"Apa? Bukankah tadi paman bilang level dan class bebas?"
"Awalnya memang begitu... Tapi sekarang ada banyak pemain level tinggi yang mendadak mendaftar. Jadi saat ini aku memprioritaskan pemain di atas level 120, terutama mereka yang memiliki class healer atau Mage. Seperti yang kamu tahu, tubuh Guardian of the Forest terbuat dari tumpukan mineral keras, jadi serangan fisik dari Warrior biasa tidak akan mempan."
Toban melirik ke arah greatsword di genggamanku dengan tatapan tidak percaya, tatapan yang menyiratkan dengan jelas bahwa ia enggan menerimaku ke dalam party-nya.
*Kalau begitu, dari awal dia tidak usah berteriak bahwa level dan class bebas!*
Apa sebaiknya aku menyerah saja? Tidak, aku tidak boleh melepaskan kesempatan mendapatkan Blue Orichalcum ini begitu saja. Aku harus bisa bergabung dengan party ini dengan cara apa pun.
"Tolong terima aku. Aku berjanji tidak akan menyusahkan kalian."
"Levelmu berapa?"
Level asliku saat ini adalah -3. Namun, berkat stats tambahan dari Mamon's Greatsword dan Mengel's Plate Armor, kekuatan tempur asliku setara dengan pemain level 30-an. Jika aku mengaku level 30... aku pasti langsung diusir.
"30... tidak, minus... tidak, ditambah 100."
"30 minus, ditambah 100?"
"Bukan, bukan. Levelku 100."
Levelku saat ini memang -3, tetapi kekuatanku seharusnya mendekati level 100 jika bukan karena penalti quest gila Ashur kemarin. Mari kita coba nekat sekali saja. Begitu berhasil masuk ke dalam party, aku tidak berniat untuk bertarung di barisan depan. Aku hanya akan mengekor di belakang layaknya tikus mati.
*Selama aku berhati-hati, mereka tidak akan menyadari kalau aku membohongi levelku.*
Toban memasang wajah cemas.
"Senjatamu itu Mamon's Greatsword, kan? Bukankah itu senjata untuk level 65? Meskipun equipment milikmu memiliki rating Epic, mengaku sebagai pemain level 100... Apa kamu benar-benar level 100?"
"Tentu saja. Mamon's Greatsword milikku sudah di-upgrade hingga +5, jadi stats-nya masih sangat mumpuni."
Wajahku tampak tenang saat berbohong. Aku memanfaatkan fakta bahwa equipment dengan tingkat upgrade di bawah +5 tidak mengalami perubahan visual pada bentuk fisiknya, jadi aku berani mengklaim pedang +0 milikku ini sebagai pedang +5.
Namun, Toban ternyata tidak mudah ditipu.
"Meskipun pedang itu +5, menggunakannya di level 100 terhitung sangat tertinggal... Ditambah lagi, armor pertahananmu itu Mengel's Plate Armor, kan? Itu armor level 60. Helm, sepatu bot, sarung tangan, dan aksesorismu juga tidak ada. Mana ada pemain level 100 yang berpenampilan seperti itu?"
Ucapannya sangat tepat. Mengel's Plate Armor yang kukenakan saat ini memang armor level 60. Sedangkan helm, sepatu bot, sarung tangan, dan seluruh aksesorisku sudah hancur berkeping-keping di akhir quest tiga bulan kemarin...
*Barang-barang berhargaku yang dibeli dengan keringat...*
Sepatu bot dan sarung tanganku hancur karena aku lupa memperbaiki durability-nya saat bertarung. Sedangkan helm dan aksesorisku jatuh ke tanah saat aku tewas dan gagal kuambil kembali.
Melihatku terdiam meratapi nasib malangku, kecurigaan Toban semakin menjadi-jadi.
Aku segera memutar otak mencari alasan. "Hanya pemain dengan kemampuan kontrol senjata luar biasa sepertiku yang tidak memerlukan armor tebal maupun aksesoris tambahan. Bahkan saat berburu pun aku sering melepaskan armor ini dan hanya bertarung bermodalkan greatsword saja."
Istilah 'kontrol' sebenarnya sama sekali tidak cocok untukku, karena metode berburuku selama ini adalah menyerang secara membabi buta sembari menengak ramuan HP layaknya minum air. Saat menonton para pemain profesional di TV, mereka terlihat sangat lincah menghindari serangan monster dan melepaskan skill bertarung di saat yang tepat. Sedangkan aku hanya menyerang sembarangan lalu buru-buru meminum ramuan saat HP-ku menipis.
Namun saat ini, aku terpaksa membual demi bisa masuk ke dalam party raid. Aku meniru ucapan tentang kontrol yang sering kudengar di TV. Sayangnya, bualanku itu adalah kesalahan fatal. Tubuh Toban sendiri saat ini terbungkus oleh armor baja yang sangat tebal lengkap dengan tameng raksasa di tangannya.
"Heh... Jadi menurutmu, pemain yang mengenakan armor tebal adalah pemain yang tidak terampil?"
Ia menyeringai tipis, namun tatapan matanya terlihat sangat dingin dan dipenuhi amarah. Kemarahan serupa juga terpancar dari wajah para pemain di sekelilingnya yang berniat mendaftar party.
"Dia sengaja menyindir kita yang mengenakan armor lengkap."
"Dengar ucapannya; dia mengklaim tidak pernah memakai armor saat berburu."
"Jadi mengenakan armor dan aksesoris itu tanda pemain tidak terampil? Kalau begitu kita harus melepaskan seluruh armor kita agar tidak diremehkan olehnya..."
Aku panik dan berusaha menenangkan mereka. "Bukan begitu maksudku. Aku tidak berniat menyinggung siapa pun, aku hanya menjelaskan kalau aku tidak terlalu bergantung pada stats pertahanan."
"Tapi ucapanmu menyiratkan kalau level kami berada di bawahmu!"
Seorang pria paruh baya bertubuh kekar mendadak menyela dengan teriakan gusar. Pria itu memegang sepasang kapak ganda yang berpendar terang, mengenakan armor berlapis emas yang sangat indah. Penampilannya membuktikan dengan jelas bahwa ia adalah pemain level tinggi.
"Grid? Ini pertama kalinya aku melihat wajahmu. Apa kamu sering berburu di area sekitar sini? Aku tahu betul seberapa kuat monster-monster di wilayah ini. Kamu pasti sangat percaya diri sampai berani membual memburu mereka tanpa mengenakan armor."
Pemain lainnya mengangguk setuju.
"Melihat gayanya, dia pasti pemain baru di wilayah ini."
"Apa ada yang pernah mendengar nama Grid?"
"Aku tidak pernah melihatnya di tempat berburu terdekat. Bagaimana dengan kalian?"
"Jujur saja, dia terdengar seperti sedang membual... Aku ragu dia benar-benar level 100."
"Melihat kondisinya yang mengenakan equipment compang-camping, dia pasti baru saja tewas dan menjatuhkan seluruh barang berharganya saat berburu solo. Niatnya bergabung dengan party kita pasti tidak murni. Karena sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakutkan, makanya dia nekat..."
Suasana di alun-alun semakin menyudutkanku.
*Orang-orang ini sangat jeli... Bagaimana sekarang? Apa sebaiknya aku mundur saja?*
Di tengah kebingunganku... sesosok pria berambut pirang dengan dada telanjang mendadak melangkah maju melerai ketegangan.
"Semuanya, harap tenang."
Para pemain seketika heboh melihat kehadiran pria tersebut.
ā *Pemain peringkat pertama untuk class Martial Artist, Regas!* ā *Class Martial Artist memiliki persyaratan equipment yang sangat rumit hingga membuat proses menaikkan level menjadi sangat sulit, tetapi ia sudah berhasil menembus level 180!* ā *Julukannya adalah Taekwon Master. Apa benar tinjunya sanggup melumat sekelompok monster dalam sekejap?* ā *Wow! Dia benar-benar datang! Beruntung sekali aku bergabung dengan party ini! Class Martial Artist mengabaikan Defense musuh untuk menyerang titik vital. Bukankah serangan tinjunya akan sangat efektif untuk menghadapi Guardian of the Forest?*
Regas menatapku tertarik lalu melangkah mendekat. "Greatsword adalah senjata dengan kecepatan serang yang lambat dan memiliki celah gerakan yang besar, sehingga sangat sulit untuk menghindari serangan musuh di tengah pertempuran. Oleh karena itu, kemampuan berburu tanpa mengenakan armor tebal sepertimu benar-benar luar biasa."
Regas memiliki wajah yang tampan, tubuh yang atletis dengan bentuk otot yang sangat ideal. Karena karakteristik class-nya, ia sangat populer di kalangan pemain wanita karena sering bertarung tanpa mengenakan atasan. Saat berdiri di sampingnya, aku merasa seperti seekor cumi-cumi yang buruk rupa.
Secara naluriah, aku membenci pria tampan, jadi aku menjawabnya dengan ketus. "Itu biasa saja."
"Haha, biasa saja katanya... Ekspektasiku terhadap kemampuanmu semakin meningkat. Aku sangat ingin melihat langsung kehebatan kontrol senjatamu di medan tempur nanti."
Regas menoleh ke arah Toban. "Biarkan dia bergabung dengan party kita. Sejak awal party ini memang tidak memiliki batasan class maupun level. Beberapa anggota party bahkan ada yang masih di bawah level 90, jadi kurasa tidak ada masalah jika menerima satu lagi pemain level 100."
"Tapi..."
Para pemain lainnya masih tampak tidak setuju. Regas kembali menjelaskan.
"Seperti yang kalian tahu, hanya pemain level 170 ke atas yang sanggup memberikan damage berarti pada Guardian of the Forest. Alasan kami merekrut banyak pemain tanpa batas level adalah karena kami membutuhkan bantuan untuk menahan golem kristal yang dipanggil oleh Guardian. Urusan menyerang Guardian of the Forest akan ditangani oleh 17 anggota guild-ku, termasuk aku, Toban, dan Vantner. Kami hanya butuh kalian mengalihkan perhatian golem kristal selagi kami fokus menyerang bos utama. Aku yakin kemampuan kontrol Grid sudah lebih dari cukup untuk tugas ini."
"......"
"Dia sendiri yang menawarkan diri untuk membantu, jadi tidak ada alasan untuk menolaknya. Aku paham kalian meragukan bualannya, tapi bukankah tidak adil jika langsung menghakiminya sebelum melihat kemampuannya?"
Ucapan dari seorang pemain kuat memang memiliki pengaruh yang besar. Begitu Regas selesai berbicara, para pemain lainnya mulai meredakan amarah mereka dan terpaksa menerimaku. Namun, tatapan mata mereka menyiratkan niat yang tidak baik.
*Mari kita lihat seberapa hebat kontrolnya nanti.* *Awasi dia saat bertarung... Kita akan tahu dia pembual atau bukan.* *Dia bilang biasa bertarung tanpa armor, kan? Kalau begitu dia dilarang mengenakan armor selama penyerbuan ini.* *Aku akan mengawasinya dari dekat.*
Party yang dipenuhi oleh hawa permusuhan! Ini bukan lagi party raid untuk menghadapi Guardian of the Forest, melainkan party untuk menguji kemampuanku.
*Aku tidak bisa bergabung dengan kelompok ini.*
Jika aku memaksakan diri bergabung, aku harus bertarung di barisan depan di bawah pengawasan ketat mereka. Sebagai pemain level -3, aku pasti akan langsung tewas mengenaskan sebelum sempat melihat wujud asli Guardian of the Forest, apalagi menjarah Blue Orichalcum. Hal itu hanya akan membuatku malu setengah mati di depan umum.
"Pikir-pikir lagi, aku batal bergabung dengan party ini."
Aku melangkah mundur menjauhi mereka, memicu tawa ejekan dari pria paruh baya tadi.
"Hahaha! Ternyata dia memang hanya pembual!"
Sikap meremehkan yang sangat menyebalkan! Namun, aku tidak bisa membalasnya karena ucapannya memang benar.
Aku menjawab dengan nada dingin. "Kurasa tidak ada gunanya bekerja sama dengan orang-orang yang tidak mempercayaiku sejak awal."
Bagi para pemain party, kepercayaan adalah hal yang utama. Karena mereka semua meragukanku, ucapanku itu terdengar logis bagi mereka.
"Yah... ucapannya ada benarnya." "Kalau dipikir-pikir, sikap kita tadi memang agak berlebihan." "Aku setuju. Kita belum melihat kemampuannya secara langsung, jadi seharusnya kita diam saja tadi." "Benar juga. Rasanya aku agak bersalah sekarang."
Aku segera melangkah pergi meninggalkan alun-alun tanpa memedulikan gumaman mereka kembali. Regas tampak berjalan mengekor di belakangku.
"Ada apa?"
Sikapku sangat ketus, tetapi Regas hanya tersenyum ramah lalu menyodorkan tangannya.
"Kuharap kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan, Warrior tanpa armor. Sebagai sesama petarung fisik, aku sangat tertarik dengan gaya bertarungmu."
Tatapannya yang jujur membuktikan bahwa ia tidak sedang berbasa-basi.
Aku menjabat tangannya erat sembari berpikir licik. *Kenapa orang kuat ini sangat polos sekali?*
Dia adalah orang baik. Nanti kalau aku sedang terdesak kesulitan keuangan, aku pasti bisa meminjam uang darinya.
"Sampai jumpa lagi."
Meminjam uang darinya kelak... Tidak, maksudku berteman dengannya. Sembari tersenyum lebar, aku mengucapkan salam perpisahan kepada Regas lalu bergegas menuju bengkel pandai besi desa.


